cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
Neopterin Serum sebagai Prediktor Dini Luaran Perburukan pada Sepsis Neonatorum Ahmad Hafidz; Tetty Yuniati; Purboyo Solek
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.292 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.3101

Abstract

Neopterin telah diketahui sebagai biomarker untuk diagnostik sepsis neonatorum awitan dini. Hingga saat ini belum diketahui peran neopterin sebagai biomarker untuk memprediksi luaran sepsis neonatorum awitan dini maupun awitan lanjut. Tujuan penelitian ini menentukan neopterin serum sebagai biomarker prediktor sepsis neonatorum awitan dini dan lanjut. Penelitian dilakukan pada bulan Mei–Juli 2017 di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Seluruh neonatus yang memenuhi kriteria sepsis neonatorum, yaitu didapatkan skor Tollner ≥10, dilakukan pemeriksaan neopterin serum menggunakan metode ELISA. Subjek kemudian diikuti dan dikelompokkan menjadi luaran perbaikan dan perburukan. Analisis menggunakan receiver operating characteristic (ROC) untuk mendapatkan luas area under curve, menentukan titik potong serta sensitivitas dan spesifisitas. Subjek penelitian terdiri atas 42 neonatus, mayoritas karakteristik neonatus yang mengalami luaran perburukan berjenis kelamin laki-laki (10 subjek), sepsis awitan dini (11 subjek), cara persalinan dengan operasi (11 subjek), dan tempat persalinan di RS (14 subjek). Temuan kadar neopterin pada luaran perburukan lebih tinggi dibanding dengan luaran perbaikan dan disimpulkan terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,01). Kadar neopterin rata-rata yang didapatkan pada sepsis luaran perburukan 60,97 ng/mL dengan rentang kadar 40,63–92,04 ng/mL. Luas area di bawah kurva ROC kadar neopterin adalah 0,981 (95% IK=0,882–1,000; p<0,001). Kadar titik potong neopterin >43,13 dengan sensitivitas 94,1% dan spesifisitas 96,0%. Simpulan, kadar titik potong neopterin adalah 43,13 ng/mL serta memiliki sensitivitas 94,1% dan spesifisitas 96,0%. Biomarker ini dapat menjadi salah satu parameter dalam memprediksi dini luaran perburukan sepsis neonatorum awitan dini dan awitan lanjut.NEOPTERIN SERUM AS EARLY PREDICTOR OF POOR OOUTCOME IN NEONATAL SEPSISNeopterin was known as the biomarker for diagnosed early onset neonatal sepsis. Nowadays it has been proven for neopterin as predictors of poor outcome in early and late neonatal sepsis. The objective of this study was to determine serum levels of neopterin as predictors of poor outcome in early and late neonatal sepsis. The study held from May to July 2017 in Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung. All subjects were neonatal sepsis with Tollner score ≥10 observed for serum levels of neopterin with ELISA method and then followed during hospitalization. The outcome defined as good and poor outcomes. The data were analyzed using receiver operating characteristic (ROC) for getting area under curved, cut-off point and also sensitivity, specificity. Research subjects consisted of 42 neonates, the majority which experienced poor outcomes were male (10 subjects), early onset sepsis (11 subjects), section cesarean procedure (11 subjects) and were born in a hospital (14 subjects). Serum neopterin levels findings significantly correlated with poor outcomes. Mean of poor outcomes in sepsis was 60.97 ng/mL with observed levels 40.63–92.04 ng/mL. Area under the ROC curve of neopterin were 0.981 (95% CI=0.882–1.000; p<0.001). Cut off levels of neopterin >43.13 with sensitivity 94.1% and specificity 96.0%. In conclusion, cut off levels of neopterin >43.13 with sensitivity 94.1% and specificity 96.0%. Neopterin defined as a biomarker for the early predictor of poor outcome in early and late onset neonatal sepsis.
Korelasi Jumlah CD4 dan Total Lymphocyte Count (TLC) pada Penderita HIV/AIDS dengan dan tanpa Terapi Antiretroviral Ivana Agnes Sulianto; Agnes R. Indrati; Rudi Wisaksana; Noormartany Noormartany
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1399.512 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1516

