cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 934 Documents
Pengukuran Tekanan Intraokular pada Mata Normal Dibandingkan dengan Mata Penderita Miop sebagai Faktor Risiko Glaukoma Muflihatur Rasyidah; Yunani Setyandriana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v11i3.989

Abstract

Pengukuran tekanan intraokular merupakan pemeriksaan rutin yang penting pada mata dan merupakan salah satu tanda untuk mengetahui kondisi mata seseorang dalam menilai dinamika humor aquos. Tekanan intraokular adalah tekanan yang dihasilkan oleh isi bola mata terhadap dinding bola mata dan sangat bervariasi pada orang normal dan penderita miop. Mata miop lebih rentan terhadap efek peningkatan tekanan intraokular (TIO) dibandingkan pada mata normal (non-miop) dan terutama merupakan risiko tinggi akan terjadinya glaukoma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tekanan intraokular ( TIO) pada mata normal dibandingkan dengan pasien miop sebagai faktor risiko terjadinya glaukoma. Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan metode observasi klinik non randomize untuk mencari perbedaan hasil pemeriksaan tekanan intraokular (TIO) pada pasien mata normal dan mata miop. Analisi data menggunakan Independent Sampel T-Test. Hasil menunjukkan bahwa rata-rata usia pasien mata normal 21,24 dan pasien miop 26,12. Rata-rata jenis kelamin pasien mata normal dan miop adalah  laki-laki yaitu 26  penderita (52,0 %). Uji statistik menunjukkan distribusi rata-rata tekanan intraokular pada pasien mata normal dan miop baik pada mata kanan maupun mata kiri tidak ada perbedaan yang bermakna (p0,05). Disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna tekanan intraokular antara mata normal dan miop, tetapi dijumpai peninggian tekanan intraokular pada beberapa kasus miop dan mata normal pada penelitian ini.
Proporsi dan Karakteristik Korban dengan Pelaku Pembunuhan yang ditangani di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Dr Sardjito tahun 2003-2013 Ida Bagus Gede Surya Putra Pidada; Kanina Sista
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 2 (2014): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i2.9382

Abstract

Pembunuhan yang berkaitan dengan kekerasan merupakan masalah global. Tingkat pembunuhan di Amerika dan Afrika selatan empat kali lebih tinggi dari rata-rata global, sedangkan daerah Eropa, Asia dan Ocenia kasus pembunuhan tergolong rendah. Ini berarti kasus pembunuhan di Indonesia juga lebih rendah dari rata-rata global, walaupun begitu di Daerah Istimea Yogyakarta (DIY) kasus pembunuhan meningkat pada tahun 2013 dibandingkan tahun sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan karakteristik korban dan pelaku pembunuhan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Subyek penelitian ini adalah korban pembunuhan yang ditangani di Instalasi kedokteran Forensik RSUP Dr Sardjito tahun 2003-2013. Pada penelitian ini terdapat 339 korban pembunuhan, yang terdiri dari 56,3% korban laki-laki dan 59% berusia dewasa. Sebanyak 81,1% dilakukan otopsi, penyebab kematian terbanyak  77,3% karena trauma tumpul, dengan lokasi tersering di kepala yaitu 47,8%, sebanyak 34,2% korban dibunuh dengan cara dipukul dan 38,6% ditemukan luka tangkis pada korban, korban lebih banyak ditemukan di luar rumah (68,4%) dan terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,000) pada tempat kejadian perkara antara laki-laki dan perempuan. Pelaku lebih banyak dilakukan oleh keluarga korban (11,5%) dengan motif terbanyak karena dendam (10,6%). Disimpulkan selama 10 tahun yaitu tahun 2003-2013 didapatkan korban pembunuhan yang ditangani 339 korban, dengan korban laki-laki dan berusia dewasa lebih banyak, penyebab kematian terbanyak karena trauma tumpul di kepala, korban lebih banyak ditemukan di luar rumah, sedangkan pelaku pembunuhan banyak dilakukan oleh keluarga korban dengan motif karena dendam.
Pembinaan Kepribadian FK UMY: Upaya Menghasilkan Dokter Muslim Dirwan Suryo Soularto
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2001)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v1i2.1901

