cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
JFA (Jurnal Fisika dan Aplikasinya)
ISSN : 1858036X     EISSN : 24604682     DOI : -
Core Subject : Science,
JFA (Jurnal Fisika dan Aplikasinya, Abbreviation: J.Fis. dan Apl.) hanya menerbitkan artikel penelitian asli serta mengulas artikel tentang topik seputar bidang fisika (fisika teori, material, optik, instrumentasi, geofisika) dan aplikasinya. Naskah yang dikirimkan ke JFA belum pernah diterbitkan ditempat lain serta tidak dalam proses pertimbangan untuk diterbitkan ditempat lain, dalam bahasa apapun. Studi teoritis, eksperimental, dan praktis sama-sama didorong, seperti juga artikel interdisipliner dan yang timbul dari penelitian dan kolaborasi industri.
Arjuna Subject : -
Articles 423 Documents
Sintesis dan Karakterisasi Dye Sensitized Solar Cells (DSSC) dengan Sensitizer Antosianin dari Bunga Rosella Rafika Andari
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1629.488 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i2.2751

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi DSSC menggunakan sensitizer antosianin dari ekstrak kelopak bunga rosella (hibiscus sabdariffa), mengetahui pengaruh konsentrasi larutan elektrolit dan lama perendaman sel dalam ekstrak dye terhadap efisiensi yang dihasilkan sel surya, dan mengetahui besar arus listrik yang dihasilkan DSSC dari sumber cahaya matahari langsung dan cahaya lampu halogen 150 watt. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DSSC dapat dibuat dengan menggunakan kombinasi bahan anorganik TiO2 dengan bahan organik dye dari ekstraksi bunga rosella. Efisiensi tertinggi didapatkan pada lama perendaman 30 menit. Pada sumber cahaya matahari nilai efisiensi tertinggi (0,52%) didapat pada konsentrasi elektrolit 0,5 M. Sedangkan pada sumber cahaya lampu halogen nilai efisiensi tertinggi (0,49%) didapat pada konsentrasi elektrolit 0,3 M. DSSC yang dibuat telah berhasil mengkonversi energi surya menjadi energi listrik dengan sumbercahaya matahari dan cahaya lampu halogen dengan arus maksimum masing-masing sebesar 0,28 mA dan 0,09 mA. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa karakteristik penentu performansi sel surya diantaranya struktur, jenis dye (karakteristik absorpsi cahaya), konsentrasi larutan elektrolit dan sumber cahaya yang digunakan.ABSTRACTThis research aims were to make and characterize DSSC using anthocyanin sensitizer from rosella (hibiscus sabdariffa) petals, to know the effect of electrolyte concentration and soaking time in dye extract on solar cell0sefficiency, and to know the amount of electrical current produced by DSSC from direct sunlight and 150 watt halogen lamp. This research included the production of TiO2 paste, dye solution preparation from rosella petals, electrolyte solution preparation, counter-electrode carbon preparation, DSSC fabrication, testing, and characterization. Research results showed that DSSC could be made by combining inorganic matter such as TiO2 and organic dye from rosella flower extract. The highest efficiency was produced by 30 minutes soaking time. In direct sunlight, the highest efficiency (0,52%) was produced from the electrolyte concentration of 0,5M. Meanwhile, in 150 watt halogen lamp, the highest efficiency (0,49%) was produced from the electrolyte concentration of 0,3M. The DSSC was able to convert solar energy to electrical energy from sunlight and 150 watt halogen lamp with the maximum electrical current of 0,28 mA and 0,09 mA respectively. Therefore, it could be concluded that the main characteristics that determine solar cells performance were structure, type of dye (light absorbance characteristic), electrolyte solution concentration, and the source of light.
Karakterisasi FTIR pada Studi Awal Penumbuhan CNT dengan Prekursor Nanokatalis Ag dengan Metode HWC-VHF-PECVD Ajeng Eliyana; Toto Winata
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.422 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i2.2155

