cover
Contact Name
Yanuar Burhanuddin
Contact Email
yanuar.burhanuddin@eng.unila.ac.id
Phone
+6285658980260
Journal Mail Official
jurnal.mechanical@eng.unila.ac.id
Editorial Address
Gd. H Lt.2 Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Lampung Jl. Prof. Soemantri Brojonegoro No.1 Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Mechanical
Published by Universitas Lampung
ISSN : 20871880     EISSN : 24601888     DOI : https://doi.org/10.2960/mech
Jurnal Mechanical (eISSN 2460 1888 and pISSN 2087 1880), is a peer-reviewed journal that publishes scientific articles from the disciplines of mechanical engineering, which includes the field of study (peer) material, production and manufacturing, construction and energy conversion. Articles published in the journal Mechanical include results of original scientific research (original), and a scientific review article (review). Mechanical journal published by University of Lampung and managed by Department of Mechanical Engineering, Faculty of Engineering for publishing two periods a year, in March and September .
Articles 234 Documents
The Effect of Substrate Pre-treatment on Hydroxy-apatite Coated Titanium Alloy by High-velocity Oxy-fuel Process Raden Dadan Ramdan; Budi Prawara; Rochim Suratman; Ferdian Marta; Ali Rinaldi
JURNAL MECHANICAL Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v8.i1.201701

Abstract

In order to fully meet bio-compatibility requirement of titanium alloy as implant material, coating with hydroxyapatite (HA) is normally applied. The present research concerns on the effect of substrate pre-treatment on the coating of HA on titanium alloy by high-velocity oxy fuel process (HVOF). Before the coating, all samples were pre-treated by thermo-mechanical treatment in order to obtain fine grain structure. Three type of substrate pre-treatment is then applied on different substrates, including, sand-blasting, sand-blasting+etching, and sand-blasting+etching+CNT intermediate layer. After coating, post-annealing treatment was applied on each sample and characterization was performed on the sample after the treatment. It was obtained that the sand-blasted sample has relatively rougher surface (SEM observation), lower degree of crystallinity (XRD characterization) and higher residual strain (XRD data calculation by Mud Master software) as compared with other samples. From FTIR characterization it can be obtained that all samples show no differences in orbital function.
PERBANDINGAN STACK EFFECT PADA RUMAH SECARA KONVEKSI PAKSA DAN KONVEKSI ALAMI KETIKA KONDISI HUJAN Elfita Yohana
JURNAL MECHANICAL Vol 4, No 1 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A room or a house is modified by setting a stack (chimney) to take the advantage of the phenomenon of stack effect. This stack is useful for air circulation so that the room become comfortable. The difference of colour on the outside wall of the house will also affect the room temperature because the stored thermal energy in the house will be different. The darker house wall will keep more thermal energy than the brighter. Meanwhile, the house that uses exhaust fan will keep less thermal energy than a house that did not use any exhaust fan. The high of required stack effect phenomenon can be calculated based on the stored thermal energy of the room. In the miniature house using exhaust fans, the chimneys or towers should be put at the 0.55-meter-high roof to a house without a paint, 0.35 meter for the white-painted house, 0.55 meter for the gray painted house, and 0.36 meter for the yellow-painted house. While for house miniature without exhaust fan (naturally), chimney should be placed to the 0.86-meter-high roof for the house without paint, 0.74 meter for the white-painted house, 0.85 meter for the gray painted house, and 0.75 meter for the yellow-painted house.Kata Kunci : Stack effect, tinggi Stack.AbstrakSebuah ruangan atau rumah dimodifikasi dengan menambah sebuah stack (cerobong) untuk memanfaatkan fenomena stack effect. Stack ini berguna untuk mengalirkan udara dari dalam ruangan ke luar, sehingga panas yang di dalam ruangan dapat keluar dan ruangan dapat menjadi nyaman. Perbedaan warna pada dinding luar rumah juga dapat mempengaruhi temperatur di dalam ruangan karena energi panas yang tersimpan di dalam rumah akan berbeda. Rumah dengan dinding lebih gelap akan memliki energi panas yang lebih tinggi dibandingkan rumah yang menggunakan dinding lebih cerah. Sedangkan rumah yang menggunakan exhaust fan akan menyimpan energi panas yang lebih kecil dibandingkan rumah yang tidak menggunakan exhaust fan.Tinggi fenomena stack effect yang dibutuhkan dapat diperoleh dari hasil perhitungan energi panas yang tersimpan dalam ruangan. Pada miniatur rumah menggunakan exhaust fan, sebaiknya ditambah cerobong atau menara pada bagian atap setinggi 0,55 meter untuk rumah yang tanpa cat, 0,35 meter untuk rumah yang dicat warna putih, 0,55 meter untuk rumah yang dicat warna abu-abu, dan 0,36 meter untuk rumah yang dicat warna kuning. Sedangkan pada miniatur rumah tidak menggunakan exhaust fan (secara alami), sebaiknya ditambah cerobong atau menara pada bagian atap setinggi 0,86 meter untuk rumah yang tanpa cat, 0,74 meter untuk rumah yang dicat warna putih, 0,85 meter untuk rumah yang dicat warna abu-abu, dan 0,75 meter untuk rumah yang dicat warna kuning. Keywords: Stack effect, the height of the stack.
Pengaruh Jenis Biomassa Terhadap Karaktristik Pembakaran dan Hasil Bioarang Asap Cair dari Proses Pirolisis Kemas Ridhuan; Dwi Irawan
JURNAL MECHANICAL Vol 10, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v10.i1.201902