Abstract

Pendidikan tinggi tidak saja dituntut untuk menghasilkan seorang sarjana yang -.enguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tetapi juga seorang yang mempunyai kepribadian yang tangguh sehingga keilmuannya benar-benar dapat bermanfaat tanpa timbul kekhawatiran disalahgunakan. Tampak dari kenyataan bahwa ternyata izigginya pendidikan seseorang bukan jaminan tingginya budi pekerti bahkan indeks rrestasi yang cum laude pun tidak menjamin perilaku dan akhlaknya sehari-hari .iga menjadi cum laude. Banyak contoh buruk yang menunjukkan bagaimana seorang y ang menguasai ilmu dan teknologi tidak memberikan manfaat namun sebaliknya menjadi sumber bencana bagi lingkungan sekitarnya.Sesuai dengan misi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yakni melahirkan saijana yang menguasasi ilmu pengetahuan dan teknologi di atas landasan iman dan takwa yang kokoh, sehingga menjadi insan mandiri berwawasan luas, sadar akan keberadaannya dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia yang majemuk, iklas dan sunguh-sungguh di dalam melaksanakan tugas amar ma'ruf nahi munkar, Fakultas Kedokteran UMY menetapkan tujuan untuk dapat menghasilkan dokter yang profesional, Islami bervisi global dan mempunyai kemampuan manajerial.Untuk mencapai semuanya itu selain sebagai tempat pendidikan keilmuan, fakultas kedokteran dituntut untuk berperan dalam pembentukan kepribadain mahasiswanya, sehingga dapat dihasilkan seorang dokter yang profesional dan memiliki pengetahuan luas dengan didasari kepribadian seorang muslim. Sebuah cita-cita mulia yang tentu tidak mudah untuk diwujudkan. Ini merupakan tantangan sekaligus peluang fakultas kedokteran untuk dapat menciptakan dokter plus yakni dokter muslim.
Perbedaan Derajat Akne Vulgaris pada Diet dengan Indeks Glikemik Sedang dan Tinggi Estri, Siti Aminah Tri Susilo; Susanto, Tri Ari
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2.1598

Abstract

The exact etiology of acne vulgaris is still unknown. However, few epidemiologic studies on acne vulgaris showed that there is association between diets especially with a high glycemic load, with the incidence of acne vulgaris. The objective of this study is to reveal the correlation between high glycemic load diet and lesion of acne vulgaris prevalence. Sample was 60 students of Medical Faculty, Muhammadiyah University of Yogyakarta, consist of 32 male and 28 female with age from 21 to 22 year. Dietary survey was done without diet intervention for two consecutive months and was analyzed for acne status and glycemic load value at the end of each month. an status akne dan nilai dietuhammadiyah Yogyakarta sebanyak 60 orang terdiri dari 32 orang laki-laki dan 28 orangStatistical analyses were done using Wilcoxon test. The result showed that there was a significant difference (p0,05) between the average value of glycemic index in the first month (132,78) and the second month (233,5). The average of lesion count in the first month (9,6) and in the second month (12,88) was significantly difference (p0,05). It is concluded that there were significant differences on lesion count and acne vulgaris severity between the moderate and high glycemic index diets.Faktor penyebab pasti akne vulgaris masih belum diketahui dengan jelas. Penelitian epidemiologis tentang akne vulgaris menunjukkan adanya hubungan antara makanan, khususnya yang mempunyai indeks glikemik tinggi, dengan insidensi akne vulgaris. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan derajat lesi pada penderita akne vulgaris dengan indeks glikemik tinggi dan sedang. Jumlah sampel penelitian ini 60 orang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, terdiri atas 32 laki-laki dan 28 perempuan. Data diperoleh dengan cara survei makanan sehari-hari selama 2 bulan dan setiap akhir bulan dilakukan pengukuran terhadap glycaemic load dan jumlah lesi akne. Selanjutnya kedua data dianalisis menggunakan tes Wilcoxon. Hasil penelitian ini menunjukkan indeks glikemik diet sehari-hari pada bulan pertama (132,78) dan kedua (233,5) berbeda secara bermakna (p0,05). Jumlah rerata lesi akne pada bulan pertama (9,6) dan bulan kedua (12,88) juga berbeda bermakna (p0,05). Kesimpulan: terdapat perbedaan jumlah lesi dan derajat akne vulgaris pada penderita dengan diet dengan indeks glikemik tinggi dan sedang secara bermakna.
Efek Hipoglikemik Jus Buah Morinda citrifolia pada Tikus Diabetik Achmad, Nurliana; Jenie, Ikhlas Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v12i2.1006

