cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
Gambaran Klinis Steven Johnson Syndrome dan Toxic Epidermal Necrolysis pada Pasien Anak Annisa Fitriana; Anang Endaryanto; Afif Nurul Hidayati
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 30 No. 2 (2018): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (488.227 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V30.2.2018.102-110

Abstract

Latar Belakang: Steven Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) merupakan suatu penyakit yang tergolong langka namun dapat mengancam nyawa. Ketidakjelasan etiologi, serta komplikasi yang mungkin timbul pada pasien anak dapat berdampak buruk terhadap prognosis penyakit. Tujuan: Menjelaskan gambaran klinis SJS, SJS – TEN overlap dan TEN pada pasien usia 0 – 18 tahun. Metode: Penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan total sampling data rekam medis pasien anak usia 0 – 18 tahun di Instalasi Rawat Inap RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2013 – 2016. Hasil: Terdapat 19 data rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi dengan rincian, 16 pasien dengan SJS, 1 pasien dengan SJS – TEN overlap, dan 2 pasien dengan TEN. Kesimpulan: Dugaan etiologi terbanyak adalah reaksi alergi yang diinduksi oleh obat jenis acetaminophen (24%), manifestasi klinis terbanyak adalah makula (100%), baik eritematosa dan hiperpigmentasi, penyakit penyerta terbanyak adalah malnutrisi (31%) dan konjungtivis (31%), komplikasi terbanyak adalah konjungtivitis (67%). Lama perawatan terbanyak adalah selama 1 hingga 7 hari (53%) dengan rata – rata lama perawatan selama 11,6 hari, konsultasi ke dokter lain terbanyak yaitu ke dokter spesialis mata (80%), dan tatalaksana terapi terbanyak adalah melakukan penghentian obat penginduksi timbulnya penyakit.
Studi Retrospektif: Pemahaman Klinis Liken Simplek Kronikus Pramita Ariyanti; Sunarso Suyoso
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.754 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-5

Abstract

Latar belakang: Liken Simplek Kronikus (LSK/neurodermatitis sirkumskripta) adalah suatu kelainan kulit yang sangat gatal dan bersifat kronis dengan ditandai satu atau lebih plak yang mengalami likenifikasi yaitu penebalan pada kulit dan permukaan kulitnya seperti kulit pohon. Tujuan: Mengevaluasi gambaran serta penegakkan diagnosis LSK. Metode: Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan melihat laporan tahunan/catatan medik pasien LSK di Unit Rawat Jalan (URJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo periode 2009-2011 (3 tahun). Hasil: Insidensi pasien baru LSK periode 2009-2011 sebesar 0,14%. Kelompok usia terbanyak 25-44 tahun (38,7%) dan pasien perempuan lebih banyak (64,5%) dibandingkan pasien laki-laki (35,5%). Keluhan utama terbanyak yaitu gatal (90,3%) dan terdapat 19,4% pasien yang terjadi kekambuhan. Distribusi lama keluhan terbanyak yaitu selama 1 bulan (61,2%). Lokasi lesi yang sering terjadi pada kaki (45,2%) dan jarang pada genitalia. Gejala klinis terbanyak adalah likenifikasi (6,5%). Penggunaan terapi paling banyak menggunakan kortikosteroid topikal desoksimethasone 0,25% (35,5%). Simpulan: Kasus LSK sebenarnya adalah yang sangat mudah untuk didiagnosis, namun kurangnya pemahaman dalam mendiagnosis menyebabkan kasus ini tampak jarang ditemukan.Kata kunci: liken simplek kronikus, studi retrospektif.
Uji Kepekaan Antibiotik Oral terhadap Bakteri Propionilbacterium acnes Pasien Akne Vulgaris Derajat Sedang Berat Alfrid Asditya; Iskandar Zulkarnain; Rahmadewi Rahmadewi; Afif Nurul Hidayati
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.081 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.128-135

