cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
ANALISIS PEMETAAN KAPASITAS ADAPTASI MASYARAKAT KELURAHAN KINILOW SATU DAN KAKASKASEN SATU TERHADAP ANCAMAN BENCANA VULKANIK GUNUNG LOKON Walandouw, Daniel; Tilaar, Sonny; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu gunung berapi yang aktif di provinsi Sulawesi Utara adalah Gunung api Lokon yang terletak di Kota Tomohon dengan tinggi 1.580 meter di atas permukaan laut. Bahaya primer atau bahaya langsung akibat latusan, adalah seperti luncuran awan panas, lontaran piroklastik dan aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung adalah lahar hujan yang terjadi setelah erupsi apabila turun hujan lebat di sekitar puncak gunung Lokon. Dampak dari letusan gunung Lokon adalah bahaya primer dan bahaya sekunder. Kondisi ini menggambarkan bahwa bila terjadi erupsi letusan gunung api Lokon, di kelurahan Kinilow Satu dan Kakaskasen Satu berpotensi mengalami kerusakan secara fisik, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Kapasitas adaptasi didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu sistem untuk mengubah wataknya untuk dapat lebih baik mengatasi tekanan yang sudah ada maupun yang akan terjadi (Adger et al. 2004). Adanya penelitian ini diharapkan dapat menganalisis dan memetakan tingkat kapasitas adaptasi masyarakat di kelurahan Kinilow Satu dan Kakaskasen Satu terhadap bencana vulkanik Gunung Lokon. Dengan demikian penelitian ini berguna dalam memberikan rekomendasi untuk memperbaiki, merencanakan kembali dan mengembangkan kapasitas daerah Kota Tomohon. Penelitian ini menggunakan metode analisis Deskriptif kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Berdasarkan hasil analisis, lingkungan yang teridentifikasi memiliki tingat kapasitas adaptasi yang tinggi di kedua kelurahan berjumlah 5 (lima) lingkungan sedangkan tingat kapasitas adaptasi sedang berjumlah 9 (sembilan) lingkungan, dan tingat kapasitas adaptasi yang rendah berjumlah 7 (tujuh) lingkungan.Kata kunci: Kapasitas Adaptasi, Gunung Lokon
ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI DI PULAU MAITARA KOTA TIDORE KEPULAUAN Gamtohe, Febriyanti; Poli, Hanny; Rengkung, Michael M.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Maitara merupakan salah satu pulau di Kota Tidore Kepulauan yang berfungsi sebagai kawasan wisata bahari, namun ketersediaan daya tarik wisata tersebut belum dapat membantu dalam mewujudkan fungsi Pulau Maitara sebagai kawasan pengembangan wisata bahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik prasarana sarana wisata dan mengetahui kebutuhan prasarana sarana wisata di Pulau Maitara. Identifikasi karakteristik ketersediaan prasarana dan sarana wisata dilakukan dengan pengumpulan data sekunder berupa survei instansional, data primer sebagai penguat data sekunder berupa observasi dan penyebaran kuesioner ke beberapa pihak terkait, selanjutnya untuk mengetahui kebutuhan prasarana dan sarana wisata data tersebut dianalisis menggunakan analisis deskriptif kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik untuk melihat kebutuhan prasarana dan sarana wisata. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa ketersediaan akses jalan 74,75%, dermaga 77,25%, listrik 31,25%, air bersih 32,5%, 67,25%, 27,5%, pos keamanan 33,75%, pusat informasi wisata 60,5%, petunjuk arah 74%, papan selamat datang 70,5%, transportasi umum 64,25%, penginapan 43,25%, masjid 65%, rumah makan 41,75%, area parkir 65,25%, kamar ganti 68,75%, tempat duduk 72%, toilet umum 72,75%, tempat sampah 58,5% dan dive center 25,25%, untuk itu dalam pengembangan kawasan wisata bahari di Pulau Maitara masih sangat membutuhkan tambahan penyediaan prasarana dan sarana wisata dalam menunjang kegiatan wisata di Pulau Maitara.Kata Kunci: Prasarana dan Sarana Wisata, Pulau Maitara
FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TIDAK OPTIMALNYA FUNGSI KAWASAN PUSAT PEMERINTAHAN PROVINSI MALUKU UTARA DI KECAMATAN OBA UTARA Muhammad, Rudiya; Moniaga, Ingerid
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Oba Utara Sebagai satu-satunya kecamatan yang berada di Kota Sofifi ini memiliki infrastruktur dan fasilitas yang belum memadai untuk ditetapkan sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan Provinsi Maluku Utara. Pemindahan pusat pemerintahan dan seluruh aktivitas penyelenggaraan pemerintahan Provinsi Maluku Utara dari Ternate ke Sofifi di Kecamatan Oba Utara sudah berlangsung sejak tahun 2010. Permasalahan pemindahan kawasan pusat pemerintahan ini juga menimbulkan perubahan jarak pegawai ke tempat kerja, waktu, transportasi yang berdampak pada sumbu ekonomi, pendapatan dan pengeluaran pegawai. Perubahan lokasi kerja dan tempat tinggal mengakibatkan menurunnya kualitas dan kuantitas bekerja Aparatur Sipil Negara (ASN). Biaya transportasi yang tinggi dan lamanya perjalanan mengakibatkan pegawai ASN sering terlambat menjalankan tugasnya sesuai waktu lima hari kerja yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor penyebab tidak optimalnya fungsi kawasan pusat pemerintahan Provinsi Maluku Utara di Kecamatan Oba Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan faktor-faktor penyebab tidak optimalnya fungsi suatu Kawasan pusat Pemerintahan provinsi Maluku Utara di Kecamatan Oba Utara adalah Faktor perubahan jarak, Moda Transportasi, juga perubahan waktu tempuh dan biaya atau pengeluaran berpengaruh terhadap tidak optimalnya Fungsi Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Maluku Utara di Kecaman Oba Utara.Kata kunci: Faktor-Faktor, Tidak Optmail, Kawasan Pusat Pemerintahan, Provinsi Maluku Utara, Kecamatan Oba Utara
KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN PADA KAWASAN PINGGIRAN KOTA (PERI-URBAN) DI KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Luntungan, Rachel D.I.; Rengkung, Michael M.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Kalawat adalah salah satu Kecamatan yang berada di Kabupaten Minahasa Utara dengan luas wilayah sebesar 47.42 km2. Kecamatan Kalawat merupakan kecamatan yang berada di pinggiran kota (peri-urban) yang berbatasan langsung dengan Kota Manado hal ini menyebabkan sebagian dari luas wilayah di Kecamatan Kalawat mengalami perubahan penggunaan lahan yang disebabkan oleh aktivitas kegiatan manusia dan beberapa faktor lainnya. Desa Maumbi, Desa Watutumou, Desa Watutumou II, Desa Watutumou III, Desa Kolongan Tetempangan, Desa Kawangkoan Baru, dan Desa Kalawat yang merupakan kawasan pinggiran kota (peri-urban). Penggunaan lahan dari tahun ke tahun semakin meningkat sehingga pada kawasan pinggiran kota mengalami perubahan penggunaan lahan yang signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk perubahan penggunaan lahan yang terjadi di kawasan pinggiran kota di Kecamatan Kalawat, Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di kawasan pinggiran kota di Kecamatan Kalawat. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis overlay GIS dan metode analisis deskriptif kualitatif untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan. Hasil Penelitian ini yaitu perubahan penggunaan lahan pada kawasan pinggiran kota ini di Kecamatan Kalawat dalam kurun waktu 2009 sampai dengan pada tahun 2019, menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan yang paling dominan yaitu lahan perkebunan yang berkurang 257.27 ha, dan lahan untuk permukiman & tempat kegiatan bertambah 203.72 ha, sedangkan untuk faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan yaitu faktor perekonomian dan pertumbuhan jumlah penduduk. Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa perubahan penggunaan lahan yang paling dominan yaitu perubahan lahan perkebunan ke lahan permukiman dengan bertambahnya luas lahan sebesar 203.72 Ha dan faktor-faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan adalah faktor demografi dan faktor ekonomi.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan, Peri-urban
