cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
Soursop Effect in Cervical Cancer Apoptosys Mechanism Lelly Yuniarti; Herri S. Sastramihardja; Wida Purbaningsih; Maya Tejasari; Titik Respati; Enggar Hestu; Agly Adithya
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3993.352 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i1.1524

Abstract

Cervical cancer is the fifth leading cancer cause of women death in Indonesia. Acetogenin, flavonoids, and tannins in sour sop leaves have anti-cancer effects through regulated genes which involved in apoptotic process such as in caspase-3. This study aimed to determine the effect of ethanol extract of sour sop leaves to apoptosis and caspase-3 gene expression in HeLa cell cultures. This was an in vitro study using HeLa cell culture samples divided into 4 groups in Laboratory of Biological Science Center Institute Technology Bandung. The first group was HeLa cell cultures without  sour sop leaves ethanol extract. The 2nd,3rd, and 4th group were HeLa cells cultures which were given sour sop leaves ethanol extract with concentration of 60 μg/mL, 120 mg/mL, and 240 mg/mL respectivelly. Apoptosis in each group was examined using terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated (TUNEL) method and the expression of the caspase 3 gene by reverse transciptase-polimerase chain reaction (RT-PCR). One way analysis of varians (ANOVA) with confidence level of 95% were used as statistical analysis. The result showed the effect of the sour sop leaves ethanol extract increased the apoptosis percentage in HeLa cells culture but did not affect the gene expression of caspase-3. EFEK DAUN SIRSAK DALAM MEKANISME APOPTOSIS KANKER SERVIKSKanker serviks adalah penyebab kematian kelima untuk wanita di Indonesia. Asetogenin, flavonoid, dan tanin dalam daun sirsak terbukti mempunyai pengaruh antikanker melalui regulasi gen melalui proses apoptosis seperti pada caspase-3. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek ekstrak etanol daun sirsak untuk apoptosis dan ekspresi gen caspase-3 dalam kultur sel HeLa. Penelitian ini adalah penelitian in vitro menggunakan sel kultur HeLa yang dibagi menjadi 4 kelompok dilakukan di Laboratorium Biological Science Center Institut Tehnologi Bandung. Grup pertama adalah sel kultur HeLa tanpa ekstrak etanol daun sirsak sedangkan grup dua, tiga dan empat adalah sel kultur HeLa yang mendapat ekstraks etanol daun sirsak dengan konsentrasi 60 μg/mL, 120 mg/mL, dan 240 mg/mL secara berturut-turut. Apoptosis dalam setiap kelompok diperiksa dengan menggunakan metode terminal deoxynucleotidyl transferase-mediated (TUNEL) dan ekspresi gen caspase-3 dengan menggunakan reverse transciptase-polimerase chain reaction (RT-PCR). One way analysis of varians (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% digunakan untuk analisis statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun sirsak meningkatkan persentase apoptosis dari kultur sel HeLa tetapi tidak berpengaruh pada ekspresi gen caspase-3.
Effects of Metformin, Avocado Seed, and Diabetic Ingredients Infusion to Weight and Fasting Blood Glucose on Sucrose Diet Rats Jasaputra, Diana Krisanti; Wargasetia, Teresa Liliana; Elizabeth, Elizabeth
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (881.279 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.2917

Abstract

Metformin, an oral hypoglycemic drug which has metabolic effects and weight loss after 6–9 months; however, after 18 months, these effects disappear. Oral hypoglycemic drugs with no effect on raising the weight are needed. The objective of the study is comparing the effects of metformin, avocado seed infusion (AS), and diabetic ingredients/DI (green chiretta, Java tea, and bitter grapes) in increasing weight and fasting blood glucose of rats with sucrose diet. The research was conduct at the Pharmacology Laboratory, Faculty of Medicine Universitas Kristen Maranatha in February–August 2017. The results showed that metformin within six weeks reduced weight (75.55%) compared to control (+) with a hypercaloric diet (114.36%). Metformin and hypercaloric diet in rats for 14 weeks showed a 125.66% increase in weight, higher than control (+) (114.36%), although not significant (p>0.05). Weight in rats with hypercaloric and AS diet for 14 weeks was 94.30% and 81.68% in DI was lower than control (+) (114.36%), but not significant (p>0.05). Fasting blood glucose (FBG) of dietary hypercaloric rats and metformin was 123.75 mg/dL, higher than control (+), which was 85.75 mg/dL (p<0.01), whereas FBG infusion of AS and DI during 14 weeks: 85.75 mg/dL, and 99.50 mg/dL, not significant to control (+) (p>0.05). In conclusions, metformin increased rats body weight even though not significantly and fasting blood glucose in rats fed a hypercaloric diet for 14 weeks, while avocado seed infusion and diabetec ingredients infusion did not. EFEK METFORMIN, INFUSI BIJI ALPUKAT, DAN INFUSI RAMUAN DIABETES TERHADAP BERAT BADAN DAN GLUKOSA DARAH PUASA PADA TIKUS DIET SUKROSAMetformin, obat hipoglikemik oral berefek metabolik dan menurunkan berat badan (BB) setelah 6–9 bulan, namun setelah 18 bulan efek ini hilang. Diperlukan obat hipoglikemik oral yang tidak berefek meningkatkan BB. Tujuan penelitian ini membandingkan efek metformin, infusi biji alpukat (BA), dan infusi ramuan diabetes/RD (sambiloto, kumis kucing, dan bratawali) dalam meningkatkan BB dan glukosa darah puasa pada tikus diet sukrosa. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi, Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha periode Februari–Agustus 2017. Hasil penelitian menunjukkan metformin dalam waktu 6 minggu mengurangi penambahan BB (75,55%) dibanding dengan kontrol (+) diet hiperkalori (114,36%). Pemberian metformin dan diet hiperkalori pada tikus selama 14 minggu menunjukkan kenaikan BB 125,66%, lebih tinggi dibanding dengan kontrol (+) (114,36%), walaupun tidak signifikan (p>0,05). Berat badan pada tikus dengan diet hiperkalori dan infusi BA selama 14 minggu adalah 94,30% dan  RD 81,68%, lebih rendah dibanding dengan kontrol (+) (114,36%), namun tidak signifikan (p>0,05). Glukosa darah puasa (GDP) tikus diet hiperkalori dan metformin adalah 123,75 mg/dL, lebih tinggi dibanding dengan kontrol (+) 85,75 mg/dL (p<0,01), sedangkan GDP infusi BA dan RD selama 14 minggu adalah 85,75 mg/dL dan 99,50 mg/dL, tidak signifikan terhadap GDP kontrol (+) (p>0,05). Simpulan, metformin meningkatkan berat badan tikus walau tidak signifikan dan meningkatkan glukosa darah puasa pada tikus diet hiperkalori selama 14 minggu, sedangkan infusi biji alpukat dan ramuan diabetes tidak.
Perbandingan Pengetahuan dengan Sikap dalam Pencegahan Demam Berdarah Dengue di Daerah Urban dan Rural Titik Respati; Budiman Budiman; Eka Nurhayati; Fajar A. Yulianto; Yudi Feriandi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.618 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.1598

Abstract

Demam berdarah dengue tidak saja menimbulkan beban penyakit, akan tetapi juga beban ekonomi yang tinggi bagi individu, keluarga maupun negara. Belum terdapat obat atau vaksin yang efektif telah membatasi pilihan dalam melakukan pencegahan dan pengobatan. Program yang dilaksanakan adalah vektor kontrol untuk membatasi transmisi virus yang memerlukan peran serta masyarakat secara terus menerus. Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan persepsi tentang penyakit dengan praktik dalam pencegahan demam berdarah di daerah urban (Tamansari) dan daerah rural (Ciparay). Penelitian dilakukan pada total 208 responden di Tamansari Bandung dan 122 responden di Ciparay pada bulan Februari sampai Maret 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi lingkungan di kedua daerah belum baik dengan sanitasi dasar terutama sistem pembuangan air limbah yang belum memadai. Perbedaan tampak dalam hubungan antara persepsi mengenai demam berdarah dan sikap dalam praktik pencegahan. Di Tamansari persepsi mengenai demam berdarah dengue berhubungan dengan sikap dalam memberantas sarang nyamuk (OR 14,297; p<0,05). Ciparay menunjukkan fenomena yang berlawanan, persepsi mengenai demam berdarah dengue tidak berhubungan dengan sikap dalam pemberantasan sarang nyamuk (OR 0,327; p>0,05). Simpulan, terdapat perbedaan persepsi dengan praktik pencegahan demam berdarah dengue antara responden Tamansari dan Ciparay. COMPARISON ON KNOWLEDGE, ATTITUDE AND PRACTICE REGARDING DENGUE PREVENTION IN URBAN AND RURAL AREADengue fever is not only become a burden of disease but can also become burden on economy affected individual person, family and country. At present there weren’t any specific drug and no effective vaccine yet, that the prevention was limited to disease prevention through disease management and vector control which needed continuing community participation. This study aims to understand the difference between perception and the practice in vector control activities between urban and rural areas. Data was collected using questionnaires from 208 and 122 respondents from Tamansari dan Ciparay respectively since February to March 2015. Results showed that the environment condition in both study area were not good especially for the basic sanitation facilities. There were differences between perception of the disease and the practice of vector control in these two areas. Perception of the disease associate with practice in vector control in Tamansari was OR  14.297, p<0.05 while it was the other way in Ciparay was OR 0.327,  p>0.05. In conclusion there are differences between Tamansari and Ciparay regarding perception of dengue fever with the practice on vector control.
Asimetri Supply dan Demand dalam Pemenuhan serta Pemerataan Dokter di Puskesmas di Jawa Barat Elsa Pudji Setiawati; Nita Arisanti; Insi Farisa Desy Arya; Lukman Hilfi; Sekar Ayu Paramita
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.846 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.2020

Abstract

Pada implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan harus ditangani di pelayanan kesehatan primer terlebih dahulu. Puskesmas merupakan bentuk pelayanan kesehatan primer yang dituntut memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dan prima. Sumber daya manusia (SDM)adalah faktor penting dalam pencapaian kinerja. Manajemen SDM membahas ketersediaan SDM sesuai dengan kualifikasi, kompetensi, dan motivasi. Tujuan penelitian ini menganalisis kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan dokter di pelayanan kesehatan primer. Penelitian menggunakan metode deskriptif untuk menjelaskan kesenjangan kebutuhan dokter ditinjau dari standar dokter dengan jumlah penduduk, ketersediaan dokter dan puskesmas terhadap jumlah penduduk, serta minat dokter bekerja di puskesmas pada era implementasi JKN. Penelitian dilakukan di Kota Bandung pada April−Mei 2015. Hasil kajian menyatakan terdapat kesenjangan antara kebutuhan dokter di puskesmas dan dokter yang berminat bekerja di puskesmas. Penyebab minat dokter yang bekerja di layanan primer rendah disebabkan oleh ketidakjelasan pengembangan profesionalisme; ketidakpuasan pembayaran sistem kapitasi; lingkungan kerja kurang menyenangkan; beban kerja yang tinggi; pendapatan berdasar atas jasa medis yang diterima rendah; dan proses pendidikan yang kurang membangun minat untuk bekerja di layanan primer. Simpulan, terdapat kesenjangan kebutuhan dokter di puskesmas dengan dokter yang berminat bekerja di puskesmas. Disarankan memperbanyak program pada masa pendidikan kedokteran yang dapat membangun minat bekerja di layanan primer.ASYMETRI OF SUPPLY AND DEMAND FOR DISTRIBUTION OF MEDICAL DOCTOR IN PRIMARY HEALTH CARE IN WEST JAVAThe implementation of the National Health Insurance required people who need health services to be treated first in primary health care (PHC). PHC required quality health services and one of the important factor was human resources. Human resources management was needed to ensure the adequacy of human resources both in quantity and quality, the availability of appropriate qualification, competence and motivation to work in an organizational unit. The objective of this study was to analyze the gap between supply and demand of the doctors working in PHC. This study was a case report using descriptive methods, to explain the gap between supply and demand of the doctors in term of the standard for population, availability the doctors and PHC. The study was conducted in Bandung City during April−May 2015. The study found that there was a gap between the supply and demand of doctors who were interested to work in PHC. The reason of low interest doctors working in PHC among others were, uncertain professional development; dissatisfaction on capitation payment system; less convenient work environment; the high workload and too many government programs; low income based on medical services cost; and the process of education in medical school were delivered to make less interest to work in PHC. In conclusion, there is gap between supply and demand of doctor to work in PHC. The recommendation is encouraging interaction between the medical students with the primary care services to build the medical student’s motivation.
Karakteristik Pendonor Darah dengan HIV Reaktif Positif Melalui Rapid Test HIV Tiga Metode Marlina Rajagukguk; Ricke Loesnihari; Sri Amelia; Tetty Aman Nasution; Ozar Sanuddin
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.967 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i1.2418

Abstract

Penyakit HIV/AIDS merupakan masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak negara di dunia. Keadaan ini menyebabkan krisis multidimensi bahkan kematian karena sekali terinfeksi akan tetap terinfeksi. Risiko penularan human immunodeficiency virus (HIV) melalui perilaku berisiko dan transfusi darah sebesar 90%. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan faktor risiko pada pendonor darah dengan HIV reaktif positif menggunakan rapid test HIV tiga metode di Palang Merah Indonesia (PMI) Medan. Jenis penelitian ini adalah uji diagnostik dengan memakai rapid test HIV tiga metode pada 75 sampel darah pendonor yang dianggap berisiko. Penelitian dilakukan di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Medan sejak Desember 2015 sampai Juni 2016. Kriteria inklusi, yaitu memenuhi syarat donor yang ditetapkan PMI. Pendonor mempunyai karakteristik perilaku berisiko seperti pengguna jarum suntik (penasun), bertato/tindik, seks bebas, homoseks, pernah berobat kulit, dan pernah menerima transfusi darah. Hasil penelitian terdapat hubungan bermakna kejadian reaktif positif HIV secara rapid test HIV tiga metode dengan nilai p=0,031 sebagian besar reaktif positif memiliki lebih dari satu karakteristik. Dari 75 sampel darah berisiko didapat 19 sampel darah (0,25%) reaktif positif HIV dan 6 sampel (0,08%) indeterminate dan reagen yang paling efektif memeriksa adalah oncoprobe. Simpulan, pendonor dengan hasil reaktif positif HIV secara rapid test HIV tiga metode memiliki karakteristik perilaku berisiko lebih dari satu. CHARACTERISTICS OF BLOOD DONORS WITH HIV REACTIVE POSITIVE THROUGH THE THREE METHODS OF HIV RAPID TESTHIV/AIDS is a big problem that threatens Indonesia and many countries in the world. This situation causes multidimensional crises and even deaths because once a person  infected they will remain infected. The risk of transmission of human immunodeficiency virus (HIV) through risky behavior and blood transfusions by 90%. This study aims to determine the characteristic of blood donors with HIV reactive positive using three methods of HIV rapid test at Indonesian Red Cross (PMI) Medan. This study was a diagnostic test using three methods of HIV rapid test on 75 blood samples. The study considered to be at risk directly at blood donor site of Blood Transfusion Unit (UTD) PMI Medan from December 2015 to June 2016 with inclusion criteria that meet the donor requirements set by PMI and risky donors such as users of syringes (IDUs), tattoos/piercing, free sex, homosexuals, have had skin treatment and have received blood transfusions. The results of this study concluded that there was a significant association between HIV reactive positive occurrences in the three methods of HIV rapid test with p=0.031 where most reactive positive had more than one risk behavior. Of the 75 blood samples at risk in 19 blood samples (0.25%) were positively HIV reactive and six samples (0.08%) were indeterminate. The most effective reagent check was oncoprobe. In conclusions, blood donors with HIV reactive positive results in three methods of HIV rapid test have multiple risk factors.
Nilai Mean Corpuscular Volume (MCV) Sebagai Petunjuk Ketaatan Minum Obat pada Penderita HIV Rudolf Andean Manullang; Rudi Wisaksana; Rachmat Sumantri
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2241.541 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1511

Abstract

Pengobatan antiretroviral (ARV) pada penderita HIV mengubah secara dramatis prognosis penderita HIV tetapi memerlukan ketaatan pengobatan yang sempurna. Hingga saat ini penilaian ketaatan pengobatan ARV merupakan hal yang sulit dikerjakan karena ketiadaan metode penilaian yang ideal tetapi dapat digunakan sehari-hari di klinik. Pada penderita HIV yang mendapat pengobatan ARV, evaluasi ketaatan minum obat ARV sangat penting. Ketidaktaatan minum obat pada penderita HIV memberikan konsekuensi yang beragam, seperti kegagalan pengobatan, resistensi obat, dan terbentuk strain virus baru. Kegagalan pengobatan yang terjadi akan menimbulkan efek besar terhadap penderita dan keluarganya dari segi ekonomi maupun sosial mengingat sebagian besar penderita HIV adalah pria usia produktif. Evaluasi ketaatan minum obat dengan optimal lebih baik dibandingkan dengan menunggu terjadi kegagalan virologis. Nilai mean corpuscular volume (MCV) merupakan parameter hematologis yang sederhana dan dapat membantu proses evaluasi ketaatan minum obat. Perlu diperhatikan pada penderita HIV yang mendapat obat zidovudin atau stavudin, tidak terdapat makrositosis sebelum pengobatan, dan keadaan medis atau obat lain yang dikonsumsi penderita yang berpengaruh pada nilai MCV. Pemeriksaan viral load, CD4, dan keadaan klinis penderita tetap merupakan parameter utama yang harus digunakan dalam menilai respons pengobatan di sarana yang memadai. MEAN CORPUSCULAR VOLUME (MCV) AS AN ASSESSMENT OF ADHERENCE TO ANTI RETROVIRAL TREATMENT IN HIV PATIENTSAnti retroviral (ARV) in HIV patients dramatically changed the prognosis of patients with HIV but requires perfect adherence to treatment. Until now the assessment of adherence to ARV treatment is difficult because ideal method of assessment to use in day-to-day practice is unavailable. Adherence to treatment for HIV patients receiving ARV is very important since the inconstancy resulted in in several problem such as treatment failure, drug resistance, and development of new virus strain. Treatment failure will resulted in magnitude effect both for the patients and family since patients usually are productive age males. To evaluate treatment adherence is much better than waiting for virology failure. Mean corpuscular volume (MCV) value is a basic hematology parameter that can be used to evaluate the process of treatment adherence. The use of this parameter needed to take into account patients with zidovudine or stavudine treatment, ensure there is no macrocytosis before treatment and other medical status or drug consumed which can contribute to MCV value. Viral load, CD4, and patients clinical status still become the main parameter to be used to evaluate treatment responses on HIV patients in adequade facilities.
Efek Pemberian Seduhan Teh Hijau terhadap Gelombang Alfa Otak pada Mahasiswa Tingkat Akhir Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Helga Marwa Afifah; Santun Bhekti Rahimah; Miranti Kania Dewi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2117.078 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i2.1550

Abstract

Teh merupakan bahan alam yang sudah dikenal memiliki banyak manfaat salah satunya sebagai zat relaksan. Sifat relaksan diperoleh dari kandungan senyawa pada teh terutama teh hijau yaitu L-teanin yang memicu peningkatan aktivitas gamma-aminobutyric acid (GABA), produksi serotonin dan dopamin, serta menghambat kerja glutamat. Efek keseluruhan L-teanin pada otak memicu seseorang menjadi rileks, kondisi rileks dapat dinilai dari aktivitas gelombang alfa otak. Tujuan penelitian ini menilai efek pemberian seduhan teh hijau terhadap gelombang alfa otak pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Unisba. Penelitian menggunakan metode eksperimental, melalui dua kali perekaman gelombang alfa otak sebelum dan setelah pemberian seduhan teh hijau yang mengandung 50 mg L-teanin dengan menggunakan brain wave sensors. Hasil penelitian dianalisis melalui Uji Wilcoxon. Penelitian dilakukan di Fakultas Kedokteran Unisba pada bulan April–Mei 2014. Sampel yang digunakan adalah mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Unisba yaitu sebanyak 30 orang, terdiri atas 13 laki-laki dan 17 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 28 dari 30 orang memperlihatkan peningkatan gelombang alfa otak setelah pemberian seduhan teh hijau dan hanya 2 orang yang memperlihatkan gelombang alfa otak yang lebih rendah. Hasil Uji Wilcoxon menunjukkan nilai signifikansi <0,001. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemberian seduhan teh hijau memiliki efek meningkatkan gelombang alfa otak pada mahasiswa tingkat akhir Fakultas Kedokteran Unisba. Hal ini dapat disebabkan karena aktivitas L-teanin dalam teh hijau yang dapat memicu aktivitas GABA, serotonin, dan dopamin serta menghambat kerja glutamat sehingga memicu kondisi relaksasi yang dinilai dalam gelombang alfa otak. THE EFFECT OF GREEN TEA TO ALPHA BRAIN WAVES OF FINAL STUDENTS OF FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITAS ISLAM BANDUNGTea is one of the natural materials that commonly known  that brings a lot of benefits to human beings. One of its benefits has been recognized as a relaxant substance, which is derived from L-theanine in green tea. It triggers not only an increase activity of gamma-aminobutyric acid (GABA), serotonin and dopamine production, but also inhibits the action of glutamate. The overall effect of L-theanine lies on brain activity, especially to alpha brain waves which stimulus a relax condition. The purpose of this study was to assess the effect of L-theanine in green tea against alpha brain waves to final students of Faculty of Medicine Universitas Islam Bandung. This research was conducted using experimental method, by recording alpha brain waves with brain wave sensors in two conditions, before and after the oral administration of green tea containing 50 mg L-theanine. The results were analyzed by the Wilcoxon test and targeted a study to final students of the Faculty of Medicine Unisba. Samples studied were 30 people, with 13 male and 17 female, from April to May 2014. The results showed that 28 of 30 people had a positive impact as it increasing the alpha brain waves after oral administration of green tea. Only two people showed a different impact as it decreasing the alpha brain waves. The results of Wilcoxon test showed a significance value of <0.001. It can be concluded that the distribution of green tea has the effect of increasing alpha brain waves to final students of Faculty of Medicine Unisba. This is mainly caused by the activity of L-theanine in green tea that can trigger the activity of GABA, serotonin and dopamine production, but inhibits the action of glutamate, therefore it stimulus the relax condition to people.
Mosquito Survey in the Campus Area of Universitas Padjadjaran Jatinangor in September to November 2016 Lia Faridah; Radiah Baizura; Sri Yusnita Irda Sari
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (15.764 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2533

Abstract

Sumedang regency reported being one of dengue endemic areas in West Java. The number of dengue fever patients in Sumedang District General Hospital increased in the last quarter of 2015. Universitas Padjadjaran (Unpad) is one of most significant areas in Jatinangor Sumedang where many people are doing their activity day and night. The purpose of the study was to identify what types of mosquito genera exist in Unpad campus according to the time and location. A field survey was conducted at 22 locations in Unpad campus using modified electric light trap placed indoor and outdoor at each site from September to November 2016. The modified electrical trap was turned on for 24 hours, and samples collected every 12 hours. Mosquitoes trapped were put into the plastic cup, labeled according to time collected, and brought to Parasitology Laboratory of Unpad for identification. The study result identified four types of mosquito genera which were Culex spp. (405), Armigeres spp. (70), Aedes spp. (33), and Anopheles spp. (10). Prevention toward potential breeding sites and protection using window net should be considered to reduce the risk of vector-borne diseases. In conclusion, Aedes spp. is the most active mosquito during the day while Culex spp. and Armigeres spp. are the most active mosquito during the night.SURVEI NYAMUK DI KAWASAN KAMPUS UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR PADA BULAN SEPTEMBER–NOVEMBER 2016Kabupaten Sumedang dilaporkan sebagai salah satu daerah endemik demam berdarah di Jawa Barat. Jumlah pasien demam berdarah yang datang ke Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang meningkat dalam tiga bulan terakhir pada tahun 2015. Universitas Padjadjaran (Unpad) merupakan salah satu wilayah yang terluas di Jatinangor Sumedang sebagai tempat banyak orang melakukan aktivitas pada siang dan malam hari. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi jenis genera nyamuk yang ada di kampus Unpad Jatinangor berdasar atas waktu dan lokasi. Survei lapangan dilakukan pada 22 lokasi di kampus Unpad Jatinangor pada bulan September–November 2016 menggunakan perangkap nyamuk cahaya yang dimodifikasi. Perangkap nyamuk ditempatkan di dalam dan luar ruangan untuk setiap lokasi. Perangkap nyamuk dipasang selama 24 jam, kemudian nyamuk dikumpulkan setiap 12 jam. Nyamuk yang terperangkap dikumpulkan dan dimasukkan ke dalam cangkir plastik, diberi label sesuai dengan waktu pengambilan, kemudian dibawa ke Laboratorium Parasitologi Unpad untuk diidentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan 4 genera nyamuk ditemukan di kampus Unpad Jatinangor, yaitu Culex spp. (405), Armigeres spp. (70), Aedes spp. (33), dan Anopheles spp. (10). Pencegahan pada tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk dan perlindungan menggunakan kawat nyamuk pada jendela harus dipertimbangkan untuk menurunkan risiko penyakit tular vektor. Simpulan penelitian ini, Aedes spp. merupakan nyamuk yang paling aktif pada siang hari serta Culex spp. dan Armigeres spp. yang paling aktif pada malam hari.
Gambaran dan Derajat Disfungsi Sendi Temporomandibula pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2013–2014 Randika Rachman; Caecielia Wagiono; Yuniarti Yuniarti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2545.897 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i1.1540

Abstract

Disfungsi sendi temporomandibula merupakan kelainan yang melibatkan sendi temoromandibula, otot-otot pengunyahan, dan berbagai struktur jaringan yang bersangkutan, ditandai dengan gejala utama berupa nyeri pada otot-otot pengunyahan dari sendi temporomandibula, suara sendi seperti clicking (keletuk sendi) dan krepitasi, serta keterbatasan dan deviasi pergerakan rahang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan derajat disfungsi sendi temporomandibula pada mahasiswa FK Unisba tahun akademik 2013–2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pemilihan subjek secara simple random sampling periode April–Juli 2014, didapatkan jumlah sampel sebesar 70 orang. Penelitian ini diperoleh dari hasil kuesioner dan pemeriksaan fisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian disfungsi sendi temporomandibula pada mahasiswa FK Unisba tahun akademik 2013–2014 adalah 61%. Derajat ringan 49%, derajat sedang 8%, dan derajat berat 4%. Gambaran manifestasi klinis untuk bunyi sendi 61%, nyeri mengunyah 6%, nyeri membuka mulut 7%, dan trismus 4%. Kebiasan buruk terjadi pada 46%, pola pengunyahan 37%, dan maloklusi 29%. Angka kejadian disfungsi sendi temporomandibula pada mahasiswa FK Unisba tahun akademik 2013–2014 sebesar 61%, manifestasi klinis berupa clicking yang disebabkan oleh pola pengunyahan satu sisi. DESCRIPTION AND DEGREE OF TEMPOROMANDIBULAR JOINT DYSFUNCTION IN MEDICAL STUDENTS OF UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG ACADEMIC YEAR 2013–2014Temporomandibular joint dysfunction is a disorder that involves temporomandibula joints, muscles of mastication, and a range of relevant network structures, characterized by major symptoms of pain in the masticatory muscles of the temporomandibular joint, the joint sound like clicking and crepitation, and limitations and deviation of the jaw movement. This study aimed to determine the description and degrees of temporomandibular joint dysfunction in medical students of Unisba academic year 2013–2014. This study used a descriptive method and the selection of subjects by simple random sampling in April–July 2014. The number of samples need 70 participants. This research was obtained from the questionnaire and physical examination. The results showed that the incidence of temporomandibular joint dysfunction in medical students in Unisba academic year 2013–2014 was 61%, with 49% mild degree, 8% moderate degree and 4% severe degree. Overview of the clinical manifestations were 61% for joints sound, chewing pain 6%, open mouth pain 7%, and trismus 4%. Description cause of parafunctional habit was 46%, mastication patterns 37%, and malocclusion 29%. In conclusions, incidence of temporomandibular joint dysfunction in medical students of Unisba academic year 2013–2014 is 61% with mild degree, clicking is clinical manifestation caused by one-side mastication patterns.
Hubungan Faktor Risiko dan Karakteristik Gejala Klinis dengan Kejadian Pneumonia pada Balita Lisa Adhia Garina; Sherly Fajariani Putri; Yuniarti Yuniarti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.156 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i1.2007

Abstract

Pneumonia masih merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada balita di negara berkembang. Faktor risiko pneumonia yang selalu ada (definite risk factor) meliputi gizi kurang, bayi berat lahir rendah (BBLR), tidak memberikan ASI, polusi udara di dalam ruang, dan pemukiman padat. Gejala pneumonia bervariasi bergantung pada usia penderita dan penyebab infeksinya. Tujuan penelitian ini menilai hubungan faktor risiko dan karakteristik gejala klinis dengan kejadian pneumonia pada balita. Penelitian cross sectional dilaksanakan di UPT Puskesmas Ibrahim Aji Kota Bandung periode April–Juni 2012 pada anak balita usia 6 bulan sampai dengan 59 bulan dengan diagnosis pneumonia dan bukan pneumonia berdasarkan kriteria WHO. Data demografis, faktor risiko, dan karakteristik gejala klinis dicatat dalam formulir penelitian. Penderita pneumonia pada balita terbanyak berusia 6–24 bulan (72%), berjenis kelamin laki-laki (63%), status gizi kurang (56%) berdasarkan BB/U, tidak BBLR (95%), diberikan ASI eksklusif (91%), dan imunisasi dasar lengkap (93%). Analisis uji hubungan antara kejadian pneumonia dan status gizi kurang berdasarkan BB/U didapatkan hasil p<0,001; r=-0,7 dengan lama demam (p=0,024; r=-0,2), lama batuk (p=0,048; r=-0,2), dan takipnea (p<0,001; r=-0,8). Simpulan, terdapat hubungan status gizi kurang, lama demam, lama batuk, dan takipnea dengan kejadian pneumonia pada balita.CORRELATION OF RISK FACTORS AND  CLINICAL CHARACTERISTICS WITH THE INCIDENCE OF PNEUMONIA IN CHILDREN UNDER FIVE YEARSPneumonia is the leading infectious cause of death in children mostly in developing countries. Risk factors on pneumonia include malnutrition, low birth weight, non breastfeeding, air room pollution, and densely populated area. Symptoms of pneumonia vary depending on the age of the patient and cause infection. The purpose of this study was to assess the relationship risk factor and characteristic clinical symptoms with pneumonia. Cross-sectional study in Primary Health Care Ibrahim Aji Bandung during April–June 2012 among children aged 6 months to 59 months with a diagnosis of pneumonia and not pneumonia based on WHO criteria. Data on demographic, risk factor, and characteristics clinical symptoms were recorded. Pneumonia mostly attacking age 6-24 months (72%), male (63%), malnutrition status (56%) based on the weight/age, non low birth weight (95%), exclusive breastfeeding (91%), and immunization (93%). The association between the incidence of pneumonia with poor nutritional status (p<0.001, r=-0.7), duration of fever (p=0.024, r=-0.2), duration of coughing (p=0.048, r=-0.2) and tachypnoea (p<0.001, r=-0.8).  In conclusion, there is a relationship between poor nutritional status, duration of fever, duration of coughing, and tachypnoea with pneumonia.