cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 2 (2017)" : 13 Documents clear
Pengaruh Penerapan Aplikasi Sayang ke Buah Hati (SEHATI) terhadap Pengetahuan Ibu dan Aktivitas Fisik pada Anak Sekolah Dasar Nurul Auliya Kamila; Hadi Susiarno; Dida Akhmad Gurnida; Irvan Afriandi; Herry Garna; Tono Djuwantono
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (765.74 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2367

Abstract

Aktivitas fisik yang tidak cukup adalah 1 dari 10 faktor risiko utama kematian di seluruh dunia karena merupakan faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes melitus. Aplikasi Sayang ke Buah Hati (SEHATI) adalah media informatif yang merupakan panduan bagi ibu dalam meningkatkan pengetahuan dan panduan tentang aktivitas fisik yang benar pada anak usia sekolah dasar yang dikemas dalam bentuk animasi bergerak, warna menarik, dan sistem pengingat waktu/reminder. Dilakukan penelitian quasi experiment dengan pretest-postest with control group design untuk menganalisis pengaruh aplikasi SEHATI terhadap pengetahuan ibu dan aktivitas fisik pada anak usia sekolah dasar selama Januari 2017. Subjek penelitian ibu yang memiliki anak usia sekolah dasar berusia 8−12 tahun di SDIT Uchuwwatul Islam Kota Bandung sebanyak 60 orang yang terbagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok intervensi menggunakan aplikasi SEHATI dan kelompok kontrol tidak diterapkan. Pengambilan sampel berdasar atas teknik proportionate stratified random sampling. Pengujian statistik menggunakan uji chi-square dengan kemaknaan p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan karakteristik responden pada kedua kelompok meliputi usia, pendidikan, pekerjaan, dan paritas. Karakteristik ibu pada kelompok intervensi dan kontrol didominasi oleh usia 30−39 tahun, berpendidikan menengah (SMA, SMP), tidak bekerja, dan paritas multipara. Persentase peningkatan skor pengetahuan pada kelompok intervensi lebih baik daripada kelompok kontrol (25% vs 19%; p=0,001). Skor aktivitas fisik anak peningkatannya lebih baik pada kelompok intervensi (78% vs 61%; p=0,602). Simpulan, aplikasi SEHATI berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan ibu dan aktivitas fisik anak usia sekolah dasar.THE EFFECT OF AFFECTIONATE TO BABY (SEHATI) APPLICATION ON MOTHER'S KNOWLEDGE AND PHYSICAL ACTIVITY IN PRIMARY SCHOOL AGE CHILDRENThe lack of physical activity is one of the 10 major risk factors of death in the world, it is major risk factors for non-communicable diseases such as cardiovascular diseases, cancer, and diabetes mellitus. Affectionate to Baby (SEHATI) application is informative media which is a guide for mothers in improving the knowledge and guidance on the correct physical activity in children of primary school age are packaged in the form of moving animations, exciting colors, and the system time reminder. A quasi experiment with pretest-posttest control group design was conducted to analyze the effect of the SEHATI application toward knowledge mother and physical activity in school age children during January 2017. The subjects of this research were 60 mothers who have primary school age children as well as those aged 8−12 years in SDIT Uchuwwatul Islam Bandung. The respondent were divided into two groups the intervention group and the control group. The sampling based on proportionate stratified random sampling. The statistical test using chi square test with the significance of test results is determined by the value of p<0.05. The results showed there were no differences in the characteristics of respondents in both groups, including age, education, occupation, and parity. Characteristics of mothers in the intervention and the control group was dominated by the age of 30−39, secondary education (high school, junior high school), not working, and parity multiparous. The percentage increase of knowledge score in the intervention group was better than the control group 25% vs 19%, p=0.001. Percentage increase of the children's physical activity score in the intervention group was better than the control group 78% vs 61%, p=0.602. Conclusion, SEHATI application is influential in increasing the knowledge of the mother and the physical activity of children of primary school age.
Deteksi Aktivitas Fibrinolitik Isolat Bakteri WU 021055* Asal Perairan Pantai Papuma Jember Menggunakan Zimografi Evi Umayah Ulfa; Esti Utarti; Izzay Afkarina; Sattya Arimurti; Kartika Senjarini
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.707 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.1914

