cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA Murtianto, Hendro
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1667

Abstract

Aktivitas zona patahan Sumatera bagian tengah patut mendapatkan perhatian, karena zona tersebut merupakan zona yang rawan terhadap aktivitas pergeseran sesar yang dapat berdampak pada timbulnya kerusakan yang signifikan pada lokasi strategis manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah : 1) mengetahui persebaran daerah rawan bencana gempa bumi di Sumatera Barat dan sekitarnya akibat pergerakan patahan Sumatera bagian Tengah; 2) mengidentifikasi daerah potensial kerusakan bencana gempa bumi di Sumatera Barat dan sekitarnya akibat patahan Sumatera bagian Tengah. Metode yang digunakan adalah analisis Sistem Informasi Geografis, dengan data sekunder berupa citra landsat, peta patahan linier, sejarah kegempaan dan kepadatan penduduk di wilayah kajian. Hasil yang didapatkan adalah : 1) persebaran daerah rawan gempa akibat patahan Sumatera bagian tengah adalah berada di sekitar patahan, dan besar kecilnya kerusakan yang terjadi tergantung pada panjang, lebar, kedalaman hiposentrum gempa bumi, jenis batuan yang terkena gempa, besarnya pergeseran batuan (displacement), lama dari getaran gempa; 2) Daerah dengan potensial kerusakan BESAR akibat gempa bumi patahan Sumatera bagian tengah adalah pada : Solok, Padang Panjang, Bukit Tinggi,; Sedangkan Potensial kerusakan SEDANG akibat gempa bumi patahan Sumatera bagian tengah adalah pada : Muara Sijunjung, Sawah Lunto, Paya Kumbuh; dan Potensial kerusakan KECIL akibat gempa bumi patahan Sumatera bagian tengah adalah pada: Kota/Kabupaten di sebelah timur Muara Sijunjung, Sawah Lunto, Paya Kumbuh. Untuk kota di pesisir barat Sumatera, seperti Padang mempunyai tingkat kerawanan yang tinggi terhadap gempa bumi tektonik dari proses konvergen Lempeng Samudra Hindia dan Lempeng benua Eurasia dan gelombang tsunami yang dapat ditimbulkannya. Kata Kunci : Gempa Bumi, Patahan Sumatera.
MODEL PENANGGULANGAN BANJIR Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1709

Abstract

Banjir dan genangan merupakan masalah tahunan dan memberikan pengaruh besar terhadap kondisi masyarakat baik secara sosial, ekonomi maupun lingkungan. Banjir bukan merupakan masalah pribadi yang diteliti berdasarkan disiplin ilmu, tetapi banjir diakibatkan sistem lingkungan yang rusak dan mata rantai fisis lingkungan yang terganggu, sehingga untuk mengatasi masalah banjir perlu dikaji secara terpadu. Banjir di wilayah Bandung Selatan, Jakarta Bekasi, Tangerang atau daerah lainnya disebabkan pada badan sungai terjadi pendangkalan oleh endapan material hasil erosi dari hulu sungai. Pendangkalan sungai tersebut menyebabkan kapasitas sungai berkurang. Selain terjadinya pendangkalan sungai, karena debit air yang mengalir dari hulu sungai meningkat. Peningkatan debit aliran pada anak dari hulu sungai sebagai akibat curah hujan yang turun tidak/kurang meresap ke dalam tanah, sehingga curah hujan menjadi aliran permukaan. Aliran permukaan yang bergerak di permukaan tanah mengikis tanah dan membawa ke badan sungai, karena itu aliran sungai bukan saja debit meningkat juga ditambah material hasil erosi. Material hasil erosi yang mengendap dengan debit aliran yang meningkat menyebabkan aliran air tidak dapat ditampung oleh sungai, sehingga aliran langsung pada badan sungai meluap yang berakibat banjir di sekitar dan sepanjang dataran sungai. Debit air permukaan yang meningkat yang disebabkan curah hujan yang tidak meresap, maka salah satu usaha yang perlu dikembangkan adalah curah hujan yang jatuh ke permukaan tanah harus meresap. Dengan ketebalan curah hujan dengan debit aliran permukaan yang meningkat, maka setiap unit penggunaan lahan harus mampu meresapkan curah hujan yang jatuh pada setiap satuan lahan yang ada, sehingga aliran permukaan kecil yang dapat ditampung badan sungai. Banjir yang terjadi hanya di sekitar wilayah Bandung Selatan, Jakarta, Bekasi, Tangerang dan daerah lainnya, karena daerah tersebut merupakan daerah yang datar dan paling rendah. Tetapi Curah hujan yang terjadi di seluruh wilayah, terutama hulu sungai, maka untuk mengatasi peningkatan debit aliran permukaan, maka pada daerah hulu sungai dan penggunaan lahan perlu dikembangkan model resapan yang dapat menampung curah hujan meresap sebelum aliran permukaan mengalir melalui badan sungai. Model yang perlu dikembangkan untuk mengatasi terjadinya banjir adalah dengan mengurangi debit aliran permukaan, maka pada setiap unit penggunaan lahan harus meresapkan curah hujan. untuk meresapkan curah hujan dengan cara pembuatan sumur resapan alau lahan resapan. Pada setiap unit lahan aliran permukaan dialirkan pada sumur resapan atau aliran permukaan dialirkan ke lahan resapan, dimana struktur tanah pada lahan resapan diubah menjadi lahan yang mampu meresapkan air. Kata kunci: model, banjir
PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PENYERAPAN TENAGA KERJA DI INDONESIA Setiawan, Iwan
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i1.1733

Abstract

Indonesia sedang dihadapkan pada masalah ketenagakerjaan yang cukup kompleks. Permasalahan tersebut, sebagian merupakan imbas dari krisis ekonomi yang terjadi beberapa waktu lalu yang berakibat pada tingginya angka pengangguran. Masalah lainnya yang dihadapi adalah masalah kualitas tenaga kerja yang rendah, upah, jaminan sosial dan lain-lain. Di tengah rumitnya permasalahan tersebut, sektor pertanian masih memiliki peran yang penting dalam menyerap tenaga kerja yang ada. Kontribusi sektor ini dalam ketenagakerjaan masih sangat tinggi walaupun ada kecenderungan semakin meningkatnya pertambahan tenaga kerja pada sektor industri, jasa dan perdagangan. Kontribusi dari sektor pertanian ternyata tidak diimbangi dengan kebijakan yang sepenuhnya pro terhadap pertanian. Rencana strategis pembangunan pertanian 2004-2009, yang di dalamnya cukup mendukung terhadap upaya pembangunan pertanian, pada kenyataannya setelah beberapa waktu berlangsung, belum banyak menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap petani dan sektor pertanian. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah masih sering bertentangan dengan keinginan petani atau dapat dikatakan merugikan petani. Kenaikan harga pupuk, impor produk pertanian, dan lain-lain merupakan contoh riil dari pertentangan antara petani dan pemerintah. Semua itu, menempatkan sektor pertanian dan petani pada posisi yang marginal. Sektor pertanian menjadi tidak menarik bagi penduduk usia muda, sehingga muncul gejala kekurangan buruh tani di pedesaan. Mereka cenderung lebih tertarik untuk melakukan urbanisasi, sehingga tenaga kerja yang tersisa di pedesaan adalah penduduk usia tua (aging population). Kata kunci: Sektor pertanian, penyerapan tenaga kerja.
PENYUSUNAN BASIS DATA SPASIAL SUMBERDAYA AIR MELALUI PARTISIPASI MASYARAKAT (Studi Kasus di Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta) Widayani, Prima
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i1.1657

Abstract

The preparation of spatial database of water resources in the village of Kepuharjo Cangkringan Sleman District implemented through local community empowerment. The objective is to assess the potential and utilization of existing surface water resources in the village of Kepuharjo, District Cangkringan based database of water resource potential. Based on results of the discussion, data collection, field survey and data analysis conducted jointly with local communities showed that rain water and stream water that flowed through the pipe from the spring Bebeng and Kalikuning become the main surface water source Kepuharjo Village residents. Surface water potential is very high especially in the rainy season and has not been used optimally and in August and September the village of Kepuharjo experiencing critical water. Keywords : database, water resources, community empowerment.
POTENSI AIR BERSIH DI KAWASAN SEGARA ANAKAN Riswandi, Agus
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1699

Abstract

Indonesia adalah Negara tropis yang hanya memiliki dua musim saja yaitu musim hujan dan musim kemarau dengan curah hujan yang tinggi. Kondisi seperti ini menjadikan Indonesia Negara yang melimpah cadangan airnya, tidak akan mengalami kekeringan maupun kesulitan untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan hidup sehari-hari. Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada, masih ada daerah yang kekeringan dan kesulitan untuk mendapatkan air bersih bagi kebutuhan sehari-hari. Fakta ini terjadi pula di kawasan Segara Anakan, dimana Kawasan Segara Anakan memiliki badan air yang luas dan memiliki banyak fungsi antara lain sebagai tempat hijrahnya ikan-ikan di perairan selatan Jawa. Namun, penduduk yang tinggal di Kawasan ini mempunyai kesulitan untuk mendapatkan air bersih, hal ini diperparah lagi dengan tingginya tingkat sedimentasi di kawasan tersebut sehingga ekosistem Segara Anakan menjadi rusak bahkan nyaris punah. Sebagai suatu kawasan yang potensial maka perlu kiranya upaya-upaya penyelamatan yang didasarkan pada identifikasi permasalahan yang muncul di kawasan tersebut dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan kebutuhan penduduk setempat, terutama kebutuhannya terhadap pengadaan air bersih. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dengan cara low solution, medium solution, dan high solution. Kata kunci: Potensi air bersih, kawasan Sagara Anakan.
PERANAN SEKTOR AGROINDUSTRI DALAM PEMBANGUNAN NASIONAL Turniasih, Iis; Dewi, Nia Kania
Jurnal Gea Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kultur masyarakat Indonesia adalah petani. Akan tetapi, pertumbuhan dan perkembangannya hingga saat ini belum mampu menjadi sektor andalan dalam perekonomian negara. Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah tersebut adalah dengan mengembangkan sektor pertanian melalui agroindustri. Manajemen industri dalam sektor pertanian sangat diharapkan sebagai upaya percepatan sehingga sektor ini dapat menjadi andalan pendapatan negara, dan yang terpenting adalah mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Kata kunci: agroindustri, pertanian.
PERBANDINGAN PENGGUNAAN MEDIA BAGAN DAN MEDIA PETA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI TERHADAP PENCAPAIAN KOMPETENSI DASAR Mulyati, Rahayu; Waluya, Bagja
Jurnal Gea Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya pencapaian kompetensi dasar pada pembelajaran geografi di SMP merupakan hal yang menjadi permasalahan saat ini, hal tersebut terjadi karena banyak peserta didik yang merasa jenuh dalam belajar geografi. Media pembelajaran merupakan alat bantu yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar sehingga proses penyampaian materi dapat lebih menarik. Penggunaan media dapat membantu guru agar kegiatan belajar mengajar tidak monoton sehingga murid cenderung jenuh dalam menerima materi yang disampaikan. Media pembelajaran dapat memberikan suasana yang berbeda dalam proses penyampaian materi dan dapat mempengaruhi pencapaian kompetensi dasar, salah satunya ialah media grafis. Media grafis merupakan media yang bersifat kongkrit sehingga mudah dimengerti oleh peserta didik, media ini dapat digunakan untuk mendampingi metode ceramah yang sering digunakan, sehingga penelititan ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh media grafis dalam pembelajaran geografi terhadap pencapaian kompetensi dasar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMP Pasundan 3 Bandung tahun ajaran 2008/2009. Pengambilan sampel dilakukan di dua Kelas, di mana kelas yang dijadikan sampel yaitu kelas VIII A sebagai kelompok Bagan dan kelas VIII C sebagai kelompok Peta. Pada kelompok Bagan menggunakan media bagan dan pada kelompok Peta menggunakan media peta. Teknik pengumpulan data menggunakan tes untuk mengukur kompetensi dasar peserta didik. Butir soal yang digunakan dalam penelititan ini adalah soal-soal pilihan ganda. Analisis data menggunakan statistik deskriptif untuk mendeskripsikan data hasil penelitian, kemudian untuk menguji hipotesis penelitian menggunakan statistik inferensial dengan t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pencapaian kompetensi dasar siswa antara kelompok Bagan dan kelompok Peta pada materi Benua dan Samudra, dengan (tHitung = 2,41 > t Tabel = 1,998), dimana pencapaian kompetensi dasar peserta didik pada kelompok Bagan lebih tinggi daripada kelompok Peta. Terdapat perbedaan pencapaian kompetensi dasar yang signifikan antara sebelum dan sesudah pada kelompok Bagan yang menggunakan media bagan, dengan (tHitung = 15,02 > tTabel = 1,998). Terdapat perbedaan pencapaian kompetensi dasar yang signifikan antara sebelum dan sesudah pada Kelompok Peta yang menggunakan media peta, dengan (tHitung = 12,38> tTabel = 1,998). Perbedaan peningkatan kompetensi dasar antara kelompok Bagan ialah 2,97 di mana kelompok Peta lebih unggul dengan angka 14,12 dan kelompok Peta dengan angka 11,15.Kata kunci: media pembelajaran geografi, kompetensi dasar.
PARIWISATA DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA Nandi, Nandi
Jurnal Gea Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor andalan pemerintah Indonesia untuk menghasilkan devisa negara, oleh karena itu pemanfaatan, pengembangan, pengelolaan dan pembiayaan kawasan wisata harus mendapat perhatian yang serius dari pemerintah dengan melibatkan peran lembaga-lembaga pemerintah, stakeholder yang terkait serta partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam berbagai kebijakan dan program yang akan diambil. Dalam makalah ini pembahasan mengenai kawasan wisata lebih difokuskan pada penguraian konsep dan praktik good governance, proses dan prosedur kelembagaan, pembiayaan pembangunan untuk pengembangan sektor pariwisata yang dikaitkan dengan pendidikan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) di bidang kepariwisataan. Kajian terhadap pengembangan kawasan wisata di Indonesia berdasarkan pada kajian pustaka yang berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang timbul dari pengembangan kawasan wisata merupakan materi yang akan dibahas dalam makalah ini. Kata Kunci: Pengembangan Pariwisata, Pendidikan Kepariwisataan, Sumberdaya Manusia
KONTRIBUSI PEMAHAMAN KONSEP GEOGRAFI TERHADAP SIKAP DAN PERILAKU KERUANGAN PESERTA DIDIK SMA DI KOTA CIREBON Segara, Nuansa Bayu; Pasya, Gurniwan Kamil; Maryani, Enok
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1782

Abstract

Proses pembelajaran geografi mengalami pergeseran orientasi, pembentukan sikap dan perilaku keruangan tidak lagi menjadi prioritas, karena prioritas utama pembelajaran geografi saat ini untuk meluluskan peserta didik dari ujian nasional. Begitu pula yang terjadi di Kota Cirebon, padahal dalam lima tahun terakhir ini Kota Cirebon berkembang pesat sebagai pusat pertumbuhan. Sehingga sikap dan perilaku penduduknya dalam memperlakukan ruang harus dibentuk sejak dini dengan proses pembelajaran geografi. Pemahaman konsep merupakan salah satu aspek yang dibentuk dalam proses pembelajaran geografi, sehingga perlu diketahui seberapa besar pemahaman konsep berkontribusi terhadap sikap dan perilaku keruangan peserta didik? Untuk menjawab pertanyaan penelitian tersebut perlu mengukur variabel-variabel yang terkait. Pemahaman konsep geografi diukur dengan instrumen tes dengan indikator translasi, interpretasi dan ekstrapolasi yang dikaitkan dengan konsep lokasi, jarak dan interaksi. Sedangkan untuk mengukur sikap dan perilaku keruangan menggunakan instrumen non tes dengan skala rating. Hasil identifikasi dan analisis data didapatkan beberapa hal yang menjawab pertanyaan penelitian. Pemahaman konsep geografi berkontribusi rendah terhadap sikap dan perilaku keruangan. Selain itu, sikap keruangan berkontribusi cukup rendah terhadap perilaku keruangan. Hasil tersebut membuktikan teori postulat konsistensi tergantung bahwa hubungan sikap dan perilaku sangat situasional sehingga banyak faktor yang mempengaruhi. Kata kunci: pemahaman konsep, sikap keruangan, perilaku keruangan
PENATAAN RUANG BERDASARKAN FUNGSI KAWASAN DI LERENG GUNUNGAPI SINDORO Murtianto, Hendro
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i1.1679

Abstract

Lereng Gunungapi Sindoro mempunyai lahan kehutanan yang seharusnya berdasarkan fungsinya digunakan sebagai kawasan perlindungan dan konservasi sumberdaya alam, mengalami alih fungsi lahan menjadi lahan pertanian sehingga menimbulkan suatu aspek negatif berupa penggundulan hutan yang kemudian dijadikan lahan pertanian, tanpa memikirkan potensi dampak yang timbul dikemudian hari. Lahan kehutanan yang berada di lereng Gunungapi Sindoro mengalami perubahan fungsi dari kawasan hutan menjadi kawasan budidaya pertanian yang kurang memperhatikan lingkungan alaminya, hal ini terlihat dari pemanfaatan lahan yang tidak sesuai dengan karakteristik fisik dan daya dukung wilayahnya. Untuk menanggulangi dampak negatif yang mungkin terjadi akibat kegiatan tersebut, maka perlu adanya suatu perumusan penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan yang harus ditaati oleh berbagai pihak guna mendukung kelestarian lingkungan dan pemanfaatan ruang yang berkelanjutan. Penentuan fungsi kawasan untuk pemanfaatan tertentu dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan karakteristik fisik dan sosial kemasyarakatan. Penataan ruang perlu dilakukan oleh berbagai pihak baik pemerintah ataupun masyarakat, guna saling mendukung program kelestarian lingkungan dan keruangan suatu wilayah. Pemanfaatan ruang yang sesuai dengan kemampuan wilayahnya diharapkan dapat memberikan dukungan bagi terpeliharanya lingkungan secara lestari dan mendukung bagi kehidupan manusia secara berkelanjutan. Kata Kunci : Penataan Ruang, Fungsi Kawasan

Page 11 of 36 | Total Record : 352