cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Prosiding Seminar Biologi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 279 Documents
Analisis Hubungan Suhu Air dengan Mortalitas Semai Mangrove pada Tambak Wanamina ENDAH DWI HASTUTI; RINI BUDI HASTUTI
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.2627

Abstract

Pengaruh suhu air terhadap tingkat kelulushidupan semai mangrove dalam tambak wanamina merupakan faktor penting yang perlu dikaji terkait pengembangan penerapan budidaya tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan temporal suhu air, mengamati tingkat kelulushidupan semai mangrove dan menganalisis hubungan suhu air terhadap tingkat kelulushidupan semai mangrove dalam tambak wanamina. Penelitian dilakukan di Desa Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang dari Maret 2015 - Maret 2016 dengan jeda antar pengamatan selama 3 bulan. Sebanyak 54 tegakan semai mangrove masing-masing dari jenis Avicennia marina dan Rhizophora mucronata yang terdistribusi di dalam kolam tambak digunakan sebagai sampel, sedangkan pengamatan suhu dilakukan di sekitar tegakan mangrove yang diamati. Analisis data dilakukan dengan uji-t untuk mengetahui perbedaan tingkat kelulushidupan antar spesies mangrove dan uji regresi untuk mengetahui pengaruh suhu air terhadap tingkat kelulushidupan semai mangrove. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat fluktuasi suhu air dimana pada bulan Maret tercatat memiliki suhu paling tinggi yaitu sebesar 34,2°C yang cenderung mengalami penurunan hingga bulan September sebesar 30,6°C  dan kembali mengalami kenaikan hingga bulan Maret sebesar 34,6°C. Baik A. marina maupun R. mucronata menunjukkan adanya kecenderungan penurunan tingkat kelulushidupan semai antar pengamatan. Hasil uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara tingkat kelulushidupan semai A. marina dan R. mucronata. Tingkat kelulushidupan A. marina berkisar antara 5,56% - 14,81% sedangkan R. mucronata berkisar antara 22,22% - 38,89%. Uji regresi menunjukkan adanya pengaruh nyata suhu air terhadap tingkat kelulushidupan semai A. marina dengan persamaan Y = 5,208 - 0,232(X), namun tidak terhadap kelulushidupan semai R. mucronata. Kata kunci: kelulushidupan, semai, suhu, mangrove
Perilaku Serangga Pengunjung Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) TUTUT INDAH SULISTIYOWATI; RAMADHANI EKA PUTRA
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3340

Abstract

Budidaya tanaman buah naga mulai berkembang di Indonesia sejak tahun 2003. Hingga saat ini, penyerbukan di kebanyakan perkebunan masih dilakukan secara buatan. Perbedaan perilaku serangga menjadi hal penting yang dapat menentukan kesuksesan penyerbukan alami. Keberadaan serangga lokal diduga dapat menjadi agen polinator yang dapat mengurangi aktivitas penyerbukan buatan pada bunga buah naga. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik perilaku serangga yang berpotensi menjadi agen penyerbuk alami buah naga. Kata kunci: perilaku, serangga, Hylocereus undatus
Akumulasi Cemaran Plumbum (Pb) dan Cadmium (Cd) Pada Tumbuhan Lotus Nelumbo nucifera Gaertn di Kanal Daya dan Danau Balang Tonjong Antang Makassar SRI SUHADIYAH; EVA JOHANNES; MUHAMMAD RUSLAN UMAR; DWI AYUNINGRUM
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3330

Abstract

Penelitian mengenai akumulasi cemaran logam berat Plumbum (Pb) pada tanaman Lotus Nelumbo nucifera Gaertn di Kanal Daya dan Antang, Makassar dilakukan pada bulan Juli 2015.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi polutan logam berat plumbum (Pb) dan Cadmium (Cd) yang terakumulasi pada tumbuhan lotus Nelumbo nucifera Gaertn di Kanal Daya dan Danau Balang Tonjong Antang, Makassar. Analisis sampel diukur menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Pengolahan data dilakukan di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Universitas Hasanuddin. Hasil Penelitian dari kedua Lokasi dengan beberapa titik sampling di dapatkan bahwa konsentarsi logam Pb pada tumbuhan Lotus Nelumbo nucifera Gaertn pada lokasi Kanal Daya lebih besar yakin 8,37 mg/kg,  dibandingkan pada lokasi Danau Balang Tonjong Antang  yaitu sebesar 4,23 mg/kg.  Hasil konsentrasi Cd pada Kanal Daya adalah sebesar 0.47 mg/kg lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi pada Danau Balang Tonjong Antang Makassar yaitu sebesar 0.52 mg/kg. Kata kunci: Akumulasi, Plumbum (Pb), Cadmium (Cd),  Lotus, Kanal dan Danau, Makassar.
Awaous melanocephalus: Ikan Native Species Dari Sulawesi Barat (Sebuah Review) Cut Muthiadin; Isna Rasdianah Aziz; Adin Ayu Andriyani
Prosiding Seminar Biologi Vol 3 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Biology for Life
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v3i1.4808

Abstract

Awaous melanocephalus termasuk ke dalam famili Gobiidae, merupakan jenis ikan dengan diversitas paling tinggi. Di Sulawesi, Awaous melanocephalus ini merupakan native species (spesies asli) di beberapa daerah, di Gorontalo dikenal dengan sebutan ikan nike, sedangkan di Mamuju disebut ikan penja. Awaous ditemukan hidup sebagai anadromous, dari laut dalam hingga ke sungai. Penelitian sebelumnya mengobservasi data morfologi dan identifikasi molekuler terhadap juvenil, diperoleh data bahwa terdapat dua jenis juvenil Gobiidae, satunya merupakan Awaous melanocephalus, dan satunya lagi disimpulkan memiliki kemiripan yang dekat dengan awaous namun bukan spesies yang sama. Awaous melanocephalus dengan sirip punggung ganda, sedangkan yang satu lagi dengan sirip punggung tunggal. Dari beberapa referensi terkait simbiosis ikan Gobi dengan jenis lain, sehingga dikaitkan bahwa jenis ikan Awaous melanocephalus ini bergerombol (schooling) dengan jenis ikan yang berbeda tadi. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap jenis ikan tersebut.
Tingkat Adopsi Inovasi Biosecurity Ayam Ras Petelur Di Kabupaten Sidrap dan Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Rusny Rusny; Mashuri Masri; Syahdar Baba
Prosiding Seminar Biologi Vol 1 No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v1i1.2132

Abstract

Dalam  rangka  mendorong  adopsi inovasi biosekuriti  oleh  peternak  ayam  ras  petelur,  maka diperlukan pemahaman tentang adopsi inovasi biosecurity ayam ras petelur dan faktor-faktor  yang mempengaruhinya. Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  tingkat  adopsi  inovasi biosecurity ayam  ras  petelur  serta  faktor-faktor  yang  mempengaruhinya.    Metode  penelitian  ini  adalah pembobotan biosecurity yang terdiri dari biosecurity sumber ayam, biosecurity hewan pengganggu, biosecurity tamu  dan  pekerja, biosecurity hewan  sakit, biosecurity pakan, biosecurity limbah  dan biosecurity rak telur, sedangkan untuk faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi inovasi biosecurity menggunakan statistika infrensial dengan uji F dan uji t.  Hasil penelitian diketahui tingkat adopsi inovasi biosecurity ayam  ras  petelur  di  kabupaten  Sidrap  rendah  pada biosecurity terhadap  ternak pengganggu sebanyak 59 orang atau 67,82% dan biosecurity tamu dan pekerja sebanyak 59 orang atau 67,82% sedangkan untuk faktor yang mempengaruhi tingkat adopsi inovasi adalah skala usaha dan kontrol perilaku.   Kesimpulan dari hasil penelitian adalah  ada dua faktor  yang mempengaruhi tingkat  adopsi  inovasi  ayam  ras  petelur  di kabupaten  Sidrap  adalah  untuk  meningkatkan  adopsi inovasi biosecurity dapat dimulai pada skala usaha yang lebih besar dan kemampuan peternak untuk mengkontrol perilakunya.
Komunitas burung pada habitat suksesi buatan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung INDRA A.S.L.P.PUTRI
Prosiding Seminar Biologi Vol 2 No 1 (2016): Prosiding Seminar Nasional From Basic Science to Comprehensive Education
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v2i1.3321

Abstract

Habitat memegang peranan penting bagi komunitas burung.  Berbagai aktivitas manusia sangat berpengaruh pada kondisi habitat burung.  Bagi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul), keberadaan habitat yang telah terdegradasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari.  Areal yang mengalami gangguan dan terdegradasi ini umumnya akan berusaha dipulihkan kondisinya.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunitas burung yang hidup di habitat suksesi buatan di TN Babul, yang merupakan bentuk dari respons komunitas burung, terhadap berbagai aktivitas yang dilakukan oleh manusia di areal tersebut.  Pengambilan data burung dilakukan dengan mengunakan metode point count.  Analisis data dilakukan untuk mengetahui nilai indeks keragaman jenis Shannon-Weinner, indeks kekayaan jenis Margalef, indeks kemerataan jenis Pielou, indeks dominansi Simpson.  Selain itu, komunitas burung di lokasi penelitian dikaji dengan mengelompokkan spesies burung berdasarkan status lindung (CITES, IUCN, PP7/99), status endemik, ukuran tubuh, ketergantungan terhadap hutan dan feeding guild.  Hasil penelitian memperlihatkan bahwa suksesi buatan belum memberikan hasil yang signifikan bagi komunitas burung, yang terlihat dari masih didominasinya struktur komunitas oleh burung berukuran kecil dan menyukai habitat yang terbuka.  Namun areal hutan yang terdegradasi dan sedang dalam proses suksesi tersebut masih menjadi habitat penting bagi cukup banyak spesies burung dan adanyaketerbukaan akibat aktivitas manusia, ternyata menciptakan variasi habitat yang sesuai bagi spesies burung yang menyukai areal terbuka dan spesies burung yang bergantung pada hutan yang kondisinya masih baik, namun membutuhkan areal terbuka sebagai tempat mencari makan dan bermain.  Kata kunci: Burung, habitat suksesi buatan, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Etnobotani Tumbuhan yang Digunakan Dalam Pengobatan Tradisional di Kecamatan Sinjai Selatan Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan Nurlaila Sari; Baiq Farhatul Wahidah; Nurkhalis A Gaffar
Prosiding Seminar Biologi Vol 3 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Biology for Life
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v3i1.4677

Abstract

This research is a study of Ethnobotany Plants used in traditional medicine in Sinjai Regency South Sinjai Subdistrict of South Sulawesi with the aim to obtain the data how to obtain medical plants and ways of processing in traditional medicine conducted by sanro of South Sinjai. Further data collection is done by means of structured interviews, observation, documentation, and reference searches. Data from the research results are analyzed further qualitative descriptive according to the purpose of the research will be presented in the form of tables, photos or drawings. The results showed that there are 43 kinds of plants used in traditional medicine. Medicinal plants are grouped into three upon how to get IE grows wild as much as 33plants (76.74%), plants that are deliberately kept as many as 7 plants (16.27%) and are bought as many as 3 plants (6.97%). The way used sanro to cultivate the plant into a drug that is a) a drug that is eaten is eaten raw materials; b) a drug that is drunk: ingredients kneaded and then drink or boiled and then drink; c) use: pasted, and then where it chewed, smeared/scrub on the part of the sick/injured.
Urban Heat Island dan Upaya Penanganannya Rosmini Maru
Prosiding Seminar Biologi Vol 1 No 1 (2015): Prosiding Seminar Nasional Mikrobiologi Kesehatan dan Lingkungan
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v1i1.2123

Abstract

Fenomena  urban  heat  island  (UHI)  merupakan  suatu  fenomena  yang  banyak  dikaji  oleh  para pengkaji iklim di dunia, termasuk di Indonesia. Fenomena ini ditandai dengan semakin meningkatnya suhu  kawasan  pusat  kota  dibandingkan  dengan  kawasan  di  sekitarnya.  Berdasarkan  beberapa penelitian  diketahui  bahwa  fenomena  ini  merupakan  salah  satu  sumber  utama  yang  menyebabkan terjadinya  peningkatan  suhu  bumi  atau  pemanasan  global  (Tursilowati,  2012).  Fenomena  ini  terus meningkat  seiring  dengan  terjadinya  urbanisasi  dan  pertumbuhan  kota.  Oleh  karena  itu,  perlu dilakukan upaya seperti pengadaan green open space (GOS), dinding putih atau atap putih bagi rumah dan  kantor,  roof  gorden,  dan  lain-lain.  Hal  tersebut  dilakukan  untuk  menekan  laju  peningkatan fenomena tersebut.
DNA Mitokondria Untuk Identifikasi Ikan yang Kaya Spesies Cut Muthiadin; Isna Rasdianah Aziz; Annisa Zakiyah Darojat
Prosiding Seminar Biologi Vol 4 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Megabiodiversitas Indonesia
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v4i1.5938

Abstract

Gobiidae merupakan salah satu famili ikan terbesar yang mendiami beragam perairan dunia, tidak terkecuali Indonesia. Di Sulawesi Barat ikan Gobiidae disebut sebagai ikan Penja, sedangkan di Gorontalo disebut sebagai ikan nike. Pada penelitian sebelumnya, identifikasi molekuler yang dilakukan terhadap dua jenis juvenil Gobiidae dengan teknik RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA) ditemukan spesies Awaous melanocephalus dan spesies mirip awaous namun memiliki perbedaan morfologi pada siripnya. Beberapa referensi menyebutkan bahwa identifkasi spesies beserta analisis kekerabatannya dapat dilakukan dengan efektif melalui mtDNA spesies terkait. Olehnya, penggunaan mtDNA untuk identifikasi kedua jenis ikan yang telah diteliti sebelumnya diperkirakan dapat memperjelas identitas dan hubungan kekerabatannya. 
Pertumbuhan dan Produktivitas Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) pada Media Tanam Sabut Kelapa Sawit (Elaeis guinensis) dan Kulit Durian (Durio zibethinus) Suhaeni Suhaeni; Nur Muhajirah Yunus; Siti Nurjannah; Anita Sari
Prosiding Seminar Biologi Vol 4 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Megabiodiversitas Indonesia
Publisher : Jurusan Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/psb.v4i1.5934

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh penggunaan sabut kelapa sawit (Elaeis guinensis) dan kulit durian (Durio zibethinus) terhadap pertumbuhan dan produktivitas jamur tiram putih (Pleourotus ostreatus). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen yang membandingkan pengaruh disetiap perlakuan yang diberikan. Penelitian ini menggunakan 2 jenis sampel yaitu sabut kelapa sawit (Elaeis guinensis) dan kulit durian (Durio zibethinus).  Desain penelitian yang digunakan masing-masing sebanyak 5 perlakuan, Untuk sabut Kelapa sawit desain perlakuan meliputi: P0 (0% Sabut kelapa Sawit), P1 (25% Sabut kelapa Sawit), P2 (50 % Sabut kelapa Sawit), P3 (75 % Sabut kelapa Sawit), dan P4 (100 % Sabut kelapa Sawit).  Kulit Durian desain perlakuan meliputi: P0 (0% Kulit Durian), P1 (20 % Kulit Durian), P2 (40 % Kulit Durian), P3 (60 % Kulit Durian), dan P4 (80 % Kulit Durian).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik untuk sabut kelapa sawit adalah P3 adalah 75 % sedangkan perlakuan terbaik untuk kulit durian adalah P4 80 %.