cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
VARIASI LAMA PERENDAMAN DAN KONSENTRASI ASAM ASETAT DALAM PEMBUATAN TEPUNG CANGKANG KERANG DARAH (Anadara granosa) Lamadiko, Abdul Gani; Mushollaeni, Wahyu; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Clam Shell is a potential source of minerals, especially calcium that can be used as fortificant in food or animal feeding, so it can increase the added value of waste fishery. However, the researches to utilize the shell of clams have not been disclosed so far, because shells are very hard and difficult to process. Therefore, a research is needed to obtain organic solvents that can soften the shell, making it easier to process. One such type of solvent is acetic acid. The objective of this research was to get the best immersion duration and concentration of acetic acid to produce the best quality of clam shell flour and get the economic feasibility to the business of making clam shell flour on a small scale industry. This research used a Randomized Block Design (RAK) of factorial pattern with two factors: soaking period (1 day, 2 days, 3 days) and concentration of acetic acid (50%, 75%, 100%). A repetition was done 3 times, so that 27 units of experiments were obtained. The research parameters included (1) physicochemical test such as calcium content, ash content, moisture content, white degree, yield, protein content and total acid content, and (2) preference test from color and aroma. The best treatment of the study was the clam shell which was soaked for 2 days using 75% concentration of acetic acid solution. The business of clam shell flour in the small scale industry was feasible to work with BEP of Rp. 1,139,11,- and RCR of 1.15. Kulit kerang berpotensi sebagai sumber mineral terutama kalsium yang dapat digunakan sebagai fortifikan dalam pangan atau pakan ternak, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah limbah hasil perikanan. Namun demikian, penelitian untuk memanfaatkan cangkang kerang darah yang hingga saat ini belum banyak diungkapkan, karena cangkang kerang sangat keras dan sulit untuk diolah. Oleh karena itu sangat diperlukan penelitian untuk mendapatkan pelarut organik yang dapat melunakkan cangkang, sehingga lebih mudah diolah. Salah satu jenis pelarut tersebut adalah asam asetat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan lama perendaman dan konsentrasi asam asetat yang tepat untuk menghasilkan tepung cangkang kerang darah dengan kualitas terbaik serta mendapatkan perhitungan kelayakan ekonomi terhadap usaha pembuatan tepung cangkang kerang darah pada skala industri kecil. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dengan dua faktor yaitu lama perendaman (1 hari, 2 hari, 3 hari) dan konsentrasi asam asetat (50%, 75%, 100%). Ulangan dilakukan sebanyak 3 kali, sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Parameter penelitian meliputi (1) uji fisikokimia yaitu kadar kalsium, kadar abu, kadar air, derajat putih, rendemen, kadar protein dan kadar total asam, dan (2) uji kesukaan yaitu warna dan aroma. Perlakuan terbaik dari penelitian adalah tepung cangkang kerang darah yang direndam selama 2 hari menggunakan larutan asam asetat dengan konsentrasi 75%. Usaha tepung cangkang kerang darah dalam skala industri kecil layak diusahakan dengan BEP sebesar Rp. 1.139,11,- dan RCR sebesar 1,15.
