cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Warta IHP (Warta Industri Hasil Pertanian)
Published by Politeknik AKA Bogor
ISSN : 02151243     EISSN : 26544075     DOI : -
Warta IHP (Industri Hasil Pertanian) is a Scientific Journal which is sourced from research papers, new theoretical/interpretive findings, and critical studies or reviews (by invitation) in the agro-based industry scope that cover any discipline such as: food science and technology, agricultural industry technology, chemistry and essential oils, agricultural products processing machinery, food microbiology, renewable energy, chemical analysis, and food engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 804 Documents
Pengaruh Suhu Penyimpanan terhadap Kualitas Sosis Kering Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Susi Heryani; Tita Aviana; Ning Ima Arie Wardayanie; Reno Fitri Hasrini
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.4300

Abstract

ABSTRAK: Jamur tiram putih mempunyai kandungan gizi yang tinggi serta memiliki protein dan serat menyerupai daging. Namun jamur tiram putih mempunyai kadar air tinggi sehingga mudah rusak. Pengolahan jamur tiram putih menjadi sosis kering dan pengamatan kondisi penyimpanan terhadap kualitas sosis kering belum ada yang melakukan. Tujuan penelitian ini mempelajari pengaruh beberapa kondisi penyimpanan terhadap kualitas sosis kering jamur tiram putih. Sosis kering jamur tiram putih disimpan pada inkubator suhu 25, 35, 45, dan 55 oC. Sampel sosis kering jamur tiram putih dianalisis kadar air, asam lemak bebas (ALB) dan aw setiap 14 hari sekali selama 56 hari. Suhu penyimpanan selama 56 hari mempengaruhi kadar air dan aw sosis kering jamur tiram putih. Semakin tinggi suhu penyimpanan dan semakin lama penyimpanan maka kadar air makin rendah dan aw makin rendah. Sedangkan waktu penyimpanan mempengaruhi ALB dan aw. Semakin lama waktu penyimpanan maka ALB semakin tinggi dan aw semakin turun. ALB tidak dipengaruhi suhu penyimpanan dan kadar air tidak dipengaruhi waktu simpan.  Semua kondisi penyimpanan masih memenuhi syarat mutu SNI produk pangan kering.Kata kunci: asam lemak bebas, aw, jamur tiram putih, kadar air, sosis keringABSTRACT: White oyster mushrooms have high nutritional content and similar with meat. However, white oyster mushrooms have high water content so they are easily decay. Processing of white oyster mushrooms into dry sausages and observation of storage conditions on the quality of dry sausages has not been done. The aim of this study was to study the effect of several storage conditions on the quality of dry white oyster mushroom sausage for 56 days. Dried sausages were stored in incubators at 25, 35, 45, and 55 oC for 56 days. Samples of dried sausage were analyzed for water content, free fatty acids (FFA) and aw every 14 days for 56 days. Storage temperature for 56 days affects the moisture content and aw white oyster mushroom dry sausage. The higher the storage temperature and the longer the storage, the lower the water content and the lower the aw. Meanwhile, the storage time affects ALB and aw. The longer the storage time, the higher the ALB and the lower the aw. ALB is not affected by storage temperature and moisture content is not affected by storage time. All storage conditions still qualify the Indonesian National Standard quality requirements for dry food products.Keywords: free fatty acid,  aw  white oyster mushroom, water content, dried sausage
Pengaruh Curing dan Coating pada Mutu Ubi Jalar Cilembu Selama Masa Penyimpanan Nisa, Khaerun; Purwanto, Yohannes Aris; Darmawati, Emmy; Iriani, Evi Savitri
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.6219

Abstract

ABSTRAK: Ubi jalar cilembu merupakan ubi jalar varietas unggul yang banyak diminati dan diekspor, namun dibutuhkan proses panjang serta waktu yang lama dalam proses ekspor. Misalnya diperlukan waktu 12-13 hari untuk ekspor ke Singapura dengan moda transportasi laut. Sehingga diperlukan penanganan pascapanen yang tepat utuk menjaga mutu ubi selama proses ekspor. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi lingkungan curing dan konsentrasi emulsi coating lilin lebah terbaik untuk menjaga mutu ubi jalar cilembu selama masa penyimpanan. Penelitian ini dilakukan selama 7 hari untuk perlakuan curing dan coating. Curing dilakukan pada 3 kondisi lingkungan yang berbeda, yaitu suhu 30 oC dengan RH 90%, suhu 23 oC dengan RH 50%, dan suhu ruang. Sedangkan coating dilakukan dengan cara mencelupkannya pada 3 konsentrasi emulsi lilin lebah yang berbeda, yaitu konsentrasi 12%, konsentrasi 8%, dan konsentrasi 3%, lalu disimpan pada suhu ruang selama 7 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kondisi curing dan emulsi coating lilin lebah terbaik dalam menekan kerusakan fisik >25% dan pertunasan ubi cilembu selama penyimpanan yaitu pada suhu 30 oC dengan RH 90% dan coating lilin lebah 8%.Kata kunci: curing, coating, mutu, penyimpanan, ubi jalar cilembuABSTRACT: Sweet potato cultivar (cv.) Cilembu is the the superior quality of sweet potato, which is high demand and exported, but it takes a long process and long time for export. For example need 12-13 days for export to Singapore using sea transportation. So, proper postharvest handling is needed to maintain the quality of sweet potato during the export process. Therefore, the purpose of this study is determining the best condition of curing and the best concentration of beeswax emulsion for sweet potato cv. Cilembu during storage period. This research was conducted for seven days. Curing was carried out in three different environmental conditions, they were temperature and RH, respectively, i.e.  30 oC, RH 90%; 23 oC, RH 50%; and room temperature. The coating were carried out by dipping in three different consentrations of beeswax emulsion, they were 12%, 8%, and 3%. The samples were then stored at room temperature for 7 days. The result showed that the best curing and coating emulsion of beeswax in reduce the level of physical damage >25% and the sprouting of sweet potato cv. Cilembu during storage were curing at 30 oC with 90% RH and coating with beeswax emulsion of 8%.Keywords:  curing, coating, quality, storage, cilembu sweet potato
Pengaruh Jenis Pelarut terhadap Hasil Ekstraksi Senyawa Skopoletin Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) Fitri Hasanah; Nobel Christian Siregar; Angelina Gunawan; Sujono Sujono; Tita Aviana
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5791

Abstract

Skopoletin merupakan golongan kumarin yang memiliki efek fisiologi dan farmakologis pada manusia. Skopoletin memiliki aktivitas sebagai antijamur, antibakteri, antiperadangan, melancarkan peredaran darah dan menurunkan tekanan darah. Skopoletin pada jenis umbi-umbian telah diteliti, namun pada ubi jalar ungu masih terbatas pada identifikasi dan belum ada penelitian yang membandingkan jenis-jenis pelarut terhadap ekstraksi skopoletin dengan metode maserasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu mendapatkan jenis pelarut yang menghasilkan rendemen ekstrak kental dan kandungan skopoletin tertinggi pada ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.). Ekstraksi senyawa skopoletin dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut metanol, etanol dan etil asetat.  Metode analisis skopoletin yang digunakan adalah metode kromatografi cair kinerja tinggi-fluoresensi (KCKT-FL) dan kromatografi lapis tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak skopoletin tertinggi diperoleh dari ekstrak dengan pelarut etanol yaitu sebesar 4,49±0,11 %, kemudian etil asetat sebesar 4,43±0,03 % dan terendah metanol sebesar 4,36±0,04 %. Nilai kandungan skopoletin tertinggi diperoleh dari pelarut etanol sebesar 118,092±1,57 ppm, lalu metanol sebesar 111,86±1,58 ppm dan terendah etil asetat sebesar 18,760±2,74 ppm.
Evaluasi Karakteristik Antibakteri Ekstrak Heksan Kulit Batang Drimys piperita Hook f. terhadap Pertumbuhan Bakteri Patogenik dalam Medium Padat Cepeda, Gino Nemesio; Lisangan, Meike Meilan; Silamba, Isak; Nilawati, Nitia; Syartika, Eka
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.5600

Abstract

ABSTRAK: Drimys piperita Hook f. adalah salah satu jenis tumbuhan aromatik yang dikelompokkan dalam keluarga Winteraceae. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan obat tradisional Suku Sougb yang bermukim di Pengunungan Arfak Papua Barat untuk pengobatan malaria dan peningkatan vitalitas tubuh. Penelitiaan ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antibakteri ekstrak heksan kulit batang akway dan stabilitas antibakterinya terhadap pengaruh tingkat keasaman (pH), pemanasan dan konsentrasi natrium klorida secara in vitro serta potensinya sebagai pengawet pangan. Ekstraksi komponen antibakteri dilakukan menggunakan metode perendaman (maserasi) dalam pelarut heksan (maserasi) selama 72 jam. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan menggunakan metode agar well diffusion pada empat bakteri uji, yaitu Escherichia coli,  Pseudomonas aeruginosa, Bacillus cereus dan Staphylococcus aureus. Hasil riset memperlihatkan bahwa ekstrak heksan kulit batang akway bersifat menghambat pertumbuhan S. aureus, E. coli, dan B. cereus dengan konsentrasi terendah 0,35-0,89%. Esktrak tahan terhadap pemanasan 100°C  dalam waktu 25 menit dan konsentrasi natrium klorida ≤ 5%. Perlakuan pH 4 dan pH 8,5 dapat meningkatkan aktivitas antibakteri ekstrak. Ekstrak berpotensi sebagai pengawet pangan yang diproses dengan pemanasan dan pengasaman.Kata kunci: antibakteri, ekstrak heksan, kulit batang Drimys piperitaABSTRACT: Drimys piperita Hook f.  is an aromatic plant that was included in family of Winteraceae. This plant is a traditional medical plant of Sougb tribe who leaved in Arfak Mountains, West Papua for healing malaria and  enhancing  vitality.  The aims of the study  were to evaluate in vitro antibacterial capacities of its barks hexane extracts and antibacterial stability of extracts on different  pH, heating and natrium chloride concentrations also its potency as food preservative. Hexane extraction of  barks powder was performed using Soaking method (maceration) for 72 hours. Antibacterial activity assays of extracts were done using method of agar well diffusion on four tested bacteria including Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus cereus and Staphylococcus aureus. The result indicated that hexane extracts inhibited growth of S. aureus, E. coli, and B. cereus at minimum concentration of 0.35-0.89%. Extract was resisten on heating temperature of 100°C for 25 minutes and natrium chloride concentration up to 5%. The Treatment of pH 4 and pH 8.5 increased antibacterial activity of extracts. The extract has potency used as  preservative agent for  food produced  by heating and acidifying process.Keywords:  antibacterial, hexane extracts, Drimys piperita barks
Optimasi Proses Sangrai Biji Kakao pada Alat Vibro-Fluidized Roaster Mochammad Jusuf Djafar; Achmad Sofian Nasori
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5560

Abstract

Optimasi proses penyangraian biji kakao (Theobroma cacao L.) menggunakan alat sangrai getar terfluidisasi, menggunakan rancangan percobaan response surface method dengan central composite dua faktor (terhadap 13 variabel sampel) telah digunakan untuk mendapatkan pengaruh frekuensi getaran dan jarak bidang pemanas sinar infra merah terhadap kualitas dan kadar air produk biji kakao non-fermentasi yang disangrai. Bahan yang digunakan merupakan biji kakao non-fermentasi yang diperoleh dari Gabungan Kelompok Tani Kakao di Blitar, sementara itu alat yang digunakan berupa alat sangrai getar terfluidisasi (vibro- fluidized roaster) dilengkapi pemanas sinar infra merah. Nilai optimum penyangraian diperlihatkan oleh frekuensi getar sebesar 40 Hz dan jarak letak pelat tempat biji kakao dari pemanas adalah 10 cm, dengan kadar air biji kakao sebesar 1,7-2%, dan lama waktu penyangraian 6 menit. Produk biji kakao yang dihasilkan dari proses penyangraian menggunakan alat vibro-fluidized roaster memiliki kandungan anti oksidan sebesar 32,297 %.
Penurunan Kadar Oksalat pada Talas Kimpul (Colocasia esculenta) dan Talas Ungu (Xanthosoma sagittifolium) dengan Metode Kombinasi Fisik dan Kimia Ismail Sulaiman; Yanti Meldasari Lubis; Zalniati Fonna Rozali; Santi Noviasari
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 38, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v38i1.6409

Abstract

Konsumsi talas dengan asam oksalat yang tinggi dapat merusak atau membahayakan kesehatan khususnya pada ginjal, yaitu akan terbentuknya batu ginjal. Talas di beberapa daerah dijadikan salah satu pengganti bahan pokok, bahkan talas terkenal dengan makanan yang rendah akan kandungan gulanya. Tujuan dari penelitian ini adalah memanfaatkan umbi talas sebagai bahan diversifikasi terutama pada makanan yang rendah kandungan gula sehingga dapat digunakan bagi penderita diabetes.  Pada penelitian ini dilakukan metode kombinasi fisik (perebusan dan pengukusan selama 20 menit) dan kimia (natrium bikarbonat 6%, asam asetat 20%, dan natrium klorida 10%) untuk menurunkan kadar oksalat pada varietas talas yaitu talas kimpul (Colocasia esculenta) dan talas ungu (Xanthosoma sagittifolium). Kadar oksalat talas kimpul terendah diperoleh dari perlakuan fisik perebusan dilanjutkan dengan perendaman asam asetat 20% yaitu sebanyak 16,889 mg/100 g talas dari kadar awal yaitu 42,35 mg/ 100 g talas. Sedangkan pada talas ungu, kadar oksalat terendah diperoleh dari perlakuan fisik perebusan dilanjutkan dengan perendaman natrium klorida 10% yaitu sebanyak 18,237 mg/100 g talas dari kadar awal 73,06 mg/ 100 g talas, sehingga dapat memenuhi ambang batas 71 mg/100gr berdasarkan hasil penelitian sebelumnya.
Aktivitas Antioksidan dan Mutu Sabun Transparan Ekstrak Umbi Bit (Beta vulgaris L.) Candra Efendi Hasibuan; Dewi Fortuna Ayu; Yelmira Zalfiatri
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 38, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v38i1.6550

Abstract

Umbi bit (Beta vulgaris L.) terbukti memiliki aktivitas antioksidan sehingga dapat digunakan dalam sediaan yang diaplikasikan pada kulit untuk menangkal radikal bebas.  Pemanfaatan ekstrak umbi bit diharapkan menghasilkan sabun transparan guna memberi pelindungan kulit dari radikal bebas. Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan ekstrak umbi bit terhadap aktivitas antioksidan dan kualitas sabun padat transparan.  Perlakuan yang diberikan adalah variasi penambahan ekstrak umbi bit, antara lain UP1 (0 ml), UP2 (2,5 ml), UP3 (5 ml), UP4 (7,5 ml), dan UP5 (10 ml) dalam formulasi sabun transparan.  Penambahan ekstrak umbi bit secara signifikan mempengaruhi aktivitas antioksidan, kadar air, asam lemak bebas, tingkat keasaman (pH), stabilitas busa, serta karakteristik sensori sabun transparan.  Perlakuan UP5 merupakan perlakuan terbaik dengan aktivitas antioksidan 95,58 ppm, kadar air 16,00%, asam lemak bebas 0,43%, pH 9,87, stabilitas busa 79,74%, dan uji eritema 0,05 (hampir tidak nampak).  Penilaian secara deskriptif terhadap sabun transparan menunjukan bahwa sabun berwarna cokelat, agak beraroma umbi bit, dan tekstur agak lembut.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Kappa Karagenan terhadap Karakteristik Fisik dan Kimia Gel Cincau Hijau (Cyclea barbata L. Miers) Windi Atmaka; Af’idatusholikhah Af’idatusholikhah; Sigit Prabawa; Bara Yudhistira
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 38, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v38i1.6093

Abstract

Tanaman cincau hijau rambat (Cyclea barbata L. Miers) sudah banyak dikenal masyarakat sebagai bahan pembentuk gel dalam pembuatan minuman segar.  Salah satu kelemahan cincau hijau rambat adalah mudah mengalami sineresis.  Penambahan hidrokoloid diharapkan mampu menurunkan nilai sineresis sehingga gel cincau hijau rambat lebih tahan lama. Kappa karagenan merupakan jenis hidrokoloid yang diekstrak dari jenis rumput laut Kappaphycus alverizii yang mampu memberikan peningkatan viskositas dan pembentukan gel.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan kappa karagenan terhadap karakteristik fisik dan kimia gel cincau hijau rambat. Pembuatan gel cincau hijau rambat dilakukan dengan menambahkan berbagai konsentrasi kappa karagenan (0,0%; 0,3%; 0,4%; 0,5%; dan 0,6%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor perlakuan. Data yang diperoleh dianalisis dengan One Way ANOVA, dan jika berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf signifikansi α = 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi kappa karagenan yang ditambahkan maka nilai tekstur, kadar air, kadar abu, pH, serat kasar, dan aktivitas antioksidan meningkat. Sedangkan pada parameter sineresis dan rendemen mengalami penurunan.
Aktivitas Antioksidan dan Komponen Bioaktif Hidrolisat Protein Jeroan Ikan Kakap Putih (Lates calcalifer) Nurjanah Nurjanah; Tati Nurhayati; Asti Latifah; Taufik Hidayat
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 38, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v38i1.6444

Abstract

Jeroan ikan kakap putih (Lates calcalifer) merupakan limbah padat dari industri pengolahan ikan yang belum dimanfaatkan secara optimal sehingga sangat berpotensi untuk dijadikan produk hidrolisat protein. Penelitian ini bertujuan  untuk menentukan senyawa antioksidan dan komponen bioaktif dari hidrolisat protein jeroan ikan kakap putih. Metode yang digunakan adalah optimasi konsentrasi enzim, waktu hidrolisis, dan pH; analisis proksimat, asam amino, aktivitas antioksidan, dan uji komponen bioaktif. Kondisi aktivitas antioksidan tertinggi hidrolisat protein jeroan kakap putih yaitu pada konsentrasi enzim 0,1%, waktu hidrolisis 4 jam, dan pH 7. Produk yang dihasilkan mengandung kadar air (6,83%), abu (5,18%), protein (80,88%), lemak (0,78%), dan karbohidrat (13,15%). Produk ini terdiri dari 15 macam asam amino, yaitu 8 asam amino esensial dan 7 asam amino non esensial. Asam glutamat merupakan asam amino dengan kadar tertinggi (8,71%), sedangkan asam amino dengan kadar terendah adalah histidina (1,38%). Produk ini menunjukkan aktivitas antioksidannya dengan nilai IC50 sebesar 1.048,40 ppm, dan mengandung 5 dari 9 komponen bioaktif, yaitu flavonoid, karbohidrat, gula pereduksi, peptida, dan asam amino bebas.
Optimasi Sintesis dan Aplikasi Adsorben dari Limbah Ekstraksi Biosilika Sekam Padi Eka Rahayu; Prima Luna; Sri Usmiati; Sunarmani Sunarmani
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 38, No 1 (2021)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v38i1.6408

Abstract

Limbah proses biosilika sekam padi memiliki potensi sebagai salah satu alternatif di industri adsorben dikarenakan jumlah yang banyak dan mudah didapat. Hampir 90% dari limbah proses biosilika ini adalah mineral Silikon Dioksida (SiO2). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakteristik adsorben dari ampas proses ekstraksi nanobiosilika serbuk dan aplikasinya sebagai bahan penjernihan air limbah. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kalsinasi dan impregnasi. Variabel pada proses optimasi adalah  temperatur  600°C; 700°C; dan 800°C dan waktu proses, sedangkan pada metode impregnasi ampas sisa ekstraksi biosilika diaktivasi menggunakan katalis  ZnCl2, H3PO4, dan KOH pada rasio 1:1 dan 1:2 (w/v). Optimasi sintesis adsorben dari limbah ekstraksi biosilika menghasilkan produk terbaik yang digunakan sebagai penjernih air permukaan yang tercemar. Hasil penelitian ini menunjukkan sintesis adsorben melalui proses impregnasi menghasilkan luas permukaan dan daya serap iodin paling tinggi yaitu 24,32 mg/g dan 1281,65 m2/g dengan menggunakan zat pengaktivasi H3PO4. Karakteristik adsorben telah memenuhi persyaratan SNI karbon aktif. Hasil uji aplikasi penjernihan air permukaan tercemar menunjukkan bahwa adsorben pada penelitian ini menurunkan pH air permukaan tercemar hingga 7,62 dimana hal ini sebanding dengan adsorben komersial.

Filter by Year

1984 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2023) Vol 39, No 2 (2022) Vol 39, No 1 (2022) Vol 38, No 2 (2021) Vol 38, No 1 (2021) Vol 37, No 2 (2020) Vol 37, No 1 (2020) Vol 36, No 2 (2019) Vol 36, No 1 (2019) Vol 35, No 2 (2018) Vol 35, No 1 (2018) Vol 34, No 2 (2017) Vol 34, No 1 (2017) Vol 34, No 1 (2017) Vol 33, No 02 (2016) Vol 33, No 02 (2016) Vol 33, No 01 (2016) Vol 33, No 01 (2016) Vol 33, No 1 (2016) Vol 32, No 02 (2015) Vol 32, No 02 (2015) Vol 32, No 01 (2015) Vol 32, No 01 (2015) Vol 31, No 02 (2014) Vol 31, No 02 (2014) Vol 31, No 01 (2014) Vol 31, No 01 (2014) Vol 31, No 2 (2014) Vol 30, No 02 (2013) Vol 30, No 02 (2013) Vol 30, No 01 (2013) Vol 30, No 01 (2013) Vol 29, No 02 (2012) Vol 29, No 02 (2012) Vol 29, No 01 (2012) Vol 29, No 01 (2012) Vol 28, No 02 (2011) Vol 28, No 02 (2011) Vol 28, No 01 (2011) Vol 28, No 01 (2011) Vol 27, No 02 (2010) Vol 27, No 02 (2010) Vol 27, No 01 (2010) Vol 27, No 01 (2010) Vol 26, No 02 (2009) Vol 26, No 02 (2009) Vol 26, No 01 (2009) Vol 26, No 01 (2009) Vol 25, No 02 (2008) Vol 25, No 02 (2008) Vol 25, No 01 (2008) Vol 25, No 01 (2008) Vol 24, No 02 (2007) Vol 24, No 02 (2007) Vol 24, No 01 (2007) Vol 24, No 01 (2007) Vol 23, No 02 (2006) Vol 23, No 01 (2006) Vol 23, No 01 (2006) Vol 22, No 02 (2005) Vol 22, No 02 (2005) Vol 22, No 01 (2005) Vol 22, No 01 (2005) Vol 21, No 02 (2004) Vol 21, No 02 (2004) Vol 21, No 01 (2004) Vol 21, No 01 (2004) Vol 20, No 1-2 (2003) Vol 20, No 1-2 (2003) Vol 19, No 1-2 (2002) Vol 19, No 1-2 (2002) Vol 18, No 1-2 (2001) Vol 18, No 1-2 (2001) Vol 17, No 1-2 (2000) Vol 17, No 1-2 (2000) Vol 16, No 1-2 (1999) Vol 16, No 1-2 (1999) Vol 15, No 1-2 (1998) Vol 15, No 1-2 (1998) Vol 14, No 1-2 (1997) Vol 14, No 1-2 (1997) Vol 13, No 1-2 (1996) Vol 13, No 1-2 (1996) Vol 12, No 1-2 (1995) Vol 12, No 1-2 (1995) Vol 11, No 1-2 (1994) Vol 11, No 1-2 (1994) Vol 10, No 1-2 (1993) Vol 10, No 1-2 (1993) Vol 9, No 1-2 (1992) Vol 9, No 1-2 (1992) Vol 8, No 02 (1991) Vol 8, No 02 (1991) Vol 8, No 01 (1991) Vol 8, No 01 (1991) Vol 7, No 02 (1990) Vol 7, No 02 (1990) Vol 7, No 01 (1990) Vol 7, No 01 (1990) Vol 6, No 02 (1989) Vol 6, No 02 (1989) Vol 6, No 01 (1989) Vol 6, No 01 (1989) Vol 5, No 02 (1988) Vol 5, No 02 (1988) Vol 5, No 01 (1988) Vol 5, No 01 (1988) Vol 4, No 02 (1987) Vol 4, No 02 (1987) Vol 4, No 01 (1987) Vol 4, No 01 (1987) Vol 3, No 02 (1986) Vol 3, No 02 (1986) Vol 3, No 01 (1986) Vol 3, No 01 (1986) Vol 2, No 02 (1985) Vol 2, No 02 (1985) Vol 2, No 01 (1985) Vol 2, No 01 (1985) Vol 1, No 02 (1984) Vol 1, No 02 (1984) Vol 1, No 1 (1984) Vol 1, No 1 (1984) More Issue