cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
eksplorium@batan.go.id
Editorial Address
BULETIN PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN GALIAN NUKLIR Jl. Lebak Bulus Raya No. 9, Ps. Jumat, Jakarta 12440, Indonesia, Telp (021) 7691775, 7695394, 75912956 Fax (021)7691977
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir
ISSN : 08541418     EISSN : 2503426x     DOI : https://doi.org/10.17146/eksplorium
Core Subject : Social,
Eksplorium : Buletin Pusat Pengembangan Bahan Galian Nuklir, adalah jurnal yang diterbitkan oleh Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir-BATAN yang telah diakreditasi LIPI No.749/AU2/P2MI-LIPI/08/2016 dan menempati peringkat SINTA 2
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 35, No 2 (2014): November 2014" : 11 Documents clear
POTENSI THORIUM DAN URANIUM DI KABUPATEN BANGKA BARAT Ngadenin, Ngadenin; Syaeful, Hery; Widana, Kurnia Setiawan; Nurdin, Muhammad
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Thorium dan uranium di Pulau Bangka terdapat di dalam mineral monasit. Secara geologi monasit terbentuk pada  granit tipe S, batupasir serta endapan aluvium.  Di daerah Bangka Barat terdapat beberapa granit tipe S dan aluvium hasil rombakannya sehingga wilayah ini dianggap sebagai wilayah potensial untuk terbentuk cebakan monasit tipe plaser. Granit tipe S dianggap sebagai sumber monasit sedangkan aluvium hasil rombakannya dianggap sebagai tempat berakumulasinya monasit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi geologi dan potensi sumber daya thorium dan uranium pada endapan aluvium di Bangka Barat. Metoda yang digunakan adalah pemetaan geologi, pengukuran kadar thorium dan uranium batuan, pengambilan sampel batuan granit untuk analisis petrografi, pengambilan sampel mineral berat pada aluvium untuk analisis butir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa litologi di wilayah Bangka Barat tersusun oleh satuan sekis, satuan metabatupasir, terobosan granit, terobosan diabas, satuan batupasir dan aluvium. Monasit dijumpai pada terobosan granit, satuan batupasir dan aluvium. Sesar yang berkembang adalah sesar-sesar yang berarah relatif barat laut–tenggara, timur laut–barat daya dan barat–timur. Hasil analisis butiran mineral berat menunjukkan persentase monasit rata-rata dalam mineral berat adalah sebesar 6,34%. Mineral lain yang terdapat dalam cebakan plaser dan cukup potensial adalah zirkon 36,65 %, ilmenit 19,67%, dan kasiterit 14,75%.Kata kunci: endapan plaser, aluvium, thorium, uranium, granit, Bangka Barat
FACIES ANALYSIS, SEDIMENTOLOGY AND PALEOCURRENT OF THE QUATERNARY NENERING FORMATION, PENGKALAN HULU, MALAYSIA Ulfa, Yuniarti; Rong Yu, Evonne Hooi; Kit, Ooi Cheng
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Nenering Formation is essentially made up of semi-consolidated sediments, which are divided into basal conglomerate beds, conglomeratic sandstone, cross-bedded sandstone, and siltstone to muddy layers facies. It is overlie unconformable to the Berapit Formation, but conformable to the Kroh and Grik Formations. The stratigraphy of Nenering Formation is a fining upwards sequence where the thickness of conglomerate beds become thinner upwards and become thicker for conglomeratic sandstone. The thickness varies from 0.5 m to tenths of meters. The more sandy in the upper portion (cross-bedded sandstone) overlie with thin siltstone and mudstone facies. The clast and grain composition suggested that the material making up the sedimentary sequence were derived predominantly from the erosion of granitoid rocks and sedimentary and metamorphic rocks constitute a minor provenance. Imbrications and the trend sizes of clasts indicate that the palaeo-current flow toward northeast. Cross bedding that was found in conglomerate and sandstone indicates the main channel depositional environment. The sequence stratigraphy of this area match with the Saskatchewan fluvial braided channel model. Keywords: conglomerate, facies, fluvial, paleocurrent, stratigraphy, sedimentology
IDENTIFIKASI DAN ESTIMASI KADAR MINERALISASI URANIUM SECARA KUANTITATIF BERDASARKAN LOG GROSS-COUNT GAMMARAY DI SEKTOR LEMAJUNG, KALIMANTAN BARAT Muhammad, Adi Gunawan
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Sektor Lemajung, merupakan salah satu sektorpotensial uranium di daerah Kalan, Kalimantan Barat. Mineralisasi uranium dijumpai pada batuan metalanau dan metapelit sekistosan, dengan arah umum mineralisasi timur-barat miring ± 70⁰ ke utara sejajar dengan arah foliasinya (S1).Pemboran evaluasi telah dilaksanakan pada tahun 2013 di R-05 (LEML-40), dengan total kedalaman 300 meterdan telah dilakukan logging dengan menggunakan gross-count gamma ray pada lubang bor tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah menentukan kadar mineralisasi uranium dalam batuan secara kuantitatifdan mengetahui kondisi geologi di daerah sekitar pemboran. Metodologi penelitian meliputi penentuan nilai k-faktor, pemetaan geologi di sekitar lubang bor, penentuan ketebalan dan estimasi kadar mineralisasi uranium dengan gross-count gamma ray.Hasil estimasi kadar uranium dengan menggunakan loggross-count gamma ray dapat diketahui bahwa kadar eU3O8pada lubang bor R-05 (LEML-40) tertinggi mencapai 0,7493 ≈ 6354 ppm eU dijumpai pada interval kedalaman 30,10 – 34,96 m. Mineralisasiuranium hadir sebagai isian fraktur (urat) atau sebagai isian matrik breksi tektonik pada metalanau dengan ketebalan 0,1 – 2,4 m berasosiasi dengan sulfida (pirit) dan dicirikan dengan rasio U/Th yang tinggi. Kata kunci: identifikasi,estimasi, kadar mineralisasi U, log gross-count gamma ray
STUDI KEBERADAAN MINERALISASI URANIUM DI DAERAH BIAK NUMFOR, PROVINSI PAPUA BARAT Suharji, Suharji; Subiantoro, Lilik; Syaeful, Heri; Widana, Kurnia Setiawan; Prabowo, Hery
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan adanya temuan indikasi mineral radioaktif berupa anomali laju dosis radiasi bernilai relatif tinggi. Hipotesis yang mendasari keberadaan laju dosis radiasi tinggi adalah pengendapan uranium yang berasal dari batuan basal Formasi Auwea, pengkayaan uranium yang berasal dari batugamping pada tanah permukaan, dan pengendapan uranium yang berasal dari penggunaan pupuk pertanian. Penelitian yang  dilakukan bertujuan untuk mendapatkan kesimpulan dari beberapa hipotesis tersebut. Metode penelitian yang diterapkan adalah pemetaan geologi, pengukuran radiometri, kadar uranium (U), thorium (Th), dan potassium (K) di lapangan dengan menggunakan RS 125 untuk mengetahui kadar unsur secara insitu, pengukuran radiometri pupuk tanaman, pengambilan contoh, dan analisis kadar unsur di laboratorium. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi data survei diketahui bahwa di daerah sekitar Maryendi, Darmapis, dan Denafi, terindikasi adanya zona anomali uranium (U) yang dicirikan oleh keberadaan tanah berwarna coklat tua – coklat kemerahan, dengan nilai dosis radiasi 1,9 sampai 4.032,3 nSv/jam dan kadar uranium (U) berkisar antara 20,27 – 325 ppm eU. Berdasarkan hasil analisis batuan sumber uranium, disimpulkan batugamping merupakan batuan sumber uranium di lokasi penelitian. Hasil pengamatan lapangan terhadap pupuk dan batuan basal Formasi Auwea tidak ditemukan anomali yang dapat mengindikasikan material/batuan tersebut bertindak sebagai sumber uranium. Kata kunci: anomali, radioaktivitas, uranium, Biak, Papua
KEBUTUHAN DESAIN AWAL PADA PILOT PLANT PENGOLAHAN MONASIT MENJADI THORIUM OKSIDA (ThO2) Nuri, Hafni Lissa; Prayitno, Prayitno; Jami, Abdul; Pancoko, M.
Eksplorium Buletin Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.019 KB)

Abstract

Pengumpulan data dan informasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan desain awal pilot plant pengolahan monasit menjadi thorium oksida (ThO2). Kandungan thorium pada  monasit di Indonesia cukup tinggi antara 2,9 – 4,1 % dan cukup melimpah terutama di Kepulauan Bangka Belitung. Thorium dapat digunakan sebagai bahan bakar dikarenakan potensinya lebih melimpah dibandingkan uranium. Pabrik pengolahan thorium oksida dari monasit secara komersial didirikan mulai dari pilot plant untuk menguji data laboratorium. Desain pilot plant dimulai dari desain awal, basic design, desaindetil, procurement,dan konstruksi. Kebutuhan untuk desain awal  yang telah dilakukan meliputi  data umpan dan produk, blok diagram proses, deskripsi proses, penentuan kondisi proses, dan jenis alat  utama. Kata kunci:desain, monasit, thorium oksida
Cover + Daftar Isi + Kata Pengantar + Indeks Isi + Indeks Mitra Bestari Editor Eksplorium
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1391.889 KB)

Abstract

Cover dan halaman pengantar Eksplorium.
Identifikasi dan Estimasi Kadar Mineralisasi Uranium Secara Kuantitatif Berdasarkan Log Gross-Count Gamma Ray di Sektor Lemajung, Kalimantan Barat Adi Gunawan Muhammad
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1141.412 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.2.2756

Abstract

Sektor Lemajung, merupakan salah satu sektorpotensial uranium di daerah Kalan, Kalimantan Barat. Mineralisasi uranium dijumpai pada batuan metalanau dan metapelit sekistosan, dengan arah umum mineralisasi timur-barat miring ± 70⁰ ke utara sejajar dengan arah foliasinya (S1). Pemboran evaluasi telah dilaksanakan pada tahun 2013 di R-05 (LEML-40), dengan total kedalaman 300 meter dan telah dilakukan logging dengan menggunakan gross-count gamma ray pada lubang bor tersebut. Tujuan dari kegiatan ini adalah menentukan kadar mineralisasi uranium dalam batuan secara kuantitatif dan mengetahui kondisi geologi di daerah sekitar pemboran. Metodologi penelitian meliputi penentuan nilai k-faktor, pemetaan geologi di sekitar lubang bor, penentuan ketebalan dan estimasi kadar mineralisasi uranium dengan gross-count gamma ray. Hasil estimasi kadar uranium dengan menggunakan log gross-count gamma ray dapat diketahui bahwa kadar eU3O8 pada lubang bor R-05 (LEML-40) tertinggi mencapai 0,7493≈6354 ppm eU dijumpai pada interval kedalaman 30,10–34,96 m. Mineralisasi uranium hadir sebagai isian fraktur (urat) atau sebagai isian matrik breksi tektonik pada metalanau dengan ketebalan 0,1–2,4 m berasosiasi dengan sulfida (pirit) dan dicirikan dengan rasio U/Th yang tinggi.  Lemajung sector, is one of uranium potential sector in Kalan Area, West Kalimantan. Uranium mineralization is found in metasiltstone and schistose metapelite rock with general direction of mineralization east-west tilted ± 70⁰ to the north parallel with schistocity pattern (S1). Drilling evaluation has been implemented in 2013 in Lemajung sector at R-05 (LEML-40) with total depth of 300 meters and has been completly with well-logging by  gross-count gamma ray. The purpose of this activity is to determine uranium mineralization grade with quantitatively methode  in the rocks and also determine the geological conditions in sorounding of drilling area. The methodology  involves determining the value of k-factor, geological mapping for the sorounding of drill hole, determination of the thickness and grade estimation of uranium mineralization with gross-count gamma ray. Quantitatively from grade estimation of uranium using gross-count gamma ray log can be known that the highest % eU3O8 in the hole R-05 (LEML-40) reaches 0.7493≈6354  ppm eU found at depth interval from 30.1 to 34.96 m. Uranium  mineralization is present as fracture filling (vein) or tectonic breccia matrix filling in metasiltstone with thickness from 0.10 to 2.40 m associated with sulphide (pyrite) and characterized by high ratio of U/Th.
Studi Keberadaan Mineralisasi Uranium Di Daerah Biak Numfor, Provinsi Papua Barat Suharji Suharji; Lilik Subiantoro; Heri Syaeful; Kurnia Setiawan Widana; Hery Prabowo
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1638.883 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.2.2757

Abstract

Penelitian ini dilakukan berdasarkan adanya temuan indikasi mineral radioaktif berupa anomali laju dosis radiasi bernilai relatif tinggi. Hipotesis yang mendasari keberadaan laju dosis radiasi tinggi adalah pengendapan uranium yang berasal dari batuan basal Formasi Auwea, pengkayaan uranium yang berasal dari batugamping pada tanah permukaan, dan pengendapan uranium yang berasal dari penggunaan pupuk pertanian. Penelitian yang  dilakukan bertujuan untuk mendapatkan kesimpulan dari beberapa hipotesis tersebut. Metode penelitian yang diterapkan adalah pemetaan geologi, pengukuran radiometri, kadar uranium (U), thorium (Th), dan potassium (K) di lapangan dengan menggunakan RS 125 untuk mengetahui kadar unsur secara insitu, pengukuran radiometri pupuk tanaman, pengambilan contoh, dan analisis kadar unsur di laboratorium. Berdasarkan hasil analisis dan evaluasi data survei diketahui bahwa di daerah sekitar Maryendi, Darmapis, dan Denafi, terindikasi adanya zona anomali uranium (U) yang dicirikan oleh keberadaan tanah berwarna coklat tua – coklat kemerahan, dengan nilai dosis radiasi 1,9 sampai 4.032,3 nSv/jam dan kadar uranium (U) berkisar antara 20,27 – 325 ppm eU. Berdasarkan hasil analisis batuan sumber uranium, disimpulkan batugamping merupakan batuan sumber uranium di lokasi penelitian. Hasil pengamatan lapangan terhadap pupuk dan batuan basal Formasi Auwea tidak ditemukan anomali yang dapat mengindikasikan material/batuan tersebut bertindak sebagai sumber uranium. This study was conducted based on the findings of radioactive minerals in the form of indication of relatively high radiation dose rate anomalies. The hypothesis underlying the existence of a high radiation dose rate is the deposition of uranium derived from basalt rock Auwea Formation, uranium enrichment derived from limestone to the soil surface, and the deposition of uranium resulted from the use of fertilizers in agriculture. Therefore the research aimed to obtain the conclusion of its hypotheses. Research methodology applied is geological mapping, radiometric measurement of uranium (U), thorium (Th), and potassium(K) in the field using RS 125 to determine in-situ grade of elements, radiometric measurements of plant fertilizer, sampling, and laboratory analysis of the element grade. Based on the analysis and evaluation of survey data it is known that in the area around Maryendi, Darmapis and Denafi, indicate the presence of anomalous zones which is characterized by the presence of uranium (U) dark brown soil – reddish brown, with the value of the radiation dose of 1.9 to 4,032.3 nSv/h and grade of uranium (U)has 20.27 to 325 ppm eU. Based on the analysis of source rock of uranium, it is concluded that limestone is the source rock of uranium in research area. The results of field observations of the fertilizer and basalt rock of Auwea Formation, it is found that no anomalies may indicate material/rock that acts as the source of uranium.
Kebutuhan Desain Awal Pada Pilot Plant Pengolahan Monasit Menjadi Thorium Oksida (ThO2) Hafni Lissa Nuri; Prayitno Prayitno; Abdul Jami; Marliyadi Pancoko
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.444 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.2.2758

Abstract

Pengumpulan data dan informasi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan desain awal pilot plant pengolahan monasit menjadi thorium oksida (ThO2). Kandungan thorium pada  monasit di Indonesia cukup tinggi antara 2,9 – 4,1 % dan cukup melimpah terutama di Kepulauan Bangka Belitung. Thorium dapat digunakan sebagai bahan bakar dikarenakan potensinya lebih melimpah dibandingkan uranium. Pabrik pengolahan thorium oksida dari monasit secara komersial didirikan mulai dari pilot plant untuk menguji data laboratorium. Desain pilot plant dimulai dari desain awal, basic design, desaindetil, procurement,dan konstruksi. Kebutuhan untuk desain awal  yang telah dilakukan meliputi  data umpan dan produk, blok diagram proses, deskripsi proses, penentuan kondisi proses, dan jenis alat  utama.  Data and information collection aimed in order to meetthe needs ofthe initial designfor pilot plantof monazite processing into thorium oxide (ThO2). The content ofthorium inmonaziteis high in Indonesia between 2.9 to 4.1% andrelatively abundantin Bangka Belitung Islands. Thorium can be used as fuel because of its potential is more abundant instead of uranium. Plant of thorium oxide commercially from monazite established starting from pilot plant in order to test laboratory data. Pilot plant design started from initial design, basic design, detailed design, procurement and construction. Preliminary design needs includes data feed and products, a block diagram of the process, a description of the process, the determination of process condition sand type of major appliance has been conducted.
Potensi Thorium dan Uranium di Kabupaten Bangka Barat Ngadenin Ngadenin; Heri Syaeful; Kurnia Setiawan Widana; Muhammad Nurdin
EKSPLORIUM Vol 35, No 2 (2014): November 2014
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1441.352 KB) | DOI: 10.17146/eksplorium.2014.35.2.2754

Abstract

Thorium dan uranium di Pulau Bangka terdapat di dalam mineral monasit. Secara geologi monasit terbentuk pada granit tipe S, batupasir serta endapan aluvium. Di daerah Bangka Barat terdapat beberapa granit tipe S dan aluvium hasil rombakannya sehingga wilayah ini dianggap sebagai wilayah potensial untuk terbentuk cebakan monasit tipe plaser. Granit tipe S dianggap sebagai sumber monasit sedangkan aluvium hasil rombakannya dianggap sebagai tempat berakumulasinya monasit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui informasi geologi dan potensi sumber daya thorium dan uranium pada endapan aluvium di Bangka Barat. Metoda yang digunakan adalah pemetaan geologi, pengukuran kadar thorium dan uranium batuan, pengambilan sampel batuan granit untuk analisis petrografi, pengambilan sampel mineral berat pada aluvium untuk analisis butir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa litologi di wilayah Bangka Barat tersusun oleh satuan sekis, satuan metabatupasir, terobosan granit, terobosan diabas, satuan batupasir dan aluvium. Monasit dijumpai pada terobosan granit, satuan batupasir dan aluvium. Sesar yang berkembang adalah sesar-sesar yang berarah relatif barat laut–tenggara, timur laut–barat daya dan barat–timur. Hasil analisis butiran mineral berat menunjukkan persentase monasit rata-rata dalam mineral berat adalah sebesar 6,34%. Mineral lain yang terdapat dalam cebakan plaser dan cukup potensial adalah zirkon 36,65 %, ilmenit 19,67%, dan kasiterit 14,75%. Thorium and uranium in Bangka Island are mainly found in monazite mineral. In the geological point of view the monazite formed in S type granite, sandstones and alluvial deposits. In Bangka Baratwhere several S types granite and also alluvial deposites and this area considered as a potential area for monazite placer. S type granites are predicted as a source of monazite while alluvial deposits are considered as a dispersion place for deposition of monazite. The purpose of this study is to determine the geological information and to know the hypothetical potency of thorium and uranium resources in alluvial deposits. The methodsusedin this study are geological mapping, measurement of thorium and uranium contents in the rock, sampling of granite for petrographic analysis, sampling of heavy mineral in alluvial deposits for grain size analysis. Results of the research show that the lithology of West Bangka region composed of schist unit, meta-sandstone unit, granite intrusion, diabase intrusion, sandstone unit and alluvial deposits. Monazite is found in granite intrusion, sandstone unit and alluvial deposits. Evolving fault strend to northwest-southeast, northeast-southwest and west-east.The results of the grain size analysis of heavy mineral shows the average percentage of monazite in the heavy mineral is 6.34%. Other potential minerals contained in placer deposits are zircon 36.65%, ilmenite 19.67% and cassiterite 14.75%.

Page 1 of 2 | Total Record : 11