PENGARUH PUPUK KALIUM TERHADAP PERUBAHAN UKURAN UMBI PADA BEBERAPA KLON UBIJALAR (Ipomea batatas (L) Lam) Berto Maige, Gregorius Andespa; Lestari, Sri Umi; Hapsari, Ricky Indri
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of potassium fertilizer on tuber yield and tuber size sweet potato. Research conducted at the Experimental Farm UB Faculty of Agriculture, Kromengan rural, Malang regency. The strip plot design with three replications were used in this study. The first factor sweetpotato genotypes (BIS OP 61, 73 6/2, D67 and Sari) and the second factor dose of potassium (0 kg KCl / ha, 133 kg KCl / ha, 333 kg KCl / ha, 533 kg KCl / ha). Experimental plot size of 1.5 m x 5 m, consists of 5 gulud, respectively gulud cuttings are planted at a spacing of 25 cm in the row. Thus, there are 30 cuttings per experimental plot. All cultivars were evaluated by a basic fertilizer 100 kg N and 75 kg P2O in the form of urea and SP-36. Crop harvest at 120 days after planting. The results showed the four genotypes used (BIS OP 61, 73-6 / 2, D-67 and Sari) has significant effect on all parameters except observation stover dry weight (g / plot), biomass dry weight (g / plot), the percentage (%) dry weight stover, the number of large tubers, the number of tubers medium, large tuber weight and tuber fresh weight (t / ha). Potassium fertilizer dosing KCl 333 kg / ha significant effect on tuber size four genotype with an average of 130.70 g / tuber. Doses of potassium and fourth genotype showed no interaction of the sweet potato yield and tuber size. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pemberian pupuk kalium pada hasil dan ukuran umbi ubijalar. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Desa Kromengan, Kabupaten Malang. Rancangan strip plot dengan tiga ulangan yang digunakan dalam penelitian ini. Faktor pertama genotipe ubijalar (BIS OP 61, 73 6/2, D67 dan Sari) dan faktor kedua dosis pupuk kalium (0 kg KCl/ha, 133 kg KCl/ha, 333 kg KCl/ha, 533 kg KCl/ha). Ukuran petak percobaan 1,5 m x 5 m, terdiri dari 5 gulud, masing-masing gulud ditanam stek dengan jarak tanam 25 cm dalam baris. Dengan demikian terdapat 30 stek per petak percobaan. Semua kultivar yang dievaluasi diberi pupuk dasar 100 kg N dan 75 kg P2O dalam bentuk Urea dan SP-36. Tanaman dipanen saat berumur 120 hari setelah tanam. Hasil penelitian menunjukan keempat genotipe yang digunakan (BIS OP 61, 73-6/2, D-67 dan Sari) berpengaruh nyata pada semua parameter pengamatan kecuali bobot kering brangkasan (g/plot), bobot kering biomassa (g/plot), persentase (%) bobot kering brangkasan, jumlah umbi besar, jumlah umbi sedang, bobot umbi besar, dan bobot segar umbi (t/ha). Pemberian dosis pupuk kalium 333 kg KCl/ha memberikan pengaruh nyata pada ukuran umbi keempat genotipe dengan rata-rata 130,70 g/umbi. Dosis pupuk kalium dan keempat genotipe tidak menunjukan interaksi terhadap hasil dan ukuran umbi ubijalar.
SURVEI KANDUNGAN FORMALIN PADA IKAN ASIN: STUDI KASUS DIBEBERAPA PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN DI KOTA MALANG Untung, Umbu; Ahmadi, KGS; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Formalin is the commercial name of formaldehyde compounds with levels of 35-40% in water. The use of formalin as an additive in food has been prohibited by the ministry of health and is listed in the Regulation of the Minister of Health of the Republic of Indonesia No.722 / MenKes / Per / IV / 88. Nevertheless, in recent years there has been news about the rampant usage of formalin as a preservative of decaying food ingredients such as salted fish. This study aimed to obtain information about the use of formalin in some types of salted fish in traditional and modern markets in Malang. The qualitative data were used in this study, tested and observed positive and negative on salted fish containing formalin and without formalin. Samples were taken from 9 markets, that is traditional and modern markets, they were Madyopura market, Tawangmangu market, Merjosari market, Blimbing market, Bareng market, big market, Giant express Dinoyo, Hero Sawojajar, Supermarket Matahari mall. The result of researh found 3 types of salted fish that were detected of containing formaldehyde, they were salted Mackarel fish from big market, salted Dorang from Madyopuro market, and salted Jambal from Blimbing market. Based on the results obtained from 27 samples of the salted fish, 3 samples were detected with formalin or 11% and 24 samples were not detected with formalin or 89%. Formalin adalah nama komersial dari senyawa formaldehida dengan kadar 35 ? 40% dalam air. Penggunaan formalin sebagai bahan tambahan dalam makanan telah dilarang oleh kementerian kesehatan dan tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.722/MenKes/Per/IV/88. Meskipun demikian, pada beberapa tahun terakhir ini muncul pemberitaan mengenai maraknya penggunaan formalin sebagai pengawet bahan makanan yang mudah membusuk seperti ikan asin. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang penggunaan formalin pada beberapa jenis ikan asin di pasar tradisional dan modern kota Malang. Data kualitatif digunakan pada penelitian ini, yang diuji dan diamati positif dan negatif pada ikan asin yang mengandung formalin dan yang tidak mengandung formalin. Sampel diambil dari 9 pasar, yaitu pasar tradisional dan modern di antaranya ialah pasar madyopura, pasar tawangmangu, pasar merjosari, pasar blimbing, pasar bareng, pasar besar, giant expres dinoyo, hero sawojajar, supermarket mall matahari. Hasil penelitian ditemukan 3 jenis ikan asin yang terdeteksi mengandung formalin yaitu jenis ikan asin layang dari pasar besar, jenis ikan asin dorang dari pasar madyopuro, dan jenis ikan asin jambal dari pasar blimbing. Berdasarkan hasil yang didapat dari 27 sampel ikan asin, 3 sampel ikan asin terdeteksi formalin atau 11 % dan 24 sampel ikan asin yang tidak terdeteksi formalin atau 89 %.
