cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Perbedaan Membersihkan Lidah dengan Sikat Gigi dan Tongue Scraper Terhadap Penurunan Bakteri Streptococcus Mutans pada Lidah Anak Perempuan Umur 12 Digjaya, Ryan Pandu; Utomo, Rinaldi Budi
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1 (S).9422

Abstract

Latar belakang : Tarbentukya karies gigi dipicu oleh produk asam yang berasal dari bakteri, dan penting dilakukan pembersihan dengan sikat gigi. Sebagian besar mikroorganisme di saliva berasal dari lidah dan secara umum mikroorgzmisme lidah mempengaruhi flora normal rongga mulut. Permukaan lidah merupakan tempat utama bagi pertumbuhan mikroorganisme, diantaranya streptococcus mutan kurang lebih 50% dari populasi bakteri rongga mulut, dan memerlukan pembersihan dengan sikat gigi, Beberapa tahun terakhir, telah diperkenalkan berbagai jenis alat untuk membersihkan lidah. Konsepnya sangat logis dan sederhana yaitu dengan menggunakan tongue scraper untuk membersihkan lidah selain sikat gigi.Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan membersihkan lidah dengan menggunakan sikat gigi dan tongue scraper terhadap penurunan bakteri streptococcus mutan pada lidah anak perempuan umur 12 tahun.Metode Penelitian : Jenis peneilian yang dilakukan adalah eksperimental laboratoris. Subjek penelitian ini adalah siswi-siswi asrama komplek N Yayasan A1i Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Bakteri yang dihitung merupakan bakteri yang terambil oleh sikat gigi dan tongue scraper. Analisis data yang digunakan adalah independent sample t-tes.Hasil dan  Kesimpulan : Nilai probabilitas 0,000 (sig. P 0,05) dapat disimpulkan bahwa hasil sangat signifikan, dan didapat nilai mean 174.8667 untuk sikat gigi dan 264.2000 untuk tongue scraper  maka terdapat perbedaan membersihkan lidah dengan sikat gigi dan dengan tongue scraper terhadap penurunan jumlah bakteri streptococcus mutan pada lidah anak perempuan umur 12 tahun. Nilai mean untuk tongue scraper lebih besar dari pada sikat gigi, maka Penggunaan Tongue scraper lebih banyak mengurangi bakteri streptococcus mutan pada lidah anak perempuan umur 12 tahun dari pada membersihkan menggunakan sikat gigi.
Kasus Carcinoma Mammae pada Wanita dengan Keluhan Benjolan Payudara yang Tak Teraba (Nonpalpable Mass) : Peran Ultrasonografi dan Mammografi sebagai Screening Diagnostik Ana Majdawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i2.1478