Abstract

Latar Belakang: Akne vulgaris (AV) merupakan penyakit kulit yang sering terjadi terutama pada usia remaja dan dapat berlanjut pada usia dewasa. Peningkatan penggunaan antibiotik menyebabkan pola bakteri Propionilbacterium acnes yang berubah, sehingga dilaporkan adanya resistensi terhadap beberapa antibiotik Tujuan: Mengevaluasi kepekaan antibiotik oral doksisiklin, klindamisin, azitromisin, dan eritromisin yang digunakan pada akne vulgaris derajat sedang-berat terhadap bakteri Propionilbacterium acnes. Metode: Deskriptif observasional, dengan 37 pasien AV baru dan lama yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel diambil dari lesi pustula akne vulgaris kemudian ditanam di media kultur anaerob, diidentifikasi dengan VITEK® 2, dan tes kepekaan antibiotik dengan metode disk difusi. Hasil: Akne vulgaris derajat sedang-berat terbanyak pada laki-laki usia 18-25 tahun dengan tingkat pendidikan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), hasil uji kultur dan identifikasi menunjukkan terbanyak adalah bakteri Propionilbacterium acnes. Tiga puluh tujuh sampel isolat menunjukkan antibiotik yang memiliki kepekaan terhadap Propionilbacterium acnes adalah sebagai berikut: doksisiklin (100%), azitromisin (86%), klindamisin (76%), dan eritromisin (73%). Simpulan: Kepekaan antibiotik terhadap bakteri Propionilbacterium acnes menunjukkan yang pertama adalah doksisiklin, azitromisin, klindamisin, dan kepekaan paling rendah adalah eritromisin.
Ki-67 Immunohistochemistry Examination in Pityriasis Rubra Pilaris Diana Kartika Sari; Cita Rosita Sigit Prakoeswa; Troef Soemarno
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-5

Abstract

Background: Pityriasis rubra pilaris (PRP) is a papulosquamous disorder of unknown etiology. PRP is often difficult to be distinguished with psoriasis in early phase of the disease. Purpose: To deliver information about Ki-67 immunohistochemistry examination in PRP. Reviews: The diagnosis of PRP can be established by histological examinations or even immunohistochemistry. The best treatment options are retinoids, photochemotherapy (PUVA), and antimetabolites (methotrexate). Conclusion: Immunohistochemistry examination can provide complete feature to distinguish between PRP and psoriasis because of it's high specifity.Key words: Ki-67 immunohistochemistry, pityriasis rubra pilaris, diagnosis.
Pengaruh Dermatitis Atopik, Urtikaria dan Gangguan Saluran Cerna sebagai Komorbiditas dalam Perbaikan Klinis dan Kepuasan Orang Tua Pasien pada Anak Alergi dengan Gejala Saluran Nafas Tingkat Moderate-Persistent yang Mendapatkan Imunoterapi Alergen Debu Rumah Anang Endaryanto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.112-122

Abstract

Latar Belakang: Rendahnya efektivitas imunoterapi dan kepuasan orang tua perlu dieksplorasi untuk menurunkan angka dropout imunoterapi yang masih tinggi. Tujuan: mengevaluasi pengaruh keberadaan gejala alergi di luar saluran nafas pada efektivitas imunoterapi dalam meredakan gejala alergi dan kepuasan para orang tua. Metode: Penelitian dilaksanakan mulai 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2018 dengan disain kohort retropektif pada anak alergi debu rumah dengan gejala saluran nafas moderate-persistent yang diberikan imunoterapi alergen debu rumah subkutan. Setelah fase rumatan imunoterapi selesai, tingkat gangguan kualitas hidup dan frekuensi gejala, jumlah hari/minggu bebas gejala alergi, dan tingkat kepuasan orang tua dievaluasi dalam 30 hari. Hasil: Sejumlah 100 % dari total subjek penelitian (2,171 pasien) sensitif pada alergen debu rumah dengan gejala saluran nafas. Sebesar 79,7 % pasien membaik menjadi mild-intermittent. Rerata jumlah hari bebas gejala pada 30 hari paska fase rumatan imunoterapi adalah 25,1 + 8,31 hari. Tingkat kepuasan yang tinggi dinyatakan oleh 72,9 % orangtua pasien. Adanya komorbiditas dermatitis atopik, urtikaria, dan gejala alergi saluran cerna tidak berpengaruh terhadap skor perbaikan gejala alergi saluran nafas. Keberadaan dermatitis atopik, urtikaria, dan gangguan saluran cerna berkorelasi dengan penurunan jumlah hari bebas gejala. Simpulan: Keberadaan dermatitis atopik, urtikaria, dan gangguan saluran cerna sebagai komorbiditas tidak menurunkan efektivitas imunoterapi alergen debu rumah dalam meredakan gejala alergi saluran nafas, tetapi menurunkan jumlah hari/minggu bebas dari gejala alergi dan tingkat kepuasan orang tua pasien.
Kesesuaian Gambaran Klinis Patognomonis Infestasi Skabies dengan Kepositifan Pemeriksaan Dermoskop dan Kerokan Kulit Kurniati Kurniati; Iskandar Zulkarnain; M. Yulianto Listiawan
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-8