Abstract

Jumlah CD4 merupakan parameter laboratorium yang digunakan untuk memulai dan memantau terapi antiretroviral (ART) pada penderita HIV/AIDS. Pemeriksaan jumlah CD4 membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal dan tenaga terlatih. World Health Organization (WHO) merekomendasikan total lymphocyte count (TLC) sebagai pengganti CD4 dalam memulai terapi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara jumlah CD4 dan TLC pada data dasar, pemantauan pertama dan kedua penderita HIV/AIDS sebagai dasar digunakannya TLC untuk pemantauan terapi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dan bagian dari penelitian kohort IMPACT (Integrated Management for Prevention And Care and Treatment of HIV/AIDS) pada pasien HIV/AIDS di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Data tersebut dibagi menjadi kelompok tanpa ART dan dengan ART, masing-masing kelompok dibagi berdasarkan jenis kelamin. Analisis korelasi dilakukan pada data CD4 dan TLC dari tiap kelompok. Penelitian ini menggunakan 2.239 data. Korelasi antara CD4 dan TLC pada data dasar pria tanpa ART adalah 0,644 (p=0,01), wanita tanpa ART adalah 0,74 (p=0,01), pria dengan ART 0,67 adalah (p=0,01), wanita dengan ART adalah adalah 0,601 (p=0,01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan pertama pria tanpa ART 0,56 (p=0,01), wanita tanpa ART adalah 0,606 (p=0,01), pria dengan ART adalah 0,569 (p=0,01), wanita dengan ART adalah 0,466 (p=0,01). Korelasi antara CD4 dan TLC pemantauan kedua pria tanpa ART adalah 0,697 (p=0,01), wanita tanpa ART adalah 0,306 (p=0,01), pria dengan ART adalah 0,556 (p=0,01), wanita dengan ART adalah 0,561 (p=0,01). Simpulan, terdapat korelasi yang baik antara jumlah CD4 dan TLC, sehingga TLC dapat digunakan sebagai alternatif pemantauan terapi sebelum penderita melakukan pemeriksaan CD4. CORRELATION OF CD4 AND THE TOTAL NUMBER OF LYMPHOCYTE COUNT (TLC) IN HIV/AIDS PATIENTS WITH AND WITHOUT ANTIRETROVIRAL THERAPYCD4 count is a marker for initial and follow up antiretroviral therapy (ART) in HIV/AIDS patients. It requires expensive equipment and skill to performed. World Health Organization (WHO) recommends total lymphocyte count (TLC) as a substitute marker for CD4 count to start ART. The aim of this study is to evaluate the correlation between CD4 count and TLC in baseline and follow up data as a guide for follow up therapy. This study was an analytical observational study of HIV/AIDS patients data in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung. It is part of IMPACT (Integrated Management for Prevention And Care and Treatment of  HIV/AIDS) study. The sample of 2,239  was divided into non ART and ART groups. The data was analyzed using correlation analysis. The results showed that the correlation between CD4 and TLC at baseline in male without ART was 0.644 (p=0.01), female without ART was 0.74 (p=0.01), male with ART was 0.67 (p=0.01), and female with ART was 0.601 (p=0.01). The correlation between CD4 and TLC at first follow up in male without ART was 0.056 (p=0.01), female without ART was 606 (p=0.01), male with ART was 0.569 (p=0.01), female with ART was 0.466 (p=0.01). The correlation between CD4 and TLC at second follow up in male without ART was 0.697 (p=0.01), female without ART was 0.306 (p=0.01), male with ART was 0.556 (p=0.01), female with ART was 0.561 (p=0.01). In conclusion, there is a good correlation between CD4 count and TLC so that TLC can be used as an alternative marker for follow up therapy.
Pengaruh Appointment Registration System terhadap Waktu Tunggu dan Kepuasan Pasien Yuli Susanti; Yudi Azis; Dadang Kusnadi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3172.028 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i1.1545