PEMANFAATAN LIMBAH SAYURAN PASAR PADA FORMULASI MEDIA PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP KONSUMSI NUTRISI LEMAK KASAR, SERAT KASAR DAN GROSS ENERGI PADA ULAT JERMAN Wirimananga, Umbu Hina; Fitasari, Eka; Supartini, Nonok
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine the effect marketwaste vegetable in different feed media formulations to the nutritional intake of crude fat and fiber and gross energy on Superworm.The method used was experimental completely randomized design (CRD) with factorial pattern which the first factor, namely crude protein (CP) = 10%, 12%, 14% and 2 factors was gross energy (GE) = 4000, 4500, and 5000 kcal so that there were 9 treatments in three replications. G1P1 4000 kcal PK 10%, G1P2 4000 kcal PK 12%, G1P3 4000 kcal PK 14%, G2P1 4500 kcal PK 10%, G2P2 4500 kcal PK 12%, G2P3 4500 kcal PK 14%, G3P1 5000 Kcal Pk 10%, G3P2 PK 12% 5000 kcal and 5000 kcal G3P3 PK 14%.Results showed that utilization of market waste vegetable in different feed media formulations provided a significant influence (p 0.05) to the crude fiber consumption and gross energy consumption. So it could be concluded that the use of market waste vegetable treatment in the feed media by gross energy of 4000 Kcal and 14% crude protein (feed formulation consist of pollard, corn rice, dried to su waste, dried cassava waste) was the best treatment. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh limbah sayur pasar pada formulasi media pakan yang berbeda terhadap konsumsi nutrisi lemak kasar dan gross energy pada ulat jerman. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola factorial dengan faktor 1 yaitu protein kasar (PK) = 10%. 12%, 14%, dan faktor 2 yaitu gross energy (GE) = 4000, 4500, dan 5000 Kkal sehingga terdapat 9 perlakuan 3 ulangan. G1P1 4000 Kkal PK 10%, G1P2 4000 Kkal PK 12%, G1P3 4000 KkalPK 14%, G2P1 4000 Kkal PK 10%, G2P2 4500 Kkal PK 12%, G2P3 4500 Kkal PK 14%, G3P1 5000 Kkal PK 10%, G3P2 5000 Kkal PK 12%, G3P3 5000 Kkal PK 14%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah sayuran pasar pada formulasi media pakan yang berbeda memberikan pengaruh yang sangat nyata (p0,05) terhadap konsumsi serat kasar dan konsumsi gross energy, sehingga dapat disimpulkan bahwa pemanfaatan limbah sayuran pasar pada media pakan perlakuan gross energy 4000 Kkal dan protein kasar 14% (pollard, mpok jagung, ampas tahu kering, ampas gamblong kering) merupakan perlakuan terbaik.
ENERGI METABOLIS DAN RETENSI NITROGEN AYAM ARAB AKIBAT PENGGUNAAN TEPUNG KEONG MAS DALAM FORMULASI PAKAN Muda, Yakobus; Susanti, Sri; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari pengaruh penambahan tepung keong mas dalam formulasi pakan terhadap energi metabolis dan retensi nitrogen ayam arab. Penelitian dilaksanakan di Desa Sumber Sekar, Kec. Dau, Kabupaten Malang. Penelitian ini dilakasanakan pada bulan Februari 2015 sampai Juni 2015. Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam arab betina fase layer sebanyak 50 ekor dengan bobot badan rata-rata 1236,8 ±27,90 g. Penelitian ini menggunakan metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 5 perlakuan dan 5 ulangan yaitu P0 = pakan kontrol, P1 = Pakan kontrol 97,5 % + 2,5 % tepung keong mas, P2 = pakan kontrol 95 % + 5 % tepung keong mas, P3 = pakan kontrol 92,5 % + 7,5 % tepung keong mas, P4= pakan kontrol 90 % + 10 % tepung keong mas. Penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan tepung keong mas dalam formulasi pakan tidak memberikan perbedaan pengaruh yang nyata P>0,05 terhadap energi metabolis dan retensi nitrogen ayam arab betina. Nilai energi metabolis tertinggi pada perlakuan P4 yaitu 3394,24 Kkal/kg dan nilai retensi nitrogen tertinggi pada perlakuan P2 yaitu 4,31 g. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan tepung keong mas dalam formulasi pakan efisien digunakan namun secara nyata tidak mampu meningkatkan energi metabolis dan retensi nitrogen ayam arab.
