cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Remodeling Tulang Alveolar untuk Reimplantasi dan Transplantasi Gigi Anterior pada Kehilangan Tulang Hebat Paska Trauma Heru Maksmara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4985.852 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16483

Abstract

Latar Belakang. Remodeling tulang alveolar berguna untuk memperbaiki kehilangan struktur jaringan pendukung gigi yang hebat pada reimplantasi dan transplantasi gigi anterior, supaya gigi anterior yang terlepas dari soketnya paska trauma dapat di implantasi. Bahan cangkok tulang untuk remodeling tulang alveolar yang digunakan berjenis demineralized freeze-dried bone allograft (DFDBA). Tujuan Penulisan Laporan Kasus. Melaporkan keberhasilan menanam gigi tetap ditempatnya dengan teknik remodeling tulang dengan penambahan DFDBA agar struktur jaringan pendukung gigi yang hilang kembali normal. Penatalaksanaan. Pasien paska trauma, dalam keadaan tidak sadar selama 7 hari di ruang rawat intensif dan dirawat selama 7 hari di bangsal. Pasien mengalami trauma dan kehilangan tulang penyangga gigi yang hebat, pada gigi anterior bawah. Tiga gigi anterior mengalami kegoyahan 4° dan dua gigi hilang. Hilangnya dua gigi mengakibatkan area edentulous besar, sehingga perlu di lakukan transplantasi satu gigi. Untuk memperkecil edentulous dilakukan penambahan lebar mahkota gigi menggunakan composite light curing. Setelah pencabutan gigi, semua gigi yang akan di implant dilakukan perawatan saluran akar gigi dan disterilkan. Flap operasi dilakukan untuk menata serpihan tulang dan menilai besarnya trauma, daerah luka dibersihkan dengan lIarutan salin. Splinting semua gigi yang akan di implant menggunakan arch bar dan kawat. Penambahan bahan cangkok tulang DFDBA pada daerah operasi. Menjahit daerah operasi ke korona gigi dan ditutup pack. Setelah 6 bulan operasi dua gigi tidak men gal ami kegoyahan, dua gigi lain mengalami kegoyahan 2°, 12 bulan tiga gigi tidak mengalami kegoyahan dan hanya satu gigi transplantasi yang mengalami kegoyahan 1°. Re-entry operasi dilakukan untuk remodeling tulang bertambah baik. Setelah 6 bulan paska re-entry operasi, gigi yang di transplantasi tidak mengalami kegoyahan. Sehingga splint dapat dilepas. Kesimpulan. Remodeling tulang pada teknik reimplantasi dan transplantasi gigi gigi disertai kehilangan tulang yang hebat dapat dilakukan paska trauma dengan penambahan bahan cangkok tulang - DFDBA, sehingga gigi anterior dapat berfugsi kembali mengunyah makanan.
Pengaruh pelatihan menggosok gigi dengan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut pada anak disabilitas intelektual sedang Leny Pratiwi Arie Sandy; Bambang Priyono; Niken Widyanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 2 (2016): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.943 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10742

Abstract

Effect of training on tooth brushing using Individual Educational Programme (IEP) approach to increase of oral hygiene status in children of moderate intellectual disability (ID). Children with Intellectual Disability (ID) have limited abilities (social, adaptive and practical) and limited intellect. Teaching these children to brush their teeth using the Individualized Educational Programme (IEP) approach is a strategy which focuses on the condition and motivation of each student. The purpose of this research was to understand how tuition in the techniques of tooth- brushing by IEP influences oral hygiene in medium level ID students. This research method is to master the experiment by single subject design. The respondents in this research were 3 people (R1, R2, R3) taken according to the pre- determined criteria. Data collection method used was by observation. Oral hygiene was measured using the PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) index from Martens and Meskin (1972). The data analysis used descriptive analysis. The result of the study showed there was after training on tooth brushing for 6 month is decrease plaque score. Oral hygiene status for 3 repondent is R1 and R2 in medium category, R3 in bad category. Training on method of tooth brushing using IEP approach affected increase of oral hygiene status. ABSTRAKAnak dengan disabilitas intelektual (DI) merupakan kelompok anak yang memiliki keterbatasan intelektual, kemampuan adaptif, kemampuan sosial dan kemampuan beraktifitas (praktis). Pelatihan menggosok gigi dengan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) merupakan salah satu strategi yang menitik beratkan kondisi dan motivasi masing-masing siswa didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan cara menggosok gigi melalui pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) terhadap status kebersihan gigi dan mulut. Metode penelitian ini yaitu kuasi eksperimental dengan desain subyek tunggal (single subyek design). Responden dalam penelitian ini yaitu 3 orang (R1, R2, R3) diambil sesuai kriteria yang sudah ditentukan. Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi. Status kebersihan gigi dan mulut diukur menggunakan indeks PHP-M (Patient Hygiene Performance-Modified) dari Martens dan Meskin (1972). Analisis datanya menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan setelah dilakukan pelatihan menggosok gigi selama 6 minggu didapatkan adanya penurunan skor plak yang rendah. Status kebersihan gigi dan mulut ke-3 responden didapatkan R1 dan R2 pada kategori sedang, sedangkan R3 pada kategori buruk. Pelatihan cara menggosok gigi menggunakan pendekatan Program Pembelajaran Individual (PPI) berpengaruh terhadap peningkatan status kebersihan gigi dan mulut.
Kandidiasis Pseudomembran pada Lidah Akibat Pemakaian Obat Kumur Heksetidin serta Penatalaksanaannya Sri Hadiati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3825.861 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15418

