cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2019)" : 50 Documents clear
RESIDU PUPUK NITROGEN DAN BIOCHAR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI (BRASSICA JUNCEA L.) DI TANAH VERTISOL Fetok, Maria Oktaviana; Sumiati, Astri; Adisarwanto, Titis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mustard is one of the types of vegetables favored by the community, but mustard has not met the needs and demands of the community because the planting area is getting narrower and the productivity of mustard plants is still relatively low. The research aims to study the effect of season I fertilizer application on season II fertilization whether there is an element of fertilizer that can be utilized on vertisol soil on the growth and yield of mustard plants. This research was carried out in Hamlet Kraguman, Tegalweru Village, Dau District, Malang Regency, East Java Province. The method used in this study consisted of 13 treatments using a randomized block design (RBD), with 3 replications. The treatments used were biochar residues and nitrogen fertilizer that had been applied in the first planting season. Observation parameters are: plant height (cm), number of leaves (strands), leaf area (cm) and plant wet weight (cm). The data obtained were analyzed using analysis of variance (ANOVA) and if there were significant differences between treatments, it could be continued with the Least Significant Difference test (LSD) level of 5%. The results showed that the fertilizer residue of 100 kg urea / ha and biochar ditugal (30 tons / ha) was better than the control (0 kg urea / ha and 0 biochar) on the growth of the number of leaves and leaf area and the results of the wet weight of the plant at harvest. Sawi merupakan salah satu jenis sayuran yang digemari oleh masyarakat, namun sawi belum mencukupi kebutuhan dan permintaan masyarakat karena areal pertanaman semakin sempit dan produktivitas tanaman sawi masih relatif rendah.Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian pupuk musim I terhadap pemupukan musim II apakah ada unsur pupuk yang dapat dimanfaatkan pada tanah vertisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman sawi.Penelitian ini dilaksanakan di Dukuh Kraguman, Desa Tegalweru, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 13 perlakuan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), dengan 3 ulangan.Perlakuan yang digunakan adalah residu biochar dan pupuk nitrogen yang sudah diaplikasikan dimusim tanam pertama. Parameter pengamatan yaitu : tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), luas daun (cm) dan berat basah tanaman (cm).Data yang diperoleh, dianalisis dengan menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA) dan jika ada perbedaan yang signifikan antar perlakuan, maka dapat dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu pupuk 100 kg urea/ha dan biochar ditugal (30 ton/ha) lebih baik dibanding kontrol (0 kg urea/ha dan 0 biochar) terhadap pertumbuhan jumlah daun dan luas daun dan hasil bobot basah tanaman saat panen.
APLIKASI LARUTAN ASAM SITRAT DAN SUKROSA TERHADAP MASA KESEGARAN BUNGA KRISAN POTONG (CHRYSANTHEMUM INDICUM L.) Uyun, Nur Rohmatul; Sutoyo, Sutoyo; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Chrysanthemum has high diversity, both in terms of appearance, shape, and color of flowers. Chrysanthemum flower quality standards that consumers want are large flowers, trunked upright with a height of about ± 70 cm, have clean flowers and no blotches on the flowers, and flower petals that do not fall off easily. Chrysanthemum freshener solution can maintain the freshness of flowers and reduce wilt. The research aims to extend the freshness of cut chrysanthemum flowers with a solution of citric acid and sucrose freshener. The study was arranged in a Completely Randomized Design (CRD) experiment consisting of 12 treatments, the first factor consisting of 0.5 gr/L citric acid; 1.0 gr/L; 1.5 gr/L. The second factor consists of sucrose 0 gr/L (control); 10 gr/L; 20 gr/L; 30 gr/L. The results showed that administration of citric acid significantly affected the weight of chrysanthemum flowers during the 16 days storage period of 103.83 gr. The provision of citric acid significantly affected the freshness of flowers during the 16 days of storage, while the color of flowers had a significant effect on 12 days of storage. Giving sucrose has a significant effect on the freshness of the flower during the 16 days of storage. The interaction of citric acid 1.5 gr/L and sucrose significantly affected the freshness of flowers 16 days storage period. Bunga krisan memiliki keragaman yang tinggi, baik dari segi penampilan, bentuk maupun warna bunga. Standar kualitas bunga krisan yang diinginkan konsumen yakni bunga yang berukuran besar, berbatang tegak dengan tinggi sekitar ± 70 cm, memiliki bunga yang bersih dan tidak ada bercak pada bunga, serta kelopak bunga yang tidak mudah rontok. Larutan penyegar bunga krisan mampu mempertahankan kesegaran bunga dan mengurangi kelayuan. Penelitian ini bertujuan untuk memperpanjang masa kesegaran bunga krisan potong dengan larutan penyegar asam sitrat dan sukrosa. Penelitian diatur dalam Percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 12 perlakuan, yaitu faktor pertama terdiri dari asam sitrat 0,5 gr/L; 1,0 gr/L; 1,5 gr/L. Faktor kedua terdiri dari sukrosa 0 gr/L (kontrol); 10 gr/L; 20 gr/L; 30 gr/L. Hasil penelitian menunjukkan pemberian asam sitrat berpengaruh nyata pada bobot bunga krisan selama 16 hari masa penyimpanan sebesar 103,83 gr. Pemberian asam sitrat berpengaruh nyata terhadap kesegaran bunga selama 16 hari masa penyimpanan, sedangkan pada warna bunga berpengaruh nyata pada 12 hari masa penyimpanan. Pemberian sukrosa berpengaruh nyata pada kesegaran bunga selama 16 hari masa penyimpanan. Interaksi asam sitrat 1,5 gr/L dan sukrosa berpengaruh nyata terhadap kesegaran bunga 16 hari masa penyimpanan.
DESAIN TAMAN LINGKUNGAN BERBASIS BUDAYA MELAYU DI JALAN BATU DAYA I, KABUPATEN KAYONG UTARA Hidayatullah, Wawan; Setyabudi, Irawan; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayong Utara Regency is an area that is under construction but ironically the development is not accompanied by the construction of green open space in the form of an environmental park which is one of the needs for the community to express and move. The process of community development and development increasingly shifts the characteristics of the cultural landscape so that Kayong Utara Regency does not have an identity in architectural or cultural landscape characteristics. This study aims to design a Melayu-based environmental park to fulfill the existence of green open space and to show the identity of the Melayu cultural landscape. The research consisted of the stage of historical search to explore elements of Melayu culture using descriptive methods through alliteration, field surveys and interviews and design activities that refer to the Booth (1983) design process with stages namely reviewing the location of research and data inventory, analysis and synthesis, design process, planning and design drawings. This park is designed with a recreational and cultural-value park concept with a form inspired by durian batik motifs and forest flowers applied to the park and circulation patterns and amphitheater and sclupture formations which have the meaning of a story about the meeting of Princess Junjung Buih from Kalimantan and Prince Indrawijaya from The Majapahit Kingdom is called the Pupuk Teguih story. Kabupaten Kayong Utara merupakan daerah yang sedang dalam masa pembangunan tetapi ironinya pembangunan tersebut tidak disertai dengan pembangunan ruang terbuka hijau berupa taman lingkungan yang menjadi salah satu kebutuhan bagi masyarakat untuk berekspresi maupun beraktivitas. Proses pembangunan dan perkembangan masyarakat semakin menggeser karakteristik lanskap budaya sehingga Kabupaten Kayong Utara tidak memiliki identitas dalam karakteristik arsitektur maupun lanskap budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain taman lingkungan berbasis budaya Melayu untuk memenuhi keberadaan ruang terbuka hijau serta untuk menunjukkan identitas lanskap budaya Melayu. Pelaksanaan penelitian terdiri dari tahap penelusuran sejarah untuk menggali unsur budaya Melayu menggunakan metode deskriptif melalui aliterasi, survei lapang dan wawancara dan kegiatan desain yang mengacu pada proses desain Booth (1983) dengan tahapan-tahapan yaitu peninjauan lokasi penelitian dan inventarisasi data, analisis dan sintesis, proses desain, gambar perencanaan dan perancangan. Taman ini didesain dengan konsep taman yang bersifat rekreatif dan bernilai budaya dengan bentukan yang terinspirasi dari motif batik durian dan bunga hutan yang diaplikasikan pada pola taman dan sirkulasi serta amphitheater dan bentukan sclupture yang memiliki makna cerita tentang pertemuan Putri Junjung Buih dari Kalimantan dan Pangeran Indrawijaya dari Kerajaan Majapahit yang disebut dengan kisah Pupuk Teguih.
