Articles
171 Documents
HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA
Rosnancy Sinaga
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v4i1.733
Pendahuluan: Semakin meningkatnya perilaku seksual yang dilakukan oleh remaja dari tahun ke tahun dan hal tersebut berkaitan dengan pola asuh yang diterapkan oleh orangtua sebagai pendidik pertama dalam keluarga. Dalam penelitian ini identifikasi masalah yang pertama adalah bagaimana gambaran pola asuh orangtua, yang kedua adalah bagaimana gambaran perilaku seksual remaja, dan yang ketiga adalah hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode penelitian menggunakan pendekatan dengan desain deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Sekolah Menengah Atas Advent Martoba Pematangsiantar yang dengan sampel berjumlah 81 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuesioner dan data diolah menggunakan rumus dan rentang skala Likert. Hasil: Didapati pola asuh demokratis 91%, pola asuh permisif 67,7% , pola asuh otoriter 69%, adanya hubungan yang signifikan antara pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja dengan hasil sig (2-tailed) 0,000. Korelasi Pearson -0,861 > r (0,5) maka korelasinya antara pola asuh orang tua dengan perilaku seksual remaja signifikan dan korelasi tidak searah, hubungan pola asuh orangtua dengan perilaku seksual remaja adalah kuat. Saran diberikan kepada orangtua agar menyadari pentingnya pola asuh terutama dalam perilaku seksual remaja; kepada remaja agar dapat mempertahankan perilaku yang baik mengenai perilaku seksual. Diskusi: Disarankan agar penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi penelitian yang lebih luas, meneliti faktor yang lebih kompleks dengan populasi yang lebih besar. Kata Kunci: pola asuh orangtua, perilaku seksual, remaja
PENGARUH STORY TELLING TERHADAP POLA KONSUMSI SAYUR DAN BUAH PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK AL-ISHLAH KABUPATEN CIREBON
Supriatin Supriatin
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v4i1.734
Pendahuluan : Usia prasekolah (3-6 tahun) merupakan masa perkembangan sosial, intelektual dan emosional yang pesat bagi anak. Anak membutuhkan asupan gizi yang adekuat untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.Salah satu intervensi keperawatan untuk membantu membantu meningkatkan konsumsi sayur dan buah pada anak usia prasekolah adalah dengan terapi story telling. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh story telling terhadap tingkat konsumsi sayur dan buah pada anak usia prasekolah di Tk Al-Ishlah Kabupaten Cirebon. Metode : Jenis penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperimental design yaitu dengan pendekatan one group pretest posttest design menggunakan satu kelompok subjek. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 32 responden. Tingkat konsumsi sayur dan buah diukur dengan menggunakan quesioner FFQ (Food Frequency Questioner). Analisis data yang digunakan adalah uji Wilcoxon. Hasil : Dari hasil uji statistik didapatkan nilai p value adalah 0,000 dengan demikian p value < a 0,05 yang berarti terdapat pengaruh story telling terhadap tingkat konsumsi sayur dan buah pada anak usia prasekolah di Tk Al-Ishlah Kabupaten Cirebon. Diskusi: Disarankan agar penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi penelitian yang lebih luas, meneliti faktor yang lebih kompleks dengan populasi yang lebih besar. Kata Kunci : pre anak usia prasekolah, story telling, tingkat konsumsi sayur dan buah.
