cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
PENGEMBANGAN EKOWISATA DI KAWASAN PANTAI NABIRE DAN PANTAI GEDO KABUPATEN NABIRE PAPUA Manege, Max Millian; Rondonuwu, Dwight M.
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekowisata di Kabupaten Nabire Papua perlu untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata. Pantai Nabire dan Pantai Gedo adalah pantai yang terletak di Kabupaten Nabire, yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai salah satu kawasan yang strategis untuk mengangkat citra Kabupaten Nabire Papua sebagai daerah yang mengandalkan sektor pariwisata, dikarenakan pantai ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dan masyarakat lokal, jaraknya yang dekat dengan pusat Kota Nabire, dan merupakan pantai yang masih alami yang dikelola oleh pemerintah setempat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek ekowisata di kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo Kabupaten Nabire serta mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman ekowisata di kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo Kabupaten Nabire Papua. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Dari hasil penelitian teridentifikasi karakteristik aspek–aspek ekowisata yang terdapat pada kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo berupa aspek ekologis yaitu flora di kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo terawat dengan baik, aspek fisik yaitu prasarana dan sarana pariwisata yang ada di kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo sudah cukup memadai hanya perlu dijaga dan lebih diperhatikan lagi, dan aspek sosial budaya yaitu peran serta masyarakat sangatlah baik diantaranya dapat dilihat dari aktivitas masyarakat serta festival budaya tahunan di kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo. Berdasarkan analisis Strength, Weakness, Opportunities, Threat (SWOT) kawasan Pantai Nabire dan Pantai Gedo memiliki kekuatan (strength) daya tarik wisata pantai berupa atraksi alam yang indah dan berpeluang (opportunities) untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata. Sedangkan kelemahannya (weakness) adalah masih minimnya prasarana dan sarana pendukung pariwisata, selain itu terdapat ancaman (threat) terganggunya sistem ekologis, fisik, sosial budaya serta gempa bumi dan tsunami.Kata Kunci: Ekowisata, Pantai Nabire, Pantai Gedo.
IDENTIFIKASI DAN EVALUASI EKSISTENSI RUANG TERBUKA DI KECAMATAN WENANG KOTA MANADO Longaris, Sendy; Rogi, Octavianus H.A.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Wenang adalah salah satu kecamatan di Kota Manado yang memiliki tingkat kepadatan bangunan tinggi serta sudah tidak memiliki ketersediaan lahan efektif lagi (ditinjau dari tabel ketersediaan lahan efektif di wilayah kota Manado, Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado tahun 2014-2034). Lokasi Kecamatan Wenang yang berada tepat di pusat kota yang menjadi pusat dari segala aktivitas masyarakat kota Manado baik aktivitas perdagangan, usaha, dan lain-lain. Sehingga terdapat banyak lahan terbangun di kecamatan Wenang. Hal ini menjadi masalah terhadap ketersediaan ruang terbuka sebagai tempat bertemu, berkumpul dan berinteraksi antara satu sama lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi eksistensi ruang terbuka serta mengevaluasi ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Wenang Kota Manado berdasarkan Permen PU no. 5 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan berdasarkan luas wilayah yaitu minimal 30%, sementara berdasarkan jumlah penduduk menyesuaikan tabel penyediaan yang ada. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif menggunakan teknik analisis dialog deskriptif yaitu mendialogkan hasil data lapangan dengan menyesuaikan teori-teori yang ada, serta metode kuantitatif menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis data ini diolah menggunakan aplikasi ArcGIS untuk membuat peta sebaran, jenis, serta tipe kepemilikan ruang terbuka. Dari hasil output peta akan dihitung jumlah ketersediaan ruang terbuka. Maka hasil evaluasi yang diperoleh ketersediaan ruang terbuka berdasarkan luas wilayah masih kekurangan, dari luas wilayah Kecamatan Wenang 368.78 ha hanya terdapat 47.63 ha yang terdiri dari 39.37 ha RTH publik dan 8.26 ha RTH privat. Jika di persentasekan RTH di Kecamatan Wenang hanya memiliki luas 12.91% sementara di standar penyediaan harusnya minimal 30%. Untuk standar berdasarkan jumlah penduduk masih memiliki banyak kekurangan karena tidak tersedianya ruang terbuka berdasarkan tipe taman RT, taman RW dan Taman Lingkungan. Namun di sisi lain ada tipe taman kecamatan yang sudah terpenuhi ketersediaannya yakni seluas 3.49 ha dari standar 0.6 ha per unit.Kata Kunci: Ruang Terbuka, Ruang Terbuka Hijau, Ruang Terbuka Non Hijau.