Abstract

Peningkatan derajat kesehatan dapat dicapai melalui kemudahan akses terhadap fasilitas kesehatan. Peningkatan peserta pada program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mengakibatkan antrian panjang di sarana pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode appointment registration system (ARS) terhadap waktu tunggu dan kepuasan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan sampel 380 orang dan observasi pada bulan Desember 2014 di RS Al-Islam Bandung. Analisis menggunakan structural equation modeling (SEM) dan production operation management-quantitative methods (POMQM). Hasil penelitian diperoleh kondisi pelaksanaan ARS (60,7%), waktu tunggu (59,1%), dan kepuasan pasien (67,3%) termasuk dalam kategori cukup. Terdapat pengaruh positif dan signifikan ARS terhadap waktu tunggu (51,84%), pengaruh positif dan signifikan waktu tunggu terhadap kepuasan pasien (25%), dan total pengaruh ARS terhadap kepuasan pasien (16,79%). ARS dapat menurunkan waktu tunggu secara efektif tetapi tidak semua metode ARS dapat menurunkan waktu tunggu. Simpulan, pasien RS Al-Islam Bandung merasa cukup puas terhadap pendaftaran appointment dan waktu tunggu. THE INFLUENCE OF OUTPATIENT APPOINTMENT REGISTRATION SYSTEM TO WAITING TIME AND PATIENT SATISFICATIONSHealth improvement can be achieved through accessibility to health services. An increased participants in the Health Insurance Program (HIP) resulted in a long queue in the hospital. This research aim was to analize influence of appointment registration system (ARS) to waiting time and patient satisfaction. Research method using patient satisfaction survey in 380 subjects and observation on December 2014 at Al-Islam Bandung Hospital. The result was analyzed using structural equation modeling (SEM) and production operation management-quantitative methods (POMQM). The results showed that the implementations of ARS (60,7%), waiting time (59,1%), and patient satisfaction (67,3%) were on moderate category. There was positive and significant influence of ARS to waiting time (51,84%). There was positive and significant influence of waiting time to patient satisfaction (25%) and total influence of ARS to patient satisfaction was 16,79%. The fastest waiting time in queue performance was appointment registration via sms/phone (33.76 minutes) and the longest waiting time was onsite booking (53.56 minutes). ARS could decreased waiting time significantly and effectively, but not all ARS methods could do the same. In Conclusion, the patients in Al-Islam Hospital had moderate satisfaction in appointment registration and waiting time.
Ekspresi Caspase-3 pada Kanker Payudara Tikus Setelah Pemberian Antikanker Brusein-A Muhartono Muhartono; Subeki Subeki
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.039 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2263

Abstract

Brusein-A diduga menyebabkan apoptosis. Salah satu protein yang berperan dalam proses apoptosis adalah caspase-3. Penelitian ini bertujuan mengetahui aktivitas antikanker brusein-A terhadap ekspresi caspase-3 pada kanker payudara. Penelitian menggunakan rancang acak lengkap. Sebanyak 27 ekor tikus betina berumur 12 minggu diberi dimethylbenzanthracene (DMBA) 20 mg/kgBB per oral selama 3 minggu sampai terbentuk kanker payudara. Selanjutnya, dibagi dalam 9 kelompok perlakuan brusein-A, yaitu 0; 2,5; 5; 7,5; 10; 12,5; 15; 17,5; dan 20 mg/L selama 28 hari. Parameter yang diukur adalah ekspresi caspase-3 yang dinilai berdasar atas persentase sitoplasma yang berwarna coklat. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Patologi-Anatomi dan Laboratorium Biokimia, Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong tahun 2015–2016. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi caspase-3 rata-rata pada dosis 0 mg/L sebesar 4%, 2,5 mg/L sebesar 15,3%, 5 mg/L sebesar 21%, 7,5 mg/L sebesar 25%, 10 mg/L sebesar 41%, 12,5 mg/L sebesar 65%, 15 mg/L sebesar 75,3%, 17,5 mg/L sebesar 84%, dan 20 mg/L sebesar 94,7%. Hasil uji one way ANOVA menunjukkan perbedaan ekspresi caspase-3 rata-rata yang signifikan antarkelompok perlakuan (p=0,0001). Uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang sangat erat dan positif antara dosis brusein-A dan ekspresi caspase-3 (r=0,994). Simpulan, brusein-A meningkatkan ekpresi caspase-3 pada kanker payudara tikus yang diinduksi DMBA.CASPASE-3 EXPRESSION ON BREAST CANCER RATS AFTER BRUSEIN-A ADMINISTRATIONBrusein-A is thought to cause apoptosis. Caspase-3 is a protein that plays a role in the process of apoptosis. This study aims to determine anticancer activity of brusein-A on the expression of caspase-3 in breast cancer. This study uses a completely randomized control design. A total of 27 female rats, 12 week aged, were given 20 mg dimethylbenzanthracene (DMBA)/kgBW peroral for 3 weeks until they had breast cancer. They divided into 9 treatment group of brusein A, that were 0, 2.5, 5, 7.5, 10, 12.5, 15, 17.5, and 20 mg/L for 28 days. Parameter measured were caspase-3 expression, assessed on the percentage of brown cytoplasm. This research was conducted in Pathology-Anatomy Laboratory and Biochemistry Laboratory, Research Center for Science and Technology (Puspiptek) Serpong in 2015–2016. The results showed caspase expression rate of 4%, 15.3%, 21%, 25%, 41%, 65%, 75.3%, 84%, and 94.7% on the dosage of , 2.5, 5, 7.5, 10, 12.5, 15, 17.5, and 20 mg/L respectively. The one way ANOVA test results showed significant difference of caspase-3 expression between treatment group (p=0.0001). Spearman's rank correlation test showed that a very close and positive relationship between brusein-A dose and caspase-3 expression (r=0.994). In conclusion, brusein-A increased caspase-3 expression in DMBA induced breast cancer rats.
High ESAT-6 Expression in Granuloma Necrosis Type of Tuberculous Lymphadenitis Wida Purbaningsih; Djatnika Setiabudi; Herri S. Sastramihardja; Ida Parwati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.992 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.3987

