cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERHASILAN PENYULUHANPADI SAWAH DI DESA KEBONAGUNG KECAMATAN PAKISAJI MALANG Mahalli, Mahalli; Suwasono, Son; Arvianti, Eri Yusnita
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman utama pertanian di Indonesia adalah Padi merupakan tanaman pangan yang menghasilkan beras sebagai sumber makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia. Pada pelita IV Indonesia pernah menjadi salah satu negara pengeksport beras yaitu dengan dicapainya swasembada beras. Namun saat ini Indonesia kembali terpuruk menjadi negara pengimport beras. Demikian juga lahan pertanian yang semakin sempit sebagai salah satu penyebab utamanya (Harsono, D. 2009) Penelitian dilaksanakan di Desa Kebonagung Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang. Waktu penelitian dimulai pada bulan April 2015 mulai dari peninjauan lokasi, dari persiapan, wawancara, pengolahan dan interpretasi data sampai dengan pembuatan laporan.Populasi adalah keseluruhan subyek yang akan diteliti dalam suatu penelitian (Slovin, 2006 : 164). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi dalam penelitian adalah semua kelompok tani yang ada di Desa Kebonagung Pakisaji Malang yang terdiri dari 4 kelompokTeknik Pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive samplingprobability yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu sesuai dengan kriteria yang ditentukan penulis (Sugiyono:2012). Metode pengumpulan data dengan observasi digunakan bila penelitian berkenaan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila informan yang diamati tidak terlalu besar (Sugiyono , 2005). Dilihat dari tabel di atas menunjukkan bahwa Besarnya kontribusi tingkat pendidikan penyuluh, media penyuluhan, materi penyuluhan, dan komunikasi terhadap keberhasilan penyuluhan dapat diketahui melalui koefisien determinasinya (adj R2) yaitu sebesar 0.237(23.7%). itu artinya ada hubungan pada variabel tersebut dan mempunyai nilai positif. Maka dari itu hubungan antara variabel-variabel berikut sangat dekat dan positif. Pengujian hipotesis secara parsial variabel media penyuluhan menghasilkan nilai t hitung sebesar 1.076 dengan probabilitas sebesar 0.291. Hasil pengujian tersebut menunjukkan thitung< ttabel (2.042) atau probabilitas >level of significance (?=5%), sehingga H0 diterima. Hal ini berarti tidak terdapat pengaruh signifikan media penyuluhan terhadap keberhasilan penyuluhan.
APLIKASI PUPUK KASCING DAN BIOCHAR SEKAM PADI PADA TANAMAN JAHE(Zingiberoffcinale Rosc.) Mulidin, Hironimus; Lestari, Sri Umi; Indawan, Edyson
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was to evaluate the application of vermicompost and biochar for the growth and yieldsof ginger atharvested early. This research has been carried out in September to December 2017, in Gading Kulon Village, Dau District, Malang, and East Java.This study useda Randomized Complete Block Design (RCBD) with two factors and four replications. The first factor is the vermicompost application with 4 levels, namely K0 (0 kg/ploybag), K1 (0.5 kg/polybag), K2 (1.0 kg/polybag) and K3 (1.5 kg/polybag), while the second factor is the application of rice husk biochar with 4 levels, including B0 (0 kg/ploybag), B1 (0.5 kg/polybag), B2 (1.0 kg/polybag) and B3 (1.5 kg/polybag). Thus there are 16 treatment combinations, each repeated 4 times. Height, number of shoots, rhizome fresh weight, stover fresh weight, % dry matter of rhizome,%dry matter of stover, rhizome dry weight, stover dry weight, biomass dry weight, and harvest index are determined. Observation of plant height and number of shoots was carried out 5 times, namely at the 14, 28, 42, 56 and 70 days after planting.The results showed that the application of vermicompost fertilizer significantly affected plant height at the 56 days after planting and biomass dry weight, while the application of rice husk biochar had a significant effect on plant height at the 56 days after planting measurement, % dry matter of stovers, and biomass dry weight. There was not interaction between giving vermicompost fertilizer and rice husk biochar to all parameter,s observed. Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pemberian pupuk kascing dan biochar terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman jahe gajah saat panen muda. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September sampai dengan Desember 2017, di Desa Gading Kulon, Kecamatan Dau, Malang Jawa Timur. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial yang terdiri dari 2 faktor yaitu Faktor I adalah pemberian pupuk kascing, diberikan dengan dosis 0 kg/polybag (K0), 0,5 kg/polybag (K1), 1 kg/polybag (K2), dan 1,5 kg/polybag (K3). Faktor II adalah pemberian biochar sekam padi, diaplikasikan dengan dosis 0 kg/polybag (B0), 0,5 kg/polybag (B1), 1 kg/polybag (B2), dan 1,5 kg/polybag (B3). Dengan demikian terdapat 16 kombinasi perlakuan, masing-masing diulang sebanyak 4 kali. Pengamatan meliputi tinggi, jumlah tunas, berat basah rimpang, berat basah brangkasan, % berat kering rimpang, % berat kering brangkasan, berat kering rimpang, berat kering brangkasan, berat kering biomassa tanaman dan indeks panen. Pengamatan tinggi tanaman dan jumlah tunas dilakukan sebanyak 5 kali yaitu pada umur 14 hari setelah tanam (hst), 28 hst, 42 hst, 56 hst dan 70 hst.Hasil penelitian Pemberian pupuk kascing berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 56 hst dan berat kering brangkasan tanaman jahe gajah. Pemberian biochar sekam padi berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada umur 56 hst, % berat kering brangkasan dan berat kering biomasa tanaman Jahe Gajah. Tidak ditemukan adanya interaksi antara perlakuan pemberian pupuk kascing dan biochar sekam padi terhadap semua para meter yang diamati.
SELEKSI INDIVIDU HASIL PERSILANGAN TERBUKA PADA TANAMAN UBIJALAR (Ipomoea batatas L.) Widarsono, Kasianus; Lestari, Sri Umi; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this research is to evaluate and selected genotypes in the halfsib populations obtained from open crosses to the high yield potential with the criteria of ?0.5 kg / plant. This research was conducted in al of Brawijaya university, located Jatikerto Village, Kromengan District, Malang. The research was conducted in May 2016 until September 2016. Five open-ended halfsib families were used in this study, including 73-6/2 OP (62 genotypes), Sukuh OP (56 genotypes), Cilembu OP (67 genotype), Yellow Red OP (57 genotype), and Yellow White OP (56 genotype). The five families were planted on a single 60 cm long Single Row plot arranged in 5 experimental blocks. Each family was placed in 1 experimental block, planted together with five female parent clones, namely 73/6-2, Sukuh, Cilembu, Red Brass, and White Brass. Each parent in each experimental block was planted 10 cuttings. Plants were harvested at the age of 3.5 to 4 months and observed the number of root / tubers, fresh tuber weight (kg/plant), fresh weight of stems (kg / plant),% dry weight of root,% dry weight of stover,/plant), dry weight of stubble (kg/plant), dry weight of biomass (kg/plant) and harvest index. Data analysis based on observation parameters was done using analytical method based on Augmented Randomized Trial Design. The results of this research explain that based on root selection criteria ?0.5 kg/plant of 298 genotypes can be selected 53 genotypes, and 18 genotypes including weight of root ?0.75 kg/plant and 11 genotypes have root weight ?1.00 kg/plant. The halfsib red brass family of OPs has the highest number of selected genotypes of 28 selected genotypes among other halfsib families. The number of genotypes that have the highest yield of root ?0.5 kg/plant is obtained in half family of Red Brass OP, which is 24.56% compared to the other four families of halfsib. The average number of root and the highest root weight was found in the half-family of Red Brass OP ie each of 4.00 bulbs and 0.78 kg of fresh root / plants. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi dan menyeleksi genotipe-genotipe terpilih pada populasi halfsib yang diperoleh dari persilangan terbuka terhadap potensi hasil tinggi dengan kriteria ?0.5 kg/tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Pelaksanaan Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 sampai dengan bulan September 2016. Lima famili halfsib hasil persilngan terbuka digunakan dalam penelitian ini , meliputi 73-6/2 OP ( 62 genotipe), Sukuh OP (56 genotipe), Cilembu OP (67 genotipe), Kuning Merah OP (57 genotipe), dan Kuning Putih OP ( 56 genotipe). Kelima famili tersebut ditanam pada petakan Single Row yang berukuran lebar 