cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2019)" : 32 Documents clear
STRATEGI KEPARIWISATAAN DI KECAMATAN KEMA MINAHASA UTARA Kiolol, Pingkan Abigail; Moniaga, Ingerid L.; Rompas, Leidy M.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan RTRW Kabupaten Minahasa Utara tentang Kawasan Peruntukan Pariwisata menyebutkan bahwa Kecamatan Kema masuk dalam kawasan peruntukan pariwisata. Kecamatan Kema sendiri memiliki 10 desa namun hanya 5 desa yang memiliki destinasi pariwisata, yaitu yang pertama desa Tontalete dengan wisata alam yaitu Air Terjun Tontalete, kedua Desa Kema 3 dengan wisata alam yaitu Pantai Batu Nona dan wisata sejarah yaitu Penjara Tua Kema, yang ke tiga Desa Kema 2 dengan wisata alam yaitu Pantai Firdaus dan wisata sejarah yaitu Waruga dan Kuburan Tua Kelder, yang ke empat Desa Waleo dengan wisata alamnya yaitu Air Terjun Masongsor, dan desa terakhir yaitu desa Makalisung dengan wisata alamnya yaitu pantai Makalisung Berbagai potensi pariwisata di Kecamatan Kema teridentifikasi memiliki peluang kepariwisataan yang dapat menunjang pengembangan wilayah Kabupaten Minahasa Utara, namun permasalahan yang ditemukan ditiap desa yakni pengelolaan wisata yang kurang baik, pemberdayaan masyarakat yang masih kurang inovatif dan kreatif menciptakan produk-produk wisata yang menunjang kesejahteraan ekonomi masyarakat, kurangnya partisipasi masyarakat dan pemerintah dalam mengembangkan pariwisata. Analisis yang pertama yaitu dengan mengidentifikasi SWOT tiap destinasi wisata di Kecamatan Kema., dan dilanjutkan oleh analisis EFAS dan IFAS melalui pembobotan menurut Rangkuti, 1997, dilanjutkan dengan Isu Strategi yang menggunakan Matriks TOWS atau SWOT yang mengeluarkan indikator program lalu implementasi program-program tersebut pada tiap destinasi wisata di Kecamatan Kema yang dapat menghasilkan Strategi perencanaan pengembangan kepariwisataan di Kecamatan Kema Minahasa Utara. Kata kunci: Kepariwisataan, strategi, indikator program, Kecamatan Kema
ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI DI PULAU MAITARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Gamtohe, Febriyanti; Poli, Hanny; Rengkung, Michael M.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Maitara merupakan salah satu pulau di Kota Tidore Kepulauan yang berfungsi sebagai kawasan wisata bahari, namun ketersediaan daya tarik wisata tersebut belum dapat membantu dalam mewujudkan fungsi Pulau Maitara sebagai kawasan pengembangan wisata bahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik prasarana sarana wisata dan mengetahui kebutuhan prasarana sarana wisata di Pulau Maitara. Identifikasi karakteristik ketersediaan prasarana dan sarana wisata dilakukan dengan pengumpulan data sekunder berupa survei instansional, data primer sebagai penguat data sekunder berupa observasi dan penyebaran kuesioner ke beberapa pihak terkait, selanjutnya untuk mengetahui kebutuhan prasarana dan sarana wisata data tersebut dianalisis menggunakan analisis deskriptif kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik untuk melihat kebutuhan prasarana dan sarana wisata. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa ketersediaan akses jalan 74,75%, dermaga 77,25%, listrik 31,25%, air bersih 32,5%, 67,25%, 27,5%, pos keamanan 33,75%, pusat informasi wisata 60,5%, petunjuk arah 74%, papan selamat datang 70,5%, transportasi umum 64,25%, penginapan 43,25%, masjid 65%, rumah makan 41,75%, area parkir 65,25%, kamar ganti 68,75%, tempat duduk 72%, toilet umum 72,75%, tempat sampah 58,5% dan dive center 25,25%, untuk itu dalam pengembangan kawasan wisata bahari di Pulau Maitara masih sangat membutuhkan tambahan penyediaan prasarana dan sarana wisata dalam menunjang kegiatan wisata di Pulau Maitara.Kata Kunci: Prasarana dan Sarana Wisata, Pulau Maitara
DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN BOULEVARD TONDANO TERHADAP PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN DI KECAMATAN TONDANO SELATAN DAN KECAMATAN TONDANO BARAT Dimpudus, Bryan Osvaldo; Timboeleng, James A.; Sembel, Amanda S.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah pembangunan sarana dan prasarana fisik di samping meningkatkan sumber daya manusia. Contoh pembangunan sarana dan prasarana yaitu pembangunan jalan Boulevard Tondano di Kabupaten Minahasa. Pembangunan jalan Boulevard Tondano memberi dampak aktivitas pembangunan bagi lahan di sekitarnya sehingga terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi perubahan luas lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun, mengkaji faktor-faktor apa saja yang mendorong terjadinya perubahan pemanfaatan lahan dan menganalisis dampak dari pembangunan Jalan Boulevard Tondano terhadap perubahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Tondano Selatan dan Kecamatan Tondano Barat. Metode analisis yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dan deskriptif komparatif. Hasil penelitian berdasarkan analisa adalah perubahan lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun selama kurun waktu 15 tahun dari tahun 2013-2018 di Kelurahan Koya, Kelurahan Tataaran Satu, Kelurahan Roong, dan Kelurahan Tuutu sebesar 8,11 ha (1,55%). Faktor-faktor pendorong perubahan pemanfaatan lahan yaitu faktor demografi, faktor politik, faktor sosial budaya, faktor ekonomi, dan faktor prasarana dan sarana. Dampak positif yaitu meningkatnya perekonomian masyarakat dan meningkatnya interaksi sosial antar masyarakat. Dampak negatif yaitu berkurangnya lahan tidak terbangun atau lahan ruang terbuka hijau (RTH) akibat dialih fungsikan menjadi permukiman, perdagangan dan jasa, maupun fasilitas sosial dan fasilitas umum.Kata Kunci: Pembangunan Jalan, Perubahan Pemanfaatan Lahan.
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI DI PULAU SILADEN Fatlolona, Willyan S.; Tungka, Aristotulus E.; Lakat, Ricky S. M.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kawasan pariwisata pada umumnya diarahkan sebagai sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan daerah, memberdayakan masyarakat, meningkatkan lapangan kerja dan kesempatan membangun usaha, serta mengembangkan pengenalan dan pemasaran produk wisata dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pulau Silden Merupakan sebuah pulau kecil yang termasuk dalam bagian administrasi dari Kota Manado tepatnya berda di kecamatan bunaken kepulauan, kelurahan Bunaken. Potensi wisata Pulau Siladen terdiri dari wisata bahari yang berada di bawah laut maupun di atas laut. Khusus untuk wisata bahari, Pulau Siladen sudah sangat terkenal hingga ke mancan negara bersamaan dengan empat pulau lain yang termasuk dalam kawasan taman laut nasional bunaken. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis swot, Untuk mencapai tujuan penelitian ini yaitu menentukan kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang serta strategi pengembangan kawasan wisata bahari Pulau Siladen sesuai dengan variabel-variabel pariwisata yang ada. Hasil penelitian ini menghasilkan faktor-faktor internal dan external pengembangan kawasan wisata bahari Pulau Siladen dengan strategi pengembangannya yaitu mempromosikan wisata bahari, memanfaatkan fasilitas yang sudah ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan, pemberdayaan dan pelatihan untuk masyarakat.Kata Kunci: SWOT, Wisata Bahari, Pulau Siladen
SEBARAN SPASIAL EMISI GAS KARBON DIOKSIDA (CO2) PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO Gobel, Indra Wirana Jaya; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini Kota Manado menjadi kota yang memiliki aktivitas permukiman padat penduduk, dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 1,3% per tahun (BPS Kota Manado, 2018) hingga menyebabkan penurunan kualitas udara. Penggunaan bahan bakar untuk memasak merupakan salah satu penyumbang emis gas karbon dioksida (CO2) pada sektor permukiman yang menyebabkan menurunnya kualitas udara. Wilayah penelitian berada di kawasan permukiman Kecamatan Singkil sebagai salah satu Kecamatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan di Kota Manado. Tujuan penelitian untuk menentukan faktor emisi spesifik (FES) serta menganalisis sebaran emisi CO2 dan melakukan pemetaan tingkat emisi CO2 pada kawasan permukiman Kecamatan Singkil Kota Manado. Penelitian ini menggunakan jenis data dan analisis kuantitatif kemudian dilakukan perhitungan menggunakan metode yang dikeluarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dengan mengetahui terlebih dahulu besaran penggunaan bahan bakar untuk memasak tiap tahunnya serta menghitung besaran emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar untuk memasak setiap Kelurahan, kemudian menentukan faktor emisi spesifik (FES) yang diharapkan nilai dari FES tersebut dapat digunakan untuk menghitung estimasi jejak karbon, setelah diketahui emisi jejak karbon setiap kelurahan, kemudian dilakukan pemetaan tingkat emisi karbon dioksida (CO2) agar penyebaran jejak karbon tersebut dapat terlihat mana wilayah yang menyumbang emisi karbon dioksida tertinggi, sedang, dan terendah. Karakteristik bahan bakar yang digunakan untuk memasak pada lokasi penelitian adalah LPG, Minyak Tanah dan Kayu Bakar, yang penggunaan pertahunnya sebesar 83.752 kg/tahun dengan nilai emisi CO2 terhadap penggunaan bahan bakar untuk memasak sebesar 238 ton/tahun. FES tertinggi berada di Kelurahan Singkil Satu sebesar 0,6492 ton/tahun dan diikuti kelurahan lainnya. Hasil perhitungan nilai jejak karbon di Kecamatan Singkil sebesar 8.837,71 ton CO2/tahun.Kata Kunci: Spasial, Emisi Karbon Dioksida (CO2), Kawasan Permukiman.
SISTEM DISTRIBUSI HASIL PRODUKSI KAWASAN MINAPOLITAN DI KOTA BITUNG Suak, Virgy R.A.; Lakat, Ricky M.S.; Moniaga, Ingerid L.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung merupakan salah satu kota di Provinsi Sulawesi Utara yang ditetapkan sebagai salah satu kawasan minapolitan dengan kategori kawasan minapolitan perikanan tangkap. Berdasarkan RTRW Kota Bitung, kawasan minapolitan berada di kecamatan Aertembaga, Lembeh Utara, dan Lembeh Selatan. Hasil perikanan dari tiap lokasi kawasan minapolitan menempuh jalur distribusi yang berbeda satu sama lain untuk sampai pada konsumen. Berbagai hambatan bisa saja terjadi dalam proses penyaluran hasil produksi. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola distribusi hasil produksi perikanan dari ketiga kawasan minapolitan, sistem distribusi hasil produksi perikanan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan sistem pendistribusian hasil produksi kawasan minapolitan Kota Bitung serta pengaruhnya. Penelitian sistem distribusi kawasan minapolitan telah banyak diteliti. Namun, yang menggunakan metode campuran (mix methods) belum banyak. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix methods) untuk menjawab rumusan masalah yang ada, rumusan masalah yang pertama dapat dijawab melalui pendekatan kuantitatif, dan rumusan masalah kedua dapat dijawab melalui pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, terdapat 3 (tiga) pola distribusi, yaitu pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan dalam kota, pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan antar kota dalam provinsi, dan pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan antar provinsi. Pola distribusi hasil produksi kawasan minapolitan dalam kota terdapat 4 (empat) jalur, yaitu jalur 1 (satu) yang dimulai dari pelabuhan perikanan dan berakhir di pasar-pasar tradisional yang berada di mainland Kota Bitung, jalur 2 (dua) yang dimulai dari pelabuhan perikanan dan berakhir di pasar-pasar tradisional yang ada di Pulau Lembeh, jalur 3 (tiga) dari pelabuhan perikanan dibawa ke Pelabuhan Samudera Bitung untuk kebutuhan ekspor, dan jalur 4 (empat) dari pelabuhan perikanan dibawa ke perusahaan-perusahaan pengolahan hasil perikanan. Terdapat 4 faktor yang mempengaruhi sistem distribusi hasil produki kawasan minapolitan di Kota Bitung, yaitu faktor geographical, time, quantity, dan communication and information. Dari keempat faktor ini, faktor quantity yang dominan mempengaruhi sistem distribusi hasil produksi kawasan minapolitan di Kota Bitung.Kata Kunci: Sistem Distribusi, Kawasan Minapolitan, Kota Bitung
EVALUASI KETERSEDIAAN INFRASTRUKTUR PERDESAAN DALAM RANGKA PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN DI KECAMATAN OBA TENGAH Ishak, Fajriyanti; Sela, Rieneke L. E.; Sondakh, Julianus A. R.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Oba Tengah merupakan salah satu kecamatan di Kota Tidore Kepulauan yang berada di Pulau Halmahera. Kecamatan Oba Tengah yang berada pada Pulau Halmahera memiliki karakteristik yang berbeda dengan Pulau Tidore karena terpisah dengan selat. Pulau Tidore lebih memiliki karakteristik wilayah perkotaan sedangkan wilayah di Pulau Halmahera Kecamatan Oba Tengah lebih berkarakteristik perdesaan dengan potensi pada sektorpertanian. Pertanian dan perdesaan merupakan satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Namun pada kenyataannya sektor pertanian di daerah perdesaan belum mampu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terbukti dengan masih tingginya jumlah penduduk miskin di daerah perdesaan. Hal tersebut sangat berkaitan erat dengan rendahnya tingkat pelayanan infrastruktur pertanian di kawasan perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengedintifikasi dan mengevaluasi ketersediaan infrastruktur perdesaan berdasarkan standard dan persepsi Masyarakat di Kecamatan Oba Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan ketersediaan infrastruktur perdesaan dalam upaya pengembangan Kawasan Pertanian di Kecamatan Oba Tengah sebagian besar sudah tersedia dengan Kondisi infrastruktur yang cukup baik. Evaluasi berdasarkan standar peraturan Dinas Pekerjaan Umum, memperoleh nilai sebesar 82%, yang artinya bahwa ketersediaan infrastruktur perdesaan masuk dalam kategori baik untuk memberikan dukungan pada sektor pertanian. berdasarkan persepsi masyarakat di peroleh nilai 50,80%, yang artinya bahwa menurut persepsi masyarakat ketersediaan infrastruktur perdesaan cukup memberikan dukungan untuk pengembangan kawasan pertanian di Kecamatan Oba Tengah.Kata Kunci: Evaluasi, Ketersediaan Infrastruktur, Pengembangan Kawasan Pertanian, Kecamatan Oba Tengah
ANALISIS KERENTANAN FISIK BENCANA LONGSOR KECAMATAN TOMBULU KABUPATEN MINAHASA Rorong, Yolanda O.; Rondonuwu, Dwight M.; Gosal, Pierre H.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kejadian bencana longsor yang terjadi beberapa tahun belakangan ini menyebabkan dampak kerugian yang besar terutama pada aspek infrastruktur. Salah satu kecamatan di kabupaten Minahasa yang sering terjadi bencana longsor berada di kecamatan Tombulu. Salah satu cara untuk mengukur kerentanan bahaya longsor ini yaitu dengan memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis. Penelitian ini memiliki dua (2) tujuan yaitu: (1) Tingkat kerentanan bencana tanah longsor berdasarkan faktor alami di kecamatan Tombulu kabupaten Minahasa, dan (2) Tingkat kerentanan bencana longsor terhadap lahan terbangun dan tidak terbangun kecamatan Tombulu kabupaten Minahasa. Penelitian ini menggunakan satu variabel dan enam parameter. Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini merupakan analisis spasial (overlay). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerentanan bencana longsor di kecamatan Tombulu terbagi menjadi 3 tingkat kelas rentan, yaitu kelas rendah seluas 29% dari total luas wilayah penelitian, kelas sedang seluas 56% dan (3) kelas tinggi 15% dari total luas wilayah penelitian. Klasifikasi daerah rentan longsor berdasarkan penggunaan lahan, untuk lahan terbangun kelas rendah seluas 0%, lahan terbangun kelas sedang seluas 13% dan lahan terbangun kelas tinggi seluas 1%. Untuk lahan tidak terbangun kelas rendah seluas 27%, lahan tidak terbangun kelas sedang seluas 44% dan lahan tidak terbangun kelas tinggi seluas 14% dari total luas wilayah kecamatan Tombulu. Berdasarkan hasil dan analisis penelitian, Tingkat kerentanan longsor lahan di kecamatan Tombulu memiliki tingkat potensi kerentanan bencana longsor lahan tiga kelas yaitu rendah, sedang dan tinggi. Klasifikasi daerah rentan bencana longsor berdasarkan pemanfaatan lahan kecamatan Tombulu untuk lahan terbangun dengan tingkat rentan bencana longsor tinggi seluas 426.53 ha dan lahan tidak terbangun dengan tingkat rentan longsor tinggi seluas 5144.92 ha dari total luas wilayah kecamatan.Kata Kunci: Kecamatan Tombulu, Tingkat Kerentanan, Bencana Longsor, Sistem Informasi Geografis.
RUANG BERMUKIM MENURUT PERSEPSI MASYARAKAT DI PULAU KECIL (STUDI KASUS PULAU MANTEHAGE) Posumah, Georgius C.; Waani, Judy O.; Lakat, Ricky M. S.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat telah bermukim di Pulau Mantehage jauh sebelum adanya kebijakan dari pemerintah yang menetapkan pulau tersebut sebagai zona inti kawasan konservasi. Sering terjadinya konflik atau permasalahan kepentingan area perbatasan territori antara kawasan budidaya dengan kawasan lindung yang khususnya di Pulau Mantehage yang mempunyai kepentingan masing-masing individu. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi ruang territory masyarakat yang menjadi ruang konflik pada kawasan konservasi yang ada di Pulau Mantehage, dan untuk mengetahui persepsi masyarakat tentang ruang bermukim masyarakat di Pulau Mantehage terhadap peraturan kawasan konservasi. Identifikasi permukiman dan ruang territory menggunakan metode analisis spasial dengan bantuan software ArcGIS untuk menjelaskan tentang ruang permukiman pada kawasan konservasi. Untuk teknik analisisnya menggunakan metode pengukuran distribusi frekuensi dengan variabel kinesthetic Space. Hasil penelitian yaitu teridentifikasi territory primer masyarakat Pulau Mantehage berada di permukiman dan pertanian/perkebunan, territory sekunder terletak di dermaga dan di aula peribadatan sedangkan territory publik berada di lapangan dan balai desa. Terjadinya “overlap” atas territory primer dengan luas 166 Ha khususnya pertanian/perkebunan. Persepsi masyarakat dengan persentase 89.7 % setuju bahwa kebijakan pemerintah menghambat aktivitas gerak mereka, kiranya pemerintah tidak terlalu menekankan batas gerak masyarakat dimana sebagian besar masyarakat menggantung hidup mereka dalam kawasan tersebut. Kurangnya pemahaman masyarakat di Pulau Mantehage tentang kawasan lindung dengan persentase 81.4 % setuju perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai kawasan konservasi, dimana masyarakat membutuhkan arahan dari pemerintah terhadap kawasan konservasi tersebut, yang kiranya pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang bermukim di Pulau Mantehage.Kata Kunci: Ruang Bermukim, Territory, Persepsi, Pulau Kecil
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DI KABUPATEN MINAHASA SELATAN (STUDI KASUS: KECAMATAN AMURANG TIMUR, KECAMATAN AMURANG, DAN KECAMATAN AMURANG BARAT) Minggu, Jeanette S.; Poluan, Roosje J.; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang secara tegas mengamanatkan bahwa setiap penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah harus memperhatikan daya dukung lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Oleh sebab itu, pemanfaatan lahan di Amurang Raya sebagai ibu kota Kabupaten Minahasa Selatan harus diatur dengan baik sehingga sesuai dengan rencana tata ruang, sesuai dengan daya tampung lahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan klasifikasi kemampuan dan menganalisis kesesuaian lahan di Kecamatan Amurang Timur, Kecamatan Amurang, dan Kecamatan Amurang Barat atau Amurang Raya. Penentuan kemampuan dan kesesuaian lahan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 20 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Rencana Tata Ruang. Data-data yang dibutuhkan adalah data sekunder yang diperoleh melalui survei instansional serta data primer dari survei lapangan sebagai penguat data sekunder. Metode penelitian menggunakan dua teknik analisis yang diawali analisis skoring untuk memberikan skor pada tiap parameter sesuai dengan kondisi parameter dan selanjutnya analisis overlay untuk mengetahui total skor yang nantinya digunakan dalam penentuan zona klasifikasi kemampuan lahan dan untuk mengetahui kesesuaian lahan. Dari rangkaian analisis yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa terdapat 5 kelas kemampuan lahan di Amurang Raya didominasi kemampuan pengembangan rendah (kelas b) 72%. Untuk kesesuaian lahan permukiman, terdapat 4 kategori yaitu lahan sesuai A seluas 617,44 ha, lahan sesuai B seluas 3.719,63 ha, lahan tidak sesuai A seluas 25.054,53 ha, dan lahan tidak sesuai B seluas 54,90 ha. Untuk kesesuaian lahan pertanian, terdapat 4 kategori yaitu kawasan lindung seluas 762,78 ha, kawasan penyangga seluas 10,86 ha, tanaman setahun seluas 379,04 ha dan tanaman tahunan seluas 1.250,13 ha.Kata Kunci: Kemampuan lahan, kesesuaian lahan, Amurang.

Page 1 of 4 | Total Record : 32