TINDAKAN KOMPRES HANGAT PADA TEMPORAL LOBE DAN ABDOMEN TERHADAP REAKSI SUHU TUBUH PASIEN DENGAN TYPHOID FEVER
Yunus Elon
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v4i1.735
Pendahuluan: Peningkatan suhu tubuh yang tidak ditangani dapat menyebabkan dehidrasi yang akan mengganggu keseimbangan elektrolit serta menyebabkan kejang. Kejang yang berulang akan mengakibatkan kerusakan pada sel otak yang akan meyebabkan gangguan tingkah laku, serta dehidrasi. Dehidrasi yang berat dapat menyebabkan syok yang bisa berakibat fatal hingga berujung kematian. Tujuan: Untuk mengetahui efek dari tindakan kompres hangat pada temporal lobe dan abdomen terhadap reaksi tubuh pasien dengan thyfoid fever. Metode: Penelitian ini menggunakan quasi eksperimental design, dengan menggunakan Two Group Pre-Test and Post-Test Design. Teknik sampling purposive digunakan untuk memilih partisipan yang secara acak dibagi kedalam dua kelompok intervensi. Dimana kelompok pertama diberi kompres hangat pada Temporal lobe dan kelompok kedua diberi kompres hangat pada abdomen. Hasil: Penelitian ini menunjukan ada perbedaan reaksi penurunan suhu tubuh yang signifikan pada pasien Typhoid Fever sebelum dan sesudah diberikan tindakan kompres hangat pada kedua kelompok. Diskusi: Hasil statistic menunjukkan bahwa pemberian kompres hangat pada temporal lobe dan abdomen sama-sama efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada pasien dengan typod fever. Kata Kunci: Suhu Tubuh, Kompres Hangat, Typhoid Fever
PERSEPSI PERAWAT DAN DOKTER TERHADAP PENERAPAN BUDAYA KESELAMATAN PASIEN DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDAR LAMPUNG
Ernawaty Siagian
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v4i1.736
Pendahuluan: Budaya keselamatan pasien dalam pelayanan rumah sakit adalah hal yang sangat mendasar. Permasalahan dalam budaya keselamatan pasien tercermin dari masih tingginya angka insiden keselamatan pasien baik secara global maupun nasional. Jumlah insiden keselamatan pasien di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung yang dilaporkan tidak terlalu banyak. Namun berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa masih banyak insiden yang tidak dilaporkan oleh karena pekerja merasa enggan dan takut mendapat konsekuensi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan penerapan budaya keselamatan. Metode: Penelitian descriptive comparative cross sectional design tentang persepsi perawat dan dokter dilakukan kepada 130 responden dengan menggunakan instrument Hospital Survey of Patient Safety Culture (HSOPSC) yang terdiri dari 12 dimensi. Pengukuran persepsi terhadap masing-masing dimensi dilakukan untuk mengetahui dimensi mana yang masih perlu ditingkatkan. Uji statistic mann Whitney digunakan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan persepsi antara perawat dan dokter, antara staf pelaksana dan supervisor. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi perawat terhadap 12 dimensi mempunyai nilai rata-rata 62.3%. Ada 9 dimensi yang perlu ditingkatkan yaitu harapan dan tindakan manajer dalam meningkatkan keselamatan pasien (28.9%); Respon tidak menghukum (39.0%); Komunikasi terbuka (52.3%); Kerjasama tim antar unit (55.0%); Umpan balik dan komunikasi tentang kesalahan (60.9%); Staffing (63.5%); Dukungan manajemen rumah sakit terhadap program keselamatan pasien (63.6%); Persepsi tentang keselamatan pasien secara menyeluruh (65.0%) dan frekuensi pelaporan insiden (73.9%). Sementara pada profesi dokter mempunyai nilai rata-rata 60.1% dimana 11 dimensi masih perlu ditingkatkan, yaitu: harapan dan tindakan manajer dalam meningkatkan keselamatan pasien (27.8%); respon tidak menghukum (44.4%); frekuensi pelaporan insiden (48.2%); persepsi tentang keselamatan pasien secara menyeluruh (59.0%); komunikasi terbuka (59.2%); overran dan transisi (61.1%); kerjasama tim antar unit (61.1%); staffing (63.0%); umpan balik dan komunikasi (66.7%); pembelajaran organisasi serta perbaikan secara berkelanjutan (70.4%) dan dukungan manajemen rumah sakit terhadap program keselamatan pasien (70.4%). Diskusi: Kesimpulan dari penelotian ini adalah bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi perawat dengan dokter, antara staf pelaksana dengan supervisor. Kata Kunci: Budaya keselamatan pasien, perawat, dokter, persepsi, HSOPSC
PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN DALAM PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK KARTIKA KECAMATAN PARONGPONG
Yunita Pasongli
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v4i1.737
Pendahuluan: Angka kekerasan oada anak setiap tahun terus meningkat. Pada tahun 2012 terdapat 41% kasus kekerasan seksual dari 2,637 kasus kekerasan yang dilaporkan, menigkat menjadi 60% di tahun 2013. Pada bulan januari sampai September 2014 terdapat 2,726 kasus yang didomnasi 60% kasus kekerasan seksual. Dampak dari kekerasan seksual pada anak dapat dirasakan seumur hidup. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan anak usia prasekolah dalam pencegahan kekerasan seksual. Metode: Penelitian ini menggunakan quasy experiment. Dengan grup control preposttest. Sampel sebanyak 38 orang (N=38). Penyuluhan pada kelompok intervensi dilakukan selama 3 hari dengan menggunakan multimedia dan boneka. Alat pengumpulan data yang digunakan adalah instrument pengetahuan. Hasil penelitian dianalisis menggunakan paired t-test dan Wilcoxon ranks test. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan dengan p=0,015 pada α < setelah diberikan pendidikan kesehatan pada kelompok intervensi. Pada kelompok control tidak terdapat perbedaan pengetahuan yang signifikan dengan p=0,015 pada α <0,05 setelah diberikan pendidilkan kesehatan pada kelompok intervensi. Pada kelompok control tidak terdapat perbedaaan antara pre dan posttest dengan p=0,565. Walaupun secara statistic tidak terdapat perbedaan antara kelompok intervensi dan kelompok control (p=0,466), tetapi secara rata-rata terlihat kenaikan lebih besar pada kelompok intervensi disbanding kelompok control. Diskusi: Kesimpulannya, tidak ada pengaruh pendidikan kesehatan tentang pencegahan kekerasan seksual pada anak usia prasekolah terhadap pengetahuan anak, namun dalam rata-rata ada peningkatan yang lebih besar pada kelompok intervensi sebesar 0,37, sehingga dapat digunakan dalam memberikan pengetahuan kepada anak dalam bertindak jika ada hal yang tidak seharusnya mereka terima. Juga dibutuhkan kerjasama dari berbagai pihak untuk mengawasi anak-anak dari tindak kekerasan seksual. Kata kunci: Pendidikan Kesehatan, Pencegahan, Kekerasan Seksual pada Anak, Prasekolah
PENGGUNAAN DIALIZER RE-USE PADA PASIEN HEMODIALISA TERHADAP NILAI UREA REDUCTION RATIO (URR) DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG
Debilly Boyoh
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 3 No 2 (2017): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v3i2.738
Pendahuluan: Pemakaian ulang dializer (Dializer Re-Use) merupakan suatu tindakan pemakaian dializer lebih dari satu kali pada pasien yang sama. Dializer setetah digunakan dalam proses hemodialisis dibersihkan dan dilakukan sterilisasi baik menggunakan mesin maupun manual. Pemakaian dializer re-use di Indonesia mulai sekitar tahun 1998 sebagai dampak dari krisis moneter yang melanda Indonesia. Pemakaian dializer secara ulang dapat menurunkan tingkat efektif karena berbagai alasan, diantaranya adalah terjadi penurunan nilai Urea Reduction Ratio (URR) sehingga tidak optimal bila dipakai untuk proses hemodialisis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah dializer reuse ke-7 masih layak digunakan kembali dengan hasil yang efektif. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah pra-experimental dengan disain one group pretest-posttest. Populasi penelitian ini adalah pasien yang menjalani terapi hemodialisa di Rumah Sakit Advent Bandung, sampel yang digunakan berjumlah 15 pasien yang di pilih secara purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukan bahwa nilai rata-rata Urea Reduction Ratio pada dializer re-use ke-2 yaitu 71.00. Hasil nilai rata-rata Urea Reduction Ratio pada dializer re-use ke-7 adalah 67.40. Sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan pada nilai hasil Urea Reduction Ratio dengan nilai thitung adalah 1.020 dan nilai ttabel adalah 1.771 yang artinya ð»0 di tolak dan ð»ð›¼ diterima. Nilai hasil Urea Reduction Ratio dari pamakaian dializer re-use ke-7 masih di atas dari standart ≥ 65% yang berarti dializer pemakaian ke-7 masih dapat digunakan oleh pasien yang melakukan terapi hemodialisa. Diskusi: Bagi peneliti selanjutnya diharapkan untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan dializer re-use yang dilihat dari hasil Urea Reduction Ratio dengan perancu (jenis kelamin, usia, lama menjalani terapi hemodialisa) sehingga dapat menambah khazanah keilmuan yang lebih luas dan mendalam. Kata kunci: dializer, hemodialisa, Urea Reduction Ratio