Abstract

Latar Belakang: Candida albicans merupakan flora normal mulut yang paling sering menyebabkan penyakit infeksi. Jika flora normal rongga mulut terganggu keseimbangannya, misalnya karena terapi antibiotik, penyakit yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh (misalnya AIDS), kondisi lokal yang jelek, akan menyebabkan mikroorganisme oportunis bermultiplikasi dan menyebabkan terjadinya suatu infeksi. Tujuan: Melaporkan kasus kandidiasis pseudomembran pada lidah akibat pemakaian obat kumur serta penatalaksanaannya. Kasus dan penatalaksanaannya: Kasus kandidiasis pada lidah sebagai akibat pemakaian obat kumur yang mengandung heksetidin 0,1% dalam jangka waktu lama yaitu sekitar satu bulan. Penatalaksanaan dengan pemberian suspensi nistatin 100.000 UI topikal selama satu minggu cukup efektif mengatasi infeksi, medikasi diteruskan sampai dua minggu setelah gejala hilang. Kesimpulan: Pemakaian obat kumur dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan infeksi oportunistik yaitu kandidiasis pseudomembran. Medikasi dengan nistatin topikasl cukup efektif untuk mengatasi infeksi ini. Background: Candida albicans is the most infectious oral normal flora. If oral normal flora disturbed such as excessive antibiotic therapy, immunodeficiency disease (AIDS), bad local condition will cause opportunistic microorganism proliferation leading to infectious condition. Objective: to report lingual pseudomembraneous candidosis case caused by mouth rinse and its management. Case and Management: lingual pseudomembraneous candidosis case caused by 0,1% hexitidine mouth rinse used for a long period about one month, was managed effectively by topical nystatin 100.000 IU for one week, and medication must be continued for two week after clinical improvement. Conclusion: Long term usage of mouth rinse causes oppotunistic infection of pseudomembaneous candidosis. Medication with topical nystatin effectively treat this infection.
Hubungan fraksi area trabekula anterior mandibula dengan kepadatan tulang lumbar spine untuk deteksi dini osteoporosis Sri Lestari; Rini Widyaningrum
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.182 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.13207

Abstract

The relationship of anterior mandible trabecular area with bone mass density of lumbar spine for early detection of osteoporosis. Bone mineral density is an indicator of osteoporosis, including the bone mineral density of lumbar spine. The decrease of lumbar spine bone mass density will cause an alteration in another site, including the mandibular. The aim of this research is to determine the predictor of lumbar spine bone mineral density using trabecular bone image of anterior mandible on periapical radiographs. The research was conducted by extracting the area fraction at mandible trabecular bone using digital periapical radiograph from 25 subjects. Canny edge detection was used in digital image processing for each radiograph. The regions of interest were selected from the image obtained by canny edge detection, so that the area fraction could be measured. A linier regression test was applied to determine a relationship between the area fractions of mandible trabecular bone with the bone mineral density of lumbar spine. The result of linear regression test showed that the area fraction of mandible trabecular bone had a moderate negative correlation with bone mass density of lumbar spine (α = 0.046; R = -0.403). The direction of the correlation was negative (b = -0.145). The area fraction of mandible trabecular bone on periapical radiographs could be used as the predictor for bone mass density of lumbar spine.ABSTRAKKepadatan tulang merupakan indikator osteoporosis, salah satu diantaranya adalah kepadatan tulang pada lumbar spine. Penurunan kepadatan tulang pada lumbar spine mempengaruhi kondisi tulang lain, termasuk tulang rahang bawah (mandibula). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prediktor densitas mineral tulang menggunakan citra radiograf periapikal tulang trabekula pada regio anterior rahang bawah. Penelitian dilakukan dengan ekstraksi fraksi area tulang trabekula mandibula yang tercitrakan pada radiograf periapikal digital dari 25 subjek. Pengolahan citra digital pada radiograf periapikal dilakukan dengan menggunakan metode deteksi tepi canny terhadap masing-masing citra radiograf. Region of Interest diseleksi dari citra hasil deteksi canny, sehingga dapat dilakukan pengukuran fraksi area. Uji regresi linier dilakukan untuk mengetahui hubungan antara nilai fraksi area trabekula mandibula dengan tingkat kepadatan tulang pada lumbar spine. Hasil uji regresi linier menunjukkan bahwa nilai fraksi area trabekula mandibula berkorelasi negatif dengan kepadatan tulang dengan kekuatan sedang (α = 0,046; R = -0,403). Adapun arah korelasi antara nilai fraksi area trabekula mandibula dengan kepadatan tulang adalah negatif (b = -0,145). Fraksi area tulang trabekula pada citra radiograf periapikal dapat digunakan sebagai prediktor kepadatan tulang pada lumbar spine.
Keberhasilan Restorasi Komposit untuk Perbaikan Titik Kontak pada Terapi Periodontal Cindy Ariyani Hokardi; Sri Lelyati C Masulili
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (938.702 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15676

Abstract

Latar Belakang: Pada kondisi fisiologis, gigi geligi berada pada posisi stabil dalam lengkung rahang, mempunyai kontak oklusal dengan gigi lawan, dan kontak proksimal dengan gigi disebelahnya. Adanya sedikit pembukaan kontak proksimal akan menyebabbkan terjadinya impaksi makanan, yang merupakan etiologi kelainan periodontal. Pembuatan restorasi permanen dengan menggunakan bahan komposit yang memperhatikan kontak proksimal, kontur permukaan oklusal,  kontur fasial dan lingual dapat melindungi jaringan periodontal. Tujuan: menunjukkan bahwa restorasi komposit untuk perbaikan titik kontak dapat menunjang kesehatan jaringan periodontal. Laporan kusus: pada kasusu pertama ditemukan gigi 2.4 dan 3.5 terdapat karies di sisi distal, dan pada kasus kedua gigi 2.8 terdapat karies di sisi mesial sehingga kehilangan titik kontak yang mengakibatkan terjadi poket periodontal. Penanganan: terapi awal yang dilakukan berupa skeling dan penghalusan akar, serta kuretase. Pembuatan restorasi komposit untuk memperbaiki titi kontak dengan menggunakan matriks dan baji di area proksimal. Maladaptasi pita matriks atau baji menyebabkan kegagalan klinis seperti batas restorasi mengemper, kontur didnding proksimal serta titik kontak yang tidak baik. Pemilihan baji yang benar, harus mempertimbangkan : sudut konvergensi dasar, lebar mesiodistal dasar baji, ketinggian gingivooklusa dari arah transversal, dan kecembungan dinding  baji. Kesimpulan: secara klinis terjadi penurunan kedalaman poket setelah perbaikan restorasi, namun gambaran radiografis belum memperlihatkan hasil signifikan dalam waktu tiga bulan.  Blackground: under physiological conditions, teeth are stabilized in the dental arch by making occlusal contacts with opposing teeth and proximal contacts with adjacent teeth. A weak or slightly open proximal tooth contact would permit food impaction, one of the etiology of periodontal disease. The common therapy is to make a permanent restoration using composite restoratioan having regard to proximal contacts, occlusal contour, and facial and lingual contaour to protect periodontal tissues. Objective: to show that it is important to restore contacts points in maintaining  periodontal tissues using composite restoration. Case: on the first case, we found caries on the distal site of 2.4 and 3.5 and mesial site of 2.8 on the second case, and open contacts, resulting a periodontal pocket. Therapy: the initial treatment are scaling and root planning and curretage. Composite restoration to restore proximal contact points using matrix band and wedge. Maladaptation of either the matrix band or the wedge result in clinical failure such as overhanging margins, faulty contouring of the proximal wall and inadequate contact points. To select a correct wedge, four variables should lie considered the convergence angle of the base, the mesiodistal width of the base, the gingivo-occlusal height of the transverse section and the concavity of the side walls. Conclusion: Clinically, there are reduction in pocket depth after the restoration, but radiograpgically, there are no significant result in three months. 
Penatalaksanaan Hiperpigmentasi Gingiva dan Mahkota Gigi Klinis Pendek dengan Surgical Scalpel Technique pada Gigi Anterior Ade Ismail A. K.; Sri Pramestri Lastianny
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3727.316 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16474

Abstract

Latar belakang. Warna gingiva normal, mencerminkan kesehatan mulut dan mempunyai peranan penting dalam kedokteran gigi estetik. Jika terdapat kelainan warna, seperti gingiva yang kehitam-hitaman yang sering dikeluhkan pasien, dapat merupakan suatu masalah walau bukan suatu masalah medis. Kadang-kadang pewarnaan gingiva ini diperparah dengan adanya mahkota gigi klinis yang pendek. Ada beberapa macam teknik depigmentasi untuk mengatasi masalah ini. Tujuan. Laporan kasus ini bertujuan menghilangkan hiperpigmentasi gingiva dengan menggunakan teknik sederhana dalam waktu minimal serta tidak terlalu sulit dilakukan tapi masih cukup memuaskan bagi pasien. Kasus. Pasien perempuan umur 18 tahun mengeluh gingiva berwarna gelap dan mahkota gigi tampak pendek yang mengganggu penampilan dan ingin diperbaiki. Diagnosis dari kasus ini adalah hiperpigmentasi gingiva dengan mahkota gigi klinis pendek. Pada kasus ini digunakan teknik bedah skalpel untuk mengkoreksi hiperpigmantasi gingiva dan mahkota gigi klinis pendek tersebut. Pasien sangat puas dengan penampilan gingivanya yang baru. Kesimpulan. Teknik bedah skalpel dapat mengatasi hiperpigmentasi gingiva dan mahkota gigi klinis pendek.
Hubungan antara Kesehatan Gigi dan Mulut dan Upaya Rehabilitasi Prostodonsia pada Lanjut Usia M. Th. Esti Tjahjanti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3864.874 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15400

Abstract

Latar belakang. Peningkatan populasi lanjut usia berdampak pada status kesehatan gigi dan mulut dan pelayanannya termasuk pelayanan rehabilitasi prostodonsia. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara kesehatan gigi mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Metode penelitian. Seratus duapuluh sampel lanjut usia dipilih dengan ciri: umur > 60 tahun, tahapan keluarga sejahtera II dan III, gigi kurang 20, pendidikan minimal SD atau SR, dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dan diberi angket. Pemeriksaan kesehatn gigi dan mulut untuk mengetahui: jumlah gigi tinggal dengan cara menghitung berdasarkan 32 – gigi missing, kebersihan mulut dengan Oral Hygiene Indek-S, kesehatan jaringan periodontal dengan indeks Russel, pemakaian gigi tiruan dan kebutuhan gigi tiruan dengan observasi. Angket merupakan skala sikap dibuat berdasarkan skala Likert yang dimodifikasi untuk mengetahui tingkat upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Angket berisi 5 aspek rehabilitasi yaitu aspek pengunyahan, estetis, bicara, kenyamanan, dan pelestarian jaringan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis regresi berganda. Hasil. Terdapat hubungan positif sangat bermakna antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia (R= 0,497, F= 7,492, p<0,01). Kesimpulan penelitian. Ada hubungan positif antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Background. Increase in elderly population have impact to oral and dental health and dental services included prostodontic rehabilitation services. Purpose. The purpose of this research was to investigate the correlation between oral and dental health and prostodontic rehabilitation effort of elderly. Methods. One hundred and twenty elderly people were selected sample with criteria: more than 60 years old, the prosperous family stage II and III, have teeth less than 20 and minimum education is elementary school. The research was taken by oral and dental examination and questionnaire. The oral and dental examination were: remaining dentition (31 minus missing teeth), oral hygiene status (OHI-S), periodontal status (Russel periodontal index), denture wearing and denture’s need. A modification Likert scale questionnare was used to measure the prostodontic rehablitation effort level. The data were analyzed statistically by multiple regression. Result. The result showed there was a significant positive correlation between oral and dental health and prostodontic rehabilitation effort (R= 0,497, F= 0,7492, <0,01). Conclusion. There was a positive correlation between oral and dental health and prosthodontic rehabilitation effort of the elderly. 
Pengaruh lama aplikasi bahan remineralisasi casein phosphopeptide amorphous calcium phosphate fluoride (CPP-ACPF) terhadap kekerasan email Miftah Wiryani; Billy Sujatmiko; Rini Bikarindrasari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.138 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11250

