cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
Pengaruh Jenis Dan Konsesntrasi Bahan Pengikat (Binder)Terhadap Kualitas Fisiko-kimia Sosis Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) Serta Kelayakan Usaha Saja, Bernardus Bode; Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ikan tongkol sangat potensial untuk dikembangkan baik sebagai alternatif penghasil daging untuk meningkatkan nilai gizi masyarakat maupun sebagai sumber peningkatan pendapatan. Sosis umumnya dibuat dari daging yang dihaluskan, dicampur bumbu, bahan pengikati, bahan tambahan lain yang diizinkan dan diaduk dengan lemak kemudian dimasukkan ke dalam selongsong. Masalah utama pembuatan sosis dari daging ikan tongkol adalah pecahnya emulsi karena penggilingan, pemanasan yang berlebihan dan proses pengolahan terlampau cepat sehingga menyebabkan tekstur yang tidak kompak. Tujuan penelitian untuk mengetahui jenis dan konsentrasi bahan pengikat sosis ikan tongkol paling baik dan mengetahui kelayakan usaha sosis ikan yongkol. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap(RAL) yang terdiri dari dua faktor. Faktor I: Jenis bahan pengikat (tepung kedelai, Susu skim dan Putihtelur). Faktor II: Konsentrasi bahan pengikat (10%, 200%, 30%,),masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Untuk analisadata organoleptik dianalisa dengan uji Hedonik. Pemilihan perlakuan terbaikmenggunakan metode indeks efektifitas de Garmo dan metode multiple attribute. Penambahan jenis dan konsentrasi bahan pengikat (binder) berbeda nyata terhadap kadar air, abu, protein, karbohidrat, rasa, aroma,warna, tekstur. Perlakuan terbaik sosis daging ikan tongkol diperoleh dengan penambahan bahan pengikat putih telur 30% dengan skor kesukaan rasa 7,13, kesukaan aroma 6,83, tepung kedelai 30% dengan skor kesukaan warna 8,6, susu skim 30% dengan skor kesukaan tekstur 7,84 untuk parameter uji organoleptik. Sedangkan untuk parameter fisik dan kimia : Kadar air tertinggi (69,87%), terendah (56,44), Kadar abu tertinggi (4,28%), Kadar protein terttinggi 15,91% terendah 11,39%, Kadar lemak 1,67% terendah 0,28% dan Karbohidrat tertinggi 22,72% terendah 13,96%.
STRATEGI PENGEMBANGAN MATA AIR UMBULAN SEBAGAI KAWASAN WISATA SEJARAH Mone, Oris Ismael; Alfian, Rizki; Djoko, Riyanto
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Umbulan Water Springs is one area that has historical value that needs to be developed and preserved. Efforts to conserve aquatic ecosystems are necessary to ensure the sustainability of the utilization of springs as well as to prevent and cope with the negative impacts caused by the exploitation of the springs. The research was conducted at Mata Umbulan, Pasuruan Regency, East Java. Research activities are divided into three stages: data collection, data analysis using SWOT analysis, and formulation of recommendations. From the results of the research obtained several strategies from the SWOT matrix which then formulated into several priority strategies development Umbulan springs area is, utilizing government policy in terms of the development of historic areas in an effort to maintain and develop the historic area in the Umbulan springs, in cooperation with government agencies and universities to develop and preserve the Umbulan springs, multiply the plants around the springs by planting crops in an effort to conserve the springs environment, utilize retribution and maximize the participation of local communities in maintaining the sustainability of the area to improve the quality of water resources. The conclusion is the strategy of the development of the main springs area is an aggressive growth strategy (Growth oriented strategy), so the strategy that must be established in developing Umbulan Springs area as one of the historical tourism area in Pasuruan Regency is to support aggressive growth policy by exploiting opportunities and strengths that exist in the springs region. Mata Air Umbulan merupakan salah satu kawasan yang memiliki nilai sejarah yang perlu untuk dikembangkan dan dilestarikan. Upaya konservasi ekosistem mata air sangat diperlukan untuk menjamin keberlanjutan pendayagunaan mata air serta mencegah dan menanggulangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat kegiatan eksploitasi mata air. Penelitian dilaksanakan di Mata Air Umbulan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kegiatan penelitian terbagi dalam tiga tahap yaitu, pengumpulan data, analisis data menggunakan analisis SWOT, dan perumusan rekomendasi. Dari hasil penelitian diperoleh beberapa strategi dari matriks SWOT yang kemudian dirumuskan menjadi beberapa prioritas strategi pengembangan kawasan mata air Umbulan yaitu, memanfaatkan kebijakan pemerintah dalam hal pengembangan kawasan bersejarah dalam upaya menjaga dan mengembangkan kawasan bersejarah yang ada di kawasan mata air Umbulan, bekerja-sama dengan instansi pemerintah dan perguruan tinggi guna mengembangkan dan menjaga kelestarian mata air Umbulan, memperbanyak tanaman di sekitar kawasan mata air dengan menanam tanaman dalam upaya konservasi lingkungan mata air, memanfaatkan retribusi dan memaksimalkan peran serta masyarakat lokal dalam menjaga kelestarian kawasan guna meningkatkan kualitas sumber daya air. Diperoleh kesimpulan berupa strategi pengembangan kawasan mata air yang utama yaitu strategi pertumbuhan yang agresif (Growth oriented strategy), sehingga strategi yang harus ditetapkan dalam mengembangkan kawasan Mata Air Umbulan sebagai salah satu kawasan wisata sejarah di Kabupaten Pasuruan adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dengan memanfaatkan peluang dan kekuatan yang ada di kawasan mata air.
MOTIVASI DAN KOMPETENSI PENYULUH PERTANIAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN INTENSIFIKASI TANAMAN SAWI DI DESA BANJAREJO KEC. PAKIS, KAB. MALANG Jandu, Inosensius Harmin; Suwasono, Son; Muljawan, Rikawanto Eko
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Extension Agent as spearhead the implementation of the extension in the field is necessary to improve their competence according to the demands of changing times. It is therefore important to know the reality of the competence of agricultural extension.The purpose of this study is; ). To determine the role of agricultural extension Pakis subdistrict in the development of intensification of mustard. 2). To know the intensification of mustard plants in the district of fern has developed or undeveloped. This research use descriptive research quantitative, the study sample were farmers and extension workers. Data were collected using a questionnaire and analyzed mengganakan quantitative. From the results of this study indicate. 1). Extension implemented intensively by the extension so that the amount of vacant land has been reduced. 2) The real effect of an explanation is that in doing extension can change vacant land into land of mustard production. Penyuluh sebagai ujung tombak pelaksanaan penyuluhan di lapangan sangat perlu untuk meningkatkan kompetensinya sesuai tuntutan perubahan zaman. Oleh karena itu penting diketahui realitas kompetensi penyuluh pertanian, apa lagi hingga saat ini belum ada standar kompetensi yang jelas. Tujuan penelitian ini adalah ; ). Untuk mengetahui peranan penyuluh pertanian dalam pengembangan intensifikasi tanaman sawi. 2). Untuk mengetahui intensifikasi tanaman sawi di sudah berkembang atau tidak berkembang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kuantitattif, sampel penelitian adalah petani dan penyuluh. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis mengganakan analisis kuantitatif. Dari hasil penelitian ini menunjukan. 1). Penyuluhan di laksanakan secara intensif oleh para penyuluh sehingga jumlah lahan kosong sudah berkurang. 2) pengaruh nyata dari penjelasanya adalah penyuluh yang di lakukan bisa merubah lahan kosong menjadi lahan produksi sawi.
PENGARUH LAMA PERENDAMAN BENIH TEMBAKAU (NICOTIANA TABACCUM, LINN) TERHADAP VIABILITAS PERKECAMBAHAN Syanzani, Syanzani; Tirtosastro, Samsuri; Agastya, I Made Indra
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problems encountered in the development of nature tobacco include the provision of quality seeds. The purpose of this study was to determine the effect of long-time immersion on potential viability (VP) of tobacco seeds and the effect of immersion duration on viability of sub optimum of tobacco seed. The experimental design used was Completely Randomized (RAL) with long immersion factors including 0 hours, 24 hours, 48 hours, 72 hours, and 120 hours. The results showed that the duration of immersion gave of significant influence on the power of sprouting, growing speed, uniformity of growth, length of stem and root length, seed not normal. Duration immersion of real effect on stem length, but did not give real effect to dry weight and wet weight. Permasalahan yang cukup rumit dihadapi pada pengembangan tembakau diantaranya adalah penyediaan benih bermutu yang cukup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh lama perendaman benih terhadap viabilitas potensial (VP) benih tembakau dan viabilitas sub optimum benih tembakau. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Acak Lengkap (RAL) dengan faktor lama perendaman masing-masing 0 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam, dan 120 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama perendaman memberikan pengaruh yang nyata pada daya berkecambah, kecepatan tumbuh, keseragaman tumbuh, panjang batang dan panjang akar. Lama perendaman pengaruh nyata terhadap panjang batang, namun tidak memberikan pengaruh nyata terhadap bobot kering dan bobot basah.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMBUATAN JAMU INSTAN TEMULAWAK DAN DAUN KUMIS KUCING (TINJAUAN DARI PELAKUAN TERBAIK KOMBINASI MALTODEKSTRIN DAN TAPIOKA SEBAGAI BAHAN PENGISI) Kila, Kristina; Mushollaeni, Wahyu; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Traditional herbal medicine made from various natural materials, including from Curcuma xanthoriza Roxb and Orthosiphon spicatus B.B.S that are very potential to be developed into herbal medicine ingredients. Until now these two materials are still widely processed into herbal ingredients in the form of dry materials or processed by the community into herbal form liquid or brewed and not yet processed into herbal medicine in the form of instant. The process of making herbal medicine in the form of instantly requires the right filler. Instant food processed fillers are cheap and easy to find in the market is maltodekstrin and tapioca. However, no studies have revealed the use of these two fillers in the manufacture of instant herbs made from Curcuma xanthoriza Roxb and Orthosiphon spicatus B.B.S, as well as analyzing the feasibility of the business. Therefore, this study aims to determine the feasibility of the business of making instant herbal medicine made from Curcuma xanthoriza Roxb and Orthosiphon spicatus B.B.S, with a review of the best formulation of maltodextrin and tapioca as the filler. The best formulations for the use of maltodextrin and tapioca are 30% and 5%. The business feasibility analysis shows that instant herbs with 30% maltodextrin and 5% tapioca ratio are feasible because RCR value is more than 1 (1.1). Jamu tradisional dibuat dari berbagai bahan alam, diantaranya dari temulawak dan daun kumis kucing yang sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan obat herbal. Hingga saat ini kedua bahan tersebut masih banyak diolah menjadi bahan jamu dalam bentuk bahan kering atau diproses oleh masyarakat menjadi jamu bentuk cair atau seduhan dan belum banyak diproses menjadi jamu dalam bentuk instan. Proses pembuatan jamu dalam bentuk instan sangat membutuhkan bahan pengisi yang tepat. Bahan pengisi produk olahan pangan instan yang cukup murah dan mudah ditemui di pasaran adalah maltodekstrin dan tapioka. Namun demikian, belum ada peneliitian yang mengungkapkan penggunaan kedua bahan pengisi ini dalam pembuatan jamu instan berbahan temulawak dan daun kumis kucing, sekaligus menganalisa kelayakan usahanya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelayakan usaha pembuatan jamu instan berbahan temulawak dan daun kumis kucing, dengan tinjauan dari formulasi terbaik maltodekstrin dan tapioka sebagai bahan pengisi. Formulasi terbaik penggunaan maltodekstrin dan tapioka adalah 30% dan 5%. Analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa jamu instan dengan perbandingan maltodekstrin 30% dan tapioka 5%, layak diusahakan karena nilai RCR lebih dari 1 (1,1).
MODEL KOMUNIKASI YANG EFEKTIF MELALUI PENDEKATAN KELOMPOK TANI PEDESAAN DI KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG Lamapaha, Yohanes Visensius; Muljawan, Rikawanto Eko; Arvianti, Eri Yusnita
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model komunikasi yang efektif melalui pendekatan kelompok tani dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyuluh dalam melaksanakan model komunikasi pertanian yang efektif pada pendekatan kelompok tani di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang. Bentuk metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah, metode kualitatif yang dilakukan melalui observasi, wawancara dan kuesioner sedangkan jenis analisis yang digunakan yaitu analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukan model komunikasi yang efektif pada pendekatan kelompok tani pedesaan dikategorikan baik. Metode penyuluhan yang efektif pada pendekatan kelompok tani pedesaan yaitu: ceramah, diskusi dan praktek lapangan sedangkan media penyuluhan yang efektif pada pendekatan kelompok tani pedesaan di Kecamatan Pakisaji, Kabupaten Malang yaitu: poster, kender, buku-buku tentang pertanian dan handphone. Faktor yang mempengaruhi penyuluh dalam melaksanakan model komunikasi yang efektif pada pendekatan kelompok tani pedesaan adalah motivasi penyuluh, sikap penyuluh dan pengetahuan penyuluh. Motivasi penyuluh dapat dikategorikan sangat baik sedangkan sikap dan pengetahuan penyuluh adalah baik.
