cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Menelusuri Potensi Obyek Wisata Sejarah Kota Makassar Muhammad Arif
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i1.9383

Abstract

One of the cities in Indonesia that still has historic buildings is Makassar city, which is the capital of the South Sulawesi Province. The Minister of Culture and Tourism's regulation states that there are 19 historical buildings in Makassar City as tourist attractions, in this case the author only lists and explains six historical tourism objects in the city of Makassar as a basis for motivating visitors to come for a tour. The utilization of historic buildings as tourism products is one way out of these buildings can continue to survive with the increasing number of modern facilities around it. The utilization of historic buildings as tourist attractions also has a tough challenge, besides having to have an economic impact on the community, it also requires conservation measures. Salah satu kota di Indonesia yang masih memiliki bangunan bersejarah adalah kota Makassar, merupakan ibukota dari Provinsi Sulawesi Selatan. Peraturan mentri Kebudayaan dan Pariwisata menyatakan bahwa terdapat 19 bangunan bersejarah di Kota Makassar sebagai daya tarik wisata, dalam hal ini penulis hanya mencantumkan dan menjelaskan enam obyek wisata sejarah di kota Makassar sebagai dasar motivasi pengunjung untuk datang berwisata. Pemanfaatan bangunan bersejarah sebagai produk pariwisata merupakan salah satu jalan keluar bangunan-bangunan tersebut dapat terus bertahan dengan semakin banyaknya fasilitas modern di sekelilingnya. Pemanfaatan bangunan bersejarah sebagai daya tarik wisata juga memiliki tantangan yang berat, karena selain harus membawa dampak ekonomi bagi masyarakat juga memerlukan langkah-langkah pelestarian.
Islam dan Pengaruhnya dalam Ritual Pa’dinging-dinging di Desa Adat Tenro Selayar (Perspektif Sejarah Lisan) Misbahuddin Misbah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i1.9421

Abstract

This study is a historical research that attempts to re-examine the events that occurred in the past. In this study, the authors used two special methods, documentation and interviews. In addition, the approach used in this study is a multidisciplinary approach; history, sociology, anthropology and psychology. The results of this study concluded that the Paingding-dinging tradition had been around long before Islamization occurred in Selayar. On the other hand, in carrying out the ritual practices, the customs of the of Islam are deeply rooted; like Islamic clothing (the use of skullcap and hijab) as well as prayers which are read in old manuscripts are prayers addressed to Allah, the Almighty, with the accompaniment of praise to the Prophet Muhammad. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang berusaha menelaah kembali peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Dalam penelitian ini, penulis mempergunakan dua metode dokumentasi dan wawancara. Hasil dari penelitian yang dilakukan bahwa keberadaan tradisi Pa’dinging-dinging telah ada jauh sebelum terjadi Islamisasi di Selayar. Di sisi lain, pada pelaksanaan praktek ritual adatnya sendi-sendi ke-Islaman; seperi pakaian Islami (penggunaan kopiah dan hijab) juga do’a yang dibacakan dalam manuskrip tua merupakan do’a yang ditujukan kepada Allah swt dengan iringan pujian kepada Nabi Muhammad saw.
Manajemen Krisis Ramadah Umar bin Khattab Perspektif Sejarah Ekonomi Islam Ardhina Nur Aflaha
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i1.9371

