cover
Contact Name
Dian Yosi Arinawati
Contact Email
dianyosi@umy.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkgumy@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
ISSN : 22529764     EISSN : 26859165     DOI : 10.18196/idj
Core Subject : Health,
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Estimasi Usia Dental Berdasarkan Pendekatan Biomolekuler Saputri, Rosalina Intan
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 9, No 1 (2020): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.9115

Abstract

Estimasi usia merupakan bagian penting dalam proses identifikasi dalam praktik forensik. Gigi merupakan bagian dari tubuh manusia yang paling kuat dan tahan terhadap pengaruh lingkungan sehingga dapat digunakan sebagai salah satu variabel estimasi usia, terutama pada individu yang telah meninggal. Awalnya, studi maupun aplikasi metode estimasi usia dental umumnya menggunakan perubahan morfologi yang diamati dari gambaran radiograf berdasarkan pertumbuhan gigi geligi. Seiring dengan kemajuan teknologi, metode biomolekuler mulai berkembang dan digunakan dalam estimasi usia dental. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk memaparkan metode biomolekuler terkini yang dapat diaplikasikan pada gigi. Estimasi usia dental menggunakan pendekatan biomolekuler dapat diamati dari modifikasi DNA, protein, atau epigenetik. Penelitian berkatian dengan Aspartic Acid Racemization dan Metilasi DNA dengan sampel dental mulai meningkat sebagai metode yang dapat digunakan dalam aplikasi pada kasus forensik. Meskipun masih terdapat kelemahan seperti metodologi yang tidak konsisten dan akurasi yang kurang dibandingkan dengan perubahan morfologi, metode biomolekuler dapat memberikan kontribusi potensial pada estimasi usia dental.
EffectOf Panax Ginseng Extract For The Increased Number Of Fibroblasts Cells After Tooth Extraction Rizky Hutomo, Ferdian; Permatasari, Nur; Andari Wulan, Kartika
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i1.509

Abstract

The process of tooth extraction can lead to injury. One of the factors that influencethe process of wound healing after tooth extraction is the number of fibroblastcells. The content of saponins can increase the number of fibroblasts cells aftertooth extraction. Asian ginseng plants known to contain saponins (ginsenoside).The purpose of this study was to determine the effect of Asian ginseng extract(Panax ginseng extract) for the increased number of fibroblasts cells after toothextraction. The research method used is in vivo experimental design with thedesign methods Randomized Post Test Only Control Group Design. In this studyused twentty male rattus novergicus and divided into four group, consisting ofcontrol group (K1) were not given Asian ginseng extract, treatment groupsnumber one (K2) were given 25mg/Rattus novergicus/day doses of Asianginseng, treatment groups number two (K3) were given 50mg/ Rattusnovergicus/day doses of Asian ginseng, and treatment groups number three (K4)were given 75mg/Rattus novergicus/day doses of Asian ginseng. Histopathologicpreparations used for counting the number of fibroblasts cells. The results ofstatistical tests indicate there are differences in the number of fibroblast cells inRattus novergicus between the four different groups (ANOVA, p 0.05) and thereis a very strong correlation between increasing doses of ginseng extract with anumber of fibroblast cells in Rattus novergicus tooth socket (Pearson, R = 0.915 p0.05). The conclusion of this study is Asian ginseng extract can increase thenumber of fibroblasts in the tooth socket after tooth extraction, it is recommendedthat research about the amount of saponin in Asian Ginseng extract
Penambahan Nanoselulosa Sekam Padi Terhadap Kekasaran Permukaan Basis Gigi Tiruan Resin Akrilik Polimerisasi Panas Rahmawati, Selma Junita; Logamarta, Setiadi Warata; Satrio, Rinawati
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 10, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v10i2.12309

Abstract

Basis gigi tiruan adalah bagian yang berkontak langsung dengan jaringan lunak rongga mulut. Bahan basis gigi tiruan yang paling umum digunakan yaitu resin akrilik polimerisasi panas. Bahan ini masih memiliki kekurangan yaitu sifat mekanis rendah, meninggalkan monomer sisa dan adanya porositas yang berpengaruh terhadap kekasaran permukaan. Nanoselulosa sekam padi memiliki potensi sebagai alternatif untuk memperbaiki sifat bahan resin akrilik polimerisasi panas. Nanoselulosa memiliki keunggulan diantaranya memiliki luas permukaan yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai reinforcing nanofiller pada material komposit seperti resin akrilik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan nanoselulosa sekam padi terhadap kekasaran permukaan pada resin akrilik polimerisasi panas. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan post-test only control group design. Sampel penelitian terdiri dari 6 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 8 sampel. Kelompok K1, K2, K3, K4, K5 dan K0 berturut-turut merupakan kelompok dengan penambahan nanoselulosa 1%, 2%, 3%, 4%, 5% serta kontrol (tanpa nanoselulosa). Hasil penelitian menunjukkan semua kelompok dengan penambahan nanoselulosa memiliki nilai kekasaran permukaan lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Penambahan nanoselulosa 5% (K5) memiliki nilai kekasaran permukaan tertinggi yaitu 0,3242 ± 0.0066µm kemudian diikuti berturut-turut oleh kelompok K4, K3, K2, K1 dan kelompok kontrol (K0) memiliki nilai kekasaran permukaan terendah yaitu 0.1558 ± 0.0023µm. Hasil uji SEM pada setiap kelompok menunjukkan terdapat aglomerasi dan ukuran porus yang bervariasi. Kesimpulan penelitian ini adalah penambahan nanoselulosa sekam padi tidak lebih baik dari kelompok kontrol dan dapat meningkatan kekasaran permukaan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.
Effect Of Apple Juice On Whitening Teeth After Immersion In Coffee Solution In Vitro Puspasari, Nuzulya; Effendi, Chair; Nugraeni, Yuli
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i2.526

Abstract

The Background of this research because one of the extrinsic cause teeth discoloration is excessive coffee consumption. To cope teeth discoloration whitening teeth done either with chemicals or natural ingredients. Apples (Malus sylvestris Mill) is one of the fruits that contain malic acid, substance that can whitening teeth. The General Objective is to determine the effect of giving apple juice (Malus sylvestris Mill) on a teeth that has been soaked in coffee solution on teeth whitening in vitro. Materials and Methods research is experimental laboratory use elements of the permanent maxillary premolar tooth from extraction indications orthodontic treatment, free of caries and hypoplasia as a sample of 12 pieces, divided into 2 groups. The first group as a control group with 100 ml distilled water immersion. The second group as the treatment group using apple juice immersion with 75% concentration. Samples of tooth element has immersed first in coffee solution during 2 weeks until discoloration then immersed according to the group for 2 weeks (3x@5minutes a day), then measured the color changes of tooth. The Result with Paired T-test showed significant effect on the group before treatment and after treatment (p 0.05). Independen T-test result showed significant difference between the control group immersed in 100 ml distilled water and treatment group, immersed in apple juice 75% concentration. Conclusion of the results showed that apple juice has the ability to whiten the tooth enamel surface that changes color because of immersion in coffee solution so it can return to the original color before discoloration.
Pengaruh Konsentrasi Ekstrak Mint yang Dimasukkan dalam Resin Komposit Microfine Terhadap Kekerasan Resin Komposit Microfine Aji Nugroho, Dwi; Eka Saptaningtyas, Noviana
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v2i1.557

Abstract

Latar belakang: resin komposit microfine adalah salah satu jenis resin komposit yang memiliki daya serap yang tinggi terhadap cairan, tetapi mempunyai bau yang tidak enak. Oleh karena itu, ekstrak mint (cairan) perlu dimasukkan pada resin komposit tersebut. Sifat mekanis resin komposit dapat diketahui salah satunya melalui uji kekerasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak mint yang dimasukkan dalam resin komposit microfine terhadap kekerasan resin komposit microfine. Metode Penelitian: penelitian ini menggunakan 20 sampel yang terdiri atas: 5 sampel kelompok I, resin komposit tanpa ekstrak mint; 5 sampel kelompok I, resin komposit dideponir ekstrak mint konsentrasi 0,05 ml; 5 sampel kelompok III resin kompositdideponir ekstrak mint konsentrasi 0,1 ml, dan 5 sampel kelompok IV, resin komposit dideponir ekstrak mint konsentrasi 0,15 ml. Selanjutnya, setiap sampel dilakukan uji kekerasan dengan micro vickers hardness tester. Data penelitian yang diperoleh dianalisis dengan Anava satu jalur dan LSD0,05 ( Least Significance Difference ).Hasil: Data uji kekerasan yang diperoleh adalah: kelompok I, 130,83 + 0,46; kelompok II, 122,03 + 0,55; kelompok III, 127,17 + 0,62; kelompok IV, 130,13 + 0,46. Analisis data anova satu jalur menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kelompok pertama dengan kelompok kedua dan ketiga. Analisis data LSD menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok I dan IV. Kesimpulan: Terdapat pengaruh konsentrasi ekstrak mint 0,05 ml dan 0,1 ml yang dimasukkan dalam resin komposit microfine terhadap kekerasan resin komposit microfin
Lima Komponen Penting dalam Perencanaan OSCE Five Essential Keys in OSCE Planning Kurniasih, Indri
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v3i1.1727

Abstract

Pendahuluan : Kompleksitas dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan Objective Structured ClinicalExamination (OSCE) dapat mempengaruhi kualitas dan kehandalan OSCE sebagai alat penilaian performa suatuketerampilan klinik. Berbagai faktor dapat membuat penilaian OSCE menjadi kurang reliabel. Perencanaankegiatan OSCE yang baik merupakan faktor penting dalam mendukung kehandalan OSCE. Tujuan dari penulisan ini adalah menguraikan dari berbagai sumber tentang prinsip dasar lima komponen penting dalam perencanaan OSCE. Diskusi : Pelaksanaan OSCE membutuhkan langkah-langkah yang terencana secara baik. Terdapatlima komponen penting dalam perencanaan suatu OSCE yaitu disain OSCE, pasien standar, penguji, saranaprasarana, dan standar setting. Disain OSCE meliputi penyusunan blue print OSCE, penyusunan kasus/stationdan penyusunan form checklist/rating scale. Penyusunan blue print merupakan langkah awal dalam mendisainOSCE. Blue print disusun untuk memastikan bahwa berbagai kompetensi individual akan diujikan beberapa kalipada beberapa station, dan setiap station berkontribusi melengkapi ujian dengan menilai beberapa jeniskompetensi. Kesimpulan : Persiapan berbagai komponen penting penyusun OSCE harus dilakukan secara terencana oleh komite ujian agar penilaian menjadi objektif, valid dan reliabel serta menghasilkan informasi yangdapat dipercaya.
Hubungan pH Saliva dan Kemampuan Buffer dengan DMF-T dan def-t pada Periode Gigi Bercampur Anak Usia 6-12 Tahun Wirawan, Ekky; Puspita, Sartika
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.6177

Abstract

Saliva adalah cairan kompleks yang diproduksi oleh kelenjar salivarius. Fungsi dari saliva adalah menjaga lingkunganrongga mulut. Saliva memiliki peranan penting dalam proses terjadinya karies dimana pada saat pH rongga mulutdibawah 5,5 dapat terjadi proses demineralisasi atau proses karies pada gigi. Salah satu fungsi saliva adalah memilikikemampuan buffer yang dapat menjaga pH saliva saat pH turun menjadi asam dan naik menjadi sangat basa, sehinggaproses karies dapat dicegah. Karies adalah penyakit yang mengenai jaringan keras gigi yang disebabkan oleh interaksibakteri pada permukaan gigi, plak atau lapisan biofilm, dan substrat berisi karbohidrat yang difermentasikan menjadiasam oleh bakteri plak. Terdapat empat faktor yang saling berpengaruh terhadap kejadian karies adalah (1) waktu, (2)host atau gigi, (3) mikroorganisme, (4) substrat. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah terdapathubungan antara kemampuan buffer saliva terhadap status karies pada gigi bercampur anak usia 6-12 tahun. Metode yangdigunakan dalam penelitian ini adalah observasi klinik. Jumlah sampel adalah 10 anak yang datang periksa gigi di RSGMUMY. Hasil penelitian adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kemampuan buffer saliva terhadap statuskaries gigi desidui dan pemanen pada periode gigi bercampur anak usia 6-12 tahun.
Apigenin Daun Rasamala (Altingia excelsa nornha) Sebagai Antibakteri Enterococcus faecalis Anwar, Risyandi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.7294

Abstract

Penyakit pulpa dan periapikal pada anak merupakan salah satu penyakit yang paling sering terjadi pada kasus penyakit gigi dan mulut. Penyakit ini disebabkan salah satunya oleh bakteri Enterococcus faecalis. Daun Rasamala (Altingia excelsa nornha) dipercaya sebagai antikanker dan antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa dari daun Rasamala yang mempunyai aktivitas sebagai antibakteri Enterococcus faecalis. Penelitian dilakukan dengan cara eksperimental laboratorik menggunakan bakteri Enterococcus faecalis. Ekstrak etil asetat dipisahkan senyawanya dengan berbagai teknik kromatografi yang dipandu dengan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan satu senyawa, yaitu apigenin. Senyawa apigenin diuji aktivitas antibakteri terhadap bakteri Enterococcus faecalis dan menunjukkan nilai MIC 15,63 µg/mL.  Analisis data menggunakan uji ANACOVA dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah senyawa dari daun Rasamala, yaitu Apigenin memiliki aktivitas sebagai antibakteri Enterococcus faecalis.
Perbedaan Kekuatan Geser antara Semen Resin Nanosisal Komposit 60% Wt dan Semen Resin Nanofiller Komposit Nugroho, Dwi Aji; Aditia, Iqban
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 9, No 1 (2020): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.9112

Abstract

Resin komposit adalah bahan restorasi yang sering digunakan karena bersifat estetis tinggi. Filler anorganik seperti glass silica sebagai salah satu komposisi penting dalam resin komposit memiliki kelemahan berupa non-degradable, proses energinya tergantung pada bahan bakar fosil, serta emulsi polutannya tinggi dan membahayakan kesehatan dan lingkungan membuat filler alami sebagai bahan pengisi alternatif diperlukan. Salah satu serat alami yang dapat digunakan adalah serat sisal (Agave sisalana). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekuatan geser antara semen resin komposit nanosisal 60% Wt dan semen resin nanofiller komposit. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Serat sisal selanjutnya diubah menjadi ukuran nano. Nanosisal dicampur dengan Bis-GMA, UDMA, TEGDMA, dan Champhorquinone. Semen resin nanofiller komposit (AllCem Core) sebagai kontrol. Sampel berjumlah 10 dibagi menjadi dua kelompok. Gigi premolar dipreparasi tumpatan kelas V lalu ditumpat menggunakan dua bahan tersebut. Kekuatan geser sampl diuji menggunakan Universal Testing Machine (UTM). Analisis data menggunakan uji Independent Sample T-Test. Hasil menunjukkan semen resin nanosisal komposit 60% memiliki rata-rata kekuatan geser 13,10  MPa, dan semen resin nanofiller komposit 4,92 MPa. Analisis data menunjukkan perbedaan yang signifikan (p=0,000). Kekuatan geser semen resin nanosisal komposit 60% lebih besar dibandingkan dengan semen resin nanofiller komposit.
Prevalensi Maloklusi Anak Usia 9-11 Tahun di SD IT Insan Utama Yogyakarta Farani, Wustha; Abdillah, Moh Irvan
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 10, No 1 (2021): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v10i1.7534

Abstract

Maloklusi adalah ketidaksesuaian dari hubungan rahang atau gigi yang tidak normal. Maloklusi dapat menyebabkan terjadinya resiko karies dan penyakit periodontal. Derajat keparahan malokulusi berbeda-beda dari rendah ke tinggi yang menggambarkan variasi biologi individu. RISKESDAS tahun 2013 melaporkan sebanyak 25,9% penduduk Indonesia mempunyai masalah gigi dan mulut. Prevalensi maloklusi di Indonesia masih sangat tinggi sekitar 80% dari jumlah penduduk dan merupakan salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang cukup besar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi maloklusi gigi pada anak usia 9-11 tahun di SD IT Insan Utama Yogyakarta. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif, yaitu dilakukan dengan cara mendeskripsikan data prevalensi maloklusi gigi pada anak usia 9-11 tahun. Populasi penelitian berjumlah 216 anak, berdasarkan kriteria inklusi didapatkan 149 anak yang menjadi responden penelitian. Penelitian ini dilakukan dengan cara melihat kondisi gigi yang mengalami maloklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 149 anak usia 9-11 tahun di SD IT Insan Utama, maloklusi kelas I sebanyak 82 anak dengan prevalensi 57,3%, maloklusi kelas II sebanyak 62 anak dengan prevalensi 41,6%, maloklusi kelas III sebanyak 5 anak dengan prevalensi 3,3%. Maloklusipada anak laki-laki sebanyak 49 orang (59.8%) dan pada anak perempuan sebanyak 33 orang (40.2%). Prevalensi tertinggi Maloklusi kelas Isebanyak 82 anak (57.3%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah total prevalensi maloklusi pada semua kategori pada anak usia 9-11 tahun di SD IT Insan Utama Yoyakarta sebesar 61.7% untuk anak laki-laki dan 38.3% untuk anak perempuan. Prevalensi paling besar terdapat pada maloklusi kelas I.