cover
Contact Name
Dian Yosi Arinawati
Contact Email
dianyosi@umy.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkgumy@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
ISSN : 22529764     EISSN : 26859165     DOI : 10.18196/idj
Core Subject : Health,
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Perbedaan Kekuatan Tarik Antara Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin dengan Mineral Trioxide Aggregate sebagai Bahan Kaping Pulpa Puspita, Sartika; Burhani, Chairul Muhtadin Dwi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 8, No 1 (2019): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.8101

Abstract

Pemilihan bahan yang tepat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan perawatan kaping pulpa. Hal ini tidak terlepas dari sifat mekanis dan mekanisme adhesi bahan tersebut terhadap jaringan gigi. Mekanisme adhesi tersebut sangat dipengaruhi oleh kekuatan tariknya. Penelitian ini bertujuan meneliti kekuatan tarik bahan kaping pulpa sebagai pertimbangan dalam memilih bahan kaping yang baik berdasarkan sifat mekanisnya. Metode penelitian ini adalah laboratoris murni. Sampel yang digunakan yaitu gigi premolar satu rahang atas yang masih utuh paska ekstraksi dengan indikasi perawatan orthodontik. Dua belas sampel dilakukan preparasi kelas V G.V Black dengan ukuran preparasi 2x2x3mm dibagi menjadi 2 kelompok uji yaitu dengan bahan SIKMR (Semen Ionomer Kaca Modifikasi Resin, Fuji II LC, GC Japan) dan MTA (Mineral Trioxide Aggregate, Rootdent®,Technodent Rusia). Pengukuran kekuatan tarik menggunakan Universal Testing Machine (UTM) dalam satuan Mega Pascal (MPa). Hasil menunjukkan bahwa kelompok 1 memiliki rata-rata kekuatan tarik sebesar 6,81MPa sedangkan kelompok 2 sebesar 2,44MPa. Data yang didapatkan dianalisa menggunakan uji statistik Mann-Whitney Test. Kesimpulan penelitian ini adalah SIKMR memiliki kekuatan tarik lebih tinggi dibanding MTA sebagai material kaping pulpa (p0.05).
Efek Gel Ekstrak Biji Kopi Robusta (Coffea canephora) terhadap Jumlah Sel Makrofag dan Limfosit Jaringan Gingiva Tikus Periodontitis Ermawati, Tantin; Prasetya, Rendra Chriestedy; Fatimatuzzahro, Nadie; Nurul Iffah, Astrid Ganadya
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 9, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.9217

Abstract

Periodontitis adalah inflamasi kronis yang disebabkan infeksi bakteri salah satunya P. gingivalis. Produk bakteri berupa lipopolisakarida (LPS) mampu meningkatkan sekresi sitokin proinflamatori sehingga terjadi peningkatan jumlah sel makrofag dan limfosit. Hal ini menyebabkan kerusakan jaringan periodontal yang lebih lanjut. Biji kopi robusta memiliki kandungan polifenol, alkaloid dan saponin yang berfungsi sebagai antiinflamasi dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian gel ekstrak biji kopi robusta terhadap jumlah sel makrofag dan limfosit pada gingiva model tikus periodontitis. Jenis penelitian yang digunakan adalah the post test only control group design. Dua puluh ekor tikus dibagi menjadi 5 kelompok yakni kelompok normal, periodontitis, periodontitis yang diterapi gel aloclair, kelompok periodontitis yang diterapi 0,025 g/mL gel ekstrak biji kopi robusta, dan kelompok periodontitis yang diterapi 0,05 g/mL gel ekstrak biji kopi robusta selama 7 hari perlakuan. Tikus didekapitasi dan dilakukan pengecatan HE untuk melihat jumlah sel makrofag dan limfosit. Hasil menunjukkan pemberian gel ekstrak kopi robusta dapat menurunkan jumlah sel makrofag dan limfosit sama dengan aloclair pada model tikus periodontitis yang diinduksi P. gingivalis. Gel ekstrak biji kopi 0,05 g/mL lebih efektif menurunkan limfosit dibandingkan 0,025 g/mL.
The Decrease In Number Of Blood Polymorphonuclear (Pmn) To Periapical Radiographs Dose Of radiation exposure Adlina, Amni; Wasilah, Wasilah
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i1.511

Abstract

Periapical radiograph is a type of radiographic examinations that iswidely used in the field of dentistry. Radiographic X-ray is an ionizing radiationthat can cause damage and death to cells, tissues or organs, including thepolymorphonuclear (PMN). PMN is cell that serves as the first line of defenseagainst the invasion of organisms. Objective:The purpose of this study is 1) todetermine whether there is a decrease in the number of peripheral blood PMNafter being given periapical radiograph dose of X-ray radiation exposure, and 2)to determine whether there is any difference in the declining number of peripheralblood PMN after being given a single dose and some different total dose ofperiapical radiograph of X-ray radiation exposure. Methode: The design of thisstudy is an experimental laboratory research with total sample of 24 strains ofBalb c male mice. The sample is divided into four groups, each consisting 6 mice.Group 1 serves as the control group; Group 2 is given a treatment with a singledose exposure of periapical radiographs of X-ray radiation; Group 3 is given atreatment of 6 times total doses exposure of periapical radiograph of X-rayradiation; and Group 4 is given a treatment of 14 times total doses exposure ofperiapical radiograph of X-ray radiation. After 24 hours of radiation exposure, theblood was drown. Conclusion :The calculation is done by multiplying the numberof PMN percentage from leukocyte counts with a total leukocyte. The dataobtained are statistically tested using One Way Anova and LSD with asignificance level of 95%. Result :The result of this study indicates that there is adifference in the peripheral blood PMN counts in male mice after being exposedto radiation doses of periapical radiographs in all groups (P 0.05). There is anincreasing number of peripheral blood PMN in male mice after being treatedwithX-ray radiation at a single dose of periapical radiographic exposure, whereas afterbeing exposed with radiation at the dose of 6 and 14,the number of PMN isdeclining.The highest decreasing number of PMN isfound in the group withexposure of radiation at 14 dose.
Perbandingan Keakuratan Penentuan Usia Antara Metode Demirjian, Cameriere, dan Blenkin-Taylor Setyawan, Erwin; Setiyanto, Dimas; Putri, Latifa Wahyudi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 10, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v10i2.12972

Abstract

Banyaknya korban meninggal yang disebabkan oleh bencana massal atau kejadian lainnya perlu dilakukan proses identifikasi untuk mengetahui identitas para korban. Proses identifikasi salah satunya dapat dilakukan menggunakan teknik dental records dalam menentukan identitas individu. Metode penentuan usia menggunakan dental records yang paling sering digunakan adalah metode Demirjian, serta terdapat metode baru dalam penentuan usia yaitu metode Cameriere dan metode Blenkin-Taylor. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keakuratan penentuan usia antara metode Demirjian, Cameriere, dan Blenkin-Taylor pada pasien di RSGM UMY. Metode pada penelitian ini adalah observasional analitik dengan jumlah sampel adalah 95 foto radiograf dari pasien berusia 4-15 tahun yang berkunjung ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (RSGM UMY) pada bulan januari hingga desember 2017. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji statistik Chi-Square Test dan crosstabulation menggunakan software spss. Hasil menunjukkan bahwa metode Demirjian memiliki keakuratan sebesar 66.31% (63 sampel), metode Cameriere memiliki keakuratan sebesar 51.57% (49 sampel) dan metode Blenkin-Taylor sebesar 54.74% (52 sampel). Analisis statistik ketiga metode tersebut tidak memiliki perbedaan yang bermakna dalam keakuratan penentuan usia pasien. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah metode Demirjian, Cameriere, dan Blenkin-Taylor tidak memiliki perbedaan keakuratan dalam penentuan usia.
Metode Pemilihan Pasta Gigi Yang Tepat Untuk Anak Usia Dini Sukanto Sukanto
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i2.528

Abstract

Karies gigi pada anak usia dini masih banyak terjadi. Sebagian penyebabnya adalah kebersihan gigi yang kurang, anak belum bisa memelihara kesehatan gigi dan mulutnya secara mandiri. Salah satu bahan bantu untuk membersihkan gigi adalah pasta gigi. Pemilihan bahan tersebut harus tepat, agar menghasilkan kebersihan yang optimal dan tidak memberikan dampak negatif. Produk dipasaran yang ditawarkan umumnya mengaku yang terbaik, dengan keunggulan yang ditonjolkan masing-masing, mulai dari mengandalkan merk, kemasan yang menarik, harga rendah, kualitas yang ditonjolkan. Hal tersebut mengharuskan konsumen terutama orang tua harus pandai dalam memilih pasta gigi yang tepat untuk anak. Pemilihan pasta gigi sebaiknya mempertimbangkan komposisi, perkembangan usia anak, kriteria yang diperlukan sesuai usia, variasi produk dan efek samping. Kesimpulannya, kriteria pasta gigi yang dipilih: warna, bau dan rasa disukai anak, kemasan menarik dan aman bagi tubuh.
Prevalensi Stomatitis Traumatik Pemakai Alat Ortodonsi Lepasan (Kajian di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Asri Medical Center Yogyakarta) Fahma Aldihyah Kunsputri; Dwi Suhartiningtyas
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v2i1.559

Abstract

Estetika penting bagi banyak orang terkait dengan penampilan dan interaksi sosial. Alat ortodonsi lepasan menjadi pilihan sebagian orang untuk memperbaiki keadaan gigi-geliginya. Akan tetapi alat ini juga memiliki kekurangan, salah satunya adalah stomatitis traumatic Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi stomatitis traumatik pemakai alat ortodonsi lepasan. Metode penelitian menggunakan metode deskriptif observasionaldengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di RSGM-P AMC Yogyakarta. Subjek penelitian adalah pasien pemakai alat ortodonsi lepasan yang memenuhi kriteria inklusi. Jumlah subjek penelitian sebanyak 34 orang. Hasil penelitian statistik deskriptif prevalensi stomatitis traumatik akibat pemakaian alat ortodonsi sebanyak 6 orang (17,6%), pasien yang mengalami stomatitis karena sebab lain sebanyak 5 orang (14,7%), dan yang tidak mengalami stomatitis sebanyak 23 orang (67,6%). Dari hasil penghitungan diatas, dapat disimpulkanbahwa prevalensi stomatitis traumatik pemakai alat ortodonsi lepasan di RSGM-P AMC Yogyakarta adalah 17,6%.
Analisis Faktor-Faktor Risiko Penurunan Kepekaan Rasa Manis Pada Diabetes Mellitus Tipe 2 Dwi Suhartiningtyas
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v2i2.575

Abstract

Pengecapan merupakan komponen penting fungsi oral, namun sejauh ini penurunan kepekaan rasa (PKR) manis pada diabetes mellitus (DM) tipe 2 kurang dianggap sebagai suatu rintangan yang serius bila dibandingkan dengan penurunan pendengaran dan penglihatan. Sejumlah faktor seperti jenis kelamin, usia, kadar glukosa darah (KGD), durasi DM tipe 2, merokok, status nutrisi dan medikasi telah dikaitkan dengan PKR manis pada DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor risiko yang berperan dalam PKR manis pada DM tipe 2. Penelitian ini terdiri dari 120 penyandang DM tipe 2 (67 laki – laki dan 53 wanita), berusia ≥ 40 tahun yang datang ke Poliklinik Penyakit Dalam di Rumah Sakit Umum Daerah KotaYogyakarta dari bulan Juli 2013 - Oktober 2013. Skrining pasien dilakukan berdasarkan rekam medis. Data tentang faktor-faktor risiko PKR manis diperoleh dari anamnesis, pengukuran dan pemeriksaan laboratorium. Evaluasi fungsi pengecapan menggunakan gustometri kimia. Data dianalisis dengan uji chi- square dan uji multipel regresi logistik dengan tingkat signifikansi 95% (p 0,05). Analisis statistik menunjukkan durasi DMtipe 2 dan usia secara signifikan sebagai faktor risiko yang berperan dalam PKR manis pada DM tipe 2 (p0,05), tetapi tidak untuk KGD, jenis kelamin, status nutrisi, merokok, dan medikasi (p0,05). Dari hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa, durasi DM tipe 2 dan usia merupakan faktor risiko PKR manis pada DM tipe 2.
Pasak Fiber Reinforced Composite sebagai Penguat Restorasi Resin Komposit Kelas IV pada Gigi Insisivus Lateralis Kanan Maksila Nekrosis Pulpa Disertai Lesi Periapikal (Laporan Kasus) Fiber post reinforced composites for resistence in composite resin resto Nia Wijayanti
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v3i1.1729