PERENCANAAN PARIWISATA HIJAU DI DISTRIK ROON KABUPATEN TELUK WONDAMA, PAPUA BARAT Tingginehe, Amanda M.; Waani, Judy O.; Wuisang, Cynthia E.V.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata di Distrik Roon Kabupaten Teluk Wondama merupakan wisata kepulauan Papua yang masih baru di mekarkan, sehingga Peratuan Pemerintah Kabupaten tentang perencanaan dan penataan kawasan wisata belum maksimal juga tertata dengan baik, padahal wisata kepulauan ini memiliki aspek keindahan dan nilai ekonomi yang besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama. Perencanaan yang baik dengan mengutamakan lingkungan diharapkan dapat bermanfaat bukan hanya saat ini tapi di masa yang akan datang. Berdasarkan latar belakang maka masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi potensi dan sarana-prasarana pariwisata di Distrik Roon dan bagaimana strategi perencanaan pariwisata hijau di Distrik Roon. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi potensi dan sarana-prasarana pariwisata yang terdapat di Distrik Roon dan merekomendasikan strategi perencanaan pariwisata hijau di Distrik Roon, adapun manfaat hasil penelitian dapat digunakan sebagai rujukan untuk perencanaan pariwisata di Distrik Roon. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Metode analisis menggunakan analisis SWOT dan ada beberapa strategi perencanaan lainnya. Hasil Penelitian berdasarkan matriks SWOT diketahui faktor internal jumlah bobot x rating lebih besar 3,51 dari faktor eksternal 3,1. Beberapa faktor internal yaitu ; Wisata kepulauan auri, Wisata religi gereja Isne-Jedi, Wisata kebudayaan dln.  Beberapa faktor eksternal yaitu ; Pengelolaan limbah yang belum baik, Infrastruktur pariwisata belum baik dln. Hasil penelitian lainnya ialah infrastruktur pariwisata masih kurang seperti jaringan energi listrik, jaringan telekomunikasi dan jalur transportasi yang hanya bisa diakses melalui jalur laut.Kata Kunci: Perencanaan Pariwisata Hijau, Pariwisata Hijau
KAJIAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN AMURANG TIMUR BERDASARKAN DAYA DUKUNG LAHAN Lomban, Gracella Patricia; Tilaar, Sonny; Siregar, Frits O.P.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Amurang Timur merupakan wilayah hasil pemekaran dari Kecamatan Amurang yang juga merupakan kawasan pusat pemerintahan dan perkantoran serta arahan pengembangan kota sebagai kawasan potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan permukiman. Permasalahan menonjol yang ditimbulkan akibat pemekaran kota salah satunya ialah masalah kesesuaian pemanfaatan lahan. Pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman harus memberikan lingkungan hidup yang sehat serta aman dari bencana alam. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis dan mengidentifikasi kemampuan dan kesesuaian lahan yang ada di Kecamatan Amurang Timur dalam pengembangan permukimannya. Penentuan kemampuan dan kesesuaian lahan mengacu pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.20/PRT/M/2007 tentang Pedoman Teknik Analisis Fisik dan Lingkungan, Ekonomi Serta Sosial Budaya Dalam Penyusunan Tata Ruang. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif deskriptif dengan pendekatan analisis spasial overlay tumpang-tindih dan skoring untuk pemberian nilai serta diperoleh kelas kesesuaian lahan pada tiap parameter menggunakan sistem informasi geografis (SIG). Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Kecamatan Amurang Timur memiliki kemampuan lahan yang cukup mampu dalam pengembangan kawasan terutama permukiman serta didapatkan empat kategori klasifikasi kesesuaian lahan untuk wilayah Kecamatan Amurang Timur yaitu kategori Sangat Sesuai (S1) dengan luas 485,76 Ha, Cukup Sesuai (S2) dengan luas 8788,27 Ha, Tidak Sesuai (N1) dengan luas 6664,54 Ha dan Tidak Sesuai Permanen (N2) dengan luas 1256,06 Ha.Kata Kunci: Kemampuan Lahan, Kesesuaian Lahan, Permukiman
