SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur
SINEKTIKA: Jurnal Arsitektur is a scientific journal of the Architecture Department, Faculty of Engineering, Universitas Muhammadiyah Surakarta which focuses on delivering information on the results of scientific research conducted by researchers, especially in the field of architecture. The scientific articles in the scope of pure and applied sciences about architectural science including art & design, history & human behavior, technology, urban planning and the environment. Research results are scientific, critical and comprehensive on important and current issues covered in the field of architecture.
Articles
331 Documents
EVALUASI FUNGSIONAL CITY WALK SLAMET RIYADI BERDASARKAN PENDEKATAN ARSITEKTUR BUTA
Saputra, Andika;
Khafidhoh, Qonitatun
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 15, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1266.159 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v15i2.9855
Salah satu ruang terbuka publik di Kota Surakarta yang menjadi pusat kegiatan kalangan tunanetra adalah City Walk Slamet Riyadi, terutama di segmen 3 dan segmen 4. Di tengah tumbuh pesatnya kesadaran terhadap universal design, mengharuskan City Walk Slamet Riyadi memenuhi prinsip, syarat, dan standar arsitektur bagi kalangan pengguna tunanetra yang disebut dengan Arsitektur Buta. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara fungsional City Walk Slamet Riyadi berdasarkan pendekatan Arsitektur Buta yang tertuang dalam Permen PUPR No. 14 tahun 2017 dan menemukenali perilaku adaptasi pengguna dari kalangan tunanetra sebagai tanggapan terhadap kondisi spasial City Walk Slamet Riyadi. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan variabel terikat (1) jalur sirkulasi pedestrian; dan (2) halte, dan Permen PUPR No. 14 tahun 2017 sebagai variabel bebas. Temuan dari kegiatan penelitian ini terdiri dari dua poin. Pertama, kondisi penerapan Arsitektur Buta pada City Walk Slamet Riyadi terdiri dari (1) keterputusan jalur pemandu; (2) ketidaktepatan jalur pemandu; dan (3) ketidaktepatan fasilitas yang diperuntukkan bagi pengguna tunanetra. Ketiga kondisi tersebut tidak sesuai dengan Permen PUPR No. 14 tahun 2017. Kedua, perilaku adaptasi yang dilakukan pengguna dari kalangan tunanetra meliputi (1) mengandalkan indera pendengaran; (2) mengandalkan alat bantu; (3) mengandalkan ingatan dan pengalaman; dan (4) mengandalkan indera peraba.
KAJIAN STRUKTUR BANGUNAN TRADISIONAL JAWA PADA BANGSAL KENCANA KERATON YOGYAKARTA
Prabasmara, Padmana Grady;
Wibowo, Satrio HB;
Yuniastuti, Tri
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 1: Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1518.89 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v16i1.10491
Keraton Yogyakarta yang kini lebih dikenal sebagai destinasi wisata adalah museum hidup yang menunjukkan fungsi sebagai tempat tinggal Raja, pusat pemerintahan kerajaan dan sebagai pusat kebudayaan yang terdiri dari bangunan-bangunan bergaya tradisional Jawa yang sangat penting artinya. Sebagai bangunan cagar budaya yang dilindungi undang-undang dan sebagai warisan budaya bangsa, bangunan Keraton Yogyakarta memiliki karakteristik dan keistimewaan, antara lain usianya yang sudah lama, kerumitan konstruksi dan keindahan ornamennya. Berlatar belakang hal itulah penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik bangunan keraton dan dilakukan sesuai dengan adat dan tatalaku yang terjadi di keraton Yogyakarta. Kajian terhadap Struktur Bangunan Tradisional Jawa yang terdapat di komplek Keraton Yogyakarta, khususnya bangunan bangsal Kencana perlu dilakukan dengan cara mendata keberadaan bangunan Tradisional Jawa, mengenali bentuk bangunan, sejarah, fungsi dan struktur bangunan serta kelengkapan komponennya. Kajian dilakukan dari hasil observasi, studi literatur, wawancara dan kajian hasil penelitian terdahulu. Hasil yang didapatkan adalah dokumen tertulis tentang aspek sejarah, fungsi dan struktur bangunan disertai gambar-gambar bentuk bangunan dan gambar-gambar detail yang menunjukkan keunikan struktur bangunan. Kajian ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan dan pedoman pelestarian bangunan Tradisional Jawa serta menjadi inspirasi pengembangan budaya pada masa depan yang bersumber dari budaya lokal, dan menjadi pendorong generasi muda untuk tetap mencintai budaya sendiri denganmengembangkan citra Arsitektur Nusantara.
