cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Rihlah Jurnal Sejarah dan Kebudayaan
ISSN : 23390921     EISSN : 25805762     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 218 Documents
Perang Uhud (Suatu Analisis Historis Sebab-Sebab Kekalahan Umat Islam) Iqbal Iqbal
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 1 No 01 (2014): Mei
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v1i01.668

Abstract

This paper explain about Uhud War, an accident was happening on Syawwal 07th, 03 H./625 M. On the war,  two groups were fighting each other,  Moslems and Quraisy Clan.  This paper explain on the  history side and doing on qualitative research type  by  library research. Uhud  War is  the second war after  Badar War. On this  war, Moslem was losing. This drubbing  was happening cause some Moslems wasn’t loyal to prophet’s command. This  accident  made Hamzah died and prophet Muhammad  saw. was hurt by Quraisy Clan. So, Uhud War is the war had been a training for Moslems, including some Moslems supporter had gotten out from Moslem’s line. This group was commanded by Abdullah Bin Ubay. They  were going back to Madinah before the war happened. This accident absolutely made account of Moslems had decreased. At the beginning of war, prophet Muhammad  had  thousand warriors, but after this accident, prophet Muhammad had seven hundred warriors. This accident absolutely had decreased to the power of warriors.
Sejarah Agama-Agama (Studi Historis Tentang Agama Kuno Masa Lampau) Nurlidiawati Nurlidiawati
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 3 No 01 (2015): OKTOBER
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v3i01.1377

Abstract

This essay aims to describe the history of ancient religions development. This paper focuses on three ancient religions, i.e the belief of ancient Egypt, Zoroastrianism and Shinto. The result of this essay finds three conclusions. First, the belief of ancient Egypt started from each activities of Nile River society. Ancient Egypt society is a polytheism peoples (worshipping for many god). The supreme god is Ra as the sun god.  God devided into parts i.e greatest god and smallest god. Second, Zoroastrianism or Majusi is the religion had revealed to Zarahustra as a prophet. This religion teaches about the singleness god. Holy Scripture of Majusi is Zebdawesta. It teaches about humanity, god and the process of creation, ethics, deads, the judgement and resurrection. There were a lot of sect in Zoroastrinism such as Shensai group, Qadimi group and Fasli group. Moreover, there were lot of ideologies in it, like mana, madzdak and zindiq. Third, Shinto is the genuine religion of Japanese. The precept of Shinto contains two credences i.e worships to nature and worships to ancesto (animism). There are four scripture of Shinto i.e Kojiku, Nihongi, Yengishiki and Mayoshiu.  Further, Shinto has lot of sects such as imperial Shinto, Folk Shinto, Sect Shinto and Shrine Shinto.
ISLAM DI SYRIA Andi Syahraeni
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2838

Abstract

Jatuhnya syria ketangan kaum Muslimin, ditandai dengan adanya perjanjian damai antara kedua belah pihak. Pada zaman dinasti Bani Umayyah. Islam di negeri ini berkembang pesat, hal ini dikarenakan Kota Damaskus (Ibu Kota Syria) menjadi pusat pemerintahan dari daulah Bani Umayyah. Pada masa ini Islam berkembang lebih maju dari pada masa sebelumnya dan Islam menjadi mercusuar peradaban dunia, pusat-pusat pengembangan keilmuan tersebar di berbagai penjuru kota-kota besar, seperti Damaskus, Cordova, Baghdad, Kairo, dan lain-lain. Berbeda dengan perkembangan Islam di masa selanjutnya, Syria mengalami banyak pergolakan. Hingga saat ini, Syria masih tidak aman dengan banyaknya konflik yang terjadi, antara lain keberadaan ISIS yang tengah menjadi kontroversi internasional dan konflik politik internal yang terjadi dalam negara tersebut.
PROSES ISLAMISASI MELALUI DAKWAH DI SULAWESI SELATAN DALAM TINJAUAN SEJARAH Muhammad Dahlan
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 1 No 01 (2013): Oktober
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v1i01.659

