cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
Studi Retrospektif: Psoriasis Pustulosa Generalisata Lunni Gayatri; Evy Ervianti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.595 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-8

Abstract

Latar belakang: Angka kejadian kasus psoriasis pustulosa di Indonesia belum diketahui. Selama ini belum pernah dilakukan penelitian retrospektif terhadap penyakit psoriasis pustulosa generalisata. Tujuan: Mengevaluasi gambaran kasus psoriasis pustulosa generalisata untuk meningkatkan mutu pelayanan terhadap pasien di masa mendatang. Metode: Studi retrospektif pasien psoriasis pustulosa generalisata yang dirawat inap di Instalasi Rawat Inap Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode 1 Januari 2001 sampai 31 Desember 2011. Dilakukan penelitian mengenai jumlah kasus, umur, jenis kelamin, anamnesis, pemeriksaan fisik, diagnosis, pemeriksaan penunjang, dan terapi yang diberikan. Hasil: Didapatkan 21 pasien psoriasis pustulosa generalisata dari pengamatan selama 11 tahun. Kasus terbanyak terjadi pada usia antara 2140 tahun (57,1%), pasien perempuan lebih banyak daripada lakilaki (16:5). Pemeriksaan histopatologi dilakukan pada 15 pasien dengan hasil 80% sesuai dengan gambaran psoriasis pustulosa. Terapi methotrexate diberikan pada seluruh pasien, dengan hasil 52,3% pasien dinyatakan mulai sembuh saat pasien keluar rumah sakit. Simpulan: Kasus psoriasis pustulosa generalisata setiap tahun berjumlah 13 pasien. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis, kemudian dicocokkan dengan hasil patologi anatomi. Kata kunci: pustula, psoriasis pustulosa generalisata, methotrexate.
Viral infection profile in Pediatric Dermatology Division clinic of Dermatology and Venereology Outpatient Dr. Soetomo General Hospital Surabaya Kinanti Prabawaningrum; Iskandar Zulkarnain
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.759 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.24-31

Abstract

Background: Viral infections are common in children and distributed widely in the world. There are not many studies that discuss the profile of viral infection in children in East Java. Purpose: To evaluate viral infections patient's profiles in the Pediatric Dermatology Division Dermatovenereology Outpatient Clinic of Dr. Soetomo General Hospital in 2008-2010 including prevalence, demographic data, type of infection, patient complaints, skin lesions and management. Methods: A retrospective study using medical records for the period January 2008-December 2010. Basic data (age , gender), history (chief complaint, began to arise, disease history), examination (morphology) and treatment (therapy, repeat visits) were recorded. Results: Viral infection patients as much as 285 patients (6.5 % of all pediatric patients at URJ). Most found diagnosis is molluscum contagiosum (40.4%), in the age group 5-14 years (68.4 %), highest complaints pimples (42.8 %) , most duration of diseases >10 days (40 %). Most management actions in the cosmetics division (61.1 %). Conclusion: Viral infection patients in Pediatric Dermatology Division clinic of Dermatology and Venereology Outpatient Dr. Soetomo General Hospital Surabaya in 2008-2010 is likely to increase each year and require a more comprehensive management.Key words : viral infection, child, RSUD Dr. Soetomo.
Peran Biofilm terhadap Infeksi Saluran Genital yang disebabkan oleh Vaginosis Bakterial Afif Nurul Hidayati; Chesia Christiani Liuwan
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.336 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.150-158

Abstract

Latar Belakang: Insidensi infeksi saluran genital, salah satunya Vaginosis Bakterial (VB) cukup tinggi pada banyak negara dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup menonjol pada sebagian besar wilayah dunia. Kegagalan dalam mendiagnosis dan memberikan pengobatan dapat menimbulkan komplikasi yang serius dan berat dengan berbagai gejala sisa lainnya, antara lain infertilitas, kehamilan ektopik, infeksi pada neonatus, maupun penurunan kualitas bayi. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi patogenesis dan pengobatan VB, salah satunya biofilm. Tujuan: Tinjauan pustaka ini membahas peran biofilm dalam infeksi saluran genital akibat VB dalam patogenesis dan pengobatan. Telaah kepustakaan: Biofilm menghambat proses eliminasi dan terbunuhnya organisme patogen oleh antibiotik, sehingga infeksi menjadi lebih berat dan lama. Biofilm Gardnerella vaginalis menunjukkan resistensi yang tinggi dan mekanisme protektif yang kuat terhadap flora normal vagina, termasuk hidrogen peroksida dan asam laktat yang diproduksi oleh laktobasilus.  Hal itu merupakan penyebab terjadinya relapse dan rekurensi yang tinggi dari VB. Biofilm dapat memengaruhi patogenesis dan pengobatan BV. Biofilm juga berperan dalam resistensi antibiotik. Simpulan: Biofilm memegang peranan kunci tidak hanya dalam hal patogenesis dari VB tetapi juga berperan terhadap kegagalan terapi dan rekurensinya.
Candida Species Profile of Vulvovaginal Candidiasis in HIV/AIDS Patients Treated With Systemic Antibiotic Dhelya Widasmara; Sunarso Suyoso; Dwi Murtiastutik
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.708 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-5

