cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Biofertilizers and chemical fertilizer application for increasing the growth and yield of foxtail millet (Setaria italica (L.) P. Beauv.) in a pot experiment Reginawanti Hindersah; Andina Chotimah; Asana Matsuura; Yeni Wispa Dewi; Agung Karuniawan
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/28983

Abstract

Biofertilizers are recommended to improve crops yield but researches regarding biofertilizer inoculation on foxtail millet in Indonesia is still Tlimited. The objective of the experiment was to analyze the growth and yield responses of five local-millet accessions to Bacillus biofertilizer with reduced NPK fertilizer dose; and the germination rate of millet seeds. The pot experiment was arranged in randomized block design with 10 treatments and 10 replications. The treatments were combination of five millet accessions with one dose of NPK fertilizer, and half dose of NPK fertilizer with biofertilizer. Generally, half dose of NPK with Bacillus inoculation did not change the height of six-weeks old plant, and panicle weight and length of millet compared to one dose of NPK. However, this combined fertilizer increased plant height and panicle length of Mani-Mani 79. Reduced dose NPK with Bacillus inoculation increased panicles number of J3 but reduced that of Polman 3; moreover, this combined fertilizer increased the grain weight of J3 and J4, but decreased the yield of Polman 3. The Enrekang and Polman 3 accession had better germination rate; 92% and 89.33%, respectively. This research considered that Bacillus biofertilizer reduced NPK fertilizer dose by 50% and is suggested for growing millet.ABSTRAKPupuk hayati banyak disarankan untuk meningkatkan produksi tanaman tetapi riset mengenai inokulasi pupuk hayati pada jewawut aksesi lokal Indonesia belum banyak dilakukan. Percobaan ini bertujuan untuk menganalisis respons pertumbuhan dan hasil lima aksesi jewawut lokal terhadap inokulasi pupuk hayati Bacillus dan pengurangan dosis pupuk NPK; serta daya berkecambah biji jewawut setelah panen. Percobaan pot disusun dalam rancangan acak kelompok dengan 10 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuan percobaan adalah kombinasi lima aksesi jewawut dengan satu dosis pupuk NPK, dan setengah dosis pupuk NPK disertai pupuk hayati. Umumnya, tinggi tanaman umur enam minggu, serta bobot dan panjang malai jewawut dengan setengah dosis NPK disertai inokulasi Bacillus sama dengan tanaman yang diberi satu dosis NPK. Namun, tinggi tanaman dan panjang malai Mani-Mani 79 meningkat setelah aplikasi setengah dosis NPK dengan inokulasi Bacillus. Jumlah malai aksesi J3 meningkat sedangkan Polman 3 menurun dengan aplikasi setengah dosis NPK disertai inokulasi Bacillus. Kombinasi pupuk ini meningkatkan bobot biji J3 dan J4 tetapi  menurunkan hasil Polman 3. Aksesi Enrekang dan Polman 3 memiliki daya berkecambah yang lebih baik; masing-masing sebesar 92% dan 89,33%. Penelitian ini menunjukkan bahwa pupuk hayati Bacillus dapat mengurangi dosis pupuk NPK sampai 50% dan dapat disarakan untuk tanaman jewawut.
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi liberika (Coffea liberica) belum menghasilkan pada beberapa jenis pohon penaung Dewi Nur Rokhmah; Dani Dani; Sakiroh Sakiroh; Dibyo Pranowo; Kurnia Dewi Sasmita
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/25202