Abstract

This paper break down the process of Islamization in South Sulawesi and propaganda methods adopted in the process. By using an approach based on historical analysis, this paper concludes that, the process of Islamization in South Sulawesi through several stages, the arrival of Muslim traders as bearers of Islam in the 16th century, after the advent of Islam King of Gowa-Tallo in the 17th century, shipping army for kings to develop Islamic Bugis although initially rejected by the Bugis, continues with the arrival of Datuk Bandang ri, ri Tiro Datuk, Datuk Pattimang broadcast and Islam. Adopted the method of preaching Islam is spreading the teachings of Islam to synchronize between pangadereng so that the process of Islamization in South Sulawesi take place quickly.
Sejarah Penulisan Al-Qur'an (Kajian Antropologi Budaya) Nasruddin Ibrahim
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 2 No 01 (2015): MEI
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v2i01.1360

Abstract

The Koran is the words of God revealed to the Prophet Muhammad through Gabriel, was intended to read and study it as a worship, which begins with al-Fatihah, and closed with an-Nas. The Qur'an doesn’t only for the Prophet, but also for his people (humans). Anthropological study has intent to understand more deeply about human involvement in the course of writing the Koran down to us today. Since the Prophet was still alive, the writing of the Qur’an had many improvements until today. Especially, the development of punctuation, so everyone can easily to read it and unify the way of reading by adding punctuation, without reducing and adding the verse. The reading way had standardized, only the dialects from every nation who read the Koran not the same. It happened because, in the anthropological side, it didn’t allowed for unify the dialects. Umar ra proposed to Abu Bakr ra to collected Koran into a mushaf from various media and then put it together and compiled it based on surah which had revealed to the Prophet. Collecting or copying the Koran had conducted because the intent of it to give a copies to the areas which was dominated by Islam, in an attempt to minimized the differences of reading way, because of the differences in readings every place due to factors of dialect and of course different language. Furthermore, after Khulafaurrasyidin gave the punctuation to the Koran which is the result of creativity and diligence in order to avoid mistakes in the reading of the Koran.SEJARAH PENULISAN ALQURAN(Kajian Antropologi Budaya)
FENOMENA TAFSIR PADA ABAD KE VI-VII H. H.Ilham Shaleh shaleh
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 4 No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v4i2.2829

Abstract

tafsir al-Kassyaf adalah karya tafsir yang belum ada taranya dan bandingan dari kitab-kitab tafsir sebelumnya. Penulis dengan kepiawaian menganalisis ayat-ayat Alquran dari aspek i`jaznya (kemukjizatan), susunan bahasa, keindahan dan kebalagaan menjadi focus perhatiannya. Ia menilai bahwa seorang mufassir harus melengkapi diri dengan ilmu bayan dan maani (balagah) dalam menafsirkan Alquran. Tafsir Ibnu Athiyah, pengarang tafsir ini Abd al-Haq bin Ghalib bin Athiyah al-Andalusi al-Maghribi al-Gharmati. Ia dilahirkan pada tahun 481 H.dan wafat pada tahun 546 H. Ibnu Athiyah adalah salah satu hakim terkenal dari Spanyol selama masa keemasan Islam. Ia dibesarkan dalam lingkungan pencinta ilmu dan keluarga terhormat. Ia adalah salah seorang hakim yang mempunyai reputasi tinggi dan ahli dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan , hadits, tafsir, bahasa dan sastra. Ia juga seorang tokoh terkemuka bermadzhab Maliki. Al-Fakhru al-Razi dengan karya tafsirnya yang terkenal Mafatih al-Ghaeb atau biasa juga dikenal dengan nama tafsir al-Kabir. Ini adalah salah satu tafsir bi al-Ra`yi yang paling komprehensif . Karena untuk menjelaskan ayat-ayat Alquran, tafsir ini menggunakan metode penalaran logika. Kitab tafsir abad ke VII H. yang terkenal adalah;  Tafsir al-Qurtubi, tafsir ini dikarang oleh Abdullah  Muhammad  bin Ahmad bin Abu Bakar bin Farakh al-Khadraji al-Andalusi. Ia adalah seorang pakar tafsir yang bermadzhab Maliki. Ia memiliki banyak karya dan yang paling terkenal ialah tafsir al-Jami’ li ahkam Alquran. Beliau wafat pada tahun 671 H, ada juga mengatakan pada tahun 668 H. Tafsir Ibnu Arabi Dalam kasus-kasus tertentu ia merujuk kepada persoalan-persoalan perbedaan mazhab. Ia bersikap moderat dan tidak terpengaruh oleh mazhab Maliki yang dianutnya.Secara sistematis ia juga menanggapi pandangan-pandangan Mu’tazilah, Qadariyah, dan Rifadhiyah, para filosof dan para sufi ekstrim.
Kepemimpinan dan Kontribusi Sulaiman Alqanuni di Turki Utsmani (Suatu Tinjauan Sejarah) Ahmad Zulfikar
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5459

Abstract

Hasil penelitan ini menujukkan bahwa: Sultan Sulaiman Alqanuni, lahir pada taggal 6 November 1495 M. di Tarabzun,ayahnya Salim I, ibunya Ayese Hafsah Valide Sultan, dia memiliki dua Istri dan delapan anak. Setelah sang ayah tutup usia, pada 30 September 1520 M, Sulaeman naik tahta menjadi Sultan ke-10 Kesultanan Turki Usmani. Sultan Sulaiman Alqanuni membawa banyak perubahan besar bagi Turki Utsmani, pencapaiannya bahkan melebihi apa yang sudah diraih ayahnya dan para Sultan pendahulunya. Sultan Sulaiman Alqanuni tutup usia pada usia 71 tahun pada tanggal 5 juni 1566M, jasadnya dimakamkan di masjid Agung Sulaymaniyah yang berada di kota Istanbul. Kepemimpinan Sulaiman Alqanuni merupakan puncak keemasan Islam di Turki Utsmani, berhasil mencatatkan sejarah besar menjadikan Turki Utsmani sebagai Negara adikuasa, yang disegani diberbagai belahan penjuru dunia.Dia juga berhasil menghimpun serta menjalankan Undang- undang yang berlandaskan Syariat Islam, menghimpun dan menambah pasukan elit jennisari dan memanggil kembali Khairuddin Barbarossa lalu mengangkat nya sebagai panglima tertinggi angkatan laut Turki Utsmani, pada masa kepemimpinan Sulaiman Alqanuni merupakan masa dimana kesultanan Turki Utsmani berhasil memegang kekuasaan terbesar, yang meliputi wilayah Selatan (Mediterania dan Afrika Utara), wilayah Barat (Eropa Timur),  serta wilayah Timur (Persia). Kontribusi Sulaiman Alqanuni meliputi berbagai bidang diantaranya: di bidang politik, di bidang Ekonomi, di bidang pendidikan, dan di bidang arsitektur. 
Pendidikan Islam Masa Kerajaan Islam di Nusantara Susmihara Mihara
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5454

Abstract

Pada permulaan abad ke -17 Islam telah merata di hampir seluruh wilayah nusantara dan munculnya kerajaan-kerajaan Islam nusantara, kerajaan-kerajan tersebut adalah Perlak, Samudra Pasai, Aceh Darussalam di Sumatera, Demak, Pajang, Mataram, Cirebon dan Banten di Jawa, Banjar dan Kutai di Kalimantan, Gowa, Tallo dan Bone di Sulawesi, Ternate dan Tidore di Maluku serta masih banyak lagi kerajaan Islam di nusantara yang belum sempat penulis bahas. Proses pendidikan Islam di kerajan-kerajaan Islam nusantara mendapat perhatian yang besar dari para raja atau sultan yang memerintah kerajaan-kerajaan Islam tersebut. Hal ini dibuktikan dengan munculnya lembaga-lembaga pendidikan Islam serta temapt-tempat ibadah yang membawa pengaruh positif terhadap kemajuan pendidikan masyarakat Islam.
Peran Dinasti Mamluk dalam Membendung Ekspansi Bangsa Mongol ke Dunia Islam Syamzan Syukur; mastanning Anning
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5455

Abstract

“Mamluk” berarti budak atau hamba yang ditawan dan dididik, pengetahuan agama dan pengetahuan militer serta ilmu pengetahuan lainnya oleh Dinasti Ayyubiyah. Dalam proses pemerintahan, Mamluk berubah menjadi Dinasti.  Sistem pemerintahannya adalah sistem militeristik  (pergantian kepemimpinan berdasarkan karir militer). Walaupun pada perkembangannya kemudian, sistem pergantian pemimpinnya, berubah menjadi sistem monarchieheredetis. Kemajuan yang diperoleh Dinasti Mamluk tidak hanya dari segi militer, tetapi ilmu pengertahuan, arsitektur dan bidang ekonomi. Sejak Mamluk berkuasa, Mesir menjadi penghubung jalur perdagangan Timur dan Barat. Kehadiran Dinasti Mamluk menambah catatan perstasi kerajaan Islam dalam pentas politik terutama peranannya dalam membendung ambisi pasukan Tartar (Bangsa Mongol) untuk menguasai Islam yang pada saat itu mengalami kemajuan peradaban. Tentara Mamluk dan Mongol saling berhadapan di Ayn Jalut dan pertempuran pun terjadi pada tanggal tahun 658 H./1260. Strategi yang digunakan oleh Dinasti Mamluk dalam mempersatukan umat Islam membuat pasukan Islam berhasil mengalahkan pasukan Mongol.
Perjanjian Hudaibiyah (suatu Analisis Historis tentang Penyebaran Agama Islam di Jazirah Arab) Rafli Difinubun
Rihlah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Vol 6 No 1 (2018): RIHLAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/rihlah.v6i1.5457

Abstract

Pokok masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana perkembangan penyebaran agama Islam di Jazirah Arab Pasca perjanjian Hudaibiyah, kemudian pokok masalah ini dapat dirumuskan dalam beberapa sub masalah yaitu: 1). Bagaimana sejarah atau proses perjanjian Hudaibiyah?2). Bagaimana konsekuensi atau hasil dari perjanjian Hudaibiyah  terhadap penyebaran agama Islam di Jazirah Arab?Hasil penelitian menunjukan bahwa pada Bulan Dzulqa’dah tahun ke-6 H, Rasulullah saw. bersama rombongan kaum muslimin berangkat ke Makkah dengan maksud untuk melaksanakan ibadah umrah, bukan untuk berperang, dalam perjalanan menuju Makkah Rasulullah berusaha menampakkan dengan gamblang niat merekauntuk menghormati Ka’bah. Ketika mereka sampai di sebuah tempat bernama Dzu al-Halifah mereka berihram umrah agar orang-orang Makkah mengetahui bahwa kedatangan Rasulullah ke Makkah bersama romobongan kaum Muslimin tidak bermaksud lain kecuali hendak berziarah ke Baitullah.Perjanjian Hudaibiyah membuahkan beberapa keberhasilan yang sangat gemilang  diantaranya adalah berkembang syiar Islam, kehidupan masyarakat menjadi lebih aman dan damai, membuka jalan kepada pembebasan kota Mekah dari Musyrikin Quraisy, dan orang Islam dapat berhubungan dengan kabilah Arab yang lain. Dengan demikian agama Islam mudah tersebar ke beberapa wilayah Arab bahkan Islam dan ajarannya dapat tersebar ke seluruh penjuru dunia, sekalipun reaksi dan ancaman bermacam-macam diterima Nabi dan para sahabat dan pengikutnya, namun hasil dari perjanjian Hudaibiyah menunjukkan bahwa misi Nabi semakin terbuka dan diterima oleh masyarakat luas.Menganalisa setiap butir isi perjanjian Hudaibiyah tersebut dan implikasinya, maka tidaklah terlalu berlebihan kalau dinilai bahwa Rasulullah saw. telah menggores sejarah diplomasi luar biasa di muka bumi. Goresan sejarah tersebut perlu digarisbawahi sebagai goresan diplomasi yang sangat penting untuk ditelaah dan diambil nilai-nilai yang melandasinya dan kalau perlu diaplikasikan untuk warna sebuah pergumulan diplomasi saat ini. Perjanjian Hudaibiyah telah mencatatkan diri Rasulullah saw. sebagai diplomat atau juru runding yang sangat cemerlang dan layak diikuti, minimal ditelaah sebagai sebuah ilmu yang menambah khazanah ilmu diplomasi.