Abstract

This article discusses about crisis management ramadah of Umar bin Khattab radiallahu anh from the perspective of Islamic economic history. Crisis ramadah is a crisis and around the hijaz area in 17-18 hijri. At that time the economic impact of the Islamic people was largely affected by famine,the ground became black,dead cattle and prices ar soaring. Even trading activities can not do what they used to do. Ramadah has happened because of rain not falling which caused trade activities to be disrupted and because of rampant adultery and the unjust judge. Umar bin Khattabradhiallahu anh did a lot of change to his policies at that time. The metode of research use in this research is library research, the researcher was gatherin written source in this research.  Tulisan ini membahas tentang Manajemen Krisis Ramadah Umar bin Khattab radiallahu anh. Krisis ramadah merupakan krisis yang terjadi pada daerah Hijaz dan sekitranya antara tahun 17-18H. Pada masa itu ramadah sangat berdampak pada perekonomi umat Islam dikarenakan penduduk kelaparan, tanah berwarna hitam, hewan-hewan ternak mati dan harga melambung tinggi.Bahkan aktivitas perdagangan tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Ramadah terjadi dikarenakan hujan tidak turun yang menyebabkan kekeringan, terjadinya wabah pes yang menyebabkan aktifitas perdagangan terganggu dan dikarenakan perzinahan yang merajalela serta hakim yang bertindak dzolim. Umar bin Khattab radhiallahu anh melakukan banyak perubahan pada kebijakannya pada masa itu. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah library research, di mana penulis mengumpulkan sumber-sumber tertulis dalam penelitian ini.
Relasi dan Legitimasi Raja Dengan Ulama dalam Sistem Pemerintahan Islam di Bone Rahmawati Rahmawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 1 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i1.9373

Abstract

 This article discusses the relationship and legitimacy of the king as the highest authority of the kingdom with the ulama in the Islamic government system in the kingdom of bone. For clarity in this study, the author uses historical and anthropological studies as "scalpels" to find the desired information. The results of the study showed that between the king and the ulama indeed built a harmonious relationship, the king as the ruler of the region and the ulama as religious authorities. This was seen at least in two respects, namely: first the ulama as an advisor to the king in the government, second kinship ties through marriage. In addition, although the election of the king was built on the line of "mangkau" or original blood, "to manurung" the king as the holder of the highest legitimacy still coordinated with the ulama as an advisor for the election of a new king.Artikel ini membahas tentang relasi dan legitimasi Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi kerajaan dengan klien (ulama) dalam sistem pemerintahan Islam pada kerajaan Bone. Untuk mencapai titik terang dalam kajian ini, penulis menggunakan telaah historis dan antropologi sebagai pisau bedah dalam mencari informasi yang diinginkan. Hasil penelitian ini terungkap bahwa antara raja dan ulama memang terbangun relasi dan harmonis antara raja sebagai penguasa wilayah dengan ulama sebagai otoritas keagamaan. Hal ini dapat dilihat sekurang-kurangnya dalam dua hal. Pertama, posisi ulama sebagai penasehat raja dalam pemerintahan. Kedua, hubungan kekerabatan melalui pernikahan. Selain itu, meskipun pemilihan raja dibangun atas garis keturunan mangkau atau berdarah asli dari to Manurung raja sebagai pemegang legitimasi tertinggi tetap berkoordinasi dengan ulama sebagai penasehat dalam hal pemilihan raja baru.
Kondisi Politik Persia pada Era Dinasti Qajar 1796-1834 M Arafah Pramasto
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.10068

Abstract

AbstractThe Qajar dynasty in Indonesian literature is not as popular as the Safavid dynasty and the 1979 Iranian revolution. The role of Qajar dynasty started as one of the tribal powers among the Qizilbash elite troops of the Safavid dynasty. Political conditions during the decline of Safavids led to the emergence of other warring dynasties to gain domination in Persia. Qajar dynasty under the leadership of Agha Muhammad Khan was successful in defeating warring dynasties as the Russian invaders were also driven out. Agha Muhammad later became the Shah of Persia in 1796 year before he was assassinated during a military campaign against Russia. After his assassination, Fath Ali – nephew of Agha Muhammad became the new Shah in 1798. Qajar dynasty under the new reign effectively consolidated the political condition and governing aspect of Persia. Fath Ali is also believed to have committed violence against his competitors while also; he was able to coordinate between various cultural identities in Persia along with building country’s governing structure as well as patronizing religious life. During later wars with Russia, Fath Ali was dependent on intervention of British and French due to lack of reforms in his military. It became an important event before his death in 1834.
Islam dalam Tradisi Pernikahan nuraeni nuraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11753