Abstract

Research on how shade trees affects growth and development of liberica coffee is still limited. Liberica coffee shade trees can take advantage from other plantation plants that are mature and have a high habitus. The research objective was to analyze the effect of shade trees on the growth and the development of immature liberica coffee. The research was conducted at the  the Pakuwon Experimental Station, Indonesian Industrial and Beverage Crops Research Institute, Sukabumi from January 2021 to March 2022. The experiment was arranged in a randomized block design with five treatments and four replications. The treatment was shade tree, namely: (1) without shade as a control, (2) Averrhoa bilimbi, (3) Canarium sp., (4) Cassia spectabilis, and (5) Cocos nucifera L.. Observations were made on liberica coffee plants with the parameters of plant height, stem diameter, number of branches, leaf area, stomata density, leaf chlorophyll, soil fertility, percentage of flowering plants and average number of flowers. The results showed that the growth of liberica coffee plants with tall coconut shade was better than the others. The results of this study enrich information regarding the effect of several shade trees on immature liberica coffee plant in agroforestry systems.ABSTRAK Penelitian tentang pengaruh pohon penaung terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi liberika belum banyak dilakukan. Pohon penaung kopi liberika dapat memanfaatkan tanaman perkebunan lainnya yang sudah dewasa dan memiliki habitus tinggi. Tujuan penelitian adalah menganalisis pengaruh jenis pohon penaung terhadap pertumbuhan dan perkembangan kopi liberika belum menghasilkan. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Pakuwon, Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar, Sukabumi mulai bulan Januari 2021 sampai dengan Maret 2022. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan lima perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah jenis pohon penaung, yaitu: (1) tanpa penaung sebagai kontrol, (2) belimbing wuluh, (3) kenari, (4)  ramayana, dan (5) kelapa dalam. Pengamatan dilakukan terhadap tanaman kopi Liberika belum menghasilkan dengan parameter tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, luas daun, kerapatan stomata, klorofil SPAD, kesuburan tanah, persentase tanaman berbunga dan rerata jumlah bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kopi liberika dengan penaung kelapa dalam lebih baik dibandingkan penaung lainnya. Hasil penelitian ini memperkaya informasi mengenai pengaruh jenis pohon penaung terhadap tanaman kopi liberika dalam sistem agroforestry.
Pengaruh bahan pembawa terhadap efektifitas bakteri pelarut fosfat pada pertumbuhan dan hasil kedelai (Glycine max L.) pada inceptisol Pujawati Suryatmana; Andi Hana Mufidah Elmirasari; Reginawanti Hindersah; Betty Natalie Fitriatin; Mieke Rochimi Setiawati
Jurnal AGRO Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/25039

Abstract

Attempt to increase soybean production while maintaining soil health can be done by utilizing biofertilizers. However, the application of biological fertilizers on Inceptisols which tend to be acidic often go to meet the problems in its effectiveness. So it is necessary to maintain the effectiveness of inoculants through the selection of appropriate carrier materials. The experiment aimed to determine the effect of the application of Phosphate Solubilizing Bacteria (PSB) in carrier materials from agricultural waste (molasses, coconut water, and bran) to increase BPF viability, growth and yield of soybean (Glycine max L.) on Inceptisols in Jatinangor. The experimental design used was a randomized block design (RBD) consisting of a control treatment (without BPF inoculant), BPF without organic matter; BPF combined with three types of organic matter (each: molasses, coconut water, and rice bran and their mixtures). Experimental results showed that coconut water and rice bran could potentially maintain the viability of the BPF population. Coconut water could significantly increase the number and weight of seeds per soybean plant, with an increase in yield of 41.176% and 18.823%, respectively. Coconut water is an organic substance that has the most potential as a stimulant  material compared with molasses or bran.ABSTRAK Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai sekaligus mempertahankan kesehatan tanah dapat dilakukan dengan memanfaatkan pupuk hayati (biofertilizers). Namun aplikasi pupuk hayati pada Inceptisol yang cenderung masam sering mengalami kendala dalam efektifitasnya. Sehingga perlu upaya untuk menjaga efektifitas inokulan melalui pemilihan bahan pembawa yang tepat. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi Bakteri Pelarut Fosfat (BPF) dalam bahan pembawa dari limbah pertanian (molase, air kelapa, dan dedak) untuk meningkatkan viabilitas BPF, pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max L.)  pada Inceptisols di Jatinangor. Percobaan dilakukan di rumah kaca kebun percobaan Fakultas Pertanian Unpad. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak kelompok (RAK) yang terdiri dari perlakuan kontrol (tanpa inokulan BPF), BPF tanpa bahan organik; BPF dikombinasikan dengan tiga jenis bahan organik (masing-masing: molase, air kelapa, dedak padi,  dan campurannya). Hasil percobaan menunjukkan bahwa air kelapa dan dedak padi berpotensi dapat mempertahankan viabilitas populasi BPF. Air kelapa dapat meningkatkan jumlah dan bobot biji per tanaman kedelai secara signifikan, dengan peningkatan hasil masing-masing sebesar 41,176% dan 18,823%. Air kelapa merupakan bahan organik yang paling potensial sebagai bahan stimulan dibandingkan molase maupun dedak. Air kelapa mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa, asam glutamat dan asam aspartat yang dapat berperan dalam memacu aktifitas BPF.
Pengaruh aplikasi bio-invigorasi dan lamanya perendaman benih kedaluwarsa pada pertumbuhan dan hasil cabai rawit (Capsicum frutescens L.) Anisa Umu Zarah; Syaiful Anwar; Rosyida Rosyida
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/26837

Abstract

The increasing chili consumption in Indonesia requires efforts to maintain and even improve seed quality. Efforts to maintain the quality of expired seeds can be applied through bio-invigoration and soaking of chili seeds. The research was done on March 26–September 30 2022 at Banyumas Plant Pest and Disease Laboratory, and screen house on Jl. Kramasari Bojong, Kawunganten, Cilacap, Central Java, 4x4 Factorial Completely Randomized Design, 48 experimental units. The first factor was bio-invigoration, B0=without bioinvigoration, B1=30% coconut water+B. subtilis and P. fluorescens, B2=24% shallot  extract+B. subtilisand P.fluorescens, and B3=24% bean sprout extract+B. subtilis and P. fluorescens. The second factor was soaking  time,  P0 = 0 hours, P1 = 24 hours, P2 = 48 hours, P3 = 72 hours. Parameters were seed germination (%), seed growth uniformity (%), vigor index, plant height (cm), number of leaves (strands), and fruit fresh weight (g). The results showed that seed quality parameters and plant height were better at 24 hours of immersion with all bioinvigoration. Still, the number of leaves and fruit fresh weight were effective at 24 hours of immersion with 30% coconut water+B. subtilis and P. fluorescens.ABSTRAKUpaya untuk mempertahankan bahkan meningkat kualitas benih cabai rawit perlu dilakukan karena peningkatan konsumsi di Indonesia. Upaya mempertahankan kualitas benih kedaluwarsa dapat dilakukan dengan pemberian bio-invigorasi dan perendaman pada benih cabai rawit. Penelitian dilaksanakan pada 26 Maret–30 September 2022 di Laboratorium Hama dan Penyakit Tanaman Banyumas, dan screen house di Jl. Kramasari Bojong, Kawunganten, Cilacap, Jawa Tengah, dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial 4x4, 3 kali ulangan dengan 48 unit percobaan. Faktor pertama adalah bio-invigorasi: B0=Tanpa bio-invigorasi, B1=30% air kelapa+B. subtilis dan P. fluorescens, B2=24% ekstrak bawang merah+B. subtilis dan P. fluorescens, dan B3=24% ekstrak tauge+B. subtilis dan P. fluorescens. Faktor kedua lama perendaman, P0=0 jam, P1=24 jam, P2=48 jam, P3=72 jam. Parameter yang diamati meliputi daya berkecambah benih (%), keserampakan tumbuh benih (%), indeks vigor, tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai) dan bobot segar buah (g). Hasil penelitian menunjukkan parameter kualitas benih dan tinggi tanaman efektif pada lama perendaman 24 jam dengan semua bahan bio-invigorasi, namun parameter jumlah daun dan bobot segar buah efektif pada perendaman 24 jam dengan 30% air kelapa+B. subtilis dan P. fluorescens.
Efikasi herbisida Thiencarbazone-methyl+isoxaflutole terhadap pengendalian gulma dan hasil tanaman (Zea mays L.) Irawati Chaniago; Ardi Ardi; Doni Hariandi; Winda Purnama Sari; Adi Purnama
Jurnal AGRO Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/25635

Abstract

Maize is a second important food crop, its yield is the raw material for the feed industry. As for other crops, maize can not avoid weed association and interference. Weed may cause farmers’ economic loss. An experiment to determine the efficacy of thiencarbazone methyl+isoxaflutole herbicide and its effects to control weeds and maize yield was conducted from October 2022 to February 2023 at Ultisol of Universitas Andalas, Limau Manis, Padang. The experimental units were laid out according to a completely randomized block design (CRBD) with 10 treatments and three replications. The treatment was different types of weed control namely: no weeding, various doses of herbicide thiencarbazone-methyl 90 g L-1+isoxaflutole 225 g L-1 i.e 250 mL ha-1, 300 mL ha-1, 350 mL ha-1, and 400 mL ha-1 applied at 2 and 10 DAP, respectively, and manual weeding. Herbicide thiencarbazone-methyl 90 g L-1+isoxaflutole 225 g L-1 effectively controlled Erechtites valerianifolia, Oxalis barrelieri, and Asplenium rhizophyllum. Herbicide at 350 mL ha-1 applied dose at 2 DAP reduced weed dry weight per m-2 as much as 93% at 6 WAP. Weed control by herbicide application increased 72.20% of maize yield per ha compared to the no-weed-control treatment group without causing phytotoxicity on maize plants.ABSTRAK Tanaman jagung merupakan tanaman pangan penting kedua dan menjadi bahan baku industri pakan. Seperti tanaman lainnya, tanaman jagung juga tidak dapat terhindar dari interaksi dan asosiasi dengan gulma. Keberadaan gulma pada pertanaman jagung dapat menimbulkan kerugian ekonomis. Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh efikasi herbisida thiencarbazone-methyl+isoxaflutole yang diaplikasikan pada waktu berbeda terhadap pengendalian gulma dan hasil tanaman jagung telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2022 sampai Februari 2023 pada tanah ultisol kampus Universitas Andalas Limau Manis, Padang. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan 10 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan adalah tanpa pengendalian gulma, berbagai dosis herbisida thiencarbazone-methyl 90 g L-1+isoxaflutole 225 g L-1 yaitu 250 mL ha-1 , 300 mL ha-1 , 350 mL ha-1 , dan  400 mL ha-1 yang masing-masing diaplikasikan pada 2 dan 10 HST, dan pengendalian gulma secara manual. Herbisida thiencarbazone-methyl 90 g L-1+isoxaflutole 225 g L-1 dosis 250 hingga 400 mL ha-1 efektif mengendalikan gulma Erechtites valerianifolia, Oxalis barrelieri, dan Asplenium rhizophyllum. Herbisida dosis 350 mL ha-1 diaplikasikan 2 HST menurunkan hingga 93% bobot kering gulma m-2 pada 6 MST. Pengendalian dengan herbisida dapat meningkatkan hasil jagung per ha sebesar 72,20% dibandingkan perlakuan tanpa pengendalian gulma tanpa menimbulkan gejala fitotoksisitas pada tanaman jagung.
Kandungan asam p-Hidroksibenzoat dan p-Kumarat akar padi varietas inpara dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan Echinochloa crus-galli Sujinah Sujinah; Swisci Margaret; Indrastuti Apri Rumanti; Nurwulan Agustiani
Jurnal AGRO Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/24280

Abstract

Compounds of p-hidroksibenzoic and p-coumaric acids are allelochemicals produced by plants and can be phytotoxic to other plants. Allelochemicals can be used as bioherbicides in weed control. The objective of this research was to determine the content of p-hydroxybenzoic and p-coumaric in rice roots, and their effect on the growth of barnyard grass (Echinochloa crus-galli). Analysis of the content of p-hydroxybenzoic and p-coumaric compunds was carried out using HPLC. The experiment on E. crus-galli growth consisted of two phases using a completely randomized design with three replications. The first phase was testing of compounds with various concentrations (100, 300, 500, 700 ppm), and the second phase was testing of rice root extracts 0.5 g ml-1 on several Inpara varieties. The result showed that the highest content of p-hydroxybenzoic and p-coumaric acids was found in Inpara 9, and the lowest was in Inpara 6. The greatest inhibition of E. crus-galli growth (shoot and root length, dry weight) was observed at 700 ppm concentration. Rice root extracts inhibit the growth of E. crus-galli with varying degrees. Inpara 3, 4, 7, 8, and 10 had the ability to suppress E. crus-galli growth higher than the average of 10 Inpara varieties used.ABSTRAK Senyawa asam p-hidroksibenzoat dan p-kumarat merupakan alelokimia yang diproduksi oleh tanaman dan dapat bersifat fitotoksik terhadap tanaman lain. Alelokimia dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida dalam pengendalian gulma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan p-hidroksibenzoat dan p-kumarat pada akar padi, serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan jajagoan (Echinochloa crus-galli). Analisis kandungan senyawa p-hidroksibenzoat dan p-kumarat dilakukan dengan menggunakan HPLC. Pengujian terhadap pertumbuhan E. crus-galli terdiri dari dua tahap dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap tiga ulangan. Tahap pertama adalah pengujian senyawa dengan berbagai konsentrasi (100, 300, 500, 700 ppm) dan tahap kedua adalah pengujian ekstrak akar padi dengan konsentrasi 0,5 g ml-1 pada beberapa varietas Inpara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan asam p-hidroksibenzoat dan p-kumarat tertinggi terdapat pada Inpara 9, dan yang terkecil pada Inpara 6. Penghambatan pertumbuhan E. crus-galli (panjang tajuk, akar, dan berat kering) terbesar pada konsentrasi 700 ppm. Ekstrak akar padi mampu menghambat pertumbuhan E. crus-galli dengan tingkat penghambatan yang bervariasi. Inpara 3, 4, 7, 8, dan 10 memiliki kemampuan menekan pertumbuhan E. crus-galli lebih tinggi dari rata-rata 10 varietas yang digunakan.
Application of Rhizoctonia mycorrhiza and without Rhizoctonia mycorrhiza in improving vegetative growth of Dendrobium nindii seedlings R Soelistijono; Daryanti Daryanti; Siti Mardhikasari; Tyara Yunika Sari; Dian Rakhmawati
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/30844

Abstract

Dendrobium is a genus of orchid that has the most attraction among the public rather than other types, especially for orchid species such as Dendrobium nindii type. The obstacle in cultivating orchids species is the slow vegetative growth when compared to orchids resulting from crosses (hybrid orchids). This research aimed to determine the vegetative growth of D. nindii seedlings using Rhizoctonia sp. The research was conducted at the Greenhouse, Faculty of Agriculture, Tunas Pembangunan University from January to July 2023. The research used quantitative descriptive method consisting of one treatment with six replications and each replications contained ten plants. The factor was application of Rhizoctonia mycorrhiza and without application of Rhizoctonia mycorrhiza. The results showed that (1) the morphological characteristics of Rhizoctonia mycorrhiza were white colonies, with right-angled branches and two nuclei, (2) the application of mycorrhizal Rhizoctonia had a very significant effect on the vegetative growth of D. nindii as shown in the parameters of plant height, leaf length, number of leaves, root length, number of roots and fresh weight of seedlings, and (3) there was an association of Rhizoctonia mycorrhiza with the formation of the peloton structure.ABSTRAKDendrobium merupakan salah satu genus anggrek yang memiliki daya tarik paling banyak di masyarakat diantara jenis anggrek lainnya terutama untuk anggrek spesies seperti Dendrobium nindii. Kendala dalam budidaya anggrek spesies adalah pertumbuhan vegetatif yang lambat bila dibandingkan dengan anggrek hasil persilangan (anggrek hibrida). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan vegetatif bibit D. nindii dengan menggunakan Rhizoctonia sp. Penelitian dilakukan di Rumahkasa Fakultas Pertanian Unversitas Tunas Pembangunan dari Januari sampai Juli 2023. Penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan enam ulangan dan setiap ulangan terdiri enam tanaman. Faktor perlakuan adalah aplikasi Rhizoctonia mikoriza dan tanpa aplikasi Rhizoctonia mikoriza. Hasil penelitian menunjukkan (1) ciri morfologi Rhizoctonia mikoriza berupa koloni berwarna putih, dengan percabangan siku-siku dan berinti dua, (2) pemberian Rhizoctonia mikoriza berpengaruh sangat nyata pada pertumbuhan vegetatif D. nindii  yang ditunjukan pada parameter tinggi tanaman, panjang daun, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar dan berat segar bibit, dan (3) terjadi asosiasi Rhizoctonia mikoriza dengan terbentuknya struktur peloton.
Substitusi sebagian pupuk anorganik dengan bahan organik terhadap ketersediaan N, P, K dan hasil tanaman jagung pada tanah inceptisol Jauhari Syamsiyah; Slamet Minardi; Jihad Khadaffi; Sri Hartati; Ganjar Herdiansyah
Jurnal AGRO Vol 10, No 2 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/27875

Abstract

The reduced usage of inorganic fertilizers is needed to avoid various undesirable impacts. This study aimed to assess whether partial reduction of inorganic fertilizers with the use of organic fertilizers can maintain nutrient adequacy and yield of maize. The research was conducted in Juwiring, Klaten, Central Java from August 2021 - March 2022 designed in a Completely Randomized Group Design with seven fertilizer combination treatments, namely ¼ NPK + 1 organic fertilizer, ½ NPK + 1 organic fertilizer, ¾ NPK + 1 organic fertilizer,  ¾ NPK + ¾ organic fertilizer, and two comparison treatments namely no fertilizer and standard NPK (350 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1) repeated three times. The parameters observed were N-total soil and tissue, P-available soil, K-available available P and soil CEC, P and K levels of plant tissue. Organic fertilizer of 10 t ha-1 was applied a week before planting. The application of ½ NPK of the standard dose + 1 organic fertilizer showed higher N-total soil, P-available, and K-available as well as higher corn yield than the standard NPK treatment with the results of cob weight (22.52 g), cob weight without cob (13.92 g), cob length (21.47 g), and cob diameter (4.55 g) against the standard NPK treatment. The use of organic fertilizers needs to be done to maintain the sustainability of natural resources.ABSTRAK Pengurangan penggunaan pupuk anorganik perlu dilakukan untuk menghindari berbagai dampak yang tidak diharapkan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji apakah pengurangan sebagian pupuk anorganik dengan pupuk organik mampu menjaga kecukupan hara dan hasil jagung. Penelitian dilaksanakan di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah sejak Agustus 2021 – Maret 2022 menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tujuh perlakuan kombinasi pupuk yaitu: ¼ NPK + 1 pupuk organik, ½ NPK + 1 pupuk organik, ¾ NPK + 1 pupuk organik(E), 1 NPK + 1 pupuk organik, ¾ NPK + ¼ pupuk organik, ¾ NPK + ½ pupuk organik, ¾ NPK + ¾ pupuk organik, dua perlakuan pembanding yaitu tanpa pupuk serta NPK standar (350 kg ha-1, SP36 150 kg ha-1, KCl 75 kg ha-1) yang diulang 3 kali. Parameter pengamatan yaitu N-total tanah dan jaringan, P-tersedia tanah, K-Tersedia tanah dan KTK tanah, serta kadar P dan K jaringan tanaman. Pupuk organik 10 t ha-1 diberikan seminggu sebelum tanam. Aplikasi ½ NPK dari dosis standar + 1 pupuk organik menunjukkan N-total, P-tersedia, dan K-tersedia tanah serta hasil jagung yang lebih tinggi dari perlakuan NPK standar dengan hasil berat tongkol berkelobot (22,52 g), berat tongkol tanpa kelobot (13,92 g), panjang tongkol (21,47 g), dan diameter tongkol (4,55 g) terhadap perlakuan NPK standar. Penggunaan pupuk organik perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan sumberdaya alam.
Respons keserempakan berbunga dan mutu benih beberapa galur jagung manis (Zea mays subsp. mays L.) terhadap aplikasi dosis pupuk boron Kartina A M; Alfu Laila; Azis Natawijaya; Riski Susilawati
Jurnal AGRO Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/26103

Abstract

Synchronizing flowering and seed quality in an effort to increase sweet corn seed yields can be done by developing superior lines and proper fertilization. This research was aimed to know the response of flowering synchrony and seed quality of several lines of sweet corn (Zea mays subsp. mays L.) under boron fertilizer application. The research was conducted at the Experimental Garden of PT. Benih Sumber Andalan (BSA) in Dramaga District, Bogor Regency - West Java, from October 2022 to February 2023. This research used a Split Plot Design with two factors. Sweet corn line as the main plot consisted of five levels, namely BSA1 line, BSA2 line, BSA3 line, BSA4 line, and BSA5 line. The dose of boron fertilizer as sub plots consisted of four levels, namely 0, 10, 15, and 20 kg ha-1. The results showed that the BSA1 sweet corn line had the best effect on the male flowering time parameter. The dose of boron fertilizer 15 kg ha-1 had the best effect on the parameters of male flowering time , female flowering time, ASI (Anthesis Silking Interval), cob weight without cobs, seed weight per cob, number of seeds per cob, and seed germination rate. Combination treatment of BSA1 sweet corn line with boron fertilizer dose of 15 kg ha-1 is able to increase the synchronization on male flower flowering time and female flowering time.ABSTRAKSinkronisasi pembungaan dan mutu benih dalam upaya meningkatkan hasil benih jagung manis dapat dilakukan dengan mengembangkan galur-galur yang unggul dan pemupukan yang tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons sinkronisasi pembungaan dan mutu benih beberapa galur jagung manis (Zea mays subsp. mays L.) terhadap aplikasi dosis pupuk boron. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan PT. Benih Sumber Andalan Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor – Jawa Barat, pada bulan Oktober 2022 sampai Februari 2023. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan 2 faktor. Galur jagung manis sebagai petak utama terdiri dari 5 taraf yaitu Galur BSA1, Galur BSA2 Galur BSA3, Galur BSA4 dan Galur BSA5. Dosis pupuk boron sebagai anak petak terdiri dari 4 taraf yaitu 0, 10, 15 dan 20 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur jagung manis BSA1 memberikan pengaruh terbaik terhadap parameter umur berbunga bunga jantan. Dosis pupuk boron 15 kg ha-1 memberikan pengaruh terbaik terhadap parameter umur berbunga bunga jantan, umur berbunga bunga betina, ASI (Anthesis Silking Interval), bobot tongkol tanpa kelobot, bobot biji per tongkol, jumlah biji per tongkol, dan daya kecambah benih. Kombinasi perlakuan galur jagung manis BSA1 dengan dosis pupuk boron 15 kg ha-1 mampu meningkatkan sinkronisasi pembungaan pada umur berbunga bunga jantan dan umur berbunga bunga betina.
Penapisan aktinobakteria rhizosfer padi sebagai agens pengendali hayati Xanthomonas oryzae pv. oryzae pathogen penyebab penyakit hawar daun bakteri Muhammad Fadil; Yulmira Yanti; Ujang Khairul
Jurnal AGRO Vol 10, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/19798

Abstract

Bacterial leaf blight caused by X.o. pv. oryzae is an important disease of rice plants. Actinobacteria has potential as biological agents to control X.o. pv. oryzae because it has the ability to produce bioactive compounds. This study aimed to select actinobacteria isolates that can suppress the development of X.o. pv. oryzae and has the potential to stimulate the growth of rice plants in-planta, as well as to determine the ability of actinobacteria in producing enzymes that inhibit the development of X. oryzae pv. oryzae. The research consisted of four stages, namely: isolation, selection, characterization, and potential inhibition of actinobacterial isolates. A total of 30 isolates were successfully isolated from the rhizosphere of rice plants in three districts of West Sumatra, and as many as 25 isolates were successfully selected based on biosafety tests. The results of the in-planta test showed that 10 isolates had the ability to increase the growth and suppresed the development of bacterial leaf blight. The results of the antagonist test showed that 5 isolates inhibited of X.o. pv. oryzae by 11.66-29.66%. Five isolates were selected, namely: APRD 3I211, APRD 1I122APRP 2S121, APRP 1I121, APRP 3I212 wich capable of produce protease enzymes, cellulases, amylase, and secondary metabolites.ABSTRAK Penyakit hawar daun bakteri yang disebabkan oleh Xanthomonas oryzae. pv. oryzae merupakan penyakit penting tanaman padi. Aktinobakteria memiliki potensi sebagai agens hayati untuk mengendalikan X. oryzae. pv. oryzae karena memiliki kemampuan dalam menghasilkan senyawa bioaktif. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi isolat aktinobakteria yang dapat menekan perkembangan X. oryzae. pv. oryzae dan memiliki potensi dalam memacu pertumbuhan tanaman padi secara in-planta, serta mengetahui kemampuan aktinobakteria dalam menghasilkan enzim penghambat perkembangan X. oryzae. pv. oryzae. Penelitian terdiri dari empat tahap, yaitu: isolasi, seleksi, karakterisasi, dan potensi daya hambat isolat aktinobakteria. Sebanyak 30 isolat berhasil diisolasi dari rizosfer tanaman padi di tiga Kabupaten Sumatera Barat, dan sebanyak 25 isolat berhasil diseleksi berdasarkan uji keamanan hayati. Hasil uji in-planta menunjukkan 10 isolat memiliki kemampuan dalam meningkatkan pertumbuhan dan menekan perkembangan hawar daun bakteri. Hasil uji antagonis menunjukkan 5 isolat menghasilkan penghambatan terhadap X. oryzae. pv. oryzae sebesar 11,66-29,66%. Lima isolat terpilih yaitu: APRD 3I211, APRD 1I122, APRP 2S121, APRP 1I121, APRP 3I212 terbukti mampu menghasilkan enzim protease, selulase, amilase, metabolit sekunder.