ANALISIS KERENTANAN BAHAYA ERUPSI GUNUNG API KARANGETANG TERHADAP KAWASAN PERMUKIMAN DI PULAU SIAU Dame, Grinaldi Schneider Andre; Poli, Hanny; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Api Karangetang adalah gunung api yang terletak dibagian utara Sulawesi lebih tepatnya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Gunung Api Karangetang salah satu gunung teraktif di Indonesia dengan letusan sebanyak lebih dari 40 kali sejak tahun 1675 serta letusan kecil yang tidak terdata dalam catatan dalam rangka pengembangan kawasan permukiman di daerah potensi ancaman erupsi Gunung Karangetang, maka diperlukan analisis terkait tingkat kerentanan bahaya erupsi Gunung Karangetang terhadap pemukiman di Kabupaten Sitaro. Tujuannya untuk dapat mengetahui tingkat kerentanan serta menyusun atau memberikan rekomendasi-rekomendasi sesuai dengan tingkat kerentanan terhadap erupsi Gunung Api Karangetang terutama pada daerah ancaman erupsi (KRB I, II dan III) agar kerugian bencana yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Sitaro akibat dari Letusan Gunung Api Karangetang khususnya di pulau siau dapat diminimalisir. Selain itu, hasil penelitian ini di dapat dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif dengan analisis spasial, sesuai analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek kerentanan fisik, kerentanan sosial, kerentanan ekonomi dan lingkungan yang parameternya berdasarkan PERKA BNPB No 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Resiko Bencana. Sehingga di peroleh hasil analisis indeks kerentanan letusan gunung api Karangetang di pulau siau di fokuskan untuk 8 (delapan) desa dengan tingkat kelas kerentanan tinggi dan di lakukan rekomendasi-rekomendasi terkait penanganan yang ditujukan ke pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang dan Biaro (Sitaro) lebih tepatnya pemerintah yang ada di pulau Siau terkait pertimbangan perencanaan dan pengembangan mitigasi bencana berdasarkan aspek Kerentanan Fisik, Kerentanan Sosial, Kerentanan Ekonomi dan Kerentanan LingkunganKata Kunci : Gunung Api, Kerentanan Bencana, Pulau Siau.
PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA HIJAU DI PULAU SULABESI, KABUPATEN KEPULAUAN SULA Djalil, Soepratman Abd; Takumansang, Esli D.; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pariwisata di Pulau Sulabesi Kabupaten Kepulauan Sula merupakan wisata kepulauan yang masih baru di kembangkan, sehingga Peratuan Pemerintah Kabupaten tentang perencanaan dan penataan kawasan wisata belum maksimal juga tertata dengan baik, padahal wisata kepulauan ini memiliki aspek keindahan dan nilai ekonomi yang besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula. Perencanaan Pengembangan yang baik dengan mengutamakan lingkungan diharapkan dapat bermanfaat bukan hanya saat ini tapi di masa yang akan datang. Berdasarkan latar belakang maka masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu Bagaimana perencanaan pengembangan pariwisata daerah di Pulau Sulabesi dengan pendekatan Pariwisata Hijau. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk Menganalisis perencanaan pengembangan pariwisata daerah di Pulau Sulabesi dengan pendekatan Pariwisata Hijau, adapun manfaat hasil penelitian dapat digunakan sebagai rujukan untuk perencanaan pengembangan kawasan pariwisata di Pulau Sulabesi. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Metode analisis mengunakan analisis SWOT dan Perencanaan ada beberapa strategi perencanaan lainnya. Hasil Penelitian berdasarkan matriks SWOT diketahui faktor internal, faktor eksternal dan faktor internal yaitu ; Wisata Mangrove Kecamatan Sanana Utara, Wisata kebudayaan dln.  Beberapa faktor ekstenal yaitu ; Pengelolaan limbah yang belum baik, Infrastuktur pariwisata belum baik dln. Hasil penelitian lainnya ialah infrastuktur pariwisata masih kurang seperti jaringan energi listrik, jaringan telekomunikasi dan jalur transportasi yang hanya bisa diakses melalui jalur laut dan darat.Kata Kunci: Perencanaan Pengembangan Kawasan Pariwisata Hijau, Pariwisata Hijau