Abstract

The effect of application time of CPP-ACPF on enamel hardness. Remineralization process can increase the hardness of enamel due to demineralization process. CPP-ACPF is a material used for enhancing remineralization. However, the application time of CPP-ACPF remain controversial among previous studies. This study was aimed to investigate the effect of various application times of CPP-ACPF on enamel hardness. Thirty premolar teeth were mounted on self cure acrylic resin, and were divided into 5 groups. Demineralization process was performed, and enamel hardness (pre-est) was measured by Vickers Hardness Tester. Remineralization was performed using CPP-ACPF in various application times: 3, 15, 30, 60 minutes, and the control group was only immersed in artificial saliva for 60 minutes, then enamel hardness was measured (posttest). Data were analyzed using paired t-test, one-way ANOVA, and post-hoc Bonferroni. The result of paired t-test showed that all the groups, except the control group, have an increasing enamel hardness that was statistically significant. One-way ANOVA results showed no statistically significant difference among the groups at pretest, but one-way ANOVA results showed statistically significant difference at posttest. Post hoc Bonferroni showed that the significantly difference at posttest occurred between all the treatment groups against the control group, but there were no significant differences between the 3 minutes group to 15 minutes group, between 15 minutes group to 30 minutes group, and between 30 minutes group to 60 minutes group. It was concluded that various application times of CPP-ACPF had an effect on increasing enamel hardness. ABSTRAKProses remineralisasi dapat meningkatkan kekerasan email yang menurun akibat demineralisasi. Bahan remineralisasi yang ideal adalah CPP-ACPF. Terdapat perbedaan lama aplikasi CPP-ACPF dalam berbagai penelitian, selain itu total lama aplikasi yang dibutuhkan CPP-ACPF dalam mekanisme remineralisasi belum diketahui. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh lama aplikasi CPP-ACPF terhadap kekerasan email. Tiga puluh mahkota gigi premolar yang ditanam dalam resin akrilik self cure dibagi menjadi lima kelompok, kemudian dilakukan proses demineralisasi. Kekerasan email kemudian diukur menggunakan alat Vickers Hardness Tester. Proses remineralisasi menggunakan CPP-ACPF dilakukan pada masing-masing kelompok dalam berbagai lama aplikasi yaitu 3 menit, 15 menit, 30 menit, 60 menit, serta perendaman dalam saliva buatan selama 60 menit (kontrol). Kekerasan email kemudian diukur kembali (posttest). Data diuji secara statistik menggunakan t-test berpasangan, one-way ANOVA dan post hoc Bonferroni. Hasil paired t-test menunjukkan bahwa seluruh kelompok, kecuali kelompok kontrol, mengalami peningkatan rata-rata kekerasan email secara signifikan. Hasil uji one-way ANOVA pada pretest menunjukkan tidak ada perbedaan kekerasan email yang signifikan. Hasil uji one-way ANOVA pada posttest menunjukkan terdapat perbedaan kekerasan email yang signifikan. Hasil uji post Hoc Bonferroni menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kekerasan email yang signifikan pada seluruh kelompok perlakuan terhadap kelompok kontrol, tetapi perbedaan kekerasan email antara kelompok lama aplikasi 3 menit dengan 15 menit, antara lama aplikasi 15 menit dengan 30 menit, serta antara lama aplikasi 30 menit dengan 60 menit tidak menunjukkan perbedaan kekerasan email yang signikan. Kesimpulan penelitian ini adalah berbagai lama aplikasi CPP-ACPF berpengaruh terhadap peningkatan kekerasan email.
Pengaruh Jumlah Gigi Posterior Rahang Bawah Dua Sisi yang Telah Dicabut dan Pemakaian Gigi Tiruan Sebagian terhadap Bunyi Sendi Haryo Mustiko Dipoyono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.798 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15591

Abstract

Latar Belakang: sendi temporomandibular didalam fungsinya sangat rumit dan ketika terjadi kelainan memerlukan perawatan yang sangat kompleks. Salah satu dari kelainan sendi tersebut adalah terjadinya bunyi sendi. Bunyi sendi terjadi akibat adanya perubahan pada komponen sendi. Salah satu perubahan ini dapat terjadi akibat adanya perubahan pola oklusi. Gigi yang telah dicabut khususnya gigi posterior dapat memicu perubahan pola oklusi dan berakibat terjadi kelainan pada sendi. Tujuan. Pengukuran pada pasien dengan  kasus kehilangan satu gigi atau dua gigi posterior yaitu molar satu atau molar satu dan molar dua, dua sisi rahang bawah, sebelum dan sesudah pemakaian gigi tiruan sebagian (GTS) diukur bunyi sendinya yang terdiri dari amplitude (dB) dan frekuensi (Hz) dengan alat ultra sonography yang telah dimodifikasi. Hasil yang didapat dianalisis dengan uji Avana dan LSD. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat bunyi sendi yang terdiri amplitudo dan frekuensi pada sendi temporomandibular dari pasien kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi sebelum dan sesudah pemakaian GTS. Kesimpulan: bunyi sendi dalam hal ini amplitudo dan frekuensi berbeda pada kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah. Kehilangan dua molar bunyi sendi akan lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan satu gigi molar. Pemakaian gigi tiruan sebagian untuk mengembalikan oklusi, dapat menurunkan bunyi sendi. Background: The temporomandibular joint is very complicated in its function and requires complex treatment when an anomaly accurs. An example of the joints anomaly is clicking sound. Clicking resulted due to the changes at the joints component. One of the changes can be caused by an alteration of occlusal pattern. Extracted tooth especially posterior tooth can trigger the alteration of occlusion pattern which affects the joints anomaly. Purpose: the amplitude and frequency of the clicking sound of the patientwith missing one or two posterior tooth such as the first molar of the first and second molar, on both sides of the mandible, prior to or after wearing removable partial dentures is measured using a modified ultrasonographydevide and were analyzed by Anova and LSD test. The result: shows that the clicking sound on temporomandibular joint which consists of the amplitude and frequency, ha,ppens to patients who lose their posterior molar teeth before and after the use of removable partial denture. Conclusion: the clicking sound temporomandibular joints is defferent from the one on patient with missing posterior tooth. Losing two molar teeth will cause stronger clicking sound than one molar tooth will. The use of partial removable denture to regain the occlusion willreduce the clicking sound. 
Mixoma Odontogenik: Tinjauan Klinis dan Penatalaksanaanya Y. Mulyaka; Muhammad Masykur Rahmat
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1729.211 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16067

Abstract

Pendahuluan Mixoma pada mulut adalah lesi yang jarang, tumbuh lambat, suatu masa submukosa yang asimtomatik, lebih sering terjadi pada mandibula. Mixoma bisa mengenai laki-Iaki maupun wanita pada semua umur.Tujuan perawatan mixoma pada mulut, seperti mixoma pada jaringan tubuh lain adalah eksisi bedah. Semua mixoma adalah jinak dan hanya memerlukan terapi konservatif. Gambaran klinis mixoma pada mulut tidak berkapsul dan menunjukan infiltrasi ke jaringan sekitarnya. Secara histology mixoma berisi material gelatin. Seeara radiologi berupa lesi lusen, seringnya multilokuler atau seperti gambaran sarang Mixoma lebah, dengan batas tidak jelas. Rekurensi kadang kala terjadi. Laporan kasus seorang lelaki 24 tahun datang ke Klinik Bedah Mulut & Maksilofasial, RS Dr. Sardjito, Yogyakarta. Dia mengeluh adanya benjolan pada pipi kanan sekitar 3 tahun yang lalu, tidak sakit. Pemeriksaan klinik menunjukan suatu pembengkakan, 9 x 9 x 7 em, konsistensi kenyal, warna sama dengan jaringan sekitarnya. Prognosa dubia ad bonam. Hasil Pasien menjalani operasi hemimandibulektomi dan pemasangan pelat rekonstruksi mandibula di bawah anastesi umum. Hasil patologi anatomi pasea operasi menunjukan mixoma odontogenik.