ANALISIS USAHATANI JAMUR TIRAM (Pleurotus Ostreatus) DI DESA TAMANHARJO KECAMATAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG Yanto, Nanang Fajar; Sa'diyah, Ana Arifatus; Suwasono, Son
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One type of mushroom that can be cultivated is white mushroom. Utilization of white mushroom by the community is as a preparation of food. Process pembudidayaanya quite easy but require high accuracy in the process. Preparation of land required is a mushroom kumbung as a storage bag bag oyster mushroom. Therefore, cultivation of white mushroom is quite promising when used as business because it only requires a relatively low capital while the economic value is high enough when it is done harvesting (Alam Rizqi, 2007). Looking at the market share is relatively wide and still not much cultivated, oyster mushroom farming is an alternative that can be used for entrepreneurship. This effort is expected to open new jobs and be able to absorb labor so that it can reduce unemployment. The way to find out the extent to which the business is feasible or not run, then required an analysis of business in order to provide benefits and benefits for the business (Hidayat, Nurul. 2012). Based on business analysis that has been done using analysis R / C Ratio Oyster mushroom farming with value of production capacity of 800 packs and with selling price Rp 2,500, R / C value Ratio 1,16 hence profitable and can be continued (Hidayat, Nurul, 2012). Salah satu jenis jamur yang dapat dibudidayakan adalah jamur tiram. Pemanfaatan jamur tiram oleh masyarakat adalah sebagai olahan makanan. Proses pembudidayaanya cukup mudah namun memerlukan ketelitian yang tinggi dalam prosesnya. Persiapan lahan yang diperlukan adalah sebuah kumbung jamur sebagai tempat penyimpanan baglog jamur tiram. Oleh karena itu pembudidayaan jamur tiram cukup menjanjikan bila dijadikan usaha sebab hanya membutuhkan modal yang relatif rendah sedangkan nilai ekonominya cukup tinggi bila sudah dilakukan pemanenan. Melihat pangsa pasar yang relatif sangat luas dan masih belum banyak diusahakan, usahatani jamur tiram merupakan alternatif yang dapat digunakan untuk berwirausaha. Usaha ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja baru dan mampu menyerap tenaga kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran. Cara untuk mengetahui sejauh mana usaha tersebut layak atau tidak dijalankan, maka diperlukan suatu analisis usaha agar dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi usaha tersebut. Berdasarkan analisis usaha yang telah dilakukan menggunakan analisis R/C Ratio Usahatani jamur tiram dengan nilai kapasitas produksi 800 bungkus dan dengan harga jual Rp 2.500,nilai R/C Ratio 1,16 maka usaha ini menguntungkan dan dapat dilanjutkan.