Abstract

Telah dilakukan penumbuhan CNT menggunakan nano-katalis perak sebagai pemandu di atas substrat gelas Corning 7059 dengan metode evaporasi. Penumbuhan dilakukan dengan waktu deposisi 50, 25, dan 14 sekon,diikuti proses annealing pada temperatur 400C selama 4 jam. Karakterisasi morfologi nano-katalis Ag menggunakan SEM dan EDX. Studi selanjutnya adalah penumbuhan lapisan tipis CNT di atas substrat nano-katalis Ag dengan metode Hot wire Cell-Very High Frequency Plasma Enhance Chemical Vapour Deposition(HWCVHF- PECVD) pada temperatur deposisi 275C dan tekanan 300 mTorr. Daya rf telah divariasikan dari 8 sampai 20 watt, dengan waktu deposisi selama 60 menit. Sumber karbon yang digunakan adalah gas metan 99,999%.Gas hidrogen digunakan untuk mengetsa lapisan oksida yang mungkin terbentuk selama proses pra-deposisi. Diameter dan panjang CNT di atas Ag/CG 7059 masing-masing 250-393 nm dan 309-376 nm, untuk sebaran partikel yang masih berbentuk bundel. Sedangkan diameter dan panjang untuk partikel yang berbentuk tube masing-masing 125 nm dan 1,650-2,989 μm. Pada daya rf 8 dan 10 watt terlihat adanya material CNT tumbuh dengan arah tegak lurus terhadap permukaan substrat dan sejajar permukaan substrat. Karakterisasi selanjutnya pada penumbuhan lapisan tipis CNT ini yaitu menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR). Pada daya rf 8 dan 10 watt menunjukkan adanya gugus fungsi C=C dan pada daya 20 watt menunjukkan gugus fungsi C-C.ABSTRACTThe study of CNT growth has been done by using silver (Ag) nanocatalyst as a precursor guide on the corning glass 7059 substrate by the use of the evaporation method. Thegrowth were done by varying deposition times for 50, 25, and 14 seconds,then followed by the annealing process at temperature of 400C for 4 hours. The characterization of Ag nanocatalyst morphologywere done by using Scanning Electron Microscope (SEM) and Energy Dispersive Analysis X-ray (EDX). The CNT thin filmsof growth on the Ag nanocatalyst substrate was then deposited by the Hot wire Cell-Very High Frequency Plasma Enhance Chemical Vapour Deposition (HWCVHF- PECVD) method,at deposition temperature of 275C and pressure of 300 mTorr. The rf power was varied from 8 to 20 watts, with deposition time for 60 minutes.The 99.999% methane (CH4) gas was used as Carbon sources. The hydrogen gas (H2) was used to etch the oxide layer formed during the pre-deposition process. The CNTdiamater and length for on the Ag/CG 7059 were 250 to 393 nm and 309 to 376 nm, respectively, for the cluster distribution of particles. Meanwhile, for the tubes particle (CNT) the diameter and length were 125 nm and 1.650 to 2.989 μm, respectively. At the rf power of 8 and 10 watts,the CNTs were vertical and horizontal shape on the substrate surface. The CNTthin films growth were further characterized using Fourier Transform Infra Red (FTIR). The rf power of 8 and 10 watts results showed the C=C and C-C cluster, and C-C cluster at 20 watts.
Metrik Reissner-Nordstr¨om dalam Teori Gravitasi Einstein Canisius Bernard
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.814 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i1.2128

Abstract

IntisariDalam makalah ini akan ditinjau kembali bahwa persamaan medan gravitasi Einstein mempunyai solusi yaitu solusi Reissner-Nordstr¨om dengan menghitung seluruh komponen dari tensor Einstein dan tensor energi momentum dengan adanya interaksi elektromagnetik. Solusi Reissner-Nordstr¨om adalah solusi yang menggambarkan ruang waktu di luar sebuah bola pejal statik bermassa M dan bermuatan listrik Q. Solusi Reissner- Nordstr¨om juga merupakan solusi lubang hitam statik bermuatan listrik dalam teori Einstein-Maxwell.ABSTRACTIn this paper, we review that Reissner-Nordstr¨om metric is the solution of Einstein gravitational field equation. Reissner-Nordstr¨om solution describes spacetime outside a static spherically symmetric charged mass. To solve the field equation, we calculate all the non-zero components of Einstein tensor and energy-momentum tensor of the electromagnetic field of the charged object. One finds that the Reissner-Nordstr¨om metric is also a charged static black hole solution in Einstein-Maxwell theory.
Pemanfaatan Limbah Tempurung Kelapa Muda sebagai Alternatif Material Akustik Susilo Indrawati; S Suyatno
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 3 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.813 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i3.2842

Abstract

Penelitian ini merupakan studi awal untuk meneliti tempurung kelapa khususnya tempurung kelapa muda, karena merupakan limbah yang jarang dimanfaatkan. Tempurung kelapa muda di keringkan dan dipisahkan dari serabutnya, kemudian dibentuk berupa setengah lingkaran dan disusun menjadi panel akustik. Panel akustik tersebut terdiri dari susunan setengah lingkaran dengan diameter 10 cm yang disusun secara cembung, cekung, cembung dengan pemberian lubang, dan cembung pemberian lubang dengan diisi bahan absorber. Pengujian dilakukan dengan mengacu pada ISO 354, pengujian ini terdiri dari penentuan nilai koefisien absorbsi bahan, pola hamburan panel, dan penentuan nilai koefisien hamburan. Tujuan dari penelitian ini selain resonator memiliki nilai estetika mata juga akan memiliki nilai lebih dalam akustik ruang. Akustik ruang yang dimaksud adalah suatu ruang yang memerlukan treatment khusus dalam akustik misalnya ruang studio music, broadcast, tempat ibadah, home taeter, ruang music, dan lain-lain. Dari hasil pengukuran dan perhitungan diperoleh nilai koefisien absorbsi () yang cukup signifikan pada frekuensi 1000 Hz. Untuk panel akustik berupa susunan tempurung cembung memiliki nilai = 0.7, sedangkan tempurung yang terdiri dari susunan cekung memiliki = 0.03. Penambahan panel tempurung kelapa muda yang disusun secara cembung dan cekung dapat menurunkan nilai SPL di atas frekuensi 1500 Hz dan penurunannya sama antara tempurung yang disusun secara cembung dan cekung. Pemberian lubang pada tempurug yang disusun secara cembung menurunkan nilai SPL pada frekuensi 1000 Hz. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian porosi/ lubang pada tempurung yang disusun cembung dan di isi ampas tebu mampu mengurangi SPL pada frekuensi di atas 1000 Hz.ABSTRACTThis research will utilize coco shell as an acoustic tile, specifically resonator so that a coco shell has a better value. Coco shell used will be a young coco shell, since its a rarely utilized waste. The resonator will be testedin regard of its ability to absorb and scatter sound. This research consists of a test to determine the value of the absorption coefficient of the material, the scattering pattern panel, and the determination coefficient scattering. The purpose of this research in addition resonator has aesthetic value currency will also have more value in the acoustic space. Acoustic room means a room that requires special treatment in acoustic music studio room, for example, broadcast, places of worship, home theatre, music chamber, and others. The absorption coefficient for convex shell has greater value than the concaves, especially at a frequency of 1000 Hz and 4000 Hz. Perforate addition in the convex shell makes the scattering pattern smoother. The addition of sugar cane pulp has the same scattering pattern. The scattering coefficient has a negative values exception at a frequency of 500 Hz, especially for acoustic panels are arranged in convex and convex panels that filled by bagasse. When the measurement inan anechoic chamber, the result says that panels made from young coconut shell either arranged convex and concave above can reduce the frequency of 1500 Hz. there is perforation/hole on the composition of convex shell panels capable of lowering the level of pressure above 1000 Hz.
Relokasi Hypocentre Gempa Bumi Dengan Velest (JHD) dan Estimasi Sesar Daerah Sumatra Selatan Irwansyah Ramadhani; Bagus Jaya Santosa
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2148.479 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i2.2744

Abstract

Gempa bumi merupakan fenomena alam yang tidak terduga kehadirannya. Dalam magnitude yang besar dapat menimbulkan bencana lainnya yaitu tsunami yang menyebabkan kerusakan infrastruktrur dan korban jiwa. Manusia tidak dapat memastikan kapan bencana gempabumi terjadi, tetapi dapat memperkirakan zona yang rawan akan gempabumi, daerah yang berdampak kerusakan besar, dan perkiraan-perkiraan mengenai waktu terjadinya gempa berikutnya. Cara untuk mengetahui hal tersebut dengan menentukan lokasi pusat gempa (hypocentre) sesungguhnya, model dan karakteristik (sesar maupun patahan) bawah permukaan bumi. Velest merupakan metode JHD (Join Hypocentre Determination) dengan menggunakan banyak event gempa yang diinversisekaligus (simultan) untuk mendapatkan hypocentre yang sebenarnya. Penentukan model bumi satu dimensi dari velest ini berdasarkan kecepatan gelombang P dan gelombang S. Karakteristik bawah permukaan dilakukan dengan ISOLA yang mampu memberikan gambaran mengenai sesar maupun patahan di suatu daerah. Kedua program tersebut digunakan untuk merelokasi event-event gempa di daerah Sumatra Selatan dan mengetahui karakteristik bumi yang ditentukan melalui momen tensor. Selain dua program tersebut, digunakan algoritmaSTFT dan CWT untuk analisis gelombang P. Hasil penelitian ini didapatkan metode JHD mampu merelokasi hypocetre gempa serta didapatkannya model bumi 1 dimensi dan momen tensor untuk 4 event menyatakanbahwa pola sesar yang terdapat pada daerah laut Sumatera Selatan merupakan dip-slip.ABSTRACTEarthquake is an unpredictable natural phenomena in occurance which has harmfull consequences. In high magnitude, it can cause other disaster i.e. tsunami which result in hard demage infrastructure and loss of population.One can not determine earthquake presence exactly, however can estimate earthquake prone zone, major hard demage zone, and next earthquake presence. They can be estimated through hypocentre determinationand earths model. Velest is an JHD ((Join Hypocentre Determination) based method which applies all events to inverted simultaneously and results true hypocentre of earthquake. In other hand, Velest can determine one dimensional earths model based P and S wave travel time data. Then, earths characteristic can be determined by ISOLA. It is able to provide an imaging of fault in a research area through moment tensor. Both Velestand ISOLA applies in this research. Arrival time of P wave is analized by STFT and CWT algorithm. Then, Velest applies to earthquake events relocation while ISOLA applies to determine earths characteristic (fault) inSouthern Sumatra. This research note that velest is able to determine true hypocentre of earthquake well and one dimensional earth model of South Sumatra. In other hand, moment tensor of 4 events show geometry offault in Souther Sumatra is dip-slip.
Karakteristik Akustik Ruang Sidang Jurusan Fisika FMIPA-ITS sebagai Ruang Konferensi Suyatno Suyatno; Susilo Indrawati
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.48 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i1.2133

Abstract

Nilai parameter akustik yang dibutuhkan sebuah ruang untukruang konferensi adalah kekerasan suara serta kejernihan suara yang diterima oleh masing-masing peserta. Untuk mendapatkan kuantifikasi parameter tersebut, diperlukan pengukuran distribusi parameter akustik meliputi SPL, C80, D50, dan RT. Pengukuran distribusi SPL dilakukan dengan menggunakan sumber suara berupawhite noise dari loudspeakeryang ditempatkan di posisi pimpinan (depan) dan penerima (dalam hal ini mikrofon) di area penonton. Sementara untuk pengukuran RT, C80 dan D50, dilakukan dengan menyediakan sumber suara mantap dengan tingkat 100 dB atau sumber respons impulsdi depan. Sebagai ruang untuk rapat(konferensi), ruang yang memiliki dimensi 10 m x 14 m diharapkan setiap peserta yang hadir akan menerima suara langsung dari sumber. Dari hasil pengukuran, diperoleh nilai parameter akustik ruang memiliki perbedaan nilai SPL antara posisi depan dan belakang mencapai lebih dari 8 dB, sementara untuk nilai parameter waktu dengung 1,0 1,28 s,C80 sebesar 1 4 dB dan D50 sebesar 41 55%. Nilai ini memenuhi prasyarat sebagai ruang konferensi, namun perlu adanya perbaikan terhadap distribusi parameter SPL. Untuk itu perlu adanya perlakuan khusus terhadap distribusi SPL agar menjadi merata. Pada akhirnya, semua peserta akan merasa nyaman saat menghadiri pertemuan atau kegiatan yang dilakukan di ruang tersebut.
Pembuatan Material Ferroelektrik Barium Titanat (BaTiO3) menggunakan Metode Kopresipitasi Ramona Dyah Safitri; Yunita Subarwanti; Agus Supriyanto; Anif Jamaluddin; Yofentina Iriani
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 12, No 3 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.019 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v12i3.1342

Abstract

Sampel Barium titanat (BaTiO3) telah dibuat dengan metode coprecipitation. Sampel disintering pada suhu 900C dengan variasi waktu tahan 2, 3, dan 4 jam. Uji kekristalan dilakukan dengan instrumen X-Ray Diffractometer (XRD). Nilai konstanta dielektrik diperoleh melalui pengujian dengan RCL meter. Berdasarkan analisis hasil perhitungan, parameter kisi BaTiO3 dengan waktu tahan 2 jam adalah a = b = 4,0057 nm, c = 4,0124 nm, parameter kisi untuk waktu tahan 3 jam adalah a = b = 4,0124 nm, c = 4,0532 nm dan parameter kisi untuk waktu tahan 4 jam adalah a = b = 4,0105 nm, c = 4,0642nm. Struktur krital yang didapatkan adalah tetragonal. Ukuran kristal sampel dengan waktu tahan 2 jam, 3 jam dan 4 jam adalah 25,5 nm, 27,2 nm dan 27,3 nm. Pengukuran konstanta dielektrik (K) dilakukan pada rentang frekuensi 1 kHz. Nilai K sampel dengan waktu tahan 2, 3, dan 4 jam adalah 90, 172 dan 184. Semakin lama waktu tahan sintering, konstanta dielektrik yang dihasilkan juga semakin besar sehingga kapasitansi sampel lebih besar.ABSTRACTBarium titanate BaTiO3 samples have been prepared by coprecipitation method. Samples are sintered at 900C with holding time to 2, 3 and 4 hours. Crystallization is test performed with X-Ray Diffractometer (XRD) instrument. Dielectric constant values are obtained by testing with RCL meter. Based on the analizes of calculation results, for holding time 2 hours the lattice parameters of BaTiO3 are a = b = 4.0057 nm, c = 4.0124nm, lattice parameters with holding time 3 hours are a = b = 3.9994 nm; c = 4.0532 nm and lattice parameters 4 hours are a = b = 4,0105nm, c = 4,0642. The crystal structure formed are tetragonal. The size of crytals samples with holding time 2, 3 and 4 hours are 25.5 nm, 27.2 nm and 27,3 nm respectifely. Measurement of dielectric constants is performed in the range of frequency 1kHz. Rated dielectric constant samples with holding time 2, 3 and 4 hours are 90, 172 and 184. The dielectric constant is directly proportional to the time of sintering, therefore capacitance of samples are large.
Pengaruh Ketebalan Lapisan TiO2 terhadap Performasi Dye Sensitized Solar Cells Puspitasari, Nurrisma; Silviyanti, Nurul Amalia; Yudoyono, Gatut; Prajitno, Gontjang; Rubiyanto, Agus; Endarko, E
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.391 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v14i1.3553

Abstract

Dye Sensitized Solar Cell (DSSC) merupakan generasi ketiga dari sel surya. Sel suya jenis ini tersensitisasi zat pewarna. DSSC dibentuk dengan struktur sandwich dimana terdapat lima bagian antara lain : kaca ITO (Indium Tin Oxide) sebagai substrat; TiO2 sebagai bahan semikonduktor; campuran dye (kunyit-manggis-daun alfalfa)  sebagai donor elektron; elektrolit gel sebagai transfer elektron dan active carbon sebagai katalis pada elektroda pembanding. Serbuk TiO2 berukuran nanometer didapatkan melalui sintesis dengan metode kopresipitasi. Dari penelitian yang telahdilakukan, efisiensi DSSC dengan ketebalan lapisan TiO2 berukuran 10 µm lebih besar jika dibandingkan dengan  ketebalan lapisan 20 µm  dan 30 µm. Hasil efisiensi DSSC tersebut yaitu 0.25 % untuk ketebalan lapisan TiO2 berukuran 10 µm , 0.143 % ketebalan lapisan TiO2 berukuran 20 µm, dan 0.195 % untuk ketebalan lapisan TiO2 berukuran 30 µm,
Penentuan Nilai Frekuensi Natural Bangunan UPT Perpustakaan UNS dengan Sensor Accelerometer pada Handphone Android Rio Riantana; D Darsono; Agus Triyono
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 3 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.133 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i3.2838