60 cm yang disusun dalam 5 blok percobaan. Setiap famili diletakan dalam 1 blok percobaan, ditanam bersama-sama dengan 5 klon induk betinanya, yakni 73/6-2 , Sukuh, Cilembu, Kuningan Merah, dan Kuningan Putih. Masing-masing induk pada setiap blok percobaan ditanam 10 stek. Tanam dipanen pada umur 3,5 sampai 4 bulan dan diamati Jumlah umbi/tanaman, Bobot umbi segar (kg/tanaman), Bobot segar brangkasan (kg/tanaman), % bobot kering umbi, % bobot kering brangkasan, Bobot kering umbi (kg/tanaman), Bobot kering brangkasan (kg/tanaman), Bobot kering biomassa (kg/tanaman) dan Indeks panen. Analisis data berdasarkan parameter pengamatan dikerjakan menggunakan metode analisis berdasarkan Rancangan Percobaan Acak Kelompok Augmented. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa berdasarkan kriteria seleksi hasil umbi ?0.5 kg/tanaman dari 298 genotipe dapat dipilih 53 genotipe, dan 18 genotipe diantaranya memiliki bobot umbi ?0.75 kg/tanaman serta 11 genotipe memiliki bobot umbi ?1.00 kg/tanaman. Famili halfsib Kuningan Merah OP memiliki jumlah genotipe terseleksi paling tinggi yakni 28 genotipe terseleksi diantara famili halfsib lainnya. Jumlah genotipe yang memiliki potensi hasil umbi ?0.5 kg/tanaman tertinggi diperoleh pada famili halfsib Kuningan Merah OP, yakni sebesar 24,56% dibandingkan dengan ke empat famili halfsib lainnya. Rerata jumlah umbi dan bobot umbi tertinggi ditemukan pada famili halfsib Kuningan Merah OP yaitu masing-masing sebesar 4,00 umbi dan 0,78 kg umbi segar/tanaman.
Pengaruh Konsentrasi Asap Cair Dan Garam Terhadap Kualitas Ikan Lele Asap Serta Analisa Usahanya Gesi, Rofinus; Santosa, Budi; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kombinasi perlakuan terbaik dalam pembuatan ikan lele asap serta untuk mengetahui analisa kelayakan usaha pembuatan ikan lele asap. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor. Faktor I yaitu Asap Cair yang terdiri dari 3 level 1 % ; 2 % ; 3 % dan faktor II yaitu Garam yang terdiri dari 3 level 5%; 7,5%; 10% dengan 3 kali ulangan sehingga menghasilkan 27 sampel. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan terbaik terdapat pada konsentrasi Asap cair 2% dan konsentrasi Garam 10% dengan memiliki nilai NH sebesar 1,48. Serta mempunyai rata-rata kadar air 12,44%, kadar lemak 20,78%, kadar protein 12,44%, rasa 4,03%, aroma 3,98%, tekstur 3,69%. Perlakuan terbaik setelah dilakukan analisa usaha, layak diusahakan karena mempunyai nilai RCR sebesar 1,1 dan HPP sebesar 3.089 /bks
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG LIMBAH IKAN TERHADAP PERTAMBAHAN BERAT BADAN DAN KONVERSI PAKAN TERHADAP FASE FINISHER AYAM PEDAGING Deba, Yusak; Supartini, Nonok; Darmawan, Hariadi
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted on May 08, 2016 until finished on June 22, 2016 at Tribhuwana Tunggadewi Malang University Laboratory in KarangMloko Village, Junrejo Sub-district, Malang Regency. The purpose of this study is to determine the nutrient content contained in fish waste disposal waste and to determine the effect of wheat flour to the weight gain fish meal fish meal. The materials used are 100 day broiler (DOC), Lohman Platinum strain, PT.Multibreeder Adirama Indonesia., Which is maintained for 40 days. This research used 5 treatments: P0 (formulation feed), P1 (feed formulation mixed with 18% fish waste), P2 (feed formulation mixed with 19% fish waste), P3 (feeding formula mixed with 20% flour fish) P4, Formulation Feed mixed with 21% tepug fish waste) and repeated 4 times. The variables observed were weight gain (feed consumption and feed conversion). The method used in this research is the field experimental method using Completely Randomized Design (RAL). From the results of the study of the addition of broiler chicken weight given wheat flour, it can be concluded that the protein content and crude fiber in fish meal flour is still high enough to be proven from the influence of use. Fish waste powder can produce an average increase in body weight of broiler 9.774 kg with an average 0.62% weight gain. Based on the data, it was found that feeding with 15% fish meal gave the highest influence on feed consumption, weight gain and feed conversion (P0 3452, P1 3396, P2 3511, P3 3477, P4 3472 kg) (P0 1,231, P1 1,124, P2 1.065, P3 1.009, P4 1.064%). And (P0 1,64 P1 1,71 P2 1,91 