cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Evaluasi Pelayanan Kesehatan, Perilaku Masyarakat, dan Lingkungan di Wilayah dengan Angka Kematian Bayi (AKB) Tinggi Dewi, Arlina; Sulistyawati, Endang; Asmi, Sarah Ayu Budi; Arini, Merita
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i1.1585

Abstract

Recently, Pejawaran District has high IMR minimal 5 year and higher than national average. The aims of this research are to evaluate health care, community behavior, and environment in Pejawaran District. This research uses observational method with survey approach. The 97 sample are women who ever deliver the life baby and live in Pejawaran for 5 years. Maternal-neonatal health cares in Pejawaran are good, which are enough in available, acceptable-continuely, accessible, affordable, and good quality. Health behaviors are various and some components should be more concerned (proper washing hand, brushing teeth, “kadarzi”, birth attendance, health insurance and smoking). Illness behaviors are still low, especially mother knowledge. Sick role behaviors are various especially the community efforts to take medication. Achievement is good in the knowledge of health care places and the understanding of the rights of sick people although the understanding of the duties is low. Unfulfilled health housing component are ratio wide house with family members (22,7%), floor (51,5%), wall (49,5%), roof (3,1%), ventilation (66%), lighting (20,6%), and cages of animal (51,6%). Unfulfilled health basic sanitation are the drinking water source (100%), excreta disposals (87%), garbage bin (4,1%), andwaste water disposal (50,5%). The conclution are maternal-neonatal health care in Pejawaran District have fulled requirement; health related behaviors achievement are various, but mostly must be increased; and the majority environment archievement haven ’t fulled health requirements yet.Kecamatan Pejawaran memiliki AKB tinggi selama 5 tahun terakhir dan lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat, dan lingkungan di Kecamatan Pejawaran. Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan pendekatan survei. Sampel sebanyak 97 yaitu ibu yang pernah melahirkan 1 bayi lahir hidup dan tinggal di Pejawaran minimal 5 tahun. Pelayanan kesehatan maternal-neonatal cukup tersedia, dapat diterima-berkelanjutan, mudah dicapai, dapat dijangkau, dan berkualitas. Perilaku sehat masyarakat bervariasi, komponen yang masih memerlukan perhatian adalah mencuci tangan dengan benar, menggosok gigi, kadarzi, penolong persalinan, asuransi kesehatan dan merokok. Perilaku sakit masih rendah khususnya pengetahuan ibu. Perilaku peran sakit beragam khususnya perilaku mencari kesembuhan. Pengetahuan adanya tempat pelayanan kesehatan dan kepemahaman terhadap hak orang sakit tercapai dengan baik walaupun kepemahaman terhadap kewajiban orang sakit masih rendah. Komponen rumah yang belum mencapat syarat kesehatan adalah kepadatan rumah (22,7%), lantai (51,5%), dinding (49,5%), langit-langit (3,1%), ventilasi (66%), pencahayaan (20,6%), dan kandang ternak (51,6%). Sanitasi dasar yang belum mencapat syarat kesehatan adalah sumber air bersih (100%), sarana pembuangan kotoran (87%), sarana pembuangan sampah (4,15%), dan sarana pembuangan limbah (50,5%). Kesimpulan yang diperoleh adalah pelayanan kesehatan maternal-neonatal Kecamatan Pejawaran sudah memenuhi syarat; cakupan perilaku masyarakat terkait kesehatan beragam, namun sebagian besar harus diperbaiki; dan cakupan komponen lingkungan sebagian besar belum memenuhi syarat kesehatan.
Ekstrak Buah Legundi (Vitex trifolia) Mampu Menghambat Pembelahan dan Pertumbuhan Sel Tumor Kulit Tikus Lubis, Humairah Medina Liza; Hariaji, Ilham
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 17, No 1 (2017): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v17i1.3676

Abstract

Dengan perubahan gaya hidup manusia yang tidak sehat, terpapar radiasi sinar ultraviolet, agen fisika dan kimia secara berlebihan, luka yang lama tidak sembuh khususnya luka bakar dan infeksi virus, yang apabila dibiarkan dan tidak diobati bisa berkembang menjadi kanker. Pengobatan untuk tumor lebih banyak menggunakan obat-obatan sintetik yang juga dapat menimbulkan komplikasi dan kebanyakan belum menunjukkan hasil yang memuaskan, sehingga banyak penelitian ditujukan pada tanaman tradisional yang banyak tumbuh di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi penghambat pembelahan sel dari ekstrak buah legundi (Vitex trifolia). Penelitian ini adalah studi eksperimental dengan menggunakan tikus Wistar yang dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok kontrol normal (K1), kontrol positif (K2), P1, P2, P3. Ekstrak etanol buah V. trifolia dibagi dalam 2 dosis yaitu 0,5g dan 1g/kgBB/hari/oral selama 3 minggu. Hasil penelitian berupa 3 slide (60%) adalah tumor ganas (nonkeratinizing squamous cellcarcinoma), 1 slide (20%) adalah lesi atipik dan 1 slide (20%) adalah lesi jinak. Setelah pemberian terapi menggunakan buah V. trifolia, kelompok 2, 3, dan 4 yang memiliki lesi tumor mengalami penurunan ukuran (mengecil). Disimpulkan bahwa ekstrak etanol buah V. trifolia memiliki kemampuan untuk menginhibisi aktivitas proliferasi dan pertumbuhan dengan dosis pemberian 0,5 g dan 1 gr/hari.
Hubungan Angka Neutrofil dengan Mortalitas Infark Miokard Akut Utami, Mugi Restiana; Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i1.993

Abstract

Infark Miokard Akut (IMA) adalah kondisi otot jantung yang tidak mendapatkan cukup darah dan oksigen. Jaringan yang mengalami infark dapat menimbulkan reaksi peradangan pada daerah perbatasan antara infark dengan jaringan hidup. Neutrofil dengan cepat memasuki daerah yang mati dan mulai melakukan penghancuran. Neutrofilia merupakan petanda inflamasi pada kejadian koroner akut dan mempunyai nilai prognostik. Belum ada penelitian yang spesifik pada angka neutrofil sebagai prediktor mortalitas infark miokard akut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan angka neutrofil dengan mortalitas IMA. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain studi kasus kontrol dengan menggunakan rekam medis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dikelompokkan menjadi kelompok meninggal dan kelompok yang masih hidup. Didapatkan 146 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok, 38 orang dalam kelompok yang meninggal dan 108 orang untuk kelompok yang masih hidup. Hasil analisis dengan chi square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kelompok yang meninggal maupun yang masih hidup dengan nilai OR 1,476 (95% CI 0,65-3,22; p=0,368), sehingga dapat disimpulkan bahwa angka netrofil tidak berhubungan dengan mortalitas IMA.Acute Myocardial Infarction (AMI) is an insufficiency of oxygen and blood in myocard. Infarction can induce inflammation reaction in borderline area of infarct and health tissue. Neutrophil enter to infarct area immediately and destroy. Neutrophilia is inflammation marker in acute coroner syndrome and have prognostic value. There is no a specific research about neutrophil as predictor of mortality of acute myocardial infarction. The objective research is to ascertain the relationship between neutrophil counts following acute myocardial infarction during hospitalization. An observational analytical research was done on AMI patients were hospitalized in the PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital with case control design using medical records. Subject who fulfilled inclusion and exclusion criteria were divided into 2 groups, death group and live group. There were 146 samples which were divided into 2 groups, 38 patients in death group and 108 patients in live group. Chi square test showed that there is no significance statistically between death group and live group with OR 1,44 (95% CI 0,65-3,22; p=0,368). Neutrophil count does not related with mortality of AMI.
Hubungan Aspek-aspek Perawatan Kaki Diabetes dengan Kejadian Ulkus Kaki Diabetes pada Pasien Diabetes Mellitus Arlina Dewi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1.1691

Abstract

Diabetic foot is one of chronic complications of Diabetes Mellitus. Bad management and care for diabetic foot will lead to become Diabetic Ulcers. Mortality and amputation remain frightening to Diabetic patients. One of the Diabetic foot management in order not to develop further serious problem is Diabetic Foot Care. This study aimed to identifying aspects of Diabetic foot care due to Diabetic foot ulcers in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta. It was a cross sectional study. The research sample were patients with Diabetes Mellitus in PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta who met the inclusion criteria and with the number of 21 people for each case and control group using purposive sampling technique. The check list used comprised 6 aspects of Diabetic Foot Care. The data required was then made nominal and analyzed using Chi Square statistical test with degree of significance 95%. The findings showed that there were significant correlations between Diabetic Foot Care aspects with Diabetic Foot Ulcers, except for aspect of routine foot control. The probability value between 0,002 to 0,030 was gained from related 5 aspects. However there was one aspect that did not show significant value of p 0,050. It was concluded that there was significant correlations between 5 aspects of Diabetic Foot Care with the occurrence of Diabetic Foot Ulcers.Kaki Diabetes merupakan salah satu komplikasi kronik Diabetes. Kaki diabetes yang tidak dikelola dan dirawat dengan baik akan mudah mengalami luka dan cepat berkembang menjadi Ulkus Diabetes. Angka kematian dan laju amputasi masih menjadi momok yang menakutkan bagi para diabetesi. Salah satu upaya pengelolaan kaki diabetes agar tidak menjadi problem yang serius dikemudian hari adalah perawatan kaki diabetes. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek- aspek perawatan kaki diabetes yang berhubungan dengan kejadian Ulkus Kaki Diabetes di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.  Jenis penelitian ini adalah penelitian Cross Sectional. Sampel penelitian ini adalah pasien DM di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan berjumlah 21 orang untuk masing-masing kelompok kasus dan control dengan menggunakan teknik Purposive Sampling. Check List yang digunakan berisi seputar aspek-aspek perawatan kaki diabetes yang meliputi 6 aspek. Data yang didapatkan kemudian dinominalkan dan diolah dengan uji statistik Chi Square, menggunakan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara aspek-aspek perawatan kaki diabetes dengan kejadian Ulkus Kaki Diabetes, kecuali untuk aspek kontrol kaki berkala. Dari 5 aspek yang dihubungkan mendapatkan nilai probabilitas antara 0,002 sampai 0,030. Sedangkan 1 aspek lainnya tidak menunjukkan taraf signifikansi karena p 0,05. Dari hasil di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara 5 aspek perawatan kaki diabetes dengan kejadian Ulkus Kaki Diabetes.
Kepuasan Pasien terhadap Komunikasi Dokter Pasien di Puskesmas Dewi, Arlina
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1602

Abstract

Doctor patient communication is the important basis of diagnosis, therapy and preventive process. In a few cases in Primary, Care, most of doctrs do wrong diagnosis because of inhibition in communication. In a busy doctor practice, communication takes short time. Patient are dissatisfied to doctor care because of less attention and opportunity to express their feeling. The objective of this study is to determine the correlation between patient satisfaction and duration of doctor patient communication in Community Health Centre. The research method used cross sectional design with analytic type. The collected data using satisfaction questionnaire that filled directly by respondent and direct observation by researcher to duration of doctor patient communication. Sixty-four respondents selected at random from eight Community Health Centres in Primary Care where doctor care the patient. Spearman Correlation test is used to analyze the data. The study finds out that the duration of doctor patient communication is 2,96±1,27 minutes on average. Based on eight categories (greeting, non verbal, empathy, language, listening, giving information, summarizing, motivation) of patient satisfaction level, the highest score is empathy and the lowest score is greeting. Patient satisfaction score to female doctor is higher than male (p=0,026). There is moderate correlation (r=0,444, p0,005) between patient satisfaction and duration of doctor patient communication in Community Health Centre. In conclusion, there is moderate correlation between patient satisfaction and duration of doctor patient communication in Community Health Centre.Komunikasi dokter pasien merupakan landasan yang penting dalam proses diagnosis, terapi maupun pencegahan penyakit. Dalam beberapa kasus di Primary Care banyak dijumpai dokter yang keliru mendiagnosis karena adanya hambatan dalam komunikasi. Pada praktik dokter yang sibuk komunikasi yang terjadi hanya sangat singkat. Ketidakpuasan sebagian pasien terhadap layanan dokter karena merasa kurang diperhatikan dan tidak ada kesempatan dalam mengungkapkan perasaannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepuasan pasien dengan durasi komunikasi dokter pasien di Puskesmas. Metode penelitian menggunakan rancangan cross sectional dengan jenis penelitian analitik. Pengumpulan data menggunakan kuisioner kepuasan yang diisi langsung oleh responden dan observasi langsung oleh peneliti terhadap durasi komunikasi dokter pasien. Enampuluh empat responden pasien terpilih secara acak dari delapan Puskesmas tempat dokter Primary Care memberikan pelayanan. Analisis data menggunakan uji Spearman Correlation. Hasil penelitian didapatkan rata rata durasi komunikasi dokter pasien 2,96±1,27 menit. Dari delapan komponen kategori (greeting, non verbal, empathy, language, listening, giving information, summarizing, motivation) tingkat kepuasan pasien yang tertinggi pada empathy dan yang terendah pada greeting. Skor kepuasan pasien terhadap dokter perempuan lebih tinggi daripada dokter laki laki (p= 0,026). Terdapat korelasi sedang (r = 0,444, p0,005) antara kepuasan pasien dengan komunikasi dokter pasien di Puskesmas. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan sedang antara kepuasan pasien dengan komunikasi dokter pasien di Puskesmas.
Gambaran Leukosit Pro Inflamasi pada Status Asmaticus di RSUD Kebumen Ester Tri Rahayu; Adika Zhulhi Arjana; Juwariyah Juwariyah; Rahma Yuantari; Rozan Muhammad Irfan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 18, No 1 (2018): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.180108

Abstract

Asma merupakan kondisi penyempitan jalan nafas yang selama ini hanya dianggap sebagai reaksi hipersensitifitas tipe 1 karena pada kondisi lain juga dapat disebabkan oleh inflamasi dan koagulasi. Pada hipersensitifitas tipe 1 terdapat peran neutrofil dan eosinofil dan dalam penelitin ini akan dipetakan fenotip asma berdasarkan aktifitas eosinof dan neutrofil yaitu eosinofilik dan neutrofilik pada serangan akut asma. Penelitian dilakukan dengan desain observasional retrospektif terhadap data sekunder pasien asma dewasa, dalam waktu 1 tahun kebelakang dengan sampel sebanyak 91 orang di RSUD Kebumen. Pengambilan data menggunakan data rekam medis. Analisis data menggunakan uji ANOVA untuk data terdistribusi normal, dan uji rerata Kuskal-Wallis untuk data tidak normal. Karakteristik subyek sejumlah 91 orang, dengan 31 subyek pria dan rerata umur 38 tahun. Delapan puluh empat persen subjek adalah asma derajat ringan, 4 % berat dan sisanya sedang. Pada uji rerata eosinofil dan neutrofil, terdapat berbedaan rerata antar derajat serangan namun tidak signifikan secara statistik. Subyek asma neutrofilik lebih mendomasi dibandingkan eosinofilik. Walaupun begitu, belum dapat diambil kesimpulan hubungan kadar eosinofil dan neutrofil terhadap derajat asma karena belum ada hasil statistik yang signifikan.
Efek Paparan Pengharum Ruangan Cair dan Gel terhadap Gambaran Histologi Mukosa Hidung Rattus norvegicus Yuningtyaswari, -; Dwitasari, Verani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i2.1023

Abstract

Pengharum berbentuk cair dan gel merupakan pengharum ruangan modern yang banyak digunakan masyarakat. Berbagai macam zat kimia diduga terkandung di dalamnya, seperti etanol, formaldehida, naftalena, fenol, ptalat dan xilena. Zat kimia pengharum masuk pertama kali ke dalam tubuh melalui rongga hidung. Penelitian ini bertujuan mengkaji perbedaan pengaruh paparan pengharum ruangan cair dan gel terhadap gambaran histologi mukosa respiratorius rongga hidung. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan post-test only control group design. Subyek penelitian adalah 18 ekor tikus putih (Rattus norvegicus) jantan yang terbagi dalam 3 kelompok: kelompok kontrol negatif, kelompok pemaparan pengharum ruangan cair dan kelompok paparan pengharum ruangan gel. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan uji post hoc Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan ketebalan antara kelompok pengharum ruangan cair dengan kelompok gel p 0,008 (p0,05) dan antara kelompok pengharum ruangan cair dengan kelompok kontrol p 0,004 (p0,05), sedangkan perbedaan ketebalan kelompok pengharum ruangan gel dengan kelompok kontrol p 0,197 (p0,05). Disimpulkan paparan pengharum ruangan cair memberikan pengaruh yang lebih signifikan terhadap perubahan histologi mukosa respiratorius nasal dibandingkan paparan pengharum ruangan gel. Liquid and gel air freshener regarded as a widely used in modern society. Various chemicals allegedly contained therein, such as ethanol, formaldehyde, naphthalene, pthatale, phenol, xylene. The first contact to chemical substances in the body is nasal cavity. The aim of this study is to evaluate the difference effect between the exposure of liquid and gel air freshener on hstological nasal mucos. The study used experimental research with post-test only control group design. The subject were 18 tails of male rats (Rattus norvegicus), divided into three groups: control group, liquid air freshener exposure group and gel air freshener exposure group. Data analyzed with Kruskal Wallis and followed by post hoc Mann-Whitney. The result showed that the differences between the epithelium’s thickness on the exposure of liquid and gel air freshener group is p 0,008 (p 0.05), between group of liquid air freshener and the control group is p 0,004 (p 0.05). Thickness between gel air freshener group and control group is p 0,197 (p 0.05). The conclusion is liquid air freshener have greater influence on the histological changes in the nasal respiratory mucosa compared to gel air freshener exposure.
Perawatan Spiritual dalam Keperawatan : Sebuah Pendekatan Sistematik Khoiriyati, Azizah
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1.1654

Abstract

Spiritual needs, and psychosocial needs are much less tangible than physical needs because they are often abstract, complex and more difficult to measure. Spiritual care can be a natural part of total care which fits easily into the nursing process of assessment, nursing diagnosis, planning, implementation and evaluation. Placing spiritual need and spiritual care within this framework, has proved to be very helpful, for both philosophical and practical reason. In reality though, nurses are in the best position to deliver this important aspect of nursing care, particularly when caring for the patient with a life-threatening illness. Nurses learn early to become good listeners and communicators. By helping patients express their beliefs and by staying with them during the events of their illness, they are providing spiritual care. The challenge for nurses is to embrace holism and a holistic view of life and self and then convey this into caring for others.Kebutuhan spiritual dan psikososial kurang menjadi hal yang prioritas daripada kebutuhan fisik karena kebutuhan tersebut seringkah abstrak, kompleks dan lebih sulit untuk diukur: Perawatan spiritual menjadi bagian dari perawatan secara menyeluruh yang cukup mudah diterapkan dalam proses keperawatan dari mulai pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Kebutuhan dan perawatan spiritual di dalam kerangka kerja proses keperawatan ini telah terbukti sangat membantu baik dari segi filosofis maupun praktis. Faktanya, perawat berada dalam posisi terbaik dalam memberikan asuhan keperawatan, terutama ketika merawat klien yang mempunyai penyakit yang mengancam jiwa. Perawat belajar sejak dini untuk menjadi komunikator dan pendengar yang baik. Dengan membantu klien mengekspresikan kepercayaannya dan berada di dekat klien selama proses penyakitnya maka perawat sedang memberikan perawatan spiritual. Tantangan bagi perawat adalah menerapkan pandangan secara menyeluruh pada kehidupan dan dirinya dan kemudian ide ini diterapkan dalam pemberian perawatan pada orang lain.
Risk Factors of Ovarian Cancer in PKU Muhammadiyah Teaching Hospital Yogyakarta Wenang, Supriyatiningsih; AN, Alfun Dhiya; Pratiwi, Witri Andi; Lelle, Ralph J.; Haier, Joerg
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 20, No 2 (2020): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.200247

Abstract

Introduction: Ovarian cancer is non-communicable diseases that has a high mortality rate. In PKU Muhammadiyah Teaching Hospital Yogyakarta in 2014-2017, ovarian cancer is 5th out of all types cancers diagnosed. Most of them are asymptomatic in early stage and come to hospital at late stage. Recognize and identify the risk factors of ovarian cancer are very important to prevent the patient from morbidity and mortality. The purpose of this study was to know the relationship between low parity, infertility, age, and family history with ovarian cancer in PKU Muhammadiyah Teaching  Hospital Yogyakarta.Methods: This study was an observational analytical study with cross sectional design. The sample was medical record of women with ovarian cancer and non ovarian cancer in PKU Muhammadiyah Teaching Hospital Yogyakarta period of April 2014-September 2017 with inclusion and exclusion criteria. Data analysis used chi-square test.Result: The bivariat analysis showed that there is no relationship between low parity with ovarian cancer (p=0,790 OR=0,87; 95% CI 0,305-2,466), there is no relation between infertility with ovarian cancer (p=0,104 OR=2,48; 95% CI 0,815-7,545), and there is no relation between family history with ovarian cancer (p=0,304 OR=3,18; 95% CI 0,315-32,039). But there is a relationship between age with ovarian cancer (p=0,01 OR=0,11; 95% CI 0,022-0,510).Conclusion: There are no relations between low parity, infertility, and family history with ovarian cancer. But there is a relationship between age with ovarian cancer.
Vitamin C dapat Menurunkan Terjadinya Katarak Lebih Awal Meida, Nur Shani
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v2i2.1509

Abstract

Nutrisi yang tepat dapat melindungi tubuh terhadap perkembangan katarak, terjadi pada 45% orangtua yang berusia 75 tahun. Operasi katarak adalah tindakan bedah yang paling sering dilakukan pada orangtua. Taylor dkk dalam publikasinya di Ameri¬can Journal Clinical Nutrition melaporkan penelitian tentang konsumsi vitamin C tiap hari dari diet selama 13-15 tahun, ternyata mempunyai peran bermakna dalam mencegah salahsatu tipe katarak pada wanita yang berusia kurang dari 60 tahun. Ada sejumlah 492 subyek non diabetik diambil dari Nurse ’s Health Study, yaitu sekelompok perawat di Boston yang memberikan informasi tentang diet dan kesehatannya dan diikuti sejak tahun 1976. Subyek tersebut diperiksa matanya secara detail untuk mendeteksi beberapa bentuk katarak dan informasi intake vitamin dalam jangka waktu lama diambil melalui kuesioner tentang frekuensi makan dari 1980 terus sampai 1993/1995. Kemudian mata diperiksa, ternyata 34% didapatkan bentuk “kortikal opacities” suatu bentuk umum katarak di kortek. Tigapuluh sembilan persen mata mempunyai bentuk katarak lain dengan 1/3 nya terdapat kekaburan lensa di lebih dari 1 tempat. Sebagian besar wanita mengalami opasitas lebih awal sekali dan belum mengalami gejala visual. Hubungan bermakna diamati antara umur, intake vitamin C dan prevalensi katarak. Untuk wanita kurang dari 60 tahun dengan konsumsi vitamin C sebanyak 362 mg per hari ternyata berhubungan dengan 57% risiko rendah perkembangan “kortokal opasities” dan penggunaan suplement vitamin sekurang-kurangnya 10 tahun berhubungan dengan 60% katarak subkapsul posterior menurun pada wanita yang tidak merokok dan diet tinggi folat dan karotenoid. Hasil ini membuktikan bahwa nutrien tertentu dapat menurunkan gangguan yang dialami pada masa tua. (Disarikan dari Elizabeth Horowith dalam American Journal of Clinical Nutri¬tion, tanggal 22 Februari 2002)

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue