cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Campuran kitosan dengan resin akrilik sebagai bahan gigi tiruan penghambat Candida albicans Titik Ismiyati; Widowati Siswomihardjo; Marsetyawan Heparis Nur Ekandaru Soesatyo; R. Rochmadi
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 3 (2017): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.127 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.23721

Abstract

The mixture of acrylic resin and chitosan as denture material to inhibit Candida albicans. The inhibition of Candida albicans in denture resin has an important role to prevent the development of denture stomatitis. Chitosan is a natural polymer compound derived from shrimp waste which can function as an antifungal Acrylik resin cannot be mixed with chitosan. To obtain a homogeneous mixture, the mixture was added a coupling agen acrylic acid and acetone. The research objective was to study the mixture of acrylic resin and chitosan with solvent acrylic acid and acetone as a denture that can inhibit the growth of Candida albicans. Methods: The samples used discs in 10 mm diameter and 2 mm thickness, made from heat cured acrylic resin mixed with chitosan dissolved in acrylat acid and acetone. They were divided into 4 groups. Group 1 was acrylic resin without chitosan as a control, group 2, 3 and 4 were the mixture of acrylic resin and 5 ml chitosan in 0.5%, 1%, and 2% concentration respectively. The fourier transform irfrared spectroscopy (FTIR) and the digital optical microscope were used to synthesize and analyze. The Kruskal Wallis was used to analyze the data. The results showed that the mixture of acrylic resin with chitosan significantly inhibited the growth of Candida albicans. Conclusion: a mixture of acrylic resins and chitosan can be fungistatic, so it can be developed as an antifungal denture material. ABSTRAKPenghambatan Candida albicans pada gigi tiruan resin akrilik dapat memainkan peran penting dalam mencegah perkembangan denture stomatitis. Kitosan adalah senyawa polimer alam yang berasal dari limbah udang yang dapat berfungsi sebagai antijamur. Resin akrilik tidak dapat bercampur dengan kitosan. Untuk mendapatkan campuran yang homogen, campuran tersebut ditambah coupling agent asam akrilat dan aseton. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji campuran resin akrilik dan kitosan dan asam akrilat pelarut aseton sebagai bahan gigi tiruan penghambat Candida albicans. Spesimen penelitian berbentuk cakram berdiameter 10 mm dan tebal 2 mm dibuat dari resin akrilik kuring panas (QC 20) dicampur dengan kitosan dari cangkang udang yang ditambahkan asam akrilat dalam pelarut aseton. Spesimen dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok 1 terdiri dari resin akrilik tanpa kitosan sebagai kontrol, sedangkan kelompok 2, 3, dan 4 terdiri dari campuran resin akrilik dengan kitosan 5 ml pada konsentrasi 0,5%, 1%, dan 2%, secara berurutan. Hasil campuran resin akrilik dengan kitosan dianalisis dengan menggunakan Fourier Transform Infrared spectroscopy (FTIR), dan digital mikroskop optik. Efek antijamur diuji dengan menggunakan metode dilusi. Data yang didapat dianalisis statistik dengan Kruskal Wallis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran resin akrilik dengan kitosan signifikan menghambat pertumbuhan Candida albicans. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa campuran resin akrilik dan kitosan dapat bersifat fungistatik, sehingga dapat dikembangkan sebagai bahan gigi tiruan antijamur.
Preparasi Minimal pada Pembuatan Gigi Tiruan Cekat dengan Fiber Reinforced Composite (FRC) Aditya Ayat Santiko; Murti Indrastuti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1994.135 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15977

