cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
PENGARUH GENIUS LEARNING METHOD TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP GEOGRAFI PESERTA DIDIK KELAS X DI SMAN 1 KASOKANDEL MAJALENGKA Nur Fajriah, Siti Afifah
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i1.3360

Abstract

Lemahnya pemahaman konsep geografi peserta didik di SMA Negeri 1 Kasokandel dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode pembelajaran genius learning Method. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh genius learning methods terhadap pemahaman konsep. Metode yang digunakan adalah metode quasi eksperimen dengan desain non equivalent pretest postest design. Subjek penelitian terdiri dari tiga kelas yang berbeda: kelas eksperimen pertama menggunakan perlakuan genius learning method teknk rotasi refleksi, kelas eksperimen kedua menggunakan genius learning method teknik operan kertas ide dan satu kelas kontrol yang menggunakan expository learning method. Instrumen penelitian menggunakan tes, observasi, dan lembar tugas. Analisis data menggunkan statistik uji normalitas, uji homogenitas dan uji hipotesis menggunakan bantuan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan pemahaman konsep dari peserta didik sebelum dan setelah pembelajran di kelas eksperimen pertama dan kedua, dan ada perbedaan pemahaman konsep dari peserta didik sebelum dan setelah pembelajaran pada kelas kontrol. Selanjutnya, tidak ada perbedaan pemahaman konsep setelah pembelajaran antara kelas eksperimen pertama dan kedua. Sementara itu, antara kelas eksperimen pertamadan kelas kontrol ada perbedaan pemahaman konsep pseserta didik. Hasil yang sama ditunjukkan diantara kelas eksperimen kedua dan kelas kontrol. Kendala dilapangan diantaranya keterbatasan waktu penelitian, penguasaan langkah-langkah metode pembelajaran, dan sarana prasarana sebagai penunjang pembelajaran.Kesimpulannya, genius learning method berpengaruh terhadap pemahaman konsep peserta didik.Rekomendasi dalam penelitian ini adalah agar guru dapat mencoba menggunakan genius learning method, selain teknik rotasi refleksi dan operan kertas ide juga terdapat teknik penutup sesi pembelajaran, membicarakan topik, “ngobrol” santai, donat dan komentarpenutup yang dapat digunakan pada materipelajaran yang lain dengan lebih memotivasi peserta didik dan penggunaan waktu yang efisien.Kata kunci: genius learning, expository learning, pemahaman konsep.
MODEL PROLEM BASED LEARNING TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH Lestari, Tuti Rina
Jurnal Gea Vol 15, No 1 (2015)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitan dilatarbelakangi pentingnya kemampuan memecahkan masalah agar peserta didik membangun pemikiran konstruktif, sistematis, fokus dalam menganalisis masalah melalui model problem based leraning (PBL). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh model PBL terhadap kemampuan memecahkan masalah. Metode yang digunakan ekperimen dengan post-test only, non-equivalent control group design. Penelitian dilakukan di SMA IT As-Syifa Boarding School Subang. Sampel penelitan ini, kelas eksperimen XI IIS 1 jumlah 24 dan kelas kontrol XI IIS 2 jumlah  25. Teknik pengumpulan data dengan tes dan observasi. Teknik analisis data menggunakan uji normalitas, uji homgenitas dan uji-t. Hasil penelitian membuktikan bahwa: 1) tidak terdapat perbedaan kemampuan mendefinisikan masalah antara kelas eksperimen dengan kontrol; 2) terdapat perbedaan kemampuan mengidentifikasi masalah antara kelas eksperimen dengan kontrol; 3) terdapat perbedaan kemampuan merumuskan alternatif solusi masalah antara kelas eksperimen dengan kontrol; 4) tidak terdapat perbedaan kemampuan menentukan solusi terbaik antara kelas eksperimen dengan kontrol; dan 5) terdapat perbedaan kemampuan memecahkanan masalah antara kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Berdasarkan hasil analisis, PBL berpengaruh terhadap kemampuan memecahkan masalah di SMA IT As-Syifa Boarding School Subang. Kemampuan memecahkan masalah melalui model PBL memerlukan sarana informasi yang bervariasi. Perlu adanya studi lanjutan  pada kemampuan mendefinisikan masalah  dan menentukan solusi terbaik dalam memecahkan masalah.Kata kunci: kemampuan memecahkan masalah, model pembelajaran problem based learning (PBL)
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD UNTUK PEMETAAN PENGGUNAAN LAHAN DI CIBEUNYING KOTA BANDUNG Agustina, Azfia
Jurnal Gea Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Citra Quickbird merupakan salah satu citra penginderan jauh dengan resolusi tinggi sebesar 0,6 meter sehingga mampu menyajikan data dengan tingkat kerincian yang tinggi.Berbagai fungsi wilayah yang dimiliki Wilayah Cibeunying yaitu sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan kawasan lindung menjadikan wilayah ini memiliki penggunaan lahan yang bervariasi sehingga menarik untuk dipetakan.Tujuan dari makalah ini yaitu memetakan penggunaan lahan di wilayah Cibeunying Kota Bandung dengan menggunakan Citra Quickbird.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penginderaan jauh sedangkan teknik pengumpulan data berupa teknik interpretasi visual on screen dan survai lapangan. Populasi dan sampel diambil secara acak berimbang (Proporsional Random Sampling) meliputi seluruh blok penggunaan lahan yang ada di Wilayah Cibeunying Kota Bandung yang teridentifikasi pada citra. Uji ketelitian interpretasi citra Quickbird menggunakan kaidah Short (confussion matrix) dengan hasil uji ketelitian 93,75%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di wilayah Cibeunying sebagian besar berupa permukiman (55%), perdagangan (8%), lembaga pemerintah (5%), dan tidak ada lahan bangunan (16%)..Pola penggunaan lahan di Wilayah Cibeunying menunjukkan pola spasial yang beragam, artinya masing-masing bentuk penggunaan lahan memiliki pola tersendiri. Sebagian besar bentuk penggunaan lahan di Wilayah Cibeunying memiliki pola mengelompok atau clustered dengan jumlah bentuk penggunaan lahan sebanyak 16 buah, 14 bentuk penggunaan lahan lainnya memiliki pola acak atau random dan hanya 3 bentuk penggunaan lahan memiliki pola seragam.Kata kunci: Citra Quickbird, pemetaan, penggunaan lahan.
PENERAPAN TEKNIK PETA PIKIRAN (MIND MAP) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP GEOGRAFI PADA PESERTA DIDIK KELAS XI-2 IPS SMAN 1 RASAU JAYA KABUPATEN KUBU RAYA Harjanti, Diah Trismi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 2 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i2.3399

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangai oleh lemahnya pemahaman konsep geografi peserta didik di SMAN 1 Rasau Jaya. penyebab lemahnya pemahaman konsep geografi adalah materi ajar yang sangat banyak pada setiap pokok bahasannya membuat guru sering memilih memberikan tugas meringkas materi dan mendiktekan materi kepada peserta didik disetiap pertemuannya. Salah satu upaya untuk mengetahui peningkatan pemahaman konsep geografi peserta didik adalah dengan dapat menerapkan teknik peta pikiran. Penelitian ini juga dapat mengetahui hambatan yang dihadapi selama penerapan teknik peta pikiran. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan kelas (PTK) yang dilaksanakan di SMAN 1 Rasau Jaya pada semester genap. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI IPS 2 dengan jumlah peserta didik 24, peserta didik laki-laki 12 dan peserta didik perempuan 12. Rencana tindakan dilaksanakan melalui dua siklus dan disetiap siklusnya terdiri dari dua tindakan. Adapun dalam setiap tindakan terdiri dari tiga kegiatan yaitu: perencanaan (planning), pelaksanaan (action), dan refleksi (reflection). Indikator keberhasilan yang ditetapkan apabila 75% dari jumlah peserta didik atau sekitar 18 peserta didik mencapai KKM. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konsep geografi peserta didik melalui penerapan teknik peta pikiran (Mind Map) pada mata pelajaran geografi. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari setiap tindakan yang dilakukan. Hambatan yang dihadapi selama pelaksanaan penelitian diantaranya keterbatasan waktu penelitian, penguasaan langkah-langkah teknik pembelajaran, manajemen waktu yang kurang baik oleh guru model, dan kurangnya minat peserta didik dalam membaca dan menulis. Kesimpulannya, teknik peta pikiran (Mind Map) dapat meningkatkan pemahaman konsep geografi peserta didik. Rekomendasi dalam penelitian ini adalah guru dapat mencoba menggunakan teknik peta pikiran untuk pembelajaran selanjutnya, selain dapat mempermudah dalam penyampaian pokok bahasan yang banyak juga dapat melatih guru dalam penggunaan waktu yang efisien., melatih minat baca dan menulis peserta didik serta melatih ketekunan, ketelitian dan kesabaran peserta didik. Kata kunci: teknik peta pikiran, pemahaman konsep, penelitian tindakan kelas.
PEMANFAATAN CITRA QUICKBIRD UNTUK PEMETAAN PENGGUNAAN LAHAN DI CIBEUNYING KOTA BANDUNG Agustina, Azfia
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v12i1.2598