Abstract

A granuloma is one of host cellular immune response form to intracellular and persistent pathogens, and result in the aggregation of several activated immune cells. Intracellular pathogens manipulate host immune responses to avoid immune reactions. M. tuberculosis is the intracellular and persister pathogen, which can stimulate granuloma formation. The formation this granulomas still have different opinions, whether it is the host's way to isolate M. tuberculosis, or how these pathogens are to escape immune responses. Early secretory antigenic target (ESAT)-6 is a typical secretory protein produced by the locus of the gene region of difference (RD)-1 M. tuberculosis. ESAT-6 plays a role in the immunopathogenesis of tuberculosis. This study aims to compare ESAT-6 antigen expression from M. tuberculosis between granulomas with necrosis and granulomas without necrosis. This study was an analytic observation study with a cross-sectional design. Forty-six lymph node paraffin blocks from tuberculous lymphadenitis patients in Department of Anatomical Pathology, Dr. Hasan Sadikin General Hospital, Bandung in 2017 were made in preparations and stained by hematoxylin eosin to assess the presence of necrosis in granulomas, immunohistochemical using ESAT-6 antibodies, then it was quantified using histoscore. Histoscore for ESAT-6 not normally distributed, so it uses Mann-Whitney test used. The results showed that there were 31 granulomas with necrosis (histoscore mean=27.6%) and 15 granulomas without necrosis (histoscore mean=15.1%), there was a significant difference with p<0.05 (p=0.03). The conclusion of this study there is a high histoscore ESAT-6 expression in granuloma type of necrosis tuberculous lymphadenitis. EKPRESI ESAT-6 TINGGI PADA GRANULOMA LIMFADENITIS TUBERKULOSIS TIPE NEKROSISGranuloma merupakan salah satu bentuk respons imun seluler pejamu terhadap patogen intraseluler. Patogen intraseluler memanipulasi respons imun pejamu untuk menghindari reaksi imun. M. tuberculosis adalah patogen intraseluler dan persister yang dapat menstimulasi pembentukan granuloma. Terbentuknya granuloma masih memberikan pendapat yang berbeda, apakah merupakan cara tubuh untuk mengisolasi M. tuberculosis atau cara patogen ini untuk menghindari respons imun. Early secretory antigenic target (ESAT)-6 adalah protein sekretori khas yang dihasilkan oleh lokus gen region of difference (RD)-1 M. tuberculosis. ESAT-6 berperan dalam imunopatogenesis tuberkulosis. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan ekspresi antigen ESAT-6 M. tuberculosis antara granuloma dengan nekrosis dan granuloma tanpa nekrosis. Penelitian ini merupakan penelitian observasi analitik dengan desain cross sectional. Blok parafin kelenjar getah bening didapat dari pasien yang didiagnosis limfadenitis tuberkulosis di Departemen Patologi Anatomi, RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2017. Blok parafin tersebut dibuat blangko preparat dan diwarnai dengan hematoksilin eosin untuk menilai nekrosis pada granuloma serta imunohistokimia menggunakan antibodi ESAT-6. Kemudian, sediaan preparat imunohistokimia tersebut dikuantifikasi menggunakan metode histoscore sehingga didapatkan data berupa nilai skor dari pewarnaan ESAT-6. Selanjutnya, dilakukan uji beda antara histoscore granuloma dengan nekrosis dan granuloma tanpa nekrosis tersebut dianalisis karena nilai skor ESAT-6 berdistribusi tidak normal sehingga menggunakan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 31 granuloma dengan nekrosis (histoscore rerata=27,6%) dan 15 granuloma tanpa nekrosis (histoscore rerata=15,1%), serta terdapat perbedaan signifikan dengan p<0,05 (p=0,03). Simpulan, ekspresi ESAT-6 tinggi pada granuloma limfadenitis tuberkulosis dengan nekrosis.
Hubungan Jumlah Sel Limfosit dengan Usia dan Status Nutrisi pada Penderita Tuberkulosis Yura Pramesti Sahal; Apen Afghani; Rika Nilapsari
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2882.18 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1534

