cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 486 Documents
PENDUGAAN KEINDAHAN LANSKAP CANDI PANATARAN KABUPATEN BLITAR, JAWA TIMUR Baptisa, Faustina De Jesus; Budiyono, Debora; Soelistyari, Hesti Trisna
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Complex temple panataran is one of the largest temples in the province of East Java, located on the slope of Kelud Mountain in Penataran Village, Nglegok District, Blitar Regency. The potential that exists in Panataran temple is as a religious place for the Hindu religious community and as a tourist area that increases the economy of all communities. The current condition of the temple area is in the middle of residential areas and only separated by a fence with a visual landscape as originally planned for the area, settlements, buildings, agricultural land. The purpose of this study was to identify and analyze the visual condition of the landscape at Panataran Temple. The method used in this research is quantitative descriptive while the method for analyzing data is the method SBE (Scenic Beauty Estimation). Based on the results of research that the visual landscape of the Panataran Temple area has three beauty classifications namely beautiful 41.43%, quite beautiful 19.35%, and not beautiful 54.53%. From the results that are known under the classification of beauty that is not beautiful and quite beautiful it is necessary to add facilities, green space and RTB so that in the Panataran Temple area there is comfort, safety and beauty for the local community and visitors. Kompleks Candi Panataran merupakan salah satu Candi terbesar di provinsi Jawa Timur, terletak di lereng gunung Kelud di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Potensi yang ada di Candi Panataran adalah sebagai tempat religi bagi masyarakat agama Hindu beribadah dan sebagai tempat kawasan wisata yang meningkatkan perekonomian bagi semua masyarakat. Kondisi kawasan candi saat ini berada di tengah-tengah pemukiman penduduk dan hanya dipisahkan oleh pagar dengan visual lanskap sebagaimana awal fungsinya yang telah direncanakan pada kawasan, pemukiman, bangunan, dan lahan pertanian.Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis kondisi visual lanskap pada Candi Panataran. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif sedangkan metode untuk menganalisis data adalah metode SBE (Scenic Beauty Estimation). Berdasarkan hasil penelitian yang bahwa visual lanskap kawasan Candi Panataran memiliki tiga klasifikasi keindahan yaitu indah 41.43%, cukup indah 19.35%, dan tidak indah 54.53%. Dari hasil yang sudah diketahui bawah klasifikasi keindahan yang tidak indah dan cukup indah perlu adanya penambahan fasilitas dan RTH maupun RTB sehingga dalam kawasan Candi Panataran terdapat kenyamanan, keamanan, dan keindahan bagi masyarkat setempat maupun pengunjung.
ANALISA USAHA PEMBUATAN MENTEGA BUAH PISANG DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG JAGUNG PULUT (ZEA MAYZ) Laba, Ferdinandus; Santosa, Budi; Rahmawati, Atina
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banana butter is a food product made from mashed bananas and added with pulut corn flour (Zea Mayz). Fruit butter is different from butter on the market. Fruit butter is made from fruit that is rich in vitamins, minerals and fiber. Fruit butter in the process of making bread cannot be included in the dough, but can only be used as a topping or spread. The purpose of this study was to analyze the business of making banana butter with the addition of pulut corn flour based on the best treatment. The experimental design used in the study used a single randomized complete design (CRD). The factor is the proportion between pulut corn flour consists of 5 levels, namely: J1 10%, J2 20%, J3 30%, J4 40% and J5 50%. The feasibility analysis of the business of banana butter from pulut corn flour and bananas?s industry is HPP of Rp 285,937.50 and a selling price of 25,000 per 400 grams. BEP prices obtained are in the amount of IDR 183,009,088, BEP units at 9,302 units, NPV at IDR 371,789,198, Net B / C at 2.14. The R / C ratio is 1.35, which means that this banana butter?s business is feasible to be run on a small industrial scale. Mentega buah pisang merupakan produk pangan berbahan dasar buah pisang yang dihaluskan dan ditambah dengan tepung jagung pulut (Zea Mayz). Mentega buah berbeda dengan mentega yang ada di pasaran. Mentega buah terbuat dari buah yang kaya kandungan vitamin, mineral dan serat. Mentega buah dalam proses pembuatan roti tidak dapat disertakan kedalam adonan, tetapi hanya bisa dipakai sebagai topping atau olesan. Tujuan penelitian ini untuk melakukan analisa usaha pembuatan mentega buah pisang dengan penambahan tepung jagung pulut berdasarkan perlakuan terbaik. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal. Faktornya yaitu proporsi antara tepung jagung pulut terdiri antara 5 taraf yaitu: J1 10%, J2 20%, J3 30%, J4 40% dan J5 50%. Perhitungan analisa kelayakan usaha pembuatan mentega buah pisang dari tepung jagung pulut dan buah pisang yaitu HPP sebesar Rp 285.937.50 dan harga jual 25.000 per 400 gram. BEP harga diperoleh yaitu sebesar Rp 183.009.088, BEP unit sebesar 9,302 unit, NPV sebesar Rp 371,789,198, Net B/C sebesar 2,14. Nilai R/C ratio sebesar 1,35, yang berarti usaha mentega buah pisang ini layak untuk diusahakan dalam skala industri kecil.
PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP SAYURAN ORGANIK DI PASAR MODERN KOTA MALANG Pebryanto, Alfredo; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Sa'diyah, Ana Arifatus
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to examine consumer preferences and attributes most considered by consumers in the decision to purchase organic vegetables in the Modern Market of Malang City. The analytical method used is the analysis of Chi Square and Fishbein Multiattributes. Organic vegetables that become consumer preferences in the Modern Market in Malang City are successively, for spinach vegetables are fresh vegetables, color, packaging, physical perfection and taste. for mustard vegetables are fresh vegetables, color, taste, physical perfection and packaging. The attributes of organic vegetables that are considered by consumers in the decision to purchase vegetables in the Modern Market in Malang City are the freshness of vegetables. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji preferensi konsumen dan atribut yang paling dipertimbangkan oleh konsumen dalam keputusan pembelian sayuran organik di Pasar Modern Kota Malang. Metode analisis yang digunakan yaitu analisis Chi Square dan Multiatribut Fishbein. Sayuran organik yang menjadi preferensi konsumen di pasar Modern Kota Malang secara berturut-turut adalah, untuk sayuran bayam adalah kesegaran sayuran, warna, kemasan, kesempurnaan fisik dan rasa. Atribut sayuran organik yang menjadi pertimbangan konsumen dalam keputusan pembelian sayuran di Pasar Modern Kota Malang adalah kesegaran sayuran.
ANALISA KELAYAKAN USAHA PEMANFAATAN KULIT BATANG LANGSAT, KAYU SECANG, DAN JAHE DALAM MINUMAN CELUP Robi, Hadrianus; Mushollaeni, Wahyu; Wirawan, Wirawan
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to obtain a feasibility analysis of the making of a dip drink from the bark of langsat and sappan wood. The research began with the determination of the best formulation of a dip drink made from langsat bark, sappan wood, and ginger. The formulation of langsat bark, secang wood, and ginger drink which is the best treatment in terms of physical chemistry, is then analyzed for business feasibility. In this study, the best treatment of the three formulations of the ingredients in a dip drink was 40% langsat bark, 40% sappan wood, and 20% ginger. The results of the business feasibility analysis show that the cost of production is Rp. 15,258; product selling price of Rp. 17,547 per pack (50gram); and the BEP for prices within one year gained Rp. 114,945,968; and the RCR value is 1.15. RCR value of more than 1, indicates that the business of producing langsat bark, sappan wood, and ginger drinks is feasible to be developed on a small industrial scale. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan analisis kelayakan usaha pembuatan minuman celup dari kulit batang langsat dan kayu secang. Penelitian ini dimulai dengan penentuan formulasi terbaik dari minuman celup yang berbahan baku kulit batang langsat, kayu secang, dan jahe. Formulasi minuman celup kulit batang langsat, kayu secang, dan jahe yang merupakan perlakuan terbaik ditinjau dari sisi kimia fisika, kemudian dianalisa kelayakan usaha. Dalam penelitian ini, perlakuan terbaik formulasi ketiga bahan tersebut dalam minuman celup adalah 40% kulit batang langsat, 40% kayu secang, dan 20% jahe. Hasil analisa kelayakan usaha menunjukkan bahwa harga pokok produksi sebesar Rp. 15.258; harga jual produk sebesar Rp. 17.547 per bungkus (50gram); serta BEP untuk harga dalam kurun waktu 1 tahun diperoleh Rp. 114.945.968; dan nilai RCR adalah 1,15. Nilai RCR yang lebih dari 1, menunjukkan bahwa usaha produksi minuman celup kulit batang langsat, kayu secang, dan jahe layak untuk dikembangkan pada skala industri kecil.
