cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2023)" : 14 Documents clear
Isolasi dan karakterisasi cendawan endofit asal rizosfer bawang merah “Lembah Palu” dan potensinya menghambat penyakit bercak ungu Alternaria porri (ELL) CIF Sri Sudewi; Ratnawati Ratnawati; Kasman Jaya; Sitti Hardiyanti
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/28242

Abstract

The decrease in shallot production due to Alternaria porri infection can reach 50%-70% or can even cause crop failure. One of the biological control methods to overcome this is by utilizing antagonistic microbes. The purpose of this study was to identify endophytic fungi from the rhizosphere of shallots "Lembah Palu " that have the potential to inhibit the A. porri fungus that causes purple spot disease. Research January-September 2022, the activity began with isolating endophytic fungi using the surface sterilization method, followed by characterization and identification of morphology macroscopically and microscopically, compatibility testing between isolates, and antagonism power test. The results obtained 5 isolates of endophytic fungi identified in the genus Fusarium sp., Aspergillus flavus, Penicillium sp., Aspergillus niger, and Trichoderma sp. A total of seven compatible interactions between endophytic fungi resulted from compatibility tests, while 3 other interactions were not compatible. The antagonism test of 5 fungal isolates against the A. porri produced an average inhibition of ≥ 75%. The HKP5 isolate (Penicillium sp) had the best inhibition of 78.96%. This indicates that endophytic fungal isolates have some potencies the potential to be developed as biological control agents in an effort to support sustainable agriculture.ABSTRAKPenurunan produksi tanaman bawang merah akibat serangan Alternaria porri dapat mencapai 50%-70% bahkan dapat menyebabkan terjadinya gagal panen. Salah satu metode pengendalian hayati untuk mengatasi hal tersebut yaitu dengan memanfaatkan mikroba yang bersifat antagonis . Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi cendawan endofit asal rizosfer bawang merah “Lembah Palu” yang berpotensi dalam menghambat cendawan A. porri penyebab penyakit bercak ungu. Penelitian Januari-September 2022, kegiatan diawali dengan mengisolasi cendawan endofit menggunakan metode sterilisasi permukaan, dengan perendaman sampel akar berurutan dalam 2% Natrium hipoklorit, etanol 70% dan air steril, kemudian dikulturkan dalam media Potato Dextrose Agar (PDA). Selanjutnya setelah isolat tumbuh, disubkultur kembali untuk dilakukan karakterisasi dan identifikasi morfologi secara makroskopis dan mikroskopis, pengujian kompatibilitas antarisolat serta uji daya antagonisme. Dari hasil penelitian diperoleh 5 isolat cendawan endofit yang teridentifikasi dalam genus Fusarium sp., Aspergillus flavus, Penicillium sp., Aspergillus niger, dan Trichoderma sp. Sebanyak tujuh interaksi kompatibel antarcendawan endofit dihasilkan dari uji kompatibilitas, sedangkan 3 interaksi lainnya tidak kompatibel. Uji daya antagonisme 5 isolat cendawan terhadap patogen A. porri menghasilkan rata-rata daya hambat ≥ 75%. Isolat HKP5 (Penicillium sp) memiliki daya hambat terbaik sebesar 78,96%. Hal ini mengindikasikan bahwa isolat cendawan endofit berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens pengendali hayati dalam upaya mendukung pertanian berkelanjutan.
Biofertilizers and chemical fertilizer application for increasing the growth and yield of foxtail millet (Setaria italica (L.) P. Beauv.) in a pot experiment Reginawanti Hindersah; Andina Chotimah; Asana Matsuura; Yeni Wispa Dewi; Agung Karuniawan
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/28983

Abstract

Biofertilizers are recommended to improve crops yield but researches regarding biofertilizer inoculation on foxtail millet in Indonesia is still Tlimited. The objective of the experiment was to analyze the growth and yield responses of five local-millet accessions to Bacillus biofertilizer with reduced NPK fertilizer dose; and the germination rate of millet seeds. The pot experiment was arranged in randomized block design with 10 treatments and 10 replications. The treatments were combination of five millet accessions with one dose of NPK fertilizer, and half dose of NPK fertilizer with biofertilizer. Generally, half dose of NPK with Bacillus inoculation did not change the height of six-weeks old plant, and panicle weight and length of millet compared to one dose of NPK. However, this combined fertilizer increased plant height and panicle length of Mani-Mani 79. Reduced dose NPK with Bacillus inoculation increased panicles number of J3 but reduced that of Polman 3; moreover, this combined fertilizer increased the grain weight of J3 and J4, but decreased the yield of Polman 3. The Enrekang and Polman 3 accession had better germination rate; 92% and 89.33%, respectively. This research considered that Bacillus biofertilizer reduced NPK fertilizer dose by 50% and is suggested for growing millet.ABSTRAKPupuk hayati banyak disarankan untuk meningkatkan produksi tanaman tetapi riset mengenai inokulasi pupuk hayati pada jewawut aksesi lokal Indonesia belum banyak dilakukan. Percobaan ini bertujuan untuk menganalisis respons pertumbuhan dan hasil lima aksesi jewawut lokal terhadap inokulasi pupuk hayati Bacillus dan pengurangan dosis pupuk NPK; serta daya berkecambah biji jewawut setelah panen. Percobaan pot disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 10 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan percobaan adalah kombinasi lima aksesi jewawut dengan satu dosis pupuk NPK, dan setengah dosis pupuk NPK disertai pupuk hayati. Umumnya, tinggi tanaman umur enam minggu, serta bobot dan panjang malai jewawut dengan setengah dosis NPK disertai inokulasi Bacillus sama dengan tanaman yang diberi satu dosis NPK. Namun, tinggi tanaman dan panjang malai Mani-Mani 79 meningkat setelah aplikasi setengah dosis NPK dengan inokulasi Bacillus. Jumlah malai aksesi J3 meningkat sedangkan Polman 3 menurun dengan aplikasi setengah dosis NPK disertai inokulasi Bacillus. Kombinasi pupuk ini meningkatkan bobot biji J3 dan J4 tetapi  menurunkan hasil Polman 3. Aksesi Enrekang dan Polman 3 memiliki daya berkecambah yang lebih baik; masing-masing sebesar 92% dan 89,33%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pupuk hayati Bacillus dapat mengurangi dosis pupuk NPK sampai 50% dan dapat disarakan untuk tanaman jewawut.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi liberika (Coffea liberica) belum menghasilkan pada beberapa jenis pohon penaung Dewi Nur Rokhmah; Dani Dani; Sakiroh Sakiroh; Dibyo Pranowo; Kurnia Dewi Sasmita
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/25202

Abstract

Research on how shade trees affects growth and development of liberica coffee is still limited. Liberica coffee shade trees can take advantage from other plantation plants that are mature and have a high habitus. The research objective was to analyze the effect of shade trees on the growth and the development of immature liberica coffee. The research was conducted at the  the Pakuwon Experimental Station, Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute, Sukabumi from January 2021 to March 2022. The experiment was arranged in a randomized block design with five treatments and four replications. The treatment was shade tree, namely: (1) without shade as a control, (2) Averrhoa bilimbi, (3) Canarium sp., (4) Cassia spectabilis, and (5) Cocos nucifera L.. Observations were made on liberica coffee plants with the parameters of plant height, stem diameter, number of branches, leaf area, stomata density, leaf chlorophyll, soil fertility, percentage of flowering plants and average number of flowers. The results showed that the growth of liberica coffee plants with tall coconut shade was better than the others. The results of this study enrich information regarding the effect of several shade trees on immature liberica coffee plant in agroforestry systems.ABSTRAK Penelitian tentang pengaruh pohon penaung terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi liberika belum banyak dilakukan. Pohon penaung kopi liberika dapat memanfaatkan tanaman perkebunan lainnya yang sudah dewasa dan memiliki habitus tinggi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh jenis pohon penaung terhadap pertumbuhan dan perkembangan kopi liberika belum menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi mulai bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2022. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis pohon penaung, yaitu: (1) tanpa penaung sebagai kontrol, (2) belimbing wuluh, (3) kenari, (4)  ramayana, dan (5) kelapa dalam. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman kopi Liberika belum menghasilkan dengan parameter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, luas daun, kerapatan stomata, klorofil SPAD, kesuburan tanah, persentase tanaman berbunga dan rerata jumlah bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kopi liberika dengan penaung kelapa dalam lebih baik dibandingkan penaung lainnya. Hasil penelitian ini memperkaya informasi mengenai pengaruh jenis pohon penaung terhadap tanaman kopi liberika dalam sistem agroforestry.
Pengaruh aplikasi bio-invigorasi dan lamanya perendaman benih kedaluwarsa pada pertumbuhan dan hasil cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Anisa Umu Zarah; Syaiful Anwar; Rosyida Rosyida
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/26837

Abstract

The increasing chili consumption in Indonesia requires efforts to maintain and even improve seed quality. Efforts to maintain the quality of expired seeds can be applied through bio-invigoration and soaking of chili seeds. The research was done on March 26–September 30 2022 at Banyumas Plant Pest and Disease Laboratory, and screen house on Jl. Kramasari Bojong, Kawunganten, Cilacap, Central Java, 4x4 Factorial Completely Randomized Design, 48 experimental units. The first factor was bio-invigoration, B0=without bioinvigoration, B1=30% coconut water+B. subtilis and P. fluorescens, B2=24% shallot  extract+B. subtilisand P.fluorescens, and B3=24% bean sprout extract+B. subtilis and P. fluorescens. The second factor was soaking  time,  P0 = 0 hours, P1 = 24 hours, P2 = 48 hours, P3 = 72 hours. Parameters were seed germination (%), seed growth uniformity (%), vigor index, plant height (cm), number of leaves (strands), and fruit fresh weight (g). The results showed that seed quality parameters and plant height were better at 24 hours of immersion with all bioinvigoration. Still, the number of leaves and fruit fresh weight were effective at 24 hours of immersion with 30% coconut water+B. subtilis and P. fluorescens.ABSTRAKUpaya untuk mempertahankan bahkan meningkat kualitas benih cabai rawit perlu dilakukan karena peningkatan konsumsi di Indonesia. Upaya mempertahankan kualitas benih kedaluwarsa dapat dilakukan dengan pemberian bio-invigorasi dan perendaman pada benih cabai rawit. Penelitian dilaksanakan pada 26 Maret–30 September 2022 di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Banyumas, dan screen house di Jl. Kramasari Bojong, Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 4x4, 3 kali ulangan dengan 48 unit percobaan. Faktor pertama adalah bio-invigorasi: B0=Tanpa bio-invigorasi, B1=30% air kelapa+B. subtilis dan P. fluorescens, B2=24% ekstrak bawang merah+B. subtilis dan P. fluorescens, dan B3=24% ekstrak tauge+B. subtilis dan P. fluorescens. Faktor kedua lama perendaman, P0=0 jam, P1=24 jam, P2=48 jam, P3=72 jam. Parameter yang diamati meliputi daya berkecambah benih (%), keserampakan tumbuh benih (%), indeks vigor, tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai) dan bobot segar buah (g). Hasil penelitian menunjukkan parameter kualitas benih dan tinggi tanaman efektif pada lama perendaman 24 jam dengan semua bahan bio-invigorasi, namun parameter jumlah daun dan bobot segar buah efektif pada perendaman 24 jam dengan 30% air kelapa+B. subtilis dan P. fluorescens.
Application of Rhizoctonia mycorrhiza and without Rhizoctonia mycorrhiza in improving vegetative growth of Dendrobium nindii seedlings R Soelistijono; Daryanti Daryanti; Siti Mardhikasari; Tyara Yunika Sari; Dian Rakhmawati
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/30844

Abstract

Dendrobium is a genus of orchid that has the most attraction among the public rather than other types, especially for orchid species such as Dendrobium nindii type. The obstacle in cultivating orchids species is the slow vegetative growth when compared to orchids resulting from crosses (hybrid orchids). This research aimed to determine the vegetative growth of D. nindii seedlings using Rhizoctonia sp. The research was conducted at the Greenhouse, Faculty of Agriculture, Tunas Pembangunan University from January to July 2023. The research used quantitative descriptive method consisting of one treatment with six replications and each replications contained ten plants. The factor was application of Rhizoctonia mycorrhiza and without application of Rhizoctonia mycorrhiza. The results showed that (1) the morphological characteristics of Rhizoctonia mycorrhiza were white colonies, with right-angled branches and two nuclei, (2) the application of mycorrhizal Rhizoctonia had a very significant effect on the vegetative growth of D. nindii as shown in the parameters of plant height, leaf length, number of leaves, root length, number of roots and fresh weight of seedlings, and (3) there was an association of Rhizoctonia mycorrhiza with the formation of the peloton structure.ABSTRAKDendrobium merupakan salah satu genus anggrek yang memiliki daya tarik paling banyak di masyarakat diantara jenis anggrek lainnya terutama untuk anggrek spesies seperti Dendrobium nindii. Kendala dalam budidaya anggrek spesies adalah pertumbuhan vegetatif yang lambat bila dibandingkan dengan anggrek hasil persilangan (anggrek hibrida). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan vegetatif bibit D. nindii dengan menggunakan Rhizoctonia sp. Penelitian dilakukan di Rumahkasa Fakultas Pertanian Unversitas Tunas Pembangunan dari Januari sampai Juli 2023. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan enam ulangan dan setiap ulangan terdiri enam tanaman. Faktor perlakuan adalah aplikasi Rhizoctonia mikoriza dan tanpa aplikasi Rhizoctonia mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan (1) ciri morfologi Rhizoctonia mikoriza berupa koloni berwarna putih, dengan percabangan siku-siku dan berinti dua, (2) pemberian Rhizoctonia mikoriza berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan vegetatif D. nindii  yang ditunjukan pada parameter tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar dan berat segar bibit, dan (3) terjadi asosiasi Rhizoctonia mikoriza dengan terbentuknya struktur peloton.
Substitusi sebagian pupuk anorganik dengan bahan organik terhadap ketersediaan N, P, K dan hasil tanaman jagung pada tanah inceptisol Jauhari Syamsiyah; Slamet Minardi; Jihad Khadaffi; Sri Hartati; Ganjar Herdiansyah
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/27875

Abstract

The reduced usage of inorganic fertilizers is needed to avoid various undesirable impacts. This study aimed to assess whether partial reduction of inorganic fertilizers with the use of organic fertilizers can maintain nutrient adequacy and yield of maize. The research was conducted in Juwiring, Klaten, Central Java from August 2021 - March 2022 designed in a Completely Randomized Group Design with seven fertilizer combination treatments, namely ¼ NPK + 1 organic fertilizer, ½ NPK + 1 organic fertilizer, ¾ NPK + 1 organic fertilizer,  ¾ NPK + ¾ organic fertilizer, and two comparison treatments namely no fertilizer and standard NPK (350 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1) repeated three times. The parameters observed were N-total soil and tissue, P-available soil, K-available available P and soil CEC, P and K levels of plant tissue. Organic fertilizer of 10 t ha-1 was applied a week before planting. The application of ½ NPK of the standard dose + 1 organic fertilizer showed higher N-total soil, P-available, and K-available as well as higher corn yield than the standard NPK treatment with the results of cob weight (22.52 g), cob weight without cob (13.92 g), cob length (21.47 g), and cob diameter (4.55 g) against the standard NPK treatment. The use of organic fertilizers needs to be done to maintain the sustainability of natural resources.ABSTRAK Pengurangan penggunaan pupuk anorganik perlu dilakukan untuk menghindari berbagai dampak yang tidak diharapkan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji apakah pengurangan sebagian pupuk anorganik dengan pupuk organik mampu menjaga kecukupan hara dan hasil jagung. Penelitian dilaksanakan di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah sejak Agustus 2021 – Maret 2022 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tujuh perlakuan kombinasi pupuk yaitu: ¼ NPK + 1 pupuk organik, ½ NPK + 1 pupuk organik, ¾ NPK + 1 pupuk organik(E), 1 NPK + 1 pupuk organik, ¾ NPK + ¼ pupuk organik, ¾ NPK + ½ pupuk organik, ¾ NPK + ¾ pupuk organik, dua perlakuan pembanding yaitu tanpa pupuk serta NPK standar (350 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1) yang diulang 3 kali. Parameter pengamatan yaitu N-total tanah dan jaringan, P-tersedia tanah, K-Tersedia tanah dan KTK tanah, serta kadar P dan K jaringan tanaman. Pupuk organik 10 t ha-1 diberikan seminggu sebelum tanam. Aplikasi ½ NPK dari dosis standar + 1 pupuk organik menunjukkan N-total, P-tersedia, dan K-tersedia tanah serta hasil jagung yang lebih tinggi dari perlakuan NPK standar dengan hasil berat tongkol berkelobot (22,52 g), berat tongkol tanpa kelobot (13,92 g), panjang tongkol (21,47 g), dan diameter tongkol (4,55 g) terhadap perlakuan NPK standar. Penggunaan pupuk organik perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya alam.
Perbandingan karakter fisiologi, pertumbuhan dan hasil varietas padi hitam lokal asal malang pada dua agroekosistem Fiky Yulianto Wicaksono; Putri Utami Suherman; Muhamad Kadapi
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/30045

Abstract

Black rice (Oryza sativaL.) is a health-beneficial food crop. No studies have investigated the ideal agroecosystem for achieving black rice's highest growth and yield. This study aimed to contrast the physiological characteristics, growth, and yield of black rice plants within two distinct agroecosystems: wetland and dryland. The study was conducted in a controlled screen house situated at an elevation of 750 meters above sea level, with a C3 agroclimatological zone according to the Oldeman classification. The research was conducted in April – November 2020. The research used quantitative methods without an experimental design. Two populations of black rice were planted in two agroecosystem treatments, conditioned as wetland and dryland. Observations were made on physiological characters (chlorophyll content index and stomatal conductance), growth components (plant height, number of tillers, shoot root ratio, dry weight, and leaf area index), and yield components (number of productive tillers, panicle length, number of grains per panicle, percentage of filled grain, and weight of 1000 grains). The results revealed that black rice plants in dry land had better growth, but had worse in physiological characteristics, yield components, and yields than in wet land.ABSTRAKPadi hitam (Oryza sativa L.) merupakan satu dari banyak tanaman pangan yang memiliki manfaat untuk kesehatan. Penelitian mengenai agroekosistem yang optimal bagi pertumbuhan dan hasil tanaman padi hitam belum dilakukan hingga saat ini. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbandingan fisiologi, pertumbuhan, dan hasil tanaman padi hitam pada dua agroekosistem, yaitu lahan basah dan lahan kering. Penelitian dilaksanakan dalam screen house pada ketinggian 750 m di atas permukaan laut dan merupakan zona agroklimatologi C3 berdasarkan klasifikasi Oldeman. Penelitian dilakukan pada bulan April – November 2020. Penelitian menggunakan metode kuantitatif tanpa rancangan percobaan. Dua populasi padi hitam ditanam pada dua perlakuan agroekosistem, dikondisikan sebagai lahan basah dan lahan kering. Pengamatan dilakukan pada karakter fisiologi (indeks kandungan klorofil dan konduktansi stomata), komponen pertumbuhan (tinggi tanaman, jumlah anakan, nisbah pupus akar, bobot kering tanaman, dan indeks luas daun), dan komponen hasil (jumlah anakan produktif, panjang malai, jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, dan bobot 1000 butir gabah). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tanaman padi hitam di lahan kering menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik, namun memiliki karakter fisiologi, komponen hasil, dan hasil yang lebih buruk daripada di lahan basah.
Hasil dan kualitas benih kedelai pada pola tanam bersisipan dan beruntun Rudi Hartawan; Yulistiati Nengsih; Adilla Adistya; Edy Marwan
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/22912

Abstract

Sequential and continuous cropping patterns are strategy to increase efficiency in soybean seed production. The research aimed to determine the impact of cropping patterns on yield and quality, also to obtain efficiency of manpower, nutrient and planting duration of soybean seed production. The research was conducted from January to October 2019. Soil fertility and compost  analysis  was  done  at  Center  for  Research  and  Development  of  Agricultural Land Resources, Bogor. Field research was at Sebapo experimental station. Proximate analysis was carried out at Center for Agricultural Postharvest Research and Development, Bogor. Seed testing was at Basic Laboratory of Batanghari University, Jambi. The research used completely randomized design with three replications. The treatment was cropping pattern: P0= standard, P1= sequential and P2= continuous. The variables observed were seed yield and quality, efficiency of manpower, nutrient and planting duration. The results showed that the seed yield of continuous cropping pattern decreased 16% and the sequential cropping pattern decreased 7.5%. The continuous cropping pattern increased manpower efficiency 22.88%, nutrient 75.30%, and planting duration 14.63%. The sequential cropping pattern increased manpower efficiency 8.25%, nutrient 75.35%, and planting duration 6.82%. The cropping pattern increased the efficiency of cultivation and did not affect the quality of soybean seed so that it can be used in soybean seed production.ABSTRAKPola tanam bersisipan dan beruntun merupakan strategi untuk meningkatkan efisiensi produksi benih kedelai. Penelitian bertujuan menetapkan dampak pola tanam terhadap  hasil dan kualitas, serta mendapatkan nilai efisiensi tenaga kerja, hara dan waktu dalam produksi benih kedelai. Penelitian dilaksanakan dari bulan Januari sampai Oktober 2019. Analisis kesuburan tanah dan kompos di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor. Penelitian lapangan di Balai Benih Induk Palawija, Sebapo. Analisis proksimat di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor. Pengujian benih di Laboratorium Dasar Universitas Batanghari, Jambi. Penelitian menggunakan rancangan lingkungan acak lengkap satu faktor dengan tiga ulangan. Rancangan perlakuan adalah  pola tanam: P0= standar, P1= pola tanam bersisipan dan P2= pola tanam beruntun. Peubah yang diukur adalah hasil dan kualitas benih, efisiensi tenaga kerja, hara dan waktu. Data penelitian menunjukkan hasil benih pola tanam bersisipan turun 16% dan pola tanam beruntun turun 7,5%.  Pola tanam bersisipan meningkatkan efisiensi tenaga kerja 22,88%, efisiensi hara 75,30%, dan efisiensi waktu 14,63%. Pola tanam beruntun meningkatkan efisiensi tenaga kerja 8,25%, efisiensi hara 75,35%, dan efisiensi waktu 6,82%. Pola tanam bersisipan lebih baik daripada pola tanam beruntun. Pola tanam meningkatkan efisiensi proses budidaya dan tidak memengaruhi kualitas benih sehingga dapat digunakan pada produksi benih kedelai.
Respons pertumbuhan bibit kopi arabika dan sifat kimia media tanam terhadap pemberian pupuk hayati dan pupuk organik Iing Sobari; Kurnia Dewi Sasmita; Dewi Nur Rokhmah; Sakiroh Sakiroh; Handi Supriadi
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/27343

Abstract

Using soil planting media with low fertility can inhibit seedling growth. Bbiofertilizer and organic fertilizer applications in plantation nurseries aim to improve the planting media quality and stimulate seedling growth. The effectiveness of biofertilizers is thought to be influenced by the carrier formula and the planting medium characteristics. This study aimed to determine the effect of biofertilizer formulas and organic fertilizer doses on the growth of Arabica coffee seedlings and the planting media chemical properties. The experiment used a randomized block design with two factors. The first factor was biofertilizer formula types, namely without biofertilizers, 10 g polybag-1 solid biofertilizer, and 10 ml polybag-1 liquid biofertilizer. The second factor was sheep manure dosage (2%, 4%, 6%, and 8%). The results showed that the solid biofertilizers significantly increased seed vigor (height, stem diameter, and number of leaves) of coffee seedlings aged 6 MAP (months after planting). The dose of 6% manure produced the highest leaf dry weight of coffee seedlings aged 6 MAP. Increasing the dose of manure from 2% to 8% could significantly increase the pH, organic C content, P-available, CEC, exchangeable pottasium, exchangeable calsium, and exchangeable magnesium of the planting medium. The application of solid biofertilizer formula and manure can support the production of good-quality Arabica coffee seedlings.ABSTRAKPenggunaan media tanam tanah dengan kualitas kesuburan yang rendah dapat menghambat pertumbuhan bibit. Aplikasi pupuk hayati dan pupuk organik pada pembibitan tanaman perkebunan bertujuan untuk memperbaiki kualitas media tanam dan memacu pertumbuhan bibit lebih optimal. Keefektifan pupuk hayati diduga dipengaruhi oleh formula bahan pembawa dan karakteristik media tanam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh formula pupuk hayati dan dosis pupuk organik terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika dan sifat kimia media tanam. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama terdiri dari formula pupuk hayati yaitu tanpa pupuk hayati, pupuk hayati padat 10 g polybag-1, pupuk hayati cair 10 ml polybag-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang domba (2%, 4%, 6%, dan 8%). Hasil percobaan menunjukkan bahwa aplikasi pupuk hayati padat secara nyata dapat meningkatkan vigor bibit (tinggi, diameter batang, dan jumlah daun) bibit kopi umur 6 BST (bulan setelah tanam). Dosis pupuk kandang 6% menghasilkan bobot kering daun bibit kopi umur 6 BST yang paling tinggi. Peningkatan dosis pupuk kandang 2% menjadi 8% dapat meningkatkan secara nyata pH, kadar C organik, P tersedia, KTK, K-dd, Ca-dd, dan Mg-dd media tanam. Aplikasi formula pupuk hayati padat dan pupuk kandang dapat menunjang produksi bibit kopi arabika yang berkualitas baik.
Analisis pertumbuhan dan hasil varietas bawang merah dengan pupuk hayati di luar musim tanam Hasna Marhama; Eddy Triharyanto; Maria Theresia Sri Budiastuti
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/30313

Abstract

The phenomenon of climate change has an impact on agricultural sector, including the cultivation of shallots. To meet the needs of the community, an approach is taken through the application of biofertilizers and the use of shallot varieties that are resistant to off-season cultivation. The research aimed to determine the optimal concentration of biofertilizer and the resilient shallot varieties for the off-season cultivation. This research was conducted in February–May 2023 in Ngringo Village, Jaten District, Karanganyar, Central Java, with an altitude of 189 masl. This study used a Split Plot Design method. Shallot Variety was the main plot, namely: Bima Brebes, Maja Cipanas, and Bali Karet. Biofertilizer concentration was the subplots, i.e : 0, 3, 6, 9, 12 ml l-1 per plot, resulting in 15 treatment combinations with three replications. Observation parameters included leaf area index, net assimilation rate, plant growth rate, bulb diameter, and bulb fresh weight. The results indicated that biofertilizers did not affect the growth of shallots. Regarding yield quality, a concentration of 12 ml l-1 per plot could increase bulb diameter and bulb fresh weight. The Bali Karet variety generated better bulb diameter and bulb fresh weight, and it is capable of adapting when planted off-season.ABSTRAKFenomena perubahan iklim berpengaruh pada sektor pertanian, termasuk budidaya bawang merah. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, dilakukan pendekatan dengan pemberian pupuk hayati dan penggunaan varietas bawang merah yang tahan ditanam di luar musim. Tujuan penelitian yaitu mengetahui konsentrasi optimal dari pupuk hayati dan varietas bawang merah yang tahan ditanam di luar musim. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Februari-Mei 2023 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah dengan ketinggian wilayah 189 mdpl. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok Petak Terbagi (Split Plot Design). Varietas bawang merah menjadi petak utama yaitu: Bima Brebes, Maja Cipanas, dan Bali Karet. Konsentrasi pupuk hayati sebagai anak petak, yaitu: 0, 3, 6, 9, dan 12 ml l-1 per petak, sehingga terdapat 15 petak kombinasi perlakuan yang diulang tiga kali. Parameter pengamatan meliputi indeks luas daun, laju asimilasi bersih, laju pertumbuhan tanaman, diameter umbi, dan bobot segar umbi. Hasil penelitian menunjukan pupuk hayati tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan bawang merah. Pada kualitas hasil, konsentrasi 12 ml l-1 per petak dapat meningkatkan diameter umbi dan bobot segar umbi. Varietas Bali Karet memiliki diameter umbi dan bobot segar umbi terbesar, serta mampu beradaptasi ketika ditanam di luar musim tanam.

Page 1 of 2 | Total Record : 14