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah infeksi sistemik yang diakibatkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan dapat memengaruhi sistem imunologi. Indikator perubahan sistem imunologi seseorang dapat dilihat dari perubahan jumlah sel limfosit. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah limfosit dan status imunologi yang dilihat dari karakteristik usia dan status nutrisi. Penelitian ini menggunakan pendekatan potong lintang yang dilakukan dengan menggunakan rekam medis. Pada penelitian ini menggunakan total sampling dan didapatkan 41 sampel penderita TB paru di Rumah Sakit Umum Daerah Al-Ihsan Bandung pada periode Januari-Mei 2013. Data yang didapatkan dilakukan uji statistika dengan menggunakan uji Kolmogorov Smirnov. Hasil subjek yang didapatkan pada penelitian ini terdiri atas limfopenia 35 (85%) kasus dan normal 6 (15%) kasus. Setelah dilakukan uji statistik didapatkan tidak terdapat hubungan jumlah sel limfosit dengan usia pada penderita TB (p=0.692) dan tidak terdapat hubungan antara jumlah sel limfosit dengan status nutrisi penderita TB (p=0.996). Simpulan, tidak terdapat hubungan jumalh sel limfosit dengan usia dan status nutrisi. THE RELATIONSHIP OF LYMPHOCITE CELL COUNT WITH AGE AND NUTRITIONAL STATUS IN TUBERCULOSIS PATIENTSTuberculosis (TB) is systemic infection caused by bacteria of the Mycbacterium tuberculosis that influence immunological status. The indicator of immunological status changed is alteration of lymphocyte relative. The aims of this study is to investigate relationship between lymphopenia with immunological status in TB patients from characteristic of aged and nutritional status.  This research was using cross-sectional approach. This research was conducted using medical record sampling 41 pulmonary TB patient Al-Ihsan Hospital Bandung during January 2013-May 2013. The data were statistically analyzed using Kolmogorov Smirnov.  Subjects consisted of lymphopenia 35 (85.4%) cases and normal 6 (14.6%) cases. There was no significant relationship between lymphocyte cell count with aged group (p=0.692) and lymphocyte cell count with nutritional status in pulmonary TB (p=0.996). This research suggests to do further research with adequate sample and completed data.
Pemanfaatan Kalender 4M Sebagai Alat Bantu Meningkatkan Peran Serta Masyarakat dalam Pemberantasan dan Pencegahan Demam Berdarah Titik Respati; Eka Nurhayati; Mahmudah Mahmudah; Yudi Feriandi; Budiman Budiman; Fajar Awalia Yulianto; Kince Sakinah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (986.144 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1858