Abstract

Citra Quickbird merupakan salah satu citra penginderan jauh dengan resolusi tinggi sebesar 0,6 meter sehingga mampu menyajikan data dengan tingkat kerincian yang tinggi.Berbagai fungsi wilayah yang dimiliki Wilayah Cibeunying yaitu sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, perdagangan dan kawasan lindung menjadikan wilayah ini memiliki penggunaan lahan yang bervariasi sehingga menarik untuk dipetakan.Tujuan dari makalah ini yaitu memetakan penggunaan lahan di wilayah Cibeunying Kota Bandung dengan menggunakan Citra Quickbird.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penginderaan jauh sedangkan teknik pengumpulan data berupa teknik interpretasi visual on screen dan survai lapangan. Populasi dan sampel diambil secara acak berimbang (Proporsional Random Sampling) meliputi seluruh blok penggunaan lahan yang ada di Wilayah Cibeunying Kota Bandung yang teridentifikasi pada citra. Uji ketelitian interpretasi citra Quickbird menggunakan kaidah Short (confussion matrix) dengan hasil uji ketelitian 93,75%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lahan di wilayah Cibeunying sebagian besar berupa permukiman (55%), perdagangan (8%), lembaga pemerintah (5%), dan tidak ada lahan bangunan (16%)..Pola penggunaan lahan di Wilayah Cibeunying menunjukkan pola spasial yang beragam, artinya masing-masing bentuk penggunaan lahan memiliki pola tersendiri. Sebagian besar bentuk penggunaan lahan di Wilayah Cibeunying memiliki pola mengelompok atau clustered dengan jumlah bentuk penggunaan lahan sebanyak 16 buah, 14 bentuk penggunaan lahan lainnya memiliki pola acak atau random dan hanya 3 bentuk penggunaan lahan memiliki pola seragam. Kata kunci: Citra Quickbird, pemetaan, penggunaan lahan.
PEMAHAMAN GURU TERHADAP PENDEKATAN SAINTIFIK (SCIENTIFIC APPROACH) DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI Ayuni, Fithri Nuru
Jurnal Gea Vol 15, No 2 (2015)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pembelajaran scientific akan berjalan baik apabila guru telah memahami apa itu pendekatan scientific. Karena itu, permasalahan penelitian diarahkan pada bagaimana pemahaman guru geografi tehadap pendekatan scientific? Penelitian ini menggunakan metode penelitian survei dan populasi penelitiannya seluruh guru geografi di SMA Negeri di Kota Bandung, berjumlah 55 orang. Teknik analisis data menggunakan perhitungan prosentase, chi kuadrat (x2), dan korelasi Pearson Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pemahaman guru terhadap pendekatan scientific sebagian besar tergolong sedang sampai tinggi. Sisanya berada pada tingkat pemahaman rendah. Tingkat pemahaman cukup tinggi tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh pengalaman guru selama mengajar. Selain itu, kemampuan dan pengetahuan guru dalam memanfaatkan dan mengoptimalkan informasi yang sangat baik mengenai pendekatan scientific, baik informasi melalui internet, sosialisasi, dan lain-lain. Selain pemahaman, respon guru terhadap penerapan pendekatan scientific mendapat respon sangat positif. Pemahaman dan respon yang sangat baik tersebut, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu tingkat pendidikan, latar belakang keilmuan, lama dan beban mengajar, keikutsertaan dalam pelatihan, penguasaan metode dan media, intensitas membaca, dan etos kerja guru. Faktor-faktor tersebut memberikan pengaruh signifikan pemahaman guru terhadap pendekatan scentific.Kata kunci : pemahaman guru, pendekatan scientifik.
KONSERVASI LAHAN PERBUKITAN SEPULUH RIBU (TEN THOUSAND HILL) UNTUK LANSEKAP HUTAN KOTA DALAM MENUNJANG RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA TASIKMALAYA Malik, Yakub
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v9i2.2449

Abstract

Obyek penelitian yaitu kawasan perbukitan Sepuluh Ribu (Ten Thousand Hill) yang ada di Kota Tasikmalaya, tujuan dari penelitian untuk : a) mengetahui karakteristik lingkungan Perbukitan Sepuluh Ribu, b) mengetahui respons masyarakat terhadap perubahan lingkungan akibat eksploitasi Galian C c) mengetahui peluang pengembangan hutan kota di Kota Tasikmalaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Ada dua jenis data yang digunakan, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari hasil kuesioner yang disebarkan ke masyarakat di sekitar kawasan perbukitan yang menjadi sampel penelitian yaitu Kecamatan Mangkubumi dan Kecamatan Indihiang, yang dilengkapi dengan data peninjauan lapangan (ground check). Data sekunder diperoleh dari studi literatur mengenai kondisi fisik , sosial daerah penelitian dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Tasikmalaya. Kedua data ini kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat). Dari hasil penelitian didapatkan bahwa kondisi fisik, lahan Perbukitan Sepuluh Ribu dapat berfungsi sebagai wilayah konservasi sumberdaya air, keanekaragaman hayati (biodiversity) dan obyek pendidikan lingkungan (ekowisata). Berdasarkan analisis SWOT sebenarnya lahan Perbukitan Sepuluh Ribu sangat berpotensi dan memiliki peluang untuk dijadikan hutan kota dalam upaya menunjang Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Tasikmalaya menuju pengembangan kota yang berwawasan lingkungan (urban ecology). Kata kunci: konservasi lahan, lanskap kota, ruang terbuka hijau.
PENGARUH PENGGUNAAN METODE INVESTIGASI KELOMPOK TERHADAP HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK (Studi Eksperimen padaMata Pelajaran Geografi di Kelas X Ilmu-ilmu Sosial di SMAN 1 Cisarua Kabupaten Bandung Barat) Mardiyah, Yayah
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 14, No 1 (2014)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v14i1.3365

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh proses pembelajaran geografi saat ini, yang menjadikan guru sebagai pusat kegiatan belajar mengajar. Peserta didik pada umumnya hanya mendengarkan, membaca, dan menghafal informasi yang diperoleh,sehingga hasil belajar tidak optimal. Salah satu pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik adalah metode investigasi kelompok.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode investigasi kelompok terhadap hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran geografi di kelas X Ilmu-ilmu Sosial pada kompetensi dasar ruang lingkup dan pengetahuan dasar geografi.Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain kelompok kontrol acak tes awal-tes akhir ( the pretest - posttest control group design ). Instrumen penelitian yang digunakan adalah format observasi, tes dan tugas.Berdasarkan hasil analisis data penggunaan metode investigasi kelompok memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Dengan demikian model pembelajaran kooperatif khususnya metode investigasi kelompok perlu dijadikan model alternatif dan direkomendasikan penggunaannya pada materi yang berbeda pada pelajaran geografi. Kata Kunci : metode investigasi kelompok, hasil belajar peserta didik
STANDAR PROSES PEMBELAJARAN GEOGRAFI PADA KURIKULUM 2013 Yani, Ahmad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 16, No 1 (2016)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v16i1.3463

Abstract

Objek kajian geografi sejatinya ada yang berbentuk konkrit dan sebagian ada yang terkategori “abstrak”. Seseorang baru dapat mengetahui adanya persebaran suatu objek, interaksi antar ruang, interelasi, interdependensi, dan adanya proses yang bekerja dalam ruang jika telah divisualisasikan dalam peta, tabel, grafik, gambar, angka statistik, dan atau visual animasi. Sifat kajian geografi tersebut tentu saja memiliki implikasi terhadap pembelajaran geografi di sekolah apalagi ada kewajiban untuk disampaikan melalui pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Implementasi pendekatan saintifik pada mata pelajaran geografi akan mudah jika tersedia data sekunder yang berasal dari berbagai instansi yang berwenang dan jika lokasi observasi lapangan relatif dekat dengan lokasi sekolah. Oleh karena itu, pengelolaan waktu pertemuan di kelas, sebaiknya berorientasi pada efektivitas pembelajaran dan bukan semata-mata memenuhi lima langkah saintifik pada setiap pertemuan. Kata kunci: standar proses, geografi, Kurikulum 2013, saintifik.
PENGARUH PENGGUNAAN BUKIT SEPULUHRIBU (THE TEN THOUSAND HILLS) SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN GEOGRAFI TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP PEMANFAATAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP (Kuasi Eksperimen di SMAN 6 Tasikmalaya) Rahayu, Yayu
Jurnal Gea Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Degradasi lingkungan akibat penambangan Bukit Sepuluhribu (The Ten ThousadnHills) perlu segera diatasi. Salah satu upayanya yaitu dengan penanaman konsep pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup yang bijak kepada peserta didik SMA sebagai bagian masyarakat di wilayah perbukitan Sepuluhribu melalui pembelajaran Geografi yang kontekstual. Pembelajaran Geografi yang kontekstual untuk memberi pemahaman konsep di atas yaitu dengan cara menggunakan fenomena perubahan lansekap Bukit Sepuluhribu sebagai sumber belajar yang dilakukan melalui dua cara, yaitu membawa peserta didik ke perbukitan untuk mengobservasi fenomena secara langsung, cara kedua dengan membawa fenomena perubahan lansekap bukit ini ke dalam kelas melalui media foto. Setelah dilakukan eksperimen dengan memberi tiga kali perlakuan kepada dua kelas penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan Bukit Sepuluhribu sebagai sumber belajar di kelas yang menggunakan metode field trippeningkatan pemahaman konsep pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup peserta didik mencapai 31,73%, sementara di kelas yang menggunakan media foto Bukit Sepuluhribu mengalami peningkatan sebesar 16,80%. Hal ini juga mengisyaratkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan lingkungan (Bukit Sepuluhribu) sebagai sumber belajar dalam menanamkan konsep pemanfaatan dan pelestarian lingkungan yang paling efektif adalah metode field trip. Keunggulan metode field trip dibanding foto, terjadi karena peserta didik aktif, senang, dan termotivasi untuk menggali informasi yang ada dalam lingkungannya dengan penuh perhatian seperti respon mereka dalam angket terhadap pembalajaran ini. Terlepas dari beberapa kendala yang terdapat dalam pembelajaran dengan menggunakan lingkungan (Bukit Sepuluhribu) sebagai sumber belajar, ternyata pembelajaran seperti ini memberikan dampak positif terhadap pemahaman peserta didik akan konsep pemanfaatan dan pelstarian lingkungan hidup, oleh karena itu, penulis merekomendasikan kepada guru khususnya guru Geografi agar tidak ragu untuk menggunakan lingkungan sebagai sumber pembelajaran, karena akan memudahkan pemahaman peserta didik terhadap konsep abstrak serta menyadarkan mereka untuk memperhatikan permasalahan yang terjadi di lingkungannya.Kata kunci: Lingkungan sebagai sumber belajar, pemahaman , pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup