cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
PENGARUH FORMULASI PAKAN TERHADAP KONSUMSI SERAT KASAR, ABU DAN BAHAN ORGANIK PADA ULAT HONGKONG Piku, Eliseba; Achmanu, Achmanu; Santoso, Erik Priyo
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan padabulan Februari 2015 sampai bulan April 2015 di Desa Sumber Sekar, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh formulasi pakan ulat hongkong terhadap konsumsi serat kasar, abu, dan bahan organic pada ulat hongkong.Materi dalam penelitian ini adalah ulat hongkong umur 15 hari yang di peroleh dari Dusun Patihan Blitar.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh formulasi pakan kombinasi terhadap konsumsi serat kasar, abu, dan bahan organic pada ulat hongkong. Penelitian ini menggunakan metode percobaan, Rancangan Acak Lengkap (RAL) PolaFaktorial 3 Gross Energy=GE 4000, 4500 dan 5000 kkal/kg) x 3 Protein Kasar=PK 10, 12 dan 14 %) dengan 9 perlakuan kombinasi yakni: G1P1 = GE 4000 x PK 10%, G1P2 = GE 4000xPK 12%, G1P3 = GE 4000xPK 14%, G2P1 = GE 4500xPK 10%, G2P2 = GE 4500xPK 12%, G2P3 = GE 4500xPK 14%, G3P1 = GE 5000xPK 10%, G3P2 = GE 5000xPK 12% dan G3P3 = GE 5000xPK 14% dan masing ? masing perlakuan di ulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan kombinasi (GE x PK) yang berbeda memberikan perbedaan pengaruh yang sangatnyata (P
PENGARUH PEMBERIAN KONSENTRAT HIJAU TERHADAP RETENSI NITROGEN DAN PERTUMBUHAN BULU PADA TERNAK KAMBING JANTAN PERANAKAN ETAWA Theodorus, Suri Lebo; Marhaeniyanto, Eko; Iskandar, Ahmad
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study is about the use of mixed leaves of Leucaena leucocepala, Calliandra haemochephala, Gliricidia sepium and Artrocarpus heterophyllus with a ratio (1: 1: 1: 1) of 0%, 10%, 20% and 30% in green concentrate feed, and 18% crude protein (CP). The aim of the study was to determine the effect of concentrate feed on nitrogen retention and fur growth on ettawa goat breeds (PE). The material used by male PE goats was 16 heads with an initial body weight of 26.66 ± 0.89 kg / head. The study was conducted using a randomized block design (RBD) experimental method, as many as 4 treatments 4 replications. Every day PE goats are given 1% concentrate feed from body weight according to treatment feed, with basal forage feed according to the breeders. Treatment feed gave no significant effect (P> 0.05) on nitrogen retention and fur growth. Nitrogen retention results at P1 = 13.20 ± 4.65, P2 = 10.85 ± 2.61, P3 = 18.29 ± 6.60 and P4 = 7.69 ± 1.94. The results of the average growth of feathers (g / head for 30 days of observation), P1 = 0.80 ± 0.03 P2 = 0.83 ± 0.04, P3 = 0.87 ± 0.07 and P4 = 0.88 ± 0 , 07. It is recommended to use a mixed leafs as much as 20% in green concentrate feed, 18% protein content for additional PE goat feed. Penelitian ini mengenai penggunaan campuran tepung daun lamtoro (Leucaena leucocepala), kaliandra (Calliandra haemochephala), gamal (Gliricidia sepium) dan nangka (Artrocarpus heterophyllus) dengan perbandingan (1:1:1:1) sebanyak 0%, 10%, 20% dan 30% dalam pakan konsentrat hijau, dan kandungan protein 18%. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pakan konsentrat terhadap retensi nitrogen dan pertumbuhan bulu pada ternak kambing peranakan ettawa (PE). Materi yang digunakan kambing PE jantan sebanyak 16 ekor dengan bobot badan awal 26,66±0,89 kg/ekor. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode percobaan rancangan acak kelompok (RAK), sebanyak 4 perlakuan 4 ulangan. Ternak setiap hari diberikan 1% pakan konsentrat dari bobot badan sesuai pakan perlakuan, dengan pakan basal hijauan sesuai yang diberikan peternak. Pakan perlakuan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap retensi nitrogen dan pertumbuhan bulu. Hasil retensi nitrogen pada P1 = 13,20± 4,65, P2= 10,85± 2,61, P3=18,29± 6,60 dan P4= 7,69± 1,94. Hasil rataan pertumbuhan bulu(g/ekor selama 30 hari pengamatan), P1=0,80± 0,03 P2=0,83± 0,04, P3=0,87± 0,07 dan P4=0,88± 0,07. Disarankan memanfaatkan campuran tepung daun sebanyak 20% kandungan protein pakan konsentrat 18% untuk pakan tambahan kambing PE.