Abstract

Biomass merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang banyak kita jumpai disekitar kita, dengan berbagai jenis. Biomassa dapat dikonversi ke berbagai bentuk energi salah satunya yaitu pembakaran pirolisis. Pirolisis merupakan suatu dekomposisi kimia bahan organik (biomassa) melalui proses pemanasan pada suhu tinggi yang terjadi tanpa atau sedikit oksigen. Hasil proses pirolisis berupa produk bio-arang dan asap cair. Setiap biomassa memiliki karaktristik dan komposisi bebeda-beda, sehingga jika dibakar tentunya akan menghasilkan suhu dan produk pirolisis yang berbeda pula. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis biomassa terhadap karaktristik pembakaran, nilai kalor dan jumlah bio-arang serta asap cair yang dihasilkan. Metode penelitian ini yaitu dengan menggunakan limbah biomassa cangkang karet, kulit kelapa muda dan sekan padi. Biomassa dibakar dengan proses prolisis slow di dalam sebuah reaktor. Pembakaran pada ruang bakar reaktor dari tabung pirolisis yang berisi biomassa dengan mengukur suhu, waktu, jumlah biomassa, bio-arang dan asap cair serta nilai kalor pada bio-arang tersebut yang di lakukan di laboratorium Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro, dan  Laboratorium Polinela. Dari hasil penelitian nilai kalor biomassa cangkang karet sebesar 6661,549 cal/gr, dengan lama pembakaran 270 menit, hasil padatan di dalam tabung pirolisis sebesar 47,6 %,  untuk biomassa kulit kelapa muda di dapat nila kalor 5388,561 cal/gr, dengan lama pembakaran 225 menit hasil padatan di  tabung pirolisis   sebesar 33,3 % , dan biomassa sekam padi di dapat nilai kalor 3626,482 cal/gr dengan lama waktu pembakaran 190 menit hasil padatan di tabung pirolisis sebesar 40,0 %.
Kaji Eksperimental Performansi Mesin Pendingin Kompresi Uap dengan Menggunakan Refrigeran Hidrokarbon (Hcr12) Sebagai Alternatif Refrigeran Pengganti R12 dengan Sistem Penggantian Langsung (Drop In Substitute) Afdhal Kurniawan Mainil
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractType of refrigerant the most recognized and the most used today in the vapor compression cycle is R-12 refrigerant (halocarbon group), which is technically quite good.  The refrigerant also has low toxicity and low flammable. But, in the mid 1970’s known that chlorine has contained in the refrigerant were released into the environment could damage of ozone in the stratosphere and caused greenhouse effect. Because of that, it using has stopped. An alternative refrigerant is hydrocarbon refrigerant (HCR) and one of it is hydrocarbon-12 (HCR-12). HCR-12 have several advantages, besides friendly environmental because have low global warming effect and low destruction of ozone, this type of refrigerator can be used as direct changer on the refrigerant machine so no needed compressor replacement and more efficient electric energy than R-12. In this research, did a study experimental to compared R-12 with HCR-12 with used vapor compression cooler machine. The result of measurement have been get performance of vapor compression cooler machine COPR (Coefficient of Performance Refrigeration) and COPHP (Coefficient of Performance Heat Pump) for R-12 and HCR-12 relatively are 2.4 – 9.8 (COPR) and 3.4 – 10.8 (COPHP) and 6.4 – 14.1(COPR) and 7.4 – 15.1 (COPHP). Performance of vapor compression cooler machine COPR and COPHP have tendency increase with increase rate of flow of refrigerant until 0.035 for R-12 and 0.014 for HCR-12. Performance vapor compression cooler machine of COPR increase if absorbed of heat (Qe) by evaporator increase and COPHP increase if released of heat (Qk) by condenser increase. According of the results concluded that performance of vapor compression cooler machine with hydrocarbon-12 (HCR-12) better than R-12.Key words : refrigerant, hydrocarbon, R-12, ODP, GWP.
Studi Karakteristik Hasil Pengelasan MIG Pada Material Aluminium 5083 Ferry Budhi Susetyo
JURNAL MECHANICAL Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pengelasan dilakukan dengan sebuah alat bantu pengelasan MIG, sehingga kecepatan pengelasan dan penetrasi yang diharapkan menjadi konstan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil pengelasan pengaruh variasi kecepatan terhadap cacat las yang terjadi, pengaruh variasi kecepatan pengelasan terhadap hasil uji tarik, dan mencari kecepatan pengelasan yang paling optimum. Penelitian ini menggunakan menggunakan material aluminium alloy 5083, mesin las MIG dengan alat bantu pengelasan, filler rod AWS5356, dia. 1,2 mm, arus 135 A dan kecepatan wire feeder 8 m/menit dengan proses pendinginan alami. Variasi kecepatan pengelasan diberikan 250 mm/menit, 350 mm/menit, 450 mm/menit, 550 mm/menit, 650 mm/menit. Metode Non Destructive Test (NDT) dye penetrant untuk melihat cacat yang terjadi pada permukaan hasil pengelasan. Kemudian pengujian Destructive Test (DT) dengan melakukan uji tarik untuk mengetahui hasil kekuatan tarik.Cacat yang terjadi, yaitu pin hole dan crack. Ultimate Total Load tertinggi dihasilkan oleh pengelasan MIG menggunakan kecepatan 550 mm/menit dengan nilai 7938,41 kgf, sedangkan Ultimate Total Load terendah dihasilkan pada kecepatan 250 mm/menit dengan nilai 2629,35 kgf. Tensile Strenght terendah ada pada spesimen 250 mm/menit dengan nilai 6,83 kgf/mm² , sedangkan untuk nilai Tensile Strength tertinggi ada pada spesimen 550 mm/menit dengan nilai 20,43 kgf/mm².Kecepatan optimum berdasarkan pengujian tarik yaitu pada kecepatan 550 mm/menit.Kata Kunci : Pengelasan, MIG, Aluminium 5083, Alat bantu.
Potensi Penghematan Energi Pada Industri Farmasi Harmen .
JURNAL MECHANICAL Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is focus to identify and calculated energy saving potential in pharmaceutical industry. Energy audit procedure is done by measure electrical power for each electrical industrial devices. Monthly electricity consumption for two years is investigated to know electricity pattern for this industri. Elctricity pattern can be used to measure electricity efficiency of this industry. The result show that this industry is over estimate on power supply from the grid. It’s investigated that 3.835.178,-IDR/month is loss. By using 200 kW gas/diesel cogeneration engine will be save 65.8 kW power.Keywords: energy saving, audit energy, energy efficiency, cogeneration, pharmaceutical industry
