cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Pengaruh Konsentrasi dan Lama Aplikasi Sodium Hipoklorit (NaOCL) sebagai Bahan Irigasi Saluran Akar terhadap Kekuatan Geser Perlekatan Siler Berbahan Dasar Resin Pada Dentin Saluran Akar Tunjung Nugraheni
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.185 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15646

Abstract

Latar belakang. Salah satu tahap penting perawatan saluran akar yaitu preparasi saluran akar. Pada preparasi saluran akar digunakan bahan Irigasi sodium hipoklorit (NaOCI), dengan konsentrasi 0,5%-5.25%. Penggunaan NaOCL berpengaruh pada struktur permukaan dentin saluran akar, yang selanjutnya mempengaruhi perlekatan dentin saluran akar dengan bahan pengisi saluran akar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan lama aplikasi NaOCI terhadap kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin pada dentin saluran akar. Metode Penelitian. Tiga puluh gigi premolar dipotong arah bukolingual, jaringan pulpa dibersihkan dan permukaan dentin saluran akar diratakan. Gigi difiksasi resin akrilik, sisi dentin saluran akar menghadap ke atas. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok masing-masing 15 gigi, kelompok 1 di rendam dalam 6ml NaOCI 2,5%. Kelompok II direndam dalam 6 ml NaOCI 5%. Kelompok I dan II dibagi menjadi 3 sub kelompok lama perendaman, yaitu sub kelompok a direndam selama 5 menit, sub kelompok diremdam selama 10 menit, sub kelompok direndam selama 15 menit. Cetakan siler difiksasi pada akar gigi, dilakukan insersi siler ke dalam cetakan kemudian dimasukkan inkubaror pada suhu 370 C selama 72 jam. Pengujian kekuatan geser perlekatan menggunakan Universal Testing Machine. Hasil penelitian. Hasil uji statistik AVANA dua jalur menunjukkan kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin pada dentin saluran akar setelah diirigasi dengan konsentrasi NaOCI dan lama irigasi yang berbeda terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,007). Uji LSD menunjukkan bahwa kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin berbeda bermakna pada kelompok yang diirigasi NaOCI 2,5% selama 5 menit dengan 15 menit,, pada kelompok yang diirigasi NaOCI 2,5% selama 10 menit dengan 15 menit, pada kelompok yang diirigasi NaOCI 5% selama 15 menit dengan kelompok yang diirigasi NaOCI 2,5% selama 15 menit serta pada kelompok yang diirigasi NaOCI 5% selama 5 menit dengan kelompok yang diirigasi NaOCI 5% selama 10 menit. Kesimpulan. Kekuatan geser perlekatan siler berbahan dasar resin pada dentin saluran akar berbeda setelah diirigasi NaOCI dengan konsentrasi dan waktu irigasi yang berbeda. Background. Biomechanichal preparationin of root canal treatment used 0,5-5,25% sodium Hypochlorite as root canal irrigation, that may effect to physical properties of dentin. The purpose of this study was to find out the effect of concentration and duration application of sodium hypochlorite to shear bond strength of sealer resin based to root canal dentin. Methods. Thirthy premolar were splitted buccolingual then pulp tissue were cleaned out, smoothed and fixed into acrylic resin cast. They were devided into 2 group, group I were soaking into NaOCI 2,5% group II were soaking into NaOCI 5%. Group I and II were devided into 3 subgroup, group a were soaking 5 minutes, group b were soaking 10 minutes. Group c were soaking 15 minutes. Then sealer cast were fixed and filled with sealer resin-based, and incubated for 74 hours. They were tested for shear bond strength with Universal Testing Machine. The data were analyzed with two way Anava and LSD. Result. Two way Avana show that shear bond strength of sealer resin-based to root canal after irrigation with different concentration and duration application of sodium hypochlorite are significant. Conclusion. Shear bond strength of sealer resin-based to root canal dentin after irrigation with different concentration and duration application of sodium hypochlorite are different.
Hubungan antara Lebar dan Panjang Lengkung Gigi terhadap Tinggi Palatum pada Suku Jawa dengan Metode-Pont dan Korkhaus Gusti Ayu Made Dwita Hayu Paramesthi; Cendrawasih Andusyana Farmasyanti; Dyah Karunia
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5440.795 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16447