Abstract

Latar belakang: Diagnosis infestasi skabies oleh klinisi umumnya ditegakkan dengan gejala klinis patognomonis skabies. Tetapi gejala skabies seringkali tidak khas akibat adanya kemiripan dengan penyakit lain terutama pada anak-anak dan kondisi imunokompromais, sehingga diagnosis klinis seringkali keliru dan mengakibatkan kesalahan pemberian terapi. Diperlukan penegakan diagnosis definitif untuk menemukan Sarcoptes scabiei (S. scabiei) atau telurnya, yang secara konvensional dapat dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopik dari kerokan lesi kulit penderita. Namun metode tersebut tidak praktis, membutuhkan keterampilan khusus, cenderung invasif, seringkali memerlukan beberapa kali kerokan, serta sulit dilakukan pada anak-anak, sehingga diperlukan metode yang mudah, non-invasif, dan akurasi yang baik. Pemeriksaan dermoskop menawarkan solusi tersebut. Tujuan: Mengevaluasi kesesuaian gambaran klinis patognomonis infestasi skabies dengan kepositifan dermoskop dan pemeriksaan kerokan kulit Metode: Studi analitik observasional cross sectional, total sampling dalam satu kali observasi pada 243 populasi terjangkau yang berusia 5-14 tahun di satu pondok pesantren. Terdapat 44 sampel yang memenuhi kriteria penerimaan sampel yang dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menentukan gejala klinis patognomonis skabies, selanjutnya diperiksa dengan dermoskop dan mikroskop dari kerokan kulit pada lesi. Analisis hasil dengan menghitung kappa agreement dan nilai prediksi positif. Hasil: Dari 44 sampel didapatkan 25 sampel klinis patognomonis skabies dan 19 sampel klinis non patognomonis skabies. Pemeriksaan dermoskopi ditemukan positif pada 25 sampel dan mikroskopik kerokan kulit positif pada 18 sampel. Kesesuaian dermoskopi dan kerokan kulit adalah 79,5%, kappa 0,601. Simpulan: Dermoskop berpotensi digunakan sebagai alat diagnostik definitif skabies pada lingkungan dengan prevalensi tinggi skabies. Kata kunci: skabies, dermoskop, kerokan kulit.
Dermoscopy Supports the Diagnose of Papulosquamous Disorders Medhi Denisa Alinda; Marsudi Hutomo; Trisniartami Setyaningrum
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-7

Abstract

Background: The diagnose of papulosquamous skin disorder was established by clinical symptoms. However, some of papulosquamous manifestation are alike with each other and lead to misdiagnostic. Histopathology examination usually can help to establish diagnose but this method is invasive and time consuming. Purpose: To evaluate dermoscopic features of papulosquamous disorder. Methods: Descriptive observasional cross sectional study, total sampling in ward and out patient clinic of Dermato-venereology Department Dr. Soetomo General Hospital. Twenty four samples were included in the study, followed by the procedures from anamnesis, physical examination, dermoscopy procedures, and histopathology examination. Results: From 24 samples, 19 samples showed plaque psoriasis describing 12 ring patterns, 1 cluster pattern, 2 patchy patterns, 2 reguler patterns, and 2 unspesific patterns; 3 samples showed nummular dermatitis describing 2 cluster patterns and 1 unspesific pattern; and 2 samples showed pityriasis rosea describing 2 pheripery patterns. Conclusion: Dermoscopy can support the diagnosis of papulosquamous skin disorder especially plaque psoriasis.Key words: papulosquamous disorder, dermosocopy, histopathology examination, plaque psoriasis.
Efficacy and Side Effects of Fractional Carbon Dioxide Laser for Acne Scars, Keloids, and Striae Albae in the Dermatovenereology Clinic of Tertiary Hospital: A Retrospective Study Pramitha, Riezky Januar; Zulkarnain, Iskandar; Ervianti, Evy; Rahmadewi, Rahmadewi; Hidayati, Afif Nurul; Budiono, Budiono; Indramaya, Diah Mira; Setyaningrum, Trisniartami; Citrashanty, Irmadita; Sari, Maylita; Umborowati, Menul Ayu; Kusumaputra, Bagus Haryo; Listiawan, Muhammad Yulianto
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 33 No. 1 (2021): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V33.1.2021.19-27