Abstract

Dalam praktek sering kali dokter gigi dihadapkan pada pasien yang kehilangan gigi anterior dan ingin segera dibuatkan gigi tiruan karena alasan estetik. Gigi tiruan yang dibuat bisa berupa gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL) atau gigi tiruan cekat (GTC). Pada GTSL, adanya plat pada palatum menyebabkan rasa tidak nyaman, selain itu pasien setiap kali harus buka pasang gigi tiruan kembali sehingga cukup merepotkan. Oleh karena itu pada umumnya pasien ingin dibuatkan GTC dan hal ini memang sesuai dengan indikasi GTC. Hal yang menjadi pertimbangan pada pembuatan GTC adalah pengasahan permukaan gigi secara keseluruhan bila akan dibuat desain full crown. Pada perkembangan desain GTC ada desain yang disebut resin bonded bridge atau adhesive bridge yaitu GTC yang dibuat pada gigi abutment yang dipreparasi minimal pada bagian palatal saja dan dilekatkan secara mikromekanikal antara retainer sayap logam dan gigi yang telah dipreparasi. Pasien wan ita usia 22 tahun datang ke klinik Prostodonsia RSGM Prof Soedomo UGM karena kehilangan gigi insisif sentral kiri atas. Pada kasus ini dilakukan pembuatan GTC dengan bahan fiber reinforced composite (FRC). Pembuatan bridge dengan bahan FRC dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Pada makalah ini akan dibahas pembuatan bridge FRC secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan gigi artlfisial komposit. Hasil menunjukkan estetis yang baik, kontrol setelah 2 bulan tidak ada perubahan warna dan pasien merasa puas dengan penampilannya, jaringan gingiva di sekitarnya normal.
Mineral Trioxide Aggregate sebagai Penutup Perforasi Akar Lateral Premolar Mandibula Disertai Restorasi Onlei Resin Komposit Nanda Kusumastuti; Ema Mulyawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4437.734 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16487

Abstract

Latar belakang. Kegagalan memperoleh arah preparasi saluran akar yang lurus merupakan salah satu penyebab utama perforasi akar lateral. Pemakaian mineral trioxide aggregate (MTA) pada penutupan perforasi akar lateral memberikan kerapatan yang lebih baik dibandingkan bahan yang lain. Tujuan. Penulisan laporan ini untuk melaporkan penutupan perforasi akar lateral menggunakan MTA pada perawatan saluran akar gigi premolar dua kanan mandibula nekrosis pulpa dilanjutkan restorasi onlei resin komposit sehingga !ungsi gigi dapat tereapai kembali. Kasus dan penanganan. Pasien laki-Iaki berusia 35 tahun datang ke klinik Konservasi RSGM Prof. Soedomo dengan keluhan ingin melanjutkan perawatan gigi belakang kanan bawahnya yang pernah dirawat di dokter gigi sebelumnya tetapi tidak selesai. Pada pemeriksaan CE negati!, perkusi positi!, palpasi dan mobilitas negati!. Gambaran radiogra! terlihat adanya area radiolusen pada 1/3 akar lateral bagian mesial. Diagnosis gigi 45 adalah karies profunda dengan nekrosis pulpa disertai perforasi akar lateral. Preparasi saluran akar dilakukan dengan teknik crown down menggunakan protaper hand use. MTA setebal 3 mm ditempatkan dalam saluran akar yang mengalami perforasi akar lateral dan selanjutnya saluran akar diobturasi dengan teknik single cone. Tiga bulan setelah penutupan perforasi akar lateral, pasien tidak ada keluhan serta pada pemeriksaan perkusi, palpasi dan mobilitas negati! kemudian dilanjutkan dengan restorasi onlei resin komposit. Kesimpulan. Kasus premolar dua kanan mandibula yang mengalami perforasi akar lateral dapat disembuhkan dengan penggunaan MTA sebagai bahan penutup perforasi. Evaluasi pasea pengaplikasian MTA dilakukan pada bulan ke-3 menunjukkan hasil yang eukup memuaskan dengan ditandai daerah radiolusensi yang mengeeil pada daerah perforasi.
Studi in vivo ekstrak etanolik ciplukan (Physalis angulata) dalam meningkatkan apoptosis sel kanker lidah Ulfah Hermin Safitri; Eriska Firma Nawangsih; Naida Dwi Noviyanti; Fitri Nur'aini; Diyah Apliani; Tetiana Haniastuti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (619.037 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10744

Abstract

In vivo study of ethanolic ciplukan extract (Physalis angulata) to enhance the apoptosis of tongue cancer cell. Tongue cancer is kind of oral cancer with high prevalence. Ciplukan (Physalis angulata L.) has cytotoxic activity to inhibit cancer cells proliferation and induct cell cycle arrest. This study aims to assess the potential of ethanolic ciplukan extract (ECE) as anti tongue cancer and determine the effect of ECE in increasing tongue cancer cells apoptotic injected by DMBA. Fifteen female Sprague dawley rats of approximately 80-60 gram and aged 2-3 months were divided into three groups: (1) control group; (2) DMBA+ 750 mg/kg BW ECE; (3) DMBA+1500 mg/kg BW ECE. Tongue cancer was inducted by injecting 2% DMBA 0,1ml /100 grams BW on the lateral tongue and then it was observed for 5 weeks. After that, the 750 and 1500 mg/kg BW ECE were given orally everyday for seven days. By the end of the sixth week, all the rats were sacrified and then the tongue tissue was stained using TdT-mediated X-dUTP Nick End Labeling (TUNEL) assay to see the apoptotic cells. The results showed that apoptotic index for the control group was 3,94%, treatment with 750 mg/Kg BW extract had 15,34% result meanwhile treatment with 1500 mg/Kg BW resulted in 25,5%.The result of one way ANOVA (p<0,05) test showed that ECE increased cancer cells apoptotic treated by DMBA. Thus, it is possible to conclude that ECE is effective in inhibiting the growth of tongue cancer cell by increasing apoptotic tongue cancer cells.ABSTRAKKanker lidah merupakan jenis kanker di dalam rongga mulut yang sering terjadi dan memiliki prevalensi yang tinggi. Ciplukan (Physalis angulata L.) memiliki aktivitas sitotoksik pada sel kanker, yaitu mampu menghambat proliferasi sel kanker dan menginduksi cell cycle arrest. Penelitian ini bertujuan mengkaji potensi ekstrak etanolik ciplukan (EEC) sebagai antikanker lidah dan mengetahui pengaruh EEC dalam meningkatkan apoptosis sel kanker lidah yang diinjeksi DMBA. Lima belas ekor tikus Sprague dawley betina usia 2-3 bulan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: (1) kelompok kontrol DMBA; (2) kelompok DMBA+EEC dosis 750 mg/kg BB; (3) kelompok DMBA+EEC dosis 1500 mg/kg BB. Kanker lidah diinduksi dengan injeksi 0,1 ml/100 gram BB tikus larutan DMBA 2% pada bagian lateral lidah hewan uji satu kali, lalu dibiarkan selama 5 minggu. Pada awal minggu ke-6 EEC 750 dan 1500 mg/kg BB diberikan secara sondasi kepada hewan uji selama 7 hari. Pada awal minggu ketujuh tikus dikorbankan. Selanjutnya, dilakukan pengamatan untuk memeriksa apoptosis sel dengan pewarnaan TdT-mediated X-dUTP Nick End Labeling (TUNEL). Hasil penelitian menunjukkan indeks apoptosis kelompok kontrol adalah 3,94%, kelompok perlakuan EEC 750 mg/kg BB adalah 15,34%, dan kelompok perlakuan EEC 1500 mg/kg BB sebesar 25,5%. Hasil uji One Way ANOVA (p<0,05) menunjukkan bahwa EEC mampu meningkatkan apoptosis sel kanker lidah tikus yang diinduksi DMBA. Kesimpulan penelitian ini adalah EEC dapat menghambat pertumbuhan sel kanker lidah dengan cara meningkatkan apoptosis sel kanker lidah tikus.
Perawatan Gigitan Silang Gigi Depan pada Gigi Susu dengan Dataran Gigitan Miring Akrilik Cekat Wayan Ardhana
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5279.718 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15425

Abstract

Latar Belakang: Gigitan silang gigi depan jika dibiarkan berkembang akan dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan maksila dan tidak terkontrolnya pertumbuhan mandibula ke depan sehingga dapat menjadi maloklusi skeletal kelas III yang sangat merusak penampilan wajah. Perawatan sangat perlu dilakukan pada usia dini sejak periode gigi susu. Tujuan: Membahas perawatan gigitan silang gihi depan pada gigi susu menggunakan dataran gigitan miring dari resin akrilik yang dipasang secara cekat pada rahang bawah. Kasus: Dua kasus maloklusi pseuid kelas III dengan gigitan silang gigi depan pada periode gigi susu. Dirawat menggunakan dataran gigitan miring akrilik yang dipasang secara cekat pada gigi depan bawah. Kesimpulan: maloklusi dapat terkoreksi dalam waktu 2 bulan, oklusi dapat dikembalikan ke relasi normalnya dan tetap dalam keadaan normal saat dilakukan observasi ketika semua gigi depan permanen telah erupsi. Background: Untreated anterior crossbite will be able to inhibit the maxillary growth and subsquent uncontrolled forward growth of the mandible can lead to class III skeletal malocclusion and therefore an unattractive appearance. Care needs to be done at a very early age and can be started during primary dentition period. Objectives: Discussing the treatment anterior crossbite of primary dentition using fixed acrylic mandibulary inclined bite plane. Cases: Two cases of pesudo class III malocclusion with anterior crossbite of primary dentition have been treated using fixed acrylic bite plane mounted on the lower front teeth. Conclusion: Malocclusion can be corrected in 2 months, and normal occlusion can be restored and remained stable when all the permanent anterior teeth had been erupted.
Kekerasan mikro resin komposit packable dan bulkfill dengan kedalaman kavitas berbeda Diatri Nari Ratih; Andina Novitasari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 2 (2017): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.768 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.22798

Abstract

Microhardness of packable and bulkfill composite resin with different cavity depths. Bulkfill composite resin restorations are increasingly popular because the material can be irradiated with a thickness reaching 4 mm, making it easier to apply. The objective of this study was to determine the differences in the microhardness between packable and bulkfill composite resin restorations with a cavity depth of 2 mm and 4 mm. This study was done using 32 Teon molds (5 mm diameter), and grouped randomly into 4 groups in which each consisted of 8 samples. Group 1A, packable composite resin was applied to the mold with a cavity depth of 2 mm. Group 1B, bulkfill composite resin was applied to the mold with a cavity depth of 2 mm. Group 2A, packable composite resin was applied with a depth of 4 mm. Group 2B, bulkfill composite resin was applied with a depth of 4 mm. Each sample was immersed in articial saliva with a pH of 6.8 and stored in an incubator at a temperature of 37°C for 24 hours. The hardness of each sample was tested using Vickers indenter microhardness tester. The data obtained were then analyzed by using two-way ANOVA, followed by Tukey’s test. The results showed that bulkfill composite resin with a cavity depth of 2 mm has the highest average of microhardness (31.09 ± 2.02 VHN), followed by packable composite resin with a depth of 2 mm (17.52 ± 1.25 VHN), bulkfill with a depth of 4 mm (11.97 ± 1.23 VHN) and packable with a depth of 4 mm (3.18 ± 0.85 VHN). The two-way ANOVA analysis showed that there are significant differences between the types of composite resin and cavity depths (p < 0.05), and there is interaction between the types of composite resin and cavity depth (p<0.05). In conclusion, the microhardness of packable composite resin is lower than that of bulkfill at a cavity depth of 2 and 4 mm. ABSTRAKRestorasi resin komposit dengan bulkfill semakin populer karena material tersebut dapat disinar dengan ketebalan sampai 4 mm, sehingga mudah diaplikasikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kekerasan mikro restorasi resin komposit packable dan bulkfill dengan kedalaman kavitas 2 mm dan 4 mm. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 32 cetakan Teflon (diameter 5 mm), dan dikelompokkan secara random menjadi 4 kelompok yang masing-masing terdiri dari 8 sampel. Kelompok 1A, cetakan diaplikasikan resin komposit packable dengan kedalaman kavitas 2 mm. Kelompok 1B, diaplikasikan komposit bulkfill dengan kedalam 2 mm. Kelompok 2A, diaplikasikan komposit packable dengan kedalaman 4 mm. Kelompok 2B, diaplikasikan komposit bulkfill dengan kedalaman 4 mm. Setiap sampel direndam dalam saliva buatan dengan pH 6,8 dan disimpan dalam inkubator dengan suhu 37 °C selama 24 jam. Setiap sampel diuji kekerasannya menggunakan Vickers indenter microhardness tester. Data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA dua jalur, dilanjutkan uji Tukey’s. Hasil penelitian menunjukkan resin komposit bulkfill dengan kedalaman kavitas 2 mm memiliki rerata kekerasan mikro tertinggi (31,09 ± 2,02 VHN), diikuti oleh resin komposit packable dengan kedalaman 2 mm (17,52 ± 1,25 VHN), bulkfill dengan kedalaman 4 mm (11,97 ± 1,23 VHN) dan packable dengan kedalaman 4 mm (3,18 ± 0,85 VHN). Analisis ANOVA dua jalur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara jenis resin komposit dan antara kedalaman kavitas (p < 0,05), serta terdapat interaksi antara jenis resin komposit dan kedalaman kavitas (p < 0,05). Kesimpulannya, kekerasan mikro resin komposit packable lebih rendah dibandingkan bulkfill baik pada kedalaman kavitas 2 dan 4 mm.
Perawatan Maloklusi Kelas 1 Angle dengan Agenese Gigi 12, 14, 34, 44 dan Gangguan Sendi Temporomandibular dengan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Disertai Pemakaian Trainer For Braces Komang Sri Mahayeni; Prihandini Iman
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.684 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15684

Abstract

Background: TMJ disorder is define as a condition of acute or chronic inflammation of TMJ in association with mandibular, myofunctional condition, teeth malposition and or malocclusion. TMJ disorder could lead to significant pain and anatomical damage. There are signs and symptoms of TMJ disorder, such as devition of jaw movement, clicking when openingor close the jaw, mastication disorder and decreasing interincisal distance. Purpose: To describe the result of orthodontic treatment with begg technique and trainer for braces on angle’s class I malocclusion with agenese involving 12, 14, 34, and 44 along with TMJ disorder and bad habit which is one side mastication. Case: 19 years old female complaining limited mouth opening, pain on the right side of TMJ when opening the mouth and when chewing hard food and also complaining of multiple diastema on upper and lower teeth. Diagnose : Angle’s class I with  bidental protrusive, 3mm midline midline shifting  to the left side, agenese involving 12,13,34,44, and one side mastication. Treatment : Patient treated witg begg technique and braces which is wear 1 hour at day time distance, and feel comfort when chewing hard  foord  and after 24 months of treatment with fixed begg appliance, malposition and interdigitation are corrected.
Protesa Maksilofasial Dengan Hollow Bulb pada Kasus Klas I Aramany untuk Rehabilitasi Pasca Hemimaxillectomy Daniel Budi Santoso; M.Th. Esti Tjahjanti; Heriyanti Amalia Kusuma
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5011.547 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16478

Abstract

Latar belakang. tindakan hemimaxillectomy akan menimbulkan terjadinya defect yang menyebabkan gangguan bicara (sengau), penelanan, pengunyahan, estetik dan kejiwaan. Tujuan. untuk menginformasikan cara rehabilitasi defect atau cacat pada wajah dengan protesa maksilofasial hollow bulb untuk mengembalikan fungsi bicara, penelanan, pengunyahan, estetik dan kejiwaan penderita. Kasus dan penanganan. pasien pria berusia 43 tahun datang ke RSGM Prof. Soedomo atas rujukan dari dokter THT RS. Dr. Sardjito. Saat datang pasien merasa terganggu dengan adanya pembengkakan di dalam mulut, kemudian dilakukan pemeriksaan subyektif dan obyektif. Hemimaxillectomy dilakukan oleh dokterTHT RS. DR. Sardjito. Obturator pasca bedah dipasang segera setelah operasi. Dua minggu pasca operasi, dibuatkan obturator interim, kemudian dibuatkan protesa maksilofasial klas I Aramany dengan hollow bulb setelah 2 bulan pasca operasi. Hollow bulb adalah rongga yang dibuat pada protesa maksilofasial untuk menutup rongga mulut, rongga hidung dan defect. Pada waktu insersi diperiksa retensi, stabilisasi, oklusi, estetik dan pengucapan. Kontrol dilakukan 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian. Hasil pemeriksaan dan evaluasi setelah 1 minggu dan 1 bulan setelah pemakaian protesa maksilofasial hollow bulb diketahui retensi, stabilisasi, oklusi dan pengucapan lebih baik. Kesimpulan. setelah menggunakan protesa maksilofasial hollow bulb pasca hemimaxillectomy, pasien dapat berbicara dan mengunyah dengan normal. Protesa maksilofasial hollow bulb juga dapat mengembalikan estetik yang hilang, membantu proses penyembuhan jaringan,serta psikologi pasien.
Perawatan Maloklusi Klas II Divisi 2 menggunakan Alat Ortodontik Cekat Teknik Begg Indra Sari; Pinandi Sri Pudyani
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4835.184 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15412

Abstract

Latar belakang: Maloklusi Angle Klas II divisi 2 sering disertai coverbite dan merupakan kasus yang sulit dirawat dan mudah relaps. Keberhasilan perawatan kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 bergantung pada variasi yang menyertai baik pada jaringan keras atau jaringan lunak. Bila variasi ringan, keberhasilan perawatn baik, tetapi bila terdapat kelainan skeletal parah, keberhasilan perawatan akan sulit dicapai. Tujuan: Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 yang disertai coverbite. Laporan Kasus: pasien wanita dengan usia 19 tahun mengeluhkan gigi depan atas masuk dan tidak rapi. Diagnosis: maloklusi Angle klas II divisi 2 dengan retrognatik mandibula disertai coverbite, palatal bite, cup to cup bite dan pergeseran garis tengah rahang bawah. Penanganan: Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawtan dilakukan pencabutan premolar dua kiri atas, dan molar pertama dan kedua kiri bawah yang nonvital untuk mengatasi crowding. Kesimpulan: Setelah 2 tahun perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, overbite berkurang, overjet bertambah, dan cup to cup bite di regio posterior terkoreksi. Background: Class II division 2 malocclusion often accompanied with coverbite and have been considered difficult to treat and prone to relapse. The successful treatment of this malocclusion depends to the variation of the hard and soft tissue. In mild variation the chances of succesful treatment remain good, while if skeletal discrepancies appear the fully succesfull treatment is hard to achieve. Objectives: The aim of this article is to presnet the treatment of class II division 2 malocclusion accompanied with coverbite using Begg tehnique. Case: 19 years old female patient complained her anterior upper teeth which palatally tipping and crowded. Diagnose: Class II division 2 malocclusion, accompanied with retrognatic mandible, deepbite, palatal bite, cup to cup bite in posterior region, and lower dental centerline shift. Treatment: Patient was treated with orthodontic appliance using Begg technique. Before the treatment left upper second premolar was extracted, while mandibular crowding corrected by extracting lower first and second left molar which were non fital. Conclusion: After 2 years treatment,decreasing of interincisal angle and overbite was achieved, as well as increasing overjet and correction of posterior cup to cup bite.
Analisis radiograf periapikal menggunakan software imageJ pada abses periapikal setelah perawatan endodontik Dominica Dian Saraswati Sumantri; Ria Noerianingsih Firman; A. Azhari
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.801 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10468

Abstract

Periapical abscess radiography analysis using imageJ after endodontics treatment. The visual assessment to measure the lesion of periapical abscesses on the radiograph interpretation has the distinction of periapical in intra observer and inter observer which caused by the subjectivity of observer. The assessment on abscess periapikal after endodontic treatment commonly has been seen visually from the reduced size of the lesion periapical abscess. On this research, the measurement of periapical abscesses lesion is done with measuring the number of particles, the extensive of lesions, and the extensive of particle on the radiograph after endodontic treatment on digitally. The purpose of this research is to knowing the extensive of lesions, the number of particles and the extensive particles of trabeculae bones after endodontic treatment on periapical abscess through digitization periapical radiograph using ImageJ software. This research have a form of observational analysis. Samples was taken as many as 31 on each radiograph before and after treatment of endodontic patients with diagnosis of periapical abscess at RSGM Padjadjaran University Bandung. The radiograph will digitized using ImageJ software to get the extensive of lesions, the number of particles and the particle of extensive in periapical abscess. The results of this research found that of the 31 pairs of radiograph before and after endodontic treatment there is decrease in the average area of lesions from 12.44 ± 2.29 mm2 into 2.72 ± 1.86 mm2, increase in the average number of particles of 56.22, to 79.61, an increase in the average particles area of 8.93 ± 2.55 mm2, being 11.42 ± 2.61 mm2. The summary of this research is there is a decrease in the size of the lesions, which are affected by the increase in the number of particulate matter and particles on the radiograph of the extensive of lesions periapical abscess after endodontic treatment.ABSTRAKPenilaian secara visual pada abses periapikal pada radiograf periapikal, memiliki perbedaan interpretasi secara intra dan inter observer yang diakibatkan subjektitas penilaian. Penilaian pada abses periapikal setelah perawatan endodontik secara visual umumnya dilihat dari berkurangnya ukuran abses periapikal. Pada penelitian ini pengukuran abses periapikal dilakukan dengan mengukur luas lesi, jumlah partikel, dan luas partikel pada radiograf setelah perawatan endodontik secara digital. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui luas lesi, jumlah partikel dan luas partikel trabekula tulang setelah perawatan endodontik pada abses periapikal melalui digitalisasi radiograf periapikal menggunakan software ImageJ. Penelitian bersifat analisis observasional. Sampel diambil sebanyak masing-masing 31 radiograf sebelum dan setelah perawatan endodontik pasien dengan diagnosa abses periapikal di RSGM Universitas Padjadjaran Bandung. Radiograf di digitalisasi menggunakan software ImageJ untuk mendapatkan hasil luas lesi, jumlah partikel dan luas partikel abses periapikal. Hasil penelitian ditemukan bahwa dari 31 pasang radiograf sebelum dan setelah perawatan endodontik terdapat penurunan rata-rata luas lesi dari 12,44 ± 2,29 mm2 menjadi 2,72 ± 1,86 mm2, peningkatan rata- rata jumlah partikel dari 56,22 buah, menjadi 79,61 buah, peningkatan rata-rata luas partikel dari 8,93 ± 2,55 mm2, menjadi 11,42 ± 2,61 mm2. Simpulan penelitian ini adalah analisis radiograf abses periapikal menggunakan software imageJ ditemukan penurunan ukuran luas lesi, yang dipengaruhi oleh kenaikan jumlah partikel dan luas partikel setelah perawatan endodontik.