P3 2,00 P4 2,02) For that, it is suggested to need more research about the use of fish powder feed with proportion 18% in ration Low protein content again And Need further test to know the capacity of flour fish meal. Penelitian dilaksanakan tanggal 08 mei 2016 sampai tanggal 22 juni 2016 di Laboratorium Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang di Desa Karang Mloko, Kecamatan Junrejo,Kabupaten Malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan nutrisi yang terdapat pada Tepung limbah limbah ikan serta mengetahui pengaruh tepung limbah ikan terhadap pertambahan bobot badan yang diberi pakan tepung limbah ikan. Materi adalah 100 ekor broiler umursehari (DOC), strain Lohman Platinum, PT. Japfa Comfeed Indonesia tbk, yang dipelihara selama 40 hari. Penelitian menggunakan 5 perlakuan: P0 (pakan formulasi), P1 (pakan formulasi dicampur dengan 18 % limbah ikan),P2 (pakan formulasi dicampur dengan 19% tepung limbah ikan ), P3 (pakan formulasi dicampur dengan 20% tepung limbah ikan) P4, (pakan formulasi dicampur dengan 21% tepung limbah ikan ).Variabel yang di amati adalah pertambahan bobot badan (Konsumsi pakan dan Konversi pakan ). penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap ( RAL). Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kandungan protein dan serat kasar pada pakan yang tepung limbah ikan masih cukup tinggi sehingga terbukti pengaruh penggunaan tepung limbah ikan dapat menghasilkan pertambahan bobot badan broiler 9,774 kg dengan pertambahan bobot badan 0,62 %. pemberian pakan yang tepung limbah ikan 15% memberikan pengaruh tertinggi pada Konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan Konversi pakan yaitu berurutan (P0 3452, P1 3396, P2 3511, P3 3477, P4 3472 kg) (P0 1.231, P1 1.124, P2 1.065, P3 1.009, P4 1.064%). dan (P0 1,64 P1 1,71 P2 1,91 P3 2,00 P4 2,02 ) Untuk itu, disarankan untuk perlu penelitian lebih lanjut mengenai penggunaan pakan tepung limbah ikan dengan proporsi 18% dalam ransum yang kandungan proteinnya lebih rendah lagi dan perlu uji lanjut untuk mengetahui daya simpan dari limbah tepung ikan.
KELAYAKAN FINANSIAL PRODUKSI BUBUK KACANG HITAM (Cajanus sp.) TERFERMENTASI MENGGUNAKAN KULTUR Lactobacillus sp. Yustiadi, Yayat; Mushollaeni, Wahyu; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Black bean (Cajanus sp.) is a local bean that comes from Nusa Tenggara. The advantages of black beans is a high potential and are in a big amount. The black bean processing into a food product fermented using Lactobacillus sp. culture has not been done and has not been calculated for its financial feasibility. The purpose of this study was to analyze the financial feasibility of the production of fermented black bean powder cultured by Lactobacillus sp. on a household scale industries. The results showed that the capacity of 20 kg of black bean per day obtained a capital investment of 8,852,550.00 IDR and the operational cost is 22,440,000.00 IDR per year. Calculations made within a year and found the cost of production (HPP) is 1,300 IDR per 100 grams. The profit of 25% of HPP is 40,358 IDR per day. Break Even Point (BEP) is Rp 34,715,347, and obtained the value of RCR at 1.31 per unit. Kacang hitam (Cajanus sp.) merupkan kacang lokal yang berasal dari Nusa Tenggara yang mempunyai keunggulan dibandingkan dengan jenis Leguminosae yang lain. Keunggulan kacang hitam adalah potensinya yang tinggi dan terdapat dalam jumlah yang melimpah. Pengolahan kacang hitam tersebut menjadi produk pangan terfermentasi dengan menggunakan kultur Lactobacillus sp. belum pernah dilakukan dan dihitung kelayakan finansialnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa kelayakan finansial dari produksi bubuk kacang hitam terfermentasi dengan kultur bakteri Lactobacillus sp. pada skala industri rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan kapasitas produksi per hari sebesar 20 kg kacang hitam, dibutuhkan modal investasi sebesar Rp 8,852,550.00 dan biaya operasional sebesar Rp 22,440,000.00 per tahunnya. Perhitungan finansial yang dilakukan dalam jangka setahun, didapatkan harga pokok produksi (HPP) sebesar Rp 1.300 per 100 gram. Keuntungan 25% dari HPP didapatkan laba bersih sebanyak Rp 40.358 per hari. Perhitungan Break Event Point (BEP) adalah sebesar Rp 34.715,347, dan nilai RCR sebesar 1,31 per unit.
NILAI EKONOMIS BUDIDAYA ULAT SUTERA Samia cynthia ricini PEMAKAN DAUN SINGKONG DENGAN FREKUENSI PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA (Study Kasus Model Budidaya Ulat Sutera Dikota Malang) Saramoni, Riswanto; Sumarno, Sumarno; Setiyawan, Ahmad Iskandar
Fakultas Pertanian Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The frequency of silkworm feeding requirements will affects the nutritional needs, the percentage of yarn and the resulting cocoon quality, which impact on the economic value of the development of silkworm breeding. This study aimed to determine the efficient economic value of silkworm breeding with different feeding frequency. The research was conducted from August to September 2016 in Aneka Ternak Laboratory of Tribhuwana Tunggadewi University of Malang. The material used was a silkworm typed Samia cynthia ricini. The experiments were grouped into 4 treatments. The feeding frequency treatment given was P1 (feeding every 3 hours/day), P2 (feeding every 4 hours/day), P3 (feeding every 5 hours/day), P4 (feeding every 6 hours/day). The variables observed were feed consumption, weight of cocoon, production cost, revenue, and profit. The results showed that the highest feed consumption was P4 treatment of 3378.5 g and the lowest was P1 treatment of 2980.6 g. The highest cocoon weight was P4 treatment of 326.15 g and the lowest was P1 treatment of 283.38 g. The highest production cost is P4 treatment of Rp. 37.026 and the lowest is P1 treatment of Rp. 35.226. The highest acceptance is P4 treatment of Rp. 6,523 and the lowest is P1 treatment of Rp. 5.667. The highest loss is P4 treatment of Rp.30,503 and the lowest is P1 treatment of Rp.- 29,559. The economic value of silkworm cultivation of Samia cynthia ricini with different feeding frequency was not efficient because silkworm breeding had a loss. This was due to the high variable cost of silkworm feeding cost incurred during the production period could not be covered by the number of profits obtained. Frekuensi pemberian pakan ulat sutera akan mempengaruhi kebutuhan nutrisi, persentase benang dan kualitas kokon yang dihasilkan, yang berimbas terhadap nilai ekonomis dari pengembangan budidaya ulat sutera. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai ekonomis yang efisien dari budidaya ulat sutera dengan pemberian frekuensi pakan yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai September 2016 di Laboratorium Aneka Ternak Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Materi yang digunakan adalah ulat sutera Samia cynthia ricini. Percobaan dikelompokan menjadi 4 perlakuan. Perlakuan frekuensi pemberian pakan yang diberikan adalah P1 (pemberian pakan setiap 3 jam/hari), P2 (pemberian pakan setiap 4 jam/hari), P3 (pemberian pakan setiap 5 jam/hari), P4 (pemberian pakan setiap 6 jam/hari). Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, bobot kokon, biaya produksi, penerimaan dan keuntungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsumsi pakan yang tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar 3378,5 g dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar 2980,6 g. Bobot kokon tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar 326,15 g dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar 283,38 g. Biaya produksi tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar Rp. 37.026 dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar Rp. 35.226. Penerimaan tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar Rp. 6.523 dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar Rp. 5.667. Kerugian tertinggi adalah perlakuan P4 sebesar Rp.-30.503 dan terendah adalah perlakuan P1 sebesar Rp.- 29.559. Nilai ekonomis dari budidaya ulat sutera Samia cynthia ricini dengan frekuensi pemberian pakan yang berbeda tidak efisien karena mengalami kerugian. Hal ini disebabkan karena tingginya biaya variabel (biaya pakan) yang dikeluarkan selama masa produksi tidak dapat ditutupi dengan keuntungan yang diperoleh.
ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN BAWANG MERAH DI DESA BANJAREJO KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG Ubu Weking, Maria Magdalena Prasedis; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Suwasono, Son
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Red onion is used as cooking spice and its role can not yet be replaced by other types of crops so that onion farming is profitable for farmers but farmers still experience constraints on marketing the results. The issue of onion marketing is inseparable from the farmer institution that has not functioned optimally and the capital institution has not been reached for the farmers. The purpose of this study is to analyze the cost of production, marketing channels, profit middlemen and the efficiency of onion marketing. Research location in Banjarejo Village, Ngantang District, Malang Regency. The method used in this study is purposive sampling with a sample of 70 people, data analysis techniques used in this study that is, calculate the marketing margin, share price. The research data was collected by distributing questionnaires. The conclusion of this study the amount of cost incurred by each marketing agency have an effect on the price determination of onion, marketing channel of shallots used by farmers are Farmers - Consumers, Farmers - Wholesalers - Retailers - Consumers, Farmers - Wholesalers - Wholesalers - Retailers Intercity - Consumers, Farmers who directly sell the results of onion farming to consumers get more benefits than using other marketing channels. The marketing channels II and III as a whole are not efficient yet, but as an alternative farmers can use marketing channel II, considering separately the share price of farmers exceeds the minimum minimum efficient. Bawang merah digunakan sebagai bumbu masakan dan perannya belum dapat digantikan oleh jenis tanaman lainnya sehingga usahatani bawang merah menguntungkan bagi petani akan tetapi petani masih mengalami kendala pada pemasaran hasil. Permasalahan pemasaran bawang merah tidak terlepas dari kelembagaan petani yang belum berfungsi secara optimal dan lembaga permodalan belum terjangkau bagi petani. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis biaya produksi, saluran pemasaran, keuntungan tengkulak dan efisiensi pemasaran bawang merah. Lokasi penelitian di Desa Banjarejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan sampel sebanyak 70 orang, teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yakni, menghitung marjin pemasaran, share harga. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menyebarkan angket. Kesimpulan dari penelitian ini besarnya biaya yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran berpengaruh terhadap penentuan harga jual bawang merah, Saluran pemasaran bawang merah digunakan oleh petani adalah Petani ? Konsumen, Petani ? Tengkulak ? Pengecer ? Konsumen, Petani ? Tengkulak ? Pedagang Besar ? Pengecer Antarkota ? Konsumen, Petani yang langsung menjualkan hasil pertanian bawang merah ke konsumen mendapatkan keuntungan lebih besar daripada menggunakan saluran pemasaran lain. Saluran pemasaran II dan III secara keseluruhan belum efisien, namum sebagai alternatif petani dapat menggunakan saluran pemasaran II, mengingat secara terpisah share harga petani melampui batas minimum efisien.