Abstract

Breast neoplasma is the malignancy of the women that first number and caused highest mortality. We must think screening diagnostic to nonpalpable mass on the breast with have symptoms and rise facors. The case was diagnosed by anamnesis of the rise faktor, breast clinical examination, laboratory of BRCA1-2, imaging radiology and histopathology examination. Reported a woman, 44 years old, was menarche on 11 years old, pain in the left breast until upper extremity since two month ago. The craniocaudal and mediolateral position mammography were found multiple linier microcalsification in medioinferior aspect of left breast and not seen low/high density lession around it. Ultrasonography examination was found hypo echoic solid lesion, irreguler shape, ill define, weidht compare deep upper 1. The result of combination mammography and ultrasonography is suspect malignancy mass (BIRADS IV). Patient was operated and sent biopsy of the breast to examine histopathologic Anatomy laboratory. The result histopatholy is find Carcinoma ductal in situ and continued Modified Radical Mastectomy operation at all left breast. Then, the patient is continued chemoterapy and radioterapy treatment. The conclusion of this case report point that imaging radiology is important to diagnose screening. The mammography apperance is microcalsification and the ultrasound seem the hypoechoic lesion with ill define and deep per weidht one more pointed breast malignancy tumour. The Validity combination mammography and ultrasound high enough, with 91% of sensitivity and 98% of specivicity.. The early finding of breast screening can increase five survival rate in the patient.Tumor ganas payudara merupakan keganasan pada wanita yang menduduki peringkat teratas dan sebagai penyebab kematian yang tinggi. Tumor ganas payudara dini kadang tidak memberikan gej ala berupa terabanya massa (nonpalpable mass), sehingga perlu dipikirkan screening diagnostik dengan mempertimbangkan berbagai faktor risiko dan gejala klinis yang mendukung. Penegakan diagnosis pada kasus keganasan pada payudara meliputi anamnesis dengan menggali faktor risiko, pemeriksaan fisik payudara, laboratorium (BRCA.j 2), pemeriksaan penunjang radiologi dan histopatologi. Dilaporkan wanita, 44 tahun dengan menarche 11 tahun, keluhan payudara kiri nyeri dijalarkan sampai lengan dan puting lecet selama 2 bulan. Hasil pemeriksaan mammografi posisi craniocaudal (CC) danmediolateral oblique (MLO) didapatkan mikrokalsifikasi linier, 2 buah di aspekmedioinferior dan tak tampak lesi densitas tinggi/rendah pada kedua payudara. Hasil pemeriksaan ultrasonografi, tampak lesi solid hypoechoic dengan bentuk irreguler, batas tak tegas irreguler, perbandingan tebal dan lebar lesi lebih dari 1. Hasil kombinasi pemeriksaan ultrasonografi dan mammografi mengarahkan lesi malignancy sesuai BIRADS IV. Penderita dilakukan operasi dan durante operasi dilakukan biopsi jaringan yang dilanjutkan pemeriksaan histopatologi. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan carsinoma ductal insitu dan pada puting yang lecet juga menunjukkan sel ganas, sehingga dilakukan pengangkatan payudara kiri seluruhnya (Modified Radical Mastectomy) dilanjutkan terapi radiasi dan chemoterapi. Kasus ini menujukkan bahwa peran pencitraan radiologi untuk screening diagnosis kelainan payudara sangat penting. Gambaran mikrokalsifikasi pada mammografi dan lesi hypoechoic, batas tak tegas dengan perbandingan deep/weidht lebih dari 1 mengarahkan pada suatu keganasan dengan validitas diagnostik tinggi (sensitifitas 91% dan spesifisitas 98%). Deteksi dini terutama pada kasus nonpalpable mass pada payudara akan memperbaiki keberhasilan terapi dan meningkatkan angka harapan hidup penderita.
Buah Lycopersicum esculentum Mempunyai Efek Terapi terhadap Penurunan Jumlah Akne Vulgaris Muthia Isna Anindita; Siti Aminah Tri Susilo Estri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 3 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i3.2483

Abstract

Akne vulgaris merupakan gangguan folikel pilosebaseus yang menyebabkan komedo, papul dan pustul di daerah wajah. Akne vulgaris banyak diderita pada masa pubertas meskipun dapat juga terjadi selain pada masa pubertas. Berbagai bahan dan obat banyak dikembangkan untuk mengobati akne vulgaris termasuk tomat. Tomat (Lycopersicum esculentum) merupakan buah yang sudah dikenal sejak dahulu dan mudah dijumpai. L. esculentum antara lain mengandung tomatin sebagai antiinflamasi dan dapat mengobati jerawat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian buah tomat (Lycopersicum esculentum) terhadap jumlah lesi akne vulgaris. Desain penelitian ini eksperimental dengan pembanding atau kontrol tanpa matching atau independen. Subyek penelitian adalah mahasiswa berusia 17-23 tahun, sejumlah 11 orang pada kelompok kontrol dan 10 orang pada kelompok perlakuan (masker buah L. esculentum 1 buah/hari). Pengambilan data dilakukan dengan menghitung jumlah lesi akne vulgaris yang kemudian dianalisis menggunakan Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan jumlah lesi akne vulgaris sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok kontrol (p=0.230), sedangkan pada kelompok perlakuan terdapat perbedaan yang bermakna (p=0.002). Rerata penurunan jumlah lesi pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan pada hari ke 0-30 memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna (p=0.020). Disimpulkan bahwa terdapat efek terapi buah L. esculentum terhadap penurunan jumlah lesi akne vulgaris.Acne vulgaris is a pilosebaseus follicle impaired which can cause comedos, papules, and pustules around the face. Acne vulgaris can be suffered by puberty although it can impact the other one. There are many materials and medicines which is developed to treat acne vulgaris including tomato. Tomato (Lycopersicum esculentum) consists of tomatin which has antiinflamation and cures acne vulgaris. Pur­pose of this study is to know the effect of L. esculentum treatment for the number of acne vulgaris lesion. The design of this study is experimental with comparison. The subjects are student and there are 11 subjects in control group and 10 subjects in experimental group (L. esculentum face mask 1 fruit/day). Data collection was conducted by counting the number of lesions of acne vulgaris were then analyzed using the Mann Whitney. The result of the study shows that there is no difference number of acne vulgaris lesions before and after experiment in control group (p=0.230), while in the experimental group there is significant difference number (p=0.002). The average space number of acne vulgaris lesions in control and experi­mental group 0-30 days shows that there is significant difference number (p=0.020). It was conluded that there is therapy effect of L. esculentum to decrease the number of acne vulgaris lesions.
Kesehatan Gigi Anak Autis Laelia Dwi Anggraini
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2.1675

