cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
MEDIA LITBANG SULTENG
Published by Universitas Tadulako
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 67 Documents
RESPON MASYARAKAT DALAM MENGEMBANGKAN USAHA PETERNAKAN SAPI DI SULAWESI TENGAH Rusdin, Rusdin; Ismail, Moh.; Ridwan, Ridwan
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.866 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana respon masyarakat dalam mengembangkan usaha peternakan sapi dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Parigi-Moutong Kabupaten Donggala dan Kota Palu selama 8 (delapan) bulan, terhitung mulai 1 April sampai 30 November 2008. Penelitian ini mengunakan Metode deskriptif dan eksploratif terhadap masyarakat peternak sapi dan masyarakat yang bukan berstatus sebagai peternak. Metode ini dilakukan dalam pengumpulan data untuk menganalisis permasalahan yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat respon masyarakat dalam beternak sapi. Gambaran respons masyarakat berusaha ternak sapi potong, secara keseluruhan masih rendah, terbukti dari sistem pemeliharaan terutama pada masyarakat lokal. Berdasarkan skala usaha, kondisi peternak dan tujuan pemeliharaan sapi yang dilakukan oleh peternak, masih sangat sulit untuk ditingkatkan sebagai usaha utama dan atau penerapan usaha agribisnis sapi potong.
LAMA PENYIMPANAN DAN INVIGORASI TERHADAP VIGOR BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) Maemunah, Maemunah; Adelina, Enny
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 2, No 1 (2009)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.286 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kevigoran bibit kakao pada berbagai lama penyimpanan dan invigorasi benih. Penelitian ini disusun berdasarkan pola faktorial menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dengan 2 faktor.  Faktor pertama adalah lama penyimpanan benih yang terdiri dari lima taraf yaitu: 1) control , 2) lama simpan 2 minggu, 3) lama simpan 4 minggu,  4) lama simpan 6 minggu, 5) lama simpan 8 minggu. Faktor kedua adalah cara invigorasi benih dengan menggunakan ZPT yang terdiri dari empat macam yaitu: 1) tanpa ZPT, 2) 0,01 m mol GA3, 3) 0,01 m mol GA3 + 0,1 m mol NAA, 4) air kelapa.  Data yang diperoleh dianalisis ragam, data yang memiliki koefisien keragaman lebih dari 20% ditransformasikan ke √ x + 0,5  Sedangkan perlakuan yang berpengaruh nyata dilanjutkan dengan uji BNJ pada taraf  0,05.  Hasil penelitian memperlihatkan bahwa : Semakin lama benih disimpan menyebabkan vigor bibit juga semakin menurun.  Invigorasi dengan GA3 + NAA memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap persentase  bibit vigor, tinggi bibit, jumlah daun dan indeks vigor hipotetik. Air kelapa dapat menjadi alternative cara invigorasi benih kakao yang telah mengalami kemunduran.
STUDI POTENSI KAWASAN LORE TENGAH UNTUK PENGEMBANGAN SAPI POTONG Rusdin, Rusdin; Ismail, Moh.; Mustaring, Mustaring; Purwaningsih, Sri; Andriana, Atik; Dewi, Sri Utami
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.138 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari tentang potensi padang penggembalaan alam, khususnya tentang kapasitas tampung (caryng capacity), komposisi botanis hijauan dan komposisi nutrient hijauan padang penggembalaan alam serta uji kecocokan lahan untuk pengembangan jenis hijauan makanan ternak dilaksanakan di Kecamatan Lore Tengah Kabupaten Poso  Sulawesi Tengah  di laksanakan pada tanggal 15 April 2009 sampai dengan 10 Oktober 2009.  Penelitian ini dilakukan secara kualitatif.  Menggunakan metode Deskriptif dan Eksploratif. Penentuan sampel dilakukan dengan teknik purporsive sampling. Keberadaan padang penggembalaan alam di Kecamatan Lore Tengah  Kabupaten Poso seluas ±1800 Ha   hanya didominasi oleh  satu jenis rumput yaitu rumput Themeda digantae,  berpotensi menunjang kegiatan peternakan sapi potong dalam hal ini untuk mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak sapi potong, walaupun hingga kini  belum ada upaya perbaikan mutu padang penggembalaan untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitasnya. Untuk itu perlu adanya sentuhan untuk perbaikan agronomis dan manajemen pemanfaatannya. Selain itu perlu adanya introduksi  tanaman baru (rumput gajah, rumput raja, rumput benggala dll) dan  legume (lamtoro, gamal, turi dll)  yang lebih produktif, dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan sasaran, persisten, dan tahan tekanan (intensitas) penggembalaan. Hasil dari analisa tanah memberikan gambaran tentang manfaat tanah untuk pertumbuhan tanaman hijauan makanan ternak sesuai sifat-sifat fisiknya,  kandungan bahan organik, dan komposisi kimianya.  Sehingga  direkomendasikan untuk penggunaan pupuk dan atau penanaman leguminosa untuk membantu menyuburkan tanah terutama untuk meningkatkan unsur Nitrogen tanah.
SISTEM HIDROPONIK DENGAN NUTRISI DAN MEDIA TANAM BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL SELADA Mas'ud, Hidayati
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 2, No 2 (2009)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.569 KB)

Abstract

Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan dan hasil selada (Lactuca sativa L) pada nutrisi dan media tanam berbeda secara hidroponik. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Birobuli Kecamatan Palu Selatan dengan ketinggian tempat ± 84 m dpl, suhu rata-rata 34,14oC dan kelembaban rata-rata 55,4%, yang dilaksanakan pada bulan Maret - Mei 2008. Data percobaan dianalisis dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan 2 faktor. Faktor pertama adalah perlakuan nutrisi yang terdiri dari tiga taraf yaitu Nutrisi AB Mix, Nutrisi Nederland dan Nutrisi Buatan Sendiri. Faktor kedua adalah perlakuan media tanam yang terdiri dari tiga taraf yaitu Pasir, Pasir dan Arang Sekam (1 : 1) serta Pasir dan Arang Sekam (3 : 1). Nutrisi buatan sendiri dan media tanam pasir memberikan hasil terbaik bagi pertumbuhan dan hasil selada sehingga diperoleh berat segar tajuk tanaman selada 152,18 gram per pohon.
ANALSIS KINERJA PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN PARIGI MOUTONG Tope, Patta
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.477 KB)

Abstract

Pembangunan ekonomi Kabupaten Parigi Moutong tidak terlepas dari perkembangan indikator makro. Perkembangan kinerja indikator makro ekonomi Kabupaten Parigi Moutong menunjukkan optimisme ke arah  yang lebih baik. Artinya dari kecendrungan yang berlangsung, dan berdasarkan indikator ekonomi sudah ada sinyal positip perbaikan ekonomi. Indikasi ini dapat dilihat pertumbuhan ekonomi,  yang tercermin dalam perkembangan Produk Domestik Regional (PDRB) sudah cukup tinggi. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis indikator sosial ekonomi daerah, untuk melihat perkembangannya dari tahun ke tahun. Selain indikator pertumbuhan ekonomi,  juga diiamati gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan sektor-sektor ekonomi daerah, analisis Shift-Share digunakan untuk mengkaji pergeseran struktur perekonomian daerah dalam kaitannya dengan peningkatan perekonomian daerah yang bertingkat lebih tinggi dan  Location Quetiont (LQ) digunakan untuk menentukan sektor unggulan atau sektor ekonomi basis suatu perekonomian wilayah. Pola dan struktur pertumbuhan sektor-sektor ekonomi daerah juga sudah terlihat mulai bervariasi kalaupun masih didominasi sector pertanian. Ini dapat terlihat dari pergeseran struktur perekonomian daerah. Hasil kajian juga menunjukkan bahwa posisi aktivitas ekonomi Parigi Moutong terhadap aktivitas wilayah Sulawesi Tengah menunjukkan kinerja yang sangat kompetitif.
PERILAKU PETANI DALAM KONSERVASI LAHAN PADA USAHATANI KAKAO DI KECAMATAN POSO PESISIR UTARA Wayan, I; Mowidu, Ita
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.587 KB)

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui perilaku petani kakao terhadap tingkat penerapan konservasi lahan di Kecamatan Poso Pesisir Utara Kabupaten Poso dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku petani kakao dalam konservasi lahan telah dilaksanakan di Kecamatan Poso Pesisir Utara mulai bulan Januari sampai Mei 2009. Sampel secara propossional sampling 10% responden dari desa Kilo, Trimulya, Kawende, Kalora, Tambarana, Bakti Agung dan Tumora. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku petani dalam konservasi lahan digunakan metode analisis regresi linear berganda terhadap komponen amatan. Hasil analisis  menunjukkan bahwa 60,3% petani  kakao di kecamatan Poso Pesisir Utara tidak  menerapkan upaya-upaya konservasi lahan, 27,5% kadang-kadang melakukan, dan hanya 12,2% petani yang melakukan. Ini menunjukkan bahwa tingkat penerapan konservasi lahan oleh petani kakao tergolong rendah. Secara bersama-sama faktor-faktor pengetahuan, pendidikan, lama usahatani, luas usahatani, ketersediaan informasi dan penyuluhan mempengaruhi perilaku petani dalam konservasi lahan. Secara parsial faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap  perilaku petani dalam konservasi lahan adalah pengetahuan, pendidikan, luas usahatani dan informasi.  
TUJUH PILAR UTAMA MENGENAL PAKAIAN ADAT SUKU PAMONA Balebu, Yoseph
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 3, No 1 (2010)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.808 KB)

Abstract

Tulisan dan desain mengenal baju adat suku Pamona tidak dimaksudkan sebagai sebuah tulisan ilmia yang utuh, sehingga dalam penulisan ini tidak ditampilkan kaidah-kaidah baku dalam penyusunan karya ini. Karya tulis dan desain ini hanya merupakan “sebuah lontaran pemikiran” sebagai pengantar dalam curah pendapat dengan judul TUJUH PILAR UTAMA MENGENAL PAKAIAN ADAT SUKU PAMONA. Ilmu pengetahuan tentang kebudayaan dalam perspektif sosial budaya pada hakekatnya adalah fasilitator terhadap suatu perubahan dan perkembangan yang dinginkan masyarakat menuju kepada kondisi yang lebih baik. Artinya aplikasi budaya akan menjadikan manusia merasa berkelebihan dan dihormati jika dibandingkan dengan dirinya yang tidak memiliki, tidak disentuh atau tidak bersentuhan dengan ilmu pengetahuan tentang budaya yang berkembang. Manusia yang memiliki budaya sepantasnya lebih maju, lebih cerdas, lebih terbuka serta berkualitas, lebih sejahtera dan beriman. Idealnya apliksi budaya seharusnya dapat meningkatkan harkat dan martabat manusia yang mengantar pada perilaku positif dalam kehidupan bermasyarakat.Persoalanya ialah ketidak mampuan masyarakat suku Pamona yang sangat terbatas untuk menggali dan menemukan warisan budaya leluhur dan mengaplikasikanya kedalam tata kehidupan keseharian dalam pergaulan antar sesama suku maupun antar suku-suku lain yang saling berinteraksi namun tetap dapat mempertahankan ciri khas identitas suku sendiri. Warisan budaya leluhur yang sudah sejak lama ditebar dan dituturkan dari generasi kegenarasi berikutnya ternyata  terkubur, terpenjarakan, disisikan serta dikucilkan oleh karena tidak adanya rasa percaya diri dan rasa menghormati terhadap budaya sendiri, ahirnya meniru budaya lain yang dianggap lebih. Pada ahirnya budaya suku Pamona tidak lagi dikenal dan terasing dinegerinya sndiri. Bertalian dengan dampak tersebut dan untuk mengantisipasi perubahan budaya peniruan, sangat diperlukan batasan dan ruang lingkup yang jelas tentang adat dan budaya Pamona khususnya pada penggunaan baju adat. Keberhasilanapliksi budaya Pamona pada baju adat terletak pada citra suku suku Pamona sendiri sebagai pencipta sekaligus sebagai pengguna.
MUTU BIJI KAKAO HASIL SAMBUNG SAMPING Basri, Zainuddin
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.597 KB)

Abstract

Rehabilitasi tanaman kakao melalui sambung samping selain bertujuan untuk meningkatkan jumlah produksi juga bertujuan untuk memperbaiki mutu biji.  Dalam kegiatan ini telah dilakukan analisis terhadap mutu biji yang berasal dari tanaman kakao hasil sambung samping, khususnya analisis terhadap karakteristik fisik (jumlah biji per 100 gram, biji terfermentasi dan kadar biji berjamur/berserangga) dan kimia biji (kadar lemak total dan kadar air).  Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka diketahui bahwa jenis (klon) tanaman dan kondisi lingkungan (musim) sangat mempengaruhi mutu biji yang dihasilkan, terutama ukuran berat dan kadar lemak biji.  Tanaman kakao hasil sambung samping mampu menghasilkan mutu biji yang baik.  Ukuran berat biji kakao klon SP 07 dan BP 07 umur 2-2,5 tahun pasca penyambungan dapat mencapai kriteria AA (jumlah ≤ 85 biji per 100 gram) dengan kadar lemak berkisar 55,45%-58,78%.  Guna mendapatkan mutu biji yang baik, maka tanaman kakao hasil sambung samping mutlak dipelihara dan dirawat serta biji yang dihasilkan perlu difermentasi.
STRUKTUR UKURAN GLASS EEL IKAN SIDAT (Anguilla marmorata) DI MUARA SUNGAI PALU, KOTA PALU, SULAWESI TENGAH Ndobe, Samliok
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 3, No 2 (2010)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.019 KB)

Abstract

Ikan sidat memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan global semakin meningkat. Salah satu spesies yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah Anguilla marmorata. Sungai-sungai di Sulawesi Tengah umumnya terdapat populasi ikan sidat, selama ini penelitian cenderung terfokus pada Sungai dan Danau Poso dan ketersediaan data sangat kurang di sungai/danau lainnya, termasuk Sungai Palu. Salah satu jenis ikan sidat ukuran glass eel yang melakukan ruaya anadromous di Sungai Palu adalah Anguilla marmorata. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui dan menganalisa struktur ukuran glass eel ikan sidat (Anguilla marmorata) yang beruaya anadromous di Sungai Palu. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai April 2009 di muara Sungai Palu dan Laboratorium Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan (STPL) Palu. Sampling glass eel dengan cara penangkapan menggunakan alat tangkap berupa seser (hand scoop net) ukuran mata jaring 1 mm. Setiap kali dilakukan penangkapan/pengumpulan sampel dilakukan pengukuran salinitas dan suhu air sungai. Salah satu cara yang umum digunakan dalam mengidentifikasi spesies glass eel adalah identifikasi berdasarkan karakter kunci Anal Dorsal Vertebrata (ADV) atau anodorsal vertebrae. Setelah glass eel diidentifikasi selanjutnya dilakukan pengukuran panjang dan berat. Setiap jenis yang teridentifikasi dimasukkan ke dalam akuarium yang terpisah.  Khusus jenis Anguilla marmorata dihitung jumlahnya dan dikelompokkan berdasarkan struktur ukuran panjang maupun  berat. Untuk mengetahui frekuensi rata-rata ukuran panjang total dan berat tubuh masing-masing populasi spesies tiap bulan dalam sampel hasil tangkapan glass eel, dianalisis menggunakan teknik histogram frekuensi, perhitungan rata-rata dan standar deviasi (Standard Deviation). Kisaran panjang total glass eel ikan sidat Anguilla marmorata yang tertangkap selama bulan Januari sampai April berkisar antara 4,1 sampai 5,0 cm dengan modus distribusi frekuensi berada pada kelas 4,5 sampai 4,8 cm. Secara keseluruhan frekuensi panjang total terbanyak 180 ekor (4,8 cm).  Rata-rata panjang total Anguilla marmorata yang ditemukan adalah 4,838 ± 0,023.  Kisaran berat tubuh Anguilla marmorata yang tertangkap selama bulan Januari sampai April adalah 0,04 sampai 0,15 gram dengan modus distribusi frekuensi berada  pada kelas ukuran 0,05 sampai 0,10 gram.  Secara umum frekuensi berat tubuh terbanyak terdapat pada kelas ukuran 0,10 gram sebanyak 130 ekor.
KAJIAN POTENSI BUDIDAYA ALGA MERAH (Gelidiella acerosa) DI TELUK PALU Serdiati, Novalina; Ndobe, Samliok
MEDIA LITBANG SULTENG Vol 4, No 1 (2011)
Publisher : MEDIA LITBANG SULTENG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.215 KB)

Abstract

Seiring dengan pertumbuhan penduduk global dan kemajuan teknologi, kebutuhan produk perikanan budidaya semakin meningkat, termasuk khususnya produksi global alga merah (Rhodophyta). Selain rumput laut yang telah umum dikembangkan seperti dari Genus Gracilaria, Euchema atau Kappaphyccus, masih banyak jenis yang memiliki nilai ekonomis sebagai bahan baku industri pangan dan pakan, farmasi, energi, cat, tekstil, kertas dan lainnya, namun belum dimanfaatkan sebagai komoditas ekonomi penting di Indonesia. Salah satu spesies alga merah dengan penyebaran asli di Indonesia yang dapat menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomis tinggi adalah Gelidiella acerosa. Tujuan penelitian adalah untuk menyediakan data dan informasi mengenai potensi pengembangan budidaya alga merah Gelidiella acerosa di Sulawesi Tengah dengan fokus utama di Teluk Palu. Penelitian terdiri dari desk study dan uji-coba pemeliharaan Gelidiella acerosa yang dilaksanakan pada bulan Februari sampai Oktober 2010 di perairan Teluk Palu khususnya di perairan Kelurahan Watusampu, Kota Palu. Bibit G. acerosa dipelihara dalam wadah tertutup yang terbuat dari waring. Wadah tersebut dipasang pada 3 stasiun kedalaman yaitu: Stasiun I dekat permukaan (kedalaman sekitar 0,3 meter); Stasiun II (kedalaman 1 meter) dimana suhu cenderung lebih stabil; dan Stasiun III (kedalaman 2 meter) untuk menilai pengaruh penetrasi sinar matahari. Parameter utama yang diamati adalah sintasan, pertumbuhan dan kondisi bibit G. acerosa, serta parameter lingkungan terutama kualitas air. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Kondisi dinilai berdasarkan skala kondisi (Neish, 2005). Parameter utama yang diamati adalah: (i) Grazing: pemangsaan oleh herbivora; (ii) Bleaching = pemutihan; (iii) W.E.E.D = weed/gulma, epiphytes/tumbuhan penempel, epizoa/hewan penempel dan disease/penyakit. Empat kondisi pada skala tersebut adalah: kondisi hijau = baik; kondisi kuning = kurang baik; kondisi oranye = menghawatirkan; dan kondisi merah = sebagian besar mati atau akan mati dalam waktu dekat. Kondisi Green/Hijau harus bebas pemutihan dan pemangsaan yang berarti, penyakit, serta komponen WEED lainnya tidak ada atau hanya sedikit. Hasil yang diperoleh adalah bahwa Gelidiella acerosa, merupakan suatu alga merah bernilai ekonomi tinggi, dapat bertahan hidup dengan sintasan 100%. Laju pertumbuhan bibit pada kedalaman 0 sampai 30 cm sekitar 15,4% dan pada kedalaman 1 sampai 2 meter sekitar 12,5%. Hasil pengamatan tersebut sesuai hasil desk study bahwa pertumbuhan G. acerosa yang hendak dikembangkan dengan metode pembiakan vegetatif (stek) kurang baik. Dinilai dari aspek ekologi peluang pengembangan sebagai komoditas budidaya cukup baik namun diperlukan program riset untuk mengembangkan metode budidaya berdasarkan produksi tetraspora atau karpospora