cover
Contact Name
Wakhidah Kurniawati
Contact Email
ruang@live.undip.ac.id
Phone
+6224-7460054
Journal Mail Official
ruang@live.undip.ac.id
Editorial Address
Gedung A lantai 3, Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, Jl. Prof Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, 50275
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Ruang
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 18583881     EISSN : 23560088     DOI : 10.14710/ruang
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 185 Documents
Pengembangan Konsep Wisata Apung Kampung Nelayan Pesisir Balikpapan Novia Sari Ristianti
Ruang Vol 1, No 1 (2015): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.743 KB) | DOI: 10.14710/ruang.1.1.31-40

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi konsep penataan kampung nelayan di pesisir Balikpapan dengan menggunakan konsep wisata apung. Permukiman kampung nelayan yang berada di sekitar destinasi pariwisata yang mempunyai isu lingkungan dengan ketersedian prasarana dan sarana umum yang belum memadai dan lingkungan perumahan yang mempunya nilai jual wisata. Selain itu, dengan adanya Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Balikpapan tahun 2012-2032 yang telah menyiapkan ruang investasi baru untuk kepentingan ekonomi berupa Kawasan Coastal Road Kota Balikpapan maka perlu adanya penataan permukiman-permukiman kumuh nelayan di sepanjang pesisir Kota Balikpapan. Oleh karena itu, perlu adanya konsep penataan permukiman kumuh nelayan di sepanjang pesisir Kota Balikpapan dalam mendukung mewujudkan coastal road. Konsep tersebut mengarahkan pada penataan kegiatan permukiman yang bersifat berkelanjutan baik dari segi ekonomi, lingkungan maupun sosial masyarakat pesisir melalui perwujudan SMART ECO-VILLAGE. Konsep ini mengusung asas keberlanjutan dari segi ekonomi, lingkungan dan sosial namun tetap mengadopsi budaya dan adat masyarakat nelayan yang kemudian dikemas dalam penataan permukiman melalui konsep pengembangan desa wisata. 
Peran Serta Masyarakat Dalam Perancangan Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna di Kota Barabai Ferozi Faisal
Ruang Vol 2, No 1 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.058 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.1.21-30

Abstract

Barabai merupakan salah satu kota hasil karya Arsitektur Kolonial Hindia Belanda di Indonesia. Keberadaan karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Kota Barabai pernah menjadi pusat kegiatan Kolonial dimasanya dan menjadi bagian penting dari sejarah Kolonial di Indonesia. Salah satu sisa peninggalan karya Arsitektur Kolonial itu adalah Alun-Alun Barabai yang sekarang berubah nama menjadi Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna Barabai. Pasca jatuhnya rezin Orde Baru, Partisipasi Masyarakat menjadi suatu harapan bagi sebuah pemerintahan yang lebih pro kepada masyarakat. Demikian juga dalam Perancangan Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna Barabai, masyarakat juga dilibatkan dalam prosesnya. Namun ternyata pelibatan masyarakat tersebut belum sesuai dengan harapan sehingga perlu di lakukan penelitian apakah Kebijakan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai tengah sudah memberi ruang dan wadah bagi masyarakat untuk berperan serta dalam Perancangan Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna Barabai. Tujuan utama yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui keterlibatan peran serta masyarakat secara nyata di lapangan serta mengetahui kebijakan pemerintah dalam memberi ruang dan wadah untuk masyarakat berperan serta dalam Perancangan Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna di Kota Barabai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Data penelitian diperoleh dengan teknik purposive sampling (pengambilan sampel bertujuan) yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang didasarkan dengan pertimbangan tertentu. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan kajian literatur. Dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan diketahui bahwa dalam kebijakannya Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah sudah memberi ruang untuk masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan pembangunan. Salah satunya adalah dalam perancangan Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna Barabai. Namun ruang tersebut belum maksimal dimanfaat dalam pelaksanaannya. Dalam kebijakannya Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Tengah juga belum memberi wadah untuk masyarakat berpartisipasi terutama dalam proses Perancangan Ruang Terbuka Hijau Dwi Warna Barabai.
Kajian Kebutuhan Transportasi dalam Mendukung Pariwisata Kota Salatiga Novia Sari Ristianti
Ruang Vol 2, No 2 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.768 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.2.601-610

Abstract

.
Kajian Kesesuaian Fungsi Taman Duta Harapan Sebagai Ruang Terbuka Publik Kota Bekasi Satrio Mukti Wibowo; Nurini Nurini
Ruang Vol 4, No 1 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (546.323 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.1.%p

Abstract

Public open space is one of the life supporting elements within certain areas. The existence of public open space in the form of urban parks or other related shapes might be featured with some important function for the surrounding community which acted as a space for activity, recreation, and human interaction. Along with regional development progression, the functional conformity of a park as a public open space may decrease and it might also affect Taman Duta Harapan in Bekasi. This may occur as a consequence of Government's lack of sustainable maintenance in all aspects. Therefore, this study aims to determine the suitability of urban park functions as public open space in Taman Duta Harapan Bekasi by considering local people's perception towards ecological, social, economic, and aesthetic function. Quantitative and qualitative methods with descriptive approach will be applied in this research, given further assistance by the Index of Qualitative Variation (IQV) analysis tool. This research conducts 4 variables in which consists of 17 indicators, hence the results found that there are 10 unqualified items that cannot be used to measure the conformity percentages. Seven qualified indicators are adequate cool air, park shades, flood protections, sports venues, community activities, street vendors, and accessible way to the park. Those seven qualified indicators could be used to measure the compatibility percentage of Taman Duta Harapan functions, and the result stated that the final conformity percentages were counted around 41.1% which means that Taman Duta Harapan has not qualified yet as one of the public open space in Bekasi City.
Efektivitas Taman Kota 1 BSD Sebagai Ruang Terbuka Hijau Publik Di Kawasan Perkotaan BSD City, Kota Tangerang Selatan Wildan Fadhlillah Ardi; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 3, No 1 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.555 KB) | DOI: 10.14710/ruang.3.1.%p

Abstract

City Park 1 BSD is open spaces seeded owned by urban area BSD city and also south tangerang to realize the smart city concept through smart environtment aspect.But the number of visitors has exceeded capacity city parks, physical condition are unmaintained, and loss of function a means to educate on city park has been a problem that causes City Park 1 BSD to be less effective.This research used the quantitative descriptive with the help of Likert Scale on the analysis to get score of effectiveness by partial and overall Results from this study is the value of the effectiveness of City Parks 1 BSD that viewed as a partial, characteristic of visitors criteria, characteristic of physical condition criteria, criteria function, the public nature open space, and criteria management  areeffective.The total value of the effectiveness of city parks 1 bsd as green space public in urban areas BSD City is quite effective with value 71,712. Decent condition effective the does not mean that all indicators used in analysis is in good condition but indicators, had some a problem so that the indicators has been available and walks but it is not maximal.
Sense of Place Masyarakat Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan Kota Semarang Annisa Amellia Purwanto; Nurini Nurini
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.568 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.4.%p

Abstract

Pembangunan modern di Kota Semarang menjadi salah satu ancaman terhadap eksistensi kampung-kampung bersejarah kota, seperti hilangnya Kampung Sekayu karena pembangunan Paragon Mall dan hilangnya Kampung Basahan karena pembangunan Hotel Gumaya Tower. Sama halnya dengan kampung bersejarah lainnya, Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan juga terancam eksistensinya sebagai aset sejarah perkotaan karena mengalami perubahan fisik dan non fisik. Tahap pertama dalam upaya pelestarian adalah dengan mengkaji Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan menggunakan teori Sense of Place untuk mengetahui keterikatan masyarakat terhadap Kampung Kulitan dan Kampung Gandekan yang nantinya melalui Sense of Place masyarakat tersebut dapat diketahui apakah kedua kampung bersejarah di Kota Semarang ini masih layak untuk dikonservasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dan pengumpulan data melalui kuesioner. Hasil penelitian didapatkan bahwa sebagian besar masyarakat Kampung Kulitan memiliki kedalaman Sense of Place terikat sedangkan di Kampung Gandekan mayoritas memiliki kedalaman Sense of Place cukup terikat. Tingkat Sense of Place sebagian besar masyarakat di kedua Kampung berada pada level 3. 
Peran Perempuan Dalam Strategi Penanggulangan Banjir Di Kelurahan Sampangan Dan Bendan Dhuwur Semarang Landung Esariti
Ruang Vol 3, No 2 (2017): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ruang.3.2.181-187

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman yang dilakukan penulis dalam kegiatan pendampingan Building Resilience through the Integration of Gender and Empowerment (BRIGE). Program ini didanai oleh MERCYCORPS dan dilaksanakan secara serial di 6 kelurahan di Kota Semarang, dalam waktu 1 Oktober – 13 November 2016. Kelurahan Sampangan dan Bendan Dhuwur merupakan salah dua kelurahan yang didapati mempunyai karakteristik yang unik untuk dipelajari terkait dengan peran perempuan dalam strategi penanggulangan banjir. Analisis gender digunakan  sebagai metode analisis, yang meliputi  (a) bagaimana tanggung jawab dan kewajiban yang diemban, (b) akses terhadap sumber daya, (c) proses pengambilan keputusan, (d) mobilitas waktu, (e)norma sosial dan budaya yang dianut, (f) institusi dan kebijakan yang berlaku.Berdasarkan hasil pengamatan, ditemukenali ada 2 jenis pola peran perempuan terkait dengan perannya dan kedudukannya dalam keluarga inti. Pola pertama berhubungan dengan  perannya sebagai agen penguatan kapasitas kelompok/organisasi perempuan.  Pola kedua terkait pada aset individu yang mendominasi dasar pengambilan keputusan serta akses terhadap sumber daya. Disamping itu, diketahui pula bahwa terjadinya perbedaan pola peran perempuan juga terkait dengan jenis hubungan sosial yang terjadi di masyarakat. Tingkat hubungan kekeluargaan di Kelurahan Bendan Dhuwur terbukti cenderung lebih tidak akrab/guyub dibandingkan dengan Kelurahan Sampangan.
Pengaruh Kebijakan Pemerintah di Sektor Batik Terhadap Kesejahteraan Pelaku Industri Batik di Kota Pekalongan Ricko Ardhian Hermanto; Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 2, No 4 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.985 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.4.225-232

Abstract

Pengembangan sektor industri batik menjadi salah satu fokus kebijakan pemerintah Kota Pekalongan dengan melihat besarnya potensi batik bagi perekonomian Kota Pekalongan. Industri batik di Kota Pekalongan sangat potensial untuk dikembangkan dimana total 70% produksi batik nasional dilakukan di Kota Pekalongan, batik merupakan kekuatan besar bagi perekonomian Kota Pekalongan, batik telah memberikan multiplier efek terhadap aktivitas ekonomi di Kota Pekalongan khususnya perdagangan, perindustrian, jasa, dan pariwisata. Aktivitas ekonomi tersebut merupakan sektor yang menjadi penyokong ekonomi Kota Pekalongan dan memiliki andil besar dalam kondisi kesejahteraan masyarakat Kota Pekalongan terutama para pelaku industri batik. Pengembangan sektor batik juga sangat didukung oleh city branding Kota Pekalongan sebagai World City of Batik dan berbagai event baik yang berskala nasional maupun internasional. Ditambah dengan keberadaan museum batik, pasar grosir batik dan ratusan outlet batik sebagai sarana pemasaran pendukung industri batik di Kota Pekalongan serta banyak industri batik juga tersebar di kampung-kampung batik di penjuru Kota Pekalongan dengan berbagai skala.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis bagaimana pengaruh kebijakan pemerintah di sektor batik terhadap kesejahteraan pelaku industri batik di Kota Pekalongan, metode yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik analisis deskriftif berdasarkan hasil skoring dan frekuensi. Dari hasil analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang dilaksanakan oleh pemerintah Kota Pekalongan di sektor batik dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan sektor batik yang semakin meningkat dan juga dapat mempengaruhi kondisi kesejahteraan pelaku industri batik yang sebagian besar berada pada tingkat kesejahteraan sedang hingga tinggi.
Sejarah Perkembangan Struktur Ruang Kota Lasem Rina Kurniati
Ruang Vol 2, No 3 (2016): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.547 KB) | DOI: 10.14710/ruang.2.3.721-730

Abstract

Sejarah pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia lebih banyak dimulai dari wilayah pantai. Salah satunya wilayah pesisir Kabupaten Rembang lebih tepatnya di wilayah Kecamatan Lasem yang pada abad ke XVI memiliki daerah pelabuhan yang sering disinggahi oleh kapal-kapal pedagang asing yang bertujuan untuk berdagang di wilayah tanah Jawa. Beberapa kapal yang singgah di pelabuhan Lasem selain berasal dari daerah kepulauan nusantara juga banyak yang berasal dari wilayah mancanegara diantaranya berasal dari negeri Cina. Hal itu dibuktikan dengan adanya situs-situs peninggalan sejarah berupa kawasan pemukiman Cina yang tumbuh berdampingan dengan pemukiman masyarakat setempat. Kondisi ini secara fisik menunjukkan suatu pola struktur ruang dan karakter pemukiman masyarakat yang sangat spesifik, unik dan khas, yang selain dibentuk oleh konsep pertumbuhan pantura di wilayah timur Jawa Tengah, juga dibentuk oleh pola sosial-budaya masyarakat setempat. Lasem terdiri dari dua kawasan yaitu kawasan pusat kota yang cenderung memiliki bentuk kawasan gurita/bintang (octopus/ star shaped cities) dan kawasan pesisir yang cenderung memiliki bentuk kawasan kipas (fan shaped cities). Kemudian tekstur figure ground sebagai sebuah unit perkotaan tergolong pada tipe grid kawasan. Pola jaringan jalan utama memiliki bentuk linier dan terpadu dengan sistem jalan lingkungan yang berpola grid. Dari tingkatan hirarkinya pemanfaatan ruang untuk aktivitas perdagangan dan jasa di sekitar Jalan Sultan Agung dan Jalan Untung Suropati menempati hirarki tertinggi. Kota Lasem memiliki pola struktur ruang konsentris yang terpadu dengan linier.
Alasan Untuk Tetap Tinggal Di Kawasan Yang Tergenang Rob Dan Terjadi Penurunan Tanah, Di Genuk Semarang Parfi Khadiyanto
Ruang Vol 4, No 2 (2018): Ruang
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Faculty of Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.97 KB) | DOI: 10.14710/ruang.4.2.%p

Abstract

Humans as economic beings are always trying to find opportunities to earn income, that is by working anything and anywhere. As a result humans will find a place of life that is considered suitable for him in doing business to get a living space to build a settlement. There are two main options: choosing a comfortable place, and the second chooses a place close to the source of income, the resoltante of the two choices will produce a suitable land choice for himself. The question is, from the two options turned out that the location close to the source of income is more prominent than the need for comfort. There is a settlement whose location is unfit for habitation, but the community is willing to embrace the place just because the location is close to the source of income, which is around the industrial area in Semarang. This location is always inundated by tidal flood, dense, polluted by the industry, land degradation occurs, but the number of inhabitants comes 3 times more than the amount that comes out.The purpose of this study is to find out the reasons for the community to stay afloat, live in the area of the settlements that are integrated, experiencing a of rob inundation and the decline of land in the District of Genuk Semarang. The research method is done descriptively quantitative, with correlation analysis.The findings show that, the strength to survive is the economic factor kaeran, that is close to the industrial area, easy access, and facilities for children's education is also easy.

Page 7 of 19 | Total Record : 185