cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Articles 60 Documents
PEMODELAN HARGA DAN PRODUKSI UBI KAYU MENGGUNAKAN MODEL VEKTOR AUTOREGRESSIVE (VAR) Oktiani, Devi
JURNAL TEKNOLOGI AGROINDUSTRI Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.501 KB)

Abstract

Salah satu permasalahan industri tapioka adalah kekurangan pasokan bahan baku. Hal ini merupakan salah satu penyebab harga tapioka Indonesia sulit bersaing dengan tapioka dari negara lain. Makalah ini memberikan gambaran tentang kecenderungan harga ubi kayu. Pemodelan seacara regresi linear menggunakan Vector Autoregressive (VAR) model digunakan untuk menggambarkan harga ubi kayu sebagai fungsi dari jumlah pasokan ubi kayu. Model yang didapatkan berupa VAR model pada first difference.  
IMMOBILISASI BAKTERI PADA KITOSAN-ALGINAT DAN KITIN-ALGINAT Oktarina, Eva; Adrianto, Rizki; Setiawati, Ira
JURNAL TEKNOLOGI AGROINDUSTRI Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.672 KB)

Abstract

Imobilisasi bakteri merupakan pelapisan bakteri dengan senyawa organik atau anorganik yang bertujuan untuk penangkapan bakteri, sehingga bakteri dapat lebih bertahan pada kondisi lingkungan yang kurang adaptif. Tulisan ini bertujuan untuk membahas imobilisasi bakteri (Serratia sp., Pseudomonas sp., dan Enterobacter sp.) pada kitosan-alginat dan kitin-alginat serta penggunaannya pada penurunan kadar sianida pada limbah cair tapioka (skala laboratorium). Pengukuran sianida dilakukan dengan spektrofotometer. Pada skala laboratorium, hasil menunjukkan keenam bakteri terimobilisasi, yaitu : Serratia 1-kitosan-alginat, Serratia 1-kitin-alginat, Serratia 2-kitosan-alginat, Serratia 1-kitin-alginat, Pseudomonas-kitosan-alginat, Pseudomonas-kitin-alginat, Enterobacter-kitosan-alginat, dan Enterobacter-kitin-alginat dapat menurunkan kadar sianida pada limbah cair tapioka.
PENENTUAN KADAR NITRIT PADA SAMPEL TAPIOKA DI BEBERAPA INDUSTRI DI PROVINSI LAMPUNG Setiawati, Ira; Arios, Ananda Leonard; Sari, Amelia
JURNAL TEKNOLOGI AGROINDUSTRI Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK : Nitrit merupakan suatu bentuk senyawa peralihan antara ammonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi). Nitrit bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar nitrit pada tapioka di industri Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi sampel dalam pelarut air dengan penambahan asam dan basa, kemudian filtrat sampel diuji dengan spektrofotometer sinar tampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrit pada sampel tapioka di industri lampung berada pada rentang 0,01 – 0,09 mg/kg dan rata-rata sebesar 0,06 mg/kg.
Harmonisasi Standar AMDK menurut SNI dan Standar Internasional , M.Si, Sri Agustini
JURNAL TEKNOLOGI AGROINDUSTRI Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.824 KB)

Abstract

The harmonization on the National Standard for bottled  drinking water for mineral water (SNI 3553:2015) and demineral water (SNI 6241:2015) against the regulatory requirements set by Minister of healt regulation number 492/2010 and International Bottled Water Association (IBWA,2015), and WHO guidelines for drinking water quality has been done. The objective was to identify the harmonisation among requirements and standard specification which apllied on the bottled drinking  water. There were 2 distinc differentiation identified. There is different mandatory parameter between Minister regulation and SNI. The SNI  is more stringent and protected than  standard required by Minister regulation for microbial contaminant. The Minister regulation and IBWA requires Total coliform and E. coli must not be detectable in any 100 ml sample of drinking water, while SNI has set Total coliform, Total Plate count and  Pseudomonas aeruginosa as requirement. Test result for the samples taken during surveillance showed that all of 8 samples which were sent to 3 different laboratories did not detected for Total coliform. Instead of E. coli, SNI requires Pseudomonas aeruginosa and Total plate count as mandatory requirement. Both SNI for mineral water, demineral water and Minister regulation have the same chemical requirements for those which have health concern, but for some parameter SNI more stringent than Minister regulation. SNI has not required hardness, aluminium and zinc those are mandotory parameter according to Minister regulation and IBWA. SNI has reqiured desinfection by product which were secondary parameter according to minister of health regulation, IBWA and WHO. No differentiation for physical properties identified between Minister regulation and SNI. Keywords: Bottled drinking water, SNI, Ministry of health regulation 492/2010, IBWA code of practice, WHO guidelines.
Makrobentos Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai Way Belau Bandar Lampung Budi, Rina
JURNAL TEKNOLOGI AGROINDUSTRI Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.863 KB)

Abstract

Aliran air sungai Way Belau yang terletak di kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan kegiatan pertanian. Aktivitas masyarakat dan pertanian yang dilakukan mempengaruhi kualitas air sungai tersebut. Kualitas perairan sungai dapat ditentukan oleh keanekaragaman bioindikator. Makrozoobentos adalah biondikator yang sering digunakan pada perairan sungai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perairan sungai Way Belau berdasarkan parameter biologi (keanekaragaman jenis makrobentos), fisika (kedalaman, kekeruhan, dan suhu), serta kimia (DO, BOD, COD, dan pH). Metode penelitian yang dilakukan adalah observasi pada tiga stasiun pengambilan. Penentuan nilai indeks keanekaragaman makrobentos dilakukan berdasarkan indeks Shannon-Wiener (H’ dan Evennes). Indeks dominasi dihitung berdasarkan indeks dominasi Simpson (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun tiga sebesar 0,366 (tercemar berat). Sedangkan nilai keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun dua sebesar 0,528 (tercemar sedang). Indeks dominasi dan kelimpahan bernilai 1 (tinggi) pada ketiga stasiun. Hasil penilaian kualitas air berdasarkan parameter kimia dan fisika menunjukkan bahwa air sungai Way Belau masih termasuk pada air konsumsi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas perairan sungai Way Belau termasuk dalam kategori tercemar sedang.
PEMANTAUAN JUMLAH BAKTERI Coliform DI PERAIRAN SUNGAI PROVINSI LAMPUNG Rizki Adrianto
Majalah TEGI Vol 10, No 1 (2018): Majalah TEGI Vol 10 No 1 Juni 2018
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.529 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v10i1.3920

Abstract

Coliform merupakan golongan mikroorganisme yang lazim digunakan sebagai indikator dimana bakteri ini dapat menjadi sinyal untuk menentukan suatu sumber air telah terkontaminasi oleh patogen atau tidak. Salah satu penyebab terjadinya pencemaran air adalah mikrooganisme patogen yang  terkandung  dalam tinja karena dapat menularkan berbagai macam penyakit apabila masuk kedalam tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah bakteri coliform di Sungai Provinsi Lampung di 8 Lokasi pengambilan titik sampling. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pengambilan sampel dan  survey lapangan, wawancara, serta analisis laboratorium. Hasil Pengujian menunjukkan jumlah koliform tertinggi terdapat pada lokasi Sungai I berkisar antara 25394-24413 JPT/100 mL, terendah terdapat pada lokasi Sungai VII berkisar antara 8564-12034 JPT/100 mL Hasil pengujian menunjukkan perairan Sungai Provinsi Lampung tercemar bakteri coliform yang telah melewati ambang batas persyaratan sungai kelas I (1000 Jumlah/100mL).Kata Kunci : Coliform, Sungai Provinsi Lampung, Jumlah bakteri
KAJIAN PEMBUATAN TEMPE DAUN PANDAN WANGI (Pandanus Amaryllifolius Roxb)) Ardiansyah Ardiansyah
Majalah TEGI Vol 10, No 1 (2018): Majalah TEGI Vol 10 No 1 Juni 2018
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.288 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v10i1.3957

Abstract

Kandungan kadar isoflavon pada tempe juga dipengaruhi oleh proses perebusan Penelitian ini menggunakan metode eksperimen yang disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 pengulangan,  6 perlakuan perebusan kedelai yang kedua dengan daun pandan wangi  0%, 2%, 4% 6% 8% 10%  untuk setiap perlakuan, dengan tujuan ingin mengetahui pengaruh perebusan kedelai kedua kali dengan daun pandan wangi  terhadap kadungan kadar isoflavon  pada tempe. Berdasarkan data uji anova didapakan nila signifikat 0,00 (p<0,05) dapat disimpulkan terdapat ada perbedaan yang signifikat antar perlakuan. Perlakuan perebusan kedua kali kedelai dengan daun pandan wangi tidak memmpengaruhi aktivitas enzim-enzim yang dihasilkan oleh Rhizopus olgospora bahkan justru meningkat meningkatan kadar isoflavon total tempe , sehingga kadar isoflavon tempe lebih tinggi dibandingkan dengan tempe yang tidak diberi perlakuan perebusan dua kali dengan daun pandan wangi.
KAJIAN SIFAT FISIKOKIMIA TEPUNG ONGGOK INDUSTRI BESAR DAN INDUSTRI KECIL Nanti Musita
Majalah TEGI Vol 10, No 1 (2018): Majalah TEGI Vol 10 No 1 Juni 2018
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.797 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v10i1.3990

Abstract

Onggok merupakan limbah padat dari industri tapioka yang masih mengandung kadar tepung yang cukup tinggi. Produknya cukup melimpah dan belum dimanfaatkan secara optimal yang sebenarnya masih dapat dimanfaatkan sebagai substrat untuk pertumbuhan mikroba yang dapat menghasilkan produk lain yang bernilai ekonomis. Makalah ini bertujuan untuk melihat perbedaan karakteriktik onggok dari sumber bahan baku yang berbeda (industri besar dan kecil) dan setelah dihidrolisis dengan asam sulfat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tepung onggok dari industri besar mengandung kadar air, abu, lemak, protein dan pati lebih rendah, namun lebih tinggi kadar serat kasar dibandingkan tepung onggok industri kecil. Konsentrasi asam sulfat yang optimum untuk menghidrolisis onggok Ittara dan industri besar pada konsentrasi 0,4 M selama 30 menit pada suhu 121oC, menghasilkan gula reduksi sebesar 3,89 mg/ml (industri kecil) dan 2,47 mg/ml (industri besar).
Produksi Pigmen Klorofil Terenkapsulasi dari Daun Kangkung (Ipomea reptans Poir.) Dengan Teknik Mikroenkapsulasi Desy Nurliasari Suparno; Damar Wiraputra wiraputra
Majalah TEGI Vol 10, No 1 (2018): Majalah TEGI Vol 10 No 1 Juni 2018
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.936 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v10i1.3996

Abstract

Daun kangkung mengandung pigmen klorofil yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami untuk makanan. Ekstrak pekat pigmen klorofil dari daun kangkung merupakan bahan yang sangat kental sehingga agak sulit dan kurang praktis dalam penggunaannya. Hal ini dapat diatasi dengan manggunakan teknik mikroenkapsulasi sehingga mempermudah penggunaan dan meningkatkan umur simpannya. Bahan penyalut yang digunakan untuk mikroenkapsulasi ekstrak pigmen klorofil ini adalah dekstrin dan gum arab. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif dengan 6 perlakuan dan 2 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan adalah penggunaan bahan penyalut dekstrin dengan konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10% (b/v) dan gum arab dengan konsentrasi 5%, 7,5%, dan 10% (b/v) dari total volume bahan. Hasil penelitian menunjukan penggunaan bahan penyalut dekstrin dengan konsentrasi 10% (b/v) menghasilkan bubuk pigmen klorofil dari daun kangkung dengan karakteristik terbaik, yaitu memiliki nilai intensitas warna hijua (nilai a) yaitu – 19.97, nilai HUE 127.42 (melefleksikan warna kuning kehijauan), rendemen 2.99%, kadar air 1,80%, kelarutan 97.48%, waktu rehidrasi 36.4 detik, dan nilai pH 8,1
PENGARUH SUBSTITUSI ISOLAT DAN KONSENTRAT PROTEIN KEDELAI TERHADAP SIFAT KIMIA DAN SENSORIS SOSIS DAGING AYAM Wea Aanisah Mentari Putri; Fidela Devina Agrippina
Majalah TEGI Vol 10, No 1 (2018): Majalah TEGI Vol 10 No 1 Juni 2018
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.176 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v10i1.4274

Abstract

Substitusi sosis menggunakan isolat protein dari kacang-kacangan dapat mengurangi biaya produksi dan dapat menghasilkan sosis dengan mutu yang sama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan sifat kimia dan sifat sensoris dari sosis ayam yang disubstitusi dengan isolat protein kedelai (ISP) dan konsentrat protein kedelai (SPC). Lima buah sampel dipersiapkan: C, sebagai kontrol; ISP 10%; ISP 20%; SPC 10%; dan SPC 20%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi daging ayam dengan ISP dan SPC akan mempengaruhi sifat kimia sosis ayam. Substitusi akan meningkatkan kadar protein. Sebaliknya, substitusi akan menurunkan kadar air, dan kadar lemak. Tetapi, substitusi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kadar abu (p>0,05). Berdasarkan sifat sensoris, panelis lebih menyukai sosis yang disubstitusi dengan SPC sebanyak 10%.