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA DI KECAMATAN LANGOWAN SELATAN Pangau, Debora Sara; Egam, Pingkan P.; Kumurur, Veronica A.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Langowan Selatan memiliki empat jenis objek wisata yang menjadi daya tarik yaitu wisata alam Pantai Rumbia, Pantai Walensorit, wisata budaya Waruga Toar Lumimuut, dan wisata buatan Gua Maria Kawatak. Berdasarkan Laporan Akhir Rencana Induk Perencanaan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kabupaten Minahasa objek wisata yang ada di Kecamatan Langowan Selatan masih belum terpenuhi secara maksimal untuk ketersediaan prasarana dan sarana dalam menunjang suatu objek wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ketersediaan prasarana sarana di objek wisata di Kecamatan Langowan Selatan serta mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman di objek wisata di Kecamatan Langowan Selatan. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif . Teknik pengambilan data menggunakan wawancara dan observasi secara langsung kelokasi wisata, selanjutnya data diolah menggunakan data primer dan sekunder, dan analisis SWOT. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari ketersediaan prasarana dan sarana terdapat pada objek wisata Gua Maria dengan hasil 79%, kedua Waruga Toar Tumimuut 63%, ketiga Pantai Rumbia 54%, keempat Pantai Walensorit 24%.Kata Kunci: Pengembangan, Kawasan Wisata.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KABUPATEN TORAJA UTARA Kadang, Octavia A.; Kumurur, Veronica A.; Supardjo, Surijadi
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Toraja Utara merupakan daerah dataran tinggi yang memiliki topografi paling tinggi di Provinsi Sulawesi Selatan dan memiliki tingkat rawan bencana longsor yang tinggi. Selain merupakan dataran tinggi yang rawan akan bencana longsor Kabupaten Toraja Utara memiliki kemiringan lereng yang sangat beragam dan sebagian besar tergolong kemiringan lereng yang sangat curam dan tersebar di beberapa bagian di Kabupaten Toraja Utara. Tingkat kerawanan bencana longsor dan kemiringan lereng yang tinggi sangat berpengaruh terhadap kualitas penggunaan lahan khususnya penggunaan lahan permukiman. Oleh karena itu perlu dilakukan analisis terhadap kesesuaian lahan permukiman di Kabupaten Toraja Utara sesuai dengan peruntukan dan kemampuan lahannya. Metode penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan analisis spasial yaitu analisis overlay dan skoring. Analisis spasial dilakukan dengan cara overlay atau menumpangtindihkan parameter-parameter kesesuaian lahan kemudian dilakukan analisis skoring untuk menentukan fungsi kawasan sehingga didapatkan output berupa peta kesesuaian lahan permukiman. Kabupaten Toraja Utara memiliki 3 kategori kesesuaian lahan yaitu tidak sesuai seluas 61.655 ha, sesuai bersyarat seluas 42.080 ha dan yang sesuai seluas 12.012 Ha. Lahan permukiman yang menempati kawasan permukiman atau kawasan yang sesuai seluas 451 Ha dengan persentase 68,75 dari total luas permukiman di Kabupaten Toraja Utara sedangkan lahan permukiman yang tidak sesuai atau lahan permukiman yang menempati kawasan lindung seluas 205 ha dengan persentase 31,25 dari total luas permukiman yang ada di Kabupaten Toraja Utara.Kata Kunci: penggunaan lahan, kesesuaian lahan, permukiman
KAJIAN KETERSEDIAAN SARANA PENDIDIKAN DI KAWASAN PERKOTAAN AMURANG Farawowan, Yusuf; Poli, Hanny; Mastutie, Faizah
