cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Wilayah dan Lingkungan
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 24078751     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 243 Documents
Evaluation of Land Suitability for Shrimp Ponds in Alue Naga village, Syiah Kuala sub-district Afriyani, Mice Putri; Muttakin, Muttakin; Nurfachdini, Nurfachdini
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.3.293-306

Abstract

Alue Naga Village is located in the coastal area of the Syiah Kuala sub-district, which has the potential for shrimp pond cultivation. A mistake in choosing a pond location will cause problems, one of which is environmental. The purpose of this study was to determine the suitability of land for shrimp pond cultivation in Alue Naga village. The samples tested directly in this study measured the level of salinity and soil pH at predetermined pond points and were marked using the Avenza Maps application based on a simple random sampling technique. This research uses overlay and scoring method analysis. The parameters used and analyzed were: land use, soil texture, soil type, soil pH, land slope, distance from the river, distance from the coastline, and salinity. The results of the spatial analysis show three classifications of land classes for shrimp pond cultivation, namely: 1) The class is very suitable for pond cultivation (S1), with an area of 85.15 ha and a percentage of 59.72%. 2) Class suitable for pond cultivation (S2), with an area of 56.91 ha and a percentage of 39.91% 3) Conditionally suitable class for pond cultivation (S3), with an area of 0.52 ha and a percentage of 0.36% There are no ponds in unsuitable areas. The dominant factor affecting the development of ponds in Alue Naga village is land use, most of which is already in the area where they should be, and the salt content is in accordance with the criteria.
Rekomendasi Lokasi Pengembangan Kawasan Industri di Kabupaten Bogor Wazhari, Muchamad
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.3.206-224

Abstract

Sektor industri merupakan penyumbang PDRB dan nilai investasi terbesar dibandingkan sektor lainnya di Kabupaten Bogor, wilayah yang memiliki kawasan industri memberikan kontribusi yang relatif lebih besar terhadap PDRB. Relatif kecilnya luas kawasan industri di Kabupaten Bogor menjadi penyebab kurang optimalnya investasi sektor industri, sehingga diperlukan alternatif lokasi di wilayah lain yang potensial dibangun kawasan industri yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketersediaan lahan dan kesesuaian lahan untuk pengembangan kawasan industri dan merekomendasikan lokasi pengembangan kawasan industri di Kabupaten Bogor. Penelitian ini menggunakan metode overlay dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG), dimana setiap kriteria dilakukan proses penilaian dengan pemberian bobot dan skor yang sesuai dengan pengklasifikasiannya masing-masing yang kemudian dilakukan overlay menggunakan software ArcGIS 10.8. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder berupa peta-peta dan wawancara dengan ahli yang terkait dengan penelitian ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa persentase kesesuaian lahan yang sangat sesuai dan sesuai untuk pengembangan kawasan industri di Kabupaten Bogor sebesar 21,7% dengan luas sekitar 64.184,34 Ha. Ketersediaan lahan yang berpotensi untuk pengembangan kawasan industri sekitar 2.320,92 ha dan alternatif lokasi yang direkomendasikan diantaranya berada pada Kecamatan Parungpanjang, Kecamatan Gunungsindur, Kecamatan Kemang, Kecamatan Babakanmadang dan Kecamatan Cigombong.
Sistem Dinamik Bauran Energi Nuklir pada Skenario Penurunan Emisi Sektor Energi Listrik di Kalimantan Solihat, Sufiana; Driejana, Driejana
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.2.131-149

Abstract

Dengan perkembangan industri smelter dan rencana pemindahan Ibu Kota Negara, di wilayah Kalimantan diperkirakan akan terjadi peningkatan kebutuhan listrik yang cukup besar. Jika suplai listrik tetap berasal dari pembangkit konvensional, emisi gas rumah kaca (GRK) dan pencemar udara (PU) akibat pemenuhan kebutuhan industri dan domestik di masa yang akan datang akan semakin meningkat dan berpotensi membahayakan kesehatan manusia serta lingkungan. Bauran energi nuklir berpotensi dapat berkontribusi pada pemenuhan kebutuhan listrik yang meningkat tersebut dengan tingkat emisi yang jauh lebih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan beban emisi dari sektor energi listrik pada kondisi dasar (saat ini) dan pada skenario intervensi bauran EBT termasuk nuklir, ke dalam rencana suplai listrik di Kalimantan menggunakan metode sistem dinamik. Simulasi dilakukan pada empat skenario, yang dirancang berdasarkan proyeksi kebutuhan listrik dan proporsi bauran pembangkit (nuklir, fosil, dan energi terbarukan seperti surya dan angin) yang bervariasi. Perhitungan emisi CO2, SO2, NOx, CO, PM10, dan PM2.5 pada skenario dasar dilakukan dengan asumsi penggunaan bahan bakar fosil di sektor pembangkit listrik. Sedangkan skenario disusun berdasarkan prediksi kebutuhan listrik dengan memperhitungkan laju pertumbuhan populasi dan dua kondisi pertumbuhan industri yaitu konservatif (berdasarkan laju pertumbuhan saat ini), dan ekspansif pada tahun 2021-2060. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa PLTN berpotensi menjadi sumber energi yang signifikan dalam memenuhi kebutuhan listrik di Kalimantan dengan dampak positif pada pengurangan emisi dan perbaikan kualitas udara.
Analisis Hubungan Perkembangan Kawasan Terbangun dan Land Surface Temperature Terhadap Environmental Criticality Index di Kota Bandung Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh Fahmi, Syahrial; Wahyudi, Diki; Arif, Muhammad Fajri
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.3.307-320

Abstract

Kota Bandung merupakan salah satu kota dengan pertumbuhan pesat di Jawa Barat. Hal itu ditandai dengan peningkatan jumlah penduduk dan pembangunan infrastruktur. Masifnya pembangunan infrastruktur menyebabkan perubahan alih fungsi lahan dari kawasan bervegetasi menjadi kawasan terbangun yang berakibat pada penurunan indeks kualitas lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi kawasan terbangun, suhu permukaan, dan tingkat kekritisan lingkungan menggunakan Environmental Criticality Index (ECI) dengan variabel EBBI dan LST berbasis data Landsat-8 OLI/TIRS tahun 2013 dan 2023. Secara khusus, penelitian ini juga menganalisis hubungan antara EBBI dan LST terhadap Environmental Criticality Index. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan luas kawasan terbangun sebesar 490,2 ha dari 9.674 Ha di tahun 2013 menjadi sebesar 10.164,2 Ha di tahun 2023. Sementara itu, hasil kondisi suhu permukaan mengalami peningkatan luas area yang didominasi rentang suhu moderate (22,2°C – 25,1°C) dan terjadi peningkatan luas area tingkat kekritisan lingkungan yang signifikan untuk kategori tinggi dari 461,5 Ha di tahun 2013 menjadi sebesar 5402,9 Ha di tahun 2023. Adapun wilayah di Kota Bandung dengan tingkat kategori kekritisan lingkungan tinggi paling luas berada di Kecamatan Babakan Ciparay dengan luas area sebesar 386,8 Ha di tahun 2023. Masing-masing variabel EBBI dan LST memiliki korelasi hubungan terhadap tingkat kekritisan lingkungan dan nilai korelasi hubungan paling tinggi, yaitu variabel EBBI terhadap tingkat kekritisan lingkungan sebesar 99,4% di tahun 2013 dan 97,6% di tahun 2023. Hasil analisis tingkat kekritisan lingkungan di Kota Bandung diharapkan dapat direkomendasikan sebagai salah satu data pelengkap dalam pengambilan kebijakan terkait pengembangan dan perencanaan kota.
Determinants Of Carbon Emissions In G-20 Countries with Financial Development as A Moderation Variable Hasbi, Hasbi; Wibowo, Muhammad Ghafur
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.3.225-241

Abstract

In the last 40 years, the continuous strengthening of the greenhouse effect has led to a significant increase in global average temperatures. Although people's understanding of climate change has improved, the world has not witnessed a significant reduction in pollutant emissions therefore, it is crucial to find the root cause. The purpose of this study is to examine and analyze the effect of trade openness, foreign direct investment, gross domestic product, human capital, industry, financial development on carbon emissions (CO2) in G20 countries during the period 2000-2019. Data analysis was carried out using the Generalized Least Square (GLS) Method model and data processing using the STATA application version 17.0. The results showed that trade openness, gross domestic product, human capital, and industry have a significant effect on carbon emissions (CO2) while foreign direct investment does not have a significant effect. In addition, the Financial Development variable is able to moderate the effect of trade openness, gross domestic product, human capital, industry on carbon emissions (CO2) but on the other hand cannot moderate foreign direct investment. The study's findings contribute to knowledge by providing new evidence on the relationship between financial development metrics and the environment. These findings are crucial for policymakers and relevant authorities to focus on economic development without jeopardizing environmental damage.
Mangrove Health Index in Martajasah Mangrove Ecotourism, Bangkalan Regency East Java, Indonesia Farid, Akhmad; Setiawan, Eko; Arisandi, Apri; Yusron, Moch.
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.2.150-162

Abstract

Mangrove areas need to be considered from the condition of distribution and density of mangrove forests for future mangrove forest management planning, especially on Madura Island, especially Martajasah mangrove ecotourism. The purpose of this study is to determine the type of mangrove, canopy cover, and mangrove health index. The method used in this study is observation, which is to know the general overview of the research to be carried out. The selection of the research location was determined by the stratified random sampling method. The canopy cover on the mangrove was measured using the Hemispherical Photography method using the front camera of the OPPO Reno 6 phone with a camera resolution of 8 megapixels with a 180° angle of view at the point of taking the photo. The results of this study found 7 types of mangroves, including Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Avicennia alba, Avicennia marina, and Lumnitzera racemosa. The percentage of canopy cover obtained an average score of 63.44% or in the solid category. This indicates that the mangrove ecosystem found in Martajasah mangrove ecotourism is in a good category. The Mangrove Health Index in Martajasah Mangrove Ecotourism is included in normal (33-66%).
Identifikasi Pengaruh Tingkat Klaster Industri Terhadap Konsentrasi Gas Emisi Di Kawasan Cikarang, Bekasi Wibowo, Caesaryo Arif; Anindya, Alfrida Ista; Widya, Khafizh Salsabila; Santoso, Eko Budi
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.3.242-261

Abstract

Pemodelan Emisi Gas CO2 dari Lokasi Tempat Pembuangan Akhir di Kota Pekanbaru menggunakan Dispersi AERMOD Rahmadani, Nofia; Fitri, Yulia; Retnawaty, Sri Fitria; Lestari, Dinda; Mulyani, Sri; Selvia, Selvia
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.2.163-176

Abstract

Dekomposisi anaerobik senyawa organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah bertanggung jawab atas timbulnya gas rumah kaca yang dapat berkontribusi terhadap pemanasan global. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi jumlah produksi gas CO2 dari tahun 2018 hingga 2068 di TPA Muara Fajar 2 Kota Pekanbaru, Provinsi Riau. Pertama, kami mengumpulkan semua informasi yang diperlukan, termasuk data jumlah sampah padat yang dibuang ke TPA Muara Fajar 2 Pekanbaru. Selanjutnya, kami menganalisis data tersebut  menggunakan model LandGEM untuk memperkirakan jumlah produksi gas CO2 yang dipancarkan ke atmosfer dari TPA Muara Fajar 2 Pekanbaru. Dalam penelitian ini, model dispersi AERMOD digunakan untuk dispersi CO2 dari lokasi TPA Muara Fajar 2 Pekanbaru dalam kondisi tahunan yang berbeda. Distribusi emisi gas CO2 dilakukan secara tahunan mulai dari tahun 2018 hingga 2022 yang berasal dari TPA tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi gas CO2 mencapai puncaknya pada tahun 2049. Jumlah Gas CO2 akan menurun setelah 30 tahun pertama. Penurunan jumlah gas CO2 dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya adalah tingkat biodegradasi. Hasil dispersi yang diperoleh menunjukkan bahwa dispersi CO2 dipengaruhi oleh arah angin. Pemodelan AERMOD menunjukkan bahwa konsentrasi tertinggi untuk emisi CO2 terjadi pada tahun 2022 yaitu sebesar  185.961 μg/m3.
Analisis Tipologi Urban Sprawl Serta Potensi Penyimpangan Rencana Pola Ruang Pada Masa Mendatang Di Wilayah Periurban Kota Sukabumi Menggunakan Sistem Informasi Geografis Murdaka, Widura
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 3 (2024): Desember 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.3.262-278

Abstract

Urbanisasi tidak hanya terjadi di kota besar saja, saat ini kota-kota kecil dan sedang juga terus bertambah populasinya. Tahun 2030, diprediksi 63,3% penduduk Indonesia akan tinggal di perkotaan. Luas kota yang terbatas mengakibatkan populasi penduduk tidak hanya berkembang di dalam batas administratif kota, namun menimbulkan wilayah perkotaan baru diluar batas administratif. Fenomena urban sprawl menjadi tantangan bagi kota-kota di Indonesia, termasuk pada wilayah periurban Kota Sukabumi yang notabene merupakan kota sedang. Jika penelitian sebelumnya berfokus pada penilaian tipologi urban sprawl pada kondisi eksisting, penelitian ini akan memprediksi tipologi urban sprawl di wilayah periurban Kota Sukabumi pada masa mendatang. Hasilnya, pada tahun 2028 terdapat 10 kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang termasuk ke dalam urban sprawl tipologi 3 (tinggi).
Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Akses Sanitasi di Tiap Tipologi Permukiman Kumuh Kota Surabaya Shahira, Safwa Nashita Noor; Septanaya, I Dewa Made Frendika
Jurnal Wilayah dan Lingkungan Vol 12, No 2 (2024): Agustus 2024
Publisher : Department of Urban and Regional Planning, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jwl.12.2.177-192

Abstract

Kota Surabaya belum berhasil mencapai salah satu target yang ditetapkan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), terutama terkait dengan upaya pemenuhan sanitasi yang layak bagi seluruh penduduknya. Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya pada tahun 2022 mencatat bahwa ada 8.543 rumah tangga di kawasan permukiman kumuh yang masih melakukan praktik Buang Air Besar Sembarangan (BABS) akibat tidak memiliki fasilitas jamban yang layak. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan akses sanitasi di tiap tipologi permukiman kumuh dengan menggunakan teknik analisis skala likert. Perbedaan karakteristik permukiman kumuh dipertimbangkan karena studi terdahulu menemukan bahwa karakteristik ruang dan lingkungan berperan vital dalam menghasilkan variasi faktor yang mempengaruhi permintaan akses sanitasi. Hasil studi ini menemukan bahwa terdapat faktor yang berpengaruh di semua tipologi dan berbeda secara spesifik di tiap tipologi permukiman kumuh. Faktor yang berpengaruh di semua tipologi permukiman kumuh adalah tingkat pendapatan keterbatasan lahan, tingkat pengetahuan, kesadaran perilaku hidup sehat, dan dukungan pemerintah. Sedangkan faktor yang spesifik berbeda adalah jaringan jalan, akses air bersih, jarak dengan sumber air, regulasi terkait BABS, serta status kepemilkan dan status penguasaan bangunan. Memahami faktor-faktor ini sangat penting untuk merumuskan intervensi yang tepat dalam meningkatkan akses sanitasi di permukiman kumuh yang beragam di Kota Surabaya.