KOMPOSISI MEDIA DAN PEMBERIAN UREA TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SAWI PAKCOY (BRASSICA CHINENSIS L.) Hadim, Tomas Didimus; Lestari, Sri Umi; Astutik, Astutik
Fakultas Pertanian Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pakcoy (Brassica chinensis L.) is a plant which rich in vitamins and minerals. The study aimed to evaluate the application of husk charcoal as a mixture of growing media and N fertilizer for the growth of Sawi Pakcoy. The study was conducted in Tlogomas, Lowokwaru Distict, Malang Regency, from April to May 2018. A randomized block design with three replications was used for this research with two factors. The first factor is the composition of the media, consisting of A0 = soil 5 kg + Bokashi 5 kg; A1 = 4.5kg + Bokashi soil 4.5kg + 1kg husk charcoal; A2 = 4kg + Bokashi 4kg + 2kg husk charcoal. The second factor is the usage of Urea, consisting of three levels, namely N0 = without Urea (0 kg / ha), N1 = Urea 50 kg/ha, and N2 = Urea 100 kg Urea / ha. For the calculation of fertilizer given according to the treatment based on the population of mustard plants as much as 250 000 plants / ha, which is calculated based on the spacing of 20 cm × 20 cm. The application of urea is carried out three times, each with 1/3 parts at the age of the plant 7 days after planting (dap), 14 dap, and 21 dap. Parameters observed included plant height, number of leaves, leaf area, fresh weight of plants, and dry weight of plants. There it no effect of the interaction between the composition of the media and the administration of urea on all parameters observed in the growth of pakcoy mustard plants, the administration of urea significantly affected the parameters of plant height, leaf number, leaf area, plant fresh weight, and dry weight of pakcoy. Sawi Pakcoy (Brassica chinensis L.) adalah sayuran yang kaya vitamin dan mineral. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi pemberian arang sekam sebagai campuran Media tumbuh dan pemberian pupuk N bagi pertumbuhan tanaman Sawi Pakcoy. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Tlogomas, Kec. Lowokwaru, Kabupaten Malang, pada bulan April sampai dengan Mei 2018. Rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan digunakan untuk penelitian dengan dua faktor. Faktor pertama adalah komposisi media, terdiri dari A0 = tanah 5 kg + bokashi 5kg; A1 = tanah 4.5kg + bokashi 4.5kg + arang sekam 1kg; A2 = tanah 4kg + bokashi 4kg + arang sekam 2kg. Faktor kedua adalah pemberian Urea, terdiri dari tiga taraf, yakni N0 = tanpa pemberian Urea (0 kg/ha), N1 = Pemberian Urea 50 kg Urea/ha, dan N2 = pemberian Urea 100 kg Urea/ha. Untuk penghitungan pupuk yang diberikan sesuai perlakuan didasarkan pada populasi tanaman sawi sebanyak 250 tanaman/ha, yang dihitung berdasarkan jarak tanam 20 cm × 20 cm. Pemberian Urea dilakukan tiga kali, masing-masing sebanyak 1/3 bagian pada umur tanaman 7 hari setelah tanam(hst), 14 hst, dan 21 hst. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, berat segar tanaman, dan berat kering tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh interaksi antara komposisi media dan pemberian urea terhadap semua parameter yang di amati pada pertumbuhan tanaman sawi pakcoy, pemberian pupuk urea berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, bobot segar tanaman, bobot kering tanaman sawi pakcoy.