Abstract

Background: Fractional Carbon Dioxide (CO2) LASER has better efficacy compared to conventional LASER in treating scar tissue such as acne scars, keloids, and striae albae. However, a population with darker skin has a higher risk of side effects, especially in post-inflammatory hyperpigmentation. Purpose: To evaluate the efficacy and side effects of fractional CO2 LASER in new patients with acne scars, keloids, and striae albae in the Dermatovenereology outpatient clinic. Methods: Retrospective analysis was done on 42 medical records of patients who met the inclusion criterion, which was those who have undergone fractional CO2 LASER treatments. The efficacy and side effects of the therapy were identified and analyzed using the Statistical Package for Social Sciences (SPSS) version 17 program. Result: A total of 42.9% of patients underwent fractional CO2 LASER treatments for acne scars, while 31% and 26.1% of patients received treatments for keloids and striae albae, respectively. There was a statistically significant decrease in the degree of acne scar (2.72 ± 0.83), keloid height (2.2 ± 0.405), and striae width (0.39 ± 0.02). The statistically significant side effects were hyperpigmentation (59.5%), crustae (26.2%), erythema ≥ for 4 days (19%), and new acne (19%). Conclusion: Fractional CO2 LASER was effective for treating scar tissue (acne scars, keloids, and striae albae) with a higher incidence of side effects in population with darker skin and post-inflammatory hyperpigmentation.
The Effectiveness of Autohemotherapy in Chronic Urticaria Treatment in the Dr. Mohammad Hoesin General Hospital and Pertamina Hospital Palembang Nopriyati Husan; Sarah Diba Zulkarnain; Athuf Thaha; Maria Mayfinna Gozali; Tiar Marina Octyvani
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 32 No. 3 (2020): DECEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V32.3.2020.206-213

Abstract

Background: Chronic urticaria (CU) is one of the most common case found in dermatology and venereology and it decreases the quality of life. Autohemotherapy (AHT) is an innovative therapy that works by desensitization and activation of the local immune system, and it is effective for recurrent or refractory urticaria. AHT technique is simple, inexpensive, and does not require special expertise that can be done at all levels of health services in Indonesia. Purpose: to determine the effectiveness of AHT in the CU treatment. Methods: This was a clinical trial research with involving patients with CU in the Allergo-Immunology Clinic of Department of Dermatology and Venereology Dr. Mohammad Hoesin General Hospital (DV RSMH) and Pertamina Hospital Palembang. The Urticaria Activity Score (UAS7) and Dermatology Life Quality Index (DLQI) assessments were carried out on week 1 and week 10. Result: The research was conducted from 1 July - 30 September 2019 involving 72 eligible  patients with 2 dropouts (2.8%). The mean age was 47 years (15-72 years), with 46 (63.9%) are women. Chronic spontaneous urticaria (CSU) was the most frequent diagnosis observed in 64 people (88.9%). Adverse events included bruises at the injection site (n=1; 1.4%) and at the blood draw location (n=1; 1.4%). On week 1, mean UAS7 was 30.77 ± 2.46, mean DLQI 21.66 ± 3.60. By week 10, UAS7 and DLQI significantly decrease to 4.12 ± 2.89 and 2.51 ± 1.53 (p <0.005). Conclusion: There was a significant decrease in UAS7 and DLQI in chronic urticaria patients after receiving AHT therapy for 10 weeks. This research concluded AHT can serve as an option in chronic urticaria treatment.
Diagnosis and Management of Leprosy Medhi Denisa Alinda; Silvani Geani; Regitta Indira Agusni; Bagus Haryo Kusumaputra; Novianti Rizky Reza; Cita Rosita Sigit Prakoeswa; Muhammad Yulianto Listiawan
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 32 No. 2 (2020): AUGUST
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/bikk.V32.2.2020.149-157

Abstract

Background: Leprosy is a chronic infectious disease caused by Mycobacterium leprae, which tends to attack peripheral nerves and skin. The diagnosis of leprosy is based on the presence of one of three cardinal signs. Early diagnosis of leprosy is critical and is made through clinical examination and investigation. Purpose: To discuss the diagnosis, laboratory examination, and treatment of leprosy, considering that early diagnosis and appropriate treatment are the key elements in breaking the chain of transmission and preventing leprosy patients' disabilities. Review: Leprosy is a chronic granulomatous infectious disease caused by the Mycobacterium leprae. Based on clinical appearance, histopathology findings, and immunological, leprosy is grouped into six forms using the Ridley-Jopling classification, namely Tuberculoid (TT), Borderline Tuberculoid (BT), Borderline-borderline Mid-borderline (BB), Borderline-lepromatous (BL), Subpolar Lepromatous (LLs), and Polar Lepromatous (LLp). Based on the treatment category, leprosy is grouped into paucibacillary (PB) and multibacillary (MB). Leprosy is often diagnosed clinically, and skin scraping smear remains the preferred laboratory method. The negative results of smear skin scraping may not necessarily exclude leprosy. Therefore, a higher sensitivity test might be needed to detect M. leprae. Treatment with Multi-Drug Therapy (MDT) is adjusted based on the type of leprosy, whether it belongs to the PB or MB group. Treatment of PB type, regimens are rifampicin and dapsone, while in MB type, the patients received rifampicin, dapsone, and clofazimine regimens. Conclusion: A proper diagnosis for leprosy, both through physical examination and laboratory examination, is required to determine an effective MDT treatment and break the chain of disease transmission.