Effect of Cutting Parameter Variation on Drilling of AISI 1045: Experimental and Simulation Yanuar Burhanuddin
JURNAL MECHANICAL Vol 1, No 1 (2010)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This work is focused on the study of the effect of spindle speed and feed rate on the tool temperature distribution in the drilling of AISI-1045 steel. The e data were collected under different cutting conditions. The maximum tool temperature is predicted during the drilling using finite element simulation techniques. The predicted temperature was compared to the measured temperature. The result shows the finite element simulation is reasonable.  Analyses show that the range of temperature from 157 °C to 288 °C. The difference between measured temperature and simulated temperature are in the range of 17-38%. The s increased in accordance with the increasing of cutting speed and feed. Keywords: drilling, spindle speed, feed, tool edge, maximum temperature
Aplikasi Cairan Pelumas Pada Pengeboran Pelat ASTM A1011 Menggunakan Mata Bor HSS Arinal Hamni
JURNAL MECHANICAL Vol 5, No 2 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu terapan di bidang industri manufaktur terus bergerak hingga kemajuan teknologinya, salah satu bidang yang mengalami perkengan pesat itu adalah bidang permesinan. Proses permesinan yang dilakukan secara terus menerus misalnya pada pengeboran akan menyebabkan aus nya mata bor yang digunakan, karena adanya peningkatan suhu pemesinan. Penggunaan beberapa jenis cairan pendingin seperti oli sintetis dan minyak kelapa diharapkan dapat menurunkan suhu permesinan sehingga mengurangi keausan yang terjadi pada mata bor HSS yang digunakan. Diaplikasikan dengan cara menyemprotkan cairan pelumas secara terus-menerus pada permukaan benda kerja yang bersinggungan dengan mata bor pada kecepatan putaran (n) konstan pada 443 rpm, sedangkan variasi pada gerak makan (f) sebesar 0.1 mm/rev, 0.18 mm/rev serta 0.24 mm/rev. Umur pakai mata bor yang didapat pada pengujian tanpa pelumas dengan putaran (n) = 443, gerak makan (f) = 0.1 mm/rev serta nilai keausan mata bor (vb) = 0.3 mm adalah 2.02 menit. Untuk penggunaan oli sintetis dengan kecepatan putaran dan gerak makan yang sama, didapat umur pakai mata bor selama 4.71 menit atau meningkat sebesar 54%. Peningkatan itu dibandingkan pada proses pengeboran tanpa menggunakan cairan pelumas. Sedangkan dengan penggunaan minyak kelapa, umur pakai mata bor selama 4.05 menit atau meningkat sebesar 48%. Dengan demikian nampak jelas bahwa penggunaan cairan pelumas mampu menurunkan tingkat keausan mata bor, terutama pada penggunaan oi sintetis. Kata kunci: aus, HSS, suhu, pengeboran, pelumas.
Analisa Keausan Pahat pada Pemesinan Bor Magnesium AZ31 Gusri Akhyar Ibrahim; Joni Iskandar; Arinal Hamni; Sri Maria Puji Lestari
JURNAL MECHANICAL Vol 8, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v8.i2.201711

