cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
MEMAHAMI BAHAYA GEMPA DAN TSUNAMI MELALUI PEMBELAJARAN GEOGRAFI Ruhimat, Mamat; Malik, Yakub
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1662

Abstract

Gempa bumi yang diikuti tsunami di lepas pantai barat Nangroe Aceh Darussalam pada penghujung Desember 2004 yang telah menyebabkan jatuhnya korban manusia lebih dari 150.000 jiwa di beberapa negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia. Isak tangis, haru biru dan air mata yang belum kering karena bencana di NAD, tiga bulan berikutnya, tepatnya pada akhir Maret 2005 Nias juga telah diguncang gempa bumi yang kekuatannya tidak terlalu jauh bila dibandingkan dengan di Aceh. Tak cukup sampai di situ saja, daerah-daerah lain di Pulau Sumatera dan Jawa kemudian disusul dengan terjadinya gempa tektonik, seperti Padang, Palembang, dan bahkan juga Kota Bandung. Pembicaraan gempa belum selesai, pada April 2005 pun republik ini dikejutkan dengan adanya beberapa gunungapi yang aktivitas vulkaniknya mengalami peningkatan. Akibat rentetan peristiwa di atas, istilah-istilah gempa, tsunami, daerah patahan, subduksi, epicentrum serta erupsi saat ini menjadi istilah yang sangat populis di kalangan penduduk Indonesia ! Namun demikian, meski gempa bumi merupakan peristiwa biasa mengingat posisi geologis Indonesia yang berada pada jalur subduksi antar lempeng litosfer, pada saatnya terjadi gempa masyarakat kita seperti menghadapi peristiwa baru. Seringnya terjadi gempa, sejatinya dapat dijadikan pelajaran berarti untuk menentukan sikap positif jika suatu saat terjadi lagi. Bahkan, disisi lain, dunia pendidikan pun digugat, karena belum mampu memberikan pencerahan yang mencerdaskan, sehingga ada sebagian stakeholders pendidikan yang merasa perlu memasukkan pendidikan kebencanaan melalui struktur kurikulum nasional. Mencermati karakteristik serta ruang lingkup esensi keilmuannya, sejatinya pembelajaran geografi dapat menjadi wahana pencerdasan dalam menghadapi bahaya gempa bumi dan bencana lainnya. Kata kunci : gempa, tsunami dan pembelajaran geografi
URGENSI PENENTUAN DAN PENEGAKAN HUKUM KAWASAN SEMPADAN PANTAI Sugito, Nanin Trianawati; Sugandi, Dede
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1703

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari sekitar 17,500 pulau besar dan kecil dengan panjang garis pantai kurang lebih 81.000 km. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara dengan kondisi geografis yang sebagian besar wilayahnya merupakan daerah pantai. Kawasan pantai umumnya sangat menarik para nelayan untuk mendirikan perumahan karena ingin dekat dengan tempat bekerja mereka sebagai penangkap ikan di laut. Tapi pada kenyataannya sekarang banyak nelayan yang kesulitan untuk berlabuh di tepi pantai karena sudah banyak bangunan milik perorangan atau badan usaha privat yang didirikan di garis pantai bahkan menjorok ke laut. Tentu saja fenomena ini telah melunturkan fungsi sosial dari laut sebagai aset yang merupakan milik seluruh manusia. Kawasan pantai merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap perubahan, baik perubahan akibat ulah manusia maupun perubahan alam. Desakan kebutuhan ekonomi menyebabkan wilayah pantai yang seharusnya menjadi wilayah penyangga daratan menjadi tidak dapat mempertahankan fungsinya sehingga kerusakan lingkungan pesisir pun terjadi. Untuk mencegah terjadinya kerusakan pantai lebih jauh, diperlukan adanya kawasan sempadan pantai. Kawasan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya abrasi pantai dan melindungi pantai dari kegiatan yang dapat mengganggu/merusak fungsi dan kelestarian kawasan pantai. Garis sempadan pantai ditentukan berdasarkan bentuk dan jenis pantai daerah yang bersangkutan. Penetapan garis sempadan pantai harus ditindaklanjuti dengan penegakan hukum (law enforcement) sehingga dapat bersifat tegas terhadap pelanggaran yang terjadi, untuk semua pihak tanpa kecuali. Kata kunci: Kawasan, sempadan pantai.
ETOS KERJA DAN KEGAIRAHAN DALAM KEHIDUPAN PEMBANGUNAN EKONOMI Ridwan, Ita Rustiati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 1 (2006)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i1.1728

Abstract

Etos kerja merupakan modal utama dalam pembangunan masyarakat. keberhasilan suatu bangsa membentuk dirinya menjadi bangsa besar dan maju tidak cukup bermodalkan pada kekayaan alamnya tetapi tergantung pada pola kerja bangsa tersebut yang didasari oleh keyakinan yang kuat untuk berhasil. Kemajuan teknologi hanya bisa tercapai apabila terjadi peningkatan produktivitas manusianya, karena manusianya lebih sehat, lebih terampil, lebih terdidik, dan lebih termotivasi untuk bekerja. Etos kerja dan moral yang tinggi akan memfungsikan teknologi tersebut yang akan melahirkan kemudahan bagi manusia untuk memenuhi kebutuhannya, menghasilkan sesuatu yang berguna, efisien, bernilai tambah, meningkatkan mutu kerja, optimalisasi pemanfaatan sumber daya dan mengurangi kerusakan terhadap alam. Mengutamakan etos kerja yang tinggi diikuti dengan kemampuan sumber daya lainnya dalam rangka meningkatkan semangat kerja tentu akan berorientasi kepada peningkatan mutu pembangunan terutama pembangunan ekonomi kita. Oleh karena itu, dalam makalah ini mengangkat tentang etos kerja dan kegairahan dalam kehidupan pembangunan ekonomi, tentunya etos kerja dilihat dari berbagai sudut pandang para ahli dan agama, maupun negara. Kata kunci: Etos kerja, kewirausahaan, pembangunan ekonomi.
LADA PERDU SEBAGAI ALTERNATIF DALAM PEMANFAATAN LAHAN KEHUTANAN DAN PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN Rajati, Tati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i1.1644

Abstract

Ditinjau dari habitatnya, tanaman lada mampu tumbuh dengan baik pada ruang lahan di naungan tegakan hutan. Oleh karena itu tanaman lada merupakan alteratif jenis tanaman pertanian yang dapat dipertimbangkan untuk pengembangan agroforestri pada lahan hutan. Wahid (1984) mengemukakan bahwa untuk tumbuh baik lada membutuhkan cahaya minimal 50%. Syakir (1994) menyatakan bahwa peningkatan intensitas radiasi cahaya dapat meningkatkan indeks pertumbuhan dan laju tumbuhan tanaman dengan hasil terbaik pada naungan 27%. Indriasanti (1998) menyatakan pertumbuhan tanaman lada perdu terbaik diperoleh pada intensitas radiasi 50 - 75% atau setara dengan 173.17 - 297.1 0 kal/cm2/hari. Lada perdu selain dapat dipolatanamkan dengan tanaman tahunan, juga dapat dikombinasikan dengan tanaman pangan semusim, seperti jagung dan kacang tanah. Penanaman dapat dilakukan dalam bentuk tumpang sari ataupun sistem jalur (strip cropping). Tanaman jagung yang menghendaki intensitas cahaya penuh dan memiliki tajuk yang tinggi dapat berfungsi sebagai naungan bagi lada perdu, sementara itu kacang tanah dapat membantu ketersediaan unsur hara nitrogen. Pada pola tanam tersebut biomassa sisa panen jagung dan kacang tanah dapat dikembalikan sebagai sumber bahan organik, sehingga diharapkan pemberian hara dari pupuk anorganik, dapat dikurangi (Syakir et al., 1999). Keuntungan penanaman lada perdu, yaitu : (1) dapat meningkatkan efisiensi penggunaan lahan, (2) mampu memberikan nilai tambah yang cukup signifikan, dan (3) risiko kematian tanaman akibat cekaman kekeringan relatif lebih kecil dibandingkan penanaman secara monokultur (tanpa naungan).Kata kunci: Lada perdu, pemanfaatan lahan, kehutanan, kualitas lingkungan.
SARANA AKOMODASI SEBAGAI PENUNJANG KEPARIWISATAAN DI JAWA BARAT Eridiana, Wahyu
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i1.1693

Abstract

Jawa Barat adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kekayaan obyek wisata cukup banyak dan beragam; obyek wisata alam, wisata budaya dan wisata belanja terdapat di provinsi ini. Pada hari-hari libur menjadi fenomena sosial tersendiri, kendaraan pribadi, bus-bus wisata dari luar maupun dari dalam provinsi memadati obyek-obyek wisata di berbagai tempat. Demikian pula wisatawan yang memanfaatkan fasilitas akomodasi (hotel dan penginapan) menjadi lebih ramai bersamaan dengan suasana liburan tersebut. Pada tahun 2005 wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang memanfaatkan jasa akomodasi di Jawa Barat sebesar 7.237.059 orang dan dapat dilayani oleh 1.278 usaha akomodasi. Rata-rata tingkat hunian kamar yaitu sebesar 37%-nya untuk hotel berbintang dan 32% nya untuk jasa akomodasi lainnya. Tamu mancanegara sebagian besar menginap di hotel-hotel berbintang dan mereka rata-rata menginap selama 3 hari, sedangkan tamu nusantara (domestik) sebagian besar menginap di jasa akomodasi lainnya dan lama menginap rata-rata 1,3 hari. Seluruh wisatawan tersebut sampai saat ini dapat dilayani oleh fasilitas akomodasi yang ada. Kata kunci: sarana akomodasi, kepariwisataan.
PENGUATAN PEMBELAJARAN PETA GEOPOLITIK DALAM PENGEMBANGAN NILAI KEBANGSAAN Sudarma, Momon
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i2.1786

Abstract

Dengan memperhatikan pembedaan konseptual antara peta dengan pemetaan atau peta geografis dan geopolitis ini, kita bisa menemukan ketegasan, bahwa persoalan dasar bangsa ini, tidak sekedar pada masalah peta geografis, tetapi hal yang jauh lebih krusial lagi itu, yakni terkait dengan masalah peta geopolitis. Warga negara kita, umumnya, dan pemerintah pada khususnya, belum mampu menunjukkan kemampuan dalam melakukan pemetaan secara strategis, sehingga bisa memecahkan masalah-masalah kebangsaan dengan benar. Hal sederhana, sebagai sebuah negara besar, dan butuh kelengkapan administratif, peta geografis tetap menjadi penting. Terlebih lagi dengan kebutuhan kita untuk melakukan pemetaan ulang mengenai daerah-daerah perbatasan, atau pulau-pulau terluar. Kebutuhan akan peta geografis tetap dibutuhkan. Namun demikian, bila dikaitkan dengan perkembangan informasi dan teknologi komunikasi saat ini, kebutuhan akan peta geografis dapat dengan mudah dipenuhi. Sebagaimana seorang cucu yang masih muda belia dengan memanfaatkan ponsel terbaru saat ini. Bahkan, bisa jadi, bangsa kita saat ini, rakyat Indonesia saat ini, tidak perlu lagi bersusah-susah untuk mencari, membeli atau membuat peta mengenai wilayah negara Indonesia. semua kebutuhan itu, bahkan yang jauh lebih detail dari itu, yaitu dengan menggunakan teknologi GPS (global positioning system). GPS adalah sistem untuk menentukan lokasi dan navigasi secara global dengan menggunakan satelit. Teknologi ini pertama kalinya dikenalkan oleh US DOD (United States Department of Defense) yaitu Departemen Pertahanan Amerika Serikat.4 GPS memungkinkan pengguna mengetahui letak posisi geografis diri kita baik itu dari segi lintang, bujur, dan ketinggian di atas permukaan laut. Dengan memanfaatkan teknologi ini, posisi kita di muka bumi, dapat diketahui dengan tepat.
LINGKUNGAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM PENGEMBANGAN KONSEP KERUANGAN Manakane, Susan E.
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i2.1632

Abstract

Lingkungan sebagai sumber belajar dengan metode karya wisata merupakan hal yang perlu dilakukan oleh guru adalah salah satu hal penting yang perlu terus ditingkatkan oleh tiap individu, karena dengan kreativitas seseorang dapat terus meningkatkan kualitas hidupnya. Sehingga dirasa perlu untuk terus meningkatkan kreativitas yang dimiliki peserta didik agar kualitas hidup mereka dapat terus meningkat. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kreatif peserta didik adalah dengan penerapan metode pembelajaran yang bervariasi, dalam penelitian ini metode yang dipilih dan kemudian dibandingkan adalah metode pembelajaran karya wisata dengan lingkungan sebagai sumber belajar dan metode penugasan. Penelitian ini merupakan sebuah penelitian eksperimen dengan menggunakan desain Nonequivalent (Pretest and posttest) control group design. Adapun pemilihan kelas yang kemudian dijadikan sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol berdasarkan nilai capaian ketuntasan belajar mengajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata peserta didik kelas eksperimen dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar dengan metode karya wisata untuk konsep keruangan (86,8), hasil test (82,4), hasil belajar (8,6) dan kelas kontrol dengan menggunakan metode penugasan (39,4), hasil belajar (5,5) sangat berbeda, sehingga dapat dikatakan bahwa kedua metode karya wisata dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar dapat digunakan sebagai alat untuk mengembangkan konsep keruangan, hasil test, hasil belajar peserta didik. Seluruh indikator konsep keruangan, hasil test dan hasil belajar mengalami peningkatan yang signifikan, namun baik pada kelas eksperimen konsep yang dapat dikembangkan adalah konsep lokasi, konsep tempat, dan konsep hubungan timbal balik. Kata kunci : lingkungan, sumber belajar, konsep keruangan.
PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA BERBASIS MASYARAKAT UNTUK MENGATASI MASALAH PENGANGGURAN Waluya, Bagja
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i1.1683

Abstract

Tingginya tingkat pengangguran di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor terutama terletak pada kualitas sumber daya manusianya. Salah satu aspek yang berhubungan dengan sumber daya manusia adalah tingkat pendidikan dan keterampilan yang dimiliki masyarakat Indonesia masih rendah juga akibat tidak relevannya pendidikan yang ditamatkan dan keterampilan yang dimiliki pencari kerja dengan tuntutan lapangan kerja. Urgensi pengentasan pengangguran didasarkan pada beberapa pertimbangan dan kecenderungan yang menyangkut kesejahteraan masyarakat, pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik dan keamanan serta tuntutan dan kebutuhan pasar dunia dalam arus globalisasi. Berbagai program telah banyak dilakukan dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia Indonesia sehingga masalah pengangguran dapat diminimalisasi. Salah satunya adalah melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia berbasis peran serta masyarakat yang dinilai penting, selain karena terbatasnya kemampuan pemerintah dalam mendanai pembangunan kualitas sumber daya manusia, juga karena hakikat pendidikan adalah emansipatoris, yang bermakna partisipatoris dalam gerakan memberdayakan manusia. Upaya-upaya pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan sumber daya manusia guna mengatasi pengangguran adalah dengan melalui pelatihan yang berdasarkan kompetensi yang dibutuhkan, memberdayakan sanggar-sanggar kegiatan belajar yang ada dengan berbagai keterampilan ekonomi produktif, meningkatkan hubungan antara lembaga pendidikan dan industri sehingga relevansi pendidikan dapat ditingkatkan, memperkuat landasan kultural pendidikan sebagai terapi budaya, dan mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah yang tangguh, serta membangkitkan karsa di tengah-tengah masyarakat. Kata kunci: Kualitas SDM, berbasis masyarakat, masalah pengangguran.
FRANCHISE SEBAGAI SALAH SATU BIDANG USAHA INDUSTRI Supardi, Endang; Mulyati, Sri
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i2.1718

Abstract

Kesuksesan suatu perusahaan tidak selalu berangkat dari barang atau jasa yang spektakuler dan inovatif. Sering kali seorang wirausaha hanya memasuki celah pasar yang kosong dan membuat langkah tepat untuk menyediakan barang atau jasa yang biasa kepada pelanggan yang menerimanya. Franchise memberikan bentuk unik pada kesempatan bisnis, melibatkan pengaturan yang formal dan suatu tatanan hubungan yang memerintahkan cara suatu bisnis harus dijalankan. Perusahaan franchise biasanya memberi sistem (franchisee) tersebut dengan nama, logo, produk, prosedur pengoperasian dan lain-lain. Kita ingin menekankan bahwa franchise telah membuat kepemilikan bisnis memungkinkan bagi siapa saja yang telah dapat memasuki bisnis keluarga, atau dengan kata lain tidak akan pernah melepaskan diri dari pekerjaan yang digaji. Dalam hal ini, franchise telah memberikan sumbangan keberhasilan bagi banyak para wirausaha bidang industri makanan dan minuman. Untuk dapat melaksanakan usaha franchise, terlebih dahulu kita harus mengetahui konsep francise itu sendiri karena usaha ini melibatkan franchisor dan franchisee. Seperti usaha lainnya, franchise memiliki kelebihan dan kekurangan yang harus dipahami oleh franchisor dan franchisee. Kata kunci: Franchise, usaha industri.
PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN GEOGRAFI MELALUI PENGEMBANGAN MEDIA PENDIDIKAN Setiawan, Iwan
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i2.1742

Abstract

Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran geografi adalah adanya penilaian dari sejumlah siswa bahwa pelajaran tersebut tidak menarik dan membosankan. Di samping itu, masyarakat menilai pelajaran geografi belum berhasil memenuhi harapan dalam mengenalkan fenomena atau objek geografi kepada siswa, baik pada skala global maupun skala lokal. Banyak siswa yang tidak mengetahui dengan persis letak negara di antara negara lainnya. Selain itu, diantara mereka juga banyak yang tidak mengenal kondisi fisik dan sosial-budaya di daerahnya. Permasalahan tersebut tidak lepas dari kemampuan guru geografi itu sendiri dan minimnya penggunaan media pembelajaran. Padahal jika penggunaan media pembelajaran lebih bervariasi, termasuk dengan media audio-visual, pembelajaran geografi bisa lebih menarik. Apalagi jika siswa diajak ke lapangan untuk mengenal kondisi fisik dan sosial budaya daerahnya. Permasalahan yang muncul adalah pada kemampuan guru untuk memahami fenomena yang ada di daerahnya dan ketersediaan media audiovisual di sekolah serta kemampuan guru untuk menampilkan fenomena tersebut melalui media audio-visual. Di tengah keterbatasan yang ada, maka kemitraan antar guru dan antara guru dengan lembaga pendidikan tinggi sangat diperlukan untuk bersama-sama mengatasi permasalahan yang dihadapi, khususnya lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan geografi atau ilmu geografi. Kata Kunci: Kualitas, Pembelajaran, Geografi, Media Pendidikan.

Page 10 of 36 | Total Record : 352