DAMPAK PEMBANGUNAN JALAN BOULEVARD TONDANO TERHADAP PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN DI KECAMATAN TONDANO SELATAN DAN KECAMATAN TONDANO BARAT Dimpudus, Bryan Osvaldo; Timboeleng, James A.; Sembel, Amanda S.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu strategi pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah pembangunan sarana dan prasarana fisik di samping meningkatkan sumber daya manusia. Contoh pembangunan sarana dan prasarana yaitu pembangunan jalan Boulevard Tondano di Kabupaten Minahasa. Pembangunan jalan Boulevard Tondano memberi dampak aktivitas pembangunan bagi lahan di sekitarnya sehingga terjadinya perubahan pemanfaatan lahan. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi perubahan luas lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun, mengkaji faktor-faktor apa saja yang mendorong terjadinya perubahan pemanfaatan lahan dan menganalisis dampak dari pembangunan Jalan Boulevard Tondano terhadap perubahan pemanfaatan lahan di Kecamatan Tondano Selatan dan Kecamatan Tondano Barat. Metode analisis yang digunakan yakni deskriptif kualitatif dan deskriptif komparatif. Hasil penelitian berdasarkan analisa adalah perubahan lahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun selama kurun waktu 15 tahun dari tahun 2013-2018 di Kelurahan Koya, Kelurahan Tataaran Satu, Kelurahan Roong, dan Kelurahan Tuutu sebesar 8,11 ha (1,55%). Faktor-faktor pendorong perubahan pemanfaatan lahan yaitu faktor demografi, faktor politik, faktor sosial budaya, faktor ekonomi, dan faktor prasarana dan sarana. Dampak positif yaitu meningkatnya perekonomian masyarakat dan meningkatnya interaksi sosial antar masyarakat. Dampak negatif yaitu berkurangnya lahan tidak terbangun atau lahan ruang terbuka hijau (RTH) akibat dialih fungsikan menjadi permukiman, perdagangan dan jasa, maupun fasilitas sosial dan fasilitas umum.Kata Kunci: Pembangunan Jalan, Perubahan Pemanfaatan Lahan.
KARAKTERISTIK ADAPTASI STRUKTURAL MENURUT TINGKAT KERENTANAN BENCANA BANJIR DI PERMUKIMAN SEPANJANG BANTARAN SUNGAI SAWANGAN KOTA MANADO Pemani, Ingrith; Warouw, Fela; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bencana hidrometeorologi (banjir dan tanah longsor) merupakan bencana yang paling sering terjadi. Kota Manado termasuk dalam daerah rawan banjir dikarenakan banyaknya sungai yang mengalir di Kota Manado, salah satunya Sungai Sawangan. Permukiman di sepanjang bantaran sungai sawangan menjadi rawan dan rentan terhadap bencana banjir. Pada kawasan rawan bencana masih dapat dibangun hanya perlu melakukan adaptasi bangunan atau lingkungan, maka dari itu salah satu tujuan penelitian ini yaitu melihat karakteristik adaptasi struktural yang sudah dilakukan masyarakat berdasarkan tingkat kerentanan dan kerawanan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan tahap yaitu analisis spasial dan skoring kemudian analisis statistik deskriptif. Hasil analisis diperoleh hasil bahwa tingkat kerawanan ditemukan tiga tingkat pada wilayah penelitian yaitu sangat rawan, rawan, dan tidak rawan. Tingkat kerentanan ditemukan tingkat kerentanan tinggi pada 3 wilayah Kelurahan, kerentanan sedang pada 4 wilayah Kelurahan, dan kerentanan rendah pada 2 wilayah Kelurahan. Karakteristik adaptasi struktural bangunan ditemukan bahwa rata-rata : jenis bangunan tembok, ketinggian lantai dasar bangunan 0-100 cm, jumlah lantai bangunan 1 lantai, untuk fungsi bangunan 2 lantai : lantai bawah dan atas sebagai aktivitas sehari-hari, dan orientasi bangunan membelakangi sungai. Tanggul terdapat pada beberapa lingkungan pada tingkat kerentanan tinggi dan sedang, sedangkan pada tingkat kerentanan rendah tidak terdapat tanggul. Vegetasi terdapat pada semua lingkungan pada tingkat kerentanan tinggi dan rendah, sedangkan pada tingkat kerentanan sedang hanya terdapat pada beberapa lingkungan.Kata Kunci: Adaptasi Struktural, Kerentanan, Kerawanan, Sungai Sawangan