KECERNAAN INVITRO FERMENTASI PUCUK TEBU MENGGUNAKAN UREA DAN MOLASES Ay, Apriyanto Nyali; Iskandar, Ahmad; Marhaeniyanto, Eko
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted with the aim of knowing the dry matter content, organic matter, dry matter and organic matter digestibility. The study was conducted in the Central Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University Malang for the stages of fermentation of sugarcane shoots using urea and molasses. For the second stage was the analysis of dry matter, digestibility of dry matter and organic matter, digestibility of organic matter for in vitro experiments using the Tilley and Terry method (1963) in the Animal Husbandry Nutrition and Food Laboratory, Malang. The research materials were sugar cane shoots, urea and molasses. The experimental method using a completely randomized design (CRD). Consists of 4 treatments and 6 replications. Each treatment unit was carried out in in vitro tests in duplicate. The description of treatment were P0: Cane shoots (Control), P1: Sugarcane shoots + Urea 5%, P2: Sugarcane shoots + 10% Molasses, P3: Sugarcane shoots + 5% Urea + 10% Molasses. The results showed a very significant effect (P
PENGARUH TINGKAT PROTEIN RANSUM TERHADAP AME (APPARENT METABOLIZABLE ENERGY), KECERNAAN BAHAN ORGANIK, DAN KECERNAAN ABU PADA ITIK MOJOSARI JANTAN DAN BETINA FASE GROWER Ndakulahi, Yesua Mbura; Fitasari, Eka; Supartini, Nonok
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study was to find the percentage of protein level in ration to the metabolic energy, organic matter and ash digestibilityon Mojosari male and female duck at grower phase. This research was conducted in field laboratory of Tribhuwana Tunggadewi Malang University with adaptation period from 31 October to 21 November 2016, the ducks that used were Mojosari, 12 male and 12 female ducks with the average body weight of 1485 g ± 41.55 . The protein levels administered were 16%, 18%, 20% using the proximate analysis which would be formulated into the feed treatment to observe their effect on energy metabolism, organic matter and ash digestibility. Field research using experimental methods with a completely randomized design pattern Nested on gender.The results showed that the protein level of 16%, 18%, 20%, gave a very real effect on the digestibility of AME (Apparent Metabolizable Energy), the average digestibility of the highest ranged from 2687.56 kcal / kg to 3042.79 kcal/kg. The highest metabolic energy value was obtained from male duck which received 20% protein treatment (3042,79 kcal / kg).The average organic matter digestibility from the highest was (87,26%), (87,20%), (86,91%), (85,64%), (85,55%), and (85,32%). It showed that the protein did not affect the digestibility of organic matter. The mean of ash digestibility from the highest was (46,62%), (43,68%),(41,42%), (37,75%),(35,08%), and (29,74%).Protein had no effect on the digestibility of ash. Tujuan penelitian adalah mencari prosentase penggunaan level protein dalam ransum terhadap energi metabolis, kecernaan bahan organik dan abu pada itik Mojosari jantan dan betina fase grower. Penelitian ini dilakukan di laboratorium lapangan Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang dengan periode adaptasi dari tanggal 31 Oktober sampai 21 November 2016, itik yang digunakan adalah itik Mojosari, 12 ekor jantan dan 12 betina betina dengan bobot rata-rata 1485 g ± 41,55. Tingkat protein yang diberikan adalah 16%, 18%, 20% menggunakan analisis proksimat yang akan diformulasikan menjadi pakan perlakuan untuk mengamati pengaruhnya terhadap metabolisme energi, bahan organik dan kecernaan abu. Penelitian lapangan menggunakan metode eksperimental dengan pola disain acak lengkap Tersusun atas jenis kelamin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat protein 16%, 18%, 20%, memberikan efek yang sangat nyata terhadap kecernaan AME (Apparent Metabolizable Energy), kecernaan rata-rata yang tertinggi berkisar antara 2687,56 kkal / kg sampai 3042,79 kkal / Kg. . Nilai energi metaboliS tertinggi diperoleh dari itikjantan yang mendapat perlakuan protein 20% (3042,79 kkal / kg). Rata-rata kecernaan bahan organik dari yang tertinggi adalah (87,26%), (87,20%), (86,20%), (85,64%), (85,55%), dan (85,32% ). Ini menunjukkan bahwa protein tidak mempengaruhi daya cerna bahan organik. Rata-rata kecernaan abu dari yang tertinggi adalah (46,62%), (43,68%), (41,42%), (37,75%), (35,08%), dan (29,74% ). Protein tidak berpengaruh terhadap kecernaan abu.