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN CABAI RAWIT DI DESA GIRIMOYO KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Halimaking, Rosalina Ose; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Mutiara, Farah
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cayenne pepper (Capsicum frutescens L.) is one type of chili known as vegetables, spices or herbs that the community needs as a flavoring dish. The amount of availability with the amount of demand for cayenne pepper is not always balanced. This is due to the unstable number of chilies produced or the number of consumer demand so that the price of chili is not stable. The aim of this research is to analyze the factors influencing the demand of cayenne pepper, the most dominant factor and the response of pepper demand to the change of cayenne pepper price, red chili price, onion price and family income. Data collected from households were analyzed by multiple linear regression tests. The results of this research show that factors influencing the demand of cayenne pepper are the price of cayenne pepper, the price of red pepper, the price of onion, the number of family member and the family income. The most dominant factor influencing the demand of cayenne pepper is the price of cayenne pepper. The demand for cayenne pepper is inelastic. Cayenne pepper is a normal item, or an item whose number of requests increases if the income of the family also increases. Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu jenis cabai yang dikenal sebagai sayuran, rempah atau bumbu dapur yang diperlukan masyarakat sebagai penyedap masakan. Jumlah ketersediaan dengan jumlah permintaan cabai rawit tidak selalu seimbang. Hal ini disebabkan karena tidak stabilnya jumlah cabai yang diproduksi atau jumlah permintaan konsumen sehingga harga cabai tidak stabil. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor - faktor yang mempengaruhi permintaan cabai rawit, faktor yang paling dominan dan respon permintaan cabai terhadap perubahan harga cabai rawit, harga cabai merah, harga bawang merah dan pendapatan keluarga. Data yang dikumpulkan dari rumah tangga dianalisis dengan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukan bahwa, Faktor - faktor yang mempengaruhi permintaan cabai rawit adalah harga cabai rawit, harga cabai merah, harga bawang merah, jumlah anggota keluarga dan pendapatan keluarga, Faktor yang paling dominan mempengaruhi permintaan cabai rawit adalah harga cabai rawit. Permintaan cabai rawit bersifat inelastis. Cabai rawit merupakan barang normal, atau barang yang jumlah permintaannya meningkat apabila pendapatan keluarga juga meningkat.
ANALISIS PEMASARAN TANAMAN HIAS DI CV. TUNAS BARU MULYA KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG Merin, Aloysius; Yusnita, Eri; Arifatus, Ana
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pemasaran tanaman hias yang menguntungkan petani kita masih terbatas pada kemampuan dan manajemennya.Belum lagi kurangnya informasi mengenai pasar, besarnya biaya pemasaran panjangnya rantai pemasaran tanaman hias.Penentuan tempat penelitian dilakukan secara segaja dengan pertimbangan bahwa pertimbangan jarak lokasi penelitian dan potensi pengembangan usaha tani tanaman hias.Metode pengambilan contoh yang digunakan yaitu pengambilan contoh secara acak. Sedangkan metode pengumpulan data primer diperoleh dari petani dan pedagang yang terlibat langsung dalam proses produksi dan pemasaran.Biaya pemasaran yang dikeluarkan dalam proses pemasaran tanaman hias di CV. Tunas Baru Mulya adalah biaya transportasi. Penerimaan pendapatan dari pemasaran tanaman hias di CV. Tunas Baru Mulya diperoleh dari jumlah total produksi tanaman hias yang dihasilkan dikalikan dengan harga jual yang diterima dalam prose pemasaran tanaman hias sedangkan keuntungan pemasaran tanaman hias diperoleh dari total penerimaan dikurangi dengan biaya pemasaran tanaman hias.
PENGGUNAAN PAKAN KONSENTRAT HIJAU TERHADAP TINGKAT KONSUMSI DAN KECERNAAN BAHAN KERING, PROTEIN KASARDAN SERAT KASAR PADA KAMBING PERANAKAN ETAWA Ta'ena, Adelfina; Susanti, Sri; Fitasari, Eka
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of research was study the effect using 10-30% leaf meal on Green concentrate to feed intake and digestibility Etawah Croosbreed goat. The research was conducted in Klampok Village Singosari Subdistrict. The feed material used were rice bran, milled corn flour, soybean meal, coconut meal, mineral, molasses, and mixed of Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, Artocarpus heterophyllus leaf meal (1: 1: 1: 1 ratio) of 10%, 20% and 30% in green concentrate. Sixty male Etawah Croosbreed goat at the average body weight of 26,63 ± 2,07 kg arranged in Randomized Block Design (RBD) with 4 treatments and 4 groups. The treatments applied were P0 (basal diet+concentrate 18% crude protein/CP, without leaf meal), P1(basal diet+green concentrate 18% CP with 10% mixed leaf meal), P2 (basal diet+green concentrate 18% CP with 20% mixed leaf meal), P3(basal diet+green concentrate 18% CP with 30% mixed leaf meal). Basal diet concists of various kinds of leaves(Tithonia diversifolia, mixed grass, nimba leaf, groundnut straw, Centrosema pubescens, lier leaf, avocado leaf, mindi leaf, Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, cassava leaf, and Calliandra calothyrsus).The results showed that the use of 20% mixed leaf meal in green concentrate (CP 18%) gave to produce good levels of feed intake and digestibility in Etawah Crossbreed Goat. Penelitian bertujuan mempelajari penggunaan10-30% tepung daun dalam konsentrat hijau terhadap tingkat konsumsi pakan dan kecernaan kambing Peranakan Etawa.Penelitian dilaksanakan di Desa Klampok Kacamatan Singosari, analisis proksimat dilakukan di laboratorium nutrisi dan makanan ternak, Universitas Brawijaya. Bahan pakan yang digunakan adalah bekatul, jagung giling, bungkil kedelai, bungkil kelapa, mineral, molases dan campuran tepung daun Gliricidia maculata, Leucaena leucocephala, Calliandra calothyrsus, Artocarpus heterophyllusdengan perbandingan 1:1:1:1 sebanyak daun 10-30% dalam konsentrat hijau. Materi percobaan sebanyak 16 ekor kambing Peranakan Etawa jantan dengan bobot badan 26,63 ± 2,07 kg, dirancang dalam Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari 4 perlakuan dan 4 kelompok. Perlakuan yang diuji adalah: P0 (Pakan basal + Konsentrat tanpa campuran daun dengan PK), P1(Pakan basal+ Konsentrat hijau (tepung daun tepung gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% penggunaan tepung daun 10%),P2(Pakan basal + konsentrat hijau (tepung daun gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% penggunaan tepung daun 20%), P3(Pakan basal + konsentrat hijau (tepung daun gamal, tepung daun lamtoro, tepung daun kaliandra, dan tepung daun nangka) PK18% tepung daun 30%). Pakan basal yang diberikan paitan, rumput campuran, daun nimba, jerami kacang tanah, daun sentrosema, daun lier, daun alpukat, daun mindi, gamal, lamtoro, daun singkong, dan kaliandra. Hasil penelitian menunjukan penggunaan tepung daun gamal, lamtoro, kaliandra dan nangka dengan perbandingan (1:1:1:1) sebanyak 20% dan PK 18% dalam pakan konsentrat hijau dapat menghasilkan konsumsi dan kecernaan yang baik pada kambing peranakan etawa.
RESIDU JENIS BIOCHAR DAN WAKTU PEMBERIAN PUPUK NITROGEN PADA TANAMAN JAGUNG (Zea mays L) MUSIM TANAM KEDUA Aceng, Kasianus; Widowati, Widowati; Astutik, Astutik
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In general, degraded land means land degradation under his ability is characteristic of soil is experiencing degraded. The study aims to evaluate the impact of biochar and time of N fertilization on growth and yield of maize in the second cropping season. The research was conducted in the village of Jatikerto, Kromengan subdistrict, Malang. The research was carried in January-May 2016. The study was done in the field using a factorial randomized block design (RAK) Factor 1: rice hull biochar residue (B1), biochar young coconut waste (B2), biochar timber (B3). Factor 2 Award urea at 3,4,5 weeks after planting. There are 9 combinations of each treatment was repeated 3 times. The results showed that no interaction between biochar residue with a time of nitrogen fertilization on all observed variables. Biochar residue effect on leaf area, root dry weight, leaf dry weight, dry weight of cob, weight of 100 grains. Time nitrogen fertilization effect on plant height, leaf area, stem dry weight, leaf dry weight, total dry weight of the plant. Biochar residue type and time of nitrogen fertilization did not affect the results of corn. Secara umum tanah terdegradasi berarti penurunan kualitas tanah dibawah kemampuannya merupakan ciri tanah yang sedang mengalami terdegradasi. Penelitian bertujuan mengevaluasi dampak biochar dan waktu pemupukan N terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman jagung pada musim tanam kedua. Penelitian dilaksanakan di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Januari ? Mei 2016. Penelitian dilakuan di lapangan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok faktorial (RAK) Faktor 1: residu biochar sekam padi (B1), biochar limbah kelapa muda(B2), biochar kayu (B3). Faktor 2 pemberian pupuk urea pada minggu 3,4,5 setelah tanam. Ada 9 kombinasi perlakuan masing-masing diulang 3 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak terjadi interaksi antara residu biochar dengan waktu pemupukan nitrogen terhadap semua variabel yang diamati. Residu biochar berpengaruh pada luas daun, berat kering akar, berat kering daun, berat kering tongkol, berat 100 butir. Waktu pemupukan nitrogen berpengaruh pada tinggi tanaman, luas daun, berat kering batang, berat kering daun, berat kering total tanaman. Residu jenis Biochar dan waktu pemupukan Nitrogen tidak berpengaruh terhadap hasil jagung pipilan.