Abstract

Upaya pemberantasan sarang nyamuk yang dikenal selama ini adalah gerakan 3M, yaitu Menguras-Menutup-Mengubur. Program ini belum berjalan dengan optimal terbukti dengan masih tingginya insidensi DBD dan masih terjadi kejadian luar biasa. Dibutuhkan monitoring yang kuat untuk mencapai keberhasilan 3M. Penelitian ini bertujuan mempergunakan alat bantu berupa kalender 4M (Menguras-Menutup-Mengubur-Monitor) untuk dipergunakan sebagai alat monitoring dalam program pemberantasan sarang nyamuk. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus menggunakan teknik wawancara mendalam dan diskusi grup terfokus. Metode sampling yang digunakan adalah maximal variation sampling dengan teknik analisis triangulasi. Informan berasal dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, Puskesmas Tamansari, dan Kader Kesehatan di Kelurahan Tamansari selama bulan Juli 2015. Berdasarkan analisis data didapatkan bahwa masalah yang terjadi adalah pengabaian aktivitas rutin seperti 3M karena tidak terdapat mekanisme monitoring dan feedback. Salah satu keunggulan yang ada di lingkungan adalah motivasi dan partisipasi kader. Simpulan, kalender 4M berhasil dikembangkan sebagai sarana monitoring sekaligus edukasi untuk masyarakat. Kalender 4M merupakan alat bantu yang memfasilitasi keberadaan kader dalam mendukung program 3M. 4M CALENDAR AS MONITORING TOOLS TO INCREASE COMMUNITY PARTICIPATION IN DENGUE CONTROL PROGRAMDengue prevention program in Indonesia, 3M, Menguras-Menutup-Mengubur have not been optimal as can be seen from the still high cases of dengue and some outbreak in several areas. A good monitoring process is needed to ensure the success of this program. This study aimed to develop monitoring tools to assist monitoring process in dengue prevention program. This was a qualitative study with case study approach using in-depth interview and focus group discussion with informants from Bandung City Health Department, Tamansari Health center and community cadres on July 2015. Sample method used was maximal variation sampling with triangulation analysis method. Results showed community participation hindered by the lack of monitoring and feedback tools. On the other hands participations from cadres were good that can be used to support 3M program. In conclusion, to assist the monitoring process, a tool—4M (Menguras-Menutup-Mengubur-Monitor) calendar—is developed to assist health cadres in supporting 3M program through monitoring process as well as for education purposes. A strong commitment and collaboration between cadres and community is needed to ensure the success of 3M program.
Peningkatan Ekspresi Gen NKG2D Sel-sel NK oleh Brokoli untuk Mencegah Kanker Diana Krisanti Jasaputra; Khie Khiong Tjhia; Ervi Afifah; Hanna Sari W. Kusuma
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.449 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i2.2130

Abstract

Kanker termasuk kelompok penyakit tidak menular (non-communicable diseases atau NCD) dan penyebab kematian terbesar di dunia. Salah satu faktor yang memengaruhi perkembangan kanker adalah reseptor NKG2D (natural-killer group 2, member D) merupakan kompleks reseptor yang mengaktivasi sel NK dan penting dalam immunosurveilance kanker. Brokoli, sayuran golongan Cruciferae, mengandung glukosinolat dan isotiosianat. Glukosinolat akan dihidrolisis oleh mirosinase (thioglucodase β) dan membentuk senyawa isotiosianat. Senyawa isotiosianat penting untuk mencegah kanker adalah senyawa sulforafan. Tujuan penelitian adalah menilai efek brokoli dalam meningkatkan ekspresi reseptor NKG2D dalam rangka memperbaiki aktivitas sel NK untuk mencegah kanker. Penelitian ini bersifat prospektif eksperimental laboratorium bersifat komparatif yang dilakukan di Laboratorium Aretha Medika Utama pada Februari–Juli 2016. Brokoli di-freeze dryer dan dibuat tepung dua konsentrasi, yaitu 50 μg/mL dan 25 μg/mL. Penelitian diawali dengan perbanyakan sel NK (cell line), kemudian dilanjutkan dengan perlakuan selama 24 jam dan penilaian ekspresi gen NKG2D menggunakan qPCR. Data penelitian ekspresi gen NKG2D dihitung dengan rumus Livak dan dianalisis menggunakan uji ANOVA satu arah dan uji lanjutan Tukey (SPSS 16). Pemberian brokoli konsentrasi 50 μg/mL dan 25 μg/mL meningkatkan level ekspresi gen NKG2D yang mengindikasikan peningkatan aktivitas sel-sel NK. Simpulan penelitian ini adalah pemberian brokoli meningkatkan aktivitas sel-sel NK dalam mencegah dan melawan sel-sel kanker.INCREASED NKG2D GENE EXPRESSION OF NKG CELLS BY BROCCOLI TO PREVENT CANCERCancer is the non-communicable diseases (NCD) and the biggest cause of death in the world. One of the factors that affect cancer development is NKG2D receptors (natural-killer group 2, member D) is a receptor complex that activates NK cells and is important in cancer immunosurveilance. Broccoli, Cruciferae vegetable, contains glucosinolate and isothiocyanate. Glucosinolate will be hydrolysed by the mirosinase (thioglucodase β) and form the isothiocyanate compound. Isothiocyanate compounds essential to prevent cancer are sulforafan compounds. The objective of the study was to assess the effect of broccoli in enhancing NKG2D receptor expression in order to improve NK cell activity to prevent cancer. This experimental study is a comparative true experimental laboratory, conducted in the Aretha Medika Utama in February to July 2016. Broccoli was freeze dryer and made two concentrations of flour, 50 μg/mL and 25 μg/mL. The study begins with multiplication of NK cells (cell line), then continued with treatment for 24 hours and assessment of NKG2D gene expression using qPCR. NKG2D gene expression research data was calculated by Livak formula and analyzed using one-way ANOVA test and Tukey's advanced test (SPSS 16). The administration of broccoli concentrations of 50 μg/mL and 25 μg/mL increased the level of NKG2D gene expression, indicating an increase in NK cell activity. The conclusion of this study is the provision of broccoli increases the activity of NK cells in preventing and fighting cancer cells.
Influence of A Clear Vision on Nurse Performance at Al Islam Hospital Bandung Caecielia Wagiono; Prathama Gilang
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.984 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.2703

Abstract

Nurses have to work as a team to be able to perform their job effectively. One of the factors that play roles in building good teamwork is a clear vision. This study aimed to review the influence of a clear vision towards nurse performance at Al Islam Hospital Bandung in 2017. This study was a cross-sectional verification quantitative case study on a population of 212 nurses working at the inpatient unit of Al Islam Hospital Bandung. A sample of 147 nurses participated in the survey after the proportional stratified random sampling was applied based on the inpatient room and the length of the work period. Data collected by distributing questionnaires to nurses and head nurses. The statistical analysis was then performed using simple linear regression analysis. Pearson correlation coefficient formula was used to discover the correlation between two variables, followed by the determination coefficient analysis to explain the strength of the influence the X variable has on the Y variable. Results showed that a clear vision gave 56.6% influence on the quantity of nurse performance, 57.9% influence on the quality of nurse performance, and 76.5% influence on both quantity and quality of nurse performance. In conclusion, a clear vision gives a positive impact towards nurse performance both quantitatively and qualitatively. Hence, clearer vision means better nurse performance.PENGARUH VISI YANG JELAS TERHADAP KINERJA PERAWAT DI RUMAH SAKIT AL ISLAM BANDUNGPerawat harus bekerja sama dalam satu tim agar memiliki kinerja yang tinggi. Salah satu yang berperan untuk membentuk kerja sama tim yang baik adalah visi yang jelas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh visi yang jelas terhadap kinerja perawat di Rumah Sakit Al Islam Bandung pada tahun 2017. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus dengan jenis penelitian analisis kuantitatif yang menggunakan rancangan cross sectional dan verifikatif. Populasi penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Al Islam Bandung sebanyak 212 orang. Sampel diambil menggunakan proportional stratified random sampling berdasar atas ruang rawat inap dan masa kerja perawat, yaitu sebanyak 147 orang. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membagikan kuesioner kepada perawat dan kepala perawat. Data dianalisis dengan analisis regresi linear sederhana. Untuk mengetahui korelasi kedua variabel digunakan rumus koefisien korelasi Pearson, kemudian analisis koefisien determinasi untuk menjelaskan seberapa besar perubahan nilai pada variabel Y dapat diprediksi oleh perubahan variabel X. Hasil analisis data menunjukkan bahwa visi yang jelas memberikan pengaruh sebesar 56,6% terhadap kuantitas kinerja perawat, 57,9% terhadap kualitas kinerja perawat, dan 76,5% terhadap kuantitas dan kualitas kinerja perawat. Simpulan, visi yang jelas memberikan pengaruh positif terhadap kinerja perawat baik secara kuantitas maupun kualitas, semakin tinggi atau kuat visi yang jelas maka semakin meningkat kinerja perawat.
Peran Kedelai (Glycine max L.) dalam Pencegahan Apoptosis pada Cedera Jaringan Hati Maya Tejasari; Nurhalim Shahib; Djanuarsih Iwan; Herri S. Sastramihardja
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3043.981 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i1.1525