TINGKAT KEMANDIRIAN DAN STATUS DEPRESI LANSIA DI PANTI WERDHA BETHANIA LEMBEAN DAN BALAI PENYANTUNAN LANSIA SENJA CERAH MANADO
Arlien Jeannete Manoppo
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 3 No 2 (2017): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v3i2.739
Pendahuluan: Secara alami proses penuaan mengakibatkan perubahan fisik dan mental dan hal ini mempengaruhi kondisi ekonomi dan sosialnya. Perubahan-perubahan tersebut menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus dan apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbulah berbagai masalah yang kompleks bagi lanjut usia (lansia). Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan yang signifikan antara tingkat kemandirian dan status depresi lansia. Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian adalah studi korelasi. Populasi penelitian ini adalah klien lansia yang dirawat di Panti Werdha Bethania Lembean dan Balai Penyantunan Lansia Senja Cerah, Manado. Sample dalam penelitian ini ditetapkan secara sensus sebanyak 73 orang lansia. Data univariat menggambarkan 46 (63%) responden memiliki kemandirian serta 52 (71,2%) responden tersebut mengalami depresi dengan penjabaran 15 (20,5%) responden mengalami depresi ringan, 20 (27,4%) responden mengalami depresi sedang, dan 17 (23,3%) responden mengalami depresi berat. Uji korelasi spearman rho menunjukkan terdapat hubungan signifikan yang searah tingkat kemandirian dan status depresi lansia di Panti Werdha Bethania Lembean serta Balai Penyantunan Lansia Senja Cerah Manado (p=0,001; α=0,05, maka p<0,05) dengan korelasi yang rendah (r=0,375). Hasil: penelitian ini diharapkan dapat menambah referensi bagi akademisi khususnya asuhan keperawatan terhadap lansia terkait tingkat kemandirian dan status depresi lansia. Diskusi: Disarankan untuk penelitian selanjutnya mengenai cara mengatasi tingkat depresi dan meningkatkan kemandirian lansia. Kata kunci: Lansia, Status Depresi, Tingkat Kemandirian.
KONVENSIONAL BED-BATH DAN PREPACKED DISPOSABLE BED-BATH DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN KEBERSIHAN DIRI PASIEN DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG
Sapti Djula
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 3 No 2 (2017): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v3i2.740
Pendahuluan: Setiap hari pasien butuh pemenuhan kebersihan diri mereka yaitu dimandikan oleh perawat karena kelemahan fisik dan kondisi sakit. Trend memandikan pasien saat ini sudah mengalami perubahan di berbagai rumah sakit yang beralih dari metode konvensional bed bath kepada disposable bed bath. Konvensional bed bath adalah metode memandikan pasien dengan cara tradisional yaitu menggunakan air dan sabun dalam menjaga kebersihan diri. Metode disposablebed bath adalah metode memandikan dengan menggunakan washcloth sekali pakai yang aman bagi kulit pasien. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan antara kenyamanan pasien yang menerima metode konvensional bed bath dan prepacked disposable bed bath dalam pemenuhan kebutuhan kebersihan diri di Rumah Sakit Advent Bandung. Metode: Penelitian ini adalah quasi exsperiment dengan desain penelitian crossover. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling yang berjumlah 20 orang pasien yang dirawat di bangsal medical bedah Rumah Sakit Advent Bandung. Analisis yang digunakan dalam membandingkan kedua cara memandikan tersebut dianalisis menggunakan paired t-test. Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dimana nilai p-value < 0,05. Meskipun kedua metode berada dalam rentang kategori baik namun didapati perbedaan yang bermakna dimana metode konvensional bed bath lebih membuat pasien merasa lebih nyaman saat setelah dimandikan. Diskusi: Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh bagian keperawatan dalam memberikan pelayanan pada pasien dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene yang membuat pasien merasa lebih nyaman. Kata kunci: personal hygiene, konvensional bed bath, prepacked disposable bed bath, kenyamanan.
TERAPI RELAKSASI OTOT PROGRESIF DAN RENDAM KAKI DENGAN AIR HANGAT TERHADAPAT SKALA INSOMNIA PADA LANSIA DI PANTI TRESNA WERDHA KARITAS CIMAHI
Dr. Nilawati Soputri
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 3 No 2 (2017): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v3i2.741
Pendahuluan: Insomnia pada orang lanjut usia (lansia) dapat diatasi dengan menggunakan beberapa cara, diantaranya dengan melakukan terapi relaksasi otot progresif dan rendam kaki dengan air hangat, namun diantara keduanya belum diketahui mana yang lebih efektif dalam menurunkan insomnia pada lansia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektifitas antara terapi relaksasi otot progresif dan rendam kaki dengan air hangat dalam mengatasi insomnia lansia di Panti Werdha Karitas Cimahi. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah Quasi experimental dengan desain pre-test and post-test. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 17 orang lansia yang diberikan dua intervensi pada waktu yang berbeda. Sebelum diberi intervensi skala insomnia subjek diukur dengan menggunakan kuesioner insomnia rating scale (IRS). Intervensi pertama adalah pemberian terapi relaksasi otot progresif selama tiga kali dalam seminggu, lalu diukur kembali skala insomnia subjek pada hari terkahir pada minggu tersebut dengan menggunakan insomnia rating scale (IRS). Setelah itu subjek diistirahatkan selama satu minggu. Sesudah itu dilanjutkan dengan pemberian intervensi kedua yaitu rendam kaki dengan air hangat selama tiga kali dalam seminggu dan pada hari terakhir skala insomnia subjek diukur kembali dengan menggunakan kuesioner insomnia rating scale (IRS)). Hasil: Skala insomnia sebelum terapi relaksasi otot progresif dan rendam kaki dengan air hangat adalah 11.71. Skala insomnia sesudah Terapi relaksasi otot progresif adalah 9.00 dan hasil sesudah rendam kaki dengan air hangat adalah 8.88. Diskusi: Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap skala insomnia antara terapi relaksasi otot progresif dan rendam kaki dengan air hangat pada lansia di Panti Tresna Werdha Karitas Cimahi. Kata Kunci: Insomnia, Relaksasi Otot Progresif, Rendam Kaki dengan Air Hangat
TEKNIK INJEKSI INTRAMUSKULAR TANPA ASPIRASI UNTUK MENURUNKAN INTENSITAS NYERI SAAT PROSEDUR INJEKSI VITAMIN NEUROBION 5000 PADA PASIEN POLI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG
Evelyn Tambunan
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 3 No 2 (2017): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.35974/jsk.v3i2.743
Pendahuluan: Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh pengalaman penulis saat bertugas di rumah sakit Advent Bandung, dimana prosedur penyuntikan intramuskular merupakan salah satu tindakan yang menimbulkan nyeri dan menggangu kenyamanan pasien. Prosedur baku yang berlaku hingga saat ini adalah masih menggunakan teknik aspirasi saat melakukan penyuntikkan intramuskular. Tujuan: Adapun tujuan dalam penulisan karya ilmiah ini adalah untuk memperoleh gambaran intensitas nyeri penyuntikan intramuskular vitamin neurobion 5000 dengan teknik aspirasi dan tanpa aspirasi, serta perbedaan yang signifikan intesitas nyeri antara kedua teknik tersebut. Metode: Metode yang digunakan dalam studi ini adalah metode quasi experimental dengan model non-equivalent control group. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien poli rawat jalan rumah sakit Advent dengan jenis kelamin perempuan usia ≥ 18 tahun. Sampel berjumlah 44 responden yang dipilih secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi yang berupa skala nyeri penyuntikan intramuskular vitamin neurobion 5000 yang akan diisi oleh observer. Parameter yang diukur pada penelitian ini adalah intensitas nyeri dengan skala penilaian verbal (VRS) 0-3. VRS adalah intstrumen yang sudah valid (p = 0.01) dan lazim digunakan dalam praktek klinis untuk mengukur ntensitas nyeri. Hasil: Hasil analisa statistik Mann Whitney terdapat perbedaan skala nyeri yang signifikan dengan nilai p 0,001 (ï¡=0,05) antara prosedur penyuntikan intramuskular vitamin neurobion 5000 dengan teknik aspirasi dan tanpa aspirasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa teknik injeksi intramuskular tanpa aspirasi efektif dapat menurunkan skala nyeri penyuntikan intramuskular di Rumah Sakit Advent Bandung. Diskusi: diharapkan teknik tanpa aspirasi ini dapat menjadi prosedur baku dalam Standard operational procedure (SOP) yang berlaku, dan bagi penelitian selanjutnya untuk menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak dan lebih homogen/spesifik, alat pengukuran skala nyeri yang berbeda dan jenis/larutan obat yang berbeda. Kata kunci: injeksi intramuskular teknik aspirasi, injeksi intramuskular teknik tanpa aspirasi, intensitas nyeri