Abstract

Penentuan nilai frekuensi natural bangunan UPT Perpustakaan UNS dengan sensor accelerometer pada handphone android telah dilakukan. Sensor utama untuk mencatat aktifitas mikrotremor adalah sensor accelerometer pada hanphone android. Pencatatan aktifitas mikrotremor dilakukan di setiap lantai bangunan UPT Perpustakaan UNS dan di permukaan tanah luar bangunan. Dari pencatatan aktifitas mikrotremor, data yang terekam dikirimkan ke server secara telemetri. Data yang tersimpan di server selanjutnya ditampilkan dalam grafik pada web monitoring mikrotremor. Data mikrotremor selanjutnya diolah dengan fungsi FFT untuk menentukan dominan frekuensi. Berdasarkan dominan frekuensi dapat diketahui rasio resonansi tanah dan bangunan UPTPerpustakaan UNS. Hasil perhitungan rasio resonansi didapatkan nilai 69.35 94.48% pada komponen NS dan 70.42-98.61% pada komponen EW dengan status resonansi rendah di setiap lantai bangunan.ABSTRACTDetermination the value of buildings natural frequency of UPT perpustakaan UNS with Accelerometer sensor on an android phone has done. The main sensor for recording micro tremor activity is Accelerometer sensor on the android phone. Microtremor activity recording is done on every building’s floor of UPT Perpustakaan UNS and on the surface of land outside the building. From micro tremor activity recording, the recorded data is sent to the server by telemetry method. The data stored on the server then displayed in the graph on the micro tremor web monitoring. Microtremor data is processed with the FFT function to determine the dominant frequency. From the dominant frequency, we find the ratio of resonance of soil and building of UPT Perpustakaan UNS. From the calculation, the value of resonance ratio is 69.35 - 94.48% in the NS component and 70.42-98.61% in the EW component with low resonance status on each floor of the building.
Identifikasi Akuifer di Sekitar Kawasan Karst Gombong Selatan Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger Sinta Maemuna; D. Darsono; Budi Legowo
Jurnal Fisika dan Aplikasinya Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, LPPM-ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (652.944 KB) | DOI: 10.12962/j24604682.v13i2.2156

Abstract

Karst pada umumnya tersusun dari batuan gamping, biasanya meloloskan air hujan melalui celah-celah batuan tersebut. Hal ini yang mengakibatkan kekurangan air pada saat musim kemarau tiba yang mengakibatkan hilangnya air permukaan. Kami telah melakukan penelitian untuk mengidentifikasi akuifer di sekitar kawasanKarst Gombong Selatan, tepatnya berada di kecamatan Buayan, yang meliputi desa Nogoraji, Jogomulyo, dan Jatiroto, dengan menggunakan metode geolistrik menggunakan konfigurasi schulmberger. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan software IPI2win, kemudian dibuat pemodelan 2D dengan software RockWorks15. Hasil penelitian didapatkan akuifer dangkal dalam kedalam 7,57-23,8 m batuan berupa pasir dan untuk akuifer dalam pada 144-242 m batuan berupa breksi ini berada di T4 (Jogomulyo), akuifer dalam pada 131-223 mbatuan pasir gampingan pada T5 (Nogoraji). Sedangkan pada T1 (Jatiroto), T2 (Jogomulyo), T3 (Jogomulyo) tidak ditemukan keberadaan akuifer karena batuan yang teridentifikasi berupa napal, tufa, napal tufaan, dan lempung karena batuan tersebut termasuk impermeable.ABSTRACTKarst is usually composed from limestone, which often leaks rain water through holes in the limestone. As the result, drought often happens during dry season. We conducted a study to identify aquifer using geo-electric method with Schlumberger configuration, around the Southern Gombong Karst Region in Buayan district, precisely in Nogoraji, Jogomulyo, and Jatiroto village.The obtained data were processed using IPI2win software, and then we made 2D model using RockWorks 15. From this model, we found that a shallow aquifer as sandstone is located at the depth of 7,57-23,8 m, and an aquifer as breccias at the depth of 144-242 m. Both aquifer are located in T4 (Jogomulyo). Additionally, we also found an aquifer as limestone at the depth of 131-223 m, which is located in T5 (Nogoraji). However, we did not found any aquifer in T1 (Jatiroto), T2 (Jogomulyo), and T3 (Jogomulyo), because we only identified marl, tuff, tuffaceous marl and clay layer, which are impermeable.