EKSPLORASI MIKROBIA RHIZOSFER TUMBUHAN GULMA BABANDOTAN (AGERATUM CONYZOIDES L) POTENSIAL SEBAGAI PENGHASIL IAA Syahruddin, Syahruddin; Sumiati, Astri; Sutoyo, Sutoyo
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Babandotan weed sampling was carried out at lowland locations (Kepanjen) and upland locations. Sampling was carried out simultaneously with a total of 10 samples of babandotan weed, samples taken from 2 different locations were then taken to the micrological laboratory of the faculty of agriculture, tribhuwana, tunggadewi Malang. The bacteria that grows there are 2 round shapes and flower shapes in each location. This study uses qualitative and quantitative analysis, qualitative analysis by means of testing the ability of bacteria as IAA producers by using salkowski reagent solution by dropping, the bacteria that are able to produce will turn pink when they are dripped with calcowski reagent solution. The bacteria that can produce IAA are round-shaped bacteria. Quantitative analysis using spectrophotometry with a wavelength of 530 nm in order to determine the level of IAA in each incubation. Pengambilan sampel Gulma Babandotan dilakukan di lokasi Dataran Rendah (Kepanjen) dan lokasi Dataran Tinggi(Cangar) dengan serentak sejumlah 10 sampel tumbuhan gulma babandotan, Sampel yang di ambil dari 2 lokasi yang berbeda kemudian di bawa ke laboratorium mikrobiogi Fakultas Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang. Koloni bakteri terdapat 2 bentuk, yaitu berbentuk bulat dan bentuk lonjong pada masing-masing lokasi. Penelitian ini menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif, analisis kualitatif dengan cara Uji kemampuan bakteri sebagai penghasil IAA dengan menggunakan larutan reagen salkowski dengan cara ditetesi, bakteri yang mampu menghasilkan IAA akan berubah warna menjadi merah muda ketika di tetesi dengan larutan reagen salkowski. Bakteri yang mampu menghasilkan IAA adalah bakteri yang berbentuk bulat. Analisis kuantitatif dengan cara spektrofotometri dengan panjang gelombang 530 nm dengan tujuan mengetahui kadar IAA dalam setiap inkubasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi IAA Dataran Tinggi tertinggi pada inkubasi 48 jam dengan rata-rata yang di peroleh 16,74 ppm. Konsentrasi IAA Dataran Rendah tertinggi pada inkubasi 72 jam dengan rata-rata yang di peroleh 16,66 ppm.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI TEMBAKAU DI DESA MANGUNAN KECAMATAN KABUH KABUPATEN JOMBANG Firliyan, Enis; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Kholil, Ahmad Yusuf
Fakultas Pertanian Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Most of people in Mangunan Village cultivate tobacco in the dry season because they are considered to have a strategic role in the farmers income. This study aims to analyze the effect of land area, seedlings, urea fertilizer, ZA fertilizer, TSP fertilizer, NPK fertilizer, KNO fertilizer, organtrin pesticides and labor on tobacco farming income, and the most dominant influencing factor. Research was conducted in Mangunan Village, Kabuh District, Jombang Regency. The sampling technique was carried out by stratified random sampling so that 40 respondents were obtained, while the data analysis used multiple linear regression with the SPSS program. The factors that significantly influence tobacco production are urea and KNO fertilizer, and the most dominant influence is KNO fertilizer. Sebagian besar masyarakat di Desa Mangunan melakukan usahatani tembakau di musim kemarau karena dinilai mempunyai peran yang cukup strategis terhadap pendapatan petani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh luas lahan, bibit, pupuk urea, pupuk ZA, pupuk TSP, pupuk NPK, pupuk KNO, pestisida organtrin dan tenaga kerja terhadap pendapatan usahatani tembakau, dan faktor yang pengaruhnya paling dominan. Penelitan dilakukan di Desa Mangunan Kecamatan Kabuh Kabupaten Jombang. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara stratified random sampling sehingga diperoleh 40 responden,sedangkan untuk analisis data menggunakan regresi linier berganda dengan program SPSS. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap produksi tembakau adalah pupuk urea dan pupuk KNO, dan yang pengaruhnya paling dominan adalah pupuk KNO.
KERAGAAN UBI JALAR [IPOMOEA BATATAS (L) LAM.] AKIBAT PEMBERIAN BIOCHAR JENGKOK TEMBAKAU Lein, Johanes; Indawan, Edyson; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sweet potatoes including tuber commodities that have important prospects. Due to the high content of nutrients, minerals, vitamins and the increasing diversity of processed and industrial products sourced from sweet potatoes. The improvement of sweet potato production is still being carried out, one of the improvements in soil improvement. Provision of biochar into the soil can increase the availability of the main ratio, P and N concentrations in the soil. Increased CEC and soil pH can increase 40% Biochar's ability to bind water and nutrients in the soil helps prevent fertilizer losses due to surface erosion and washing so as to enable fertilizer savings. This study aims at agronomic performance in sweet potato plants due to biochar administration. The experiment was carried out using splitplots with 3 replications, 7 varieties namely: white brass, red brass, Beta 1, Beta 2, Sari, Boko, Jago and Biochar Dose: (Bo = No Biochar, B1 = 5 tons / ha). Variables observed included: number of tubers / plot, tuber fresh weight (kg / plot), freshly squeezed weight (kg / plot),% tuber dry weight (BK) tubers,% tuberous dry weight, tuber BK weight, and stover BK. Continued testing with the smallest Real Difference Test (LSD) with a confidence level of 5% based on research shows that the performance of yarbaik varieties in tubers is Beta 1 with the number of tubers / plots of 39.67 tubers, Beta 2 at tuber weights of 8.60 kg / plant , Beta 1 10.92 kg / fresh weight crop of stover, Sari and Beta 2 at harvest index are 92.25 and 88.81 tubers. Ubi jalar termasuk komoditas umbi-umbian yang mempunyai prospek penting. Karena tingginya kandunggan nutrisi, mineral, vitamin dan semakin beragamannya produk olahan maupun industri yang bersumber dari ubi jalar. Peningkata produksi ubi jalar masih terus dilakukan, salah satu perbaikan pembenahan tanah. Pemberian biochar ke dalam tanah dapat meningkatkan ketersediaan katioan utama, P dan konsentrasi N dalam tanah. Peningkatan KTK dan pH tanah dapat meningkat 40% Kemampuan biochar untuk mengikat air dan unsur hara dalam tanah membantu mencegah terjadinya kehilangan pupuk akibat erosi permukaan dan pencucian sehingga dapat memungkinkan penghematan pemupukan. Penelitian ini bertujuan keragaan agronomi pada tanamanubi jalar akibat pemberian biochar. Percoban di laksanakan dengan menggunakan splitplot denang 3 ulangan, 7 varietas yaitu: Kuningan putih, kuningan merah, Beta 1, Beta 2, Sari, Boko, Jago dan Dosis Biochar : (Bo= Tanpa Biochar, B1=5 ton/ha). Variabel yang di amati meiputi: jumlah umbi/plot, bobot segar umbi (kg/plot), bobot segar berangkasan (kg/plot), % bobot kering (BK) umbi, % bobot kering berangkasan, BK umbi, dan BK brangkasan. Pengujian lanjutan denagn Ujian Beda Nyata terkecil (BNT) dengan taraf kepercayaan 5% berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa keragaan Varietas yarbaik pada umbi yaitu Beta 1 dengan jumlah umbi/plot sebanyak 39,67 umbi, Beta 2 pada bobot umbi sebesar 8,60 kg/tanaman, Beta 1 10,92 kg/pertanaman berat segar brangkasan, Sari dan Beta 2 pada indeks panen yaitu 92,25 dan 88,81 umbi.
