cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
SPASIAL
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 440 Documents
PERUBAHAN LAHAN PERTANIAN BASAH DI KOTA KOTAMOBAGU Mokodompit, Putri Indah Sari; Kindangen, Jefrey I.; Tarore, Raymond Ch.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Di Kota Kotamobagu permasalahan yang terjadi yaitu pertumbuhan penduduk yang bersifat alami maupun migrasi semakin meningkat sehingga berdampak pada kebutuhan akan lahan yang dimanfaatkan untuk permukiman juga akan meningkat. Adanya pertumbuhan penduduk juga akan mempengaruhi peningkatan dalam ketersediaan fasilitas jalan, pendidikan, kesehatan, dan fasilitas pelayanan umum lainnya, tentunya hal itu juga membutuhkan lahan sebagai wadahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran dan penggunaan lahan pertanian basah di Kota Kotamobagu dan untuk menganalisis faktor-faktor yang dominan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Kota Kotamobagu. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis overlay GIS dan metode analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini yaitu perubahan penggunaan lahan di Kota Kotamobagu dalam kurun waktu dari tahun 2009 sampai dengan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa luas keseluruhan Kota Kotamobagu adalah 6802.342 Ha dan hasil analisis mengguna analisis spasial mendapatkan hasil penggunaan lahan pertanian basah pada tahun 2009 sebesar 1856.940 Ha dan penggunaan lahan pertanian basah pada tahun 2019 sebesar 1697.496. Sedangkan untuk faktor yang dominan mempengaruhi perubahan penggunaan lahan pertanian khususnya lahan sawah di kota Kotamobagu adalah keputusan petani untuk melakukan alih fungsi lahan yang di pengaruhi oleh tingkat usia, luas lahan, lama pendidikan dan pengalaman bertani. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa perbandingan luas lahan pertanian basah dari tahun 2009 sampai dengan pada tahun 2019 adalah sebesar 159.444 Ha dan faktor-faktor yang paling mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan lahan adalah keputusan petani untuk melakukan alih fungsi lahan yang di pengaruhi oleh tingkat usia, luas lahan, lama pendidikan dan pengalaman bertani.Kata Kunci: Penggunaan Lahan, Perubahan Penggunaan Lahan.
PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KORIDOR JALAN BOULEVARD AMURANG Langoy, Rilly Algi O.; Mononimbar, Windy; Hanny, Poli
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penggunaan lahan di suatu wilayah selalu terkait dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya. Semakin meningkatnya jumlah penduduk dan semakin intensifnya aktivitas penduduk di suatu tempat berdampak pada meningkatnya perubahan penggunaan lahan. Salah satu contoh yang terjadi yaitu perubahan di sepanjang koridor jalan Boulevard Amurang. Amurang merupakan salah satu kota yang berkembang dengan jumlah penduduk yang setiap harinya meningkat serta memiliki berbagai macam kegiatan perkotaan yang bervariasi yang menyebabkan kebutuhan akan ruang juga meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan dan mengkaji faktor ? faktor apa yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di koridor Jalan Boulevard Amurang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif dengan metode deskriptif dan menggunakan analisis SIG (Sistem Informasi Geografi). Perubahan penggunaan lahan di koridor Jalan Boulevard Amurang meliputi perubahan luas lahan dan fungsi lahan serta fungsi bangunan. Perubahan tersebut cenderung meningkat setiap tahunnya perubahan dari lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun sebesar 7.39 ha atau sebesar 18.27%. Jenis perubahan fungsi lahan yang terjadi yaitu perubahan fungsi dari tanah kosong menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa, hunian menjadi perdagangan jasa sekaligus hunian, dan perdagangan jasa menjadi perdagangan jasa lainnya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan penggunaan lahan di Koridor boulevard adalah penduduk, aksesibiltas, prasarana dan sarana, daya dukung lahan, ekonomi.Kata Kunci: Amurang, Koridor Jalan, Perubahan Penggunaan Lahan
ANALISIS KEMAMPUAN LAHAN DI PULAU SULABESI KABUPATEN KEPULAUAN SULA Duwila, Rifandi; Tarore, Raymond Ch.; Takumansang, Esli D.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Sulabesi mengalami pembangunan yang cukup pesat dari tahun ke tahun. Dalam perkembangan ini tidak terlepas dari kebutuhan lahan yang akan terus meningkat, sehingga kawasan lindung bisa terancam alih fungsi menjadi lahan terbangun. penelitian ini bertujuan untuk: menganalisis kelas kemampuan lahan, dan menentukan pemanfaatan lahan sesuai dengan kelas kemampuan lahan di Pulau Sulabesi, untuk mencapai tujuan tersebut di lakukan penelitian dengan cara pengambilan data sekunder kepada instansi pemerintah terkait yaitu Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Kepulauan Sula, data yang diambil diantaranya: Peta curah hujan, peta topografi, peta geologi, peta kemiringan lereng, peta bencana alam, peta penggunaan lahan, peta Morfologi. Teknik analisis kemampuan lahan yakni dilakukan dengan memasukkan data dari hasil analisis satuan kemampuan lahan yang kemudian dilakukan dengan teknik overlay. Proses analisis ini juga dilakukan dengan memanfaatkan perangkat lunak SIG (Sistem Informasi Geografis) ArcGis 10.5. Menurut Pedoman PU No 20 tahun 2007 yang telah di tetapkan bobotnya setiap SKL. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelas kemampuan lahan di Pulau Sulabesi terdiri dari lima kelas yaitu kelas A, B, C, D, dan E. Kelas kemampuan lahan terluas terdapat pada kelas C dengan luasan 40670,2 Ha (74,25%) sedangkan pemanfaatan lahan pada kemampuan lahan terluas terdapat pada hutan rimba dengan luasan 32.717,9 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa 74,25% dari luasan Pulau Sulabesi berada pada Kelas c yang artinya adalah kemampuan lahan sedang atau di kategorikan sebagai kawasan pemanfaatan sedang. Kata kunci: Pulau Sulabesi, Kemampuan Lahan, Sistem Informasi Geografis, Pemanfaatan Lahan
PERENCANAAN RUANG TERBUKA PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK DI PERMUKAN PADAT KECAMATAN AMURANG Daun, Almer Aziz Mukmin Pratama; Warouw, Fela; Sembel, Amanda
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ruang terbuka publik secara umum tidak hanya berfungsi untuk masyarakat umum saja, melainkan ruang publik yang benar-benar sesuai untuk anak bermain dan beraktivitas baik dari kondisi area ruang publik maupun dari segi fasilitas yang benar-benar ramah anak, Adapun konsep RTPRA sendiri berawal dari konsep Kota Ramah Anak (Child Friendly City) yang muncul sebagai dampak dari beberapa tren penting diantaranya, transformasi cepat dan urbanisasi masyarakat global. Tujuannya untuk menentukan lokasi sebagai area perencanaan ruang terbuka public terpadu anak di Kecamatan Amurang. Untuk menentuka fasilitas apa saja yang cocok untuk dalam perencanaan ruang terbuka public terpadu ramah anak, peneltian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil survey menentukan lokasi yang bisa di jadikan sebagai alternative perencanaan ruang terbuka public ramah anak. Dari hasil observasi survey dan wawancara langsung di lapangan di temukan bahawa beberapa fasilitas ruang terbuka yang sesuai kebutuhan masyarakat di tiap kelurahan yang ada. Kata Kunci : Perencanaan, Ruang terbuka ramah anak, Kecamatan Amurang. 
KAJIAN CITY BRANDING TOMOHON SEBAGAI KOTA BUNGA Mokalu, Kezia Stefani; Rondonuwu, Dwight M.; Lintong, Steven
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

City branding merupakan strategi untuk meningkatkan daya saing kota dalam menghadapi kompetensi global dengan membangun diferensiasi dan memperkuat identitasnya. Saat ini, Kota Tomohon dikenal luas oleh masyarakat sebagai Kota Bunga dan telah melaksanakan Tomohon International Flower Festival (TIFF) sejak tahun 2008. Selain itu, sejak dahulu penduduknya sudah mengembangkan budidaya tanaman hias. Bahkan Tomohon telah ditetapkan sebagai Kawasan Khusus Pengembangan Agrobisnis Florikultura (KKPAF) untuk Kawasan Indonesia Timur oleh Ditjen Hortikultura. Berbagai potensi tersebut digunakan pemerintah untuk membangun diferensiasi kota yang merupakan bagian dari strategi city branding. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui city branding Tomohon sebagai Kota Bunga menurut teori Kavaratzis. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik analisis Miles & Huberman dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan visi Kota Tomohon tidak secara ekplisit menetapkan Kota Bunga pada setiap dokumen perencanaan. Akan tetapi, budaya internal menunjukkan pengelolaan dan pemasaran Kota Bunga telah dilakukan oleh pemerintah melalui berbagai program dinas terkait. Namun sayangnya, keterlibatan komunitas lokal dalam pengembangan Kota Bunga baru sebatas pelaksanaan TIFF. Begitu pula dengan sinergi yang terbentuk diantara stakeholder yang saling mendukung untuk mensukseskan TIFF. Meskipun demikian, infrastruktur kota sudah mampu menyediakan kebutuhan dasar, termasuk untuk pengembangan Kota Bunga. Hanya saja, ruang dan gerbang kota kurang menonjolkan brand bunga. Sedangkan kesempatan yang menonjolkan brand sangat terbuka dan komunikasi masih belum memaksimalkan logo dan slogan. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa Kota Tomohon telah menerapkan city branding menurut teori Kavaratzis, walaupun masih belum maksimal karena masih berujung pada promosi TIFF.Kata kunci: City Branding, Tomohon, Kota Bunga
PERENCANAAN KAWASAN PARIWISATA DI KECAMATAN TOMOHON SELATAN Barambae, Yuliet Elviseni; Egam, Pingkan P.; Siregar, Frits O.P.
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kecamatan Tomohon Selatan memiliki empat jenis objek wisata yang menjadi daya tarik yaitu wisata alam Air Terjun Tumimperas, Hutan Pinus Lahendong, Danau Linow, Danau Tampusu. Berdasarkan laporan Akhir Rencana Induk Perencanaan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Kota Tomohon objek wisata yang ada di Kecamatan Tomohon Selatan masih belum terpenuhi secara maksimal untuk ketersediaan prasarana dan sarana dalam menunjang suatu objek wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana ketersediaan prasarana-sarana diobjek wisata di Kecamatan Tomohon Selatan serta mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman diobjek wisata Kecamatan Tomohon Selatan metode penelitian menggunakan metode deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, observasi, dan kuesioner secara langsung ke lokasi wisata, selanjutnya data dikelola menggunakan data primer dan sekunder, dan analisis SWOT hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase tertinggi dari ketersediaan prasarana dan sarana terdapat pada objek wisata Danau Linow dengan hasil 91%, kedua Hutan Pinus Lahendong 82%, ketiga Air Terjun Tumimperas 73%, dan keempat Danau Tampusu 69%.Kata Kunci: Perencanaan, Kawasan Pariwisata, Kecamatan Tomohon Selatan
KAJIAN DANAU POSO SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA BERBASIS MASYARAKAT Talimba, Vinanda Putri; Egam, Pingkan P.; Prijadi, Rachmad
SPASIAL Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kabupaten Poso merupakan daerah destinasi yang sangat diminati karena mempunyai potensi sumber daya alam yang menjanjikan sehingga sangat menunjang kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepariwisataan daerah yang secara kompetitif lebih unggul dibandingkan daerah lainnya, seperti terdapat beragam jenis tempat wisata yang berada di Kabupaten Poso. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi eksisting daya tarik wisata di kawasan Danau Poso, mengetahui bentuk partisipasi masyarakat dalam pengembangan kawasan Danau Poso. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi eksisting daya tarik wisata di 4 lokasi objek wisata yaitu di Pantai Siuri, Padamarari, Taman Anggrek, dan Pantai Pasir Putih di kawasan Danau Poso yaitu pada umumnya merupakan kawasan wisata yang berpotensi untuk dikembangkan. Pada kawasan tersebut memiliki panorama dan pantai yang indah dengan keunikan yang khas pasir kuning keemasan dan warna airnya yang menunjukkan gradasi hijau dan berubah menjadi biru di tengahnya. Namun belum dikelola dengan baik oleh masyarakat maupun pemerintah. Fasilitas wisata belum menunjang dan pada beberapa tempat wisata belum tersedia transportasi. Bentuk partisipasi masyarakat pada wisata Pantai Siuri, Padamarari, Taman Anggrek, dan Pantai Pasir Putih di kawasan Danau Poso, berdasarkan hasil analisis rata-rata masyarakat ikut terlibat, bentuk keterlibatan masyarakat yaitu ikut mempromosikan objek wisata melalui media elektronik media internet media lainya seperti mengadakan atau menyelenggarakan acara Festival Danau Poso, turut menjaga kebersihan dan pelestarian, pembuatan suvenir atau oleh-oleh khas daerah untuk menambah pendapatan masyarakat.                               Kata Kunci: Wisata, Berbasis Masyarakat, Danau Poso
PENENTUAN KUALITAS PERMUKIMAN BERDASARKAN KRITERIA ECO-SETTLEMENT DI KELURAHAN SINDULANG SATU KOTA MANADO Dewi, Kartika Puspa; Kumurur, Veronica A.; Sela, Rieneke L. E.
SPASIAL Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eco-settlement merupakan tempat bermukim yang ekologis, konsep eco-settlement sendiri mengarah pada pencapaian nilai ekologis. Kegiatan penelitian yang dilakukan pada kesempatan kali ini adalah mengidentifikasi kualitas permukiman di Kelurahan Sindulang Satu Kota Manado dengan menggunakan pendekatan kriteria eco-settlement . Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kualitas permukiman yang ada di Kelurahan Sindulang Satu Kota Manado. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif, deskriptif kuantitatif berupa analisis skoring yang digunakan untuk mengetahui kualitas rumah sehat sedangkan deskriptif kualitatif digunakan untuk mendeskripsikan kualitas aspek-aspek lainnya. Hasil analisa diketahui bahwa kualitas permukiman di Kelurahan Sindulang Satu Kota Manado yang dinilai dengan menggunakan pendekatan kriteria eco-settlement yang terdiri dari masing-masing aspek, yaitu untuk kualitas aspek ekologi pada kriteria rumah sehat, kepadatan bangunan, kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase, ketersediaan air bersih dan persampahan memiliki kualitas yang baik sedangkan untuk RTH dan proteksi pemadam kebakaran memiliki kualitas yang buruk dikarenakan tidak sesuai standar yang ada. Sedangkan untuk aspek ekonomi, sosial dan kelembagaan memiliki kualitas yang baik karena sudah sesuai dengan standar yang ada.Kata kunci: Kualitas permukiman, eco-settlement
ANALISIS KARAKTERISTIK WILAYAH PERI URBAN BERDASARKAN ASPEK FISIK DI KECAMATAN PINELENG KABUPATEN MINAHASA Oroh, Alfiando; Kumurur, Veronica A.; Warouw, Fela
SPASIAL Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah peri urban merupakan wilayah yang dinamis dan terus mengalami perkembangan dalam berbagai aspek seiring dengan perkembangan kota dan wilayah sekitarnya, sehingga dapat menggeser kenampakan kedesaannya ke arah kekotaan. Kecamatan Pineleng adalah salah satu wilayah peri urban yang mengalami perkembangan fisik akibat dampak perkembangan Kota Manado. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik wilayah peri urban di Kecamatan Pineleng berdasarkan aspek fisik. Karakteristik aspek fisik ditinjau dari variabel penggunaan lahan pertanian, kepadatan bangunan, luas permukiman, panjang jalan aspal, tingkat pelayanan fasilitas kesehatan serta fasilitas pendidikan. Data tiap variabel adalah data sekunder yang diperoleh melalui survei instansional dan data primer dari observasi-dokumentasi untuk memperkuat data sekunder. Data-data yang diperoleh di analisa menggunakan tiga teknik analisis yang diawali analisis statistik deskriptif untuk mendapat hasil sesuai definisi operasional, kemudian analisis skoring untuk memberikan skor berdasarkan tingkat kekotaan-kedesaan dan terakhir analisis overlay untuk mengetahui total skor untuk klasifikasi karakteristik. Dari rangkaian analisis yang dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa ada dua karakteristik wilayah peri urban di Kecamatan Pineleng yaitu karakteristik peri urban sekunder yang ditunjukkan 3 desa (Pineleng Satu, Pineleng Dua, dan Sea Tumpengan) dan karakteristik rural peri urban yang ditunjukkan 11 desa (Kali Selatan, Kali, Lotta, Winangun Atas, Pineleng Satu Timur, Pineleng Dua Indah, Warembungan, Sea, Sea Satu, Sea Dua, dan Sea Mitra).Kata Kunci : Peri-urban, karakteristik, fisik, Kecamatan Pineleng
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN GUNUNG API AWU DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Salatun, Sri Ratni; Rogi, Octavianus H.A.; Lintong, Steven
SPASIAL Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : SPASIAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Awu merupakan gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan tipe Saint Vincent atau Tipe Vulcano. Puncak tertinggi terletak pada koordinat 03O 41' LU dan 125O 27'30?? BT pada ketinggian 1.340 meter diatas permukaan laut. Bahaya primer letusan gunung api Awu (bahaya langsung akibat letusan) berupa awan panas, aliran lava, guguran lava pijar, dan aliran lahar letusan dan kawasan rawan bencana terhadap hujan material lontaran batu (pijar) berukuran lapili sampai bom/blok (>64 mm), hujan lumpur dan hujan abu lebat. Bahaya sekunder (bahaya tidak langsung akibat letusan) berupa  lahar hujan yang terjadi setelah erupsi apabila turun hujan lebat di sekitar puncak. Tujuan dari penelitian ini yaitu merekomendasikan strategi mitigasi bencana melalui analisis spasial dalam tingkat kerentanan gunung api Awu dalam aspek fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif  dan kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Sesuai analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek fisik bangunan, sosial kependudukan, ekonomi dan lingkungan yang parameter pembentuknya berdasarkan PERKA BNPB No. 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, sehingga diperolehnya indeks penduduk terpapar dan indeks kerugian dari dampak bencana. Analisis kerentanan diolah dalam SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk mengklasifikasikan nilai kerentanan yang paling tinggi hingga paling rendah. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa hal yaitu; persebaran tingkat kerentanan di Kabupaten Kepulauan Sangihe terbagi atas 3 kelas (Rendah, Sedang dan Tinggi) dan yang menjadi pembahasan adalah desa dengan kelas kerentanan tinggi ada 12 (dua belas kelurahan/desa) dan rekomendasi?rekomendasi mitigasi penanganan di wilayah rentan bencana letusan Gunung api Awu.Kata Kunci : Tingkat Kerentanan, Gunung Api, Spasial, Mitigasi