EVALUASI PRODUKSI KARKAS DAN NON KARKAS SAPI DI PERUSAHAN DAERAH RUMAH POTONG HEWAN KOTA MALANG Wetu, Nensita Ara; Supartini, Nonok; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims to determine the evaluation of local cow carcass and non-carcass production. The material used was 100 limosin cows at the age of 3 years.The equipment used was a scale, a set of tools for slaughtering process, a GOOD stamp for carcasses. The variables measured were life weight, carcass and non carcass weight, percentage carcass and non carcass. The results showed that the number of slaughtered local cows on slaughterhouse at Malang City is 100 cows/month, the live weight of local cows aged 3 years ranged from 53.116 kg per head. The average carcass weight was 290,18 kg, with the carcass percentage of 54,63 %, while the average non carcass weight was 103,92 kg with non carcass percentage 19,56 %. It can be concluded that the percentage of carcasses were quite good.To get a better percentage of carcasses, it was recommended to increase the slaughter weight of cows. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi produksikarkasdannon karkassapilokal di PD RPH Kota Malang. Materi yang digunakan adalah ternak sapi lokal sebanyak 100 ekor yang berumur 3 tahun. Peralatan yang digunakan adalah timbangan, seperangkat alat untuk proses penyembelihan, stempel BAIK untuk karkas. Variabel yang diukur adalah bobot hidup sapi limosin, bobot karkas, bobot non karkas, Persentase karkas, dan persentase non karkas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pemotongan sapi lokal di PD RPH Kota Malang sebanyak 100 ekor/bulan, bobot hidup sapi lokal umur 3 tahunberkisar 53.116 kg per ekor. Rata-rata bobot karkas, sapi lokal umur 3 tahun adalah 290,18 kg, dan persentase karkas 54,63 %, sedangkan rata-rata bobot non karkas sebesar 103,92 kg dengan persentase non karkas 19,56 %. Dapat disimpulkan bahwa persentase karkas tergolong baik. Untuk mendapatkan persentase karkas yang lebih baik, disarankan meningkatkan bobot potong ternak sapi.
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KERIPIK TALAS (STUDI KASUS PADA CV. JESSI MUJI JAYA DI DESA MULYOREJO, KEC. NGANTANG, KAB. MALANG) Carolina Sukacita, Maria Fatima; Mutiara, Farah; Dyanasari, Dyanasari
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This search is motivated that one of the food plants that can be used as supplement of rice and flour is taro. Indonesian people do not yet understand the benefits of taro and how to process it so that it has a sale value. One of the industrial houses that produce taro chips is the industrial house CV. Jessi Muji Jaya. The home industry is taking advantage of this opportunity to develop the taro business. The purpose of this study is to determine internal factors, external factors that support business development and to find all the business development strategies in the home industry CV. Jessi Muji Jaya. The method of data analysis using SWOT analysis is the analyzing the IFE matrix, EFE matrix, IE matrix and SWOT matrix. The results showed the main strength factor is the product has got a PIRT number. The main weakness factor is the price is more expensive than competitors and the supply of raw materials is reduced. The main opportunity factor is the existence of a food safety policy for a product. The main threat factor is rising raw material cost. Alternative strategies from the results of the IE matrix are guard and defense strategies, avoiding sales and profits. Penelitian ini dilatarbelakangi bahwa salah satu tanaman pangan yang dapat digunakan sebagai suplemen beras dan terigu yaitu talas. Masyarakat Indonesia belum memahami tentang manfaat talas dan bagaimana cara mengolahnya sehingga memiliki nilai jual. Salah satu rumah industri yang memproduksi keripik talas adalah rumah industri CV Jessi Muji Jaya. Rumah industri tersebut memanfaatkan peluang ini untuk mengembangkan bisnis talas. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor internal, faktor eksternal yang mendukung pengembangan usaha dan untuk mengetahui strategi pengembangan usaha pada rumah industri CV. Jessi Muji Jaya. Metode analisis data menggunakan analisis SWOT yaitu menganalisis matriks IFE, matriks EFE, matriks IE dan matriks SWOT. Hasil penelitian menunjukkan faktor kekuatan utama yaitu produk sudah mendapat nomor PIRT. Faktor kelemahan utama adalah harga lebih mahal dibandingkan pesaing dan persediaan bahan baku berkurang. Faktor peluang utama adalah adanya kebijakan keamanan pangan suatu produk. Faktor ancaman utama adalah biaya bahan baku meningkat. Alternatif strategi dari hasil matriks IE yaitu strategi jasa dan pertahanan, menghindari penjualan dan keuntungan.
KAJIAN LANSKAP KAWASAN WISATA PANTAI TANJUNG BASTIAN SEBAGAI KAWASAN WISATA BUDAYA DI KEFAMENANU KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Niis, Maria Sofiana; Setyabudi, Irawan; Nuraini, Nuraini
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanjung Bastian Beach has an important role for the development and Kefamenanu community in terms of the economic aspects of the beach, the socio-cultural and ecological aspects have the potential to bring benefits to the local community. But the beach is less attention from the government and surrounding communities. the condition of the beach is poorly maintained, has not been well ordered and the culture is increasingly extinct. In this research a study is needed to identify the area of cultural tourism. The results of the study of the development of the Tanjung Bastian coastal tourism area as a cultural tourism area will be useful in the management, preservation, and development and cultural potential. This analysis process uses a SWOT Analysis to find out more about the development of cultural tourism, as well as the possibilities that can be done relating to strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the development of Cultural tourism. From the research results obtained several strategies from the SWOT matrix which are categorized into a number of strategies to develop Tanjung Bastian Beach Tourism area, namely the community must make Pokdarwis and develop local culture as cultural attractions, then the Government plays an active role in the tourist areas and provides facilities to support cultural activities on the Tanjung beach. Bastian, the Government cooperates with the local community, so that the community participates in protecting its nature and enhancing its social culture. Based on the results of a study of the cultural tourism area, it can be concluded that the Tanjung Bastian Beach is not in accordance with the criteria as a Cultural Tourism area. Pantai Tanjung Bastian mempunyai peranan penting bagi pembangunan dan masyarakat Kefamenanu ditinjau dari aspek ekonomi Pantai, sosial budaya dan aspek ekologi sangat berpotensi mengutungkan masyarakat setempat. Namun pantai tersebut kurang perhatian dari pemerintah dan masyarakat sekitar. kondisi pantai tidak terawat, belum tertata dengan baik dan kebudayaannya semakin punah. Dalam penelitian ini perlu diadakan suatu kajian untuk mengidentifikasi kawasan wisata budaya. Hasil kajian pengembangan kawasan wisata pantai Tanjung Bastian sebagai kawasan wisata budaya akan berguna dalam kegiatan pengelolaan, pelestarian, serta pengembangan dan potensi budaya. Proses analisis ini menggunakan Analisis SWOT untuk mengetahui lebih lanjut dari perkembangan wisata budaya, serta kemungkinan yang dapat dilakukan berkaitan dengan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan wisata Budaya. Dari hasil penelitian diperoleh beberapa strategi dari matriks SWOT yang dikategori menjadi beberapa strategi pengembangan kawasan Wisata Pantai Tanjung Bastian yaitu Masyarakat harus membuat pokdarwis dan mengembangkan budaya lokal sebagai atraksi budaya, kemudian Pemerintah berperan aktif akan daerah wisata dan menyediakan fasilitas untuk mendukung kegiatan budaya di pantai Tanjung Bastian, Pemerintah bekerja sama dengan masyarakat setempat, sehingga masyarakat ikut dalam menjaga alamnya serta meningkatkan sosial budaya. Berdasarkan hasil kajian dari kawasan wisata budaya dapat menyimpulkan bahwa Pantai Tanjung Bastian belum sesuai dengan kriteria sebagai kawasan Wisata Budaya.
PENDUGAAN MASA KADALUARSA KUE BAKPIA KERING MENGGUNAKAN METODE ACCELERATED SHELF LIFE TESTING DENGAN PENDEKATAN ARRHENIUS DI CV. TOULIP MALANG Nuruddin, Nuruddin; Santosa, Budi; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bakpia is a food made from a mixture of green beans with sugar, which is wrapped in flour, then baked. During the process of storing, food ingredients will have a decrease in quality caused by direct contact with oxygen or caused by the constituent ingredients of themselves. The purpose of this study was to determine the rate of decline in quality, determine the critical parameters, and estimate the shelf life of dried bakpia produced by CV. Toulip using the ASLT method with the Arrhenius model. The temperatures used in this study were 25 oC, 35 oC, and 45 oC in the storage box. The parameters observed included water content, aW, FFA and Organoleptic (taste, aroma and texture). The results obtained by the difference of each level by taking the highest R2 and the lowest Activation Energy (Ea) is found in the water content with R2 = 0.9976 and Ea = 20594.82 cal/mol with linear regression y = -10370x + 27.432, with the shelf life for 4 months and the temperature is 25 oC. Kue bakpia merupakan suatu makanan yang terbuat dari campuran kacang hijau dengan gula, yang dibungkus dengan tepung, lalu dipanggang. Selama proses penyimpanan bahan makanan akan mengalami penurunan mutu dan yang disebabkan oleh kontak langsung dengan oksigen atau disebabkan oleh bahan penyusunnya sendiri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan laju penurunan mutu, menentukan parameter kritis, dan menduga umur simpan dari kue bakpia kering yang diproduklsi oleh CV. Toulip dengan menggunakan metode ASLT dengan model Arrhenius. Suhu yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25 oC, 35 oC, dan 45 oC dalam kotak penyimpanan. Parameter yang diamati meliputi kadar air, aW, FFA dan Organoleptik (rasa, aroma dan tekstur). Hasil penelitian diperoleh selisih dari masing-masing kadar dengan megambil R2 tertinggi dan Energi Aktivasi (Ea) terendah ialah terdapat pada kadar air dengan R2 = 0,9976 dan Ea= 20594,82 kal/mol dengan regresi linier y= -10370x+27,432, dengan umur simpan selama 4 bulan dan suhu adalah 25 oC.
APLIKASI PUPUK DAUN GANDASIL D SEBAGAI PENGGANTI AB MIX PADA HIDROPONIK TANAMAN BAYAM MERAH (AMARANTHUS TRICOLOR L.) Naikofi, Maria Grasela T.; Astutik, Astutik; Fikrinda, Wahyu
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red spinach was one type of vegetable plant that contains anthocyanin. Anthocyanin was red spinach acts an antioxidant that works to prevent the formantion of free radicals (Rangkuti, 2017). The aim of this research was to find out the dosage of gandasil D fertilizer which can replace AB Mix in hydroponic red spinach growth. This research was carried out on the Telaga warna, Tlogomas, Lowokwaru district, Malang. The research lasted for 1 month from March 2019 to April 2019. The method used in the study was a Completely Randomized Design (CRD). Factor 1: Mix AB concentration ie A0 = Control ml / l and A1 = 5 ml / l, Factor 2: Concentration of Gandasil D G1 = 1 g/l, G2 = 2 g/l and G3 = 3 g/l. Observation variables included plant height, number of leaves, leaf length, leaf width, leaf area, plant wet weight, plant root weight and leaf chlorophyll. Fertilizer research results Gandsil D 1 g/l can be used as a substitute for AB Mix nutrients in red spinach hydroponic. Bayam merah (Amaranthus tricolor L.) merupakan salah satu jenis tanaman sayuran yang mengandung antosianin. Antosianin pada bayam merah berperan sebagai antioksidan yang berfungsi untuk mencegah pembentukan radikal bebas (Rangkuti, 2017). Penelitian bertujuan untuk mengetahui dosis pupuk gandasil D yang dapat menggantikan AB Mix pada pertumbuhan bayam merah secara hidroponik. Penelitian ini dilaksanakan di Jalan Telaga Warna, Tlogomas Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Penelitian berlangsung selama 1 bulan terhitung sejak bulan Maret 2019 sampai dengan April 2019. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor I : dosis nutrisi Mix AB yang terdiri dari 2 taraf yakni :A0: 0 ml/l, A1: 5 ml/l. Faktor II : Dosis pupuk Gandasil D yaitu :G1: 1 g/l, G2: 2 g/l, G3: 3 g/l. Parameter pengamatan: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, luas daun, bobot basah tanaman, berat bobot akar dan klorofil daun. Hasil penelitian pupuk Gandasil D 1 g/l dapat digunakan sebagai pengganti nutrisi AB Mix pada hidroponik bayam merah.
EVALUASI PRODUKSI KARKAS DAN NON KARKAS PEMOTONGAN KAMBING (STUDI KASUS DI RUMAH POTONG HEWAN KECAMATAN SUKUN KOTA MALANG) Rahafid, Rahafid; Supartini, Nonok; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the level of carcass and non-carcass production, in slaughtering goats in slaughterhouses, District of Sukun, Malang. This study used 75 goats per week, namely from etawa (PE) goats aged ± 2 years with varying life weights. The method used in this study is a case study, while the research data obtained from the observation process. Observation is conducting direct observations and conducting interviews about cutting patterns. The variables observed in this study include life weight, carcass weight, non carcass weight, carcass percentage, and non carcass percentage. The results of this study indicate that the highest level of carcass production in slaughtered PE goats is at a cut weight of 20-25 kg, with an average percentage of carcasses being 43.05 ± 2.62% and the average non-carcass percentage is 11.77 ± 3.55%. Whereas in the cut weight of 25-30 kg, the percentage of carcass is 46.77 ± 0.50% and the percentage of non carcass is 15.58 ± 0.37%. The level of carcass and non carcass production on the results of slaughtering PE goats with a total input of 75 fish per week and carried out for 1 month, will produce an average cut weight is 28, 97 kg, the average carcass weight is 46, 12 ± 0.17% and the average non carcass weight was 15.02 ± 0.20%. Based on the results of the study it can be concluded that to increase carcass production it is necessary to pay attention to the age and nation of livestock. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat produksi karkas dan non karkas, pada pemotongan kambing di rumah potong hewan Kecamatan Sukun Kota Malang. Penelitian ini menggunakan 75 ekor kambing per minggu yaitu dari kambing peranakan etawa (PE) yang berumur ±2 tahun dengan bobot hidup yang bervariasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, sedangkan data penelitian didapatkan dari proses observasi. Observasi adalah melakukan pengamatan langsung serta melakukan wawancara tentang pola pemotongan. Variabel yang diamati dalam penelitian ini meliputi bobot hidup, bobot karkas, bobot non karkas, persentase karkas, dan persentase non karkas. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tingkat produksi karkas pada pemotongan kambing PE yang tertinggi adalah pada bobot potong 20-25 kg, dengan persentase karkas rata-rata adalah 43,05 ± 2,62% dan persentase non karkas rata-rata adalah 11,77 ± 3,55%. Sedangkan jika pada bobot potong 25-30 kg, diperoleh prentase karkas adalah 46,77 ± 0,50% dan persentase non karkas adalah 15,58 ± 0,37%. Tingkat produksi karkas dan non karkas pada hasil pemotongan kambing PE dengan jumlah input sebesar 75 ekor per minggu dan dilakukan selama 1 bulan, akan menghasilkan Bobot potong rataan adalah 28, 97 kg, didapatkan bobot karkas rataan adalah 46, 12 ± 0,17 % dan bobot non karkas rataan adalah 15,02 ± 0,20 %. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulakan bahwa untuk meningkatkan produksi karkas maka perlu memperhatikan umur dan bangsa ternak.
PENGARUH DOSIS POC SUPERMES YANG DIKOMBINASIKAN AB MIX TERHADAP HASIL TANAMAN SAWI MANIS (BRASSICA JUNCEA L.) SECARA HIDROPONIK Elikardo, Elikardo; Astutik, Astutik; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hydropopic vegetable cultivation was influenced by the composition of the nutrients used. This study aims to determine the optimal Supermes liquid organic fertilizer dosage to get the best sweet mustard plants. The study was conducted at Green House, Jl. Telaga warna block D in December 2018-February 2019. The study was conducted using 2 factorial Completely Randomized Design (CRD), factor 1: POC Supermes concentration consists of three levels: S1 = 0 ml / l water (control), S2 = 2 ml / l water, S3 = 3 ml / l water, factor 2: fertilization frequency consisting of two levels: F1 = 1 time / week, and F2 = 1 time / 2 weeks. Variables observed included: plant height, number of leaves, leaf length, leaf width, leaf area, plant wet weight, root wet weight and chlorophyll content. From the results of the study, it can be concluded that there is an interaction between supermes POC concentration and fertilizing frequency on plant height growth, leaf width, leaf length and chlorophyll content. The highest leaf area is 350.92 cm at 0 ml / l water (control) at the age of 5 weeks. The best growth and yield of mustard greens was obtained in the provision of AB mix nutrients without the addition of Supermes with fertilizer frequency every 2 weeks (27.22 g / plant). Budidaya sayuran secara hidroponik dipengaruhi oleh komposisi nutrisi yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis pemupukan organik cair Supermes yang optimal untuk memperoleh hasil tanaman sawi manis yang terbaik. Penelitian dilaksanakan di Green House, Jl. Telaga Warna simpang D pada bulan Desember 2018-Febuari 2019. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktorial, faktor 1: konsentrasi POC Supermes terdiri dari tiga level : S1=0 ml/l air (kontrol), S2=2 ml/l air, S3=3 ml/l air, faktor 2: frekuensi pemupukan yang terdiri dari dua taraf: F1=1 kali/minggu, dan F2=1 kali/2 minggu. Variabel yang diamati meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun, panjang daun, lebar daun, luas daun, berat basah tanaman, berat basah akar dan kadar klorofil. Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat interaksi antara konsentrasi POC supermes dan frekuensi pemupukan terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun lebar daun, panjang daun dan kadar klorofil. Luas daun tertinggi yaitu 350,92 cm pada perlakuan 0 ml/l air (kontrol) pada umur 5 minggu. Pertumbuhan dan hasil tanaman sawi manis terbaik diperoleh pada pemberian nutrisi AB mix tanpa penambahan Supermes dengan frekuensi pemupukan per 2 minggu sekali (27,22 g/tanaman).