KOMPOSISI MEDIA TANAM DENGAN APLIKASI BIOCHAR PADA PEMBIBITAN TEMBAKAU VIRGINIA SISTEM NAMPAN (TRAY) Anggarbeni, Susilo Ribut; Tirtosastro, Samsuri; Widowati, Widowati
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tembakau virginia adalah salah satu jenis tembakau yang banyak digunakan sebagai bahan baku kretek dan jenis-jenis rokok yang lain. Salah satu faktor yang penting untuk menghasilkan tanaman tembakau yang baik adalah tersedianya bibit yang baik. Media pembibitan yang sesuai adalah salah satu faktor yang menentukan untuk mencapai hasil bibit yang baik. Biochar adalah produk pirolisis dari limbah petanian yang bersifat porous dan sesuai untuk tempat tinggal mikrobia tanah. Namun demikian berbeda dengan pupuk kandang, biochar tidak menyediakan sumber makanan untuk mikrobia tanah tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari optimasi penggunaan pupuk organik biochar pada pembibitan tembakau sistem nampan. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juni sampai dengan Agustus 2013, di Laboratorium Rumah Kaca Universitas Tribhuwana Malang. Rancangan percobaan adalah acak lengkap faktorial dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama adalah media tanah dan tanah dicampur pasir. Faktor kedua adalah dosis biochar masing-masing 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Parameter yang diamati adalah tinggi bibit, jumlah daun, diameter batang, panjang daun, lebat daun dan bobot kering bibit. Pengamatan dilakukan pada umur bibit 30, 35, 40, 45, 50, 55, 60 dan 65 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara komposisi media tanah terhadap beberapa dosis biochar. Pengaruh nyata terjadi pada komposisi biochar, masing-masing terhadap diameter batang dan tinggi bibit. Komposisi 10-15% biochar didalam media tanah menghasilkan bibit tertinggi pada umur 55-60 hari. Sedangkan penambahan biochar 5-20% akan menghasilkan diameter bibit paling tinggi pada umur 60-65 hari. Berdasar hasil penelitian ini dapat disimpulakn bahwa penambahan biochar 10% pada media dapat meningkatkan tinggi dan diameter bibit pada umur bibit 60 hari.
KONSENTRASI EKSTRAK DAUN SINGKONG SEBAGAI PEREDUKSI FORMALIN DAN LAMA PERENDAMAN PADA MIE BASAH Ola, Ramdan; Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The reduction of formalin content in food is done in various ways, one of them is by using natural ingredients such as cassava leaf extract which contains saponin compounds. Saponin may bind formalin so that the content of dissolved formaldehyde in food is reduced. The purpose of this research was to know the concentration level of cassava leaf extract and soaking time in reducing the content of formalin in wet noodles (fresh noodles). This research used a Factorial Random Design (RAL). Factor B: The concentration of cassava leaf extract consisted of four levels (0%, 3%, 6%, 9%) and L factor: The immersion period consisted of three levels (15 minutes, 30 minutes, and 45 minutes). So it involved 12 treatments and each treatment was repeated two (2) times. So the sample of this study was as many as 24 experimental samples. The data obtained were then analyzed by Analysis of Variant (Anova) in order to know whether there was a difference between treatments. If there were any differences would be continued with BNT test. The chemical test parameters were formalin test (visual), pH test, and color test (L, a *, b *). From the three parameters of the test based on the count of the best treatment effectiveness index was found on concentration of 6% cassava leaf extract and 30 minutes immersion time with pH value 0,29, Color L 0,16, a * 0,11, b * 0,04. Pengurangan kadar formalin pada bahan pangan dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya menggunakan bahan alami ekstrak daun singkong yang mengandung senyawa saponin. Saponin dapat mengikat formalin sehingga kadar formalin yang terlarut dalam bahan pangan berkurang. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui tingkat konsentrasi ekstrak daun singkong dan lama perendaman dalam mereduksi kandungan formalin pada mie basah. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial. Faktor B : Konsentrasi ekstrak daun singkong terdiri dari 4 taraf (0%, 3%, 6%, 9%) dan faktor L : Lama perendaman terdiri dari 3 taraf yaitu (15 menit, 30 menit, dan 45 menit). Sehingga melibatkan 12 perlakuan dan masing-masing perlakuan diulang sebanyak dua (2) kali. Maka sampel penelitian ini sebanyak 24 sampel percobaan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan Analisis of Variant (Anova) dengan tujuan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antara perlakuan, jika ada perbedaan akan dilanjutkan dengan uji BNT. Adapun parameter uji secara kimia yakni uji formalin (visual), uji pH, dan uji warna (L, a*, b*). Dari ketiga parameter uji tersebut berdasarkan hitungan indeks efektivitas perlakuan terbaik terdapat pada (konsentrasi ekstrak daun singkong 6% dan lama perendaman 30 menit) dengan nilai pH 0,29, Warna L 0,16, a* 0,11, b* 0,04.