PERAN KOMUNIKASI ANTARA PENYULUH DENGAN PEMUDA TANI DALAM PENUMBUHAN MINAT USAHATANI PADI DI DESA KEBONAGUNG KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG Piran, Ronaldus Don; Arvianti, Eri Yusnita; Suwasono, Son
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The problems of agricultural workforce at this time become one of the main obstacles to advance agriculture. Effective communication between agricultural extension with youth farmer are countermeasures and preventive measures against youth employment reductions and growing interest in food crops, particularly rice. The purpose of this study are to evaluate the role of communication between agricultural extension with the youth farmer and socio-economic condition of youth farmer in the growth of rice farming interest. This research was conducted in the Kebonagung village, Pakisaji District, Malang Regency. The start of this research began in September 2015 and ended in January 2016. The population used is the youth farmer of Kebonagung Village, while the sampel estbalished in purpossive sampling which nembered 31 youth farmers of rice farming. The data analysis used multiple regression analysis and got the regression similarity is Y= 0,691 + 0,370X1 + 0,700X2 + e. The results of multiple regression analysis showed that the value of determination coefficient (Adjusted R²) is 0, 791 which means, 79,1 % of agricultural extension communication role with youth farmer and socio-economic conditions of youth farmer significantly influence the growth of interest in rice farming. Partially, both communication between agricultural extension with youth farmer and socio-economic conditions also significant influence on the growth of rice farming interest. Thus, the youth farmer will be more interested in rice farming if the more effective communication between agricultural extension with youth farmer and socio-economic conditions of youth farmer in creasingly support. Permasalahan tenaga kerja sektor pertanian pada saat ini menjadi salah satu kendala utama memajukan pertanian. Komunikasi yang efektif antara PPL dengan pemuda tani merupakan langkah penanggulangan dan upaya preventif terhadap pengurangan tenaga kerja muda dan penumbuhan minat di subsektor tanaman pangan, khususnya tanaman padi. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi peran komunikasi antara penyuluh pertanian dengan pemuda tani dan kondisi sosial ekonomi pemuda tani dalam penumbuhan minat usahatani padi. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kebonagung Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Awal penelitian dimulai pada bulan September 2015 dan berakhir pada bulan Januari 2016. Populasi yang digunakan adalah pemuda tani Desa Kebonagung, sedangkan sampel ditentukan secara purpossive sampling dengan jumlah 31 pemuda tani yang bertani padi. Analisis data menggunakan analisis regresi berganda dan diperoleh persamaan regresi Y= 0,691 + 0,370X1 + 0,700X2 + e. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa nilai koefisien determinasi (Adjusted R²) adalah 0,791 yang berarti, 79,1 % peran komunikasi penyuluh dengan pemuda tani beserta kondisi sosial ekonomi pertanian berpengaruh signifikan terhadap penumbuhan minat usahatani padi. Secara parsial baik komunikasi antara penyuluh dengan pemuda tani maupun kondisi sosial ekonomi juga berpengaruh signifikan terhadap penumbuhan minat usahatani padi. Dengan demikian, pemuda tani akan semakin berminat pada usahatani padi apabila semakin efektif komunikasi antara penyuluh dengan pemuda tani dan kondisi sosial ekonomi pemuda tani semakin menunjang.
EFISIENSI REPRODUKSI TERNAK KAMBING DI DESA KLAMPOK KECAMATAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG (StudiKasus Di KecamatanSingosari,Kabupaten Malang) Mbapa, Stefanus Wua Prada; Marhaeniyanto, Eko; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian bertujuan mempelajari dan mengevaluasi efisiensi reproduksi ternak kambing.Materi penelitian 60 peternak di Desa Klampok dan 348 ekor kambing meliputi dewasa, muda dan cempe. Metode yang digunakan adalah studi kasus, penelitian yang dirancang khusus untuk mempelajari secara rinci dan mendalam sebuah khasus.Variabel yang diamati gambaran umum , reproduksi ternak, serta efisiensi reproduksi ternak meliputi umur pertama ternak dikawinkan, umur -rata sapih, rata kelahiran, serta lama waktu kawin pertama setelah beranak. Tingkat kelahiran cempe betina lebih tinggi dibandingkan kelahiran cempe jantan. Penampilan efisiensi reproduksi menunjukanumur pertama dikawinkan, jantan 19,42 betina 15,72, umur sapih, jantan 3,93 betina 3,79, rata-rata jumlah anak dilahirkan 2,06 (ekor/tahun), dan kawin pertama setelah beranak 5,92% bulan. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa pemeliharaan kambing masih tradisional. Nilaiefisiensi reproduksi yaitu 2,31/ekor/induk/tahun.Nilai ini cukup efisien karena adanya keinginan peternak dalam pengembangan hasil produksi anak dipersiapkan sebagai ternak bibit sehingga penampilan anak adalah pertimbangan utama anak dapat dijual dengan harga tinggi.
PENGGUNAAN PUPUK NITROGEN DAN BIOCHAR TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI PAKCOY (Brassica rapa L.) DI TANAH ENTISOL Xaperius, Fransiskus; Adisarwanto, Titis; Dwi Julianto, Reza Prakoso
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the dosage of nitrogen fertilizer and the optimum biochar treatment on the growth of mustard plant pakcoy (Brassica rapa L.) on Entisol soil. The research was conducted at Dukuh Kraguman, Tegalwaru Village, Dau District, Malang Regency, for three months from September to November 2016. The study used Randomized Block Design (RAK) with 13 treatments and repeated 3 times. Observation was done 3 times that is age 25 HST, 35 HST, 45 HST observed variables plant height, leaf area, number of leaves, wet weight, and dry weight of mustard plant pakcoy. The results showed that the use of nitrogen and biochar fertilizers significantly affected the number of leaves, wet weight, and dry weight of mustard plant pakcoy at 45 HST. Provision of nitrogen 100 kg/ha-1 and biochar (30 t/ha-1) spread evenly fertilizers increases the percentage of high growth, leaf area, number of leaves, wet weight, and dry weight of mustard plant pakcoy. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis pupuk nitrogen dan perlakuan biochar yang optimum terhadap pertumbuhan tanaman sawi pakcoy (Brassica rapa L.) pada tanah Entisol. Penelitian dilaksanakan di Dukuh Kraguman, Desa Tegalwaru, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, selama tiga bulan mulai September ? November 2016. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 13 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu umur 25 HST, 35 HST, 45 HST variabel yang diamati tinggi tanaman, luas daun, jumlah daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman sawi pakcoy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pupuk nitrogen dan biochar berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman sawi pakcoy pada 45 HST. Pemberian pupuk nitrogen 100 kg/ha-1 dan biochar (30 t/ha-1) disebar merata meningkatkan persentase pertumbuhan tinggi, luas daun, jumlah daun, bobot basah, dan bobot kering tanaman sawi pakcoy.
DESAIN TAMAN INKLUSI BAGI ANAK-ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH LUAR BIASA BAGIAN C (TUNA GRAHITA) PEMBINA TINGKAT NASIONAL LAWANG MALANG, JAWA TIMUR Olo, Maria Nelde; Setiabudi, Irawan; Seolistyari, Hesti Triana
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The disability for the Down syndrome children caused a limitation about mobile and orientation, in which both of them are their main need. It is related to the ability of disable kid for moving from a place to another one. The played-therapy is the systematic application of some learning principles toward the condition or behavior that is assumed as the mistake, means it make a changing. The existence of a garden at SLB Pembina is presented to down syndrome only. That?s why, there is no the other facilities which is supporting another down syndrome children. This research is purposed to creating a garden arrangement picture for the down syndrome children at SLB Pembina Nasional-level Lawang-Malang. The method that was used for this research was design method, means the writer did a survey and interview, analysis and synthesis, idea and concept, arrangement or design. The wide of the garden was 4.073m², the garden design concepts were philosophy, shape, pattern, space, circulation, activities and facilities, vegetation, material, concept statement and continued by design. The inclusion garden design was divided into 2 spaces, they were active garden and passive garden. In the active garden was provided the kind of child game, so that the disable children could play actively there. But, for the passive garden was only provided some areas. It was purposed to creating their smell, feeling, touch and hear for the down syndrome children. Gangguan yang ada pada anak berkebutuhan khusus mengakibatkan keterbatasan dalam mobilitas dan orientasi, sedangkan mobilitas dan orientasi merupakan kebutuhan utama dari anak berkebutuhan khusus karena berkaitan dengan kemampuan anak berkebutuhan khusus bergerak dari suatu tempat ke tempat lain yang ingin dituju. Terapi bermain merupakan penerapan sistematis dari sekumpulan prinsip belajar terhadap kondisi atau tingkah laku yang dianggap menyimpang dengan tujuan melakukan perubahan. keberadaan taman pada SLB Pembina hanya dikhususkan bagi anak-anak tuna grahita sehingga tidak tersedia fasilitas lain bagi anak-anak berkebutuhan khusus lainnya yang bersekolah pada SLB Pembina. Penelitian ini bertujuan Membuat gambar rancangan taman bagi anak-anak berkebuthan khusus di SLB Pembina Tingkat Nasional Lawang Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode desain yakni dengan melakukan survey dan wawancara, analisa dan sintesa, ide dan konsep, perancangan atau desain. luas taman yang dirancang sebesar 4.073 m2 konsep desain taman terdiri dari Konsep filosofis, Konsep bentuk, Konsep pola, Konsep ruang, Konsep sirkulasi, Konsep aktifitas dan fasilitas, konsep vegetasi, Konsep material, pernyataan konsep dan dilanjutkan dengan desain. Desain Taman Inklusi ini dibagi menjadi dua ruang yaitu taman aktif dan taman pasif di mana pada taman aktif disediakan jenis permainan anak sehingga anak berkebutuhan khusus dapat bermain aktif sedangkang taman pasif didalamnya tersedia beberapa area dengan tujuan agar dapat memacu indera penciuman, indera perasa, indera perabaan dan indera pendengar pada anak berkebutuhan khusus.
PENGARUH MODEL TEMPAT PENGOKONAN TERHADAP KUALITAS KOKON ULAT SUTERA Samia cynthia ricini Lodong, Rusmin Umbu; Santoso, Erik Priyo; Marhaeniyanto, Eko
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cocoon is a protective pupa made of silk fibers woven by larvae when forming a cocoon. From time to time, the cocooning placemodel changes to improve the older model so the quality of cocoon, energy efficiency and place also improved. The purpose of this research was to find the best model of cocooning place that gives the highest quality to cocoonin cluding cocoon weight, cocoon length, pupa and length of pupa. The research was conducted from August to October 2016 in Aneka Ternak Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University Malang. The material used was Samiacynthiaricini silkworm. The study used a Completely Randomized Design with 4 treatments and 3 replications. The treatments applied were the model of net shaker (P0), model of boxing box such as labyrinth (P1), model of aqua glasses (P2), and a circle-like reproduction model (P3). Based on the research, the highest cocoon weight of P3 was 264,43 g and the lowest was P0 treatment 233,33 g. The highest pupa weight was P3 with 218.52 g and the lowest was P0 treatment with 192.66 g. The highest cocoon length was P3 55,31 mm and the lowest was P0 treatment equal to 51,68 mm. The high pupil length was P3, 50.92 mm and the lowest was P0 treatment of 48.04 mm. The cocooning place model gives a different impact on the quality of the resulting cocoon. From the quality of cocoon weight, cocoon length, pupa weight and length of pupa produced then the model treatment of circular spotting place like a mosquito repellent (P3) is the highest. Kokon merupakan pelindung pupa yang terbuat dari serat sutera yang dijalin oleh larva bila membentuk kepompong. Dari waktu ke waktu model tempat pengokonan selalu berubah yang dimaksudkan untuk menyempurnakan model lama dengan tujuan perbaikan kualitas kokon, efisiensi tenaga, tempat dan sebagainya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari model tempat pengokonan yang memberikan kualitas tertinggi terhadap kokonyang meliputi bobot kokon, panjang kokon, bobot pupa dan panjang pupa. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2016 di Laboratorium Aneka Ternak Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Materi yang digunakan adalah ulat sutera Samia cynthia ricini. Penelitian mengunakan Rancangan Acak Lengkap pola dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang diterapkan adalah model tempat pengokonn jaring (P0), model tempat pengokonan kotak seperti labirin (P1), model tempat pengokonan dari aqua gelas (P2), dan model tempat pengokonan berbentuk lingkaran seperti obat nyamuk (P3). Berdasarkan hasil penelitian bobot kokon tertinggi adalah P3 sebanyak 264,43 g dan jumlah kokon terendah adalah perlakuan P0 sebanyak 233,33 g. Bobot pupa tertinggi adalah P3 sebanyak 218,52 g dan yang terendah adalah perlakuan P0 sebesar 192,66 g. Panjang kokon tertinggi adalah P3 sebanyak 55,31 mm dan yang terendah adalah perlakuan P0 sebesar 51,68 mm. Panjang pupa tertinggi adalah P3 sebanyak 50,92 mm dan yang terendah adalah perlakuan P0 sebesar 48,04 mm. Pengaruh model tempat pengokonan memberikan dampak yang berbeda terhadap kualitas kokon yang dihasilkan. Kualitas bobot kokon, panjang kokon, bobot pupa dan panjang pupa yang dihasilkan maka perlakuan model tempat pengokonan melingkar seperti obat nyamuk (P3) adalah yang tertinggi.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN NATA DE COCO DENGAN SUMBER KARBON MOLASE Kumala, Sella Candra Indah; Santosa, Budi; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nata de coco is a fermented food product with coconut water medium formed by the activity of Acetobacter xylinum. One factor that can influence the outcome of Nata is the carbon source. The carbon source that is commonly used is granulated sugar, but at present the price of sugar is increasing so that alterntive carbon source are sought, one of which is molasses. The purpose of this study was to analyze the business feasibility of making nata de coco with carbon molasses. The analytical study of the business of making nata de coco with this carbon molasses source used calculations to find out the total investment costs and production costs needed. The calculated the calculation of Break Event Point (BEP), Basic of Production and Price of Selling (HPP), Revenue Cost Ratio (RCR). This research also tried to find out the profits both monthly and yearly term. The business analysis calculation results showed that the making of nata de coco with molasses carbon source the HPP production was IDR 14.999,75/ pack, the HPP sales with 15% interest was IDR 17.250,00/ pack. The BEP was IDR 23.823.404,56, and the RCR 1,15 so that the business is feasible.. Nata de coco adalah produk makanan hasil fermentasi dengan media air kelapa yang dibentuk oleh aktivitas Acetobacter xylinum. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil dari nata adalah sumber karbon. Sumber karbon yang biasa digunakan adalah gula pasir tetapi pada sekarang harga gula pasir yang semakin meningkat sehingga dicari sumber karbon alternatif salah satunya adalah molase. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melakukan analisa usaha pembuatan nata de coco dengan sumber karbon molase. Penelitian analisa usaha pembuatan nata de coco dengan sumber karbon molase ini menggunakan perhitungan mencari total biaya investasi dan biaya produksi yang dibutuhkan. Kemudian mencari perhitungan Break Event (BEP), Harga Pokok Produksi dan Harga Pokok Penjualan (HPP), Revenue Cost Ratio (RCR). Dan juga mencari keuntungan baik dalam jangka waktu bulanan dan tahunan. Hasil perhitungan analisa usaha ini menunjukkan pembuatan nata de coco dengan sumber karbon molase layak diusahakan karena HPP produksi Rp 14.999,75/bungkus, HPP penjualan dengan bunga 15% adalah Rp 17.250,00/bungkus. Dengan BEP Rp 23.823.404,56, dan RCR 1,15 sehingga usaha layak dijalankan.
ANALISIS PERMINTAAN BAHAN PANGAN STRATEGIS (BERAS, DAGING SAPI DAN CABAI MERAH) DI INDONESIA Meilani, Ema; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Sa'diyah, Ana Arifatus
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the factors that are suspected to affect strategic food demand (rice, beef and red pepper) in Indonesia. The analysis was performed using multiple linear regression analysis model. The data used in the study is the annual time series data with a span of time for 30 years (1986-2015). Variables used are rice price, beef price, red chili price, population, income per capita, and production amount (rice, beef and red pepper). The results of the analysis show that multiple linear regression model is suitable to be used as a model of estimation equation from demand of rice, beef and red pepper. This is evident from the statistical F test on 3 (three) models of real demand at 99% confidence level, while viewed from the value of coefficient of determination (R2), free variable demand rice model contributes a value of 90.6%, beef demand model for 93.4% and the demand for red chili is 61.3%. The elasticity analysis shows that rice and red pepper are inferior goods, while beef is elastic. Rice is substitute for beef and red pepper. Beef is substitute to rice and complementary to red pepper. The red chili is complementary to rice and beef. The findings in this study are expected to have implications of government policies or intansi relating to the food of the people, especially in the making of food policy related to the demand of rice, beef and red pepper so that economic development indicators can be fulfilled in accordance with expectations in order to realize the welfare of Indonesian society. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang diduga mempengaruhi permintaan bahan pangan strategis (beras, daging sapi dan cabai merah) di Indonesia. Analisis dilakukan menggunakan model analisis regresi linear berganda. Data yang digunakan dalam penelitian adalah data time series tahunan dengan rentang waktu selama 30 tahun (tahun 1986-2015). Variabel yang digunakan yaitu harga beras, harga daging sapi, harga cabai merah, jumlah penduduk, pendapatan perkapita, dan jumlah produksi (beras, daging sapi dan cabai merah). Hasil analisis menunjukkan bahwa model regresi linear berganda sesuai untuk digunakan sebagai model persamaan penduga dari permintaan beras, daging sapi dan cabai merah. Hal ini terbukti dari uji F statistik pada 3 (tiga) model permintaan nyata pada taraf kepercayaan 99%, sedangkan dilihat dari nilai koefisien determinasi (R2), model permintaan beras variabel bebas memberikan kontribusi nilai sebesar 90,6%, model permintaan daging sapi sebesar 93,4% dan model permintaan cabai merah sebesar 61,3%. Hasil analisis elastisitas menunjukkan bahwa beras dan daging sapi merupakan barang inferior, sedangkan cabai merah merupakan barang normal. Beras bersifat substitusi terhadap daging sapi dan cabai merah. Daging sapi bersifat substitusi terhadap beras dan komplementer terhadap cabai merah. Cabai merah bersifat komplementer terhadap beras dan daging sapi. Penemuan dalam penelitian ini diharapkan mempunyai implikasi kebijakan pemerintah atau intansi yang berhubungan dengan pangan masyarakat, khususnya dalam pengambilan kebijakan pangan yang berkaitan dengan permintaan beras, daging sapi dan cabai merah sehingga indikator pembangunan ekonomi dapat terpenuhi sesuai dengan harapan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
PENGARUH PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA FORMULASI PAKAN DENGAN PROTEIN KASAR YANG BERBEDA TERHADAP KECERNAAN PROTEIN PADA AYAM KAMPUNG Keiya, Ronald; Sumarno, Sumarno; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai bulan Juni 2014, di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.Analisis proksimat dan kecernaan dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Universitas Brawijaya Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suplementasi probiotik dalam 3 formulasi pakan yang berbeda terhadap kecernaan protein ayam kampung. Penelitian menggunakan 8 perlakuan yaitu: P0K1= PenggunaanProbiotik G + BR1 (100% pakan kontrol), P1K1 = ProbiotikGa + PK 20%, P2K1 = Probiotik Ga + PK 18%, P3K1 = Probiotik Ga + PK 19%, P0K2 = PenggunaanProbiotik A + BR1 (100% pakan kontrol), P1K2 = Probiotik Ag + PK 20%, P2K2 = Probiotik Ag + PK 18% dan P3K2 = Probiotik Ag + PK 19%. Probiotik G (Bacillus sp) dan probiotik A (Lactobacillus). Masing ? masing perlakun diulang 3 kali. Metode percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola tersarang. Hasil penelitian menunjukan bahwa pemberian probiotik pada pakan dengan level protein yang berbeda memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kecernaan bahan kering (79,63%) dan memberikan pengaruh yang tidak berbeda nyata (P>0,05) terhadap kecernaan protein kasar (89,17%). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan probiotik Bacillus sp dalam pakan dengan PK 19% pada P2K1, memberikan pengaruh terhadap kecernaan bahan kering yang tinggi yakni 79,63% pada ayam kampung serta penggunaan probiotik Bacillus sp dalam pakan dengan PK 18% pada Perlakuan P3K1, memberikan pengaruh terhadap kecernaan protein kasar yang tinggi yakni 89,17% pada ayam kampung.