cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Arena Tekstil
ISSN : 05184010     EISSN : 25487264     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel dalam bidang tekstil yang meliputi teknik, kimia, material, desain serta konservasi energi dan lingkungan. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian orisinal yang menyampaikan informasi baru pada bidang tekstil, hasil penelitian teknis yang menggambarkan suatu pengembangan, kemajuan teknis, dan inovasi dalam manufaktur dan processing, teknik laboran dengan data eksperimental yang cukup yang mengilustrasikan kegunaan suatu metoda atau peralatan tertentu, atau artikel tinjauan ilmiah (review) yang mengupas secara kritis suatu topik pada bidang tekstil yang cukup penting. Topik bahasan tidak bersifat umum, tetapi berupa suatu aspek yang dibahas secara mendalam.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
PEMANFAATAN LIMBAH SERAT KAPAS DARI INDUSTRI PEMINTALAN UNTUK FELT DAN PAPAN SERAT Eva Novarini
Arena Tekstil Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778.193 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i1.4030

Abstract

Cotton is widely used for clothing material, because it is able to absorb sweat/water, so comfortable to wear. But the product is still an export comodity and waste that occurs after spinning into yarn is about (4 - 5)%. Much of the waste still contains short fibers, potentially as composite reinforcement; and the rest are dirt, dust, soil and others. Therefore, in the framework of handling and utilization of such waste, in order to produce an added value product, then a research was conducted to make biocomposites using that waste. The purpose is to get a biocomposite with a cotton fiber waste of felt (a nonwoven product) with a low melt polyester matrix and manufactured wood in the form of a fiber board with an epoxy resin matrix that can meet applicable standards. From the test results, it is known that the felt can absorb sound up to 78% at the reference frequency of 5000 Hz (meets minimum standards for sound absorbing coefficient, based on ISO 11654: 1997), so it can be used as a sound absorber material (for building/automotive) and can also be used as raw material for automotive textile (door trim, dashboard or head lining).  In addition, the fiber board also has performance that meets the standard (SNI 01-4449-2006) and can reflect sound ≥ 90%, so it can be used as a sound reflector interior panel
BINDER EFFECTIVENESS ON COTTON FABRIC FINISHING WITH MICROCAPSULES USING PADDING agus surya mulyawan; tatang wahyudi
Arena Tekstil Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.782 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i1.3900

Abstract

One of the processes to improve the function of cotton fabric is microcapsule finishing. Microcapsules are expected to have adequate resistance to surface of cotton fabric. However, since microcapsule shell has no chemical bond with cotton fabric, a binder is used for example polyacrylic and polyurethane. The aim of this research is to study the effectiveness of polyacrylic and polyurethane binder in cotton fabric microcapsule finishing using padding technique. The cotton fabric is immersed in a solution of microcapsules and binder for (5-10) minutes at room temperature, press with 90% Wet Pick Up (WPU), dried at 100 ° C for 60 seconds then followed by a temperature of 110 ° C for 120 seconds. The cotton finishing fabric of microcapsule observed from its surface with Scanning Electron Microscope (SEM), tested its washing fastness with Launder-O-meter, its tensile strength with tensile tester, and its stiffeness with stiffeness tester. Particle size of microcapsules analyzed with Particle Size Analyzer (PSA), and shell of microcapsule with Fourier Transform Infra Red (FTIR). Results showed that the microcapsule size of 1.14 μm with melamine formaldehyde shell, the use of polyacrylate and polyurethane binder could maintain the microcapsules in the fabric up to ten times, increase the tensile strength and stiffness of cotton fabric.
STUDI DAYA SERAP WARNA SERAT TANDAN PISANG DENGAN PEMBANDING SERAT ABAKA DAN SERAT SABUT KELAPA Christmastuti Nur
Arena Tekstil Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (775.373 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i1.3711

Abstract

Exploration of banana peduncle waste is an attempt to search new product material alternatives. The purpose of this research is to reveal the character of banana peduncle fiber especially in its ability to absorb the color compared to abaca fiber and coir fiber. The color intensity test was conducted by calculating the luminance or the intensity of light which was reflected back by the surface area of the fiber. The result of this research was the bleached banana peduncle fiber generates more vivid and brighter color than the unbleached banana peduncle fiber. The unbleached one was similar to abaca fiber especially in absorbing red color (ratio = 1.00) and blue color (ratio = 1.01), however, it was lower than abaca fiber in absorbing green color (ratio = 0.98) and yellow color (ratio = 0.92). Thus, the unbleached banana peduncle fiber can be used effectively to perform color gradation of red and blue. Comparing to coir fiber, the absorption of banana peduncle fiber toward red, green, blue, and yellow color was higher. This research can be applied in coloring process of product material because it can accelerate production process and save production cost.
OPTIMASI KONDISI LARUTAN DAN PARAMETER PROSES PEMINTALAN ELEKTRIK PADA SINTESIS SERAT NANO KITOSAN-PEO Rizka Yulina; Wiwin Winiati; Irene Bonadies; Paola Laurienzo; Giovanni Dal Poggetto
Arena Tekstil Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (803.581 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i1.3537

Abstract

Serat nano kitosan telah berhasil dibuat dengan penambahan polietilen oksida (PEO) sebagai polimer sekunder pada kondisi larutan dan parameter proses pemintalan elektrik yang optimum. Pada penelitian ini, larutan polimer kitosan/PEO pada berbagai konsentrasi (3,2, 3,6, dan 4 wt%) dan rasio (3:2 dan 1:1) dipintal secara elektrik (electrospinning) untuk memperoleh serat dengan morfologi paling baik. Selain kondisi larutan, parameter proses pintal elektrik yang penting seperti tegangan, laju alir umpan, dan jarak antara jarum dengan kolektor juga disesuaikan untuk mendapatkan proses dengan kondisi jet polimer yang stabil. Serat nano yang terbaik yakni tanpa butiran polimer (polymer microspheres) dan minim jumlah manik-manik (beads) berhasil diperoleh pada konsentrasi kitosan/PEO 4 wt% dan rasio 3:2. Parameter proses yang digunakan untuk mendapatkan serat ini yaitu tegangan 30 kV, laju alir umpan 0,3 ml/jam, dan jarak antara jarum dan kolektor 30 cm. Karakterisasi morfologi serat dari setiap eksperimen dilakukan dengan menggunakan mikroskop Phenom. Selanjutnya, serat nano terbaik yang diperoleh dikarakterisasi dengan menggunakan SEM dan diameter rata-rata serat diukur dengan aplikasi ImageJ. Hasil menunjukkan bahwa serat nano yang dihasilkan pada kondisi optimum memiliki diameter rata-rata 68 nm dan distribusi ukuran diameter serat tersebar cukup lebar mulai dari 30-150 nm. 
PENGEMBANGAN ATBM (ALAT TENUN BUKAN MESIN) MENGGUNAKAN SISTEM DOBBY ELEKTRONIK Rizal Fahruroji
Arena Tekstil Vol 33, No 1 (2018)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.164 KB) | DOI: 10.31266/at.v33i1.3324

Abstract

ABSTRAKPembuatan ATBM dobby elektronik telah dilakukan dengan menyusun perangkat dobby elektronik dan mendesain rangka ATBM yang disesuaikan dengan perangkat dobby. Penelitian meliputi pembuatan desain ATBM, menyusun perangkat dobby elektronik, pembuatan software desain, pembuatan sistem kontrol dobby elektronik, persiapan pertenunan, dan pengujian ATBM (proses tenun). Hasil pengujian ATBM dobby elektronik dibandingkan dengan ATBM dobby mekanik dalam hal pembuatan kain tenun menunjukkan bahwa ATBM dobby elektronik unggul dalam hal pembuatan desain, mekanisasi proses tenun (pembukaan mulut lusi, peluncuran benang pakan, penguluran benang lusi dan penggulungan kain), dan kemudahan operasional tenun berkat penerapan teknologi elektronik.Kata kunci : pertenunan, ATBM, sistem dobby, software desain, sistem kontrol elektronik ABSTRACTThe manufacture of handloom electronic dobby has been done by arranging the electronic dobby device and designing handloom which is adjusted to dobby device. The research includes designing of ATBM frame, arranging the electronic dobby device, making the design software, the manufacture of electronic dobby control system, weaving preparation, and handloom testing (weaving process). handloom dobby electronic test results compared to handloom dobby mechanics in terms of fabrics manufacture shows that handloom dobby electronics excel in terms of making design, mechanization of weaving process (shedding,picking, let-off, take up), and ease of operation of weaving thanks to the application of electronic technology. Keywords : weaving, handloom, dobby system, software design, electronic control system
EKSPLORASI KANDUNGAN PIGMEN DAN ALGINAT DARI RUMPUT LAUT COKLAT UNTUK PROSES PEWARNAAN KAIN SUTERA Rifaida Eriningsih; Rini Marlina; Theresia Mutia; Arif Wibi Sana; Ana Titis
Arena Tekstil Vol 29, No 2 (2014)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.053 KB) | DOI: 10.31266/at.v29i2.877

Abstract

Eksplorasi pigmen dan alginat dari rumput laut coklat dimaksudkan untuk mengekstraksi pigmen dari rumput laut coklat dan residunya diekstraksi kandungan alginatnya untuk proses pewarnaan pada kain sutera. Hasil ekstraksi pigmen rumput laut coklat teridentifikasi sebagai zat warna mordan asam yang memberikan warna alami yang dapat menghasilkan celupan pada kain sutera dengan ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan, keringat dan sinar dengan nilai  baik. Berdasarkan analisis gugus fungsi dari rumput laut yang telah diekstraksi pigmennya menunjukkan bahwa kandungan alginatnya tidak ikut terekstraksi dan dapat diekstraksi lanjut. Alginat yang dihasilkan memberikan viskositas lebih tinggi dari Manutex F (Alginat impor) dan memenuhi kriteria untuk proses pencapan yang dibuktikan dari hasil uji beda warna, whiteness index pada pencapan tanpa zat warna  dan motif pencapan yang tajam (tidak migrasi). Alginat dari rumput laut coklat Garut, Serang dan Madura masing-masing memberikan viskositas 10.900 cps, 13.060 cps dan 9.780 cps, sedangkan Manutex F  8.000 cps. Rendemen yang dihasilnya masing-masing 30,1%, 28,4% dan 24,2%. Hasil uji hidrolisis parsial alginat menunjukkan bahwa blok guluronat (GG) dalam polimer alginat Garut, Madura dan Serang masing-masing 60,662%, 50,274%, dan 67,906%. Hal ini berkaitan dengan sifat gel yang dibentuk. Alginat Serang cenderung lebih kaku dan kurang fleksibel dibandingkan dengan alginat Garut dan Madura.
PEMANFAATAN DAUN JATI MUDA UNTUK PEWARNAAN KAIN KAPAS PADA SUHU KAMAR Ainur Rosyida; Didik Achadi W
Arena Tekstil Vol 29, No 2 (2014)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1705.581 KB) | DOI: 10.31266/at.v29i2.882

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak daun jati muda sebagai  zat pewarna pada kain kapas dengan metode suhu kamar, sehingga mengurangi energi panas, namun menghasilkan  celupan optimum.  Proses pencelupan dilakukan dengan variasi pH dan zat fiksator tawas  dan ferro sulfat.  Dari  hasil penelitian diketahui bahwa daun jati muda dapat digunakan untuk mewarnai kain kapas dengan arah  warna bervariasi yaitu ungu, ungu kemerahan dan abu-abu. Warna yang dihasilkan tergantung dari jenis fiksator yang digunakan sedangkan ketuaan dan arah warna ditentukan oleh pH larutan yang digunakan dalam pencelupan. Metode pewarnaan terbukti dapat diperoleh hasil yang baik, karena diperoleh warna yang  merata dan permanen. Hasil uji ketuaan warna menunjukkan bahwa pada pencelupan dengan fiksator tawas diperoleh warna ungu dengan nilai ketuaan warna yang paling tinggi pada pH 10, sedangkan pada pencelupan dengan ferro sulfat diperoleh warna abu-abu dengan nilai ketuaan warna  paling tinggi pada pH  5. Ketahanan luntur warna terhadap pencucian diperoleh nilai perubahan warna yang cukup baik dengan nilai   3-4 sesuai standar Grey Scale dan untuk penodaan warna diperoleh nilai 4 sesuai standar Staining Scale. Uji ketahanan gosokan kering  diperoleh nilai perubahan warna  yang baik yaitu 4-5 dan pada gosokan basah dengan nilai  4  masing-masing terhadap standar Grey Scale. Hasil analisis gugus fungsi molekul zat warna daun jati muda dengan  kurva  FTIR  (Fourier Transform Infra Red)  terdapat  gugus  hidroksil   (-OH),  gugus karbonil (C = O) dan gugus metil (-CH3) yang menunjukkan adanya gugus auksokrom dan kromofor.
APLIKASI KITOSAN SEBAGAI ZAT ANTI BAKTERI PADA KAIN POLIESTER-SELULOSA DENGAN CARA PERENDAMAN Wiwin Winiati; Cica Kasipah; Wulan Septiani; Eva Novarini; Rizka Yulina
Arena Tekstil Vol 31, No 1 (2016)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.365 KB) | DOI: 10.31266/at.v31i1.1448

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah membubuhkan kitosan pada kain poliester-selulosa (poliester-kapas/rayon) yang berupa kain grey dan kain yang telah diberi warna untuk mendapatkan kain poliester-selulosa yang mempunyai sifat antibakteri. Kain yang digunakan adalah poliester-kapas 65:35 berupa kain grey dan kain loreng dan poliester-rayon 70:30 yang berupa kain grey dan kain hijau AD. Aplikasi kitosan dilakukan dengan cara perendaman dengan penambahan senyawa natrium periodat sebagai oksidator. Analisa gugus fungsi dengan FTIR (fourier transform infra red) menunjukkan bahwa kitosan dengan gugus –NH2 dan -OH sebagai gugus aktifnya telah berikatan dengan poliester yang diperlihatkan dengan terjadinya  peningkatan serapan gugus C=N  dan gugus C-O,  serta penurunan gugus C=O dari ester yang menunjukkan terjadi ikatan poliester dengan kitosan; dan peningkatan serapan pada bilangan gelombang 1641 cm-1 menunjukkan terjadinya ikatan antara aldehid dan kitosan yang menunjukkan terjadinya fiksasi kitosan pada selulosa (kapas dan rayon).  Fiksasi kitosan pada kain poliester-selulosa yang berupa kain grey dan kain yang telah diberi warna telah berhasil memberikan sifat antibakteri pada kain, tidak mengakibatkan terjadinya kerusakan pada serat poliester maupun serat rayon/kapas pada kain, dan tidak mengakibatkan kerusakan/penurunan  ketuaan warna pada kain yang telah diberi warna, bahkan semakin banyak kitosan yang diberikan akan meningkatkan ketuaan warna-warna tersebut.
EVALUASI KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN UJI KEKUATAN TARIK KAIN CARA PITA TIRAS Saeful Islam; Arif Wibi Sana
Arena Tekstil Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (360.066 KB) | DOI: 10.31266/at.v31i2.1940

Abstract

Sebuah studi tentang evaluasi ketidakpastian pengukuran pada uji kekuatan tarik kain cara pita tiras.  Studi dilakukan untuk mendapatkan model dan mengestimasi ketidakpastian pengukuran. Model pengukuran dibuat dengan memperhitungkan metoda dan proses utama pengujian kekuatan tarik kain cara pita tiras. Model pengukuran yang dihasilkan yaitu : besarnya kekuatan tarik kain cara pita tiras berbanding lurus dengan penunjukan gaya oleh alat uji tarik (F) dan konstanta lebar contoh uji sesuai metoda uji (Ls), serta berbanding terbalik dengan lebar contoh uji (Lk) atau   . Formulasi tersebut dijadikan sebagai acuan dalam menentukan komponen-komponen berkontribusi pada ketidakpastian totalnya, yaitu repeability hasil uji, penunjukan alat uji kekuatan tarik, lebar contoh uji dan tetal kain. Kata kunci: ketidakpastian pengukuran, kekuatan tarik kain, pita tiras.
PENGEMBANGAN DESAIN KAIN TENUN IKAT GARUT BERDASARKAN INDONESIA TREND FORECASTING Achmad Ibrahim Makki; Resty Mayseptheny Hernawati; Wine Regyandhea Putri
Arena Tekstil Vol 32, No 1 (2017)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.389 KB) | DOI: 10.31266/at.v32i1.2657

Abstract

Indonesia Trend forecasting bertujuan sebagai sumber inspirasi kreatif serta memberikan keyakinan dan kepercayaan diri kepada para pelaku ekonomi kreatif untuk melangkah ke depan dalam menciptakan inovasi baru yang potensial untuk disenangi oleh pasar dan relevan dengan masa yang akan datang. Tenun ikat Garut sebagai salah satu kain tradisional Indonesia memiliki desain motif yang penuh filosofi dan cerminan kearifan lokal. Agar kain tenun ikat Garut mampu bersaing namun tetap menjunjung nilai-nilai kearifan lokal maka disusun rencana penelitian ini yang bertujuan untuk mendapatkan alternatif desain motif kain tenun ikat Garut yang sesuai dengan Indonesia trend forecasting dan kearifan lokal Garut. Hasil dari penelitian ini berupa karya kain tenun ikat yang memiliki desain motif serta komposisi warna yang sesuai dengan nilai-nilai lokal dan tema yang ada dalam Indonesia Trend Forecasting 2016-2017. Metodologi yang digunakan adalah study pustaka serta ekperimen.

Page 10 of 26 | Total Record : 254