cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Counsellia
ISSN : 20883072     EISSN : 24775886     DOI : -
Core Subject : Education,
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling with registered number ISSN: 2088-3072 (Print) and ISSN: 2477-5886 (Online), is a peer-reviewed journal which publishes conceptual ideas, studies and research on the theory and application of Guidance and Counseling also education related to Guidance and Counseling. Counsellia is published by Departement of Guidence and Counseling Faculty of Teacher Training and Education Universitas PGRI Madiun. Any changes to the journal will be delivered on Journal History. Abstracts and full text that have been published on the website can be read and downloaded for free. Counsellia publish regularly two times a year in May and November.
Arjuna Subject : -
Articles 262 Documents
Pengembangan disiplin dan tanggung jawab siswa dalam perspektif hukuman eduktif pada layanan Bimbingan dan Konseling Muttaqin; Zahrotu Lutfi'ah; Kasih Mayang Gitaurus; Rizqi Faridatun Na'imah
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v15i2.23920

Abstract

Pendidikan karakter memainkan peran penting dalam pembentukan nilai moral, sosial, dan emosional peserta didik, terutama dalam menanamkan disiplin dan tanggung jawab. Namun, meningkatnya pelanggaran aturan dan rendahnya kesadaran sosial di kalangan siswa menunjukkan bahwa pendidikan karakter di sekolah belum sepenuhnya efektif. Untuk menanggapi kondisi tersebut, sekolah menggunakan pendekatan melalui hukuman, yang dimaknai bukan sebagai tindakan represif, tetapi sebagai sarana edukatif dan reflektif untuk membimbing siswa memahami kesalahan mereka dan bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman siswa dan guru terkait penerapan hukuman sebagai bagian dari pendidikan karakter, serta dampaknya terhadap pembentukan disiplin dan tanggung jawab sosial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Penelitian dilakukan menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi dan wawancara terhadap 10 siswa SMK. Data dianalisis secara interaktif dengan reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukuman yang diberikan secara proporsional dan mendidik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang aturan dan konsekuensi tindakan, serta menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab belajar. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya peran strategis konselor sekolah dalam mengintegrasikan hukuman edukatif sebagai instrumen reflektif dalam layanan bimbingan dan konseling untuk pengembangan karakter dan disiplin siswa yang berkelanjutan.Abstract: Character education plays a crucial role in shaping students’ moral, social, and emotional values, particularly in fostering discipline and responsibility. However, the increasing number of rule violations and the low level of social awareness among students indicate that character education in schools has not yet been fully effective. One approach that has been implemented is punishment, understood not as a repressive measure, but as an educational and reflective tool to guide students in understanding their mistakes and taking responsibility for their actions. This study aims to explore the experiences of students and teachers regarding the implementation of punishment as part of character education, as well as its impact on the development of discipline and social responsibility. The research employs a qualitative approach with a phenomenological design. Data were collected through observations and interviews with 10 vocational high school (SMK) students. The data were analyzed interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The findings reveal that punishment administered in a proportional and educational manner can enhance students’ understanding of rules and the consequences of their actions, while also fostering awareness of academic responsibility. The implications of this study highlight the strategic role of school counselors in integrating educational punishment as a reflective instrument within guidance and counseling services to support the sustainable development of students’ character and discipline.
Compilation and testing of an emotion regulation scale for Muslim drug-addicted clients Aristia Cotrunada Brsitumorang; Agus Supriyanto; Nurlita Hendiani; Dian Ari Widyastuti; Arif Budi Prasetya; Sri Hartini
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24309

Abstract

Every human being is endowed with emotions that can be well-controlled, as evidenced by the ability to regulate emotions. The gap relates to the understanding of emotional regulation in the context of drug addiction by addiction counselors, especially for Muslim clients who face emotional conflict, social pressure, and spiritual dynamics during the recovery process. Because the ability to regulate emotions in Muslim addicted clients actually impacts self-recovery, but its measurement hasn’t yet been used with relevant assessments. Therefore, the purpose of this study was to develop and test the validity and reliability of the emotional regulation scale for Muslim drug-addicted clients undergoing rehabilitation. The study used a sequential explanatory design with a qualitative form content validity stage for construct development through theoretical review, validation by three experts (religion, psychology, and addiction counseling), and readability testing. Then, the quantitative stage was completed by testing the instrument on 49 rehabilitation clients to test construct validity and reliability. Data analysis used descriptive qualitative analysis and quantitative analysis using Aikan-V, product-moment, and Cronbach's alpha. Logical validity in content validity showed a CVI value of 0.917, indicating very high feasibility. All items correlated with the minimum limit (value>0.2329) were declared empirically valid. Reliability testing using the Rasch model with a Cronbach's alpha value of 0.71 and item reliability of 0.94, indicating good internal consistency. The results of the study confirmed that the regulation emotions scale is suitable for use as an assessment to support addiction counseling services.
Hubungan antara self-compassion dan self-disclosure pada mahasiswa pengguna second account Pebi Tamarasukma; Eklys Cheseda Makaria; Muhammad Arsyad
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24476

Abstract

Mahasiswa pengguna second account sering tampak terbuka di ruang digital, namun mengalami kesulitan dalam interaksi langsung sehingga menunjukkan kesenjangan antara ekspresi diri daring dan keterbukaan interpersonal. Penelitian ini bertujuan menguji hubungan antara self-compassion dan self-disclosure pada mahasiswa pengguna second account, yang masih terbatas dikaji sebagai ruang ekspresi emosional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan sampel 239 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale dan Self-Disclosure Scale, kemudian dianalisis menggunakan uji Pearson. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan dengan kekuatan sangat lemah (r = 0,131; p < 0,05), yang menunjukkan kontribusi self-compassion relatif minimal terhadap self-disclosure. Temuan ini mengindikasikan bahwa kemampuan menerima diri belum secara langsung terkonversi menjadi keterbukaan interpersonal. Keterbukaan diri lebih dipengaruhi faktor relasional, seperti kepercayaan dan rasa aman, serta konteks penggunaan second account sebagai ruang ekspresi alternatif. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling perlu mengintegrasikan pengembangan self-compassion dengan keterampilan interpersonal. Penelitian selanjutnya disarankan mempertimbangkan variabel seperti interpersonal trust, self-esteem, dan kecemasan sosial.Abstact: University students who use second accounts often appear open in digital spaces but experience difficulties in direct interpersonal interactions, indicating a gap between online self-expression and interpersonal self-disclosure. This study aimed to examine the relationship between self-compassion and self-disclosure among students who use second accounts, which remain underexplored as spaces for emotional expression. This study employed a quantitative correlational approach involving 239 students from Universitas Lambung Mangkurat selected through purposive sampling. Data were collected using the Self-Compassion Scale and Self-Disclosure Scale and analyzed using the Pearson correlation test. The results showed a positive and significant relationship with a very weak correlation strength (r = 0.131; p < 0.05), indicating a relatively minimal contribution of self-compassion to self-disclosure. The findings suggest that self-acceptance does not directly translate into interpersonal openness. Self-disclosure was influenced more by relational factors, such as trust, psychological safety, and the use of second accounts as alternative spaces for emotional expression. The findings imply that Guidance and Counseling services should integrate self-compassion development with interpersonal skills training. Future studies are recommended to examine interpersonal trust, self-esteem, and social anxiety.
Pengembangan buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit pada siswa SMK Rhestu Tilaras; Sigit Hariyadi
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24511

Abstract

Ketidakmampuan siswa dalam menghadapi tuntutan akademik dan praktik kejuruan yang cukup tinggi menjadi salah satu faktor munculnya problematika grit pada remaja. Di sisi lain, siswa SMK membutuhkan dorongan internal berupa zest agar tetap antusias dan termotivasi dalam belajar. Buku biblioedukasi memiliki potensi tinggi untuk menjembatani persoalan grit dengan memadukan zest sebagai muatan cerita. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan desain ADDIE dengan tujuan mengembangkan buku biblioedukasi bermuatan nilai karakter zest untuk meningkatkan grit siswa SMK. Namun, karena keterbatasan yang ada, penelitian berhenti sampai validasi ahli dan calon pengguna terhadap produk. Hasil validasi dianalisis dengan teknik inter-rater agreement menunjukkan indeks keberterimaan ahli materi sebesar 1.00, ahli media sebesar 0.96, dan calon pengguna sebesar 0.96. Produk yang dihasilkan berjudul “Buku Penyemangat Diri” memperoleh keberterimaan sangat tepat, sangat berguna, sangat menarik, dan sangat mudah diimplementasikan sebagai media layanan bimbingan dan konseling. Rekomendasi utama dari penelitian ini adalah melakukan uji efektivitas produk terhadap calon pengguna.Abstract: Students inability to cope with the high demands of academic and vocational practice is one of the factors that contribute to the emergence of grit problems in adolescents. On the other hand, vocational high school students need internal encouragement in the form of enthusiasm to remain enthusiastic and passionate in learning. Biblioeducational books have high potential to bridge the issue of grit by integrating enthusiasm as the content of the story. This study uses the ADDIE research and development design method with the aim of developing a biblioeducational book that produces the character value of enthusiasm to increase the resilience of vocational high school students. However, due to existing limitations, the study stopped at the validation of experts and prospective users of the product. The validation results were explained using the inter-rater agreement technique, showing an agreement index of 1.00 for material experts, 0.96 for media experts, and 0.96 for prospective users. The resulting product, entitled “Buku Penyemangat Diri” received very appropriate acceptance, was very useful, very interesting, and very easy to implement as a guidance and counseling service medium. The main recommendation of this study is to conduct a product effectiveness test on prospective users.
Hubungan psychological well-being dengan brain rot siswa Sekolah Menengah Pertama Emelia Emelia; Sulistiyana Sulistiyana; Ririanti Rachmayanie Jamain
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24564

Abstract

Perkembangan media digital yang semakin pesat menyebabkan remaja lebih sering terpapar konten instan dan repetitif yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis serta kemampuan kognitif. Salah satu fenomena yang muncul akibat kondisi tersebut adalah brain rot, yaitu menurunnya kualitas fokus, konsentrasi, dan pemrosesan informasi akibat konsumsi konten digital secara berlebihan. Kondisi ini menjadi penting untuk dikaji karena dapat berkaitan dengan psychological well-being remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara psychological well-being dengan brain rot pada siswa sekolah menengah pertama. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 162 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria aktif menggunakan media sosial minimal dua jam per hari. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala psychological well-being dan skala brain rot berbentuk skala likert. Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa psychological well-being siswa cenderung berada pada kategori rendah, sedangkan brain rot berada pada kategori sedang hingga tinggi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara psychological well-being  dengan brain rot. Semakin tinggi brain rot yang dialami siswa, maka semakin rendah psychological well-being yang dimiliki. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar pengembangan layanan bimbingan dan konseling, khususnya dalam membantu siswa meningkatkan regulasi diri, pengelolaan penggunaan media digital, serta kemampuan menjaga kesejahteraan psikologis di era digital.Abstract: The rapid development of digital media has caused adolescents to be increasingly exposed to instant and repetitive content that may affect their psychological condition and cognitive abilities. One phenomenon emerging from this condition is brain rot, which refers to the decline in focus, concentration, and information-processing quality due to excessive digital content consumption. This condition is important to examine because it may be associated with adolescents’ psychological well-being. This study aimed to determine the relationship between psychological well-being and brain rot  among junior high school students. The study employed a quantitative approach with a correlational design. The research sample consisted of 162 students selected using purposive sampling techniques, with the criterion of actively using social media for at least two hours per day. Data were collected using psychological well-being and brain rot  scales in the form of Likert scales. Data analysis was conducted using the Spearman correlation test. The results showed that students’ psychological well-being tended to be in the low category, while brain rot  levels were in the moderate to high category. The correlation test results indicated a significant negative relationship between psychological well-being and brain rot . The higher the level of brain rot  experienced by students, the lower their psychological well-being. The findings of this study can serve as a basis for developing guidance and counseling services, particularly in helping students improve self-regulation, manage digital media use, and maintain psychological well-being in the digital era.
Penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing untuk meningkatkan empati siswa SMP Restu Daud Prayogo; Asieline Wahyu Tri Ardyanti
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24636

