cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
PENGANGGURAN DAN SETENGAH MENGANGGUR DI JAWA BARAT Eridiana, Wahyu
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i1.1732

Abstract

Jawa Barat, saat ini menjadi provinsi yang paling besar jumlah penduduknya di Indonesia. Demikian pula dari segi laju pertumbuhan penduduknya pun tergolong tinggi, karena tidak saja disebabkan oleh pertumbuhan alami, tetapi migrasi dari luar provinsi yang masuk wilayah Jawa Barat cukup besar peranannya. Besarnya jumlah migran masuk ke wilayah Jawa Barat, sebagai akibat dari daerah ini menjadi pusat pembangunan ekonomi yang dimulai beberapa dekade yang lalu hingga kini. Situasi semacam ini mendorong meningkatnya jumlah orang yang masuk usia kerja. Krisis ekonomi yang menjadikan iklim ekonomi kurang menguntungkan, telah menggoyah keseimbangan antara laju kesempatan kerja dengan angkatan kerjanya. Pasca krisis tersebut, orang yang diputus hubungan kerja dan juga orang baru yang memasuki ke pasar kerja terus bertambah jumlahnya, sehingga terjadi surplus tenaga kerja. Golongan ini yang belum terserap lagi dalam dunia kerja di Jawa Barat pada tahun 2004 yang lalu tercatat sebesar 2.046.746 orang atau sebesar 12,3 persennya dari jumlah angkatan kerja. Di samping orang yang menganggur, juga di Jawa Barat orang yang tergolong setengah menganggur jumlahnya lebih besar lagi. Jumlah mereka mencapai 3.628.393 orang atau sebesar 25 persen dari jumlah angkatan kerja. Banyaknya penganggur dan setengah menganggur adalah suatu fenomena ketenagakerjaan di Jawa Barat saat ini. Kata kunci: pengangguran, tenaga kerja.
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ZONASI KERENTANAN KEBAKARAN PERMUKIMAN KASUS DI KOTA BANDUNG BAGIAN BARAT Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i1.1656

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah 1) mengkaji ketelitian citra Quickbird dalam memperoleh parameter-parameter potensi kebakaran daerah perkotaan untuk menentukan tingkat kerentanan kebakaran permukiman, 2) mengestimasi potensi kebakaran berdasarkan parameter yang diperoleh dari citra Quickbird, 3) memetakan zonasi tingkat kerentanan kebakaran permukiman dengan bantuan Sistem Informasi Geografi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu interpretasi visual citra penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang digunakan, yaitu citra Quickbird. Uji interpretasi citra Quickbird dilakukan dengan menggunakan metode Short, sedangkan pengolahan dan analisis data menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan cara pengharkatan (scoring), pembobotan, dan overlay sehingga menghasilkan zonasi kerentanan kebakaran permukiman. Data primer yang digunakan adalah Citra Quickbird Kota Bandung Bagian Barat, hasil survei lapangan, dan data sekunder dari instansi terkait. Variabel untuk zonasi kerentanan kebakaran permukiman dalam penelitian ini terdapat dua variabel utama yaitu, variabel potensi kebakaran dan variabel ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran. Variabel potensi kebakaran terdiri atas kepadatan bangunan rumah mukim, pola bangunan rumah mukim, jenis atap bangunan rumah mukim, lokasi sumber air, lokasi permukiman dari jalan utama, lebar jalan masuk, kualitas jalan, kualitas bahan bangunan, dan pelanggan listrik. Adapun variabel ketersediaan fasilitas pemadam kebakaran, yaitu fasilitas air hydrant, fasilitas alat pemadam kebakaran ringan (APAR), alat pemadam kebakaran berat (APAB), dan tandon air. Hasil uji ketelitian interpretasi untuk kepadatan bangunan rumah mukim, yaitu sebesar 92,3%. Pola bangunan rumah, yaitu sebesar 96,15%, jenis atap bangunan rumah mukim, yaitu 100%, lebar jalan masuk permukiman, yaitu 100%, dan kualitas jalan, yaitu 92,3%. Hasil pemetaan kerentanan kebakaran di daerah penelitian dibagi atas tiga kelas, yaitu rentan, agak rentan, dan tidak rentan. Di daerah penelitian 46,7% atau seluas 1343,2 Ha termasuk kategori rentan, 30,4% atau seluas 871,7 Ha termasuk kategori tidak rentan, dan 22,9% atau seluas 660,1 Ha termasuk kategori agak rentan. Kata Kunci : Citra Quickbird, Sistem Informasi Geografis, Kerentanan Kebakaran permukiman.
PENGENDALIAN OVERLAND FLOW SEBAGAI SALAH SATU KOMPONEN PENGELOLAAN DAS Suryana, Suryana
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1698

Abstract

Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dilakukan secara integratif dari komponen biofisik dan sosial budaya masyarakat. Komponen biofisik yang dibahas dalam tulisan ini berupa unsur hidrologi pada kajian overland flow untuk mengetahui air yang terlimpas dan menjadi masukan bagi kondisi air permukaan sebagai pemasok banjir. Jika overland flow yang ada di DAS besar, maka diperlukan suatu tindakan strategis dalam pengelolaan DAS, yaitu berdasarkan prinsip menurunkan jumlah overland flow dan memperbanyak infiltrasi air tanah sebagai cadangan dari sistem DAS tersebut melalui kegiatan yang bersifat fisik maupun vegetatif. Kata kunci: Overland flow, pengelolaan DAS
PENGEMBANGAN INDUSTRI MEBEL SEBAGAI UPAYA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BERPRESTASI MASYARAKAT PASEH KEBUPATEN SUMEDANG Kamsori, Mochammad Eryk
Jurnal Gea Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan industri merupakan bagian usaha jangka panjang untuk mengubah struktur ekonomi yang kokoh dan seimbang antara pertanian dan Industri. Pembangunan industri memberikan corak baru bagi kehidupan masyarakat. Dengan adanya industri masyarakat dapat lebih maju dan berkembang. Status proses perubahan ke arah lebih maju harus ditunjang oleh sikap dan perilaku masyarakat untuk menerima perubahan-perubahan yang terjadi. Untuk itu, sumber daya manusia yang berkualitas perlu dipersiapkan. Umumnya etos kerja yang dimiliki masyarakat Indonesia sangat kurang, apalagi didaerah pedesaan yang hanya mengandalkan pada sumber daya alam yang ada. Masyarakat pedesaan mempunyai motivasi berprestasi yang sangat minim, mereka hanya mengerjakan apa yang sudah jadi kebiasaan turun temurun dari orang tua mereka. Kondisi di atas terjadi juga terhadap masyarakat di Kecamatan Paseh, Kabupaten Sumedang. Namun begitu pemerintah setempat tidak tinggal diam dan berusaha untuk mengembangkan potensi ekonomi utama yaitu industri kerajinan mebel seperti lemari, kursi, meja dan macam-macam perabot rumah tangga lainnya. Dengan demikian diharapkan masyarakat Paseh Kabupaten Sumedang untuk berkembang. Kata kunci: motivasi, prestasi kerja.
PEMODELAN SPASIAL PROBABILISTIK INTEGRASI MARKOV CHAIN DAN CELLULAR AUTOMATA UNTUK KAJIAN PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN SKALA REGIONAL DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Susilo, Bowo
Jurnal Gea Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompleksitas fenomena dunia nyata merupakan kendala utama yang dihadapi peneliti untuk mengkajinya secara langsung. Perubahan penggunaan lahan merupakan fenomena kompleks, yang dipicu beragam faktor dan menimbulkan berbagai dampak. Pemodelan merupakan metode yang banyak digunakan untuk kajian fenomena kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan penggunaan lahan, membuat simulasi dan memetakan prediksi perubahan penggunaan lahan. Kajian dilakukan pada skala regional dan berlokasi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Perubahan penggunaan lahan yang dikaji adalah periode tahun 1996 – 2000, selanjutnya digunakan sebagai basis prediksi perubahan penggunaan lahan tahun 2000 – 2006. Metode yang digunakan adalah integrasi Markov chain dan Cellular Automata (CA). Hasil penelitian menunjukkan perubahan penggunaan lahan yang terjadi selama periode 1996 – 2000 adalah seluas 1.720,2 ha. Kategori perubahan yang paling luas adalah perubahan dari sawah menjadi lahan terbangun yaitu 1.526,1 ha. Integrasi Markov Chain dan Cellular Automata dapat digunakan untuk menyusun prediksi secara keruangan, perubahan penggunaan lahan tahun 2000 – 2006 di daerah penelitian. Prediksi keruangan hasil integrasi Markov chain dan Cellular Automata bersifat eksplisit sehingga dapat digunakan untuk membuat peta prediksi perubahan penggunaan lahan Kata kunci: perubahan penggunaan lahan, pemodelan, Markov chain dan Cellular Automata
OTONOMI DAERAH DALAM PENGEMBANGAN SEKTOR PAWIWISATA Nur, Djakaria M
Jurnal Gea Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sektor pariwisata merupakan salah satu sektor pembangunan yang perlu mendapat perhatian dari kita semua khususnya dari pemerintah, selain sektor-sektor lainnya. Sektor pariwisata menjadi penting karena selain dapat meningkatkan pendapatan asli daerah, juga dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat baik masyarakat setempat maupun masyarakat yang terlibat dalam kegiatan wisatawan sehingga tingkat pendapatan masyarakat tersebut dapat meningkat dan dapat memicu pertumbuhan ekonomi daerah. Dalam era otonomi daerah yang saat ini sudah digulirkan dan sudah berjalan di seluruh wilayah Indonesia diharapkan sektor pariwisata ini dapat berkembang sesuai dengan harapan. Dengan otonomi daerah, pemerintah daerah diberi kewenangan untuk melaksanakan pembangunan di daerahnya masing-masing dari mulai perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang untuk berbagai kepentingan termasuk untuk pengembangan pariwisata. Kata kunci: otonomi daerah, pariwisata.
DINAMIKA FENOMENA DEMOGRAFIS PADA MASYARAKAT KECAMATAN BUAH DUA KABUPATEN SUMEDANG Eridiana, Wahyu
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1781

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Buah Dua Kabupaten Sumedang, dengan fokus kajian fenomena demografis pada keluarga di kecamatan ini. Jumlah sampel sebanyak 49 responden dan teknik pengujiannya menggunakan teknik perhitungan persentase. Dari hasil penelitian diperoleh perbedaan usia kawin pertama wanita antara generasi tua dan generasi muda. Rata-rata usia pernikahan pertama wanita generasi tua di bawah 15 tahun dan generasi muda 17 tahun. Perubahan ini disebabkan oleh meningkatnya pendidikan pada wanita generasi muda. Dalam Jumlah anak yang diinginkan, pasangan keluarga generasi tua rata-rata 2 anak dan generasi muda mulai dari 1 hingga 3 anak. Kelahiran anak pertama setelah menikah pada pasangan keluarga generasi tua rata-rata pada tahu ke 3 dan generasi muda pada tahun ke 2. Setelah dihubungkan dengan alasan perencanaan pada awal memasuki jenjang berkeluarga , prioritas kedua generasi tersebut tidak memilih punya anak dulu tetapi memiliki harta dulu. Jumlah anak yang dianggap ideal dalam keluarga baik pasangan keluarga generasi tua maupun generasi muda antara 2 – 3 anak dan kedua generasi memandang jumlah 3 anak dalam keluarga sudah dinilai banyak atau keluarga besar. Baik pasangan keluarga generasi tua maupun muda pada masyarakat Kecamatan Buah Dua berhaluan keluarga kecil. Sedikitnya rata-rata anak yang dimiliki keluarga terkait dengan penilai negatif seperti “supaya kebutuhan keluarga tercukupi”, dan “tidak mau direpotkan oleh anak “.Penilaian semacam ini artinya identik dengan anak sebagai beban ekonomi dan anak sebagai beban psikologis dalam keluarga. Kata kunci: demografis, keluarga generasi tua, keluarga generasi muda.
PEMBERDAYAAN SUMBER DAYA MANUSIA INDONESIA DI TENGAH KRISIS GLOBAL Yulifar, Lelly
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i1.1678

Abstract

Krisis ekonomi di Indonesia telah mengakibatkan krisis multidimensi yang mengubah tatanan berpolitik, bernegara, stabilitas keamanan, dan berbagai masalah sosial. Karena itu, di tengah-tengah kondisi yang serba sulit, perlu kiranya kita semua berkontemplasi dan mencari jalan ke luar agar sumber daya manusia kita bukan hanya sekedar sebagai kekuatan dari segi kuantitas, tapi dari kualitas, agar tetap ‘struggle’ di tengah-tengah krisis global ini. Terdapat beberapa variabel yang menentukan dalam upaya ke arah peningkatan kualitas SDM. Di antaranya, harus dimilikinya hasrat berorientasi ke masa depan, inovatif, eksploratif, memiliki kebutuhan untuk berprestasi, dimiliknya semangat atau motivasi bekerja oleh tiap individu dan upaya-upaya ke arah peningkatan kompetensi agar SDM kita memiliki posisi tawar di dalam melakukan bargaining ketika memasuki dunia kerja, baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk itu, peranan lembaga-lembaga yang dapat memberdayakan SDM seperti lembaga pendidikan, pemerintah, dan swasta pada praktiknya harus bisa melakukan program masing-masing ataupun saling bekerja sama.Kata kunci: Pemberdayaan SDM, krisis global.
PERANAN GURU GEOGRAFI DALAM MITIGASI BENCANA LONGSOR LAHAN Susilawati, Susilawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i1.1713

Abstract

Bencana alam adalah peristiwa alamiah, walau demikian manusia dengan keilmuan yang dimiliki, sekiranya dapat memprediksi gejala-gejala, tanda-tanda, pertambahan aktivitas sebuah fenomena dan usaha-usaha memperkecil jumlah korban (mitigasi). Selama ini penanggulangan bencana alam semata-mata tugas dan kewajiban lembaga yang berwenang. Karena itu, diperlukan peran aktif dari berbagai elemen khususnya mereka yang mendalami dan berkecimpung di bidang kealaman. Diantara berbagai elemen tersebut, termasuk diantaranya adalah peranan guru geografi. Guru-guru Geografi dapat mengambil peranan langsung dalam mengisi keterbatasan SDM profesional di Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG). Tentunya dengan dibekali dan diberikan pelatihan terlebih dulu. Beberapa hal yang dapat dibekali untuk meningkatkan kompetensi guru geografi dalam mitigasi bencana antara lain penguasaan dalam survei lapangan, penyelidikan, pengamatan, penyuluhan, pemetaan dan termasuk keterampilan evakuasi. Kata Kunci: Peranan guru, Mitigasi bencana.
MODEL PEMBELAJARAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i2.1737

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknik informasi, telah dimanfaatkan pada bidang pemetaan dengan menggunakan komputer sebagai bagian untuk menyajikan data dan informasi keruangan. Sehingga, bentuk, pola dan sistem pada kartografi menjadi acuan dalam penyajian informasi keruangan. SIG merupakan sistem yang berakar pada kartografi yang berperan untuk menyajikan, menampilkan, mengedit, menganalisis dan mencetak data keruangan yang hasilnya berupa peta, grafik dan data keruangan. Proses pembelajaran mata pelajaran geografi dengan kajian SIG di SMA muncul masalah, seperti : 1) Bagaimana model pembelajaran kajian SIG dan ketersediaan perangkat penunjang Proses pembelajaran SIG pada mata pelajaran Geografi di Sekolah Menengah Atas(SMA)? Sedangkan untuk memperoleh dan memecahkan masalah tentang Proses pembelajaran mata pelajaran Geografi kajian SIG adalah: 1) Menganalisis model pembelajaran kajian SIG dan ketersediaan perangkat penunjang Proses pembelajaran SIG pada mata pelajaran Geografi di Sekolah Menengah Atas (SMA). Model pembelajaran SIG di SMA merupakan keterampilan yang sangat menunjang dalam proses pembuatan peta. Keterampilan ini perlu ditunjang fasilitas pembelajaran. Kesimpulan yang diperoleh adalah : 1) SIG merupakan kajian keterampilan pada mata pelajaran geografi, 2) Model pembelajaran kajian SIG harus dilakukan secara bertahap dengan berbagai latihan dalam menyajikan informasi keruangan dengan menggunakan Komputer. Kata Kunci: Model Pembelajaran, Sistem Informasi Geografi.

Page 9 of 36 | Total Record : 352