Abstract

Background: Vulvovaginalis Candidiasis (VVC) is a vulva and vaginal infection of Candida, which one of predisposition factors is systemic antibiotics. Humoral immunity does not play a role on VVC, thus VVC in HIV/AIDS patients is as much as VVC in immunocompetent patient. Purpose: Identify the profile of Candida sp. of VVC in HIV/AIDS patients who got systemic antibiotics. Methods: Descriptional study to identify the pattern of Candida sp. of VVC in HIV/AIDS patient who got systemic antibiotic with cultures of Saboroud Dextrose Agar, Cornmeal Tween80 with Carbohydrat Test and Candida CHROM agar. Results: Broad-spectrum antibiotics were given to HIV/AIDS patient with VVC at Dr. Soetomo general hospital Surabaya two times higher than narrow-spectrum antibiotics (66,7% vs. 33,3%), they were ciprofloxacin (42,8%), ceftazidime (19,1%) and ceftriaxone (4,8%); the  narrow-spectrum antibiotics were cotrimoxazole (19,0%) and rifampicin (14,3%). Conclusion: C.albicans (57,1%) and C. glabrata (9,6%) were found in VVC of HIV/AIDS patients that have been given broad-spectrum antibiotics, while C. albicans (28,6%) & C. glabrata (4,7%) also found in VVC of HIV/AIDS patients that have been given narrow-spectrum antibiotics. C. dubliniensis were not found in this studyKey words: Candida spp, vulvovaginal candidiasis, HIV/AIDS, antibiotics
Artikel asli: Profil Kadar CXCL 10 Serum pada Pasien Vitiligo Di Unit Rawat Jalan Kesehatan Kulit Dan Kelamin RSUD Dr Soetomo Surabaya Ardhiah Iswanda Putri; Sawitri Sawitri; Diah Mira Indramaya
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (429.018 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.84-90

Abstract

Latar Belakang: Vitiligo adalah penyakit depigmentasi yang paling sering dijumpai dengan manifestasi klinis berupa makula berwarna putih susu berbatas tegas, patogenesis kompleks yang belum dipahami dengan baik sehingga evolusi penyakit tidak dapat diprediksi. Peran kemokin CXCL 10 pada vitiligo masih belum banyak diketahui dan dipelajari. Penelitian mengenai kadar CXCL 10 serum pada vitiligo belum pernah dilakukan di Indonesia. Tujuan: Untuk mengetahui profil kadar CXCL 10 serum pada pasien vitiligo. Metode: Rancangan penelitian ini deskriptif cross-sectional yang bertujuan untuk mengevaluasi kadar CXCL 10 serum pada pasien vitiligo, 16 sampel yang didiagnosis vitiligo dilakukan pengambilan darah pada pasien untuk mengukur kadar serum CXCL 10. Hasil: Kadar CXCL 10 serum pada penelitian ini lebih tinggi pada pasien vitiligo, tidak ada perbedaan bermakna antara laki laki dan perempuan dan distribusi proporsi tipe vitiligo tertinggi adalah generalisata. Simpulan: Profil kadar serum CXCL 10 pada pasien vitiligo berdasarkan jenis kelamin, usia, dan lama menderita vitiligo.
Penatalaksanaan Kandidiasis Mukokutan pada Bayi Bagus Haryo Kusumaputra; Iskandar Zulkarnain
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.015 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Bayi memiliki risiko lebih tinggi terhadap cedera kulit, absorbsi kulit, dan infeksi kulit. Kandidiasis mukokutan pada bayi dapat berupainfeksi yang paling umum seperti kandidiasis oral dan ruam popok, sampai berupa infeksi serius yang berpotensi menjadi infeksi sistemik, seperti kandidiasis kongenital dan dermatitis fungal invasif. Infeksi mukokutan pada bayi prematur dapat menjadi permulaan infeksi sistemik sehingga membutuhkan perhatian khusus.Tujuan: Memberikan pengetahuan mengenai kandidiasis mukokutan pada bayi yang meliputi etiopatogenesis dan manifestasi klinis, sehingga diharapkan dapat memberikan pengobatan yang lebih baik. Telaah kepustakaan: Lokasi utama kontak dengan kandida pada bayi baru lahir yang tersering adalah mukokutan, termasuk saluran pencernaan, pernapasan, dan kulit. Faktor predisposisi kandidiasis meliputi faktor mekanik, nutrisi, perubahan fisiologis, penyakit sistemik, dan faktor iatrogenik. Diagnosis kandidiasis mukokutan berdasarkan pemeriksaan klinis ditunjang dengan pemeriksaan mikroskop langsung dan kultur. Pengobatan kandidiasis mukokutan pada bayi meliputi pengobatan topikal dan sistemik. Golongan antijamur topikal yang digunakan pada kandidiasis antara lain imidazol dan poliene, sedangkan pengobatan antijamur sistemik meliputi flukonazol dan amfoterisin B. Simpulan: Pengobatan kandidiasis mukokutan pada bayi sebagian besar menggunakan obat topikal. Pengobatan sistemik digunakan bila terapi topikal gagal atau pada infeksi kandida yang terdapat gejala sistemik.Kata kunci: kandidiasis mukokutan, bayi, tatalaksana.
Psoriasis Vulgaris in Human Immunodeficiency Virus Infected Patient: A Case Report Rahmadewi Rahmadewi; Maya Wardiana
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.145 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.148-152

Abstract

Background: Psoriasis vulgaris (PV) is a chronic inflammatory skin disease characterized by erythematous thick scaly plaques. PV in human immunodeficiency virus (HIV) infected patient can give severe clinical features and challenging to treat since the treatment are immunosuppressive drugs. Purpose: To report a case of psoriasis vulgaris in HIV infected patient. Case: A 39 year-old man complained about scaly redness patches on his back and elbow that spread accompanied by burning sensation. From physical examination, on almost all over his body there were erythematous plaques sharply marginated with thick scales. Histopathologic examination from skin biopsy revealed parakeratosis, acanthosis, with psoriasiform hyperplasia and Munro’s microabscesses consistent to PV. The patient was treated with methotrexate tablets. After 8 days hospitalization, white plaque appeared on his tongue. Potassium hydroxide examination (KOH) 10% and 3 methods HIV test was done with positive result. Because of HIV positive methotrexate was stopped. Antiretroviral therapy (ART) was given and its combination with desoximetasone 0.25% cream after 10 days gave a good result for the PV. Discussion: The pathophysiology of PV in HIV infected patient seems to be conflicting due to the involvement of T cell lymphocyte in both diseases. Treatment for PV in HIV infected patient should consider the probability of the immunosuppressive effect of the drugs that can worsen the HIV infection. ART is recommended as the treatment for PV. Conclusion: Psoriatic lesion in this patient responded well to ART and desoximetasone 0.25% cream. PV in HIV infected patient requires certain management considering immunological status and immunosuppressive treatment. Early diagnosis of these comorbid condition help to determine appropriate management.
Insufisiensi Adrenal Sekunder pada Eritema Nodosum Leprosum: Studi Profil TNF-α dan Kortisol Serum Irmadita Citrashanty; Sunarso Suyoso; Rahmadewi Rahmadewi
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.361 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-6