Abstract

Pada liver injury akibat berbagai sebab, terjadi apoptosis sel yang sangat banyak yang dapat memengaruhi fungsi metabolik hati. Isoflavon kedelai telah diketahui dapat mencegah apoptosis sel pada folikel ovarium dan osteoblas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedelai pada pencegahan apoptosis sel pada jaringan hati mencit yang diinduksi CCl4. Penelitian dilakukan menggunakan 30 ekor mencit jantan galur DDY berumur 8─10 minggu yang dibagi dalam 6 kelompok perlakuan.  Kelompok 1 merupakan kontrol positif yang hanya diberi makanan pelet standar selama 3 minggu kemudian diberi 0,2 mL larutan CCl4 per oral selama 4 hari. Kelompok 2 merupakan kontrol negatif yang hanya diberi makanan pelet standar dan tidak diberi CCl4, sedangkan kelompok 3─6 merupakan kelompok uji yang selain diberi makanan pelet standar juga diberi kedelai dengan kadar berturut-turut 145,6 mg/hari, 218,4 mg/hari, 291,2 mg/hari dan 364 mg/hari selama 3 minggu kemudian diberi 0,2 mL larutan CCl4 peroral selama 4 hari. Seluruh kelompok kemudian dikorbankan dan diambil organ hatinya untuk dilakukan pemeriksaan histokimia terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated dUTP Nick end labeling (TUNEL). Parameter yang diukur adalah jumlah apoptosis sel pada sayatan jaringan hati mencit menggunakan mikroskop cahaya.  Data disajikan dan dianalisis secara statistik menggunakan uji analysis of varians (ANOVA) untuk menganalisis perbedaan antar kelompok. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa dari hasil pemeriksaan imunohistokimia TUNEL tampak jumlah sel yang mengalami apoptosis pada kelompok yang diberi kedelai lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi kedelai. Analisis uji ANOVA antara kelompok tersebut menunjukan perbedaaan yang signifikan dengan nilai p<0,05. Simpulan, bahwa pemberian kedelai dapat mencegah apoptosis sel pada jaringan hati mencit yang diinduksi CCl4. SOY (GLYCINE MAX L.) PREVENT APOPTOTIC CELLS IN LIVER TISSUE INJURYIn the state of liver injury by any cause there are numerous apoptotic cells influencing metabolic function of the liver. Soy isoflavone (Glycine max L.) known to have effect that inhibit apoptotic cells in follicle and osteoblast.  The aim of this study is to evaluate whether soy has anti apoptotic effect of CCl4 induced liver  injury in mice. This study use 30 male DDY mice 8─10 weeks old, divided into 6 groups. Group I acted as positive control, received standard pellet for 3 weeks and induced by 0,2 mLCCl4 per oral. Group II, the negative control, received only standard pellet. Group III─VI received standard pellet and treated by soybean extract 145.6 mg, 218.4 mg, 291.2 mg and 364 mg per day respectively administrated orally for 3 weeks and then induced by 0.2 ml CCl4 per oral. After 4 days of CCl4 induced, the effect of soybean extract was evaluated using histo-chemistry evaluation Terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated dUTP nick end labeling (TUNEL). The identification and quantification of the apoptotic cells in mice liver tissue were done using light microscopy and showed that the TUNEL immune-histochemical examination. The results showed that the number of cells undergoing apoptosis in the group treated by soybean extract were less than the group that was not treated. The results enhanced by analysis of varians (ANOVA) between the groups showed a significant difference with p<0.05. In conclusion, soy administrated orally could  prevent apoptotic cells in liver tissue.