cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Warta IHP (Warta Industri Hasil Pertanian)
Published by Politeknik AKA Bogor
ISSN : 02151243     EISSN : 26544075     DOI : -
Warta IHP (Industri Hasil Pertanian) is a Scientific Journal which is sourced from research papers, new theoretical/interpretive findings, and critical studies or reviews (by invitation) in the agro-based industry scope that cover any discipline such as: food science and technology, agricultural industry technology, chemistry and essential oils, agricultural products processing machinery, food microbiology, renewable energy, chemical analysis, and food engineering.
Arjuna Subject : -
Articles 804 Documents
Daya Terima dan Kandungan Gizi Millet Crispy dengan Memanfaatkan Tepung Millet sebagai Alternatif Snack Sumber Serat Evajune Widiyawati; Nani Ratnaningsih; Badraningsih Lastariwati
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5907

Abstract

Serat merupakan salah satu jenis karbohidrat yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan. Bahan makanan yang mengandung serat tinggi antara lain serealia seperti jewawut atau millet, namun di Indonesia pemanfaatan millet pada produk camilan masih terbatas. Sebagai jenis serealia, millet dapat dimanfaatkan menjadi produk camilan seperti millet crispy. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesukaan produk millet crispy dan kandungan gizinya dengan uji laboratorium (proksimat dan uji kandungan serat pangan). Jenis penelitian yang dilakukan adalah R&D (Research and Development) dengan desain 4D (Define, Design, Development dan Disseminate). Uji kesukaan dilakukan oleh 50 panelis dari masyarakat umum dengan menggunakan borang uji kesukaan. Analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil uji kesukaan menunjukkan secara keseluruhan tingkat kesukaan millet crispy mempunyai rata-rata 3,30 atau disukai. Hasil dari uji laboratorium menunjukkan bahwa kandungan gizi millet crispy terdiri dari protein sebesar 12,39gram, lemak sebesar 13,95gram, karbohidrat sebesar 52,68gram, dan energi sebesar 381,95kkal per 100 gram produk. Millet crispy dapat dikatakan sebagai snack sumber serat karena kandungan seratnya 19,05gram per 100 gram produk. Oleh karena itu, millet crispy dapat direkomendasikan sebagai snack sumber serat bagi masyarakat Indonesia.
Komposisi Proksimat, Kandungan Kalsium dan Karakteristik Organoleptik Snack Bar Pisang Raja dan Kacang Kedelai Sebagai Alternatif Makanan Selingan Balita Rohmatul Ummah; Enny Probosari; Gemala Anjani; Diana Nur Afifah
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.6159

Abstract

ABSTRAK: Asupan gizi makro dan mikro yang tidak terpenuhi dapat meningkatkan risiko terjadinya stunting balita. Makanan selingan perlu diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi balita. Pisang raja dan kacang kedelai mengandung tinggi protein dan kalsium sehingga pembuatan snack bar pisang raja dan kacang kedelai diharapkan menjadi makanan selingan balita dengan kandungan gizi dan karakteristik organoleptik  yang baik. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental rancangan acak lengkap satu faktor dengan perbandingan variasi pisang raja dan kacang kedelai F1(9:1), F2(4:1) dan F3 (7:3). Analisis statistik komposisi proksimat, kandungan kalsium dan karakteristik organoleptik  berdistribusi normal diuji dengan One Way ANOVA serta uji lanjut Duncan dan apabila berdistribusi tidak normal diuji dengan Kruskall-Wallis serta uji lanjut Mann-Whitney. Formula terbaik menggunakan metode De Garmo. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat pengaruh formulasi pisang raja dan kacang kedelai terhadap kandungan protein, lemak, karbohidrat, air, abu, serat pangan, dan kalsium (p<0,05). Karakteristik organoleptik pada parameter rasa (p=0.028) dan tekstur (p=0.017) juga menunjukan ada perbedaan yang signifikan. Formula snack bar terbaik yang dapat memenuhi kebutuhan makanan selingan pada balita adalah snack bar F2 dengan kandungan lemak 4 g, karbohidrat 18,08 g, serat pangan 3,27 g dan kalsium 617 mg.Kata kunci: kacang kedelai, organoleptik, pisang raja, snack bar, zat giziABSTRACT: Inadequate macro and micronutrients  intake can increase the risk of toddler stunting. A snack needs to be provided to help meet the nutritional needs of toddlers. Banana and soybeans contain high protein and calcium, so that the manufacture of snack bar banana and soybeans is expected to be a snack bar for toddlers with good nutritional content and organoleptic properties. This study was one-factor completely randomized experimental study with ratio banana and soybeans snackbars F1 (9:1), F2 (4:1) and F3 (7:3). Statistic analysis for proximate composition, calcium content and organoleptic properties with normal distribution was tested using one way anova test followed by duncan’s posthoc test and if abnormal distribution was tested using the kruskal wallis test followed by mann-whitney’s posthoc test. The best formulation using De Garmo method. The results showed that there was an influence of the formulation of banana and soybean on the content of proximate and calcium (p<0,05). Organoleptic properties in the parameter of taste (p=0.028) dan texture (p=0.017) showed a significant difference. F2 is the best snack bar formula which contains fat 4 g, carbohydrate 18,08 g, fiber 3,27 g, calcium 617 mg and can meet the nutritional needs of snack foods in toddler.Keywords:  soybeans, organoleptic, banana, snack bar, nutrient
Pembuatan Cokelat Dark dan Cokelat White Berbahan Cocoa Butter Substitute Hasrul Abdi Hasibuan; Enti Lestari; Nia Novita Lubis
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5389

Abstract

Cocoa butter substitute (CBS) merupakan pengganti lemak kakao. Penelitian ini dilakukan untuk memformulasi cokelat dark dan cokelat white berbahan CBS. Formulasi cokelat dark dilakukan dengan memvariasikan CBS (25, 30, 35, 40%), gula (39,8; 44,8; 49,8; 54,8%) dan kakao bubuk (10, 20, 30, 40%). Formulasi cokelat white dilakukan dengan memvariasikan CBS (25, 30, 35, 40%), gula (29,8; 34,8; 39,8; 44,8%) dan susu (20, 25, 30, 35%). Cokelat dianalisa kadar air, kadar lemak, titik leleh, komposisi asam lemak, kandungan lemak padat dan uji organoleptik. Kadar air dan titik leleh lemak tidak berbeda nyata pada setiap formula cokelat dark, hal yang sama pada cokelat white. Kadar lemak pada cokelat meningkat seiring peningkatan jumlah CBS dan susu. Semakin banyak CBS meningkatkan asam laurat dan miristat sedangkan asam palmitat, stearat dan oleat menurun. Perbedaan komposisi asam lemak menyebabkan kandungan lemak padat juga berbeda. Formula terbaik pembuatan cokelat dark adalah CBS 40 %, gula 29,8 %, dan kakao bubuk 30 %, sedangkan cokelat white adalah CBS 35%, gula 34,8 %, dan susu 30%. Pada formula-formula tersebut, cokelat disukai oleh panelis.
Karakterisasi Nasi Instan yang Diproduksi dengan Metode Freeze Drying Imia Ribka Banurea; Kirana S Sasmitaloka; Ermi Sukasih; Sri Widowati
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.5998

Abstract

ABSTRAK: Nasi instan merupakan olahan beras yang telah dimasak kemudian dikeringkan agar bisa disimpan dalam waktu lebih lama, tetapi dapat disajikan dalam waktu yang lebih cepat. Tahapan proses pengolahan nasi instan meliputi pencucian dan perendaman, pemasakan hingga diperoleh nasi, pembekuan dan pengeringan. Pengeringan merupakan salah satu tahapan penting untuk menghilangkan kandungan air di dalam nasi sehingga menjadi produk kering. Penelitian pengolahan nasi instan yang telah banyak dilakukan adalah dengan menggunakan pengering konvensional. Untuk meningkatkan kualitas, maka pada penelitian ini digunakan metode pengeringan beku (freeze drying). Pengolahan nasi instan dengan metode pengeringan beku (freeze drying) dapat menghasilkan karakteristik nasi instan yang lebih baik dibandingkan dengan metode pengeringan konvensional, ditunjukkan dengan nilai densitas kamba dan waktu rehidrasi yang lebih kecil, rasio rehidrasi yang lebih tinggi, kadar air, abu, lemak dan protein yang lebih rendah, serta karbohidrat yang lebih tinggi.Kata kunci: densitas kamba, freeze drying, karakteristik, nasi instan, waktu rehidrasiABSTRACT: Instant rice is processed rice that has been cooked and then dried so that it can be stored for a longer time, but can be served in a shorter time. The stages of the instant rice processing include washing and soaking, cooking until the rice is obtained, freezing and drying. Drying is one of the important steps to remove water content in rice so that it becomes a dry product. The research of instant rice processing that has been done a lot is by using conventional dryers. To improve quality, this research uses freeze drying method. The processing of instant rice using the freeze drying method can produce instan rice better than conventional drying methods, indicated by the value of density and rehydration time is lower, higher rehydration ratio, lower moisture, ash, fat and protein content, higher carbohydrates.Keywords:  density, freeze drying, characteristics, instant rice, rehydration time
Uji Metode Pengkelasan Tingkat Kematangan Buah Mangga Berdasar Posisi Buah di dalam Air Harianto Harianto; Dian Anggraini; Astuti Astuti; Himawan Adinegoro
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5295

Abstract

Pada praktek operasi pasca panen buah mangga, tingkat kematangan tidak sepenuhnya seragam, meskipun buah dipanen pada umur yang relatif sama. Uji ini dalam rangka mencari metoda grading yang praktis atau sederhana dengan melihat fenomena bahwa buah hasil panen bila dimasukkan ke dalam air maka ada yang tenggelam, melayang dan mengapung. Tujuan uji ini untuk mengetahui hubungan antara posisi buah di dalam air (tenggelam, melayang, mengapung) dengan parameter yang terkait dengan tingkat kematangan buah mangga. Pengukuran dilakukan pada buah mangga Arumanis. Metode uji menggunakan rancangan acak lengkap, dengan variasi perlakuan mangga yang tenggelam, melayang dan mengapung. Masing-masing kelompok mangga tersebut diamati dua hari sekali selama penyimpanan pada suhu ruang hingga hari ke-15. Parameter yang diukur adalah kekerasan, brix, tingkat respirasi, dan parameter kualitatif atau pengamatan terhadap penampakan luar dan warna daging buah. Hasil pengukuran parameter kekerasan buah, brix dan tingkat respirasi menunjukkan bahwa posisi kelompok buah di dalam air yakni tenggelam, melayang maupun mengapung tidak menunjukkan tingkat kematangan yang berbeda nyata.  Akan tetapi hasil pengamatan (visual) terhadap penampakan luar (kulit) dan penampakan warna daging buah terlihat kelompok mangga tenggelam lebih cepat matang dibanding mangga yang melayang maupun yang mengapung.
Aktivitas Penurunan Kadar Glukosa pada Tikus yang Diinduksi Aloksan dari Ekstrak Air Angkak, Bekatul, dan Kombinasinya Hasim Hasim; Didah Nur Faridah; Mega Safithri; Husnawati Husnawati; Agus Setiyono; Hanif Alamudin Manshur
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.5460

Abstract

ABSTRAK: Angkak dan bekatul mengandung komponen bioaktif sebagai antihiperglikemik. Namun penelitian mengenai aktivitas antihiperglikemik angkak dan bekatul secara in vivo belum tersedia. Tujuan penelitian ini adalah menguji efektivitas pemberian ekstrak air angkak, ekstrak air bekatul serta kombinasinya dalam proses penurunan jumlah glukosa dalam darah tikus (Rattus norvegicus) strain Sprague Dawley yang diinduksi aloksan. Penelitian dilakukan dengan melakukan preparasi sampel yaitu ekstraksi air angkak dan bekatul, pengkondisian hewan uji yaitu tikus (Rattus norvegicus) strain Sprague Dawley dengan induksi aloksan, pembagian tikus menjadi sembilan kelompok. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar glukosa darah tikus paling rendah adalah pada tikus kelompok V (angkak 2) dengan pemberian ekstrak air angkak 100 mg/Kg bb, dengan penurunan 61,43% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok III, tikus yang diberi obat glibenklamid yang  turun sebesar 40,88%. Pada kelompok V, kadar glukosa darah pada hari ke-3 sebesar 256,67±174,77 mg/dL dan turun pada hari ke-12 hingga mencapai glukosa darah normal sebesar 99,00±9,64 mg/dL. Penurunan kadar glukosa darah tikus baik kelompok pemberian ekstrak bekatul maupun dengan kombinasi ekstrak air angkak dan ekstrak air bekatul tidak menunjukkan penurunan kadar glukosa darah yang signifikan.Kata kunci: aloksan, angkak, bekatul, glukosa darahABSTRACT: Bioactive compounds in red yeast rice (traditionally known as angkak) and rice bran are scientifically evidenced to exert antihyperglycemic properties. Nevertheless, in vivo studies on antihyperglycemic activity of red yeast rice and rice bran have not  been reported. This current work aimed to evaluate glucose-lowering effects on alloxan-induced rats (Rattus norvegicus) strain Sprague Dawley treated with water extract of angkak, rice bran and combination of both extracts. The research was first carried out by extraction of RYR and RB, acclimatization of rats induced by alloxan, then separating them into 9 groups. The results showed that the lowest decrease in blood glucose, i.e. 61,43%, was attributed to group 5, namely rats administered with water extract of angkak (100 mg/Kg bw), being much higher compared to group 3 (rats treated with glibenclamide) reaching up to 40,88%. In terms of group 5, the level of blood glucose exhibited a gradual attenuation, from 256,67±174,77 mg/dL on day-3 to 99,00±9,64 mg/dL on day-12, which is a normal blood glucose concentration. It is noteworthy that administration of rice bran extract and combined treatment showed no significant effects on reduction of blood glucose.Keywords:  alloxan, blood glucose, red yeast rice, rice bran, antihyperglycemic
Potensi Biji Kedawung (Parkia timoriana (DC.) Merr) sebagai Bahan Pangan Fungsional Anik Nur Hidayati; Nuri Andarwulan; Ervizal A. M. Zuhud
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.6113

Abstract

ABSTRAK: Kedawung (Parkia timoriana (DC.) Merr.) merupakan salah satu jenis tanaman obat yang sudah lama dimanfaatkan secara tradisional. Kedawung termasuk tanaman dengan potensi ekonomi tinggi namun tergolong langka karena hanya ditemukan di sebagian kecil wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis profil proksimat, profil fitokimia, profil asam lemak dan profil trigliserida biji kedawung. Bahan utama yang digunakan dalam penelitian adalah daging biji kedawung. Adapun metode yang digunakan yaitu ektraksi biji kedawung, analisis proksimat, analisis fitokimia, analisis profil asam lemak, dan analisis profil trigliserida. Kandungan fitokimia yang terdapat pada biji kedawung yaitu saponin. Sementara komposisi proksimat biji kedawung meliputi kadar air (2,33 %), kadar protein (28,68 %), kadar abu (3,27 %), kadar karbohidrat (44,49%), dan kadar lemak (21,23%). Kandungan asam lemak pada biji kedawung didominasi oleh asam palmitat (34,74 ± 1,51), asam oleat (22,72 ± 0,37), dan asam linoleat (9,130 ± 0.104). Selanjutnya, komposisi trigliserida biji kedawung yaitu UUU (triunsaturated) (2,82%), SUU (saturated-unsaturated-unsaturated) (17,57%), SUS (saturated-unsaturated-saturated) (37,33%), SSS (trisaturated) (32,22%), dan unknown trigliserida (7,56%). Berdasarkan kandungan fitokimianya biji kedawung berpotensi dijadikan sebagai bahan pangan yang aman bagi manusia serta sebagai penghasil minyak/lemak pangan.Kata kunci: bahan pangan, kedawung, lemak, pangan potensial , Parkia timoriana (D.C.) Merr.ABSTRACT: Kedawung (Parkia timoriana (DC.) Merr.) is one of the medicinal plant that has long been traditionally used. Kedawung is classified as plants with high economic potential but rare because it is only found in few regions in Indonesia. This study aimed to analyze the proximate, phytochemicals, fatty acids, and triglycerides profile of kedawung. The main ingredient used in this study were kedawung seeds. The method used was extraction of kedawung seeds, proximate analysis, phytochemical analysis, fatty acid profile analysis, and triglyceride profile analysis. The content of phytochemicals found in kedawung seeds was saponin. The proximate composition of kedawung  included water content (2.33%), protein content (28.68%), ash content (3.27%), carbohydrate content (44.49%), and fat content (21.23%). The content of fatty acids were dominated by palmitic acid (34.74± 1,51), oleic acid (22.72±0.37), and linoleic acid (9.13± 0.10). Furthermore, the composition of triglycerides were UUU (triunsaturated) (2.82%), SUU (saturated-unsaturated-unsaturated) (17.57%), SUS (saturated-unsaturated-unsaturated) (37.33%), SSS (trisaturated) (32.22%), and unknown triglycerides (7.56%). Based on phytochemical compound, kedawung seeds could be used as food ingredients that is safe for humans and also as source of food oils/fat.Keywords:  food ingredients, fat, kedawung, potential foods, Parkia timoriana (DC.) Merr.
Identifikasi dan Fraksinasi Karotenoid pada Minyak Buah Merah (Pandanus conoideus) Erka Fitria; Nur Wulandari; Purwiyatno Hariyadi; Hendra Wijaya
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5686

Abstract

Karotenoid adalah golongan pigmen dengan struktur isoprenoid yang memiliki berbagai manfaat bagi kesehatan. Buah merah (Pandanus conoideus) merupakan sumber karotenoid yang potensial karena memiliki kadar karotenoid yang tinggi. Buah merah menyebar luas di daerah Papua dan Papua Nugini dan banyak digunakan sebagai makanan dan bahan masakan. Beberapa jenis karotenoid telah berhasil diidentifikasi namun dalam jumlah yang relatif sedikit, antara lain α-karoten, β-karoten, α-kriptoxanthin, dan β-kriptoxanthin. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan mengidentifikasi karotenoid yang ada pada minyak buah merah selain α-karoten, β-karoten, α-kriptoxanthin, dan β-kriptoxantin. Dari penelitian ini, enam jenis karotenoid berhasil teridentifikasi dari ekstrak total karotenoid seperti (3S, 5R, 6R)-3,5-dihidroksi-6,7-didehidro-5,6-dihidro-12'-apo-β-karoten-12'-al, 10'-apo-beta-karotenal, (3S, 3'S, 5R, 5'R, 8'R, 9'cis)-3'-metil-6,7-didehidro-5,5',6,8'–tetrahidro–5',8'-epoksi-β,β-karotene-3,5-diol, phytoene, 3-hidroksi–3'-okso-β,ε-karoten, dan violaxanthin. Selain itu, terdapat dua fraksi terpilih dari hasil fraksinasi dengan Flash Column Chromatography untuk diidentifikasi lebih lanjut. Dari fraksi tersebut teridentifikasi lima jenis karotenoid pada fraksi kedua, termasuk dua di antaranya yaitu capsantin dan kriptoxantin yang belum teridentifikasi sebelumnya pada ekstrak total karotenoid. Diprediksi terdapat α-karoten dan β-karoten pada fraksi pertama apabila dilihat dari persamaan waktu retensinya dengan standar.
Sensitivitas Ekstrak Protein Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) sebagai Larutan Uji Tusuk Kulit Sri Yadial Chalid; Fransiska R. Zakaria; Dahrul Syah; Puspo Edi Giriwono
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 2 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i2.6195

Abstract

ABSTRAK: Kacang tanah merupakan jenis kacang-kacangan penyebab utama alergi makanan baik pada anak-anak atapun orang dewasa dan kasus alergi kacang tanah tiap tahun terus meningkat. Tidak mengkonsumsi semua makanan pencetus alergi merupakan cara terbaik untuk pengobatan alergi. Tidak mengkonsumsi makanan tertentu harus berdasarkan uji alergi seperti Uji Tusuk Kulit (UTK). Larutan untuk UTK adalah ekstrak protein dalam bentuk larutan. Penelitian ini bertujuan menggunakan ekstrak protein kacang tanah yang dibudidayakan di Indonesia sebagai larutan untuk UTK, menentukan sensitivitas dan spesifitas ekstrak protein kacang tanah. Protein kacang tanah diekstrak pada titik isoelektrik, dikarakterisasi dengan SDS-PAGE dan immunoblotting. Formulasi larutan UTK mengacu pada European Pharmacopoeia Monograph on Allergen Products 7 (2010:1063). Sebanyak sepuluh orang yang menyatakan diri alergi makanan dan sembilan orang tidak alergi dijadikan subjek lalu dikonfirmasi dengan cara mencukitkan ekstrak protein kacang tanah pada kulit tangan bagian bawah. Serum subjek dikumpulkan untuk pengujian IgE total, IgE spesifik, immunoblotting, sensitivitas dan spesifitas ekstrak. Sensitivitas ekstrak protein kacang tanah didapatkan sebesar 90,9% dengan kesalahan negatif sebesar 9,1% dan spesifitas sebesar 100%.  Larutan UTK mengandung protein alergen dengan kisaran berat molekul 10 sampai 49 kDa. Ekstrak protein kacang tanah yang dibudidayakan di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi larutan untuk uji tusuk kulit.Kata kunci: alergi, immunoblotting, kacang tanah, sensitivitasABSTRACT: Peanuts are the main cause of allergies in children and adults. Annually, people with peanut allergies continues to rise. The best way to prevent allergies is avoiding foods that cause allergies, not consuming certain foods should be enforced based on allergy testing such as SPT (skin prick test). The solution for the skin prick test is a protein extract in solution form. The study aims to use the peanut protein extract cultivated in Indonesia as a solution for skin prick testing, to determine the sensitivity and specificity of the peanut protein extract. The peanut protein was extracted at the isoelectric point, characterized by SDS-PAGE and immunoblotting. The formulation of SPT reagent refers to the European Pharmacopoeia Monograph on Allergen Products 7 (2010: 1063). Ten people who stated that they were allergic to food and nine people who were not allergic were subjected to it and confirmed by pinching the peanut protein extract on the skin of the lower hand. Serum of the subjects was collected for test of total IgE, specific IgE, and immunoblotting, sensitivity and specificity of reagent for SPT. The sensitivity of peanut protein extract in this study was 90.9% with a negative error of 9.1% and specificity of 100%. SPT results showed that all subjects who tested positive and immunoblotting test is also positive that bind peanut protein with a molecular weight 10-49 kDa. The peanut protein extract cultivated in Indonesia has the potential to be developed into a solution for skin prick testing.Keywords:  allergies, immunoblotting, peanuts, sensitivity
Sifat Fisik dan Organoleptik Puree Buah Merah (Pandanus conoideus Lamk) Dela Vikantika Ponglabba; Zita Letviany Sarungallo; Budi Santoso
Warta Industri Hasil Pertanian Vol 37, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Industri Agro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32765/wartaihp.v37i1.5216

Abstract

Bubur daging buah merah (Pandanus conoideus Lamk) diperoleh tanpa didahului proses ekstraksi minyak dan ditambahkan pengemulsi, penstabil dan bahan lainnya seperti garam, gula dan asam sitrat. Bubur daging buah merah merupakan bahan baku yang dapat digunakan untuk pembuatan selai, dodol dan kue.  Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sifat fisik dan organoleptik beberapa formula bubur daging buah merah.  Bubur daging buah merah dibuat dengan perlakuan jenis pengemulsi dan penstabil yaitu F0 (kontrol), F1 (Tween 80 2% dan CMC 1%), F2 (gelatin 2%), dan F3 (Tween 80 0,5% dan gelatin 1%). Sifat fisik dari keempat formulasi bubur daging buah merah adalah berwarna merah hingga merah oranye, beraroma khas buah merah, pH 6,64, viskositas  108-150 dPa.s, total padatan terlarut 8,4 - 8,5 oBrix, dengan kestabilan emulsi 2 sampai 7 hari. Berdasarkan hasil pengujian organoleptik, formula bubur daging  buah merah yang paling disukai panelis adalah F3 dengan komposisi daging buah merah 95,1%, Tween 80 0,5%, gelatin 1%, garam 0,3%, gula 3% dan asam sitrat 0,1%, dengan tingkat penerimaan warna dengan skor 5,8 (agak suka sampai suka), aroma 4,9 (netral sampai agak suka), rasa 5,0 (agak suka), dan tampilan produk secara keseluruhan 5,0 (agak suka).

Filter by Year

1984 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 40, No 1 (2023) Vol 39, No 2 (2022) Vol 39, No 1 (2022) Vol 38, No 2 (2021) Vol 38, No 1 (2021) Vol 37, No 2 (2020) Vol 37, No 1 (2020) Vol 36, No 2 (2019) Vol 36, No 1 (2019) Vol 35, No 2 (2018) Vol 35, No 1 (2018) Vol 34, No 2 (2017) Vol 34, No 1 (2017) Vol 34, No 1 (2017) Vol 33, No 02 (2016) Vol 33, No 02 (2016) Vol 33, No 01 (2016) Vol 33, No 01 (2016) Vol 33, No 1 (2016) Vol 32, No 02 (2015) Vol 32, No 02 (2015) Vol 32, No 01 (2015) Vol 32, No 01 (2015) Vol 31, No 02 (2014) Vol 31, No 02 (2014) Vol 31, No 01 (2014) Vol 31, No 01 (2014) Vol 31, No 2 (2014) Vol 30, No 02 (2013) Vol 30, No 02 (2013) Vol 30, No 01 (2013) Vol 30, No 01 (2013) Vol 29, No 02 (2012) Vol 29, No 02 (2012) Vol 29, No 01 (2012) Vol 29, No 01 (2012) Vol 28, No 02 (2011) Vol 28, No 02 (2011) Vol 28, No 01 (2011) Vol 28, No 01 (2011) Vol 27, No 02 (2010) Vol 27, No 02 (2010) Vol 27, No 01 (2010) Vol 27, No 01 (2010) Vol 26, No 02 (2009) Vol 26, No 02 (2009) Vol 26, No 01 (2009) Vol 26, No 01 (2009) Vol 25, No 02 (2008) Vol 25, No 02 (2008) Vol 25, No 01 (2008) Vol 25, No 01 (2008) Vol 24, No 02 (2007) Vol 24, No 02 (2007) Vol 24, No 01 (2007) Vol 24, No 01 (2007) Vol 23, No 02 (2006) Vol 23, No 01 (2006) Vol 23, No 01 (2006) Vol 22, No 02 (2005) Vol 22, No 02 (2005) Vol 22, No 01 (2005) Vol 22, No 01 (2005) Vol 21, No 02 (2004) Vol 21, No 02 (2004) Vol 21, No 01 (2004) Vol 21, No 01 (2004) Vol 20, No 1-2 (2003) Vol 20, No 1-2 (2003) Vol 19, No 1-2 (2002) Vol 19, No 1-2 (2002) Vol 18, No 1-2 (2001) Vol 18, No 1-2 (2001) Vol 17, No 1-2 (2000) Vol 17, No 1-2 (2000) Vol 16, No 1-2 (1999) Vol 16, No 1-2 (1999) Vol 15, No 1-2 (1998) Vol 15, No 1-2 (1998) Vol 14, No 1-2 (1997) Vol 14, No 1-2 (1997) Vol 13, No 1-2 (1996) Vol 13, No 1-2 (1996) Vol 12, No 1-2 (1995) Vol 12, No 1-2 (1995) Vol 11, No 1-2 (1994) Vol 11, No 1-2 (1994) Vol 10, No 1-2 (1993) Vol 10, No 1-2 (1993) Vol 9, No 1-2 (1992) Vol 9, No 1-2 (1992) Vol 8, No 02 (1991) Vol 8, No 02 (1991) Vol 8, No 01 (1991) Vol 8, No 01 (1991) Vol 7, No 02 (1990) Vol 7, No 02 (1990) Vol 7, No 01 (1990) Vol 7, No 01 (1990) Vol 6, No 02 (1989) Vol 6, No 02 (1989) Vol 6, No 01 (1989) Vol 6, No 01 (1989) Vol 5, No 02 (1988) Vol 5, No 02 (1988) Vol 5, No 01 (1988) Vol 5, No 01 (1988) Vol 4, No 02 (1987) Vol 4, No 02 (1987) Vol 4, No 01 (1987) Vol 4, No 01 (1987) Vol 3, No 02 (1986) Vol 3, No 02 (1986) Vol 3, No 01 (1986) Vol 3, No 01 (1986) Vol 2, No 02 (1985) Vol 2, No 02 (1985) Vol 2, No 01 (1985) Vol 2, No 01 (1985) Vol 1, No 02 (1984) Vol 1, No 02 (1984) Vol 1, No 1 (1984) Vol 1, No 1 (1984) More Issue