Abstract

Autism is a development disturbance in children, which includes communication, interaction and behavior. Autistic children suffer more serious mouth disease because disability to brush their teeth. The main problem in handling autistic children is building a good communication and giving attention in health teeth. Good cooperation from parents, autistic child, and their dentist is a key success for the teeth care of autistic children. This paper explains about autism including its etiology, diagnosis, therapy and how to handle the mouth and teeth health of autistic children.Autis adalah gangguan perkembangan pada anak yang meliputi komunikasi, interaksi dan kebiasaan. Anak autis mempunyai gangguan kesehatan mulut yang serius, disebabkan ketidakmampuannya menyikat gigi. Masalah utama menangani anak autis adalah membangun komunikasi dan memberi perhatian pada kesehatan giginya. Kerjasama yang baik antara orang tua, anak autis dan dokter giginya adalah kunci kesuksesan perawatan gigi anak autis. Makalah ini menerangkan tentang autis meliputi etiologi, diagnosis, terapi dan bagaimana menangani kesehatan gigi dan mulut anak autis.
Correlation between Middle Finger Length and Stature of Bataknese Students in Sumatera Utara University Iswary Halwadini; Hendra Sutysna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 20, No 2 (2020): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mm.200243

Abstract

Pendahuluan: Berbagai macam kejadian seperti bencana massal maupun mutilasi dapat menyebabkan anggota tubuh seseorang tidak dikenali bahkan potongan-potongan tubuhnya terpisah. Penelitian mengenai jari tangan ini penting dilakukan untuk menentukan identitas seseorang karena potongan jasad bisa ditemukan dalam bentuk potongan pendek seperti jari tangan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan panjang jari tengah tangan terhadap tinggi badan pada suku Batak di FK UMSU. Metode: Rancangan penelitian ini adalah analitik korelatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa aktif, dosen tetap, dan pegawai tenaga pendidikan yang ber-suku Batak di FK UMSU yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dan berjumlah sebanyak 63 orang. Hasil: Panjang jari tengah tangan memiliki korelasi yang positif dan signifikan terhadap tinggi badan dengan koefisien korelasi yang berkisar antara 0,780 hingga 0,939 (p0,001). Persamaan regresi linear yang didapatkan menunjukkan Standard Error of the Estimate (SEE) yang berkisar antara 1,714 hingga 3,528 (p0,001). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara panjang jari tengah tangan (digiti III manus) terhadap tinggi badan disertai koefisien korelasi yang kuat hingga sangat kuat, dengan demikian tinggi badan dapat diperkirakan dengan mengukur panjang jari tengah tangan melalui persamaan regresi linear. 
Hubungan Pengetahuan Ibu dan Tingkat Ekonomi Keluarga terhadap Perkembangan Motorik Balita Prandy Novi Prima Pratama; Ekorini Listiowati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i2.1057

