cover
Contact Name
Teguh Triyono
Contact Email
teknik@unwiku.ac.id
Phone
+6281804888643
Journal Mail Official
teknik@unwiku.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Beji KarangsalamPurwokerto 53152, Banyumas, Jawa Tengah
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Teodolita: Media Komunikasi Ilmiah di Bidang teknik
ISSN : 14111586     EISSN : 27226204     DOI : -
Teodolita adalah jurnal imiah Fakultas Teknik Universitas Wijayakusuma Purwokerto yang merupakan wadah informasi berupa hasil penelitian, studi literatur maupun karya ilmiah terkait. Jurnal Teodolita terbit 2 kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Memuat materi yang membahas tentang ilmu-ilmu teknik seperti sipil, arsitektur, elektro dan informatika. Pembahasan yang diberikan diharapkan dapat menambah wawasan bagi siapa saja yang membacanya. Kontribusi makalah dari berbagai pihak baik di dalam lingkungan kampus maupun di luar lingkungan kampus sangat redaksi harapkan agar dapat memberikan pengetahuan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada
Articles 274 Documents
ANALISIS PENGARUH FREKUENSI GILASAN ALAT PEMADAT TERHADAP KEPADATAN LAPANGAN (STUDY KASUS PEMBANGUNAN KONSTRUKSI ASHPOND DI PLTU TANJUNG JATI B JEPARA) PINGIT BROTO ATMADI; IWAN RUSTENDI; EDDY PURWODIHARDJO; CITRA PRADIPTA HUDOYO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.379

Abstract

ABSTRACT In a saturated state, clay soil is very cohesive. Meanwhile, in dry conditions, it will form a unified mass, which is hard and difficult to change, so that a force is needed to separate the microscopic grains. Due to these sensitive characteristics, road buildings that are located on clay soil are often damaged. This study aims to determine how much influence the number of passes on the fixed compaction effort by using a compactor Smooth Wheel Roller or Compact Vibro with a capacity of 10 tons on changes in water content to the bearing strength of the subgrade and to determine the optimum moisture content and maximum dry weight at a compaction process. In this experiment, the researchers conducted 4 (four) times testing, including 3 (three) tests in the laboratory and 1 (one) time in the field. From the research results, it was found that to achieve a sand cone value greater than 95%, the minimum number of presses for the compactor was 8 times. This is evident in the results of the sand cone experiment for soil sample 1 with 8 times of ground, the resulting value is 97.23%, for soil sample number 2 the number produced in the sand cone experiment for 8 times of ground is 98.59% while for soil sample No. 3 is 96.53%. From these three experiments it could be proven that for 8 times the value of all the sand cone yields was greater than 95%.Keyword : soil density, sand cone,  ashpond ABSTRAKPada keadaan jenuh air (saturated), tanah lempung bersifat sangat kohesif. Sedangkan dalam kondisi kering akan membentuk massa yang bersatu, bersifat keras dan sukar untuk diubah-ubah sehingga diperlukan gaya untuk memisahkan butiran mikroskopisnya. Karena sifat-sifat yang sensitive tersebut maka bangunan jalan yang terletak di atas tanah lempung sering mengalami kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh jumlah lintasan terhadap usaha pemadatan tetap dengan menggunakan alat pemadat Smooth Wheel Roller atau Compact Vibro dengan kapasitas 10 Ton pada perubahan kandungan air terhadap kuat dukung tanah dasar dan untuk mengetahui kadar air optimum dan berat isi kering maksimum pada suatu proses pemadatan. Dalam percobaan ini peneliti melakukan 4 (empat) kali pengujian yang antara lain 3 (tiga) kali pengujian di laboratorium dan 1 (satu) kali pengujian di lapangan. Dari hasil penelitian didapat untuk mencapai nilai sand cone lebih besar dari 95% maka jumlah gilasan alat pemadat minimal adalah 8 kali gilasan. Hal ini terbukti pada hasil percobaan sand cone untuk tanah sampel 1 dengan jumlah gilasan 8 kali gilasan maka nilai yang dihasilkan adalah 97,23% , untuk sampel tanah no 2 angka yang dihasilkan pada percobaan sand cone untuk 8 kali gilasan adalah 98,59 % sedangkan untuk sampel tanah no 3 adalah 96,53% . dari ketiga percobaan ini bisa dibuktikan bahwa untuk 8 kali gilasan nilai semua hasil sand cone lebih besar dari 95 %.Kata-kata Kunci : kepadatan tanah, sand cone,  ashpond 
PENERAPAN MATERIAL LANTAI BERPENGARUH TERHADAP KALOR RUANG GEREJA KATOLIK DI PURBALINGGA YOHANES WAHYU YUDONO; RENI SULISTYAWATI
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.374

Abstract

ABSTRACT The nature of heat moves from a higher temperature to a lower temperature. This phenomenon is the theme of observation in this paper. Meanwhile, there is a standard that is felt to provide a sense of comfort, namely with a temperature limit ranging from 21 0C with a humidity of 40% to 70%. Thus, it is appropriate for every building design to pay attention to the elements of the building elements related to the properties of the heat / heat conductivity.The floor is a building element that can be treated as an insulating or protective material against hot and cold outside air. In this case the floor can be seen according to the laws of physics as well as the roof and wall materials. For this reason, in this paper, we try to explore more deeply the floor applied to the Catholic church in Purbalingga in terms of its heat conduction aspect. From the analysis based on existing data on the Catholic church in Purbalingga, the findings of the heat transfer coefficient on the church floor are 5.747 kcal / M2.jam0C. meaning that the value of the heat transfer coefficient (K) of floor construction is greater than the requirements, namely 1.75 kcal / M2.jam0C, thus the floor construction applied to the church does not meet the requirements for the benefit of heat resistance capacity.Key words: floor construction, conductivity, convection, emission, floor material heat conductivity ABSTRAKSifat dasar kalor berpindah dari suhu benda yang lebih tinggi menuju suhu benda yang lebih rendah. Fenomena inilah yang menjadi tema pengamatan pada tulisan ini. Sementara ada suatu standart yang dirasa memberi rasa nyaman yaitu dengan batasan suhu berkisar antara 21 0C dengan kelembaban 40% hingga 70%. Dengan demikian, selayaknya dalam setiap perancangan bangunan harus memperhatikan elemen elemen bangunan yang berhubungan dengan sifat daya penghantaran panas/kalor tersebut. Lantai salah satu elemen bangunan yang dapat diperlakukan sebagai material isolasi atau pelindung terhadap panas dan dingin udara luar. Dalam hal ini lantai dapat dilihat menurut hukum hukum fisika seperti halnya pada material atap dan dinding. Untuk itu, dalam tulisan ini mencoba untuk mengupas lebih dalam mengenai lantai yang diterapkan pada gereja Katholik di Purbalingga yang ditinjau dari aspek hantaran kalornya. Dari hasil analisa yang mendasarkan pada data yang ada pada gereja Katholik di Purbalingga diperoleh temuan nilai koefisien perpindahan kalor lantai gereja sebesar  5,747 kcal/M2.jam0C. artinya nilai koefisien perpindahan kalor (K) konstruksi lantai lebih besar dari persyaratan yaitu 1,75 kcal/M2.jam0C, dengan demikian konstruksi lantai yang diterapkan pada gereja tidak memenuhi persyaratan bagi kepentingan kemampuan tahanan kalor.Kata-kata Kunci :  konstruksi lantai, hantaran, konveksi, pancaran, daya hantar panas material lantai
ANALISIS INTENSITAS PENCAHAYAAN RUANGAN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT ISLAM PURWOKERTO HANGGITA PERMANA; DODY WAHJUDI; PRIYONO YULIANTO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 1 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i1.398

Abstract

ABSTRACT Lighting is one of the factors of the physical environment in the hospital. Purwokerto Islamic Hospital is a public health service facility and infrastructure located in the Purwokerto area, Banyumas Regency. This hospital is a type C hospital. The aim of the study was to determine the intensity of the lighting in the inpatient room of the Purwokerto Islamic Hospital in 2020. Data were collected by means of observation, interviews, and measurements. The results of data collection were processed by quantitative metshods. The data were analyzed univariately by analyzing the data in the table. The results of this study were that there were 3 inpatient rooms that were measured, namely: As Salam Room, As Sakinah Room, and Ar Rahman Room. The measurement results are adjusted to PERMENKES No. 7 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. After the measurement of lighting intensity was carried out, it was found that 11 types of rooms in 3 inpatient rooms did not meet the standard of lux / lighting strength, including because of the lack of light intensity levels produced by the lights to illuminate each area of the room. Measurement of lighting intensity in 3 inpatient rooms at the Islamic Hospital of Purwokerto has a building area of 1598.65 m2 found 50.3% of the building area, namely 802.69 m2 which did not meet the standards. Suggestions that can be done should increase the amount of lamp power or increase the number of lamps by calculating the lighting intensity formula which results in an increase in power consumption by 68%, namely 1884 W(watt) from 2780 W to 4664 W to produce lighting intensity in accordance with the PERMENKES No. 7 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Keywords: Light intensity, Lamp, dan Lux. ABSTRAK Pencahayaan merupakan salah satu faktor lingkungan fisik yang ada di rumah sakit. Rumah Sakit Islam Purwokerto merupakan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan masyarakat yang berada di wilayah Purwokerto, Kabupaten Banyumas. Rumah sakit ini termasuk rumah sakit tipe C. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui intensitas pencahayaan di ruangan rawat inap Rumah Sakit Islam Purwokerto tahun 2020. Data dikumpulkan dengan cara observasi, wawancara, dan pengukuran. Hasil pengumpulan data diolah dengan metode kuantitatif. Data dianalisis secara univariat dengan cara menganalisis data dalam tabel. Penelitian ini didapatkan hasil yaitu ada 3 ruangan rawat inap yang dilakukan pengukuran, yaitu : Ruangan As Salam, Ruangan As Sakinah, dan Ruangan Ar Rahman. Hasil pengukuran disesuaikan dengan PERMENKES No. 7 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Setelah dilaksanakan pengukuran intensitas pencahayaan ditemukan 11 jenis ruangan di 3 ruangan ruangan rawat inap yang tidak memenuhi standar lux/ kuat pencahayaan, diantaranya karena kurangnya tingkat intensitas cahaya yang dihasilkan lampu untuk menerangi di setiap luas ruangan. Pengukuran intensitas pencahayaan pada 3 ruangan rawat inap di Rumah Sakit Islam Purwokerto memiliki luas bangunan 1598,65 m2 ditemukan 50,3% luas bangunan yaitu 802,69 m2 yang tidak memenuhi standar. Saran yang dapat dilakukan sebaiknya menambah jumlah daya lampu atau menambah jumlah lampu dengan penghitungan rumus intensitas pencahayaan yang mengakibatkan kenaikan konsumsi daya sebesar 68% yaitu 1884 W(watt) dari 2780 W menjadi 4664 W untuk menghasilkan intensitas pencahayaan yang sesuai dengan standar PERMENKES No.7 Tahun 2019 Tentang Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit. Kata kunci : Intensitas pencahayaan, Lampu, dan Lux.
PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG PRIORITAS KEBUTUHAN FISIK TROTOAR DI KOTA PURWOKERTO KABUPATEN BANYUMAS DWI ISTININGSIH; EDDY POERWODIHARDJO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.369

Abstract

ABSTRACTThe sidewalk area functions to accommodate all pedestrian activities and sidewalk furniture paths. The pedestrian in question is everyone crossing the road, in this case the sidewalk, a sidewalk lane with furniture lanes sharing space with the pedestrian path. Street furniture path as a place to place various elements of street furniture. Both are needed by pedestrians to move comfortably. The fact is that the use of sidewalks is not optimal, or in other words, the public's interest in walking on the sidewalk is still low. This fact encourages researchers to make further studies on sidewalks that aim to find people's perceptions of the priority of the physical needs of sidewalks that are desired by the community. The results of the analysis and discussion are grouped into 3 (three), namely the main priority desired by the footpath is the physical condition of the sidewalk wide enough to intersect, namely 1.5 m. roads and equipped with shade trees. The third priority is neat and clean sidewalks and not obstructed by electricity poles, telephone and billboard poles. The author hopes that future sidewalk planning will be prioritized according to our research results, so that the sidewalk is more comfortable for walking. Keywords: Priority, sidewalks, pedestriansABSTRAKArea trotoar berfungsi menampung segala aktivitas pejalan kaki dan jalur perabot trotoar. Pejalan kaki yang dimaksud adalah semua orang yang melintas di lintasan jalan dalam hal ini adalah trotoar Jalur trotoar dengan jalur perabot berbagi tempat dengan jalur pejalan kaki. Jalur perabot jalan sebagai tempat untuk meletakkan berbagai elemen perabot jalan, seperti tempat duduk, rambu-rambu lalu lintas. Keduanya dibutuhkan oleh pejalan kaki agar beraktivitas dengan nyaman. Fakta yang terjadi adalah pemanfaatan trotoar belum maksimal, atau dengan kata lain minat masyarakat untuk berjalan kaki di trotoar masih rendah. Kenyataan tersebut mendorong peneliti untuk membuat kajian lanjutan tentang trotoar yang bertujuan mencari persepsi masyarakat terhadap prioritas kebutuhan fisik trotoar yang diingnkan oleh masyarakat. Hasil dari analisa dan pembahasan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) yaitu adalah prioritas utama yang dikehendaki oleh pejalan kaki adalah kondisi fisik trotoar yang lebarnya cukup untuk bersimpangan yaitu 1,5 m. Prioritas kedua adalah kondisi trotoar yang rata, tidak licin dan memiliki batas yang jelas dengan jalan serta dilengkapi pohon peneduh. Prioritas ketiga adalah trotoar rapi dan bersih serta tidak terhalang oleh tiang-tiang listrik, telpon dan tiang papan reklame. Penulis berharap perencanaan trotoar yang akan datang diprioritaskan sesuai hasil penelitian kami, sehingga trotoar lebih nyaman untuk berjalan kaki. Kata kunci : Prioritas, trotoar, pejalan kaki
SISTEM PRESENSI PENGENALAN WAJAH DENGAN METODE PRINCIPAL COMPONENT ANALYSIS (PCA) EKO SUDARYANTO; ASEP SURYANTO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 21, No 2 (2020): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v21i2.378

Abstract

ABSTRAKPada kegiatan belajar mengajar diadakan presensi. Presensi ini digunakan selain pihak pelajar juga digunakan oleh instanasi yang mengadakan kegiatan belajar mengajar. Dalam mengikuti perkuliahan kehadiran mahasiswa akan dicatat dalam presensi kehadiran.Algoritma Principal Component Analysis (PCA) yaitu salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengolah citra wajah seseorang sehingga secara otomatis sistem akan mengenali wajah seseorang melalui ciri-ciri utamanya seperti mata, hidung, bibir, alis sebagai identitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang sistem presensi pengenalan wajah dengan menggunakan metode PCA dan mengetahui tingkat akurasi dari sistem presensi pengenalan wajah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode waterfall. Hasil penelitian iniberhasil merancang aplikasi presensi mahasiswa berbasis pengenalan wajah dengan menerapkan Algoritma Principal Component Analysis (PCA). Tingkat keberhasilan pengenalan wajah dengan rata-rata nilai mencapai 88%. Untuk nilai keberhasilan pengenalan wajah tertinggi yaitu 90% sedangkan terendah yaitu 75%.Kata Kunci : presensi, pengenalan wajah, algoritma PCA. ABSTRACTIn teaching and learning activities, attendance is held. This presence is used in addition to the students as well as by institutions that hold teaching and learning activities. In attending lectures, student attendance will be recorded in attendance. Principal Component Analysis (PCA) algorithm is a method that can be used to process a person's face image so that the system will automatically recognize a person's face through its main characteristics such as eyes, nose, lips, eyebrows as identity. The purpose of this study was to design a facial recognition presence system using the PCA method and to determine the accuracy level of the facial recognition presence system. The research method used is the waterfall method. The results of this study succeeded in designing a face recognition-based student presence application by applying the Principal Component Analysis (PCA) Algorithm. The success rate of face recognition with an average score of 88%. The highest success rate for facial recognition is 90% while the lowest is 75%.Keywords: presence, face recognition, PCA algorithm.
SISTEM PAKAR PENYAKIT PADA TANAMAN KOPI BERBASIS ANDROID MENGGUNAKAN METODE FORWARD CHAINING EKO SUDARYANTO; ASEP SURYANTO; TRI WATININGSIH
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 2 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i2.422

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak yang signifikan ke dalam berbagai bidang tidak hanya di bidang komputer tetapi juga bidang di luar ilmu komputer. Bidang yang juga tersentuh oleh teknologi komputer adalah bidang perkebunan. Kopi merupakan komoditas perkebunan yang memiliki peranan yang penting bagi perekonomian di Indonesia.Adanya penyakit yang menyerang pada tanaman kopi mengakibatkan menurunnya kualitas dan rendahnya tingkat produktifitas pada tanaman kopi.Penanganan penyakit pada tanaman kopi tidak tertangani dengan baik karena kurangnya informasi yang diketahui petani tentang penyakit kopi. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis membuat aplikasi Sistem Pakar Penyakit Pada Tanaman Kopi Berbasis Android menggunakan Metode Forward Chaining. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah wawancara, studi pustaka dan observasi. Dari hasil penelitian berhasil dibuat aplikasi sistem pakar berbasis android dengan tujuan untuk mendiagnosa penyakit pada tanaman kopi menggunakan metode forward chaining dan memberikan keluaran berupa penyakit tanaman kopi beserta cara penanganan penyakit tanaman kopi.Aplikasi sistem pakar dapat membantu para petani kopi dan orang awam dalam mendiagnosa penyakit tanaman kopi dan sebagai pengganti pakar dalam mendiagnosis penyakit pada tanaman kopi. Kata Kunci : Sistem Pakar, Penyakit, Tanaman Kopi, Forward Chaining, Android
STUDI KETAHANAN BETON GEOPOLIMER BERBASIS FLY ASH TERHADAP ASAM SULFAT REMIGILDUS CORNELIS; IWAN RUSTENDI
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 2 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i2.427

Abstract

Abstrak Paper ini mengkaji durabilitas beton geopolimer berbasis fly ash. Durabilitas beton geopolimer yang dikaji adalah yang berkaitan dengan ketahanan terhadap lingkungan yang bersifat asam dan lingkungan yang sulfat. Hal ini karena sebagian struktur beton berada pada lingkungan tersebut. Dengan mengetahui perilaku material tersebut, maka dapat diperoleh desain yang lebih aman dan ekonomis. Dari hasil penelitian terungkap bahwa beton geopolimer memiliki kinerja yang lebih baik dibanding beton OPC dan mampu bertahan dalam lingkungan yang lebih agresif. Kata kunci: Durabilitas, Mortar, Beton, Geopolymer, Fly-Ash.
PENERAPAN METODE FELLENIUS PADA TANAH LEMPUNG KELANAUAN ANORGANIK (Studi Kasus di Desa Cirahab) ARY SISMIANI; IWAN RUSTENDI
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 2 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i2.423

Abstract

Abstrak Tanah Lempung kelanauan anorganik dengan klasifikasi CL adalah tanah lempung yang ada di desa Cirahab. Sebagai desa dengan kondisi rawan gerakan tanah, maka perlu dikaji tentang kemungkinan terjadinya longsor. Penyebab utama longsor atau keruntuhan lereng adalah menurunnya kuat geser pada bidang longsor atau meningkatnya tegangan geser. Metode Fellenius adalah metode yang dipakai utntuk menganalisis kestabilan lereng yaitu untuk menentukan faktor aman dari bidang longsor yang potensial. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan di desa Cirahab didapat nilai Faktor Keamanan yang bervariasi dengan tiga kondisi kadar air yaitu Fk = 1.3 ; Fk = 1,19 dan Fk = 0,95 . Pada kondisi ketiga, nilai faktor keamanan berada dalam ambang batas aman, sehingga kondisi lereng yang aman tersebut harus dipertahankan. Kata kunci : Tanah Lempung Kelanauan, Metode Felenius, Faktor Aman
PERENCANAAN DAN PEMENUHAN ENERGI LISTRIK DI KOTA SALATIGA ISRA' DARMAWAN; KHOLISTIANINGSIH KHOLISTIANINGSIH
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 2 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i2.428

Abstract

Abstrak Kebutuhan energi listrik berkembang dengan pesat seiring dengan perkembangan teknologi di indonesia. Kenaikan yang signifikan terjadi pada setiap tahunnya disebabkan oleh adanya factor ekonomi dan bertambahnya populasi penduduk. Oleh karena itu, dibutuhkan perencanaan pemenuhan kebutuhan listrik dalam jangka waktu beberapa tahun kedepan untuk mengantisispasi tidak adanya ketersedian energi listrik. Tugas penelitian ini dibuat untuk mengetahui kebutuhan serta stok energi listrik yang terdapat pada tiga tahun terakhir yakni tahun 2015 sampai dengan 2017. Sebagai proses proyeksi penelitian ini perangkat lunak yang digunakan adalah LEAP (Long-range Energi Alternative Planning). Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah metode end use, metode end use adalah perhitungan secara rinci tenaga listrik untuk setiap pelanggan yang dihitung berdasarkan data dan analisa penggunaan akhir pada setiap sector pemakai energi listrik. Sasaran yang akan diproyeksikan adalah Jumlah pelanggan energi listrik, dan konsumsi (KWh) energi listrik di kota salatiga yang beberapa tahun terakhir ini mengalami kenaikan yang lumayan stabil. Pada tahun 2015 terdapat 67.938,00 pengguna energi listrik dengan jumlah 36.135.734,00 KWh cenderung lebih sedikit dibandingkan dengan pada tahun 2016 dengan 107.822.461,00KWh dan 70.828,00 pengguna. Dan pada 2017 memiliki tingkat kenaikan yang tinggi dengan nilai pengguna baru sebanyak 73.969,00 dan KWh sebesar 126.934.190,00. Kata Kunci: kebutuhan, pengguna, listrik.
DEBIT ALIRAN MAKSIMUM SALURAN DRAINASE DI WILAYAH PERMUKIMAN RW.8 DESA LANGENHARJO, SUKOHARJO ISMADI ISMADI; ABITO BAMBAN YUUWONO
Teodolita: Media Komunkasi Ilmiah di Bidang Teknik Vol 22, No 2 (2021): Teodolita : Media Komunikasi Ilmiah Di Bidang Teknik
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Wijayakusuma Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53810/jt.v22i2.419

Abstract

Abstrak Wilayah RW.8 Langenharjo, Grogol, Sukoharjo merupakan area yang selalu tergenang banjir di setiap musim hujan tiba. Penyebab pasti terjadinya genangan belum diketahui karena belum pernah dilakukan penelitian secara ilmiah mengenai ini. Untuk itu perlu kiranya saat ini dilakukan langkah awal untuk mengetahui kondisi hidrologis yang terjadi di area ini. Permasalahannya adalah seberapa besar debit aliran maksimum yang ditimbulkan oleh hujan di area ini dan harus dibuang keluar? Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui besaran debit aliran maksimum oleh hujan dengan periode ulang 1,01 tahun dan periode ulang 2 tahun yang nantinya diharapkan bisa menjadi bekal untuk penyelidikan penyebab terjadinya genangan dan perencanaan penanggulangan banjir selanjutnya. Debit aliran maksimum periode ulang 1,01 tahun bisa digunakan untuk mengevaluasi kapasitas saluran yang ada dan debit aliran maksimum periode ulang 2 tahun bisa untuk merencanakan kapasitas pompa yang dibutuhkan apabila dilaksanakan pompanisasi. Metode penelitian menggunakan metode Rasional. Hasil penelitian menemukan besaran debit aliran maksimum untuk periode ulang 1,01 tahun (Q1,01) sebesar 0.68 m3/det dan untuk periode ulang 2 tahun (Q2) sebesar 0.95 m3/det. Kata kunci: Intensitas hujan, luas area tangkapan. debit aliran.