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkotaan Amurang adalah pusat pemerintahan Kabupaten Minahasa Selatan dan pusat perdagangan dan jasa. Perkotaan Amurang yang merupakan wilayah penelitian ini terutama Sarana Pendidikan diharapkan menjadi prioritas penunjang dalam melengkapi ketersediaan infrastruktur sosial. Berdasarkan data Kawasan perkotaan Amurang dalam angka tahun 2018, fasilitas pendidikan di kawasan perkotaan Amurang belum memenuhi standar pelayanan minimum berdasarkan jumlah penduduk. Tujuan dari penelitian ini ialah mengidentifikasi kebutuhan sarana pendidikan tingkat SD, SMP, SMA, mengidentifikasi sebaran sarana pendidikan SD, SMP, SMA dan menganalisis kesesuaian sarana pendidikan dengan penempatan lahan di perkotaan Amurang. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif. Yang mendukung penelitian ini adalah data demografi penduduk, persebaran lokasi sekolah, dan jarak jangkauan pelayanan tiap unit sekolah yang merupakan kualitas persebaran lokasi sekolah. Kajian ketersediaan sarana pendidikan di kawasan perkotaan Amurang menyajikan hasil kebutuhan sarana pendidikan berdasarkan jumlah penduduk di perkotaan Amurang sudah memenuhi standar yang berlaku. Persebaran sarana pendidikan di Perkotaan Amurang belum sepenuhnya memenuhi standar contohnya di Kelurahan Lopana Satu yang memiliki kepadatan penduduk paling padat hanya mempunyai satu unit SD dan SMP. Untuk Kesesuaian sarana pendidikan di Perkotaan Amurang ada yang beberapa desa yang perlu untuk di perhatikan karena ketersediaan sarana pendidikan belum sesuai dengan standar yang berlaku contohnya seperti Desa Bitung, Uwuran Dua, Ranoyapo dan Desa Wakan.Kata Kunci : Sarana  Pendidikan, Analisis Kesesuaian, Perkotaan Amurang
PENGARUH SISTEM AKTIVITAS MASYARAKAT TERHADAP PEMANFAATAN RUANG DI PULAU BUNAKEN KOTA MANADO Toghas, Daniel Marthinus; Waani, Judy O.; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemanfaatan ruang merupakan bagian penting dalam aktivitas masyarakat. Pemanfaatan ruang yang direncanakan dengan baik akan memberikan dampak positif bagi masyarakat dan wilayahnya. Hal ini menjadi menarik untuk dilakukan penelitian mengenai pemanfaatan ruang dan sistem aktivitas masyarakat. Penelitian ini mempunyai perbedaan dengan penelitian yang telah ada sebelumnya, Judy O. Waani (2017) meneliti tentang sistem setting permukiman masyarakat Pulau Bunaken. Selanjutnya, Trihartono (2016) memfokuskan penelitian pada keberadaan ruang aktivitas masyarakat pada koridor jalan. Penelitian ini fokus pada sistem aktivitas masyarakat yang mempengaruhi pemanfaatan ruang. Hal ini penting karena pemanfaatan ruang terjadi akibat aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat yang jika tidak diperhatikan akan memberikan dampak negatif pada pemanfaatan ruang. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi sistem aktivitas masyarakat dan menganalisis pengaruh sistem aktivitas masyarakat terhadap pemanfaatan ruang di Pulau Bunaken. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu kualitatif dengan pendekatan rasionalistik yang menggambarkan kondisi aktivitas masyarakat dan pola pergerakan yang membentuk sistem aktivitas masyarakat, serta pendekatan statistik deskriptif dengan metode analisis jalur untuk mengetahui pengaruh sistem aktivitas terhadap pemanfaatan ruang dimana sampel dipilih secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem aktivitas di Pulau Bunaken terbentuk dari lima subsistem aktivitas yakni: ekonomi, keagamaan, kesenian, kemasyarakatan dan pendidikan, sedangkan pengaruhnya terhadap pemanfaatan ruang yaitu aktivitas ekonomi yang paling berpengaruh terhadap pemanfaatan ruang yaitu jaringan jalan dan kawasan permukiman.Kata Kunci: sistem aktivitas, pemanfaatan ruang, Pulau Bunaken