Abstract

Perkembangan motorik pada balita terdiri atas perkembangan motorik kasar dan motorik halus. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan motorik balita. Pengetahuan ibu terhadap perkembangan motorik balita dan tingkat ekonomi keluarga diduga dapat mempengaruhi perkembangan motorik balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan ibu dan tingkat ekonomi keluarga terhadap perkembangan motorik balita. Penelitian ini menggunakan metode observational dengan disain cross sectional. Populasi yang digunakan adalah balita yang ada di Puskesmas Kraton, Yogyakarta pada periode waktu Mei – Juni 2012. Sampel yang diambil berjumlah 54 orang dengan perhitungan rumus untuk Uji Korelasi Spearman. Penelitian menunjukkan pengetahuan ibu tentang perkembangan motorik balita baik (53,7%) dan tingkat ekonomi sedang 44,4%, tinggi 9,3%. Hasil analisis hubungan tingkat pengetahuan ibu terhadap perkembangan motorik balita bermakna dengan p=0,03. Hubungan tingkat ekonomi keluarga dengan perkembangan motorik balita bermakna dengan p=0,038. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan ibu dan tingkat ekonomi keluarga terhadap perkembangan motorik balita. Motor development in infants consists of the development of gross motor and fine motor skills. Many factors influence infant motor development. Knowledge of mother to infant motor development might and level of economic family impact on infant motor development. This study aimed to determine the relationship between mother’s knowledge and level of economic family  on motor development toddlers. This study uses cross-sectional observational method design. The population is under five years old in the clinic Kraton, Yogyakarta on May – June 2012. Sampels taken around 54 people with the calculation formula for the Spearman correlation test. This reaseach show a relationship between mother’s knowledge and toddler motor development is significan with p=0,03. And the relationship between level of economic family income to the toddler motor fdevelopment is significan with p=0,038. The conclusion is there is relationship between mother’s knowledge and level of economic family income to the toddler motor fdevelopment
Analisis Efektivitas Terapi dan Biaya antara Haloperidol Kombinasi dengan Risperidon Kombinasi pada Terapi Skizofrenia Fase Akut Imaniar Ranti; Andi Fauziyar Octaviany; Sekar Kinanti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 15, No 1 (2015): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v15i1.2495

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat dengan perjalanan penyakit terdiri dari fase akut, fase stabilisasi dan fase stabil. Pemilihan terapi yang tepat pada fase akut akan mempengaruhi prognosis pasien. Penggunaan antipsikotik haloperidol dan risperidon saat ini menjadi pilihan untuk terapi farmakologi skizofrenia. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji efektivitas terapi dan biaya antara haloperidol kombinasi dengan risperidon kombinasi pada terapi skizofrenia fase akut. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain pretest-posttest, non randomised, prospective, dan open label. Total sampel 40 pasien skizofrenia fase akut di RSJ. Ghrasia Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis efektivitas terapi menggunakan nilai PANSS-EC dan analisis efektivitas biaya menggunakan diagram efektivitas biaya. Hasil penelitian nilai PANSS-EC post-terapi pada uji statistik Mann-Whitney antara kedua kelompok didapatkan nilai p=0.711 yang bearti tidak terdapat perbedaan efektivitas terapi secara statistik. Hasil analisis biaya rata-rata yang dibutuhkan pasien pada kelompok haloperidol kombinasi adalah Rp 11.186,95 ± Rp 1.163,970, sedangkan kelompok risperidon kombinasi adalah Rp 31.191,40 ± Rp 8.545,114 yang dengan uji statistik Mann-Whitney didapatkan nilai p=0.010 yang bearti haloperidol kombinasi lebih cost-effective dibanding risperidon kombinasi. Disimpulkan bahwa efektivitas terapi kombinasi haloperidol kombinasi sama dengan risperidon kombinasi, tetapi terapi haloperidol kombinasi lebih cost-effective dibanding risperidon kombinasi.Schizophrenia is a severe mental disorder that consists of three phase, there are acute phase, stabilization phase and stable phase. Selection of appropriate therapy in the acute phase will affect the patient's prognosis. The use of antipsychotic haloperidol and risperidone is a choice for pharmacological treatment of schizophrenia now. This study was conducted to assess the therapeutic and cost effectiveness between haloperidol combination with risperidone combination therapy of acute-phase schizophrenia. This study was an observational study with a pretest-posttest design, non-randomized, prospective, and open label. Total sample is 40 acute phase schizophrenia patients in the Ghrasia Psychiatric Hospital Yogyakarta, who meet inclusion and exclusion criteria. Analysis of therapeutic effectiveness using the PANSS-EC instrument and cost-effectiveness analysis using diagrams of cost effectiveness. The result of therapeutic effectiveness analysis were no statistically significant differences in PANSS-EC score post-treatment between two groups (p value = 0.711). The results of the cost-effectiveness analysis of the average cost in the haloperidol combination is Rp 11.186,95 ± Rp 1.163,970, while the risperidone combination is Rp 31.191,40 ± Rp 8.545,114. Based on the Mann-Whitney test (p value = 0.010 ), it’s mean significant difference between the cost of Haloperidol combination therapy and Risperidone combination therapy. Concluded that the therapeutic effectiveness of haloperidol combination with risperidone combination is same, but the combination of haloperidol therapy is more cost-effective than risperidone combination.
Peningkatan Visualisasi Appendix dengan Kombinasi Adjuvant Teknik Pemeriksaan Ultrasonografi pada Kasus Appendicitis Ana Majdawati
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 1 (s) (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i1 (s).1686