Abstract

Bakteri merupakan sumber penting berbagai enzim termasuk enzim fibrinolitik. Enzim ini diperlukan untuk mendegradasi bekuan darah pada orang yang mengalami penyakit trombosis. Isolat bakteri WU 021055* asal Pantai Papuma Jember terbukti menghasilkan enzim fibrinolitik ekstraseluler. Penelitian ini bertujuan mengetahui ukuran protein yang memiliki aktivitas fibrinolitik dan mengidentifikasi karakteristik morfologi isolat WU bakteri WU 021055*. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Jember pada April–Agustus 2014. Aktivitas fibrinolitik presipitat protein (PP) ditentukan menggunakan metode fibrin plate agar dan zimografi fibrin. Ekstrak protein kasar (EPK) dipanen pada jam ke-12 dan dipresipitasi menggunakan amonium sulfat 80%. Hasil uji aktivitas fibrinolitik menggunakan fibrin plate agar menunjukkan presipitat memiliki aktivitas fibrinolitik lebih besar dibanding dengan EPK. Dari hasil karakterisasi PP menggunakan sodium dodecyl sulphate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) diperoleh 11 pita protein dengan ukuran 12–41 kDa. Berdasar atas hasil zimografi fibrin, pita protein dengan berat molekul 24 kDa yang memberikan aktivitas fibrinolitik. Protein dengan ukuran 24 kDa ini mampu mendegradasi substrat fibrin. Simpulan, isolat bakteri WU 021055* mengandung berbagai protein ekstraseluler, memiliki bentuk koloni bulat berwarna putih dan termasuk bakteri gram prositif berbentuk batang.DETECTION OF FIBRINOLYTIC ACTIVITY OF WU 021055* BACTERIAL ISOLATE FROM PAPUMA BEACH COASTAL JEMBER USING ZYMOGRAPHYBacteria were important resources for various enzymes including fibrinolytic enzymes. This enzyme is  capable of degrading fibrin clot in patient with thrombotic diseases. Bacterial isolate of WU 021055* from Papuma Beach Coastal Jember could secrete extracellular fibrinolytic enzymes. The objective of this reasearch was to determine the molecular weight of protein responsible for fibrinolytic activity and to identify morphologycal characterization of bacterial isolate of WU 021055*. This study was conducted at Laboratory of Microbiology, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Jember in April–August 2014. Fibrinolytic activity of precipitate protein (PP) was determined by using fibrin plate agar and fibrin zymography. Crude protein extract (CPE) was harvested at 12 hours and precipitated by 80% ammonium sulphates. The result of fibrinolityc activity determination showed that fibrinolytic activity of PP was higher than CPE. Protein characterization of PP by using sodium dodecyl sulphate polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) obtained 11 different protein bands corresponds to value 12–42 kDa. Based on fibrin zymography, the 24 kDa protein might contribute to fibrinolytic activity due to degraded fibrin substrates. In conclusion, bacterial isolate of WU 021055* contained extracellular fibrin protein was white colony and gram positives bacilli able to degraded.
Merokok dan Penuaan Dini berupa Wrinkles Seputar Wajah Sekuriti Universitas Islam Bandung Deis Hikmawati; Diany Maedasari; Panji Ramdhani Prasetya
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.121 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2066

Abstract

Penuaan dini (PD) adalah proses degeneratif yang melibatkan kulit dan sistem penyokong kulit meliputi tulang, kartilago dan jaringan subkutaneus, berupa perubahan stuktural dan elastilitas kulit yang ditandai dengan wrinkles/kerutan kulit (fine wrinkles, coarse wrinkles), kulit yang kasar, kulit kering, teleangiaektasi, lesi kanker, serta perubahan pigmentasi. Wrinkles adalah permukaan kulit yang mengalami lekukan, dipengaruhi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor ekstrinsik berasal dari lingkungan paparan sinar matahari, polusi udara, rokok, pergerakan otot yang berulang terkait ekspresi wajah, serta kebiasaan gaya hidup yang berhubungan dengan pola makan dan posisi tidur. Tujuan penelitian ini adalah apakah merokok sebagai faktor ekstrinsik berefek pada kejadian penuaan dini berupa wrinkles di seputar wajah, yaitu sekitar mata, nasolabial fold, dan bibir pada sekuriti Universitas Islam Bandung (Unisba) usia 20–40 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik menggunakan metode potong lintang. Subjek penelitian adalah pegawai Unisba, yaitu sekuriti berusia 20–40 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah 68 orang selama periode Maret–Juni 2016. Penelitian ini menggunakan formulir penelitian yang terdiri atas 16 pertanyaan. Uji analisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian berupa wrinkles di dahi (p=0,272), seputar mata (p=0,203), nasolabial fold (p=0,493), dan bibir (0,493) menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan merokok dengan penuaan dini berupa wrinkles di dahi, seputar mata, nasolabial fold, dan bibir (p>0,05). Simpulan, merokok tidak berefek pada penuaan dini berupa wrinkles di dahi, seputar mata, nasolabial fold, dan bibir pada sekuriti Unisba usia 20–40 tahun. SMOKING AND PREMATURE AGING IN FORM OF FACIAL WRINKLES ON UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG SECURITY STAFFPremature aging is a degenerative process that involves the skin and the skin support systems including the bone, cartilage, and subcutaneous compartments which is skin structural and elastic change characterized such as wrinkles (fine wrinkles, coarse wrinkles), rough skin, dry skin, teleangiaectasia, cancerous lesions, and changes in pigmentation. Wrinkles are curvature of skin surface. There are two factors influence, namely intrinsic and extrinsic factors. Extrinsic factors associated with exposure to sunlight, air pollution, smoking, repetitive muscle movements, diet and sleep position. The objective of the study was to determine the effects of smoking as external factor in the incidence of premature aging such as wrinkles based on area around the face as forehead, around eyes, nasolabial fold, and lips of 68 Universitas Islam Bandung (Unisba) security staff around 20–40 years old. This study was descriptive analytic using cross sectional method during period March to June 2015. This study used the form in the form consisted of 16 questions. Analyzed test using chi-square method. The result related to wrinkles in forehead was (p=0.272), around eyes (p=0.203), nasolabial fold (p=0.493) and lips (0.493). The result showed that there was no significant relation between smoking and premature aging such as wrinkles on forehead and wrinkles around crows feet, nasolabial fold and lip (p>0.05). In conclusion, smoking has no relation with premature aging such as wrinkles on forehead and wrinkles around the lips, crows feet, nasolabial fold of Unisba security staff aged 20–40 years old.
Efek Larvasida Ekstrak Etanol Daun Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) terhadap Larva Nyamuk Culex sp. Regina Putri; Teresa Liliana Wargasetia; Susy Tjahjani
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.123 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2117