Abstract

Pengeboran (drilling) adalah proses pembuatan lubang dengan cara menekan sebuah mata pahat yang berputar pada benda kerja. Selama proses permesinan terjadi interaksi antara mata bor  dengan benda kerja dimana benda kerja terpotong sedangkan mata bor mengalami gesekan. Gesekan yang dialami pahat berasal dari permukaan geram yang mengalir dan permukaan benda kerja yang telah terpotong, akibat gesekan ini  pahat mengalami aus. Tujuan penelitian ini akan menganalisa umur pakai pahat HSS pada pemesinan bor magnesium AZ31 dan untuk mendukung penelitian tersebut digunakan Metode Taguchi untuk menganalisa pembahsan hasil penelitian. Parameter permesinan bor yang digunakan yaitu; mata bor HSS (hight speed stell) dengan ukuran (10 mm, 12 mm, dan 14 mm), kecepatan putaran (635 Rpm, 970 Rpm, 1420 Rpm) dan menggunakan gerak makan (0,10 mm/rev, 0,18 mm/rev dan 0,24 mm/rev), dengan kedalam potong 50 mm. Pengambilan data keausan pahat dilakukan menggunakan mikroskope digital USB dengan perbesaran 50x. Data keausan pahat dilihat setiap satu kali proses pengeboran dan proses pemesinan akan dihentikan jika mata bor sudah mengalami aus. Umur pahat tertinggi diperoleh pada diameter bor 10 mm dengan kecepatan putaran 635 rpm dan menggunakan gerak makan 0,10 mm/rev yaitu selama 12,74 menit, sedangkan umur pahat terendah diperoleh pada diameter bor 14 mm dengan kecepatan putaran 1420 rpm dan menggunakan gerak makan sebesar 0,18 mm/rev yaitu selama 0,68 menit. Berdasarkan analisys of varian (ANOVA) parameter yang signifikan dalam mempengaruh umur pakai mata bor adalah kecepatan putaran (n). Semakin besar kecepatan putaran (n) maka keausan mata bor akan semakin cepat terjadi, hal tersebut disebabkan karena suhu tinggi yang di hasil dari gesekan antara mata bor dan benda kerja.
Variasi Waktu dan Temperatur Pelapisan Hot Dip Galvanizing Terhadap Laju Korosi Serta Uji Impact Material Baja Karbon Rendah (0.02%C) Tumpal Ojahan Rajagukguk; Slamet Sumardi; Agus Triono
JURNAL MECHANICAL Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/mech.v8.i1.201703

Abstract

Korosi merupakan proses reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan tetapi hanya dapat dikendalikan dengan menggunakan metode  Hot Dip Galvanizing. Adapun tujuan penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh variasi waktu dan temperatur pencelupan terhadap ketebalan lapisan, laju korosi dan mengetahui kekuatan impact. Material yang digunakan baja karbon rendah (0.02% C) serta material zinc (Zn) sebagai bahan pelapis. Proses pencelupan dilakukan dengan variasi waktu 3, 6, 9, 12 menit dan temperatur 4200C, 4400C, 4600C, 4800C dikorosifkan menggunakan larutan HCl dengan konsentrasi 10% dan 15%.Semakin lama waktu pelapisan pertambahan berat semakin meningkat, pertambahan berat tertinggi pada waktu 12 menit 11,765 gram. Berbanding terbalik dengan temperatur pencelupan, semakin tinggi temperatur yang digunakan maka pertambahan berat semakin menurun sebesar 8,88 gram pada temperatur 4800C. Pertumbuhan laju korosi pada larutan HCl 10% tertinggi terdapat pada waktu 3 sebesar 0.916 mm/year, sedangkan laju korosi terbesar pada temperatur 4800C dengan nilai 1.464 mm/year, sementara larutan HCl 15% laju korosi terbesar pada waktu 12 sebesar 1.372 mm/year, dengan temperatur  4200 C sebesar 240.883 kJ/m2. Semakin lama waktu pelapisan menggunakan proses hot dip galvanizing maka kekuatan impact semakin meningkat bahkan dengan waktu 12 menit kekuatan impactnya melebihi kekuatan row materialnya yaitu 175,112 kJ/m2. Berbanding terbalik dengan waktu pelapisan dimana semakin tinggi temperatur yang digunakan kekuatan impactnya semakin menurun, kekuatan tertinggi berada pada temperatur 4200C sebesar 240,883 kJ/m2 yang melebihi kekuatan row materialnya sebesar 169,014 kJ/m2.  Secara keseluruhan waktu terbaik yaitu 12 menit dan temperatur 4200C.

Page 7 of 24 | Total Record : 234