Abstract

To diagnose the appendicitis not easy, because in the fact we find many false positive appendicitis post surgery. Ultrasonography is modality that often choose because it has severe superiority, i.e : non invasif, safety, no radiation effect (safety for pregnant woman and children), cheap, easy, simple and need short time. The weakness Ultrasonography is depend on the operator, various appendix location each somebody. The aim of this literature reviews is to resume of various operator-dependent techniques to graded compression ultrasonography that is useful for allowing improved visualization of appendixes. The addition of various operator-dependent techniques to graded compression sonography i.e a posterior manual compression technique, upward graded compression technique, left oblique lateral decubitus position of body, low-frequency convex transducer (especially for obese poeple and gravid woman), the combination of gray scale and color doppler ultrasound can increase diagnostic accuracy of appendicitis (sensitivity, specitivity and accuracy more 99%). The addition of adjuvant technique of dependent operator that have most highly accuracy is a posterior manual compression technique and the lowest is Left oblique lateral decubitus position of body. The result of the research find appendicitis appearances in ultrasound that have most highly accuracy are blind ending tubular structure at the transversal or longitudinal section of ultrasound, diameter of wallthichness more 6 mm, non compressible, non peristaltic, vascularity increased around appendixes in color doppler ultrasound examination.Penegakan diagnosis appendicitis merupakan hal yang tidak mudah, karena kenyataannya di lapangan masih banyak angka positif palsu appendicitis post operasi. Ultrasonografi (USG) merupakan pemeriksaan yang paling sering dipilih sebagai modalitas diagnostik appendicitis karena mempunyai beberapa keunggulan, yaitu: non invasif, aman, efek radiasi tidak ada (aman bagi wanita hamil dan anak-anak), relatif murah dan mudah dilakukan, waktu yang diperlukan singkat. Kekurangannya pemeriksaan USG sangat tergantung ketrampilan pemeriksa, lokasi appendix yang bervariasi untuk tiap orang sehingga teknik pemeriksaan U SG sangat penting diperhatikan. Tujuan literature review ini adalah untuk merangkum berbagai teknik pemeriksaan USG untuk memvisualisasikan appendix sehingga dapat meningkatkan nilai diagnostik appendicitis. Berdasar literatur review ini dapat disimpulkan bahwa teknik graded kompresi dengan Adjuvant teknik pemeriksaan USG dependent operator yaitu: teknik manual posterior, teknik kompresi bertahap ke arah atas, teknik perubahan posisi Left Oblique Lateral Decubitus, penggunaan transducer konveks frekuensi rendah (terutama untuk orang yang obese dan wanita hamil), kombinasi USG gray scale dengan CDU dapat meningkatkan nilai akurasi diagnostik appendicitis (sensitifitas, spesifisitas dan akurasi hampir 99%). Beberapa teknik Adjuvant tersebut yang mempunyai nilai diagnostik tertinggi adalah teknik kompresi manual posterior, sedang yang terendah adalah teknik perubahan posisi tubuh (Left Oblique Lateral Decubitus). Gambaran USG pada appendix yang mengarah appendicitis yang mempunyai akurasi tinggi berdasar beberapa penelitian, adalah: tampak struktur tubular buntu (blind ending) pada potongan longitudinal dan transversal, diameter dinding lebih 6 mm, non compressible, aperistaltik, peningkatan aliran darah pada pemeriksaan CDU di daerah appendix.
Pengaruh Konsumsi Susu Kedelai terhadap Blood Clotting Time Kurniati, Ika Dyah; Astuti, Yoni
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1(s) (2008): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1 (s).1638

Abstract

Soy is raw material of food know and tempeh which have so common among Indonesian society. In the reality soy not only made as food. Soy also can be made milk. High enough protein that content at soy milk have important role in calcium metabolism. Calcium besides good for forming of bone and tooth, and also maintain health of nerve function and muscle, also to help blood coagulation at hurt. The objective of this esearch is to measure the duration time of blood coagulation (clotting time) at subject which given soy milk and subject which do not given soy milk, and also compare the result of measurement between both. Research design used is pretest - post test control group design, using subject 10 people and divided randomly in 2 groups. Group I is group of subject which given soy milk 200 cc twice one day during 14 day. Group II is negative control group and subject did not get treatment. Blood sample was taken before and after research, and measured it clotting time using modification way of Lee White ’s. Result of this research showed that consuming soy milk can quicken clotting time, but this influence were not significantly different (p 0,05). The average of clotting time of group I before given of soy milk 06.26 minut /ml and after it 05.07 minute/ml, average of clotting time of group II before research 04.38 minute/ml and after research 06.36 minut/ml.Kedelai adalah bahan baku makanan pada tahu dan tempe yang sudah begitu melekat di kalangan masyarakat Indonesia. Kedelai juga dapat dijadikan susu. Kandungan protein yang cukup tinggi pada susu kedelai mempunyai peran penting dalam metabolisme kalsium. Kalsium selain berguna untuk pembentukan gigi dan tulang, serta mempertahankan kesehatan fungsi syaraf dan otot, juga membantu pembekuan darah pada luka.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur lamanya waktu pembekuan darah (bloodclotting time) pada subjek yang diberi susu kedelai dan subjek yang tidak diberi susu kedelai, serta membandingkan hasil pengukuran antara keduanya. Rancangan penelitian yang digunakan adalah pretest - post test control group design, dengan menggunakan subjek sebanyak 10 orang dan dibagi secara acak dalam 2 kelompok. Kelompok I adalah kelompok subjek yang diberikan susu kedelai 200 cc dua kali sehari selama 14 hari. Kelompok II merupakan kelompok kontrol negatif dan subjek tidak mendapat perlakuan. Sample darah diambil pada sebelum dan sesudah penelitian, dan diukur clotting time-nya dengan menggunakan modifikasi dari cara Lee White.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa susu kedelai dapat mempercepat blood clotting time, namun tidak signifikan (p 0,05) secara statistik. Rerata clotting time kelompok I sebelum pemberian susu kedelai 06.26 menit/ml dan setelah pemberian 05.07 menit/ml. Rerata clotting time kelompok II sebelum penelitian 04.38 menit/ml dan setelah penelitian 06.36 menit/ml.
The Influence of Chewing Habits on the Degree of Impacted Cerumen Asti Widuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 21, No 1 (2021): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v21i1.9576

Abstract

Abstract: Cerumen was glandular secretions at the outer one-third of the ear mixed with exfoliated squamous epithelium. The jaw's movement keeps the cerumen in the ear canal in a state of balance, so it is clean, protects and lubricates the external auditory canal. Impacted cerumen is also caused by excessive production, narrow canal anatomy, viscosity wax, and irritation due to cotton-tipped swabs habits. This study aims to determine whether chewing habits influence the degree of cerumen obstruction in patients with impacted cerumen. The study was a cross-sectional method in impacted cerumen patients at 17-80 years old in the ENT clinic of District Hospital Wates, Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia. Risk factors assessed were education, age, gender, chewing habits, and cotton-tipped swabs habits. The data were then analyzed by chi-square test. Of 80 respondents with the dominant age range 17-38 years (58.8 %), the number of males was 47 (58.8 %), and females were 33 (41.2 %). The significant risk factors comprised the chewing habit and the use of cotton-tipped swabs. Factors affecting the degree of cerumen in patients with impacted cerumen were the chewing habits and cotton-tipped swabs habits.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1 (2021): January Vol 21, No 1: January 2021 Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18, No 1: January 2018 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue