cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
Premiere Educandum
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2011)" : 6 Documents clear
VARIASI MODEL SILOGISME UNTUK PENGAMBILAN KESIMPULAN DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Mursidik, Elly’s Mersina
Premiere Educandum Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Premiere Educandum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Argumentasi logis perlu digunakan dalam pembelajaran untuk melakukan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan di kelas  mengakibatkan komunikasi dan interaksi yang berkesinambungan atau tidak berkesinambungan. Hal ini disebabkan oleh pernyataan yang dilontarkan seorang guru kepada siswa mempunyai nilai kebenaran logis. Nilai kebenaran logis tersebut yang menjadikan kegiatan pembelajaran dapat dapat berlangsung dengan program yang direncakan. Penyampaian  kepada siswa tentunya harus menghindari dari pernyataan kontradiksi dan diusahakan merupakan pernyataan tautology.Kata kunci     :   Silogisme, Tautology, Kesimpulan dan Interaksi
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DALAM RANGKA MEWUJUDKAN GURU YANG PROFESIONAL Mallawi, Ibadullah
Premiere Educandum Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Premiere Educandum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru  sebagai  tenaga  profesional  bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilian hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, dan  pelatihan, melakukan penelitian, membantu pengembangan dan pengelolaan program sekolah serta mengembangkan profesionalitas. Adapun ciri-ciri guru profesional adalah menguasai substansi kanian yang mendalam, dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik, berkepribadian, dan memiliki komitmen dan perhatian terhadap perkembangan peserta didik. Usaha untuk dapat meningkatkan kompetensinya, guru perlu memiliki kemampuan  untuk menggali  informasi dan  berbagai sumber  termasuk  dari  sumber  elektronik  dan melakukan kajian atau penelitian untuk untuk menunjang pembelajaran yang mendidik.Kata Kunci : Kompetensi Guru, Profesional, Pembelajaran, Pengembangan Profesionalitas
PEMBELAJARAN IPS DAN PENDIDIKAN KARAKTER DI SEKOLAH DASAR Soebijantoro, Soebijantoro
Premiere Educandum Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Premiere Educandum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan karakter berkaitan dengan keseluruhan kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan lingkungannya, sebab hal itu berkaitan dengan unsur moral, sikap sampai dengan perilaku. Sebuah karakter dikatakan  baik  apabila  seseorang  memiliki kemampuan atas pengetahuan sebuah moral, perasaan moral  dan  tindakan  moral.  Secara  substantif pendidikan karakter berkenaan dengan pendidikan afektif yaitu berkenaan dengan dunia kejiwaan, cita- cita dan  rasa, citra  serta  keyakinan  manusia. Keyakinan akan sesuatu yang paling baik merupakan hasil belajar. Sebagai hasil dari proses internalisasi secara nalar dari peserta didik terhadap nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. IPS merupakan rumpun yang diharapkan  dapat  memberikan  muatan  besar pendidikan karakter sebab IPS mampu memfasilitasi peserta didik untuk membangun pengetahuan, beradaptasi  dengan  lingkungan,  membudayakan dirinya dengan lingkungan yang kesemuanya dapat dikembangkan melalui pembelajaran dengan pendekatan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.Kata Kunci: Pembelajaran IPS, Pendidikan Karakter
KURIKULUM HUMANISTIK DAN PENDIDIKAN KARAKTER: SEBUAH GAGASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM MASA DEPAN Setyadi, Dwi
Premiere Educandum Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Premiere Educandum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konsepsi-konsepsi yang paling menonjol mengenai kurikulum bisa diklasifikasikan menjadi empat golongan, yaitu: humanistik, rekonstruksionalis sosial, teknologis, dan akademik. Perumus dari tiap-tiap jenis kurikulum tersebut masing-masing memiliki pertanyaan yang berbeda mengenai kurikulum: apa yang harus diajarkan? Kepada siapa? Kapan? Dan bagaimana? Para penganut kurikulum humanis menyarankan bahwa sebuah kurikulum seharusnya memberikan wadah bagi pengalaman pribadi yang memuaskan bagi setiap siswa. Para humanis baru merupakan pelaku aktualisasi diri yang melihat kurikulum sebagai sebuah proses liberasi yang memenuhi kebutuhan akan pertumbuhan dan integritas pribadi. Namun demikian para humanis tersebut jangan diartikan sebagai pendidik dalam tradisi seni liberal yang menganggap humaniora sebagai disiplin ilmu yang terpisah, seperti: seni, musik, dan sastra, dan mereka yang berusaha untuk berhubungan dengan manusia hanya melalui karya kultural. Para rekonstruksionis sosial menekankan kebutuhan sosial yang terdapat pada kepentingan individual. Mereka menyatakan bahwa tanggung jawab sebuah kurikulum adalah untuk melakukan reformasi sosial dan menurunkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat. Mereka menekankan perkembangan nilai-nilai sosial dan penerapannya di dalam proses berpikir kritis. Teknologis melihat penyusunan kurikulum merupakan sebuah proses teknologis untuk meraih apa yang dikehendaki oleh pembuat kebijakan. Mereka menganggap dirinya bertanggung jawab untuk menciptakan realita yang menunjukkan bahwa kurikulum yang mereka susun sesuai dengan tujuan yang dikehendaki. Efisiensi dan akuntabilitas merupakan nilai akhir bagi seorang teknolog. Orientasi mereka tidaklah netral karena teknolog memiliki komitmen terhadap suatu metode yang akhirnya akan berpengaruh terhadap tujuan dan isi kurikulum. Orang yang memiliki orientasi akademik memandang kurikulum sebagai kendaraan yang bisa digunakan oleh pembelajar untuk mengenali disiplin ilmu dan mengenali bidang-bidang ilmu yang terorganisir. Mereka melihat isi yang terorganisir dari disiplin ilmu tersebut lebih sebagai sebuah kurikulum yang harus dicapai daripada sebuah sumber informasi untuk mendalami masalah personal dan lokal. Orang yang termasuk dalam kategori ini menganggap bahwa kurikulum akademik merupakan cara terbaik untuk mengembangkan pemikiran – bahwa penguasaan sejenis pengetahuan yang biasa ditemukan pada kurikulum semacam itu akan membentuk cara berpikir rasional.
TES KOGNITIF DIAGNOSTIK UNTUK MENDETEKSI KESULITAN BELAJAR SISWA S EKOLAH D ASAR Budyartati, Sri
Premiere Educandum Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Premiere Educandum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Miskonsepsi merujuk pada suatu konsep yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para pakar dalam suatu bidang. Konsep yang dibawa siswa diperoleh dari pengamatan atau pengalaman mereka di masyarakat atau dalam kehidupan sehari-hari. Miskonsepsi pada siswa yang muncul secara terus menerus dapat mengganggu pembentukan konsepsi ilmiah. Pembelajaran yang tidak memperhatikan miskonsepsi menyebabkan kesulitan belajar dan akhirnya akan bermuara pada rendahnya prestasi atau hasil belajar siswa.Dalam pembelajaran yang berorientasi konstruktivistik, guru tidak hanya sekedar memberikan pengetahuan pada siswa, siswa harus membangun sendiri pengetahuan di dalam benak siswa. Implikasi dari pandangan konstruktivisme di sekolah ialah pengetahuan itu tidak dapat dipindahkan secara utuh dari pikiran guru ke siswa, namun secara aktif dibangun oleh siswa sendiri melalui pengalaman nyata. Peran guru otomatis berubah, dari sumber dan pemberi informasi menjadi pendiagnosis dan fasilitator, sehingga eksistensi dalam mendidik tidak terfokus pada pendidik melainkan pada pembelajar.Cognitive diagnostic assessment (CDA) atau penilaian diagnosis kognitif untuk pendidikan disusun untuk mengukur struktur pengetahuan secara khusus dan proses kemampuan siswa untuk menyediakan informasi tentang kelemahan dan kekuatan kognitif mereka.Kata Kunci: Tes Kognitif Diagnostik, Deteksi Kesulitan
PERANAN ORANGTUA SEBAGAI WALI, PEMBIMBING, DAN PENDIDIK PADA PERKEMBANGAN ANAK DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Rifai, Moch
Premiere Educandum Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : Premiere Educandum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keluarga atau rumah tangga, orang tua, istri, anak, adalah wujud kehidupan sosial unit kehidupan manusia yang kecil: keluarga merupakan lembaga kehidupan yang asasi dan alamiah yang pasti secara islamiyah dialami oleh kehidupan keluarga muslim. Peran orang tua secara kodratnya sebagai pendidik, pembimbing dan pendamping istri, anak dan keluarga agar supaya anak tumbuh menjadi intelektual muslim sempurna lahir batin dalam arti kata insan kamil.Kata kunci : Orangtua, Pendidik, Pembimbing, Dewasa, Sempurna

Page 1 of 1 | Total Record : 6