NTRM (NON TOBACCO RELATED MATERIAL) TEMBAKAU RAJANGAN MADURA PADA PETANI NON KEMITRAAN Mustafa, Junius Velly; Tirtosastro, Samsuri; Rozana, Rozana
Fakultas Pertanian Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

NTRM (Non Tobacco Related Material) is the others material beside tobacco that have big opportunity to become the dangers material source, besides distruping the production process and aesthetics. This study aims to identify the NTRM kinds on Madura cut tobacco from non-partner farmers or free farmers which has nothing to do with the company in the tobacco production process. The location of this research is in Pamekasan county madura island. Sampling in this research used non-probability sampling technique method. Selected farmers who met the criteria for planting and processing their own tobacco leave then will be sold to the free market. Farmers plan and process their own tobacco leaves in to ranjangan Madura tobacco. Selected farmers are from Galis village and Kadur village of Galis district, Asampitu village, Kretek village, and Bulai village of Pademawu district, respectively in Pamekasan regency. The result of this research in the five village showed a high NTRM content, average organic NTRM, synthetic NTRM, and non-synthetic NTRM, respectively 1,53gr/kg, 1,07gr/kg, 8,59gr/kg. The highest NTRM is non-synthetic 76,80% in the form of stone and ceramic fractions. Synthetic NTRM 9,55% especially plastic and rubber bands and Organic NTRM 13,66% like grass, banana stem, mat and mango leaves. High content NTRM tobacco ranjangan Madura especially synthetic NTRM requires attention in the guidance of free farmers especially from local government. NTRM (Non Tobacco Related Material) adalah bahan lain selain tembakau yang berpeluang besar ikut menjadi sumber bahan berbahaya, selain mengganggu proses produksi dan estetika. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi NTRM pada tembakau rajangan madura. Pengambilan sampel menggunakan metode non-probability sampling technique. Petani responden dipilih yang memenuhi kriteria menanam dan mengolah daun tembakaunya sendiri kemudian akan dijual ke pasar bebas. Petani menanam dan mengolah sendiri daun tembakau menjadi tembakau rajangan madura. Petani yang dipilih berasal dari Desa Galis dan Desa Kadur Kecamatan Galis, Desa Asampitu, Desa Kertek dan Desa Bulai Kecamatan Pademawu, masing-masing di Kabupaten Pamekasan. Hasil penelitian menunjukan ada kandungan NTRM yang cukup tinggi. NTRM Organik, NTRM Sintetik dan NTRM Non-Sintetik masing-masing 1,53gr/kg, 1,07gr/kg, 8,59gr/kg. NTRM paling tinggi adalah Non-Sintetik 76,80%, yang berupa batu dan pecahan keramik, NTRM Sintetik 9,55% terutama plastik dan karet gelang dan NTRM Organik 13,66% seperti rumput, pelepah pisang, tikar dan daun mangga. Tingginya kandungan NTRM tembakau rajangan madura, khususnya NTRM Sintetik, memerlukan perhatian dalam pembinaan petani bebas khususnya dari Pemerintah Daerah.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERAN ANGGOTA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) DEWI SARTIKA DALAM PEMANFAATAN LAHAN PEKARANGAN DI DESA PETUNGSEWU KECAMATAN DAU KABUPATEN MALANG Alfines, Alfines; Suwasono, Son; Pudjiastuti, Agnes Quartina
Fakultas Pertanian Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Utilization of backyard in the field of agriculture is one of the activities to meet the family needs such as vegetables and fruits and can create food independency in the household. in its application, the role of woman farmers becomes an important element in the implementation on the activities utilization of backyard. This study aims to examine the factors that affect the role of woman farmer group members and the most dominant factors that affect the role of woman farmer group Dewi Sartika in the utilization of backyardin Petungsewu Village, Dau Subdistrict. The research method used is quantitative descriptive by using multiple linear regression test with SPSS 2.1, and to obtain more in-depth data the researcher have done direct interview and questionnaire. The result of the research show that the factors that influence the role of woman farmer group members are age, education, family income, family members, time span, motivation, land area, counseling intensity and the most influential factor is time span, woman farmer in Petungsewu village in desperate need of counselor's guidance and mentoring from UPT BP Dau Subdistrict. Pemanfaatan lahan pekarangan adalah suatu kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga antara lain sayuran dan buah-buahan agar dapat mewujudkan kemandirian pangan dalam rumah tangga. Pada penerapannya, peran wanita tani menjadi unsur penting dalam pelaksanaan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor yang berpengaruh dan faktor paling dominan dalam mempengaruhi peran anggota kelompok wanita tani dalam pemanfaatan lahan pekarangan di Desa Petungsewu Kecamatan Dau. Metode penelitian yang digunakan kuantitatif deskriptif dengan menggunakan uji regresi linier berganda serta untuk memperoleh data yang lebih mendalam dilakukan dengan wawancara langsung serta kuisioner. Hasil Penelitian menujukkan bahwa faktor yang mempengaruhi peran anggota kelompok wanita tani adalah umur, pendidikan, pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, curahan waktu, motivasi, luas lahan, intensitas penyuluhan dan faktor yang paling berpengaruh adalah curahan waktu, wanita tani di Desa Petungsewu sangat membutuhkan bimbingan penyuluh dan pendampingan dari UPT BP Kecamatan Dau.