Abstract

Perawatan saluran akar akan berakibat hilangnya struktur gigi yang meningkatkan resiko fraktur pada gigi.Penggunaan pasak dapat dipertimbangkan sebagai penguat untuk meningkatkan resistensi mekanis gigi. Pasakfiber reinforced composites adalah pasak buatan pabrik yang mampu berikatan dengan baik dengan dindingsaluran akar, semen resin dan inti resin komposit sehingga mampu mengurangi resiko terjadinya fraktur danmengembalikan fungsi fisiologis dan estetis gigi. Laporan kasus ini menginformasikan penggunaan pasak fiberreinforced composites sebagai alternatif restorasi estetis pada gigi paska perawatan saluran akar. Seorangperempuan 22 tahun dengan gigi insisivisus lateralis kanan maksila nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Padakasus ini dilakukan perawatan saluran akar multi kunjungan, dilanjutkan dengan evaluasi 1 minggu, kemudiandilakukan insersi pasak fiber reinforced composites serta restorasi resin komposit kavitas kelas IV secaralangsung untuk mengembalikan fungsi fisiologis dan estetis gigi. Penggunaan fiber reinforced compositessebagai pasak untuk penguat pada restorasi resin komposit secara langsung merupakan alternatif perawatan padagigi anterior paska perawatan saluran akar untuk mengembalikan fungsi fisiologis dan estetis gigi tersebut.
Perbedaan Efektifitas antara Madu Bunga Kelengkeng (Euphoria Longana Sp) dengan Gel Karbamid Peroksida 10% sebagai Bahan Pemutih Gigi Any Setyawati; Sofyan Abdullah
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.6179

Abstract

Warna gigi mempengaruhi penampilan seseorang, sehingga banyak orang menginginkan giginya berwarna putihdan cerah. Gigi putih dan cerah dapat dilakukan perawatan dengan bleaching (pemutihan gigi). Gel karbamidperoksida 10% adalah salah satu bahan pemutih gigi yang biasa digunakan dalam praktik kedokteran gigi. Bahanpemutih gigi relatif mahal dan mempunyai efek samping seperti sensitivitas gigi dan iritasi gingiva. Banyak penelitimencoba mencari bahan alternatif yang lebih aman dan lebih murah untuk memutihkan gigi. Madu mengandunghidrogen peroksida dan asam malat yang bisa memutihkan gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaanefektifitas antara madu bunga kelengkeng (Euphoria Longana Sp) dengan gel karbamid peroksida 10% sebagaibahan pemutih gigi. Jenis penelitian ini adalah laboratoris dengan subyek penelitian 30 sampel gigi pasca ekstraksidilakukan discolorasi, kemudian dibagi menjadi 2 kelompok, 15 gigi direndam dalam madu dan 15 gigi direndamdalam gel karbamid peroksida 10%. Pengukuran warna gigi menggunakan shade guide dan spektrofotometer. Datayang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Independent Sample t-Test. Hasil penelitian ini didapatkan nilai p =0,001 (p 0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok madu bunga kelengkeng (EuphoriaLongana Sp) dengan gel karbamid peroksida 10%. Hal ini menunjukkan madu bunga kelengkeng (Euphoria LonganaSp) dan gel karbamid peroksida 10% dapat memutihkan gigi, walaupun hasil penelitian ini gel karbamid peroksida10% lebih efektif untuk memutihkan gigi.
Prevalensi Premature Loss Gigi Desidui Pada Anak Usia 9-10 Tahun Wustha Farani; Aryani Dewi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.7295

Abstract

Premature loss pada gigi desidui merupakan keadaan gigi desidui yang hilang atau tanggal sebelum gigi penggantinya mendekati erupsi yang disebabkan karena karies, trauma dan kondisi sistemik. Premature loss dapat menyebabkan pengurangan panjang lengkung gigi dan migrasi gigi antagonis yang menyebabkan rotasi, berjejal dan impaksi gigi permanen. Tujuan penelitian untuk mengetahui prevalensi premature loss gigi desidui pada anak usia 9-10 tahun. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan studi penelitian cross-sectional. Populasi penelitian berjumlah 216 anak dan berdasarkan kriteria inklusi didapatkan 63 anak yang menjadi responden penelitian. Penelitian ini dilakukan di SD IT Insan Utama dengan cara melihat kondisi gigi yang mengalami premature loss. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 63 anak usia 9-10 tahun di SD IT Insan Utama, 41.2% mengalami premature loss pada gigi molar satu (m1), 37.3% pada gigi kaninus (c) dan 21.6% pada gigi molar dua (m2). Premature loss pada anak laki-laki sebanyak 38 anak (60.3%) sedangkan pada anak perempuan sebanyak 25 anak (39.7%). Prevalensi tertinggi premature loss adalah pada anak usia 9 tahun, yaitu sebanyak 36 anak (57.1%) dari 63 sampel anak, serta prevalensi tertinggi pada regio posterior sebanyak 18 anak (58.1%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu prevalensi premature loss pada anak usia 9-10 tahun di SD IT Insan Utama adalah sebesar 29.16%.