Abstract

Salah satu cara pemberantasan nyamuk Culex yang merupakan vektor beberapa penyakit antara lain filariasis, Japanese encephalitis, St. Louis encephalitis, dan West Nile virus ialah dengan larvasida. Larvasida berbahan kimia (temephos) memiliki efek samping berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian penggunaan daun pandan wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) sebagai larvasida alami. Tujuan penelitian mengetahui apakah ekstrak etanol daun pandan wangi memiliki efek larvasida alami terhadap larva Culex sp. Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Maranatha pada Februari–Juli 2016. Desain penelitian bersifat eksperimental laboratorik dengan metode rancangan acak lengkap. Efek larvasida ekstrak daun pandan wangi (EDPW) diuji terhadap 6 kelompok perlakuan (n=30, r=4) larva Culex sp. Kelompok I (EDPW 4%), II (EDPW 2%), III (EDPW 1%), IV (EDPW 0,5%), V (temephos sebagai kontrol positif), dan VI (akuades sebagai kontrol negatif). Data yang diambil ialah jumlah larva mati setelah pemberian bahan uji selama 24 jam. Analisis data dengan ANAVA dan uji Tukey HSD dengan nilai α=0,01. Hasil penelitian berupa persentase larva mati pada kelompok I (96,67%), II (79,17%), III (50%), dan IV (17,5%) menunjukkan perbedaan yang signifikan (p≤0,01) terhadap kelompok VI (1,67%). Tidak terdapat perbedaan signifikan (p>0,01) antara kelompok I dan V (100%). Simpulan, EDPW berefek sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Culex sp dan EDPW 4% memiliki potensi setara dengan temephos.LARVICIDE EFFECT OF FRAGNANT PANDAN LEAVES ETHANOL EXTRACT (PANDANUS AMARYLLIFOLIUS ROXB.) AGAINTS CULEX SP. MOSQUITO LARVAEOne way to eradicate Culex mosquitoes that are vector for several diseases such as filariasis, Japanese encephalitis, St. Louis encephalitis, and West Nile virus is with larvicide. Larvicide made from chemical (temephos) have harmful side effects to health and environment. Therefore research of fragnant pandan leaves (Pandanus amaryllifolius Roxb.) as natural larvicide was conducted. This study aims to find out whether fragnant pandan leaves ethanol extract has natural larvicide effect against Culex sp. larvae. The study was conducted at Faculty of Medicine, Maranatha Christian University in February to July 2016. This study design was laboratoric experimental with complete randomized design. Larvicidal effect of fragnant pandan leaves extract (FPLE) was tested against 6 groups (n=30, r=4) Culex larvae. Group I (FPLE 4%), II (FPLE 2%), III (FPLE 1%), IV (0,5%), V (temephos as a positive control), and VI (aquadest as a negative control). The taken data was the number of larvae that died after administration of the substance for 24 hours. Data was analyzed by ANOVA and Tukey HSD test using α=0,01. The results of the study were the percentage of dead larvae in group I (96,67%), II (79,17%), III (50%), and IV (17,5%) showed a significant difference (p≤0,01) to group VI (1,67%). There were no significant difference (p>0,01) between group I and group V (100%). The conclusion of this study is there was an effect of FPLE as larvicide against Culex mosquito larvae and FPLE 4% had equivalent potential to temephos.
Kesiapan Masyarakat dalam Melaksanakan dan Memanfaatkan Posyandu Penyakit Tidak Menular di Desa Cilayung dan Cipacing, Kecamatan Jatinangor Yulia Sofiatin; Rully M.A. Roesli
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.29 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2532

Abstract

Pengendalian hipertensi dan penyakit tidak menular (PTM) memerlukan kerja sama pasien karena pilar utama pengendalian PTM adalah pengetahuan penderita dan kepatuhan dalam menjalankan upaya pengendaliannya. Sampai saat ini pemberian edukasi di sarana kesehatan tidak efektif sehingga diperlukan upaya lain seperti kelompok dukungan pasien dan peningkatan kemampuan masyarakat. Pos pelayanan terpadu (posyandu) PTM merupakan salah satu alternatif. Penelitian ini bertujuan menggali kesiapan kader posyandu dan pasien hipertensi mengenai kemungkinan pelaksanaan posyandu khusus PTM. Telah dilakukan diskusi kelompok terarah (DKT) terhadap dua kelompok (kader dan penderita) di Desa Cilayung dan Cipacing serta 1 (satu) sesi wawancara mendalam terhadap Kepala Puskesmas Kecamatan Jatinangor, Sumedang pada Maret–April 2017 dengan tingkat partisipasi peserta cukup baik. Keempat kelompok menyatakan kebutuhan terhadap posyandu PTM dengan aktivitas selain pemantauan tekanan darah dan berat badan yang dibutuhkan adalah penyuluhan mengenai perbaikan gaya hidup dan kepatuhan berobat. Kader Desa Cipacing siap melaksanakan penyuluhan jika telah mendapat pelatihan, tetapi kader Desa Cilayung menginginkan penyuluh dari luar lingkungan mereka. Terdapat kebutuhan kemudahan mendapatkan obat karena pengambilan obat di puskesmas dirasakan membutuhkan biaya transportasi yang cukup tinggi. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat dan kader merasakan kebutuhan terhadap posyandu PTM, tetapi kesiapan mereka berbeda-beda.COMMUNITY READINESS TO RUN AND UTILIZE INTEGRATED HEALTH POST FOR NON-COMMUNICABLE DISEASE IN CILAYUNG AND CIPACING VILLAGES, JATINANGORThe main pilars of non-communicable diseases (NCDs) management are patient’s awareness, knowledge and compliance. At present, education by health provider in health facilities has been proven to be not effective that other measures such as patient support group and community empowerement are needed. The options is through integrated health post (posyandu) for NCD. The aim of this research was to explore the readiness of the community to run and utilize such post. Four sessions of focus group discussions with two groups of health cadres and two groups of people with high blood pressure in Cilayung and Cipacing villages and 1 (one) session of indepth interview towards the Head of Public Health Center (Puskesmas) at Jatinangor, Sumedang, Indonesia were held on March–April 2017 with high participations. Each group expresses the needs of patient support group and community empowerement through regular integrated health post for NCDs. Schedulled screening and mass education especially for life style modification and drug used are urgent. Health cadres of urban community are ready to lead the activities, while those from rural area ask for formal educators. Drug dispensing at public health center is favourable due to expensive transportation to primary health care. In conclusion, communities in Jatinangor need integrated health post for NCD to assist them to manage their blood pressure and other NCDs although their readinesses were vary.
Efektivitas Penurunan Malondialdehyde dengan Kombinasi Suplemen Antioksidan Superoxide Dismutase Melon dengan Gliadin Akibat Paparan Asap Rokok Rivan Virlando Suryadinata; Bambang Wirjatmadi; Merryana Adriani
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.075 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.1860

Abstract

Jumlah perokok di Indonesia makin meningkat setiap tahunnya hingga mencapai hampir 40% dari total penduduk. Terapi antioksidan dapat menurunkan radikal bebas akibat asap rokok yang dapat menyebabkan kerusakan dan kematian sel dalam tubuh. Antioksidan superoxide dismutase ekstrak melon dengan kombinasi gliadin berpotensi menurunkan radikal bebas dengan menurunkan malondialdehyde (MDA) dalam darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas suplemen superoxide dismutase-gliadin (SOD-gliadin) dalam menurunkan kadar MDA akibat paparan asap rokok terhadap tikus Wistar. Penelitian menggunakan metode ekperimental dengan post-test control group design di Laboratorium Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga. Pemberian suplemen SOD-gliadin dengan paparan asap rokok dua batang per hari dilakukan selama 28 hari (5 April 2016 sampai 12 Mei 2016) dengan menggunakan kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak melon yang berbeda. Selanjutnya, pengukuran kadar MDA dilakukan dengan mengambil serum darah pada semua kelompok. Hasil penelitian, suplemen SOD-gliadin berpengaruh terhadap penurunan kadar MDA serum (ANOVA, p=0,000). Uji least significant difference (LSD) menunjukkan kelima kelompok memberikan hasil yang signifikan terhadap penurunan kadar MDA pada tikus Wistar yang terpapar asap rokok (p<0,05). Penurunan kadar MDA terendah terjadi pada dosis ketiga dibanding dengan dosis SOD-gliadin lainnya. Simpulan, pemberian suplemen SOD-gliadin dapat mengurangi radikal bebas akibat paparan asap rokok.EFFECTIVENESS DECREASE COMBINED WITH SUPPLEMENTS MALONDIALDEHYDE ANTIOXIDANT SUPEROXIDE DISMUTASE GLIADING MELON WITH DUE TO EXPOSURE TO CIGARETTEThe number of smokers in Indonesia was increasing every year to reach nearly 40% of the total population. Antioxidants superoxide dismutase of melon extract able to reduce free radicals in the body. The decrease of free radicals in the body can be measured from malondialdehyde (MDA) levels in the blood. This research aims to determine the effectiveness of melon extract for lowering malondyaldehyde level of cigarette smoke exposure on Wistar rats. Research using experimental methods with posttest control group design in Laboratory Medical Faculty, Airlangga University. Melon extract intake with exposure two cigarettes per day for 28 days (5 April 2016 until 12 May 2016) was done by using a negative control group, positive control group and 3 groups experiment with different doses of melon extract. The measurement of MDA level done by taking a blood serum in all groups after 28 days. The results showed SOD-gliadin effect of decreased levels of serum MDA (ANOVA, p=0.000). Least significant difference (LSD) test  showed all groups significant results to decreased levels of MDA in Wistar rats were exposed to smoke (p<0.05). The third dose was decreased levels of MDA lowest compared to other doses of SOD-gliadin. The conclusion of the research, SOD-gliadin supplementation can reduce free radical role in the body as a result of exposure to cigarette smoke. 
Mendukung Bangkitnya Kesehatan dan Sains Bangsa Indonesia Menuju Era Global Titik Respati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.523 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2884

Abstract

Sebuah perjalanan yang cukup panjang telah ditempuh oleh jurnal Global Medical and Health Communication (GMHC) yang berawal di tahun 2012 untuk memberikan ruang bagi para peneliti, dosen, dan pemerhati masalah kesehatan dalam menyampaikan hasil penelitian maupun ide dan metode terbarunya. Diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung, jurnal GMHC telah terakreditasi Direktorat Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 2/E/KPT/2015 tertanggal 1 Desember 2015. Selain itu, jurnal ini telah terdaftar pula dalam Directory of Open Access Journals (DOAJ) tanggal 9 Mei 2017. Pencapaian ini telah mendapatkan respons positif dari para peneliti dan pemerhati masalah kesehatan terutama di Indonesia terbukti dengan semakin banyak artikel yang dikirimkan. Dibanding dengan awal pendiriannya pada tahun 2012 sampai tahun 2017 ini jumlah artikel yang dikirimkan menjadi tiga kali lipat banyaknya. Sebagai dukungan penyebaran informasi terutama hasil penelitian maka penerbitan GMHC yang sejak tahun 2013 cukup 6 bulan dalam setahun pada tahun 2017 menjadi setiap 4 bulan dalam setahun. Setelah menjadi jurnal terakreditasi nasional, jurnal GMHC mempersiapkan diri untuk berperan lebih di arena global. Jurnal GMHC bertekad dengan dukungan para penulis, pembaca, dan pemerhati untuk mulai menjadi sarana bagi bangsa Indonesia agar dapat berkiprah di tingkat dunia terutama dalam bidang kesehatan.
Photokeratoconjunctivitis Symptoms among Informal Welding Operators in North Samarinda, Indonesia Iwan Muhamad Ramdan; Siti Badriatul Mursyidah; Siti Jubaedah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (28.93 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2147

Abstract

Informal sector has been contributing to the national economy but occupational health and safety practices in the sector has not been satisfactory. One of the informal sector which are found in North Samarinda is informal welding workshop, with dominant hazards is exposure to ultraviolet rays that can cause photokeratoconjunctivitis. The Objective of this study was to investigate the symptoms of photokeratoconjunctivitis and related factors among informal welding operator in North Samarinda. A cross-sectional study was conducted on 40 respondents. Research was conducted in March until November 2016. Data collection using ultraviolet detector meter, clamps meter, and questionnaire. Data analysis using chi-square, Pearson’s correlation product moment and multiple linear regression. 50% of respondents have photokeratoconjunctivitis symptoms. Personal protective equipment (PPE) (p=0.004), UV exposure duration (0.056), knowledge of health and safety (p=0.055) and number of working days (p=0.001) were associated with photokeratoconjunctivitis symptoms. Work location (p=0.244), level of education (p=0.680), age (0.167), intensity of UV radiation (p=0.206) and strength of welding current (p=0.085) were not related to photokeratoconjunctivitis symptoms. In conclusions, photokeratoconjunctivitis symptoms is influenced by the use of PPE, UV exposure duration, knowledge of health and safety, and number of working days. The most influential factor to the appearance of photokeratoconjunctivitis (β=0.32) is duration of UV exposure.GEJALA PHOTOKERATOCONJUCTIVITIS PADA PEKERJA LAS INFORMAL DI SAMARINDA UTARA, INDONESIASektor informal telah berkontribusi terhadap perekonomian nasional, namun praktik kesehatan dan keselamatan kerja pada sektor ini masih belum memuaskan. Salah satu usaha sektor informal yang banyak dijumpai di Samarinda Utara adalah usaha pengelasan dengan potensi bahaya utama paparan sinar ultraviolet yang dapat menyebabkan photokeratoconjunctivitis. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi kejadian photokeratoconjunctivitis dan faktor yang memengaruhinya pada operator las informal di Kelurahan Samarinda Utara. Penelitian cross-sectional telah dilakukan terhadap 40 responden pada bulan Maret sampai November 2016. Pengumpulan data menggunakan UV detector meter, clamp meter, dan kuesioner. Analisis data menggunakan chi-square, Pearson’s correlation product moment, dan multiple linear regression. Lima puluh persen responden mengalami gejala photokeratoconjunctivitis. Alat pelindung diri (APD) (p=0,004), durasi paparan UV (0,056), pengetahuan tentang kesehatan, dan keselamatan kerja (K3) (p=0,055) dan jumlah hari kerja (p=0,001) berhubungan signifikan dengan kejadian photokeratoconjunctivitis. Lokasi kerja (p=0,244), tingkat pendidikan (p=0,680), usia (0,167), intensitas radiasi UV (p=0,206), dan kuat arus las (p=0,085) tidak berhubungan dengan gejala photokeratoconjunctivitis. Simpulan, gejala photokeratoconjunctivitis dipengaruhi oleh penggunaan APD, durasi paparan UV, pengetahuan K3, dan jumlah hari kerja. Faktor yang paling dominan memengaruhi gejala photokeratoconjunctivitis adalah durasi paparan UV.
Peningkatan Kompetensi Dokter Pasca-Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) Tahun 2013 Siti Nur Hasanah; Mieska Despitasari; Harimat Hendarwan
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (131.582 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.1895

Abstract

PIDI merupakan tahap pelatihan keprofesian praregistrasi berbasis kompetensi pelayanan primer guna memahirkan kompetensi yang telah dicapai setelah memperoleh kualifikasi sebagai dokter melalui pendidikan kedokteran dasar. PIDI dilaksanakan di fasilitas pelayanan kesehatan yang menjadi wahana internship. Telah dilakukan penelitian dengan desain potong lintang untuk memperoleh gambaran pelaksanaan program dan penilaian kompetensi peserta internship tahun 2013. Populasi penelitian adalah peserta internship periode Maret­–Mei 2012. Sampel penelitian adalah peserta internship dari 9 FK di 9 kabupaten/kota di 9 provinsi, dipilih melalui multistage sampling dengan mempertimbangkan status akreditasi asal FK peserta internship, kepemilikan FK, wilayah penempatan, dan frekuensi keterlibatan wahana internship. Pengumpulan data dilakukan melalui kelompok diskusi terfokus, wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Terjadi peningkatan pemahiran, pemandirian, dan profesionalisme pada 7 area kompetensi inti dokter melalui proses internship 75–98,3%. Hal ini menunjukkan bahwa PIDI diperlukan dalam proses pemahiran, pemandirian, dan peningkatan profesionalisme. Proporsi penanggulangan kasus UKP peserta sudah memenuhi target yang ditetapkan. Sebanyak 78% jenis kasus memiliki proporsi penanganan kasus UKP di atas target. Cakupan kegiatan terbesar berada pada penanganan kasus bedah (94,1%). PIDI perlu dilanjutkan karena berdampak meningkatkan luaran profesionalisme dokter dan peningkatan sistem pelayanan kesehatan. Diperlukan peningkatan kualitas luaran Fakultas Kedokteran agar peningkatan pemahiran dan pemandirian serta profesionalisme dapat berjalan secara optimal.DOCTORS’ COMPETENCY IMPROVEMENT GAINED AFTER PROGRAM INTERSHIP DOKTER INDONESIA (PIDI) YEAR 2013PIDI is a training in pre-registration phase of competency-based primary care to improve competency gained after doctor qualification from basic medical education. PIDI implemented in health care facilities that called “wahana”. A cross sectional research has been conducted in March–May 2013 to obtain PIDI implementation and assessment of interns’ competency. The population was interns which start their internship in May 2012. Interns from 9 medical faculties from 9 districts/cities in 9 provinces were selected as samples by multistage sampling considering the accreditation of medical faculties where interns finished their study, medical faculties’ ownership (public or private), placement and frequency of site’s involvement on PIDI. Data collected through focus group discussions, interviews, observation, and documents review. Results showed that competency in seven core competencies, autonomy and professionalism have been improved 75–98.3% through PIDI. This shows that PIDI was needed as a competencies, autonomy and professionalism enhancement before a doctor do his/her private practice. The proportion of 2013 interns’ handling on personal health care (UKP) has already meet the target. 78% of UKP’s type of cases have been done by interns. The highest proportion in surgical cases (94.1%). PIDI should be continued because it affects on the improvement of doctors’ professionalism and improved health care system. It is necessary to improve the quality of Medical faculty’s output in order to optimize the improvement on doctors’ competencies, autonomy and professionalism.
Toksisitas Akut Ekstrak Air Buah Pepaya (Carica papaya L.) Muda terhadap Morfologi Eritrosit Yuktiana Kharisma; Eka Hendryanny; Astari P. Riani
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.47 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2280

Abstract

Pepaya (Carica papaya L.) adalah salah satu obat tradisional yang digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan. Pepaya mengandung beberapa substansi fitokimia seperti saponin, alkaloid, terpenoid, dan flavonoid. Saponin dan alkaloid diketahui mampu berinteraksi dengan membran eritrosit dan menyebabkan disintegrasi membran sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada eritrosit. Penelitian ini bertujuan mengetahui toksisitas akut ekstrak air buah pepaya muda terhadap morfologi eritrosit melalui pengamatan sediaan apus darah tepi. Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dilakukan di Laboratorium Biomedis, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung periode Januari–Februari 2016. Penentuan kelompok dosis berdasar atas proposed (new) recommended method menggunakan 11 ekor tikus yang diberi dosis oral ekstrak air buah pepaya muda 50, 200, 400, 800, 1.000, 1.500, 2.000, 3.000, 4.000, 5.000 mg/kgBB masing-masing dan satu tikus hanya diberikan air sebagai kelompok kontrol. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam pemberian ekstrak. Hasil pengamatan sediaan apus darah tepi menunjukkan tidak terdapat perubahan morfologi eritrosit baik bentuk, ukuran, dan warnanya. Simpulan, ekstrak air buah pepaya muda tidak memiliki toksisitas akut terhadap morfologi eritrositACUTE TOXICITY OF UNRIPE PAPAYA FRUIT (CARICA PAPAYA L.) WATER EXTRACT TO MORPHOLOGY OF ERYTHROCYTEPapaya (Carica papaya L.) is one of traditional medicines which was used to overcome health things. It is contained of some phytochemicals substance such as saponin, alkaloid, terpenoid, and flavonoid. Both saponin and alkaloid were known having an ability to interract with eryhtrocyte membran and cause membrane disintegrity that can destruct the erythrocyte. This study was aimed to know the acute toxicity of the aqueous extract of unripe papaya fruit to the erythrocyte morphology by observe the peripheral blood smear. The method of this study was conducted experimental laboratory at Loboratory of Biomedical, Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung in January–February 2016. Determination of dose group is based on proposed (new) recommended method with 11 rats were administrated oral dose 50, 200, 400, 800, 1,000, 1,500, 2,000, 3,000, 4,000, 5,000 mg/kgBW of unripe papaya fruit aqueous extract, and one rat was only given water as control group. Observation had been done at 24 hours after extract administrating. It showed that there was not any abnormal morphology, size, and chromatic changes of erythrocyte in blood smear observations. In conclusion, the aqueous extract of unripe papaya fruit do not have the acute toxicity to erythrocyte morphology.

Page 1 of 2 | Total Record : 13