Abstract

Rendahnya tingkat empati pada siswa SMP menjadi permasalahan yang perlu mendapat perhatian serius, mengingat empati merupakan aspek penting dalam kecerdasan emosional yang mendukung perkembangan sosial siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas penerapan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam meningkatkan empati siswa SMP. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian pre-experimental dan desain One Group Pretest-Posttest Design. Sampel berjumlah 10 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan skor empati terendah dari 86 siswa kelas 7. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner empati Interpersonal Reactivity Index (IRI) dari Davis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya dengan nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,907. Teknik analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Ranks Test. Hasil penelitian menunjukkan nilai Z = -2,823 dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) = 0,005 < 0,05, sehingga hipotesis alternatif diterima. Seluruh siswa mengalami peningkatan skor empati setelah mendapatkan treatment, dengan rata-rata peningkatan sebesar 10,6 poin. Temuan ini membuktikan bahwa bimbingan kelompok dengan teknik role playing efektif meningkatkan empati siswa SMP dan berdampak pada pengembangan layanan bimbingan dan konseling yang lebih interaktif untuk membantu meningkatkan kemampuan sosial dan kepedulian siswa terhadap orang lain.Abstract: The low level of empathy among junior high school students is a problem that requires serious attention, given that empathy is an important aspect of emotional intelligence that supports students' social development. This study aims to examine the effectiveness of group guidance using role playing techniques in improving the empathy of junior high school students. This study employed a quantitative method with a pre-experimental research type and a One Group Pretest-Posttest Design. The sample consisted of 10 students selected using purposive sampling based on the lowest empathy scores from 86 seventh-grade students. The instrument used was Davis's Interpersonal Reactivity Index (IRI) empathy questionnaire, which had been tested for validity and reliability with a Cronbach's Alpha value of 0.907. Data analysis was performed using the Wilcoxon Signed Ranks Test. The results showed a Z value of -2.823 with an Asymp. Sig. (2-tailed) = 0.005 < 0.05, so the alternative hypothesis was accepted. All students experienced an increase in empathy scores after receiving the treatment, with an average improvement of 10.6 points. These findings prove that group guidance with role playing techniques is effective in improving the empathy of junior high school students and has implications for the development of more interactive counseling and guidance services to enhance students' social skills and concern for others.
Self-injury pada remaja fatherless: studi fenomenologi pada remaja perempuan Alqis Bahnan
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v15i2.24247

Abstract

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang berperan penting dalam perkembangan fisik, emosional, dan psikologis anak. Selama proses tersebut, kehadiran ayah memiliki kontribusi besar terhadap kesejahteraan emosional remaja. Namun, tidak semua remaja perempuan merasakan kehadiran dan kasih sayang ayah yang memadai. Kondisi fatherless dapat memengaruhi kesehatan mental remaja dan meningkatkan risiko munculnya berbagai masalah psikologis, seperti stres, kesepian, kecemasan, dan depresi. Untuk mengatasi tekanan emosional yang sulit diungkapkan, sebagian remaja perempuan melakukan perilaku self-injury sebagai bentuk pelampiasan dan strategi coping, meskipun hanya memberikan kelegaan sementara tanpa menyelesaikan akar permasalahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan dinamika perilaku self-injury pada remaja perempuan yang mengalami fatherless. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk memahami pengalaman subjektif partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja perempuan yang mengalami fatherless cenderung menggunakan self-injury sebagai cara mengelola stres dan tekanan emosional yang sulit dikomunikasikan secara verbal. Temuan ini memperkuat pemahaman dalam psikologi perkembangan dan psikologi klinis mengenai hubungan antara ketidakhadiran figur ayah, regulasi emosi, dan perilaku melukai diri. Selain itu, penelitian ini memberikan kontribusi bagi pengembangan kajian tentang faktor keluarga dan kesehatan mental remaja serta upaya pencegahan perilaku self-injury melalui strategi coping yang lebih adaptif dalam layanan konseling.Abstract: The family is the primary environment that plays a crucial role in a child's physical, emotional, and psychological development. During this process, the presence of a father significantly contributes to an adolescent's emotional well-being. However, not all adolescent girls experience adequate paternal presence and affection. Fatherlessness can impact adolescent mental health and increase the risk of various psychological problems, such as stress, loneliness, anxiety, and depression. To cope with emotional distress that is difficult to express, some adolescent girls engage in self-injury as a form of outlet and coping strategy, although this only provides temporary relief without addressing the root cause. This study aims to examine the characteristics and dynamics of self-injury behavior in fatherless adolescent girls. The method used was a qualitative study with a phenomenological approach to understand the participants' subjective experiences. The results indicate that fatherless adolescent girls tend to use self-injury as a way to manage stress and emotional distress that is difficult to communicate verbally. These findings strengthen the understanding in developmental and clinical psychology regarding the relationship between father absence, emotion regulation, and self-injury behavior. In addition, this research contributes to the development of studies on family factors and adolescent mental health as well as efforts to prevent self-injury behavior through more adaptive coping strategies in counseling services.
Pengaruh growth mindset terhadap strategi mengatasi cyberbullying pada siswa korban cyberbullying Yuliana Nur Khalifah; Nina Permata Sari; Eklys Cheseda Makaria
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24712

Abstract

Cyberbullying pada remaja dapat menimbulkan dampak psikologis seperti stres, kecemasan, dan menurunnya kesejahteraan mental. Salah satu faktor yang mampu membantu siswa menghadapi kondisi tersebut adalah growth mindset. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh growth mindset terhadap strategi mengatasi cyberbullying pada siswa korban cyberbullying di SMA. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian ex post fakto. Sampel penelitian berjumlah 108 siswa yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala growth mindset dan skala cyberbullying, kemudian dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa growth mindset berpengaruh signifikan terhadap strategi mengatasi cyberbullying pada siswa korban cyberbullying dengan nilai F sebesar 32,690 dan signifikansi < 0,001. Nilai R Square sebesar 0,236 menunjukkan bahwa growth mindset memberikan kontribusi sebesar 23,6% terhadap strategi mengatasi cyberbullying. Temuan ini mengindikasikan bahwa penguatan growth mindset berperan dalam meningkatkan strategi mengatasi cyberbullying secara lebih adaptif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang dapat memengaruhi strategi mengatasi cyberbullying, sehingga diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang berperan dalam membantu siswa korban cyberbullying.Abstract: Cyberbullying among adolescents can lead to psychological impacts such as stress, anxiety, and diminished mental well-being. A growth mindset is one factor that can assist students in coping with such situations. This study aimed to analyze the influence of a growth mindset on cyberbullying coping strategies among high school students who have been victims of cyberbullying. A quantitative approach with an ex post facto research design was employed. The sample consisted of 108 students selected using purposive sampling. Data were collected using growth mindset and cyberbullying scales and subsequently analyzed via simple linear regression. The results indicate that a growth mindset significantly influences cyberbullying coping strategies among victimized students (F = 32.690; p < 0.001). An R-squared value of 0.236 demonstrates that a growth mindset contributes 23.6% to the variance in cyberbullying coping strategies. These findings suggest that fostering a growth mindset plays a role in enhancing more adaptive coping strategies. Future research is encouraged to examine other factors influencing cyberbullying coping strategies to gain a more comprehensive understanding of the elements that assist students who are victims of cyberbullying dalam membantu siswa korban cyberbullying.
E-counseling untuk kesehatan mental mahasiswa: a systematic review terhadap efektivitas, sikap, dan pengalaman pengguna Geby Aisyah Fitri
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.24916

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis bukti empiris mengenai efektivitas, sikap, dan pengalaman mahasiswa terhadap layanan e-counseling. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan mengikuti pedoman Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA). Penelusuran literatur dilakukan pada database Scopus, SAGE, ScienceDirect, dan SpringerLink terhadap artikel yang dipublikasikan pada tahun 2020–2025. Sebanyak 14 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan sintesis naratif. Hasil menunjukkan bahwa e-counseling efektif dalam menurunkan kecemasan, stres, depresi, dan psychological distress serta meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Sikap mahasiswa terhadap e-counseling cenderung positif yang dipengaruhi oleh kemudahan akses, fleksibilitas, efisiensi waktu, dan anonimitas. Pengalaman mahasiswa menunjukkan bahwa e-counseling memberikan dukungan emosional, rasa aman, dan kenyamanan dalam mengungkapkan masalah pribadi, disertai hambatan berupa kendala teknis, keterbatasan komunikasi nonverbal, dan stigma pencarian bantuan psikologis. Temuan ini mengindikasikan bahwa e-counseling merupakan intervensi digital yang efektif dan adaptif dalam mendukung layanan kesehatan mental mahasiswa di era digital.Abstract: This study aimed to synthesize empirical evidence regarding the effectiveness, attitudes, and experiences of university students toward e-counseling services. A Systematic Literature Review (SLR) was conducted following the Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA) guidelines. Literature searches were carried out in Scopus, SAGE, ScienceDirect, and SpringerLink databases for articles published between 2020 and 2025. A total of 14 studies that met the inclusion criteria were analyzed using narrative synthesis. The findings indicate that e-counseling is effective in reducing anxiety, stress, depression, and psychological distress, while enhancing students’ psychological well-being. Students generally demonstrate positive attitudes toward e-counseling, influenced by accessibility, flexibility, time efficiency, and anonymity. Some students still prefer face-to-face counseling due to stronger perceived therapeutic relationships. Students’ experiences reveal that e-counseling provides emotional support, a sense of safety, and comfort in disclosing personal issues, although challenges remain, including technical difficulties, limited nonverbal communication, and stigma associated with help-seeking behavior. The findings suggest that e-counseling is an effective digital intervention for supporting university students’ mental health in the digital era.
Rekonstruksi peran Kiai dalam konseling Indigenous Pesantren untuk mendukung kesehatan mental Santri Muhammad Khalil Gunawan; Adiansyah Adiansyah
Counsellia: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 16 No. 1 (2026): In Press
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/counsellia.v16i1.25114

Abstract

Peningkatan kompleksitas permasalahan kesehatan mental santri menuntut pengembangan model pendampingan yang tetap berakar pada budaya pesantren sekaligus responsif terhadap kebutuhan psikologis kontemporer. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi peran kiai sebagai indigenous counselor dalam mendukung kesehatan mental santri melalui perspektif indigenous Islamic counseling. Penelitian menggunakan pendekatan Integrative Literature Review dengan mengacu pada pedoman PRISMA 2020. Artikel diperoleh dari Google Scholar, Garuda, Crossref, dan Scopus berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan, kemudian dianalisis melalui proses reduksi data, pengkodean tematik, sintesis komparatif, dan interpretasi kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya pesantren berfungsi sebagai faktor protektif sekaligus faktor risiko bagi kesehatan mental, bergantung pada kualitas hubungan pertolongan yang berkembang di dalamnya. Indigenous Islamic counseling menjadi mekanisme yang mengintegrasikan spiritualitas, dukungan sosial, dan relasi kiai dengan santri dalam membangun resiliensi serta kesejahteraan psikologis santri. Berdasarkan sintesis tersebut, penelitian ini merekonstruksi peran kiai ke dalam empat fungsi yang saling terintegrasi, yaitu pedagogis, spiritual, psikososial, dan terapeutik. Temuan ini menghasilkan model konseptual yang menempatkan kiai sebagai aktor utama layanan kesehatan mental berbasis budaya pesantren serta memberikan landasan bagi pengembangan praktik dan kebijakan indigenous Islamic counseling yang lebih kontekstual dan ilmiah.Abstract: The increasing complexity of students' mental health challenges in Islamic boarding schools (pesantren) requires a counseling model that remains rooted in pesantren culture while responding to contemporary psychological needs. This study aims to reconstruct the role of the kiai as an indigenous counselor in supporting students' mental health through the perspective of indigenous Islamic counseling. An Integrative Literature Review was conducted following the PRISMA 2020 guidelines. Relevant studies were retrieved from Google Scholar, Garuda, Crossref, and Scopus using predefined inclusion criteria and analyzed through data reduction, thematic coding, comparative synthesis, and critical interpretation. The findings indicate that pesantren culture functions as both a protective and a risk factor for mental health, depending on the quality of helping relationships developed within the community. Indigenous Islamic counseling serves as the mechanism that integrates spirituality, social support, and kiai-student relationships to strengthen resilience and psychological well-being. The study reconstructs the role of the kiai into four integrated functions: pedagogical, spiritual, psychosocial, and therapeutic. These findings produce a conceptual model positioning the kiai as the central actor in culture-based mental health services in pesantren while providing a foundation for developing contextual and evidence-informed indigenous Islamic counseling practices and policies.