PENGUKURAN GREENSHIP NEW BUILDING VER. 1.2 PADA BANGUNAN BARU RUMAH ATSIRI INDONESIA (FINAL ASSESSMENT)
Ardhiansyah, Irfan;
Azizah, Ronim
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 15, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (936.991 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v15i2.9864
Green Building merupakan salah satu gagasan solutif untuk mengurangi dampak isu pemanasan global di era industri saat ini, sehingga menjadi tuntutan untuk diterapkan dalam desain arsitektur. Setidaknya perencanaan dan perancangaan dengan gagasan green building mampu merubah iklim mikro menjadi lebih baik. Di lingkup Indonesia, green building tengah menjadi tren dalam perancangan desain arsitektur yang beriringan dengantumbuhnya kesadaran terhadap sertifikasi bangunan hijau oleh organisasi non-profit Green Building Council Indonesia (GBCI). Penelitian ini bertujuan untuk menilai berdasarkan standar bangunan hijau sebuah bangunan bersejarah di Tawangmangu yang telah dikonservasi dengan konsep optimal, efisien dan fungsional, yakni Rumah Atsiri Indonesia. Penelitian ini menerapakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan menggunakan paramater Greenship New Building ver. 1.2 yang telah disediakan oleh GBCI. Hasil penilaian yang telah dilakukan untuk setiap kategori adalah, Tepat Guna Lahan (ASD: 10 poin), Konservasi Energi (EEC: 3 poin), Konservasi Air (WAC: 3 poin), Siklus Material (MRC: 7 poin), Kenyamanan dalam Ruang (IHC: 3 poin), dan Manajemen lingkungan (BEM: 0 poin), sehingga total keseluruhan poin yang didapatkan Rumah Atsiri Indonesia adalah 26 poin. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa gedung baru di kawasan Rumah Atsiri Indonesia belum layak dinyatakan sebagai green building karena belum memenuhi poinminimal yang disyaratkan Green Building Council Indonesia (GBCI).
SIMULASI DAMPAK PENCAHAYAAN RUANG PADA PENGGUNAAN ROSTER SEBAGAI FASAD BANGUNAN
Maulidin, Ekky;
Nurhasan, Nurhasan
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 1: Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1537.584 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v16i1.10474
Penelitian ini berdasarkan kritik terhadap bangunan yang menggunakan roster sebagai desain fasadnya. Tidak sedikit karya-karya arsitek dengan desain serupa bermunculan sebagai tren gaya industrial dengan material ekspos yang lebih ditonjolkan. Mulai beralihnya fungsi roster dari pembatas antar ruang menjadi elemen estetika fasad bangunan perlu dikaji lebih lanjut tentang dampaknya terhadap pencahayaan alami. Sistem pencahayaan pada suatu ruangan sangat dibutuhkan untuk kenyamanan pengguna dalam beraktivitas. Penelitian ini bertujuan mengukur kuat pencahayaan sebagai efek penggunaan roster pada dinding. Metode pengukuran dan simulasi menggunakan software Velux Daylight Visulalizer 2. Simulasi dilakukan dengan mengukur pencahayaan ruang tamu dengan menempatkan beberapa jenis desain roster berbeda, yang umum dijual di pasaran. Nilai kuat cahaya akan dianalisis dan dibandingkan dengan kebutuhan cahaya untukberaktivitas di ruang tamu. Hasil dari simulasi menyimpulan bahwa cahaya alami tidak dapat mencukupi kebutuhan cahaya ruang sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI 03-6197-2000). Oleh karena itu dibutuhkan banyak penyesuaian dari model atau jenis roster untuk fasad. Disain roster yang masih memberikan efek kuat pencahayaan yang belum memenuhi standar, maka dapat diberikan solusi dengan menambah lebih banyak bukaan atau penggunaan sunroof sebagai solusi.
MODEL SEKOLAH ALAM DI SURAKARTA
Mutiari, Dhani;
Fardani, Kartika Juni
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 15, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1081.031 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v15i2.9857
Profil pendidikan di Indonesia dewasa ini masih banyak yang mempunyai karakteristik bersifat centris dalam arti pendidikan untuk melanjutkan sekolah, tidak mempunyai makna untuk menyongsong kehidupan di masa depan. Sistem pembelajaran yang selama ini dilakukan bersifat konvensional dan kurang sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang demikian pesat karena kental dengan suasana instruksional. Paper ini bertujuan untuk mencari model sekolah alam yang sesuai dengan masyarakat Surakarta dan menjadi tempat penitipan sekaligus pendidikan dan bermain bagi anak-anak usia dini. Sekolah alam adalah salah satu bentuk pendidikan alternatif yang menggunakan alam sebagai media utama sebagai pembelajaran siswa didiknya. Metode belajar mengajar di sekolah alam lebih banyak menggunakan aktif atau action learning dimana anak belajar melalui pengalaman secara langsung. Penggunaan metode ini anak atau siswa diharapkan belajar dengan lebih bersemangat, tidak bosan, dan lebih aktif. Selain mendapat pendidikan dengan baik, anak juga perlu bermain sambil berekreasi yang dapat mengembangakan bakat serta kreativitasnya. Metode penelitian ini kualitatif dengan pendekatan studi komparasi dengan sekolah alam yang telah ada di Ciganjur, Bali, Surabaya dan Surakarta. Model yang dikembangkan disain ini adalah sekolah alam yang merupakan suatu wadah yang dapat menampung semua aktivitas dalam satu wadah yaitu Children Actvity Center. Children Activity Center merupakan fasilitas edukasi berbasis alam di Surakarta dengan kegiatan utama berupa pengasuhan anak, edukasi, rekreasi, sosialisasi serta penyaluran bakat dan kreativitas yang dapat mendukung pertumbuhan anak baik secara fisik maupun mental dengan pendekatan alternatif pendidikan berbasis alam. Kegiatan utama berupa pendidikan difokuskan pada anak usia dini yaitu 3-6 tahun sedangkan kegiatan pengasuhan diperuntukkan untuk anak usia 1 hingga 2 tahun. Disain yang dihasilkan adalah tata masa dengan pola radial dengan pusat ruang terbuka berupa tanaman hias untuk estetika selain area farming. Terdapat kelas dengan konsep saung menggunakan material kayu dan bambu serta outbond area yang bermanfaat untuk mendekatkan diri dengan alam. Konsep bangunan bambu menjadi pilihan untuk penampilan fasadenya.
LIABILITY EKSISTENSI SAMPAH UNTUK KOMPARASI LINGKUNGAN
Lutfi, Fuad Saiful;
Nugrahaini, Fadhilla Tri
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 1: Januari 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1183.73 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v16i1.10492
Liability merupakan pertanggungjawaban dalam konteks ruang lingkup ekologi manusia. Masalah-masalah yang terjadi di masyarakat serta hubungan manusia, lingkungan, pola sosial dan budaya dapat dijadikan bahan pendukung untuk mengetahui hubungan antara makhluk hidup dan lingkungannya dalam pertanggungjawaban tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pola perilaku melalui komparasi manusia dan lingkungan dalam isu tanggap lingkungan pada dua lokasi penelitian. Lokasi pertama adalah Kelurahan Plesungan, Mojosongo dengan radius kurang dari satu kilo dari TPA Putri Cempo. Lokasi kedua adalah Kampung Kitiran, Yosoroto, Purwosari, Laweyan. Kedua lokasi tersebut menjadi objek penelitian untuk dibandingkan terkait pola perilaku masyarakat dalam rangka mengetahui pertanggungjawaban manusia terhadap lingkungan dalam isu eksistensi sampah. Selain itu, beberapa strategi perlu dilakukan untuk mencapai kehidupan berkelanjutan melalui pendekatan ekologi terkait behaviorenvironment. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana penelitimengawasi, mengamati dan mencatat serta terlibat dalam kegiatan masyarakat di wilayah objek pengamatan. Hasil yang diperoleh berupa pemaparan tentang karateristik dari kedua wilayah, arahan dan gambaran pertanggungjawaban utama masyarakat pada keberadaan sampah dan lingkungannya yaitu keberhasilan dalam memakmurkan kehidupannya yakni menghasilkan lingkungan yang baik, dimana lokasi pertama disarankan mencontoh lokasi kedua terkait perilaku dalam tanggap sampah dan lingkungannya seperti menciptakan penghijauan, membentuk komunitas, relasi hubungan sosial, dan strategi untuk mengatasi krisis seputar lingkungan.
KARAKTERISTIK PERILAKU CALON PENUMPANG KERETA PRAMEKS DI RUANG TUNGGU STASIUN PURWOSARI
Fakhri, Abid Fathin;
Nugroho, Muhammad Siam Priyono
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 15, No 2: Juli 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (936.903 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v15i2.9865
Stasiun Purwosari merupakan stasiun kereta api kelas besar yang terletak di Purwosari, Laweyan, Surakarta. Stasiun Purwosari termasuk dalam Daerah Operasi VI Yogyakarta, dan hanya melayani KA kelas ekonomi lintas selatan dan lokal/komuter. Stasiun ini dibangun pada tahun 1875, dan merupakan stasiun tertua di Surakarta. Pembangunannya ditangani oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij. Ruang tunggu Stasiun Purwosari adalah tempat yang menarik untuk diteliti, karena ruang tunggu merupakan tempat berkumpul banyak orang dari berbagai tempat asal dan berbagai empat tujuan, dan berbagai alasan untuk melakukan perjalanan dengan kereta api. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perilaku dan pola sirkulasi calon penumpang kereta Prameks pada ruang tunggu Stasiun Purwosari. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dimana lebih menekan aspek-aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu permasalahan untuk generalisasi penelitian, setelah perilaku dapat direkam dan digambarkan melalui behavioral mapping, selanjutnya dapat dipetakan perilaku berdasarkan hasil pengamatan selama di lapangan. Karakteristik perilaku akan terbentuk melalui amatan terhadap aktivitas yang berulang, dan dikategorikan dalam temuan penelitian yang kemudian disajikan dalam skema, tabel dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik perilaku dimana calon penumpang lebih banyak menghabiskan waktunya bermain Smartphone untuk menunggu kereta datang, dan adanya kecenderungan calon penumpang memadati jalur sirkulasi ruang tunggu pada sisi timur.
DASAR PEMIKIRAN ARSITEKTUR HUMANISTIK: PEMAHAMAN DAN TOKOHNYA DARI ERA KE ERA
At-Toyibi, Muhammad Nur Hakimuddin;
Kusuma, Syandy Diantrisna
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 1: Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (805.573 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v17i1.10863
Arsitektur selalu berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Akan tetapi dengan berjalan dan berkembangnya zaman banyak dasar-dasar konsep rancangan arsitektur yang hanya memenuhi tuntutan klien atau mengedepankan aspek estetika saja. Pemahaman yang demikian mengacuhkan hal penting dalam rancangan arsitektur yang seharusnya mempertimbangkan manusia sebagai pengguna dari bangunan yang dirancang. Dengan latar belakang demikian perlu adanya kajian kembali tentang arsitektur humanistik sehingga dapat dijadikan dasar dalam rancangan arsitektur yang bisa memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagai penggunanya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengulas kembali arsitektur humanistik sehingga pemahaman arsitektur humanistik dapat hadir sebagai pertimbangan dalam merancang di era sekarang. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur atau literature review dari tulisan-tulisan yang telah ada. Kajian ini menghasilkan kesimpulan pentingnya dasar pemikiran arsitektur humanistik sebagai landasan pertimbangan dalam rancangan.
PERAN RUANG SOEKARNO-NEHRU SEBAGAI BANGSAL PRINGGITAN PADA DALEM MANGKUBUMEN
Murti, Desy Ayu Krisna;
Wibowo, Satrio Hasto Broto
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 16, No 2: Juli 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1203.376 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v16i2.10601
Dalem Mangkubumen merupakan kompleks yang dibangun oleh Sultan HB VI untuk putra mahkota yang akan diangkat menjadi HB VII pada tahun (1855- 1977). Pada masanya Dalem Mangkubumen diperuntukan untuk calon raja, sehingga dari segi arsitektural hampir menyerupai keraton. Oleh karena itu pula nama lain Dalem Mangkubumen adalah Keraton Alit. Setelah HB VII bertahta, maka fungsi Dalem Mangkubumen diperuntukan untuk tempat tinggal bagi para pangeran, antara lain Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Juminah, yang setelahnya tidak lagi ditempati hingga tahun 1942. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi fungsi dan peran bangsal pringgitan pada Dalem Mangkubumen, sejak tidak digunakan lagi sebagai tempat tinggal pangeran, hingga keberadaannya sampai saat ini. Metode yang digunakan adalah kualitatif diskriptif, dengan observasi dan study literature untuk mengungkap peran bangsal pringgitan. Bangsal pringgitan sempat digunakan untuk pertemuan Presiden Soekarno, PM India Jawaharlal Nehru dan Sri Sultan HB IX, sehingga dinamakan bangsal Soekarno-Nehru. Beberapa elemen arsitektural dan struktural masih terjaga keasliannya. Perubahan hanya dilakukan pada bagian sekat dan beberapa material plafon. Dari aspek fungsinya memiliki karakteristik yang cenderung sama dari awal hingga saat ini, yaitu sebagai ruang pertemuan yang bersifat umum. Sedangkan dari aspek konstelasi susunannya secara mikro memiliki kekhasan yang tidak dimiliki oleh pringgitan lain, seperti bentuk atap dan besaran ruang yang meskipun mengalami perubahan, namun tetap mempertahankan prinsip yang ajeg, yaitu tempat untuk pertunjukan dengan gaya arsitektur mengikuti arsitektur Keraton Yogyakarta.
MENGGALI POTENSI ASET WISATA KREATIF DI KAWASAN PETILASAN KERATON KARTASURA
Koesninda, Shofna;
Priyatmono, Alpha Febela
Sinektika: Jurnal Arsitektur Vol 17, No 1: Januari 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1257.032 KB)
|
DOI: 10.23917/sinektika.v17i1.10871
Kartasura memiliki sejarah yang tidak banyak diketahui orang, karena seiring berjalannya waktu sejarah Kartasura semakin pudar. Sejarah tersebut memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan keberadaan Keraton Kartasura, yang sangat minim diketahui publik. Keraton Kartasura merupakan asal mula sejarah berdirinya Keraton Surakarta. Namun, saat ini bangunan keratontersebut sudah tidak ada, hanya tersisa petilasannya saja dan sekarang menjadi makam tokoh bersejarah dan makam kerabat keraton. Meskipun hanya tersisa bekasnya saja, keraton ini merupakan bangunan bersejarah dan sampai pada akhirnya dijadikan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, dan telah disahkan berdasarkan undang-undang. Rasa kepedulian masyarakat sekitar terhadap bangunan tersebut mulai hilang, sehingga perlu adanya upaya untuk menggali potensi-potensi yang ada di kompleks keraton dan kawasan sekitar sebagai proses pengembangan wisata agar dapat dikenal oleh masyarakat luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi apa saja yang terdapat di kompleks keraton dan kawasan sekitar. Metode yang digunakan yaitu gabungan kuantitatif kualitatif deskriptif dengan penekanan pada observasi, wawancara, dan kuesioner. Hasil penelitian ini yaitu tergalinya potensi-potensi di kompleks keraton dan kawasan sekitar yang dapat dikembangkan serta terungkapnya alasan dibalik tidak dapat berkembang menjadi tempat wisata sampai saat ini. Berdasarkan indikator yang digunakan, masih terdapat potensi yang belum berkembang dan yang menjadi kendala utama yaitu faktor ekonomi atau biaya.