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein akibat insufisiensi fungsi insulin. Buah mengkudu (Morinda citrifolia)  mengandung flavonoid dan saponin yang berfungsi sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek jus buah mengkudu terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus terinduksi aloksan. Penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan pre and post-test control group design. Subyek tiga puluh ekor tikus galur Wistar, 2-3 bulan 150-250  gr dibagi 5 kelompok: kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, kelompok perlakuan dengan jus buah mengkudu 2,25 gr/kgBB, jus buah mengkudu 4,5 gr/kgBB dan jus buah mengkudu 9 gr/kgBB. Hasil penelitian menunjukkan pemberian jus buah mengkudu dosis 2,25 gr/kgBB, 4,5 gr/kgBB dan 9 gr/kgBB mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus diabetik terinduksi aloksan. Rata-rata penurunan kadar glukosa darah pada kelompok perlakuan jus buah mengkudu 9 gr/kgBB paling rendah. Terdapat penurunan yang signifikan kadar glukosa darah pre-test dan post-test pemberian jus buah mengkudu dengan nilai P=0,000 (P0,05). Disimpulkan bahwa pemberian jus buah mengkudu dosis 2 ,25 gr/kgBB, dosis 4,5 gr/kgBB dan 9 gr/kgBB dapat menurunkan kadar glukosa darah secara signifikan pada tikus diabetik yang terinduksi aloksan. Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia with disturbances of carbohydrate, fat and protein metabolism resulting from insufficiency of insulin function. Noni fruit (Morinda citrifolia) consists of flavonoid and saponin which function as an antioxidant. This study is aimed to analyze the effect of noni juice in blood glucose level in alloxan-induced diabetic rats. This study was experimental research with pre and post test control group design. The sample consisted of 30  rats Wistar strain, 2-3 months male, weight 150-250 grams were divided into 5 groups: negative control group, positive control group, treatment group with noni juice 2,25 gr/kgBW, noni juice 4,5 gr/ kgBW and noni juice 9 gr/kgBW. The results showed the administration of  noni juice 2,25 gr/kgBW, noni juice 4,5 gr/kgBW and noni juice 9 gr/kgBW was able to decrease blood glucose in Alloxan-induced diabetic rats. Mean of reduction blood glucose in treatment group with noni juice 9 gr/kgBW was the lowest (46,73+1 ,72). There are significant differences in reducing of blood glucose before and after treatment of noni juice which is P=0,000 (P0,05). It was concluded that the giving of noni juice dosage 2,25 gr/kgBW, 4,5 gr/kgBW and 9 gr/kgBW can decrease blood glucose level significantly in alloxaninduced diabetic rats.
Tingkat Kebersihan Mulut (OHI-S) pada Anak SD Kelas VI Di Desa Wonokromo Sari Purwanti; Widjijono Widjijono
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v8i1 (S).9421

Abstract

Oral hygiene is ones of local factor that has a dominant determination in oral disease. In spite of it, the childrens oral health has an influence on good behavior to oral health status. The behavior is a very complex any thing that involves internal or external aspect, even psychological and physical. Elementary at the age of II -1 2 years of school student has already able to think rationally and precisely based on their mperience, along with the family support, in order to keep oral hygiene, but in the village, the reality of oral hygiene is still low.Based on those thoughts the aim of this research is to found the level of children oral hygiene at the age of II-I2 years. The object of this research is Wonokromo village in the border city of Kebulnen confine between Sawangan village and Kaliputih village. The samples of this research are I13 students that consist of 56 boys and 57 girls from three elementary schools in Wonokromo village. This research uses cross sectional survey to see the level of Oral hygiene in children in the 6"’ year of elementary school. The parameter of this research is oral hygiene index. This research is analyzed by descriptive statistic method with SPSS 14. The result of this research showed that 1.0 as the lowest number of OHI-S, and the highest on 5.6. The average from all of the samples was 2.9 :1: 0.835 (moderate criteria). The good criteria of oral hygiene was found in boys, beside the moderate and low criteria was found in girls, the chi-square result showed that p = 0.835, that means there is no difference between boys and girls (p0.05). The conclusion of the research that the children in 6th years of elementary school in the Wonokromo village are on the moderate criteria of oral hygiene (OHI-S) level
Uji Knockdown Effect Ekstrak Bunga Syzygium aromaticum L. terhadap Nyamuk Culex Sp. Dewasa Hayu Sukowati Nopitasari; Loeki Enggar Fitri; Nurdiana Nurdiana
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 14, No 1 (2014): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v14i1.2473

Abstract

Nyamuk Culex sp. merupakan vektor penyakit Filariasis, Japanese encephalitis dan demam chikungunya. Insektisida dipilih untuk mengontrol populasi Culex sp. namun, penggunaan insektisida menimbulkan resistensi nyamuk dan efek toksik pada manusia. Oleh karena itu, diperlukan adanya insektisida yang lebih aman bagi lingkungan. Salah satunya adalah dengan menggunakan ekstrak bunga cengkeh (Syzygium aromaticum L.) yang mengandung carvone, terpinen-4-ol, fenchone, eugenol dan quercetine yang berpotensi sebagai insektisida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa ekstrak bunga S. aromaticum L. memiliki knockdown effect terhadap nyamuk Culex sp. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan rancangan true experimental-post test only con­trol group design. Sampel yang digunakan adalah 25 ekor nyamuk Culex sp. pada setiap perlakuan. Konsentrasi ekstrak bunga S. aromaticum L. yang digunakan adalah 1,25%, 2,5%, 5% dan sebagai kontrol negatif digunakan larutan aseton 1% serta malathion 0,28% sebagai kontrol positif. Dari uji Kruskal-Wallis diketahui bahwa ekstrak bunga S. aromaticum L. pada menit ke-5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, 55 dan 60 memberikan perbedaan yang signifikan diantara konsentrasi 1,25%, 2,5%, 5% dan malathion 0,28% (p0,05). Uji korelasi Spearman membuktikan adanya hubungan yang kuat antara knockdown effect dengan besarnya konsentrasi ekstrak bunga S. aromaticum L. (p=0,000 dan r=0,907). Disimpulkan bahwa ekstrak bunga S. aromaticum L. memiliki knockdown effect terhadap nyamuk Culex sp. dewasa.Culex is vector for Filariasis, Japanese encephalitis and Chikungunya fever. Insecticide is chosen to control Culex sp. population. However, the usage of chemical insecticides make insecticide resistant and toxic effect. Therefore, safer alternative insecticide for environment is needed. One of them is by using clove bud extract. Previous studies has proved that clove bud extract (Syzygium aromaticum L.) has containing carvone, terpinen-4-ol, fenchone, eugenol and quercetine a potency to be insecticide on Culex sp. The purpose of this experiment is to prove whether S. aromaticum L. bud extract has knokdown effect on Culex sp. This research was a laboratorial experimental research using true experimental post test only control group design. The samples were 25 Culex sp. in every group which treated by S. aromaticum L. bud extract (1,25%, 2,5%, 5%) and aceton preparation (1%) as a negative control, malathion preparation (0,28%) as a positive control. Kruskal-Wallis test showed that S. aromaticum L. bud extract in 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, 55 and 60 minute gave significant difference among concentration 1,25%, 2,5% and 5% (p0,05). Spearman corelation test prove that there was a significant relationship between knockdown effect produced and the concentration of the S. aromaticum L. bud extract (p=0,000 and r=0,907). It can be concluded that S. aromaticum L. bud extract has knockdown effect against adult Culex sp.
Hubungan Konsumsi Makanan Cepat Saji dan Tingkat Aktivitas Fisik terhadap Obesitas pada Kelompok Usia 11-13 Tahun Indriawati, Ratna; Soraya, Faerus
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v9i2 (s).1615

Abstract

Obesity is a chronic condition characterized by an excess of body fat. Obesity in adolescence also cause a problem for social life and emotional. Food habit in adolescent is significantly influenced by their life style, including the consumption of fast food. This research was aimed to know whether consumption of fast food and physical activity is a risk factor of obesity in adolescent. This research was observed with cross-sectional design. Subject were students of SLTP, aged 11-13 year old samples for obesity were obtained by random sampling. The data of obesity prevalence were calculate based on the number of obesity students. The correlation of fast food consumption and physical activity with obesity was analyzed with regression and correlation analysis. There was no significant correlation between the amount of fast food and fast food consumption frequency and obesity (p 0.05), while the level of physical activity has a significant correlation with obesity (p0.05). The contribution of fast-food consumption does not increase the risk of obesity and the higher level of physical activity, the lower the risk of obesity.Obesitas merupakan kondisi kronis dengan karakteristik kelebihan lemak tubuh. Obesitas pada remaja juga menyebabkan masalah bagi kehidupan sosial dan emosi yang cukup berarti. Kebiasaan makan pada remaja dipengaruhi secara signifikan oleh perubahan gaya hidup mereka, temasuk mengkonsumsi makanan cepat saji. Penelitian ini bertujuan mengetahui apakah konsumsi fast food dan tingkat aktivitas fisik merupakan faktor risiko terjadinya obesitas pada remaja. Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Populasi dan sampel adalah remaja SLTP dengan usia 11-13 tahun, dengan pengambilan sampel untuk penjaringan obesitas secara random sampling. Analisis untuk mengetahui hubungan konsumsifast food dan tingkat aktivitas fisik terhadap obesitas dilakukan dengan menggunakan regresi dan korelasi. Tidak ada hubungan yang bermakna antara banyaknyajenisfast food dan frekuensi konsumsi fast food terhadap obesitas (p0,05) sedangkan tingkat aktivitas fisik memiliki hubungan bermakna dengan obesitas (p0,05). Kontribusi konsumsi fast food tidak meningkatkan resiko terjadinya obesitas. Semakin tinggi tingkat aktivitas fisik, semakin rendah resiko terjadinya obesitas.
Korelasi Gambaran Ultrasonografi Hepar dengan Kadar Alkali Fosfatase Pasien Klinis Hepatitis Sakinah, Herti; Gugun, Adang Muhammad
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v13i1.1049

Abstract

Hepatitis adalah penyakit peradangan atau infeksi hati, dengan penyebab virus, bakteri, jamur, parasit dari obat-obatan. Pemeriksaan penunjang diagnostik hepatitis adalah tes fungsi hati, salah satunya adalah alkali fosfatase, yaitu enzim yang berhubungan dengan penanda adanya penyumbatan pada kantung empedu (kolestasis) dan sensitif untuk mendeteksi beragam jenis penyakit parenkim hati. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) dilakukan untuk mendeteksi adanya kelainan organ seperti gambaran ekhostruktur, ukuran, permukaan hepar dan vesika felea. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara gambaran USG hepar dengan kadar alkali fosfatase pada pasien klinis hepatitis. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan desain cross sectional, menggunakan data rekam medis. Data penelitian berjumlah 35. Analisis data menggunakan uji Spearman dan uji Lambda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat korelasi antara kadar alkali fosfatase dengan gambaran USG hepar yang meliputi: ekhostruktur (r=0,094, p=0,590), ukuran (r=0,333, p=0,050) dan permukaan hepar (r=0,324, p=0 ,057), vesika felea (r=0,615, p=0 ,001). Disimpulkan bahwa tidak terdapat korelasi yang bermakna antara gambaran ekhostruktur, permukaan, dan ukuran hepar dengan kadar alkali fosfatase, tapi terdapat korelasi yang bermakna antara gambaran vesika felea dengan kadar alkali fosfatase pada pasien klinis hepatitis. Hepatitis is the inflammation or infection of the liver. The causes viruses, bacteria, fungi, parasites and drugs. Additional examination a diagnostic of hepatitis are liver function test, such as Alkaline Phosphatase, Alkaline Phosphatase is an enzyme associated with markers of the blockage of the gallbladder (cholestasis) and sensitive for the detection of various types of liver parenchymal disease. Ultrasonography (USG) is to see a imaging ekhostruktur, size, surface liver and vesica felea. The aim of research to know the correlation between liver ultrasound imaging with Alkaline Phosphatase level in clinical hepatitis patient. This study was observational analytic cross-sectional design, using medical records. Research data 35. The analyzes were conducted using Spearmen test and Lambda test. The results showed a correlation between levels Alkaline Phosphatase with an ultrasound image of the liver  include: echostructure (r= 0.094, p= 0.590), size (r= 0.333, p= 0.050) and the surface of the liver (r= 0.324, p= 0.057), vesica felea (r= 0.615, p= 0.001). It can concluded that there was no significant correlation between the image echostruktur, surface, and the size of the liver with levels of Alkaline Phosphatase, but there is a significant correlation between the vesica fellea features with Alkaline Phosphatase levels in patients with clinical hepatitis.
Kasus Depresi Berulang pada Anak Usia Sekolah dengan Penolakan Bersekolah Warih Andan Puspitosari; Budi Pratiti
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/mmjkk.v7i2.1677

Abstract

Depression in children is often under-recognized because not all children complain of sad feeling. The incidence of depression in prepuberty and adolescence is estimated 1.5-2.5% and 4-5% respectively. The clinical appearance is influenced by the child’s age and psychological experience such as irritability, decrease of school achievement, withdrawal from social or leisure activity, and feeling more of inward signs like depressed, guilty or useless feeling and suicidal ideation. The aim of this paper is to report a case of recurrent child depression with refusal of going to school with method depth-interview towards the child and his family. Result of this report case of recurrent depression in a school-aged child with refusal to go to school was reported. A 10-year old boy who was in 5th grade of elementary school refused to go to school for 3 months. Clinical appearance showed sad looking, withdrawal, irritability, difficulty to sleep, depressed feeling, and decreased school achievement. The psychosocial stressor was bullying done by his schoolmates. Two years prior to the condition when he was in the 3th grade, the child showed the same clinical appearance with a stressor of mistreatment from his teacher. He was given pharmacotherapy and behavioral therapy.Berbeda dengan Depresi pada orang dewasa, kasus depresi pada anak sering tidak terdiagnosis (uunderrecognised), karena tidak semua penderita Depresi pada anak mengeluh sedih. Insiden anak prapubertas diperkirakan 1,5-2,5% dan menjadi 4-5% pada masa remaja. Gambaran klinis yang tampak pada anak dipengaruhi oleh usia dan pengalaman psikologis anak, seperti lekas marah (iirritable), prestasi sekolah menurun, menyingkir dari kegiatan sosial atau aktivitas yang menyenangkan dan anak merasa murung (inward sign) seperti perasaan yang tertekan, rasa bersalah, rasa tak berharga, dan pikiran bunuh diri, tujuannya adalah melaporkan 1 kasus depresi berulang pada anak dengan masalah penolakan bersekolah, metoda yang digunakan wawancara mendalam terhadap penderita dan keluarga penderita. Dilaporkan 1 kasus depresi berulang pada anak usia sekolah dengan masalah penolakan sekolah. Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun, klas 5 SD, tidak mau sekolah selama 3 bulan. Gejala klinis yang ada adalah tampak sedih, tidak mau keluar rumah untuk berinteraksi dengan teman-temannya, mudah marah (irritabel), sulit tidur, merasa tertekan, prestasi belajar menurun, menyakiti diri sendiri. Stressor psikososial adalah perlakuan nakal dari teman-temannya dalam bentuk ejekan dan perilaku kasar yang menyakitkan. Dua tahun sebelumnya pada saat duduk di kelas 3, anak pernah mengalami hal serupa dengan stressor perlakuan gurunya yang tidak baik. Diberikan farmakoterapi dan terapi perilaku pada penderita.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 25 No. 1 (2025): January Vol 24, No 2 (2024): July Vol 24, No 1 (2024): January Vol 23, No 2 (2023): July Vol 23, No 1 (2023): January Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20 No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20, No 1: January 2020 Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1(s) (2008): April Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue