cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
ISSN : -     EISSN : 24600059     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah Kedokteran Gigi Klinik or abbreviated to MKGK is a scientific periodical written in Indonesian language published by Dentistry Faculty of Gadjah Mada University twice a year on every June and December. The process of manuscript submission is open throughout the year
Arjuna Subject : -
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 3 (2023)" : 5 Documents clear
Manajemen kasus epulis granulomatosa pada rahang atas anterior Christianie, Christianie
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77424

Abstract

Epulis adalah tumor jinak yang tumbuh pada jaringan lunak gingiva. Salah satu jenisnya, epulis granulomatosa, sering berkembang di area bekas pencabutan gigi yang kebersihannya tidak terjaga. Studi kasus ini bertujuan untuk membahas kasus seorang pria dewasa yang datang dengan keluhan adanya benjolan kehitaman pada gusi sekitar gigi depannya, disertai beberapa gigi goyah dan bau mulut. Penatalaksanaan awal meliputi scaling, root planing, serta kontrol kebersihan mulut. Pasien juga dirujuk untuk pemeriksaan radiografi panoramik. Berdasarkan hasilrontgen, beberapa gigi yang sudah tidak dapat dipertahankan dilakukan ekstraksi. Setelah kondisi rongga mulut bersih dan kebersihan mulut pasien terkontrol, dilakukan ekskavasi epulis menggunakan pisau bedah nomor 15c dan kuretase pada area yang terlibat hingga bersih, kemudian dilakukan penjahitan. Jaringan hasil ekskavasi dikirim ke laboratorium Patologi Klinik untuk analisis lebih lanjut. Dari studi kasus ini dapat disimpulkan bahwa perawatan epulis granulomatosa dapat berhasil dengan ekskavasi menyeluruh dan pembersihan jaringan sekitar menggunakankuretase.
Rehabilitasi pasca hemimaksilektomi menggunakan obturator resin akrilik dan protesa bibir silikon dengan penyangga magnet Pradana, Franciscus Wihan; Adena, Afif Surya; Wahyuningtyas, Endang
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.77464

Abstract

Defek nasofaring dan rongga antrum adalah defek maksila intraoral yang paling banyak ditemukan. Penyebab defek maksila dapat berupa faktor kongenital, maupun dampak dari operasi onkologi orofasial. Obturator maksila merupakan protesa yang diperlukan untuk memperbaiki defek tersebut. Pasien wanita berusia 31 tahun dirujuk dari klinik THT untuk pembuatan obturator. Pasien didiagnosis dengan karsinoma klinonasal dan direncanakan untuk pengangkatan massa serta hemimaksilektomi sinistra. Pemeriksaan klinis ekstraoral menunjukkan asimetri wajah. Pasien kehilangan sebagian maksila kiri dan terdapat defek wajah di area bibir atas. Pemeriksaan klinis intraoral menunjukkan bahwa gigi yang dapat dipertahankan adalah gigi 13, 14, 15, dan 16. Perawatan prostodontik yang dilakukan meliputi pembuatan obturator sementara, obturator definitif, dan prostesa bibir. Laporan klinis ini menggambarkan protesa berbasis silikon biokompatibel untuk perawatan defek bibir yang dipertahankan dengan obturator akrilik menggunakan penahan magnet yang memenuhi kebutuhan estetika dan fungsional pasien. Defek maksila yang disertai defek wajah cukup menantang pada perencanaan protesa ini. Pada kasus ini, perawatan prostodontik yang dilakukan adalah pembuatan obturator sementara, obturator definitif, dan protesa bibir. Pasien merasa nyaman dengan penggunaan protesa silikon medis karena menyerupai struktur anatomis yang sesungguhnya, tekstur lembut, ringan, dan biokompatibel. Persepsi kenyamanan dan estetika pasien tercapai pada perawatan ini.
Karakteristik kasus kegawatdaruratan di IGD dental Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Airlangga tahun 2022 Syahdryani, Zhafira Putri; Fessi, Reza Al; Rizky, Beta Novia
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.85899

Abstract

Kegawatdaruratan pada gigi dan mulut memiliki pola distribusi dan karakteristik yang perlu dikaji untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya secara efektif. Kedaruratan gigi berhubungan dengan prosedur gigi yang melibatkan trauma, nyeri dan perdarahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi dan karakteristik kasus emergensi yang ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Dental Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga (UNAIR). Penelitian ini berjenis deskriptif retrospektif dengan mengambil data pasien di IGD Dental RSGM UNAIR periode 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022 yang memenuhi kriteria yaitu pasien yang terdaftar menjalani konsultasi dan terapi serta telah lolos screening COVID-19. Hasil dari penelitian menunjukkan terdapat 90 pasien yang berkunjung ke IGD Dental RSGM UNAIR selama tahun 2022. Sejumlah 42 pasien (46,67%) pasien berjenis kelamin perempuan dan 48 pasien (53,33%) laki-laki. Pasien yang datang sebagian besar merupakan kasus infeksi sejumlah 28 kasus (31,11%), kasus trauma 38 kasus (42,22%) dan penyakit lainnya sebesar 24 kasus (26,67%). Penyakit lainnya yang tercatat adalah perdarahan, kontrol pasca odontektomi, lepas jahitan, nyeri gigi, gigi goyang dan kasus kegawatdaruratan lain yang tidak menunjukkan angka tindakan maupun medikasi yang tinggi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rumah sakit perlu menyiapkan tindakan yang efektif pada kasus kegawatdaruratan, khususnya untuk penanganan kasus trauma.
Deteksi karies proksimal menggunakan radiografi bitewing dan near-infrared light transillumination Nugroho, Lathifa Dewanti; Yanuaryska, Ryna Dwi; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100770

Abstract

Radiografi bitewing merupakan metode standar untuk deteksi karies proksimal karena dapat mencitrakan mahkota gigi dari permukaan distal kaninus hingga distal permukaan molar paling posterior tanpa tumpang tindih. Pemanfaatan sinar-X di bidang kedokteran gigi menerapkan prinsip as low as reasonably achievable (ALARA) untuk mengurangi efek radiasi. Near-Infrared Light Transillumination (NILT) merupakan metode deteksi karies tanpa menggunakanradiasi pengion sehingga dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Narrative review ini ditujukan untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan antara teknik intraoral bitewing dengan NILT beserta perbedaan hasil deteksi karies proksimal dari masing-masing teknik tersebut. Pencarian literatur pada narrative review ini menggunakan Google Scholar, ScienceDirect, dan Pubmed dengan kriteria inklusi yaitu artikel berjenis original/research article, case report, dan textbook ilmiah, serta artikel berbahasa Inggris maupun Indonesia yangditerbitkan tahun 2010-2021. Kriteria eksklusi berupa review article, artikel yang menunjukkan duplikasi, artikel yang tidak dapat diakses secara utuh, serta artikel tanpa metode penelitian. Total literatur yang dikaji sebanyak 29 artikel. Hasil review menunjukkan bahwa NILT merupakan metode deteksi karies proksimal tanpa disertai risiko radiasi sehingga tidak memberikan efek berbahaya pada tubuh sehingga penggunaannya dapat diulangi sesuai kebutuhan. Kelebihan lainnya, NILT lebih sensitif daripada radiograf untuk mendeteksi jaringan keras gigi yang mengalami demineralisasi pada fase awal. Nilai sensitivitas dan spesifisitas NILT lebih tinggi daripada radiografi bitewing sehingga dapat dijadikan alternatif pemeriksaan radiografi. Meskipun demikian, NILT tidak dapat mencitrakan karies yang telah meluas hingga pulpa karena NILT tidak memiliki daya tembus sebesar sinar-X, sehingga radiografi bitewing masihmerupakan standar pemeriksaan untuk deteksi karies proksimal.
Perbandingan mental index dan panoramic mandibular index berdasarkan status dental: kajian pada radiograf panoramik Deriputra, Gde Parama Wistara; Shantiningsih, Rurie Ratna; Mudjosemedi, Munakhir; Widyaningrum, Rini
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100773

Abstract

Mandibula berperan dalam proses pengunyahan sehingga mengalami proses remodeling secara terus menerus. Status dental menunjukkan kondisi gigi serta kehilangan gigi-gigi pada individu. Status dental yang berbeda-beda akan menghasilkan beban mastikasi beragam yang selanjutnya mempengaruhi proses remodeling pada mandibula. Adanya perubahan ukuran tulang pada area kortikal mandibula dapat dideteksi dengan indeks radiomorfometri,antara lain Mental Index (MI) dan Panoramic Mandibular Index (PMI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan MI dan PMI pada radiograf panoramik antar kelompok status dental. Sampel penelitian ini berupa 134 radiograf panoramik digital dari instalasi radiologi RSGM UGM Prof. Soedomo. Status dental terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu kategori I (bergigi lengkap), Kategori II (bergigi sebagian), Kategori III (tidak bergigi padarahang atas), Kategori IV (tidak bergigi pada rahang bawah) dan Kategori V (tidak bergigi total). Indeks MI dan PMI diukur dengan perangkat lunak EzDent-I Vatech. Rerata MI pada Kategori I adalah 3,73 ± 0,59, Kategori II adalah 3,59 ± 0,49, Kategori III adalah 3,54 ± 0,74, Kategori IV adalah 3,63 ± 0,27, dan Kategori V adalah 3,43 ± 0,78. Rerata PMI pada Kategori I adalah 0,33 ± 0,08, Kategori II adalah 0,32 ± 0,05, Kategori III adalah 0,31 ± 0,07, Kategori IVadalah 0,30 ± 0,03, dan Kategori V adalah 0,29 ± 0,06. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pengukuran MI (p = 0,440) dan PMI (p = 0,266) antar kelompok status dental (p > 0,05). Kondisi status dental tidak berpengaruh terhadap ketebalan korteks mandibula di area foramen mental, yang ditunjukkan dengan hasil pengukuran MI maupun PMI yang tidak berbeda secara signifikan pada semua kelompokstatus dental.

Page 1 of 1 | Total Record : 5