Abstract

Latar belakang: Beberapa studi mengemukakan bahwa peningkatan tumor necrosis factor–alpha (TNF-α) sebanding dengan derajat keparahan Eritema Nodosum Leprosum (ENL), sehingga sitokin ini dianggap sebagai seromarker. Sekresi adrenocorticotropin hormone (ACTH) meningkat akibat pelepasan sitokin proinflamasi, kemudian ACTH akan merangsang pelepasan glukokortikoid adrenal sebagai umpan balik. Apabila rangsangan sitokin ini berlangsung kronis, korteks adrenal akan mengalami kelelahan yang berakibat menurunnya serum kortisol. Pemberian kortikosteroid eksogen jangka panjang diduga menyebabkan terjadinya penurunan kortisol. Tujuan: Mengevaluasi profil TNF-α dan kortisol serum pada pasien ENL yang diterapi kortikosteroid berdasarkan riwayat lamanya ENL. Metode: Dua puluh satu subjek dilakukan pemeriksaan fisik, anamnesis riwayat ENL, dan pengambilan sampel darah jam 08.00-09.00 untuk melihat kadar TNF-α dan kortisol serum. Hasil: Dari 21 sampel didapatkan rerata TNF-α serum sebesar 4,51 ± 1,7 ρg/mL. Rerata kortisol serum pada pasien dengan riwayat ENL 1-12 bulan sebesar 15,23 ± 2,3 μg/dL, riwayat ENL > 12-24 bulan sebesar 8,75 ± 4,8 μg/dL, dan riwayat ENL > 24-36 bulan sebesar 1,17 ± 0,7 μg/dL. Simpulan: Rerata penurunan kortisol serum tampak seiring dengan semakin lamanya pasien menderita ENL dan mendapatkan terapi kortikosteroid. Insufisiensi adrenal sekunder pada penelitian ini dapat disebabkan oleh pemberian kortikosteroid jangka panjang maupun adanya paparan sitokin proinflamasi kronis. Kata kunci: eritema nodosum leprosum, insufisiensi adrenal sekunder, kortikosteroid, TNF-α, kortisol.
Immunomodulators for a Variety of Viral infections of the Skin I G A Kencana Wulan; Indropo Agusni
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.519 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.63-69

Abstract

Background: In the last decade there has been inceasing prevalence of viral infections in the world, this led to increased efforts to find a variety of new drugs and vaccines against the virus that causes. Purpose: To disccuss the provision relating to the use of immunomodulators in viral infections. Review: Some diseases caused by viruses such as varicella, herpes zoster, herpes simplex, condyloma acuminata, molluscum contagiosum and Human immunodeficiency syndrome (HIV). Immunomodulator also known as biological response modifier, a wide variety of materials imunoaugmentor is either recombinant, synthetic, or natural medicines that returns an imbalance of the immune system that is used in immunotherapy. Immunotherapy is a treatment approach by restoring, enhancing, or suppresing the immune response. Immunomodulator administration on viral infections gave varying results. Conclusion: Immunomodulatory regimens on viral infections is an attractive therapeutic approach, because the side effects are often lighter than the side effects of drugs that have been there, in addition to the more rarely cause resistance to treatment of diseases caused by viral infection.Key word: viral infection, immunomodulator, immune response.
Efek Pemberian Lactobacillus plantarum IS-10506 terhadap Indeks Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD) Pasien Dermatitis Atopik Dewasa Derajat Ringan-Sedang: Uji Klinis Acak Terkontrol, Tersamar Ganda Abdul Karim; Trisniartami Setyaningrum; Cita Rosita Sigit Prakoeswa
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.415 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.85-92

Abstract

Latar belakang: Efek terapi probiotik pada dermatitis atopik (DA) telah dibuktikan, namun hanya beberapa studi pada populasi dewasa dan hasilnya masih tidak konsisten. Ketidakseimbangan sel T-helper (Th)1 dan Th2 diduga memengaruhi kadar imunoglobulin (Ig) E, yang juga memengaruhi indeks Scoring Atopic Dermatitis (SCORAD). Penatalaksanaan standar yang telah ada hanya mengurangi gejala DA. Lactobacillus plantarum (LP) IS-10506 merupakan probiotik yang diisolasi dari dadih, suatu fermentasi susu kerbau tradisional asli Indonesia yang diharapkan akan memperbaiki gejala DA karena efek imunomodulator. Tujuan: Mengevaluasi perbaikan indeks SCORAD setelah pemberian LP IS-10506 pada DA dewasa derajat ringan-sedang. Metode: Uji klinis acak terkontrol tersamar ganda terhadap 30 pasien DA dewasa derajat ringan-sedang dirandomisasi untuk mendapatkan LP (dosis: 2x1010 cfu/hari) atau plasebo selama 8 minggu di Divisi Alergi Imunologi Instalasi Rawat Jalan (IRJ) Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Indeks SCORAD dievaluasi sebelum, minggu ke-4, dan sesudah intervensi (minggu ke-8). Hasil: Sebesar 15 sampel pada kelompok LP dan 15 sampel pada kelompok plasebo dapat menyelesaikan studi. Nilai SCORAD pada kelompok LP lebih rendah dibanding plasebo dengan rerata selisih yang berbeda bermakna pada minggu ke-4 (p = 0,040) dan minggu ke-8 (p = 0,022). Simpulan: Pemberian LP IS-10506 dapat dipertimbangkan sebagai terapi tambahan pada DA dewasa derajat ringan-sedang karena memiliki efek imunomodulator.