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI DI PULAU SILADEN Fatlolona, Willyan S.; Tungka, Aristotulus E.; Lakat, Ricky S. M.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan kawasan pariwisata pada umumnya diarahkan sebagai sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan daerah, memberdayakan masyarakat, meningkatkan lapangan kerja dan kesempatan membangun usaha, serta mengembangkan pengenalan dan pemasaran produk wisata dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pulau Silden Merupakan sebuah pulau kecil yang termasuk dalam bagian administrasi dari Kota Manado tepatnya berda di kecamatan bunaken kepulauan, kelurahan Bunaken. Potensi wisata Pulau Siladen terdiri dari wisata bahari yang berada di bawah laut maupun di atas laut. Khusus untuk wisata bahari, Pulau Siladen sudah sangat terkenal hingga ke mancan negara bersamaan dengan empat pulau lain yang termasuk dalam kawasan taman laut nasional bunaken. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis swot, Untuk mencapai tujuan penelitian ini yaitu menentukan kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang serta strategi pengembangan kawasan wisata bahari Pulau Siladen sesuai dengan variabel-variabel pariwisata yang ada. Hasil penelitian ini menghasilkan faktor-faktor internal dan external pengembangan kawasan wisata bahari Pulau Siladen dengan strategi pengembangannya yaitu mempromosikan wisata bahari, memanfaatkan fasilitas yang sudah ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan, pemberdayaan dan pelatihan untuk masyarakat.Kata Kunci: SWOT, Wisata Bahari, Pulau Siladen
PENGARUH PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TERHADAP PERMUKIMAN KECAMATAN MADIDIR KOTA BITUNG Dirgapraja, Vikri Abdya; Poluan, Roosje J.; Lakat, Ricky S. M.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bitung dikenal sebagai Kota Pelabuhan, Kota Industri,dan Kota Perikanan (Kota Cakalang) di Provinsi Sulawesi Utara,seperti yang ada di Kecamatan Madidir merupakan salah satu dari delapan kecamatan yang memiliki sumber industri penghasil pengolahan ikan.Dengan semakin meningkatnya pengembangan kawasan industri maka semakin meningkat pula pencemaran yang disebabkan oleh hasil buangan pabrik-pabrik industri seperti sampah, CO2 serta kebisingan yang berpengaruh terhadap permukiman warga yang ada di Kecamatan Madidir.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kawasan industri terhadap permukiman di Kecamatan Madidir.Penelitian ini menggunakan metode path analysis untuk menentukan nilai koefisen pada dua variabel yaitu variabel independen kawasan industri dan variabel dependen permukiman. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa factor yang mempengaruhi oleh pengembangan kawasan industri pada kawasan permukiman yaitu pada bangunan dan pada infrastruktur. Bangunan permukiman mengalami pengaruh kesemrawutan lalu lintas 0,174 dan pencemaran 0,129.Akibatnya,masyarakat masyarakat melakukan upaya perbaikan.Selanjutnya,infrastruktur dipengaruhi oleh pencemaran 0,078,Kebisingan 0,028 dan kesemrawutan lalu lintas 0,031.Akibatnya,infrastuktur akan membutuhkan perbaikan-perbaikan secara signifikan. Kata kunci: Pengaruh,Pengembangan Kawasan Industri,Permukiman, Kecamatan Madidir.