Abstract

This paper examines  the integration of Islam in the tradition of marriage to the people in the village of Bontosunggu. The source used is based on field research and books related to the research title. The results of the study found that some implementation of the marriage tradition in Bontosunggu, Bontonompo District, Gowa, had integrated Islamic values. Akkorongtigi, Simorong, A'nikka, Nilekka, Nilekka are a series of marriages that must be preceded by Angngalle je'ne sambayang (Ablution), reading shalawat, barazanji and appatamma (Khataman al-Qur'an) as a tradition that has precedence with Islamic values which are Islamic values, performing wudoo, reading shalawat, barazanji and appatamma (Khataman al-Qur'an) as traditions that have Islamic values preceded by Islamic values. integrated with local traditions.Artikel ini membahas integrasi Islam dalam tradisi pernikahan pada masyarakat di desa bontosunggu. Sumber yang digunakan berdasar pada penelitian lapangan observasi dan wawancara serta buku-buku yang berhubungan judul penelitian. Hasil penelitian menemukan beberapa pelaksanaan tradisi pernikahan di Bontosunggu Kecamatan Bontonompo Gowa telah terintegrasi nilai-nilai Islam. Akkorongtigi, Simorong, A’nikka, Nilekka, Nilekka adalah rangkian pelaksaaan pernikahan harus didahului dengan Angngalle je’ne sambayang (Berwudhu), membaca shalawat, barazanji dan appatamma (Khataman al-Qur’an) sebagai tradisi yang memiliki nilai-nilai Islam yang terintegrasi dengan tradisi lokal.
Kebangkitan Kesultanan Ternate pada Era Reformasi 1998-2002 Rustam Hasim; Oktosiyanti MT Abdullah; Siti Rahia H. Umar
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11484

Abstract

 The elite revival of the Ternate Sultanate after the New Order illustrated how the palace group played a new role in staying in its position as a clan of power in the local sphere. In this case, the emergence of the elite of the Ternate Sultanate can be understood and interpreted in three respects. First, the rise of feudalistic power in the region to strengthen political position stemmed from cultural construction based on history and genealogical similarities. Second, the individual revival of the Sultan of Ternate MudafarSyah in the name of the Sultanate institution as his political vehicle. Third, there is the elite desire of the Ternate Sultanate to be more institutionally accommodated into the formal government political stage. This reality shows the political participation of the Ternate Sultanate in the post-independence domain of local politics until now, is an important field of historical research. As a historical phenomenon, the process of dynamics of local politics like this is interesting to study, because the Sultan of Ternate has long been a part of the history of politics in North Maluku. Also, there is an implicit message about how partial Indonesian political studies are if they only focus on the dynamics of national politics. In the case, there are several national political issues which can initially be pursued from the region and vice versa Kebangkitan elite Kesultanan Ternate pasca-Orde Baru mengambarkan bagaimana kelompok istana memainkan peran baru agar tetap berada pada posisinya sebagai pengenggam kekuasaan di ranah lokal. Dalam hal ini, apat dipahami bahwa ada tiga faktor yang menyebabkan kemunculan elit Kesultanan Ternate Pertama, bangkitnya kekuasaan feodalistik di daerah untuk memperkuat posisi politik bersumber dari konstruksi budaya yang berbasiskan pada sejarah masa lalu maupun kesamaan genealogis. Kedua, kebangkitan secara individual Sultan Ternate Mudafar Syah dengan mengatasnamakan institusi kesultanan sebagai kendaraan politiknya. Ketiga, adanya keinginan elite Kesultanan Ternate untuk lebih diakomodasikan secara institusional ke dalam panggung politik pemerintahan formal. Realitas  tersebut menunjukkan  partisipasi politik  Kesultanan Ternate dalam ranah politik lokal pasca-kemerdekaan hingga kini, merupakan sebuah bidang penelitian sejarah yang penting. Sebagai sebuah fenomena historis, proses dinamika politik lokal seperti ini menarik untuk diteliti, karena telah sejak lama para Sultan Ternate menjadi bagian dalam sejarah perpolitikan di Maluku Utara. Selain itu,  ada sebuah pesan implisit tentang betapa parsialnya kajian politik Indonesia bila hanya memfokuskan pada dinamika politik nasional saja. Pada hal ada beberapa persoalan politik nasional yang awalnya dapat diruntut  dari daerah dan begitu pula sebaliknya.
Historiografi Korupsi di Indonesia: Resensi Buku Korupsi dalam Silang Sejarah Indonesia Miftakhuddin Miftakhuddin
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11772

Abstract

This review aims to describe the contents of the book, analyze how the book reaches its objectives, and how the author's perspective in presenting his arguments and ideas. The review was conducted by using the report method proposed by Bond (1964). Overall, this book has three weaknesses. Firstly, Carey's writings were not well-translated, so it might complicate nonscholar readers. Secondly, discussion in the first two chapters strays from the topic of "corruption". Thirdly, this book tends to more like an anthology book (it does not seem unified). However, each chapter was written objectively and comparably. In terms of the organization of its ideas, the script of Margana and Carey appears to have been written in strict rules of historical research, both heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Moreover, in Chapter IV, the construct has written in investigative writing by former journalist, Haryadi. It will make the readers' reasoning skills more analytical, critical and anticipatory. In conclusion, this book is a worthy reference for everyone who concerns on corruption issues in Indonesia, mainly due to its incisive analysis by experts and historians.Review ini bertujuan mendeskripsikan konten buku, menganalisis bagaimana buku mencapai tujuannya, dan bagaimana perspektif penulis dalam menyajikan argumen dan gagasannya. Review dituliskan dengan report method yang diusulkan Bond (1964). Secara keseluruhan, buku ini mempunyai tiga kelemahan. Pertama, tulisan Carey tidak diterjemahkan dengan baik, sehingga mungkin akan menyulitkan pembaca umum. Kedua, pembicaraan di dua bab pertama menyimpang terlalu jauh dari “korupsi”. Ketiga, buku ini lebih seperti buku antologi, sehingga terkesan tidak menyatu. Namun demikian, setiap bab dalam buku ini ditulis secara objektif dan berimbang. Ditinjau dari organisasi ide pokoknya, teks dari Margana dan Carey tampak ditulis mengikuti kaidah riset sejarah secara ketat, baik heuristik, kritik, interpretasi, maupun historiografi. Terlebih lagi pada Bab IV yang ditulis dengan nuansa investigatif oleh mantan wartawan Haryadi, akan membuat daya nalar pembaca menjadi lebih analitis, kritis, dan antisipatif. 
Eksistensi Maccera Manurung dalam Perspektif Nilai Islam Sitti Fatimah Dwi Putri
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11541

Abstract

Maccera Manurung is a La Pariba heritage heirloom washing ceremony, as well as an expression of gratitude for the people of Matakali for the abundance of fortune from Allah swt received for a year. Whether it's a fortune in the form of health and abundant harvests. The author uses a type of qualitative research with a descriptive analysis of the objects discussed according to the reality that occurs in the community, especially in the Matakali community, Maiwa District, Enrekang Regency. The emergence of an unknown human figure in Matakali Enrekang that is able to bring positive change in the Matakali region and is known as Tomanurung La Pariba. The Matakali community agreed to appoint La Manariung to manurung La Pariba as a leader in their area until birth and his child called To Jabbari and then La Pariba suddenly also disappeared by leaving several objects namely Kawelang, Tengkeng Bassi and rifles, and then the objects of La Pariba were disposed of by the Matakali people as Maccera Manurung who also commemorated the services of La Pariba. Maccera Manurung merupakan upacara pencucian benda pusaka peninggalan La Pariba, sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat Matakali atas limpahan rezki dari Allah swt yang diterima selama setahun. Baik itu rezki berupa kesehatan maupun hasil panen yang melimpah ruah. Penulis menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif mengenai objek yang dibicarakan sesuai kenyataan yang terjadi di masyarakat, khususnya pada masyarakat Matakali Kecamatan Maiwa Kabupaten Enrekang. Kemunculan sosok manusia yang tidak diketahui asal-usulnya di Matakali Enrekang yang mampu membawa perubahan positif di wilayah Matakali dan dikenal dengan Tomanurung La Pariba.masyarakat Matakali sepakat mengangkat to manurung La Pariba sebagai pemimpin di wilayah mereka hingga saat lahir dan dewasa anaknya yang bernama To Jabbari dan kemudian La Pariba tiba-tiba pula menghilang dengan meninggalkan beberapa benda yaitu Kawelang, Tengkeng Bassi dan senapan yang kemudian benda-benda peninggalan La Pariba tersebut diupacarakan oleh masyarakat Matakali dengan sebutan Maccera Manurung yang juga untuk mengenang jasa-jasa La Pariba.
The Developments and Problems of Muslims in Australia Syamzan Syukur; Syamhi Muawwan Djamal; Syarifah Fauziah
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 7 No 2 (2019): HISTORY AND CULTURE
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v7i2.11858

Abstract

This paper shows that historians have different views about the early arrival of Islam in Australia; some argue that Islam entered Australia in the 9th century BC. Those that believe in the 10th century BC were brought by Arab traders. Besides, some mention below by Muslim Bugis fishermen who traveled by sailboat to collect taripang (a kind of sea slug) on the Gulf of Carpentaria in the 17th century BC. While the development of Islam in Australia started appears from 1976 to 1986 the Muslim community in Australia rose to a three-fold. Increasing the quantity of Muslims in Australia is generally dominated by immigrants from the countries of the Muslim majority. Activity and religious activity continues to writhe mainly due to the support and role of Islamic organizations. As for the problems faced by Muslims in Australia is coming from a non-Muslim society of Australia; Persistence of Muslims to practice their religion, sometimes considered a fanatic attitude and could not cooperate. Another problematic faced by Muslims is related to a misunderstanding of Islam. Most of the Australian non-Muslims regard that Islam is a violent religion. This perspective is connected by the collapse of the World Trade Center (WTC). The method of this research is a descriptive-analytic qualitative study that utilizes library resources to acquire, manage and analyze data.   Tulisan ini menunjukkan bahwa, para sejarawan memiliki pandangan yang berbeda mengenai awal masuknya Islam di Australia; sebagian berpendapat bahwa Islam masuk ke Australia pada abad ke-9 masehi. Adapula yang berpendapat pada abad ke-10 masehi yang dibawah oleh pedagang-pedagang Arab melalui pantai Australia. Selain itu adapula yang menyebutkan di bawah oleh nelayan muslim Bugis yang berkelana dengan perahu layar untuk mengumpulkan taripang (semacam siput laut) dari teluk Carpentaria pada abad ke-17 masehi. Sedangkan perkembangan Islam di Australia mulai Nampak sejak tahun 1976 sampai tahun 1986 komunitas kaum muslimin di Australia meningkat mencapai tiga kali lipat. Peningkatan kuantitas kaum muslimin di Australi pada umumnya didominasi oleh para imigran dari negera-negara mayoritas muslim. kegiatan dan aktivitas keagamaan pun terus menggeliat terutama karena dukungan dan Peranan organisasi-organisasi Islam. Adapun problematika yang dihadapi kaum muslimin di Australia adalah datangnya dari masyarakt non-muslim Australia; Ketekunan umat Islam menjalankan ajaran agamanya, terkadang dianggap sebagai sikap fanatic dan tidak bisa diajak kompromi. Problematika lain yang dihadapi kaum muslimin   adalah berkaitan dengan kesalah pahaman tentang Islam. Kebanyakan non-muslim Australia menganggap bahwa Islam adalah agama kekerasan. Persfektif ini mereka hubungkan dengan  peristiwa  runtuhnya gedung WTC. Metode penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif-analitik denhan memanfaatkan sumber perpustakaan untuk memperoleh, mengelola dan menganalisis data.