ANALISIS LANSKAP PENGARUH GREENERY TERHADAP AGROKLIMAT KOTA BATU MENGGUNAKAN SIG DAN PENGINDERAAN JAUH Reko, Reko; Budiyono, Debora; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Batu City is a division city of Malang Regency, East Java. The status of the administrative city of Batu became Batu City, established since the Decree of the Minister of Home Affairs decreed at the end of October 2001 and began to be active in government activities in 2002. As a tourism-based city, the face of Batu City turned into built-up land. This makes a change in the decline of greenery and agro-climate which affect the decline in the agricultural sector. The purpose of this study is to analyze the differences between greenery and agro-climate in 2003 and 2018 and analyze the relationship between greenery and agro-climate. The method used in this research is descriptive with a qualitative spatial approach. Based on the results of the study showed that, Batu City NDVI in 2003 was dominated by cloud class and NDVI 2018 obtained forest class results. The visible cloud class in 2003 was caused by weather factors during the recording process so that the forest class was covered by the cloud class. In the 2003 LST results which were between 150C-230C and 2018 LST obtained lower results, namely 60C-130C. The changes in greenery and agro-climate and the decrease in temperature are due to atmospheric phenomena namely la-nina (decrease in temperature). Furthermore, based on the correlation test there is a relationship between greenery and agro-climate at a 1% confidence interval between NDVI and LST which is positive and very strong. Kota Batu adalah kota pemekaran dari Kabupaten Malang, Jawa Timur. Status Kota administratif Batu menjadi Kota Batu, ditetapkan sejak turunnya Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri pada akhir Oktober 2001 dan mulai aktif dalam kegiatan pemerintahanTahun 2002. Sebagai Kota yang berbasis pariwisata, wajah Kota Batu berubah menjadi lahan terbangun. Hal ini menjadikan perubahan penurunan terhadap greenery dan agroklimat yang berpengaruh pada penurunan sektor pertanian. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan greenerydan agroklimat Tahun 2003 dan 2018 serta menganalisis hubungan antara greenery dan agroklimat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan spasial kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa, NDVI Kota Batu Tahun 2003 didominasi oleh kelas awan dan NDVI 2018 memperoleh hasil kelas hutan. Terlihatnya kelas awan pada Tahun 2003 diakibatkan oleh faktor cuaca pada saat proses perekaman sehingga kelas hutan tertutupi oleh kelas awan. Pada hasil LST Tahun 2003 yaitu antara 150C-230C dan LST Tahun 2018 memperoleh hasil yang lebih rendah yaitu 60C-130C. Terjadinya perubahan greenery dan agroklimat serta penurunan suhu disebabkan karena adanya fenomena atmosfer yaitu la-nina (penurunan suhu). Selanjutnya berdasarkan uji korelasi terdapat hubungan antara greenery dengan agroklimat pada selang kepercayaan 1% antara NDVI dan LSTyang bernilai positif dan sangat kuat.
PRODUKSI BIOGAS BERBAHAN BAKU BLOTONG DENGAN FAKTOR KONSENTRASI AIR DAN LAMA FERMENTASI SECARA SPONTAN Wicaksono, Aditya; Ahmadi, Kgs; Sasongko, Pramono
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Biogas is one of the renewable energies that can be used as alternative energy. Blotong is industrial waste that can be used in making biogas. The purpose of this study was to obtain an appropriate comparison of the production of biogas made from raw materials with air composition factors and duration of fermentation, by spontaneous fermentation. This research was carried out using a split plot design, with 2 regulatory factors, namely water concentration of 1:2 and 1:3 and a fermentation time of 5, 10, 15, 20 and 25 days. The parameters used include the volume of biogas, the degree of acidity (pH) and flame. The results showed that this study was 1: 2 with a total of 5.74 liters, and the optimal fermentation time on the 25th day. The average pH shows a neutral number, and the flame test is blue and the flame is large. Biogas merupakan salah satu energi terbarukan yang dapat digunakan sebagai energi alternatif. Salah satu limbah hasil pengolahan industri gula yang dapat digunakan dalam pembuatan biogas adalah blotong. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan proporsi yang tepat pada pembuatan biogas berbahan baku blotong dengan faktor konsentrasi air dan lama fermentasi, dengan fermentasi secara spontan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan rancangan split plot, dengan 2 faktor perlakuan yaitu konsenterasi air 1:2 dan 1:3 dan lama fermentasi 5, 10, 15, 20, dan 25 hari. Parameter yang digunakan meliputi volume biogas, derajat keasaman (pH) dan nyala api. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan konsentrasi air paling baik adalah 1:2 dengan jumlah sebesar 5,74 liter, serta lama fermentasi paling optimal pada hari ke-25. Rata-rata pH menunjukkan angka mendekati netral, serta uji nyala berwarna biru dan nyala api yang besar.