SEBARAN SPASIAL EMISI GAS KARBON DIOKSIDA (CO2) PADA KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN SINGKIL KOTA MANADO Gobel, Indra Wirana Jaya; Tondobala, Linda; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini Kota Manado menjadi kota yang memiliki aktivitas permukiman padat penduduk, dengan rata-rata laju pertumbuhan sebesar 1,3% per tahun (BPS Kota Manado, 2018) hingga menyebabkan penurunan kualitas udara. Penggunaan bahan bakar untuk memasak merupakan salah satu penyumbang emis gas karbon dioksida (CO2) pada sektor permukiman yang menyebabkan menurunnya kualitas udara. Wilayah penelitian berada di kawasan permukiman Kecamatan Singkil sebagai salah satu Kecamatan dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang cukup signifikan di Kota Manado. Tujuan penelitian untuk menentukan faktor emisi spesifik (FES) serta menganalisis sebaran emisi CO2 dan melakukan pemetaan tingkat emisi CO2 pada kawasan permukiman Kecamatan Singkil Kota Manado. Penelitian ini menggunakan jenis data dan analisis kuantitatif kemudian dilakukan perhitungan menggunakan metode yang dikeluarkan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) dengan mengetahui terlebih dahulu besaran penggunaan bahan bakar untuk memasak tiap tahunnya serta menghitung besaran emisi CO2 dari penggunaan bahan bakar untuk memasak setiap Kelurahan, kemudian menentukan faktor emisi spesifik (FES) yang diharapkan nilai dari FES tersebut dapat digunakan untuk menghitung estimasi jejak karbon, setelah diketahui emisi jejak karbon setiap kelurahan, kemudian dilakukan pemetaan tingkat emisi karbon dioksida (CO2) agar penyebaran jejak karbon tersebut dapat terlihat mana wilayah yang menyumbang emisi karbon dioksida tertinggi, sedang, dan terendah. Karakteristik bahan bakar yang digunakan untuk memasak pada lokasi penelitian adalah LPG, Minyak Tanah dan Kayu Bakar, yang penggunaan pertahunnya sebesar 83.752 kg/tahun dengan nilai emisi CO2 terhadap penggunaan bahan bakar untuk memasak sebesar 238 ton/tahun. FES tertinggi berada di Kelurahan Singkil Satu sebesar 0,6492 ton/tahun dan diikuti kelurahan lainnya. Hasil perhitungan nilai jejak karbon di Kecamatan Singkil sebesar 8.837,71 ton CO2/tahun.Kata Kunci: Spasial, Emisi Karbon Dioksida (CO2), Kawasan Permukiman.
PEMETAAN MASALAH PENYEDIAAN AIR MINUM DI PERKOTAAN TOBELO KABUPATEN HALMAHERA Silangen, Marcelino Gerry; Tilaar, Sonny; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air minum sebagai infrastruktur kota sangat berperan dalam menunjang perkembangan kota, diantaranya membutuhkan sistem penyediaan air minum yang baik sehingga mampu memenuhi kebutuhan sehari- hari penduduknya. Ketersediaan air minum di Perkotaan Tobelo semakin menipis yang sebagian besar disebabkan oleh pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat, serta pencemaran sumber air yang semakin parah. Berdasarkan database air minum Cipta Karya Halmahera Utara tahun 2019  terdapat 9 kelurahan/desa yang penyediaan air minumnya masih dibawah 50 % atau belum memenuhi standar pelayanan minimum air minum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi penyediaan air minum di kawasan Perkotaan Tobelo dan tingkat masalah penyediaan air minum di Kawasan Perkotaan Tobelo. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan menggunakan analisis deskriptif kondisi kualitas, kuantitas dan kontinuitas penyediaan air minum, dan menggunakan analisis skoring untuk memetakan tingkat masalah penyediaan air minum yang ada di Perkotaan Tobelo. Berdasarkan hasil analisis deskriptif kondisi eksisting  penyediaan air minum dimana persentase pelayanan air minum, infrastruktur air minum, dan kondisi kualitas air minum menjadi masalah utama dalam penyediaan air minum di Perkotaan Tobelo. Hasil dari skoring tingkat masalah penyediaan air minum terbagi dalam 3 kriteria yaitu Tingkat masalah tinggi terdapat pada Desa Popilo Utara, Tolonuo, Luari, Kokota Jaya, Gorua, Gura, Kakara, Kumo, Wko, Kali Pitu, Upa, Lina Ino. Kali Upa, Tanjung Niara, Tingkat masalah sedang terdapat pada Desa Popilo, Gorua Selatan, Ruko, Gorua Utara, Gamsungi, Rawajaya, dan Desa Mahia, dan Tingkat masalah rendah terdapat pada Desa Gosoma, Wari Ino, dan Mkcm.Kata Kunci: Pemetaan, Masalah Penyediaan Air Minum, Perkotaan Tobelo.