cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Articles 60 Documents
Studi Awal Penggunaan Nanoselulosa Sebagai Bahan Baku Pembuatan Kertas Edwin Sijabat
Majalah TEGI Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1096.347 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i1.3338

Abstract

Penelitian ini merupakan studi awal penggunaan nanoselulosa sebagai campuran bahan baku baru dalam pembuatan kertas. Nanoselulosa diperoleh dari hasil fermentasi air kelapa dengan menggunakan bakteri Acetobacter xylinum yang menghasilkan nanoselulosa bakteri yang biasa dikenal dengan nata de coco. Selain dari air kelapa, nanoselulosa juga dapat diperoleh dari kulit pisang (nata de banana), air kedelai (nata de soya), kulit nenas (nata de pineapple), lidah buaya (nata de aloevera),dll. Penulis memilih nata de coco karena telah banyak diproduksi dan sudah dikenal oleh masyarakat. Nanoselulosa ini dicampurkan dengan Leaf Bleach Kraft Pulp (LBKP) dan dibuat menjadi handsheet.  Berikutnya diuji sifat fisik dan sifat optiknya untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan penambahan nanoselulosa tersebut. Nanoselulosa yang digunakan bervariasi dengan dosis 0% (blank), 5%, 7,5%, 10%, 12,5%, 15%, 17,5%, 20%, 22,5%, 25%, 27,5%,  30% terhadap berat kering handsheet. Secara umum, dari penelitian ini diperoleh bahwa nanoselulosa dapat dijadikan sebagai campuran bahan baku dalam pembuatan kertas. Kertas yang dihasilkan memiliki kekuatan fisik yang baik. Nilai porositas yang sangat rendah, indeks tarik yang optimal senilai 51,97 pada komposisi nanoselulosa 30% dan indeks sobek yang optimal senilai 64,64 pada komposisi nanoselulosa 15%. Namun untuk penyerapan dinilai kurang baik karena hasil uji klemm absorption turun hingga 5mm/min pada komposisi nanoselulosa 30%, dan drop test semakin naik hingga 197,81 detik pada komposisi nanoselulosa 30%. Selain itu sifat optik juga kurang baik terutama dari segi warna. Handsheet yang dihasilkan cenderung kekuningan. Nilai L*a*b menunjukkan perubahan bahwa warna semakin kuning dan kurang terang. Nilai L turun hingga 89,87 pada komposisi nanoselulosa 30%, dan nilai b yang naik hingga 6,37 pada komposisi nanoselulosa 30%. Whiteness juga mengalami penurunan hingga 45,67 pada komposisi nanoselulosa 30%, brightness juga turun hingga 69,05 pada komposisi nanoselulosa 30%. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya di bidang nanoselulosa agar ditemukan bahan baku baru selain dari tumbuhan yang dapat digunakan dalam pembuatan kertas
Alga : Potensinya pada Kosmetik dan Biomekanismenya Eva Oktarina
Majalah TEGI Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (858.623 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i2.3589

Abstract

Alga menghasilkan komponen seperti polisakarida, lipid, protein, pigmen, dan fenol yang diketahui memiliki berbagai potensi dalam produk kosmetik. Alga berfungsi sebagai zat tambahan pada formulasi kosmetik seperti penstabil atau pengemulsi, serta dapat berfungsi sebagai zat aktif pada kosmetik. Zat aktif alga, berfungsi pada kulit sebagai penunda penuaan, pemutih, pelembab, fotoproteksi, dan antioksidan. Tulisan ini membahas potensi alga pada produk kosmetik beserta proses mekanismenya secara biokimia, sehingga diharapkan dapat memberikan nilai tambah alga sebagai bahan tambahan dan bahan aktif untuk produk kosmetik, serta diversifikasinya sebagai medicated cosmetic bedasarkan fungsi dan proses biomekanismenya.
KARAKTERISTIK SIFAT PASTA TAPIOKA DAN KOMPOSITNYA BERSAMA TEPUNG ONGGOK PADA KONDISI ALAMI DAN MODIFIKASI Husniati Husniati
Majalah TEGI Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46559/tegi.v8i2.3151

Abstract

ABSTRAK: Pada penelitian ini telah dilakukan modifikasi pati dari kondisi alami tapioka melalui teknik ekstruksi dengan tujuan untuk mencapai kondisi gelatinisasi pati dalam waktu cepat. Penyiapan pragelatinisasi tapioka dan tepung onggok pada komposisi C1 dan C2 (C1=Tapioka:onggok= 95%:5% dan C2=90%:10%) diawali dengan granulasi dalam air sebanyak 27-30 % volume kemudian dilanjutkan homogenisasi dan ekstruksi pada suhu 100 0C. Hasil ekstruksi dihaluskan dan dikeringkan untuk selanjutnya digunakan sebagai bahan tambahan dalam pembuatan beras merah artificial. Hasil penelitian karakterisasi sifat pasta mengunakan Brabender Amilografi menunjukkan bahwa modifikasi pati secara ekstruksi menaikkan suhu gelatinisasi, menurunkan viskositas puncaknya, menurunkan viskositas minimum, serta menurunkan viskositas breakdown dan setback dari keadaan alaminya.
PEMODELAN HARGA DAN PRODUKSI UBI KAYU MENGGUNAKAN MODEL VEKTOR AUTOREGRESSIVE (VAR) Devi Oktiani
Majalah TEGI Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1033.501 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i1.3343

Abstract

Salah satu permasalahan industri tapioka adalah kekurangan pasokan bahan baku. Hal ini merupakan salah satu penyebab harga tapioka Indonesia sulit bersaing dengan tapioka dari negara lain. Makalah ini memberikan gambaran tentang kecenderungan harga ubi kayu. Pemodelan seacara regresi linear menggunakan Vector Autoregressive (VAR) model digunakan untuk menggambarkan harga ubi kayu sebagai fungsi dari jumlah pasokan ubi kayu. Model yang didapatkan berupa VAR model pada first difference.  
IMMOBILISASI BAKTERI PADA KITOSAN-ALGINAT DAN KITIN-ALGINAT Eva Oktarina; Rizki Adrianto; Ira Setiawati
Majalah TEGI Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.672 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i2.3488

Abstract

Imobilisasi bakteri merupakan pelapisan bakteri dengan senyawa organik atau anorganik yang bertujuan untuk penangkapan bakteri, sehingga bakteri dapat lebih bertahan pada kondisi lingkungan yang kurang adaptif. Tulisan ini bertujuan untuk membahas imobilisasi bakteri (Serratia sp., Pseudomonas sp., dan Enterobacter sp.) pada kitosan-alginat dan kitin-alginat serta penggunaannya pada penurunan kadar sianida pada limbah cair tapioka (skala laboratorium). Pengukuran sianida dilakukan dengan spektrofotometer. Pada skala laboratorium, hasil menunjukkan keenam bakteri terimobilisasi, yaitu : Serratia 1-kitosan-alginat, Serratia 1-kitin-alginat, Serratia 2-kitosan-alginat, Serratia 1-kitin-alginat, Pseudomonas-kitosan-alginat, Pseudomonas-kitin-alginat, Enterobacter-kitosan-alginat, dan Enterobacter-kitin-alginat dapat menurunkan kadar sianida pada limbah cair tapioka.
PENENTUAN KADAR NITRIT PADA SAMPEL TAPIOKA DI BEBERAPA INDUSTRI DI PROVINSI LAMPUNG Ira Setiawati; Ananda Leonard Arios; Amelia Sari
Majalah TEGI Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46559/tegi.v8i2.3152

Abstract

ABSTRAK : Nitrit merupakan suatu bentuk senyawa peralihan antara ammonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi). Nitrit bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar nitrit pada tapioka di industri Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan mengekstraksi sampel dalam pelarut air dengan penambahan asam dan basa, kemudian filtrat sampel diuji dengan spektrofotometer sinar tampak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar nitrit pada sampel tapioka di industri lampung berada pada rentang 0,01 – 0,09 mg/kg dan rata-rata sebesar 0,06 mg/kg.
Harmonisasi Standar AMDK menurut SNI dan Standar Internasional Sri Agustini , M.Si
Majalah TEGI Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (633.824 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i1.3206

Abstract

The harmonization on the National Standard for bottled  drinking water for mineral water (SNI 3553:2015) and demineral water (SNI 6241:2015) against the regulatory requirements set by Minister of healt regulation number 492/2010 and International Bottled Water Association (IBWA,2015), and WHO guidelines for drinking water quality has been done. The objective was to identify the harmonisation among requirements and standard specification which apllied on the bottled drinking  water. There were 2 distinc differentiation identified. There is different mandatory parameter between Minister regulation and SNI. The SNI  is more stringent and protected than  standard required by Minister regulation for microbial contaminant. The Minister regulation and IBWA requires Total coliform and E. coli must not be detectable in any 100 ml sample of drinking water, while SNI has set Total coliform, Total Plate count and  Pseudomonas aeruginosa as requirement. Test result for the samples taken during surveillance showed that all of 8 samples which were sent to 3 different laboratories did not detected for Total coliform. Instead of E. coli, SNI requires Pseudomonas aeruginosa and Total plate count as mandatory requirement. Both SNI for mineral water, demineral water and Minister regulation have the same chemical requirements for those which have health concern, but for some parameter SNI more stringent than Minister regulation. SNI has not required hardness, aluminium and zinc those are mandotory parameter according to Minister regulation and IBWA. SNI has reqiured desinfection by product which were secondary parameter according to minister of health regulation, IBWA and WHO. No differentiation for physical properties identified between Minister regulation and SNI. Keywords: Bottled drinking water, SNI, Ministry of health regulation 492/2010, IBWA code of practice, WHO guidelines.
Analisis Ketersediaan Pasokan Jagung dariLampung Sebagai Bahan Pakan Unggas Devi Oktiani
Majalah TEGI Vol 8, No 2 (2016)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46559/tegi.v8i2.3036

Abstract

Industri pakan ternak, khususnya pakan unggas banyak didirikan di Lampung, menggunakan jagung yang berasal dari Lampung sebagai bahan baku utama. Jagung yang berasal dari Lampung dikenal sebagai jagung yang berkualitas bagus. Namun demikian, pasokan jagung dari lampung tersebut tidak mencukupi untuk kebutuhuan industri pakan ternak. Tulisan ini bertujuan memberikan gambaran pasokan jagung dan pertambahan jumlah unggas. Data sekunder didapatkan dari BPS. Salah satu cara untuk meningkatkan pasokan jagung adalah dengan meningkatkan produktivitas pertanian jagung.
Makrobentos Sebagai Bioindikator Kualitas Air Sungai Way Belau Bandar Lampung Rina Budi
Majalah TEGI Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.863 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i2.3655

Abstract

Aliran air sungai Way Belau yang terletak di kecamatan Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan kegiatan pertanian. Aktivitas masyarakat dan pertanian yang dilakukan mempengaruhi kualitas air sungai tersebut. Kualitas perairan sungai dapat ditentukan oleh keanekaragaman bioindikator. Makrozoobentos adalah biondikator yang sering digunakan pada perairan sungai. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas perairan sungai Way Belau berdasarkan parameter biologi (keanekaragaman jenis makrobentos), fisika (kedalaman, kekeruhan, dan suhu), serta kimia (DO, BOD, COD, dan pH). Metode penelitian yang dilakukan adalah observasi pada tiga stasiun pengambilan. Penentuan nilai indeks keanekaragaman makrobentos dilakukan berdasarkan indeks Shannon-Wiener (H’ dan Evennes). Indeks dominasi dihitung berdasarkan indeks dominasi Simpson (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks keanekaragaman tertinggi terdapat pada stasiun tiga sebesar 0,366 (tercemar berat). Sedangkan nilai keseragaman tertinggi terdapat pada stasiun dua sebesar 0,528 (tercemar sedang). Indeks dominasi dan kelimpahan bernilai 1 (tinggi) pada ketiga stasiun. Hasil penilaian kualitas air berdasarkan parameter kimia dan fisika menunjukkan bahwa air sungai Way Belau masih termasuk pada air konsumsi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kualitas perairan sungai Way Belau termasuk dalam kategori tercemar sedang.
KAJIAN POTENSI TEPUNG NABATI DAN HEWANI DI PROPINSI LAMPUNG Nanti Musita
Majalah TEGI Vol 9, No 1 (2017)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.614 KB) | DOI: 10.46559/tegi.v9i1.3270

Abstract

Tepung industri merupakan tepung yang banyak digunakan pada baik sebagai bahan baku utama maupun sebagai bahan pelengkap, baik berupa tepung alami maupun yang sudah mengalami modifikasi. Pengkajian potensi tepung industri berasal dari sumber nabati (beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sukun, pisang, dan durian) dan hewani (ikan dan telur) yang terdapat di Lampung menjadi topik tulisan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan baku yang berpotensi sebagai sumber pati adalah ubi kayu, jagung, kentang, sukun, beras dan ubi jalar. Bahan baku yang berpotensi sebagai sumber pati adalah ubi kayu, jagung, kentang, sukun, beras dan ubi jalar; yang berpotensi sebagai sumber serat pangan adalah kentang, beras, sukun, durian, dan papaya; yang berpotensi sebagai sumber proteini adalah ikan, telur, kentang, dan jagung; dan yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai kegiatan usaha IKM tepung industri adalah ubi jalar, pisang,  kopi, ikan, dan pepaya.