Abstract

Latar Belakang. Setiap ras memiliki ciri-ciri khusus untuk suatu ras tertentu sehingga tidak dapat digunakan sebagai standar untuk ras yang lainnya. Pont dan Korkhaus menggunakan indeks yang didapatkan dari ras Kaukasoid sehingga perlu dilakukan penelitian pada suku Jawa yang tergolong dalam ras Mongoloid. Sering dijumpai pasien dengan palatum tinggi mempunyai lengkung gigi yang panjang dan sempit. Hal itu menandakan adanya hubungan antara tulang kepala, maksila, dan palatum. Tujuan Penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai indeks lebar lengkung gigi, panjang lengkung gigi, dan tinggi palatum berdasarkan analisis Pont dan Korkhaus dan hubungan lebar dan panjang lengkung gigi terhadap tinggi palatum pada suku Jawa. Metode Penelitian. Penelitian bersifat deskriptif dan analitik. Sebanyak 31 subjek (8 laki-Iaki dan 23 perempuan) diambil dari mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada angkatan tahun 2006-2009 dengan metode selectedsampling. Data diperoleh dari pengukuran pada model studi rahang atas meliputi lebar mesiodistal keempat insisivus, lebar interpremolar, lebar intermolar, panjang lengkung gigi, dan tinggi palatum sesuai dengan parameter yang digunakan oleh Pont dan Korkhaus. Analisis statistik deskriptif, uji t tidak berpasangan, dan uji regresi digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh. Hasil Penelltian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suku Jawa mempunyai indeks premolar Pont 82,62 ± 4,41; indeks molar Pont 65,96 ± 4,42; indeks panjang lengkung gigi Korkhaus 163,49 ± 8,02; dan indeks tinggi palatum Korkhaus 36,29 ± 4,42. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara lebar dan panjang lengkung gigi terhadap tinggi palatum (p>O,05). Kesimpulan. Tidak terdapat hubungan antara lebar dan panjang lengkung gigi terhadap tinggi palatum berdasarkan metode Pont dan Korkhaus pada suku Jawa.
Kombinasi penggunaan quadhelix dan tanggul gigitan posterior pada perawatan crossbite anterior Rhabiah El Fithriyah
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1454.198 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12316

Abstract

Combination quad helix and bite riser posterior for anterior crossbite treatment. Anterior crossbite treatment can be done with the appliances either by removable appliances or fixed appliances. One fixed appliance that can be used in the treatment of anterior crossbite is a quad helix with a combination of bite raiser posterior. It is the preferred appliance for correction of maxillary dental constriction in a preadolescent child. Quad helix is activated by widening the anterior or posterior helices. An 11-year-old female patient referred to the clinic with a problem of crowding teeth that affected her appearance. The diagnosis for her case was malocclusions dentoalveolar class I angle along with anterior crossbite 12 and 21, anterior crowding maxilla with convex face profile, shifted median line, and no TMJ disorder. The treatment plan used a quad helix and bite riser posterior followed by a fixed orthodontic treatment. The aim of this study was to correct the anterior crossbite using a combination of a quad helix and bite raiser posterior. The patient was treated using composite bite raiser posterior on the occlusal surface of 16.26, and quad helix soldered to bands and cemented on 16 and 26. The patient was instructed to get her teeth controlled every two week to activate quad helix. After 3 months of active treatment, anterior crossbite was corrected. The appliance was left passively in place for 3 months as retention. The study concluded that crossbite treatment with a combination of a quad helix and bite riser was effective in correcting anterior crossbite in adolescents.ABSTRAKPerawatan crossbite anterior dapat dilakukan dengan beberapa macam alat baik dengan alat lepasan ataupun alat cekat. Salah satu alat semi cekat yang dapat digunakan pada perawatan crossbite anterior adalah quad helix dengan kombinasi tanggul gigitan posterior. Quad helix merupakan alat yang dapat digunakan untuk konstriksi dental di maksila pada masa remaja. Seorang pasien anak perempuan berusia 11 tahun mengeluhkan keadaan giginya yang berjejal dan menganggu penampilannya. Diagnosis kasus adalah maloklusi dentoalveolar kelas I angle disertai crossbite gigi 12 dan 21, crowding anterior rahang atas dengan profil muka cembung, garis median tidak sesuai dan tidak disertai gangguan TMJ. Rencana perawatan menggunakan quad helix dan tanggul gigitan posterior kemudian dilanjutkan dengan perawatan ortodontik cekat. Tujuan artikel ini adalah menyajikan perawatan crossbite anterior dengan menggunakan kombinasi quad helix dan tanggul gigitan posterior. Pasien dirawat menggunakan tanggul gigitan komposit posterior pada permukaan oklusal gigi 16, 26 dan quad helix yang disolder pada molar band dan disementasi di molar band pada gigi 16 dan 26 kemudian pasien diinstruksikan untuk kontrol setiap dua minggu satu kali kunjungan untuk aktivasi quad helix. Setelah perawatan aktif 3 bulan crossbite anterior telah terkoreksi. Alat ditinggalkan di dalam mulut dalam keadaan pasif selama 3 bulan sebagai retensi. Dapat ditarik kesimpulan bahwa perawatan crossbite dengan kombinasi quad helix dan tanggul gigitan posterior efektif dalam mengoreksi  crossbite anterior pada remaja.
Perbedaan Penggunaan Bahan Desensitizing dan Tanpa Desensitizing Pasca Bleaching Ekstra-Koronal terhadap Kekerasan Email Wignyo Hadriyanto
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4422.909 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12703

Abstract

Latar Belakang. Pada bleaching ekstrakoronal diketahui terjadi proses demineralisasi sehingga terjadi hiersensitivitas dentin. UltraEZ salah satu bahan desensitizing yang dapat mengurangi hipersensitivitas akibat demineralisasi email pasca bleaching ekstrakoronal terkini. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekerasan email pasca pemutihan gigi ekstra-koronal dengan aplikasi bahan desensitizing dan tanpa aplikasi bahan desensitizing. Metode penelitian ini menggunakan 20 gigi premolar permanen pasca pencabutanyang masih utuh dan direndam dalam saliva buatan, kemudian dilakukan pemolesan pada bagian bukal dengan menggunakan pasta profilaksis kemudian gigi dicuci dan dikeringkan. Bahan pemutih Opalescence Xtra Boost diaplikasikan pada semua permukaan bukal gigi premolar kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I, II, masing-masing kelompok sebanyak 10 gigi. Kelompok I sebagai kelompok control setelah dilakukan pemutihan, tidak dilakukan aplikasi Ultra-EZ, dimasukkan dalam wadah botol dan direndam dalam saliva buatan kemudian disimpan dalam incubator. Mahkota dan akar gigi,kemudian ditanam dalam resin akrilik sesuai kelompok sebelumnya dengan permukaan bukal menghadap ke atas. Semua sampel diuji kekerasannya dengan uji kekerasan Vickers menggunakan beban 100 g selama 15 detik. Permukaan bukal menghadap ke atas, kemudian dijepit dengan alat penjepit pada meja alat Micro Vickers Hardness Tester. Sampel diatur sedemikian rupa sehingga akan terlihat gambar yang dapat diukur panjang diagonalnya langsung dengan micrometer yang ada pada lensa okuler. Nilai kekerasan email dalam Vickers hardness number (VHN) juga dapat diperoleh dari table setelah mengetahui rata-rata panjang diagonal, berat badan yang digunakan dan waktu yang digunakan untuk uji kekerasan. Pengujian ini dilakukan pada setiap kelompok. Selanjutnya diuji dengan uji-t. hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara aplikasi ultraEZ lima menit dibandingkan tanpa aplikasi ultraEZ terhadap kekerasan email pada p>0,05. Background. One of the side effect of bleaching agent is a dentine hypersensitive and ultraEZ is an agent can diminish this process. The purpose of this study was to evaluate difference of enamel microhardness post external bleaching with or without ultra-eze application. Method. Twenty extracted permanent bicuspid used in this study were divided into two group, each group contains 10 bicupids. Group I was treated external bleaching without ultra-eze application and group II was treated external bleaching with application ultraEZ for five minutes. After that all of the subject were seaked the artificial saliva and kept in the incubator 24 hours. Teeth were embedded into acrylic resin with the buccal sirface facing up. Further all of the subject was evaluated by Vickers using 100 g load for 15 seconds. Teeth were stapled on the Micro Hardness Tester table diagonal of emage was measure using micrometer attach on ocular lesnse. Email hardness can be known after calculating, the everage diagonal length, the load used and the duration of hardness test. Further the data was analize using t-test. The result shows there is significant difference between bleaching with and without the application of ultra-eze.
Pembuatan Cantilever Bridge Anterior Rahang Atas sebagai Koreksi Estetik Yusrina Sumartati; Haryo Mustiko Dipoyono; Erwan Sugiatno
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2833.704 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15543

Abstract

Latar belakang. Kehilangan gigi anterior rahang atas mengakibatkan gangguan fungsi fonetik dan estetik. Gangguan fungsi estetik menyebabkan pasie menjadi rendah diri. Kondisi ini dapat diatasi oleh dokter gigi, salah satunya dengan pembuatan cantilever bridge. Tujuan. Penulisan ini yaitu untuk memberi informasi bahwa pada kasus kehilangan gigi-gigi anterior rahang atas dengan space yang telah menyempit dan malposisi gigi dapat dibuatkan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan desain cantilever bridge. Kasus dan perawatan. Laporan kasus ini membahas tentang pasien perempuan umur 39 tahun yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo, dengan keluhan merasa kurang percaya diri karena gigi depan rahang atas hilang sejak 5 tahun yang lalu akibat kecelakaan. Gigi-gigi anterior rahang atas yang masih ada mengalami malposisi akibat pemakaian gigi tiruan sebagian lepasan yang tidak baik. Perawatan yang dilakukan adalah dengan pembuatan cantilever bridge pada gigi 11, 12, 13 dan 21, 22, 23. Kesimpulan. Gangguan fungsi estetik pada gigi anterior rahang atas dapat diatasi dengan pembuatan cantilever bridge. Background. Maxillary anteriortooth loss resulting in impaired function of phonetic and aesthetic. Impaired function of aesthetic cause patients to become self conscious. This condition can be treated by a dentist, one with a cantilever bridge. Purpose. To inform that in case of missing anterior teeth of the upper jaw with a space that has been narrowed, and malposition of teeth can be made prosthesis denture fixed bridge with a cantilever design. Case and treatment. This case report discusses the 39 years old female patient who came to he Dental Hospital Prof. Soedomo, with complaints of feeling less confident due to the maxillary front teeth missing since 5 years ago due to an accident. Anterior teeth of the upper jaw are still experiencing malposition due to the use of removable partial dentures are not good. The treatment is done is by cantilever bridge on teeth 11, 12, 13 and 21, 22, 23. Conclusion. Impaired function of the aesthetic in the maxillary anterior teeth can be solved by a cantilever bridge. 
Pembuatan Obturator Mata pada Pasien dengan Kehilangan Mata Akibat Cacat Bawaan Clara Rosalina; Erwan Sugiatno; Haryo Mustiko
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1317.511 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16017

Abstract

Kasus kehilangan mata pada pasien dapat menimbulkan masalah fungsi dan estetik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki masalah estetik adalah dengan membuatkan protesa mata kepada pasien tersebut. Tujuan pembuatan obturator mata pada pasien yang kehilangan mata adalah untuk membantu pasien dalam memperbaiki estetik. Pasien wan ita usia 35 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM FKG UGM dengan kondisi kehilangan mata sebelah kanan yang merupakan cacat bawaan. Pemeriksaan wajah menunjukkan muka asimetris. Pada mata kanan tampak adanya cheloid yang timbul setelah operasi pengangkatan bola mata. Perawatan dilakukan dengan pembuatan protesa mata non fabricated dengan tahap-tahap: pencetakan mata dengan sendok cetak mata perorangan dan pengisian hasil cetakan terdiri dari dua bagian, yang pertama diisi dengan gips keras sampai bagian terlebar dari cetakan dasar soket dan dibuat tiga retensi sebagai kunci, kedua sampai menutupi seluruh hasil cetakan. Pembuatan model malam sklera, mencoba pola malam sklera dan packing model malam sklera. Oef/asking dan polishing untuk membuat sklera akrilik, mencoba sklera akrilik dan penentuan lokasi diameter iris, melukis iris dan pupil, penyelesaian protesa mata, packing sklera dan iris, def/asking dan polishing untuk membuat protesa mata serta insersi protesa mata. Kontrol setelah 2 minggu menunjukkan hasil yang baik, tidak ada keluhan rasa sakit, tidak ada peradangan, volume dan frekuensi air mata menjadi berkurang jumlah dan frekuensinya.
Perawatan Saluran Akar Satu Kunjungan Disertai Ekstrusi dan Mahkota Jaket Porselin Fusi Metal dengan Fraktur Ellis Kelas III Subgingiva (Pada Gigi Insisivus Sentralis Kanan Maksila) Yulita Kristanti; Wignyo Hadriyanto; Raphael Tri Endra Untara
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6072.355 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16492

Abstract

Latar Belakang dan Tujuan. Laporan kasus ini dibuat dengan tujuan untuk menginformasikan hasil perawatan saluran akar, ekstrusi gigi dan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal dengan penguat inti pasak tuang pada gigi insisivus sentralis kanan maksila yang mengalami fraktur Ellis klas III subgingiva dengan pulpitis irreversibel. Kasus dan Penanganannya. Pasien laki-Iaki umur 20 tahun mengalami fraktur Ellis klas III subgingiva akibat keeelakaan satu minggu sebelum periksa. Cara perawatan yang dilakukan adalah dengan melakukan perawatan saluran akar satu kunjungan pada gigi insisivus kanan atas maksila. Setelah dilakukan kontrol pasea perawatan saluran akar dan menunjukkan tanda-tanda menuju kesembuhan, dilakukan ekstrusi. Ekstrusi dilakukan dengan terlebih dahulu mengambil sebagian guta perea disaluran akar untuk meletakkan kawat dengan coi/ di ujungnya. Selanjutnya bracket dan insisal bar dipasang pada 5 gigi anterior dan dihubungkan dengan kawat dengan coil diujungnya yang telah disementasikan dalam saluran akar dengan semen ionomer kaea tipe I. Setelah gigi terekstrusi, dan melewati periode stabilisasi selama 1 bulan dengan tidak terjadi relaps, perawatan dilanjutkan dengan preparasi pembuatan inti pasak tuang dan dilanjutkan dengan pembuatan mahkota jaket porselin fusi metal. Hasil. Hasil perawatan ini menunjukkan ekstrusi telah tereapai dalam waktu 1 bulan dan perawatan dilanjutkan dengan pembuatan inti pasak tuang dan mahkota jaket porselin fusi metal warna A2 (vitapan) dengan kontur, embrasur dibuat ideal, area kontak proksimal pada bagian sepertiga insisal. Kesimpulan. Perawatan saluran akar satu kunjungan disertai ekstrusi dan mahkota jaket porselin fusi metal efektif untuk menangani kasus gigi insisivus sentralis kanan maksila dengan fraktur Ellis Kelas III subgingiva.
Perbedaan Kekuatan Geser Reparasi Gigi Tiruan Cekat dengan Resin Komposit Packable dan Flowable (Uji Laboratoris pada permukaan logam NiCr) Endang Wahyuningtyas; Suparyono Saleh; Sri Budi Barunawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4344.973 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15533

Abstract

Latar Belakang. Resin komposit merupakan bahan pilihan untuk reparasi Gigi Tiruan Cekat porcelain fused to metal (PFM) Karena estetis baik dan manipulasi mudah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kekuatan geser perlekatan resin komposit pada permukaan logam Gigi Tiruan Cekat dengan menggunakan resin komposit jenis packable dan jenis flowable. Metode penelitian. Subjek penelitian berupa logam NiCr (Noritake, Japan) berbentuk silinder dengan diameter 10 mm dan tinggi 3 mm. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari 10 subjek. Kelompok pertama reparasi dengan resin komposit packable (Z250™ 3M ESPE, USA) dan kelompok kedua reparasi dengan resin komposit flowable (Dyad flow, Kerr, USA). Permukaan subjek dikasari dengan wheel diamond bur, dietsa dengan asam fosfat 37 % (Scotchbond™, 3M ESPE, USA) kemudian dicuci dan dikeringkan, selanjutnya diaplikasikan silan (Rely X™ Ceramic Primer, 3M ESPE, USA) dan bonding (Adper™ Single Bond, 3M ESPE, USA). Permukaan kemudian dilapisi dengan resin komposit packable dan flowable, disinari selama 40 detik. Subjek penelitian direndam di dalam distilled water dan dimasukkan ke dalam incubator dengan suhu 37°C selama 7 hari. Uji kekuatan geser dilakukan dengan menggunakan Universal Testing Machine. Data dianalisis dengan uji t. hasil uji t menunjukkan terdapat perbedaan bermakna kekuatan geser reparasi gigi tiruan cekat pada permukaan logam (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah kekuatan geser reparasi pada permukaan logam dengan menggunakan resin komposit flowable yang mengandung bahan coupling agent lebih tinggi dibandingkan reparasi pada permukaan porselen dengan menggunakan resin komposit packable. Background. One of selected material by repairing the fixed partial denture was composite resin because of its good aesthetics and low manipulation. The aim. This research was aimed at identifying the differences of shear bond strength of composite resin on metal surface by using different composite resins, namely packable and flowable composite resins. Method. The research subjects were cylinders with 10 mm in diameter and 3 mm in height. The research subjects with metal material of NiCr (Noritke, Japan) involved two groups. The first group comprising 10 repair subjects with composite packable (Z250™, 3M ESPE, USA) and 10 repair subjects with flowable composite (Dyad flow, Kerr, USA). The surface of the subjects were roughned with wheel diamond bur and etched with 37% phosphate acid (Scotbond™, 3M ESPE, USA) were applied. The surface was then coated with packable and flowable composite resins and light-cured for 40 seconds. The research subjects were immersed in distilled water and put into the incubator at temperature of 37°C for 7 days. The shear bond strength test was conducted using the Universal Testing Machine. Data were analyzed using t-test. The result. The research result showed that there were differences of shear bond strength of repair between packable and flowable composite resins. The result of t-test indicated significant diffrences on metal surface (p<0,05). The conclusion of this research is that shear bond strength of repair with flowable composite which contain coupling agent has higher shear bond strength than that of packable composite resin.
Penatalaksanaan emergensi pada trauma oromaksilofasial disertai fraktur basis kranii anterior Agus Dwi Sastrawan; Endang Sjamsudin; Ahmad Faried
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2413.098 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.12606

Abstract

Emergency management of oromaxillofacial trauma with anterior cranial base fracture. Oromaxillofacial trauma with cranial base fracture is a case that is quite commonly found in the ER of Oral and Maxillofacial Surgery Department at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. Emergency management aims to take any appropriate action, prevent complications, and consult to other departments involved. A man aged 28 years came with bleeding from the mouth due to a motorcycle accident approximately 6 hours before admission to the hospital. Physical examination showed facial asymmetry, bilateral periorbital edema and hematoma, rhinorrhea, and stitches in labiomental area. Intraoral examination showed maxillary, palatal, parasymphisis, dentoalveolar fractures, lacerated wound on the upper lip, lower lip, palate, gingival, difficulty in opening the mouth, and malocclusion of the teeth. Immediate and rapid surgical and maxillofacial surgical emergency was performed with minimal maxillary intervention, aiming to prevent persistent spontaneous cerebrospinal fluid leak, and prevent infection. The management of soft tissue and hard tissue injury is by reduction, fixation and immobilization of fractures, management of pain and administration of antibiotics. In conclusion, the emergency management of oromaxillofacial trauma with cranial base fracture is promptly and rapidly carried out with minimal intervention.ABSTRAKTrauma oromaksilofasial disertai fraktur basis kranii merupakan kasus yang cukup banyak ditemukan di Instalasi Gawat Darurat Bedah Mulut dan Maksilofasial RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penatalaksanaan emergensi bertujuan untuk melakukan tindakan yang tepat, mencegah komplikasi, serta konsultasi kepada bagian lain yang terkait. Seorang laki- laki usia 28 tahun datang dengan keluhan perdarahan dari mulut akibat kecelakaan motor kurang lebih 6 jam sebelum masuk rumah sakit. Pemeriksaan fisik ditemukan wajah asimetris, edema dan hematoma pada regio periorbita bilateral, terdapat rhinorrhea, serta bekas jahitan pada regio labiomental. Pemeriksaan intra oral tampak fraktur pada daerah maksila, palatum, parasimfisis, fraktur dentoalveolar, vulnus laserasi pada bibir atas, bibir bawah, palatum, gingiva, kesulitan membuka mulut, dan maloklusi gigi geligi. Tindakan emergensi bedah mulut dan maksilofasial dilakukan segera dan cepat dengan minimal intervensi pada rahang atas bertujuan untuk mencegah kebocoran cairan serebro spinal persisten, dan mencegah terjadinya infeksi. Manajemen luka jaringan lunak dan jaringan keras, melakukan reduksi, fiksasi dan imobilisasi fraktur, manajemen nyeri serta pemberian antibiotik. Penatalaksanaan emergensi pada trauma oromaksilofasial disertai fraktur basis kranii dilakukan segera dan cepat dengan minimal intervensi.
Penggunaan Composit Resin pada Kasus Resisi Gingiva S. Suryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (898.817 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15921

Abstract

Background: The clinical appearance of gingival tissue play an essential role in aesthetics. Gingival morphology and color effect on the aesthetic concerns for the patient. Gingival recession can cause exposure of the underlying rootsurface and hypersensitive of the tooth. Purpose: this case reports showed the treatment of gingival recession by using gingival-shaded composite. Case and treatment: Exposed root surface is layered by gingival-shaded composite and its also improved aesthetics by replacement of the restoration. Conclusion: The use of gingival-shaded composite in the area of exposed root surface for layering improved the aesthetic and relief the sensitive denting of patient.