cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 19784279     EISSN : 25494082     DOI : 10.20473
Core Subject : Health, Science,
Arjuna Subject : -
Articles 505 Documents
Kadar TNF- Lesi Kulit dengan Derajat Keparahan Psoriasis Vulgaris Sulamsih Sri Budini; M. Cholis Cholis; Aunur Rofiq
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.55 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-7

Abstract

Latar belakang: Peranan TNF- dalam patogenesis terjadinya lesi kulit pada psoriasis sudah banyak diteliti, termasuk pemakaian terapi biologis pada psoriasis dengan bahan yang menghambat TNF- dan sel T. Kegunaan TNF- serum sebagai biomarker aktifitas penyakit psoriasis memberi hasil yang tidak konsisten baik dalam jumlah absolutnya maupun hubungannya dengan respon hasil pengobatan. Tujuan: Mengevaluasi kadar TNF- lesi kulit dengan derajat keparahan penyakit psoriasis. Metode: Desain penelitian adalah potong lintang analitik observasional dengan jumlah sampel duapuluh lima penderita psoriasis vulgaris yang datang ke poli rawat jalan RSUD Dr Saiful Anwar Malang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan histopatologis. Derajat keparahan dievaluasi dengan skor Psoriasis Area Severity Index (PASI), yaitu <10 ringan; 10-20 sedang; dan >20 berat. Kadar TNF- lesi kulit di ukur dengan metode ELISA. Kadar TNF- lesi kulit ditentukan dengan menghitung nilai rerata pada masing-masing derajat keparahan. Data diolah dengan program SPSS versi 14, hubungan antara kadar TNF- lesi kulit dengan derajat keparahan penyakit diuji dengan menggunakan rumus uji korelasi Spearman. Hasil: Didapatkan rerata kadar TNF- lesi kulit 135,00 + 30,04 pada PASI ringan, 229,40 + 38,06 pada PASI sedang, 258,00 + 53,04 pada PASI berat. Rerata skor PASI penderita psoriasis vulgaris pada derajat ringan 8,57 + 0,57, sedang 16,46 + 3,08 dan berat 28,21 + 10,86. Simpulan: Makin tinggi kadar TNF- makin bertambah pula derajat keparahan psoriasis vulgaris. Kata kunci: psoriasis, TNF-, PASI, derajat keparahan.
Tinea Capitis Kerion Type: A Case Report Dyah Ratri Anggarini; Trisniartami Setyaningrum
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.892 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-7

Abstract

Background: Tinea capitis is a superficial fungal infection. Kerion is one of its form, which is an inflammation form due to a hypersensitivity reaction to fungal infection caused by group Mycosporum and Trichophyton. Purpose: To understand the clinical manifestation, species causing agent, and management of tinea capitis.  Case management: A four-year-old boy, 17 kg, came with a mass on the head, accompanied with pain, fever, and hair loss since 1 week before hospitalization, it appeared after playing with the neighbor's pets. General examination showed enlargement of the right preauricular lymph node. Dermatological examination revealed a mass in the head 7 cm in size with pus, partially covered with crust, and there were also warm and pain on palpation. Wood lamp examination was negative, but in potassium hydroxide examination showed spores outside and inside the hair shaft. Result of fungal cultures was T. mentagrophytes. Routine blood tests obtained only leukocytosis, which was 12.390/µL. The patient was treated with griseofulvin, erythromycin, wet dressing, and ketokonazole shampoo. It was shown good results after therapy for 8 weeks. Conclusions: Tinea capitis caused by T. mentagrophytes presenting an inflammatory reaction, causing a fungal infection in the hair shaft. Auxiliary examination for the diagnosis of tinea capitis can be done in various ways, the easiest one is by potassium hydroxide 20% examination, fungal culture is then performed to determine the species causing the infection. Therapeutic use of griseofulvin is still the main choice.Key words: tinea capitis kerion type, T. mentagrophytes, griseofulvin.
Pengaruh Vitamin D3 pada Dermatitis Atopik Anak di Indonesia Yuli Wahyu Rahmawati; Iskandar Zulkarnain; M Yulianto Listiawan; Trisniartami Setyaningrum; Irmadita Citrashanty; Lisa Aditama; Christina Avanti
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.837 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.123-129

Abstract

Latar Belakang: Vitamin D berperan pada homeostasis dan metabolisme kalsium. Selain fungsi tersebut, vitamin D juga berperan penting pada sistem kekebalan tubuh. Peran vitamin D terhadap sistem kekebalan tubuh telah diteliti akhir–akhir ini dengan penemuan reseptor vitamin D (VDR) pada jenis sel yang berbeda. Reseptor vitamin D telah diidentifikasi pada hampir semua sel sistem kekebalan termasuk sel T, sel B, neutrofil, makrofag, dan dendritic cell (DC). Penelitian yang menghubungkan kekurangan vitamin D dengan peningkatan risiko keganasan (terutama kolorektal), dermatitis atopik (DA), autoimun, infeksi, dan kardiovaskular banyak dilakukan pada dekade terakhir ini. Di antara faktor-faktor yang terlibat dalam patogenesis DA, kekurangan vitamin D pada pasien DA  menjadi topik yang penting saat ini. Tujuan: Mengetahui pengaruh vitamin D3 pada pasien DA anak. Metode: Penelitian cohort pada pasien DA anak yang memenuhi kriteria inklusi yang diberikan sirup vitamin D3 selama 28 hari, kemudian dilakukan pengukuran kolonisasi Staphylococcus aureus sebelum dan sesudah pemberian vitamin D3. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan penurunan kolonisasi Staphylococcus aureus sebelum dan setelah pemberian vitamin D3 pada pasien DA anak, dengan nilai p=0,0001. Simpulan: Vitamin D3 dapat menurunkan kolonisasi Staphylococcus aureus pada pasien DA anak.
Serum Level Of Dehydroepiandrosterone Sulphate Hormone at Various Acne Vulgaris Severity Windy Miryana; Mohammad Cholis; Aunur Rofiq; Tantari Sugiman
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 3 (2014): BIKKK DESEMBER 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.776 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.3.2014.1-8

Abstract

Background: The pathogenesis of acne vulgaris (AV) is multifactorial. Hormone dehydroepiandrosterone sulfate (DHEAS) is an androgen hormone important in the initial formation of AV in women, namely the development and differentiation of sebaceous glands, which are mostly found in human blood serum. Research looking at differences in hormone levels in serum DHEAS between various degrees of severity of AV in women has not been done. Purpose: To measure whether there was a difference of serum level of DHEAS hormone at various AV severity in women. Methods: The study design was a cross-sectional analytic observational, with ninety subjects, women, by using inclusion and exclusion criterias. The diagnosis was based on clinical examination. AV severity was categorized into 3 groups, mild, moderate, and severe, that based on Combined Acne Severity Index by Lehmann. Serum level of DHEAS hormone was measured with ELISA method. The difference of serum level of DHEAS hormone at various AV severity was analyzed with non-parametric statistical test Kruskal-Wallis and Mann-Whitney. Results: The mean serum level of DHEAS hormone in women with mild AV is 1076.01±257.89 pg/ml, in moderate AV is 1971.95±272.73 pg/ml, and in severe AV is 19678.22±33536.38 pg/ml. Conclusion: There were significant difference of serum level of DHEAS hormone between women with mild and moderate AV, mild and severe AV, and moderate and severe AV (p value < 0.05), but still below from normal level.Key words: acne vulgaris, women, observasional analytic, serum level DHEAS, severity grading.
Uji Diagnostik Sampel Urin, Apusan Vagina, Kombinasi Urin dengan Apusan Vagina untuk Identifikasi Chlamydia trachomatis dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada Wanita Pekerja Seksual (WPS) Kristina Nadeak
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 1 (2019): APRIL
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.087 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.1.2019.60-65

Abstract

Pendahuluan: Chlamydia trachomatis (CT) merupakan patogen yang paling sering menyebabkan Infeksi Genital Non Spesifik (IGNS). Pada wanita infeksi CT umumnya bersifat asimtomatis dan sering menyebabkan komplikasi, sehingga diperlukan skrining terutama pada wanita yang mempunyai risiko tinggi seperti Wanita Pekerja Seksual (WPS). Sampel urin, apusan vagina, dan kombinasi urin dengan apusan vagina masih belum banyak digunakan dibandingkan apusan endoserviks untuk identifikasi CT menggunakan Polymerase Chain Reaction (PCR). Tujuan: Untuk mengetahui sensitivitas, spesifisitas, nilai duga positif (NDP), nilai duga negatif (NDN), dan akurasi sampel urin, apusan vagina, kombinasi urin dengan apusan vagina untuk mengidenifikasi CT menggunakan PCR. Metode: Penelitian ini merupakan uji diagnostik analitik potong lintang. Dilakukan PCR CT pada 58 sampel urin, apusan vagina, kombinasi urin dan apusan vagina, serta apusan endoserviks dari 58 orang WPS. Hasil: Sampel urin memiliki sensitivitas 75%; spesifisitas 97,6%; NDP 92,3%; NDN 91,1%; dan akurasi 91,3%. Apusan vagina memiliki sensitivitas 68,7%; spesifisitas 97,6%; NDP 91,6%; NDN 89,1%; dan akurasi 89,6%. Kombinasi sampel urin dan apusan vagina memiliki sensitivitas 75%; spesifisitas 95,2%; NDP 85,7%; NDN 90,9%; dan akurasi 89,6%. Simpulan: Sampel urin mempunyai sensitivitas moderat dan spesifisitas tinggi, apusan vagina mempunyai sensitivitas rendah dan spesifisitas tinggi, kombinasi urin dan apusan vagina mempunyai sensitivitas moderat dan spesifisitas tinggi.
Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk Mendeteksi Viabilitas Mycobacterium leprae pada Pasien Kusta Tipe Multibasiler Pascapengobatan MDT-WHO Lunni Gayatri; M. Yulianto Listiawan; Indropo Agusni
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 2 (2014): BIKKK AGUSTUS 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.719 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.2.2014.1-6

Abstract

Latar belakang: Kusta masih menjadi masalah besar di Indonesia. Penatalaksanaan dengan MDT-WHO telah menjadi regimen standar untuk pasien kusta sejak lama. Pada pasien kusta tipe multibasiler (MB), indeks bakteriologis (IB) belum mencapai nilai nol, meskipun telah menyelesaikan terapi 12 regimen. Metode Reverse Transcription-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi viabilitas M. leprae. Tujuan: Mengevaluasi viabilitas M. leprae dengan metode RT-PCR pada pasien kusta tipe MB yang telah menyelesaikan regimen MDT 12 di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Metode: 15 pasien kusta tipe MB yang telah menyelesaikan pengobatan MDT-WHO 12 regimen dengan IB positif dilakukan biopsi kulit untuk pemeriksaan RT-PCR. Hasil: Terdapat 13 pasien (86,7%) dengan viabilitas M. leprae positif sementara seluruh pasien tersebut (100%) memiliki Indeks Morfologis (IM) 0%. Dua belas pasien (80%) memiliki Indeks Bakteriologis 2+ dan 10 pasien diantaranya adalah pasien kusta tipe Lepromatous Leprosy (LL) polar. Delapan pasien yang memiliki viabilitas positif tidak mendapatkan kortikosteroid oral selama siklus MDT. Simpulan: Pasien kusta yang telah menyelesaikan terapi MDT dengan MI 0%, didapatkan viabilitas M. Leprae positif dengan metode RT-PCR. Spektrum klinis pasien yang ditentukan dari imunitas seluler nampaknya menjadi faktor terpenting dalam viabilitas M. leprae.Katakunci: viabilitas, M. leprae, kusta tipe multibasiler, RT-PCR.
Profil Pasien Urtikaria Aulia Rafikasari; Deasy Fetarayani; Trisniartami Setyaningrum
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 3 (2019): DESEMBER
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.607 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.3.2019.122-127

Abstract

Latar Belakang: Sebanyak 15-20% manusia pernah mengalami episode urtikaria satu kali selama hidupnya. Urtikaria adalah erupsi pada kulit, berwarna merah, berbatas tegas, dan memutih bila ditekan. Prevalensi urtikaria di dunia berkisar antara 0,3%-11,3% tergantung besar populasi yang diteliti. Tujuan: Mengevaluasi profil dan gambaran umum pasien baru urtikaria. Metode: Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rawat Jalan Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin dan Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo Surabaya periode 2015-2017. Metode yang digunakan adalah deskriptif retrospektif dengan mengevaluasi rekam medis pasien berupa umur, jenis kelamin, klasifikasi International Classification of Diseases (ICD) urtikaria, durasi urtikaria, dan pengobatan. Hasil: Didapatkan 463 pasien urtikaria. Pasien didominasi oleh rentang umur antara 12-25 tahun. Diagnosis terbanyak adalah urtikaria alergi sebanyak 36% pada tahun 2015, 34% tahun 2016, dan meningkat menjadi 40% pada tahun 2017. Pengobatan yang paling sering dilakukan adalah golongan obat antihistamin H1 generasi kedua. Kombinasi antihistamin H1 dan H2 juga masih banyak digunakan untuk terapi urtikaria. Simpulan: Pasien urtikaria di RSUD Dr. Soetomo tidak mengalami banyak perubahan bila dibandingkan dengan data profil urtikaria yang dilakukan tahun sebelumnya. Pengobatan urtikaria yang dilakukan kurang sesuai dengan guideline urtikaria terbaru tahun 2014.
StudiRetrospektif:Diagnosis dan Terapi Pasien Melasma Menul Ayu Umborowati; Rahmadewi Rahmadewi
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 26 No. 1 (2014): BIKKK APRIL 2014
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.071 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V26.1.2014.1-8

Abstract

Latar belakang:Melasmaadalah penyakit yang banyak dijumpai terutama dinegara beriklim tropis seperti Indonesia. Masalah yang dihadapi adalah responsterhadap terapiyang beragam, sehingga diagnosis dan terapi yang tepat untuk penyakit ini masih perlu terus dikembangkan.Tujuan: Mengevaluasi penegakan diagnosis dan pemberian terapi melasma guna meningkatkan pelayanan terhadap pasien di masa yang akan datang. Metode:Penelitian retrospektif pasienmelasma di Divisi Kosmetik Medik Unit Rawat Jalan (URJ) Kulit dan Kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya selama periode 1 Januari 2009 sampai dengan 30Desember 2011. Data diperoleh dari rekam medis.Hasil:Pasienmelasma sebanyak 14,1% dari seluruh pasienbaru Divisi Kosmetik Medik, pasienperempuan sebanyak 99,2% dengan faktor pencetus utama adalah sinar matahari. Diagnosis ditegakkan dari pemeriksaan fisik dan lampu Wood, terapi topikal yang banyak diberikan adalah tabir surya, formula Kligman, dan Alpha Hydroxy Acid(AHA).Simpulan:Metode penegakan diagnosis dan pilihan agen pemutih sebagai terapi melasma di Divisi Kosmetik Medik URJ Kulit dan Kelamin RSUD Dr.Soetomo Surabaya masih perlu dievaluasi sesuai dengan bukti dan temuanterbaru.Kata kunci:melasma, studi retrospektif, diagnosis, terapi.
The Profile of Erysipelas and Cellulitis Patients Ryski Meilia Novarina; Sawitri Sawitri
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 27 No. 1 (2015): BIKKK APRIL 2015
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.74 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V27.1.2015.32-40

Abstract

Background: Erysipelas and cellulitis are acute infectious serious skin diseases, due to the entry of bacteria through the unintact skin barrier and can be fatal. Purpose: To determine the clinical manifestation and management of hospitalized erysipelas and cellulitis patients at the dermatolovenerology inpatient Dr. Soetomo General Hospital in period of 2008-2011. Methods: The study was conducted retrospectively based on the medical records of the hospitalized patients include case number, gender, age, main complaint and duration, trigger factors, concomitant factors that can be as the underlying disease, lesion site, laboratory examinations, treatments, length of treatment associated with Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) and the prognosis. Results: The erysipelas and cellulitis cases were 65 cases (1.9%) of the total hospitalized cases of skin diseases, with the number of men and women were 36 and 29 patient, respectively. The highest age group were 45-65 years (35.4%). Main complaint was swelling, redness and pain (66,2%) and the duration of complaints 1-7 days (81.5%), Most triggering factors due to scratching (34%). Anemia (30,8%) is the most underlying disease. The majority of lesion sites are in the lower extremities in 56 patients (86.1%). Laboratory tests showed anemic (30.8%), leukocytosis (44.6%) and (76.9%) ESR > 20mm/h (76.9%). The specimen of the lesion of 18 cases were cultured, there were found majority bacterial were Staphylococcus aureus (37.5%). The managements of treatment of 25 cases (38.5%) were consisted: immobilization, intravenous injection of Ampicillin and wet dressing with normal saline, 15 cases with ESR>50mm/h were treated for 8 -14days. The complications (gangrenosum cellulitis) were found in 1 case (1,5%), and 40 patients (61.5%) discharge from hospital in a recovery state. Conclusion: The management of patients with erysipelas and cellulitis had been appropriate based on the diagnosis and treatment guidelines. Staphylococcus aureus is the most frequent bacteria found in culture.Key words: erysipelas, cellulitis, Staphylococcus aureus.
Alasan dan Motivasi Penghilangan Tato dengan Laser Q-Switch Nd-Yag, Teknik Kombinasi Laser: Kasus Seri Igusti Ayu Praharsini; IGAA Elis Indira
Berkala Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Vol. 31 No. 2 (2019): AGUSTUS
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.967 KB) | DOI: 10.20473/bikk.V31.2.2019.159-164

Abstract

Latar Belakang: Tato merupakan seni dekorasi tubuh yang banyak digunakan dan sebaliknya banyak juga yang berkeinginan untuk menghilangkannya dengan berbagai alasan. Ada beberapa modalitas terapi menghilangkan tato. Laser Q-Switch (QS) merupakan prosedur standar baku untuk menghilangkan tato. Respon terapi menghilangkan tato dengan laser merupakan masalah dalam penatalaksanaanya, karena respon terapinya yang tidak dapat diprediksi. Tujuan: Untuk mengetahui alasan dan motivasi pasien menghilangkan tato dan respon terapi menggunakan laser. Kasus: Kasus 1, 2, dan 3 memiliki tato dekoratif warna hitam dengan lokasi punggung dan tangan yang dikerjakan oleh seorang tato amatir (kasus 1 dan 3) serta tato profesional pada kasus 2. Pada pasien ini dilakukan penghilangan tato menggunakan laser QS neodymium-doped yttrium aluminium garnet (Nd:YAG)  1064 nm, jumlah penyinaran 2-6 sesi dengan interval 4-6 minggu. Teknik kombinasi laser fractional Erbium-YAG 2940 nm, diikuti dengan laser QS Nd:YAG  1064 nm dilakukan pada kasus 3. Respon terapi kasus 1 dan 3 menunjukkan gambar tato memudar, sedangkan kasus 2 menunjukkan gambar tato sedikit memudar. Pembahasan: Tato dekoratif berwarna hitam dan  tato amatir memerlukan jumlah sesi penyinaran lebih sedikit, rata-rata 4-10 sesi penyinaran. Teknik kombinasi laser merupakan inovasi baru untuk  mempersingkat sesi penyinaran dengan hasil terapi yang maksimal. Simpulan: Untuk menghilangkan tato dengan laser diperlukan penilaian berbagai faktor yang berperan, sehingga hasil terapi dapat memberikan  kepuasan pada pasien.